"Siapa yang menyangka wanita pendiam seperti Sereia bekerja sebagai wanita penghibur."
Setelah mengatakan itu, El tertawa. Dia menghisap rokoknya lagi sambil melirik Sereia yang sedang melepaskan pakaiannya dengan ekspresi dingin.
Sereia dan El berada di SMA yang sama sebelumnya. Sereia yang pendiam sering dibuli bahkan oleh El dan teman-temannya. Bagi El, Sereia itu sangat menjijikkan. Tidak ada alasan tertentu mengenai rasa jijiknya tapi hanya dengan melihat wajah dan penampilannya dia merasa jijik.
Sekarang usia mereka menginjak 22 tahun. El masih saja tumbuh menjadi laki-laki yang berperilaku buruk. Hobinya adalah bermain judi dan perempuan. Dia tidak memiliki pekerjaan tetap dan masih mencari-cari pekerjaan. Jika dia memiliki uang, maka dia akan menggunakannya untuk judi atau menyewa perempuan.
Namun, siapa yang menyangka kali ini dia akan tidur dengan gadis yang sangat ia benci. Ternyata banyak temannya yang sudah mengetahui bahwa Sereia adalah wanita penghibur. Dia merasa ketinggalan. Tidak mau kalah, dia pun memutuskan untuk menyewa perempuan ini juga sama seperti teman-temannya.
El sekali lagi tertawa mengingat Sereia tidak menolaknya.
"Hargamu murah sekali," kata El.
"Kapan kita akan melakukannya?" tanya Sereia dingin dan lembut sambil menatap El dengan kedua matanya yang sedikit sayu. El yang mengeluarkan kata-kata menghina padanya tidak berubah seperti saat masih sekolah dulu.
El menarik rokoknya lalu berkata, "Dasar wanita gatal. Kau sudah tidak sabar ya?"
Bukannya tidak sabar, Sereia ingin momen ini cepat selesai. Seperti El yang sangat membencinya, dia juga setengah mati membenci lelaki ini dan teman-temannya.
El pun menaruh rokoknya di atas meja di dekat ranjang kemudian menarik Sereia ke ranjang hingga perempuan itu berteriak kecil karena terkejut. El sering tidur dengan perempuan tapi dia tidak pernah bersikap lembut. Termasuk kali ini, malahan kali ini dia lebih kasar lagi.
"Apa kau selalu bersikap seperti masih gadis hah?" tanya El ketus. Dia mendekati Sereia. Sereia kelihatan malu-malu dan menahan diri membuatnya semakin jijik.
"Jangan bicara apapun padaku. Cepat lakukan apa yang ingin kau lakukan!" ketus Sereia.
Itu adalah pertama kalinya Sereia berbicara panjang pada El.
Ketika masih sekolah, Sereia sering dihina jelek. Tetapi sekarang perempuan itu berubah drastis. Rambutnya tidak lagi hitam tetapi coklat tua. Kulitnya putih bersih. Wajahnya juga mulus tidak ada lagi jerawat.
Setelah apa yang mereka lakukan selesai, Sereia langsung mengenakan pakaiannya buru-buru sementara El memperhatikannya sambil melanjutkan merokok. Meski Sereia membelakanginya, El merasa perempuan itu marah padanya.
El tersenyum meremehkan. "Tidak buruk juga. Ngomong-ngomong, bagaimana kalau teman-temanmu tahu kalau kau bekerja seperti ini?"
Sereia tidak berniat menjawab pertanyaan El, selesai berpakaian, dia langsung keluar dari rumah lelaki itu dengan langkah cepat. Uangnya sudah ia dapatkan jadi tidak perlu berurusan lagi dengan lelaki jahat itu.
Bagaimana Sereia tidak marah. Dia sudah menetapkan aturan dan El tentu saja mengetahui aturan tersebut dari teman-temannya dan sebelum mereka melakukannya, El sempat menyinggungnya dengan mengatakan, "Aku dengar tidak boleh ada ciuman. Kau memang tidak pantas mendapatkan ciuman jadi tanpa kau menetapkan aturan seperti itu pun, tidak akan ada yang mau menciummu.". Tidak ada ciuman apalagi sampai meninggalkan bekas.
Namun, apa yang El lakukan justru sebaliknya. Sereia semakin merasa jijik pada dirinya sendiri. Dengan bekas ciuman ini, dia tidak bisa melayani pelanggan untuk sementara waktu kan? Sereia semakin membenci El.
"Aku tidak akan menerimanya lagi," batin Sereia.
Bahkan jika uang yang ditawarkan EL cukup besar, Sereia bertekad akan menolaknya.
Sereia masuk ke dalam rumahnya.
"Aaaakhhh!"
Sereia sedikit menjerit karena dikagetkan oleh adik-adiknya. Dia memiliki tiga adik. Yang pertama berusia empat belas tahun, laki-laki dan namanya adalah Erix, yang kedua dan yang ketiga kembar laki-laki dan perempuan berusia sembilan tahun.
"Kak Sereia selamat ulang tahun," ucap si kembar.
Sereia yang semula kesal setengah mati langsung terkejut dengan kedua mata berkaca-kaca. Si kembar memegang kue ulang tahun berbentuk bundar. Terdapat beberapa lilin diatasnya yang sudah menyala.
"Selamat ulang tahun," kata Erix muncul dari ruang tengah. Tidak seperti kedua adiknya yang terlihat begitu gembira, anak laki-laki itu terlihat biasa saja.
"Kamu pulang telat," kata Erix.
"Maafkan aku, aku harus lembur sebentar. Oh ya, apa ini?"
"Ulang tahunmu lah, kalau kami tidak mengingatnya, mungkin kau tidak akan pernah tahu kau berusia berapa sekarang," jawab Erix.
Sereia tersenyum bahagia.
Beberapa tahun yang lalu, orang tua mereka kecelakaan kemudian dirawat di rumah sakit. Tidak lama kemudian, keduanya meninggal secara bergantian. Sereia merasa dunianya runtuh saat itu juga. Adik-adiknya masih kecil, masih membutuhkan kasih sayang orang tua. Dia pun mencoba berbicara dengan saudara-saudara orang tuanya, meminta pertolongan tetapi bantuan mereka pun tidak seberapa, mereka sempat tinggal di salah satu rumah mereka malah mendapatkan perlakuan buruk itu karena orang tua mereka dikenal jahat ke keluarga mereka.
Setelah lulus sekolah, Sereia bekerja di sebuah rumah makan sebagai pelayan. Kenyatannya, gajinya tidak cukup untuk biaya hidupnya dan adik-adiknya apalagi untuk biaya sekolah Erix. Tidak seperti dirinya yang tidak punya cita-cita dan ambisi, Erix memiliki cita-cita. Sebagai kakak yang bertanggung jawab, dia bersedia melakukan apapun demi mendukung adiknya.
Sereia yang mulai putus asa dengan keadaannya, memilih jalan menjadi wanita penghibur untuk mendapatkan uang tambahan. Dia tahu apa yang dia lakukan salah dan jika sampai adik-adiknya tahu atau keluarganya tahu, maka mereka pasti akan kecewa. Terutama Erix.
Setiap kali dia pulang, Erix selalu menatapnya dengan tatapan curiga. Semakin kesini, Sereia semakin merasa bersalah pada adik-adiknya, pada dirinya sendiri, dan pada orang tuanya.
"Hari ini kamu tepat berusia 22 tahun kan?" tanya Erix.
Sereia mengangguk sambil memotong kue untuk adik-adiknya. "Kalian membeli kue ini darimana uangnya?"
"Tentu saja kami menabung," jawab Erix.
Sereia langsung menghentikan apa yang sedang ia lakukan. "Kalian tidak seharusnya menabung, kalian bisa meminta uang padaku untuk membelinya," jawab Sereia.
"Daripada itu, bukankah lebih baik kamu yang menabung untuk pernikahanmu. Kupikir umur segini waktu yang bagus untukmu menikah. Dengan begitu, ada laki-laki dewasa disini yang bisa menjadi kepala keluarga," kata Erix. "Dan dia mungkin bisa membantuku menjadi pengusaha."
Sereia terdiam dan ekspresi wajahnya yang semula senang berubah menjadi kaku. "...Kurasa pernikahan masih terlalu jauh untuk kakak, Erix."
"Kakak kan cantik, masa kakak tidak laku?" tanya adik kecilnya.
Sereia tersenyum lembut dan mengusap kepala adik perempuannya. Dia hendak menjawab, tapi telponnya berbunyi. Dia buru-buru mengambilnya.
Datang ke alamat ini.
Jalan Teratai Biru Nomor 965
Sekarang!
"Woy Minggir!" teriak seseorang.
Orang yang sedang mengendarai sepeda itu sudah berkali-kali berteriak pada El untuk minggir karena dia akan lewat tapi El tidak menggubrisnya. Dia tetap berjalan di tempatnya. Akhirnya orang itu berteriak sangat kencang. Barulah El berhenti kemudian menoleh ke belakang dengan jengkel.
"Berisik!" bentak El.
Seperti biasanya, bahkan cuma masalah kecil pun El langsung tersulut amarahnya. Dia hendak memukuli orang yang naik sepeda itu yang sudah berhenti karena dihentikan oleh El. Namun, beberapa orang yang lewat mencoba menghentikan El.
Sejak kepulangan Sereia dari rumahnya, El merasa seperti orang linglung. Dia pikir karena rokoknya sudah habis. Dia memutuskan untuk ke warung untuk membelinya. Biasanya dia tidak membeli di warung yang letaknya paling dekat dari rumahnya, tapi karena dia pikir, kali ini benar-benar gawat jadi dia tidak punya pilihan lain selain ke warung terdekat.
Suasana hatinya semakin kesal karena dihentikan mengamuk oleh beberapa orang. Setelah membeli rokok dia pulang ke rumah. Dia mengambil ponselnya. Ada banyak pesan masuk dari teman-temannya.
Kebanyakan menanyakan soal bagaimana ia menghabiskan waktu bersama Sereia. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan teman-temannya, ia justru lebih tertarik pada pembicaraan teman-temannya mengenai Reza yang katanya sedang bersama Sereia.
El tidak ingin percaya bahwa belum lama Sereia menghabiskan waktu bersamanya, dia sudah bersama lelaki lain terlebih itu adalah temannya sendiri. Tidak. Kalau dia berpikir seperti itu maka sama saja dia tidak waras.
El tidak ingin peduli, tentu saja, dia tidak peduli mengenai apa yang teman-temannya lakukan selagi itu tidak merugikan dia. Lagipula, itu bukan urusannya. Namun, dia merasa sedikit aneh. Malam ini, perasaannya benar-benar tidak seperti biasanya.
El merasa mulai diganggu oleh sesuatu.
El tidak tahan lagi. Dia mengambil jaketnya kemudian bergegas ke tempat dia biasa nongkrong dengan teman-temannya. Sebelum ibunya pulang kemudian memarahinya seperti biasanya karena dia belum mendapatkan pekerjaan.
Sesampainya disana, El disambut oleh teman-temannya.
"Bagaimana dengan Sereia?"
Baru saja El turun dari motor sudah ada yang bertanya seperti itu. Beberapa temannya yang mengenalnya begitu dekat, merasa heran karena El tidak se-antusias seperti biasanya. Mereka bertanya-tanya apa yang menyebabkan lelaki itu murung. Apalagi lelaki itu ditanya dan jadi pembahasan di grup chat malah tidak menunjukkan respon apapun.
"Yah, tidak buruk juga," jawab El santai.
"Wanita itu menerima tawaran Reza setelah tidur denganmu, benar-benar murahan kan?" tanya salah satu temannya.
"Kau tidak merasa dikhianati El?"
Teman-temannya tertawa.
"Kalau kalian tertawa sekali lagi, aku akan menghajar kalian semua!" ancam El.
Seketika teman-temannya berhenti tertawa.
Sebenarnya pertanyaan itu mengena sekali di hatinya. Namun, tentu saja El berusaha menyangkal dan menyembunyikannya setengah mati.
"Tidak usah pikirkan perempuan bejat itu El, sekarang ayo kita main," ajak sahabat karibnya, Lingga.
El menggelengkan kepalanya. "Uangku habis. Ngomong-ngomong, kenapa wanita itu jadi seperti itu?"
"Hah? Wanita itu siapa? Sereia maksudmu?" tanya Lingga.
El mengangguk. "Dia sangat berubah daripada waktu masih sekolah. Apakah itu benar-benar dia?"
"Aku juga kaget saat melihatnya setelah sekian lama. Apa kau tidak tahu? Waktu mau lulus kan orang tua Sereia meninggal setelah kecelakaan dan dia katanya mempunyai banyak adik. Kalau tidak salah, adiknya ada tiga. Mungkin dia jadi seperti itu karena adik-adiknya," kata Lingga.
El tidak pernah mendengar soal ini.
"Kenapa aku baru mendengar soal ini?" tanya El.
"Kita jarang membicarakan soal dia kan? Waktu orang tuanya meninggal juga banyak yang tidak tahu. Mungkin karena dia tertutup. Kami juga baru tahu kalau dia adalah kupu-kupu malam juga baru-baru ini makanya kami baru sering membicarakannya," ucap Lingga.
"Kau tidak mau mencobanya Ngga?" tanya lelaki lain.
Lingga melirik ke arah El yang terlihat fokus memikirkan sesuatu. "Tidak. Aku tidak mau membuat masalah."
Mendengar suara Lingga yang hati-hati, El melirik ke sahabatnya itu. Lingga tampaknya menyadari kegelisahannya. Dia paham kemana arah ucapan sahabatnya itu.
"Yang benar saja," ketus El. Dia tidak mungkin memikirkan Sereia sampai sejauh itu. Dia tidak akan pernah lagi tidur bersama perempuan itu. Tidak akan pernah.
Seperti biasa, El pulang ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari. El lagi-lagi harus bersiap mendengar ocehan ibunya. Dia juga harus siap menerima lemparan benda-benda dapur.
Sungguh, suasana hatinya semakin malam semakin buruk. Sejak tadi, dia menahan diri untuk tidak mengecek ponselnya. Dia tidak peduli kalau teman-temannya membicarakannya. Dia pikir jika dia sampai melihat pembicaraan teman-temannya yang pasti sedang membahas Reza dan Sereia, suasana hatinya kemungkinan besar akan semakin memburuk.
Di tengah jalan, motor yang dikendarai El tiba-tiba mati. El mencoba menyalakan motornya. Suasana begitu sepi, tidak ada bengkel terdekat, dan tidak ada seorang pun. Dia juga jauh dari rumah-rumah warga.
"Kenapa harus mati sekarang sih!" teriak El luar biasa keras sampai menendang motornya hingga motornya jatuh.
Hari ini El anggap sebagai hari terburuknya.
"Dasar wanita pembawa sial. Aku mengalami hari yang buruk pasti gara-gara sudah tidur bersamanya," batin El.
El pun terpaksa menuntun motornya sampai ke rumah.
"Kupikir kamu menginap di rumah teman karena sudah ketahuan melakukan sesuatu di luar batas. Kenapa tidak menginap sekalian di rumah teman?" tanya sang ibu begitu melihat putranya dari jendela, dia langsung membuka pintu rumah dan menginterogasi putranya.
El malas menjawab pertanyaan ibunya jadi dia menyingkir dan bergegas ke dalam kamarnya.
"Tunggu dulu El! Aku dengar dari tetangga kalau kamu membawa perempuan ke rumah. Apa yang sudah kau lakukan?" tanya sang ibu. "Aku sudah mewanti-wanti kamu untuk tidak pernah membawa perempuan ke rumah."
"Aku tidak mau membahas soal itu ma. Aku sudah besar," jawab El tanpa berhenti melangkah.
"Kalau sudah besar kenapa kamu tidak bekerja? Sudah seperti itu, kamu tidak pernah berubah. Tidak ada pengertiannya sama sekali membantu ibumu. Ibumu capek pulang kerja demi kita bisa makan. Seperti ini rumah masih berantakan. Kamu isinya main terus!"
El diam saja. Jika dia menjawab kemungkinan besar mereka malah bertengkar. Ia bertahan mati-matian untuk tidak marah karena ini sudah larut malam dan jika ada tetangga yang mendengar bisa saja menghampiri mereka seperti yang pernah terjadi saat itu. Lalu selain itu ibunya akan semakin mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat hatinya terasa nyeri.
El masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu dengan sedikit membantingnya. Dia merebahkan diri di ranjang sambil memejamkan matanya. Tetapi saat dia mencium aroma yang familiar dia langsung membelakkan matanya. Dia menghirup lagi untuk memastikannya.
Bau Sereia masih tertinggal.
El sudah tidak tahan lagi untuk melampiaskan kemarahannya. Dia pun duduk kemudian meninju tembok, tak peduli jika terasa sakit.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganku?" bisik El.
El berharap saat bangun besok apa yang terjadi hari ini sudah ia lupakan.
Alih-alih lupa, El justru memimpikan perempuan itu. Pintu kamarnya digedor-gedor oleh ibunya. El pun segera bangkit menghampiri ibunya.
"Apa?" tanya El.
"Sana! Beli lauk!" titah ibunya. Dia memberikan uang 50 ribuan pada putranya itu. El menerimanya.
El yang masih mengantuk pun langsung ke depan. Dia baru ingat saat melihat motornya. Motornya masih belum bisa nyala. Motornya sering tiba-tiba mati tapi jarang mati saat ia pulang dari tempat nongkrong.
"Ma, aku boleh minta uang tambahan. Aku mau ke bengkel sekalian!" ucap El setengah berteriak.
Ibunya El buru-buru keluar setelah memasak nasi. "Makanya kerja jadi kamu bisa beli motor baru!"
Motornya El memang keluaran lama.
Mendengar perkataan ibunya, kantuk El buyar. "Jangan terus-menerus mengaitkan dengan aku harus bekerja. Aku juga sudah berusaha sebisaku. Mama pikir kalau aku keluar kalau bukan buat mencari pekerjaan memangnya apalagi?"
"Kamu judi dan main perempuan!" bisik ibunya tajam. Setelah itu, dia masuk ke dalam.
Tidak mau membuat ibunya lebih marah lagi, El pun terpaksa menuntun motornya ke bengkel terdekat. Sesampainya disana, dia bertanya pada orang-orang disana dimana ia bisa beli lauk dan mereka menunjukkan tempatnya. El pun berangkat kesana jalan kaki karena katanya tidak jauh sementara motornya ditinggal.
Rumah makan itu cukup luas. Bagian dalamnya terlihat cukup bagus. El berdiri di depan bilik kaca dimana makanan-makanan disimpan di dalamnya.
"Silahkan mas," ucap perempuan di dalam rumah makan tersebut.
"Ayam goreng dua, pakai sambel terasi, terus tumis daun singkongnya 10 ribu," kata El.
"Ada tambahan lagi?"
"Sudah itu saja."
"Totalnya 23 ribu."
El mengambil uang di saku celananya lalu matanya fokus memperhatikan perempuan di balik bilik kaca yang sedikit gelap ini yang sedang membungkus lauk untuknya. Ketika menyadari sesuatu, dia menyipitkan matanya. Dia pun sedikit membungkuk kemudian menyipitkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas ke perempuan itu.
Saat pertama kali mendengar suaranya, dia pikir itu sedikit mirip dengan suara Sereia. Namun, dia sama sekali tidak kepikiran kalau perempuan yang sedang melayaninya ini adalah wanita itu.
El pun masuk ke dalam rumah makan tersebut untuk melihat lebih jelas. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok yang berdiri dibalik bilik kaca.
"Kau bekerja disini," ucap El.
Sereia juga sama terkejutnya. Dia tidak habis pikir bahwa yang saat ini berada di dekatnya adalah El. Suaranya memang mirip tapi dia pikir, mana mungkin itu El. Namun ternyata memang benar dia.
Sereia fokus pada apa yang ia lakukan tanpa melirik sedikitpun kepada El.
"Apakah dengan Reza lebih menyenangkan dibandingkan bersamaku?" tanya El.
El pikir dia sudah gila menanyakan itu kepada Sereia. Dia seharusnya tidak mengeluarkan pertanyaan seperti itu, itu tidak ada hubungannya sama sekali dengannya mau Sereia lebih senang bersama Reza. Dia sendiri tidak mengerti dengan dirinya saat ini.
"Totalnya 23 ribu," kata Sereia sambil menyerahkan makanan-makanan tersebut kepada El tanpa menatap lelaki itu sama sekali.
El memperhatikan pakaian Sereia. Bahkan lehernya pun ditutupi. Pasti karena apa yang sudah ia lakukan kemarin. Meski begitu, dia tidak kepikiran untuk minta maaf.
El menerima lauk yang ia beli kemudian menyerahkan uang 50 ribu.
"Kalau tambahan rames satu bungkus berapa?" tanya El.
"10 ribu."
"Baiklah, rames satu."
Sereia yang sedang mengambil kembalian langsung berhenti kemudian mengambil kertas minyak.
"Untuk kamu," kata El.
Sereia langsung menoleh ke El. Matanya menyipit semakin dingin. El menatapnya dengan sedikit senyuman di bibirnya.
"Mungkin aku bisa dapat bonus," kata El setengah berbisik.
Sereia mengerti maksud ucapan El. Dia mendengar dari rekan-rekan El bahwa lelaki ini seringkali berjudi dan main perempuan. Malah bisa dibilang setiap hari. Namun di sisi lain, lelaki ini belum mendapatkan pekerjaan jadi terkadang dia hutang ke temannya.
Sereia berpikir bahwa El ingin menghabiskan waktu bersamanya tanpa membayarnya. Itu yang dimaksud soal bonus yang dia katakan.
"Hargaku bukan 10 ribu," jawab Sereia dingin.
"Tapi di tempat tidurku kamu sampai memoh-"
"Terima kasih atas perhatian palsumu. Ini kembaliannya," ucap Sereia sambil menyerahkan uang kembalian kepada El.
El tidak mau menerimanya jadi Sereia meletakkannya di meja. Setelah itu, dia meninggalkan El.
"Padahal aku hanya bercanda. Aku memang berniat memberi. Mungkin saja kamu belum sarapan," kata El.
Sereia mengeluh di dalam hati. Untung saja baru dia yang datang kesini. Kalau ada yang mendengar pembicaraannya dengan El, bisa gawat. Dia memutuskan untuk membersihkan meja makan lalu setelah cukup lama, dia menoleh ke arah depan untuk memastikan apakah El sudah pergi.
Pelanggan baru datang. Sereia balik lagi ke tempat tadi untuk melayani pelanggan tersebut dan dia tidak sengaja menemukan uang 10 ribu tergeletak di tempat tadi dia menaruh kembalian untuk El. Dia curiga uang ini sengaja ditinggalkan oleh El. Bahkan jika lelaki itu berniat tulus, dia tidak akan pernah menerimanya.
Tidak hanya uang 10 ribu yang ditinggalkan oleh El, tapi juga pesan singkat. Sereia mengecek ponselnya. Dia pikir dari orang lain ternyata dari El. Benar juga, dia berencana memblokir nomornya.
El
Minggu besok reunian. Aku yakin kamu tidak akan datang karena malu pada mereka karena kamu sudah menjadi kupu-kupu malam.
Setelah membaca pesan tersebut, Sereia langsung memblokir nomor El.
"Nomorku langsung diblokir," gumam El.
El bertanya pada Lingga apakah dia tahu dimana rumah Sereia. Setelah mendapatkan jawabannya, dia pun berencana menuju kesana.
El benar-benar tidak pernah sejauh ini kalau soal perempuan.
Bagi El, cinta itu tidak lebih dari sekedar omong kosong. Dia tidak pernah ingin memiliki pacar karena menurutnya itu akan membuatnya semakin terkekang. Banyak perempuan yang menyatakan cinta padanya dan dia memanfaaatkan mereka. Alasannya karena dia pikir mereka yang menyatakan cinta padanya hanya tertarik dengan penampilannya saja.
Ayah El sudah lama pergi dari rumah. Dia bercerai dengan istrinya karena masalah keuangan dan kelakuan putranya. El adalah anak tunggal. Namun, El merasa bahwa dia tidak pernah disayang.
Sejak kecil, El sering dimarahi oleh ayahnya. Tidak hanya dimarahi menggunakan kata-kata tapi dia juga sering dipukul hingga wajahnya sering bengkak dan dibawa ke bidan oleh ibunya. Itulah kenapa El tumbuh menjadi orang yang sering main tangan dan amarahnya mudah sekali terpancing.
Sebelum ke desa tempat tinggal Sereia, El menaruh lauk yang ia beli di rumah dan menyerahkan uang kembalian pada ibunya.
"Kembaliannya kenapa cuma segini? Kamu mengambilnya?" tanya sang ibu setengah berteriak karena El begitu terburu-buru keluar.
"...Anggap saja begitu!" jawab El.
"Anggap saja begitu, benar-benar itu anak!" keluh ibunya.
El balik ke bengkel untuk mengambil motornya. Kira-kira lima menit berlalu, dia sampai di desa tempat tinggal Sereia.
"AKu tidak tahu kalau dia tinggal disini, lumayan dekat dari rumahku. Dia juga bekerja di rumah makan, apakah dia sudah lama berada disana atau masih baru?" bisik El.
El melihat seorang anak laki-laki dan perempuan. Mereka mengenakan seragam sekolah sd. Dia pun mendekati mereka.
"Permisi dek, mau tanya, rumahnya Sereia dimana ya?" tanya El.
Kedua anak itu saling pandang.
"Sereia kan kakak kami."