Bab 2

Bayang Wajahnya Tak Mau Pergi

"Kenapa ama gak tidur sekalian aja daripada duduk sendirian di teras?" Dua orang itu masih berjalan berhimpitan menuju teras, dengan tangan Ghani yang masih bertengger di bahu wanita cantik di sebelahnya,  yang juga tengah memeluk pinggang Ghani. Meninggalkan Rheno di belakang yang sedang mematung, shock mendengar dialog  dua orang di depannya itu.

WHAT???

MAMA???

BRAK!!

Kedua orang yang tengah berjalan di depannya serempak menoleh kaget.

"Rheno? Ada apa?"

"Eh, sorry! Gak sengaja, nutup pintunya terlalu bersemangat!" tanpa sadar Rheno yg masih berdiri di samping mobil dengan pintu yg masih terbuka, mendorong pintu mobil sekuat tenaga sehingga tertutup dengan suara yang lumayan keras. Mengagetkan dua orang yang tengah berjalan mendahuluinya menuju rumah.

Entahlah, setelah mendengan pembicaraan keduanya, tiba-tiba saja otak Rheno seakan nge- blank. Langkah kakinya pun seolah melayang tak menapak tanah. Ia berjalan dengan pikiran penuh pertanyaan tanpa jawaban yang berputar-putar.

Ternyata mereka itu..

Ternyata wanita cantik itu..

Ya Tuhan, benarkah? Tetapi...

"Kamu mau masuk dulu, Bang?" tanya Ghani seraya berbalik menghadap temannya yang tertinggal. Kalimat tanyanya memecah pusaran yang serasa memenuhi otak Rheno membuat sosok jangkung itu tergagap.

"Aku  eh, mmm-maaf sudah malam, Aku mau langsung pulang aja. Maaf Mbak, eh Tante! Saya pergi dulu!" pamitnya dengan gugup dan wajah memanas malu. Untung baginya karena cahaya lampu teras tak terlalu terang, jadi wajah merahnya tak terlalu terlihat oleh dua sosok di depannya itu. Rheno mengangsurkan tangannya lagi, dan kali ini wanita cantik di samping Ghani menyambut uluran tangannya.

Oh Tuhan, telapak tangannya terasa halus dan hangat. Atau jangan-jangan, malah telapak tanganku yang dingin! Batin Rheno kikuk.

"Selamat malam Tante , Ghani aku balik dulu ya!" pamitnya lalu buru-buru melepaskan genggaman tangan halus mama Ghani dan berjalan ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari mobil Ghani yang habis mereka pakai tadi.

"Langsung pulang ya, sudah malam! Hati-hati di jalan!" Sempat didengarnya suara halus merdu itu menyapa indera pendengarannya sebelum Rheno masuk dan mulai menjalankan mobilnya.

Setengah perjalanan antara rumah Ghani dan rumahnya, Rheno memelankan laju mobilnya. Telapak tangannya masih dapat merasakan halus dan kehangatan genggaman tangan mama Ghani. 

Tanpa sadar diciumnya telapak tangan kanannya. Samar masih tercium aroma harum dari lotions wanita itu. Angan Rheno pun melayang.

Ya Tuhan, kenapa jadi seperti gila rasanya?

Ia tidak tahu rasa apa yang saat ini tengah menderanya. Wajah ayu itu terus berputar-putar dibenaknya. Suara halus merdunya terasa masih membelai gendang telinganya. Dan aroma samar di telapak tangannya yang sedari tadi masih berada di depan indera penciumannya. Masih terasa memabukkan.

***

Tok! Tok! Tok!

Senyap. Kamar besar di lantai dua itu masih terlihat gelap karena kain tirai tebal penutup pintu kaca menuju balkon masih terbentang menghalangi cahaya matahari yang sudah benderang.

Tok! Tok! Tok!

"Rheno!! Bangun wooooyyy!!"

Ketukan keras di pintu dibarengi teriakan membahana cukup membuat Rheno gelagapan. Tercenung sejenak, lalu tiba-tiba menarik kasar selimut yang melorot menutupi bagian bawah tubuhnya bersamaan dengan terbukanya pintu kamar.

"Woy bangun! Udah siang tau. Kemaren kamu bilang mau jogging bareng aku. Masa aku sudah dapet tiga putaran keliling kompleks, sudah keringetan plus ngos-ngosan eh jamunya masih enak-enakan produksi iler sama belek! Dasar kebo!" damprat makhluk imut yang menerobos masuk kamar Rheno sambil buru-buru jalan ke arah pintu balkon dan dengan gemas dibukanya tirai tebal penutup pintu kaca.

Seketika keadaan kamar yang tadinya gelap langsung jadi terang benderang. Tanpa sadar Rheno makin mengeratkan selimut yang menutupi badannya.

Wajahnya terasa panas ketika sekelebat ingatan tentang mimpinya semalam. Sementara makhluk imut cerewet yg tengah berdiri di depannya masih menatapnya dengan pandangan heran.

"Kenapa sih kamu? Muka kamu aneh banget?" tanya Andien cewek imut tapi cerewet, anak perempuan Om Bayu adik mamanya itu.

"Gak kenapa-kenapa! Cerewet ah, keluar gih, aku sudah bangun!" sungut Rheno menutupi rasa jengah.

"Mana bangun? Kamu saja masih rebahan begitu, bangun tuh berdiri tau!"

"Memangnya kamu mau lihat aku bangun berdiri?" tantang Rheno iseng dengan senyum nakal yang mulai tersungging.

Andien melotot gemes wajahnya memerah seketika, "Kamu tidurnya sambil telanjang, ya?"

"Kamu mau lihat?" goda Rheno jahil.

"Gila kamu! Dasar otak ngeres!" Buru-buru Andien kabur sambil membanting pintu.

Kamu tuh yang piktor, pikiran kotor! Batin Rheno sambil menyingkirkan selimut yang menutupi boxernya.

Tapi sesuatu di dalam boxernya masih dalam posisi siaga. Disentuhnya sekilas dan dirasakannya sedikit  basah. Ups!

Segera dia beranjak ke kamar mandi. Sengaja mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Diarahkannya shower langsung ke kepalanya. Pelan-pelan rasa hangat di bagian bawah tubuhnya mendingin. Buru-buru ia selesaikan acara mandi dan dandan, lalu segera beranjak keluar kamar.

***

Hari ini hari libur. Tidak ada kegiatan apa-apa, tetapi entah kenapa Rheno malah kegirangan bisa bersantai-santai di dalam kamarnya, setelah menghabiskan sarapan yang terlambat dan sendirian.

Bi Asih ART di rumah besar mereka masih sibuk beberes rumah, sementara Mang Kardi suami Bi Asih kalau tidak ada tugas antar jemput mama atau mengantar Bi Asih ke pasar, biasanya sibuk nyuci mobil atau bersih-bersih taman. 

Andien langsung pulang tanpa pamit setelah terlibat kehebohan di kamar tidur Rheno. Kelakuan kalau lagi ngambek. Orang tuanya sedang keluar kota untuk urusan bisnis. Sedangkan Biyan, adiknya cuma pulang dua minggu sekali kalau pas kuliahnya libur. Maklum kuliahnya di lain kota juga. Otomatis rumah jadi sepi.

Di dalam kamar, sambil tiduran pikiran Rheno mulai mengembara dan entah kenapa sejak semalam cuma satu wajah saja yang memenuhi alam khayalnya.

Mengingat sosoknya yang semampai, wajah cantik berbingkai rambut berpotongan shaggie sebahu, senyum tipis dan suara halus merdunya.

Seperti sudah jadi kebiasaan, Rheno mulai membaui telapak tangan kanannya. Padahal hanya aroma lotions miliknya sendiri yang tercium di sana, tapi menurut bayangan Rheno masih tetap tercium aroma lotions serta halus hangat genggaman tangan mama Ghani.

Entah mengapa, tiba-tiba saja ada terbersit rasa ingin berjumpa.

Tanpa sadar tangannya segera meraih telepon genggam miliknya yang sedari tadi tergeletak di atas meja nakas.

Nama Ghani tertera di layar ponselnya, lalu segera disentuhnya tombol panggil.

"Halo! Rheno, telpon lagi nanti ya Ghani masih di kamar mandi!"

Deg! Suara itu, jenis suara yang tiba-tiba menjadi favoritnya.

 "..atau mau titip pesan saja? Nanti biar saya sampaikan." lanjut suara di seberang.

Glek! Lidah Rheno terasa kelu. Tak satu katapun berhasil keluar dari mulutnya. Hatinya terasa melonjak kegirangan setelah mendengar suara yang entah sejak kapan begitu dirindukannya itu, tetapi mulutnya malah terkunci rapat.

"Hallo! Rheno, kamu masih di sana?" suara merdu itu masih mengusiknya.

Uuh, tolong bicaralah terus! teriaknya dalam hati.. Yaah, hanya hatinya yang sibuk bermonolog, sementara mulutnya masih tak mampu berkata-kata.

Tolong jangan berhenti bicara! Mohonnya penuh harap.

"Rheno?"

Tuuuuuuuuttt.....

***

Bab 3

Rasa Yang Semakin Menggila

Uuh, tolong bicaralah terus! teriaknya dalam hati.. Yaah, hanya hatinya yang sibuk bermonolog, sementara mulutnya masih tak mampu berkata-kata.

Tolong jangan berhenti bicara! Mohonnya penuh harap.

"Rheno?"

Tuuuuuuuuttt !!

"Rheno?"

"Mm-maaf Tante, salah pencet!"

Tuuuuttt..!!

HAH?? Dasar ini bocah!

Wanita cantik itu geleng-geleng kepala seraya meletakkan ponsel milik anaknya kembali lalu beranjak keluar kamar setelah meletakkan beberapa lembar uang  kertas berwarna merah di atas meja belajar.

Sementara di tempat lain berjarak beberapa kilometer dari rumah Ghani, Rheno mendekap ponselnya di dada setelah mematikan sambungannya secara sepihak.

Jemarinya merasakan debaran jantung yang berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.

Ya Tuhan, apa-apaan ini? Rasa yang sangat aneh dan luar biasa. Baru mendengar suaranya saja jantungnya terasa berloncatan.

Tapi hati masih ingin mendengarkan ia bicara lagi, baru beberapa detik ditutup pembicaraan, tp detik berikutnya sudah terasa rindu menderanya. Hanya ingin mendengar suaranya. 

Perlahan Rheno merebahkan tubuhnya, berbantal lengan angannya melayang.

*** 

Di tengah rasa kantuk yang menyerangnya, Rheno merasakan sapuan lembut di dahinya. Aroma harum lotions berbaur dengan aroma segar shampo yang sangat familiar samar menyapa indera penciumannya, memaksanya untuk segera membuka mata.

"Kenapa mematikan telponnya? Bikin aku penasaran saja!" Suara merdu yang begitu dirindukannya mengalun bak mantra cinta yang membius perasaan Rheno bersamaan dengan gesekan halus jemari lentik yang menyusuri sepanjang lengan telanjang Rheno.

Sontak Rheno menegakkan badannya terkaget-kaget melihat siapa yang telah mendatanginya. Sosok cantik yang dari semalam memenuhi benaknya.

"Tante? Kok bisa ada disini? Sama siapa?" tanyanya celingukan mencari sosok Ghani tapi yang ditanya hanya memberikan senyum manis sebagai jawaban.

"Sudahlah, aku sendirian saja!" Sambil menunduk malu-malu jemarinya memain-mainkan ujung selimut yang menjuntai, sementara bagian lain selimut itu masih separuh menutup bagian bawah tubuh Rheno.

Seolah ada aliran listrik berdaya rendah, pergerakan halus  selimut seiring gerakan jemari lentik itu perlahan mulai terasa meraba kulit paha Rheno yang terbuka, boxer sutra tipisnya juga tak membantu meredam gelenyar rasa yang tercipta. Seolah jemari lentik itulah yang tengah mengelus kulit polosnya.

"Tante..."

"Ya..?" Pandangan tanpa rasa bersalah menghujam manik matanya. Sorot penuh tanya yang juga terkesan menggoda.

"Tolong.. hentikan..." lirih suaranya setengah mengerang, menahan rasa hangat yang mulai menjalari bagian bawah tubuhnya.

"A-pa? yang sudah kulakukan?" Masih dengan suara halus menggoda disertai tatapan polos tanpa dosa, kombinasi yang justru membuat Rheno menjadi gemas ingin segera meraup tubuh semampai di depannya ke dalam pelukan.

"Berhentilah menarik-narik selimutku! Apa Tante sengaja ingin melihat kulit tubuhku?" tanya Rheno menggoda. Heran juga kenapa mulutnya bisa bicara dengan begitu lancangnya. Loss! Sudah mirip motor yang ngeblong remnya saja.

Apa mungkin karena mama Ghani sudah berani memasuki kamar pribadi, bahkan mendekatinya sehingga membuatnya lebih percaya diri dan mulai berani menggoda wanita cantik itu.

Mata indah di depannya membulat sempurna, yang justru membuat ekspresinya kian menggemaskan.

"Oh,  mm-maaf, aku .." Wajah cantiknya memerah. Sontak dilepaskannya selimut dari genggaman jemarinya.

Tapi begitu selimut terlepas, Rheno merasa ada sesuatu yang hilang pula. Rasa dingin tiba-tiba saja menyergap.Tanpa sadar buru-buru ditariknya telapak tangan berjari lentik itu dan menggenggamnya hangat. Sosok di depannya semakin merunduk seolah berusaha menyembunyikan parasnya dari tatapan dahaga Rheno.

Rambut shaggie sepunggung itu benar- benar sudah menghalangi pemandangan indah paras cantik, yang tanpa permisi sudah menghadirkan rasa rindu di hati Rheno.

Perlahan Rheno mengangkat tangannya  untuk menyibak rambut yang tengah menjuntai menutupi wajah pemiliknya. Dirasakannya jari tangannya gemetar merasakan helai-helai halus berwarna kecoklatan itu membelit jari-jarinya.

Perlahan pula wajah Rheno mendekat. Indera penciumannya berusaha menangkap aroma samar harum shampoo di helai rambut yang tengah digenggamnya. Aroma harum yang sangat memabukkan.

Jemari Rheno mulai menyentuh kuduk jenjang yang meremang. Demi waktu yang seolah terhenti. Manakala wajah cantik yang sedari tadi tertunduk, tiba-tiba saja menoleh padanya. Menatapnya dengan pandangan yang sukar untuk diartikan. Dua pasang bola mata saling terpaut, untuk beberapa saat.

Lalu perlahan tatapan Rheno mulai merambat turun pada bibir berwarna pink lembut yang sekarang tepat berada di depan wajahnya, berjarak tak lebih dari lima centimeter itu.

Hembusan nafas hangat beraroma mint manis itu berbaur seiring jarak yang mulai menipis. Entah siapa yang mendekati siapa, yang jelas tiba-tiba saja kedua bibir makhluk berlainan jenis itu telah melekat satu sama lain.

Awalnya hanya sapuan halus dipermukaan. Namun semakin lama, Rheno semakin berani memperdalam pagutannya.

Candu! Yah  bibir itu laksana candu bagi Rheno. Tak mampu ia menghentikan kenikmatan yang diberikan bibir lembut itu, rasanya tak ingin dilepaskannya, ingin mengecapnya menikmatinya selamanya.

Dunia terasa benar-benar berhenti berputar. Tak ada apapun selain rasa nikmat surgawi yang kini tengah dirasakannya. Bahkan jantungnya pun serasa berhenti berdetak, sampai..

KLIK...KRIIIEET!!

BRUAKK!!

ADIIAAAWW!!

AAAUUUUW!!! BUUMM!!

Suara tubuh yang telak terjatuh serta pintu terbanting sontak membuat Rheno menoleh ke arah pintu kamarnya yang telah terkuak lebar.

Seketika dijauhkannya benda lembut yang sedari tadi tengah dipeluknya erat-erat. Lalu pandangannya beralih pada tubuh besar yang tengah tengkurap dengan posisi janggal di depan pintu kamarnya.

"Kamu bisa gak sih Bang,  taruh barbel ditempatnya? Bikin orang kesandung aja!" bentak Biyan emosi sambil berusaha berdiri. Bibirnya meringis menahan nyeri di kakinya. Lalu dengan sebal didorongnya barbel yang tadi teronggok di depan pintu hingga menggelinding  jauh dan baru berhenti setelah menabrak guling Rheno yang kini tergeletak pasrah di bawah ranjang.

Rheno yang masih terdiam linglung memandangnya dengan pandangan shock lalu pandangannya beralih pada guling yang tergeletak di lantai kamar tak jauh dari kakinya.

LHO??

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED