Bab 1

" Akhh, berhenti sak_it."

" Pelase. Gue mohon hentikan. Bunuh gue aja, jangan kaya gini. "

" Tidakh akan. Kamu akan hidup bareng gue selamanya sayang. "

" Akhh enak banget ughh. "

" Sekeras apapun lo nolak, lo tetep bakal jadi milik gue. "

Tangisan wanita itu semakin pecah, di iringi desahan yang sesekali keluar dari bibir nya. Pria di atas nya begitu bringas mengambil hal yang dijaga oleh pemilik nya.

Tak peduli sekeras apapun wanita itu menolak dan meracau meminta berhenti, pinggul nya tetap bergerak dengan tempo yang cukup cepat. Menusuk dan menenggelamkan benda keras itu di titik terdalam wanita itu hingga memekik sakit dan juga nikmat.

" Kumohon hiks. "

" Kenapa hmm ahh. Kenapa memohon? Ingin lebih cepat? Iya? " Kekeh nya dengan geraman serak. Urat di pelipis nya tercetak, membuktikan seberapa hebat nafsu yang menguasai pria itu.

" Ahhhh. Huhu, pelan please. "

" Nope! Akan lebih nikmat kencang seperti ini sayang " Sangkal nya.

" Pelan akhh! " Wanita itu memekik merasakan milik nya yang menyemburkan pelepasan nya, namun rasa nikmat dan sakit bercampur saat laki-laki di atas nya itu tak menurunkan tempo hentakan milik nya sedikitpun.

Wajah putih wanita itu sudah memerah, karena nafsu, marah, kecewa yang bercampur aduk. Tidak menyangka jika hal yang dijaga nya di ambil paksa oleh orang yang bukan cinta nya.

Dan sial nya, desahan tak bisa terhenti meskipun dia bersusan payah menahan nya untuk tidak keluar.

" Akhh jangan menjepit nya sayang. Aku akan sampai. " Erang nya.

Tangan wanita itu mencengram bahu penuh otot pria itu dengan kencang, " Pelase, di luar. " Mohon nya di sela desahan.

Dia tidak ingin bodoh dengan membiarkan benih milik pria itu tertanam di rahim nya.

" Ahh please. Di ah luar. " Pekik nya kesetanan. Milik nya terasa sesak dengan milik pria itu yang mengembung dan siap menyemburkan lava nya.

Pria di atas nya tak kalah kesetanan, menghentak dan menusuk dalam untuk mencapai puncak kenikmatan nya. Terganggu dengan tangan kecil itu, dia mengambil nya kasar, menekan di atas kepala wanita itu dan mendongak dengan desahan panjang. Kenikmatan itu meledak, membuat wanita di bawah nya mengejang sebentar menerima semburan sperma yang kini masuk ke dalam rahim.

" Brengsek!! Kenapa di dalem!! "

Seringai terbit di wajah tampan dengan rahang tegas itu, dia menunduk. Mengecup ringan bibir yang membengkak dan terlihat sexy itu.

" Itu tujuan ku. "

" Gila lo. Kalo hamil, sekolah gue berantakan. "

" Sudah ku bilang, apapun bisa ku dapatkan. Jika sejak awal menurut, semuanya tidak akan seperti ini. "

Air mata wanita itu kembali luruh dengan wajah tak peduli dan puas yang di berikan pria di atas nya. Tubuhnya bergetar hebat, perasaan takut mendominasi dirinya.

" Daripada bikin gue hancur perlahan, lebih baik lo bunuh gue. " Pinta nya serak, isakan menyesakan keluar dari bibir nya.

" Nope. Jika kamu membuat semuanya mudah, kamu akan bahagia. "

" Lepas. Biarin gue pergi. " Lirih wanita itu dengan nada putus asa. Nasi sudah menjadi bubur, mau menangis darah pun tidak akan mengembalikan keperawanan nya.

" Tidak ada yang akan pergi dari sini. "

" Ngapain lo!! " Pekik wanita itu, tubuhnya kembali meremang dengan bibir hangat pria itu yang mengulus nipple nya. Tangan nya yang terkunci oleh cekalan tidak bisa memberikan perlawanan.

" Ronde selanjutnya sayang. " Seringai nya.

" Brengsek! Gue gak ma- akhh. "

Dengan gampang nya, tangan kekar itu membalikkan tubuh sang wanita tanpa melepaskan penyatuan mereka dan kembali menghentakkan milik nya, memompa dengan cepat hingga desahan serak itu kembali mengalun.

Milik nya semakin licin keluar masuk karena sisa pelepasan keduanya. Tak membiarkan tangan nya menganggur, sesekali dia menampar bongkahan padat milik wanita itu hingga tercetak jejak merah.

" Ahh terus mendesah sayang eungh. Itu sangat indah! " Serak nya dengan suara berat.

Semakin kasar permainan nya, maka semakin tercetak wajah puas di wajah tampan itu. Lolongan dan permohonan berhenti bagai nyanyian merdu untuk pria itu, tidak ada rasa kasian yang timbul di hatinya.

Baginya, semakin tersiksa wanita di bawah itu karena nafsu. Maka hasrat nya semakin membuncah. Ini yang selalu dia impikan dulu dan baru tercapai sekarang.

" Kulum. " Serak nya, memasukkan jempol telunjuk nya dengan paksa ke mulut kekasihnya.

Merasakan lidah hangat itu membuat kepala nya seakan pecah, kenikmatam yang di rasakan nya berkali lipat. Sebentar lagi dia mencapai pelepasan nya.

" Ahh sayang eumh, sebentar lagi. " Erang nya dengan suara berat.

Pompaan terus dia lakukan hingga puncak nikmat ini kembali pecah untuk yang kesekian kalinya.

" Terimakasih sayang. " Bisik nya.

Cup

" Brengsek. Mati lo. " Umpatan lirih itu di sambut tawa senang.

Bibir itu mendarat lembut di bibir sexy wanita di bawah nya yang sudah menutup mata dengan ekrpesi kacau yang lagi-lagi terlihat sexy dan membuat hormon nya terasa panas.

" Sayang, kau tidur atau tidak kuat menerima kenikmatan? " Lirih nya, sesekali bibir nya mendarat di wajah penuh jejak air kata itu.

" Oke, istirahat lah." Lanjutnya dengan nada kecewa. Ekspresi nya bak anak kecil yang tidak di berikan permen.

" Masih ada esok, aku senang aku yang pertama. Dan sudah seharusnya seperti itu. "

" Good night honey. "

Bibir nya mengigit gemas bibir bengkak itu, dengan pelan dia mencabut penyatuan mereka hingga cairan itu kembali keluar.

" Malang sekali anak papah, tidak tertampung di rumah mamah mu. " Tutur nya sedih, kemudian tertawa pelan.

Tiga jarinya berusaha mendorong cairan itu, berharap masuk kembali kedalam. Meskipun sia-sia.

Dengan tubuh telanjang, dia beranjak dari tempat tidur. Duduk di sofa tak jauh dari sana dengan rokok yang sudah tersulut.

Netra tajam nya menatap tenang wanita di atas tempat tidur itu yang lelap dengan tenang, tubuh putih beberapa jam lalu sudah penuh oleh bekas merah. Tanda kepemilikan dan juga tamparan yang beberapa kali dia layangkan.

" Itu akibatnya jika bermain dengan ku. " Lirih nya yang menguap di ruangan kamar itu.

" Shit. Murahan sekali. " Umpat nya melihat milik nya yang kembali tegang. Hanya karena melihat tubuh telanjang di depan matanya itu. Dan ini tidak berlaku dengan semua perempuan sexy yang sering di temui nya di club.

" Kau pintar mencari rumah. " Kekeh nya mengusap milik nya yang menegang.

" Sabar, besok pagi kita berkunjung lagi. Biarkan dulu istirahat. " Bisik nya menenangkan, bibir nya tersungging lebar. Tak sabar membuat wanita itu mengerang dan mengumpat di sela desahan nya.

Sekasar apapun umpatan yang keluar dari wanita itu tidak membuat nya tersinggung, justru semakin terlihat menawan dan memacu adrenalin nya.

" Bukan nya butuh untuk di abadikan? " Gumam nya.

Dia mengambil sebuah kamera dari lemari, mendekat dan mengambil tempat terbaik untuk mengabadikan tubuh polos di atas tempat tidur itu.

" Terlalu cantik dan menawan untuk di lewatkan. "

Bab 2

" Eh Sil, temenin gue yuk. "

" Kemana? " Tanya Sila tanpa mengalihkan tatapannya dari handphone, mereka sedang berbaring di tempat tidur Sila.

Gadis itu terlihat menghela nafas pelan, " Ketemu sama pacar gue. Gue lagi ribut sama dia dan semalam janji bakal selesai in secara langsung, nyamperin dia ke tempat nya. "

" Yang salah siapa ?? " Sila menyimpan ponsel nya, menatap lebih serius gadis di samping nya. Roman-roman nya dia akan memberikan gadis itu wejangan untuk yang kesekian kali nya.

" Gue, dia baca chatan gue sama Gibran. "

Sila beranjak dari tidurnya, " Gue mandi dulu. " Beritahu nya. Mengerti kemana arah permasalahan yang di terima Septi. Dia chatan dengan Gibran yang merupakan mantannya, tentu saja salah.  Dan pacarnya pasti cemburu.

Setelah selesai mandi dan merapihkan diri, mereka berdua berangkat menuju kediaman Agra, pacar Septi. Menggunakan motor milik Septi.

Agra tinggal di sebuah apartement yang cukup jauh dari tempat kediaman Septi. Makanya gadis itu mengajak Sila untuk menemaninya karena dia memiliki sikap penakut untuk pergi sendiri ke tempat jauh.

Ting nong ting nong

Septi menekan bel apartemen kediamana pacarnya itu. Menunggu pemilik apartemen membuka pintu, Sila yang berdiri di belakang Septi melihat keadaan apartemen itu yang cukup sepi.

Bukan satu atau dua kali dia menemani Septi bertemu pacarnya, tapi ini pertama kalinya dia menemani Septi ke tempat pacarnya itu. Baru tau jika pria itu tinggal di apartemen.

Jarak satu pintu apartemen dengan pintu lainnya terbilang jauh, dan Sila sedikit terperangah dengan lantai gedung apartemen yang ditempati Agra, lantai 40. Lantai kalangan menengah keatas yang super sibuk dengan kerjaan mereka sehingga jarang ada di apartemen.

Berbanding terbalik dengan Agra yang masih SMA, mungkin dia satu-satunya penghuni yang masih bersekolah.

" Agra. “ panggil Septi.

Sila mengalihkan pandangan nya, menatap Agra yang sudah membuka pintu dan berdiri dengan muka bantal, khas sekali jika pria itu baru bangun tidur.

Dia langsung mengalihkan tatapan nya saat tak sengaja berkontak mata dengan pria itu. Sedikit risi dengan tatapa intens dan tajam pemuda itu.

" Masuk! "

Sila membuntuti Septi dengan ragu, masuk kedalam apartemen. Mereka duduk di ruang tamu.

" Selesain masalah lo kalo lo masih pengen sama dia, turunin ego lo. Disini lo yang salah. " Gumam Sila kepada Septi.

Agra datang dan duduk di hadapan mereka dengan wajah setengah basah, selesai cuci muka.

Sila tersenyum canggung, kemudian berucap, " Agra, gue numpang ke kamar mandi. " Sila sadar Septi menahan tangannya untuk tetap tinggal, namun Sila tak ingin ikut campur di permasalahan mereka. Pikirnya, jika dia ada disana, mereka tidak akan leluasa membahas permasalahan nya.

" Masuk ke dalem, deket dapur. " Beritahunya.

" Oke, thanks. " Ujar Sila dan pergi dari sana setelah melepas paksa tangan Septi yang memegang tangannya.

Gadis itu hanya pergi ke kamar mandi dan mencuci tangan serta berkaca, kemudian kembali ke arah ruang tamu. Namun saat di ruang TV yang menghubungkan dengan ruang tamu, dia mendengar perdebatan temannya itu. Akhirnya dia memiliki duduk dan tinggal di ruang TV, memainkan ponselnya dan membalas chat yang masuk.

" Aku minta maaf, aku gak ada hubungan apapun lagi sama Gibran. Dia cuma chat biasa. "

" Sumpah!! Kalo gak percaya kamu tanyain aja ke Sila, aku cerita ke dia. Aku sama Gibran bener-bener gak ada hubungan apapun. Lagian dia udah punya pacar. "

" Waktu itu dia pernah ajak aku buat nonton pertandingan Volly nya, tapi aku tolak. Percaya sama aku. " Jelas Septi.

" Yakin? Aku baca, kamu pernah minta dia anter beli makanan. Dan kamu gak ngasih tau aku. " Tanya Arga meremehkan.

" I_iya, itu aku terpaksa minta tolong sama dia karena motor aku lagi di pake. " Jawab Septi terdengar ragu.

" Kamu bilang gak pernah ketemu? Tapi kamu minta dia anterin beli nasgor. Kalo mau bohong, yang pinter. " Ujar pemuda itu yang berhasil menyudutkan Septi.

Sila berusaha menulikan pendengaran nya dengan obrolan mereka. Dia mengakui, temannya jelas salah, karena masih merespon perlakuan mantannya disaat mempunyai hubungan dengan Agra. Dan dirinya pun tau itu.

Awalnya dia tak mendukung dan menasehati temannya itu untuk tidak merespon lagi Gibran, namun karena susah di kasih tau, akhirnya dia hanya mendukung saja selama temannya itu bahagia dan nyaman.

Toh hanya sekedar chating.

Tapi ternyata, tidak hanya itu, mereka beberapa kali sempat jalan jalan malam untuk mencari udara segar. Dan Sila baru mengetahui nya tadi saat di jalan, Septi yang memberitahu nya sendiri.

Dia tak tahu saat kejadiannya, temannya itu tidak memberitahu. Pantas saja gadis itu rela jauh jauh menghampiri Apartemen Agra untuk menyelesaikan masalah karena memang dia yang salah.

Sila pun yang melihat kelakuan temannya itu geleng-geleng, apalagi Agra yang merupakan pacaranya, dia pasti sakit hati. Dan ini bukan perdebatan yang pertama.

Menjelang sore, hujan turun cukup deras. Septi mengajaknya pulang karna ibunya sudah terus meneror nya untuk segera pulang.

" Hujan, ti. Mau maksain? " Tanya Sila, mereka membawa motor, jelas saja akan terkena hujan.

" Masalahnya mamah gue udah telpon terus. Bisa di amuk gue kalo nggak pulang pulang. "

" Deres banget liat, ditambah ada petir lagi. " Seru Sila, dia tak berani jika keluar ada petir.

Tidak ada trauma, hanya takut dengan petir.

" Mau aku anterin pake mobil? " Tawar Agra,

Mereka sudah kembali membaik walaupun terlihat jika ada kecanggungan di antara mereka. Ada jarak tak kasat mata yang membatasi mereka.

Karna bagaimana pun, Septi sudah masuk tahap selingkuh. Pergi dan chatan akrab dengan pria lain selain Agra.

" Nggak bisa, mamah bisa marah kalo aku pulang gak bawa motor. " Bantah nya.

" Yaudah tunggu dua puluh menitan lagi, pasti reda. " Putus Sila.

" Kalo nggak gimana ? "

" Maksain pulang. Di dalem motor lo ada mantel kan? " Tanya nya memastikan yang diangguki oleh perempuan nya itu.

Sepasang manusia itu benar-benar tak melakukan percakapan setelah permasalahan mereka yang selesai tadi.

Septi beberapa kali bertanya random, namun Agra hanya merespon seadanya pertanyaan gadis itu. Dalam hati Sila meringis, disini dia juga merasa salah karna ikut andil dalam hubungan lain yang dilakukan Septi.

Cukup lama menunggu, Sila beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah kaca yang memperlihatkan suasana luar bangunan gedung apartemen itu.

" Masih ujan, tapi nggak sederes tadi. Mau maksain pulang sekarang? " Tanyanya Menghampiri.

" Gak papa? " Jawabnya yang malah balas bertanya.

" Ayo aja gue mah. Lagian nyokap lo udah nanyain, nanti lo yang kena marah. " Balas Sila.

Mereka bertiga turun ke basement, Sila membuka jok motor milik Septi dan mengambil mantel untuk di pakai mereka.

Dia yang memakai hoodie, melepas hoodienya" Pakai ini dulu biar anget. " Titahnya memberikan hoodie miliknya.

" Gak usah, lo aja. Kan lo yang bawa motor. " Tolak nya.

" Lo lagi pilek, nanti tambah sakit. Pake buruan. " Paksa nya dan merampas mantel yang akan dikenakan gadis itu.

" Tapi __"

" Pake! " Titah Sila. Untungnya tadi dia memakai kaos lagi, langsung saja dia memakai mantel nya.

Setelah selesai, dia membantu sahabatnya itu untuk memakai mantel.

" Kamu mau kemana? " Tanya Septi kepada Agra yang menghampiri mereka dengan motor sport nya.

Tadi mereka turun ke basement, namun pria itu melangkah ke arah lain.

" Naik. " Titahnya.

Septi menggelengkan kepalanya, " Nggak, aku pulang bareng Sila. "

" Lo kalo mau sama pacar lo gapapa. " Titah Sila, dia memakai helm nya.

" Tapi lo gimana? " Tanyanya ragu, " Nggak usah deh, gue sama lo aja. " Ucapnya.

" Kasian pacar lo udah mau nganterin, udah sana. Lagian lebih aman, jalanan licin sekarang. " Ujar Sila. Tidak sepenuhnya beralibi, selain itu juga dia tidak perlu khawatir jika ingin membawa motor dengan kecepatan tinggi.

Dibelakang, Agra tampak memperhatikan interaksi kedua perempuan itu.

" Udah sana, lo tadi udah berantem sama dia sekarang kesempatan supaya ngga canggung. " Titah Sila membisik.

" Yaudah deh, sorry lo harus sendiri. " Ujarnya menatap tak enak.

" Sans aja kali. " Kekeh Sila.

" Yuk, gue duluan. " Pamitnya dan menggas motor nya lebih dulu menuju keluar basement.

Hujan sudah lumayan reda memang, namun tetap saja terbilang lebat jika sudah di jalan. Apalagi Sila membawa motornya tak kira kira, gadis itu tak memperdulikan jalanan yang licin.

Mobil-mobil besar di hadapannya yang berjalan cukup kencang dia salip.

Bukan tanpa alasan, melainkan karena waktu yang akan semakin menjelang malam dan juga jarak yang ditempuhnya lumayan jauh.

Dia melirik spionnya, ternyata Agra juga membawa motornya dengan kecepatan yang sama. Pria itu membuntuti nya di belakang. Dia kira pria itu akan membawa dengan kecepatan rata-rata bahkan santai, mengingat jika sekarang dia sedang bersama kekasihnya. Namun ternyata salah.

Setelah satu jam di perjalanan, hujan mulai reda, Sila menggigit bibir bawahnya merasakan rasa dingin yang masuk ke tubuhnya. Mengingat jika dia hanya memakai kaos lengan pendek.

Kurang lebih setengah jam lagi dia sampai ke rumah Septi, matahari sudah tenggelam, lampu lampu di jalan semuanya sudah menyala.

Tangannya sudah cukup kram antara dingin dan pegal.

Helaan nafas sedikit lega keluar dari bibirnya setelah sampai di depan rumah minimalis milik Septi.

Namun Sila tetap harus menempuh jarak lagi untuk ke rumah nya, rumah mereka berjauhan. Sekitar 7 km lagi untuk sampai ke rumah nya, tapi setidaknya itu sudah dekat.

" Thanks banget Sil. " Ucap Septi yang sudah turun dari motor Agra.

" Your welcome," Balas Sila dengan senyum tipisnya, dia turun dari motor milik Septi.

" Nih kunci motor nya. " Yang diterima dengan baik oleh sang pemilik nya.

" Lo balik dianterin sama Agra. "Ucap Septi tegas

" Gapapa kan kamu anterin Sila? " Lanjut gadis itu menatap sang pacar yang masih duduk di atas motornya.

Pemuda itu mengangguk dan menatap Sila.

" Eh nggak, gue di jemput temen gue. Kebetulan dia lagi di rumah temennya, gak jauh dari sini. " Tolak Sila menggelengkan kepalanya.

Bukan temen deng, dia gebetan gue. _batin Sila.

" Lama. Lo harus nunggu lagi. " Bantah Septi.

" Gak papa sumpah, gue sama dia aja. Lagian pacar lo mau balik lagi kan? " Tanya Sila.

" Lo sama gue, ayo. " Ajak Agra.

" Nah, buruan. " Desak Septi mendorong temannya itu ke arah motor Agra.

" Ti, serius gue sama temen gue. " Melas Sila, berusaha menghentikan dorongan gadis itu.

" Lama, lo belum hubungin dia kan? Mending sama Agra sana. " Paksa nya.

Sila berdecak pelan, " Bentar kalo gitu, gue lepas dulu mantelnya. Disini udah gak ujan, malu njerr. " Gerutunya.

Septi terkekeh pelan, dia membantu melepas atasan mantel gadis itu.

" Hoodie lo nih, mau di pake nggak? " Tanyanya.

" Nggak deh, " Tolak Sila, dia memegang bahu Agra dan naik ke atas motor sport pria itu.

"Dingin, Sil. Lo cuma pake baju pendek. Tunggu bentar. " Titahnya. Dia berlari ke arah tempat jemuran, dan mengambil sebuah jaket.

" Punya Agra, lo pake aja. Nanti pulang nya suruh dia bawa balik. " Ucap Septi menyerahkan sebuah jaket hitam.

" Okey. " Balas Sila, namun dia hanya menerima jaket itu, tidak memakainya.

" Pake Sil!! Bukan cuma di Pegang. " Greget Septi.

" Iya iya, nih gue pake. " Kesal Sila karena terus di paksa.

Sedikit kesal juga karena rencana untuk pulang bersama seseorang yang dia sebut teman, gagal.

Dia tidak memberitahu Septi secara langsung karena malu. Mereka belum memiliki status, katanya kalo memberitahu seseorang sebelum resmi jadian, nggak akan jadian nantinya.

" Bye, gue balik. " Kata Sila saat Agra mulai memundurkan motornya dari pekarangan rumah Septi.

Sila membuka ponselnya saat mereka sudah mulai ke jalanan. Agra membawa motornya dengan cukup santai, jadi Sila tidak perlu takut saat duduk di atas motor besar itu.

Dia membuka handphone nya dan mengabari jika dia tidak perlu di jemput dan membatalkan rencana mereka untuk makan malam bersama.

" Astaga!! " Pekik Sila saat Agra merem motonya secara mendadak, otomatis dia tersentak kedepan dan menubruk punggu pria itu.

" Sorry. Motor di depan berhenti mendadak. " Ujar pria itu.

Sila membenarkan kembali duduknya, rasanya dia ingin mengumpat, namun menahannya.

" Lain kali hati-hati. " Pesannya dengan nada menahan kesal.

Kemudian motor pria itu berjalan kembali.

" Sorry sebelumnya, tapi bisa lebih cepet gak? Gue udah dingin banget. " Pinta Sila dengan tubuh yang condong kedepan supaya pria itu bisa mendengarnya.

Di depannya ini pacar orang loh, Sila tak enak jika mereka terlalu lama di perjalanan seperti itu.

" Jalanan licin. Bahaya kalo cepet-cepet. "

What!! Sila tidak salah denger kan!!

Trus tadi ngapain dia kebut-kebutan saat pulang dari apartement nya??

" Hah? Gimana ? " Tanya nya, takut salah dengar.

Belum sempat Agra membalas, hujan turun kembali dengan deras.

"pegangan, gue mau ngebut. " Titahnya. Pemuda itu melirik spion yang menampilkan wajah Sila, bibir pucat nya menjadi penegasan jika apa yang di katakan gadis itu tidak bohong jika dia kedinginan.

Tanpa di perintah dua kali, Sila memegang pundak pria itu sebagai pegangan. Dia tak mau sok sok an nolak dan berujung kecelakaan.

Motor pria itu sport, jika dia tidak berpegangan saat dibawa nanti, bisa-bisa tubuhnya terpelanting saat pria itu mengoper motor nya.

Dengan tubuh yang basah kuyup, mereka sampai di depan rumah Sila yang gelap gulita.

" Numpang ke kamar mandi, sebentar. " Pinta Agra yang turun dari motornya. Pria itu jauh lebih basah kuyup karena sejak dari apartemen tidak memakai mantel.

Sila ingin menolak, dirumah nya tidak ada siapa-siapa, tidak enak rasanya. Namun, lebih tidak enak menolak pria itu yang sudah mengantarnya walaupun dia tidak meminta.

" Ayok, " Ajaknya mengijinkan.

Dia menyalakan senter di handphone nya dan membuka kunci rumahnya.

Agra membuka sepatunya dan ikut masuk kedalam rumah.

Satu persatu lampu mulai menyala, Sila berbalik menghadap Agra.

" Ikut gue, " Titah nya dan masuk ke sebuah kamar.

" Kamar mandi nya di pojok sana. Lo mau ganti baju? Gue punya abang dan ada beberapa baju yang masih baru. Lo bisa pake nanti. "

" Boleh, " Jawab pria itu dengan senyum tipis dan masuk ke kamar mandi.

Sila membuka lemari baju milik abangnya, mengambil kaos dan celana selutut beserta dalamannya yang masih baru.

Tok tok tok

" Gra, bajunya udah gue siapin di atas tempat tidur. Gue mau ke kamar dulu ganti baju. " Beritahunya.

Agra menatap pantulan dirinya di depan cermin, kemudian menatap pintu kamar mandi yang terdengar suara Sila.

" It's time?? " Gumamnya menatap wajahnya di dalam cermin.

Dia menyugar rambutnya yang basah, bibirnya tertarik ke atas, menyeringai.

Bab 3

Sila membuka pintu kamarnya, dia keluar dari kamar dengan piyama panjang, rambut tergerai serta sandal rumahan bergambar kucing di kakinya.

Langkah nya langsung membawanya ke dapur untuk membuat minuman yang menghangatkan tubuhnya. Tangannya sudah mengkerut karena kedinginan.

Dia mengambil dua gelas dan memasukkan teh serta gula kedalam nya. Kemudian menuangkan air panas.

Telinganya sedikit terangkat mendengar suara langkah kaki yang datang di belakangnya.

Namun dia tak berniat menoleh, tangannya sibuk mengaduk pelan teh di depannya.

" Ngapain ?? “ suara berat itu masuk ke pendengaran Sila.

Gadis itu spontan menolehkan kepalanya saat mendengar begitu dekat suara Agra.

" Lo ngapain??! " Tekan Sila tak suka saat Agra meletakkan kedua tangannya di masing-masing sisi tubuhnya sehingga dia dalam kurungan pria itu.

" Minggir gak !! " Tekannya

" Agra!! " Bentak Sila saat tangan pria itu mulai memeluknya.

Dia meronta, berusaha untuk lepas. Demi tuhan ! Dia sangat terkejut dan cukup syok dengan tindakan yang di lakukan pemuda itu.

" Gila lo !! " Maki Sila.

Dalam hati dia sudah takut dengan tingkah pria itu. Tenaganya tidak akan sebanding, tingginya hanya sebatas dagu pria pria itu. Dan juga postur tubuh pemuda itu tentu lebih besar dengan nya.

" Santai sayang, aku tidak akan macam- macam kalo kamu nurut. " Bisiknya di telinga Sila.

" Najis, lo pacarnya temen gue. Ngapain manggil gue sayang. " Umpat Sila kasar.

" Masih pacar bukan suami, gapapa sedikit main main. " Ucapnya.

Sila langsung terdiam dengan kalimat yang dilayangkan pria itu.

" Kenapa? Gak asing hmm sama kalimatnya. “ tanyanya.

Sila meneguk ludahnya kasar, jelas dia tak asing, kalimat yang hampir sama itu pernah dia ucapkan kepada Septi.

Masih pacar bukan istri, gak papa sedikit main main.

Kan nyari yang tepat.

Kalimat itu langsung terngiang di kepala Sila.

" Septi beruntung banget punya temen yang care kaya kamu. " Kekeh Agra, dia membalik paksa tubuh Sila hingga menghadap dirinya.

Tangannya kanan nya terangkat dan mengelus sebelah pipi Sila, kemudian mencengkram nya.

" Mulai sekarang kamu pacar aku. "

" Akhh, ogah!!. "

" Lo gila!! " Umpat Sila berusaha menarik tangan pria itu yang mencengkram dagunya.

" Lepas dan pergi lo dari sini. " Teriak nya mengusir.

" Turunkan nada bicara mu sayang. " Geram Agra tak Terima karena terus di teriaki.

" Gila anjing, sumpah lo gila. " Pekik Sila mengumpati.

Bugh

Sila memukul rahang pria itu hingga cengkraman tangannya terlepas dari dagunya, kemudian mendorong Agra yang lengah dan berlari dari sana untuk menghindar.

Alarm bahaya di kepalanya mulai berbunyi dengan tingkah Agra yang membuatnya takut.

Derasnya hujan di luar terdengar, Sila meraih pintu keluar di rumahnya, mencoba ingin kabur keluar dan menghampiri rumah tetangga. Namun tubuhnya dengan kasar tertarik sebelum sempat dia memegang handle pintu.

Agra memeluk erat tubuhnya dari belakang, kemudian menyeretnya masuk kedalam kamar tamu yang tak jauh dari pintu keluar. Kamar yang tadi di gunakan oleh pria itu.

" Agra!! Lepas!! Lo gila, mau ngapain anjing. " Umpat Sila dengan kaki yang bergerak memberontak.

" Berhenti mengumpat sayang!! " Sentaknya dengan nada rendah.

Tubuh Sila bergetar, air mata di pelupuk nya mulai menumpuk. Takut dengan tindakan dan sikap dari pacar temannya itu.

Pria itu duduk di pinggir tempat tidur dengan Sila yang ada di pangkuannya.

" Ingat Gra, lo pacar temen gue. " Cicit Sila.

" Aku ingat. Tapi teman mu yang memulainya lebih dulu, dia yang bermain belakang lebih dulu, kamu mengetahui nya dan kamu malah mendukungnya. So, kenapa aku juga tidak boleh melakukan nya? " Ujar pria itu, dagunya dia letakkan di bahu Sila.

" G_gue udah nasehatin dia kok, tapi percuma. " Bantah Sila.

" I don't care, intinya kamu mendukung perbuatan buruk teman mu itu. Jika kamu tidak mendukung, harusnya kamu memberitahu aku sejak awal. "

" Gue gak punya hak buat ikut campur urusan hubungan kalian. " Ketus Sila.

" Lo jangan gini. Gue temennya pacar lo, dan Septi juga kayak gitu sama mantan nya cuma sekedar chatan gak lebih. Lo jangan asumsi sendiri. " Lanjut nya.

" Kamu salah, mereka lebih dari sekedar chatan. " Bantah Agra.

" Gue gak tau dan gak mau tau soal permasalahan kalian, please, jangan seret gue masuk ke permasalahan kalian. " Ujar Sila dengan nada memohon.

" Kalo lo emang sakit hati karna sikap Septi, lo mending putusin dia, mumpung hubungan kalian belum lama. Dan cari cewe yang lebih bisa ngertiin lo. Dari awal, Septi memang salah karna mulai hubungan baru tapi belum selesai sama masa lalu. " Saran Sila dengan nada lebih halus.

Dalam hati dia mengumpat habis-habisan, posisinya terancam. Agra bisa nekat menyakitinya dan jika itu terjadi, Sila benar-benar akan habis di tangan pria itu tanpa ada yang menolongnya.

" Tidak semudah itu. " Balas Agra.

" Ck, terus lo pengen gimana? Kalo mau bales selingkuh, silahkan, itu hak lo. " Ketus Sila.

" Aku pengen kamu. " Gumamnya, dia memejamkan matanya menghirup aroma yang menguar di rambut Sila.

" Lepas lepas, lo kayaknya beneran gila. "  Berontak Sila mencengkram tangan pria itu yang melilit perutnya.

Agra ganteng? Tentu saja, dia bahkan badboy idaman anak-anak sekolah. Tapi Sila tidak menyukai nya, selain karna pria itu adalah pacar temannya, dia sudah menyukai pria lain dan sialnya hingga saat ini belum kunjung jadian.

" Jadi pacar aku La. " Pinta nya

" Apasih, ogah. Gue gak suka sama lo. " Ketus Sila.

" Nanti lama-lama juga suka. " Balasnya.

" Gue. Gak. Mau. Lo pacar nya temen gue, gak mungkin gue nusuk dari belakang. " Tekan Sila.

" Nanti kalo kamu udah suka sama aku, aku putusin Septi. " Ujarnya enteng.

" Brengsek. " Maki Sila.

" Aku harus gimana biar kamu Terima aku? " Tanyanya dengan nada seperti merengek.

Sila mengernyitkan alisnya, ekspresi nya seperti orang yang akan muntah mendengar ucapan pria itu.

" Lepasin gue dulu. " Pinta Sila.

" Terima dulu, baru aku lepasin. "

Anak anjing! -Umpat Sila dalam hati.

Septi tidak pernah bercerita jika pacar barunya itu sangat menyebalkan dan juga terkesan childish. Sahabatnya itu selalu bilang jika Agra orang yang dewasa namun cuek.

Dewasa ? Kayak babi gini di bilang dewasa.

" Gra, please lepasin. Setelah itu lo pulang sebelum abang gue pulang. " Pinta nya dengan nada memohon.

" Terima dulu, baru kamu boleh lepas. " Paksa nya masih dengan permintaan yang sama.

Akh, brengsek!!

Umpat Sila saat tangan pria itu mulai mengelus perutnya dengan halus.

" Iya-iya, terserah lo. Sekarang lepasin. Gue. " Ucap Sila cepat.

Agra terkekeh pelan, dia melonggatkan tangannya dan hal itu dijadikan kesempatan untuk Sila bangun dari pangkuan pria itu.

Sila menatap pria itu dengan wajah memerah menahan amarah, namun dia menahannya. Tak ingin memancing Agra.

" Pulang! Abang gue bentar lagi balik. " Usir Sila.

Tak peduli di luar hujan deras, Sila tak ingin hal lain yang tidak mengenakan terjadi.

Agra gila, semoga pria itu melupakan kejadian hari ini dan bersikap seperti biasa.

" Oke. Aku pulang, besok aku kesini lagi. " Ucapnya dan bangun dari duduknya.

" Gak usah, ngapain ??! " Sentak Sila spontan.

" Main. " Jawabnya santai.

Dia berjalan ke arah kursi yang terdapat jaket hitam yang di pakainya tadi, dan memakainya kembali.

Setelah di perhatikan, jaket itu ternyata semacam jaket kulit dan tidak tembus terhadap air. Pantas saja pemuda itu tidak memakai mantel.

"Gak usah, lo main aja ke rumah Septi. Gue udah ada urusan besok pagi. " Bantah Sila.

" Septi mau jalan sama Gibran. Aku gak mau ganggu. " Beritahunya.

" Stress, pacar lo itu. Kok malah di biarin. " Cibir Sila, dia tak tahu menahu jika Septi akan jalan bersama Gibran. Temannya itu tidak memberitahu dan darimana Agra mengetahui nya??

" Pacar aku kan sekarang kamu. " Ujarnya dengan senyum puas.

" Jadi besok aku kesini, jangan kemana-mana. Batalin urusan kamu besok. " Titahnya memerintah.

Dih, ngatur lo?! Gue gak nge iyain kalo gue mau jadi pacar lo

Kalimat itu hanya bisa Sila suarakan dalam hatinya.

Cklek cklek

Sila mengunci pintunya rapat setelah Agra keluar dari rumahnya, tak peduli jika pria itu belum benar-benar keluar dari pekarangan rumahnya.

Dia menyandarkan tubuhnya dibalik pintu dan memegang jantungnya yang berdetak kencang karena takut.

tin

Sila mengintip dari balik gorden, memastikan pria itu susah benar-benar keluar dari halaman rumah nya.

" Dia gila, demi apapun gue gak mau ketemu lagi sama dia. "

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED