“Panggil dia 'ayah' karena dia calon mertuamu,” ujar Andriyan, mengoreksi ucapan Devanda di lorong tadi.
Devanda tampak tak peduli. “Kita belum menikah secara resmi. Dia juga belum resmi menjadi ayah mertuaku,” sahutnya dengan nada acuh tak acuh dan kaku.
Andriyan pun menahan kekesalannya. Dia teringat dengan perkataan Agnes. Apakah benar Andriyan tidak akan tahan hidup selamanya bersama Devanda yang kaku dan membosankan itu jika menjadi istrinya? Bukankah kehidupan pernikahan mereka akan menjadi sangat membosankan?
“Lihatlah penampilan tunangan Anda yang kaku dan membosankan itu.”
“Dia juga anti sosial. Angkuh dan tidak bisa bergaul dengan orang lain.”
“Lebih baik Anda cari perempuan lain sebelum terlambat dan menyesal, Pak.”
Kalau bicara fakta, semua orang yang melihat Andriyan bersanding dengan Devanda pasti akan berkata bahwa Andriyan lebih pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik. Bahkan tanpa usaha, Andriyan pun bisa dengan mudah menaklukkan perempuan mana saja yang dia mau. Namun, siapa yang tahu bahwa Devanda yang selama ini mereka remehkan ternyata tidak pernah tertarik dengan Andriyan? Di mata Devanda, Andriyan hanya seperti lalat yang mengusik pandangannya.
Maka siapa yang tidak sakit hati jika dianggap begitu oleh orang yang lebih rendah darinya?
Andriyan tidak tahu apa yang ada di pikiran perempuan itu. Tapi menurutnya, itu hanya cara Devanda untuk mencari perhatian Andriyan.
Andriyan tidak memalingkan pandangannya dari Devanda yang sibuk dengan ponselnya. Ponsel itu satu-satunya hal yang tidak pernah lepas dari pandangan Devanda. Entah apa yang begitu menarik dari situ.
“Hapus bekas lipstik di bibirmu dan rapihkan kerah bajumu kalau kamu tidak ingin ayahmu tahu apa yang baru saja kamu lakukan,” kata Devanda pada Andriyan yang mau masuk ke ruang ayahnya.
Andriyan menuruti kata-kata Devanda. Dia segera menghapus bekas lipstik di bibirnya dan merapikan kerah bajunya. Dia tidak mau ketahuan ayahnya. Dia bisa kena marah besar. Tapi anehnya, kenapa Devanda tampak tenang saja, ya? Apa dia tidak sakit hati dengan kelakuan Andriyan?
“Baiklah, terima kasih.”
Setelah itu, Andriyan melanjutkan langkahnya menuju ruangan ayahnya. Tapi ekspresi Devanda tidak berubah sama sekali.
Dia mengetuk pintu dengan sopan, lalu membukanya. Ayahnya yang sudah tua batuk-batuk karena penyakitnya. Andriyan segera mendekat agar ayahnya tidak berdiri terlalu lama.
“Ayah, aku sudah datang. Duduk saja, jangan berdiri terus. Itu tidak baik untuk kesehatan ayah,” kata Andriyan.
“Ayah baik-baik saja, tidak usah khawatir,” jawab Aji sambil mengikuti Andriyan yang menuntunnya ke sofa. Lalu ia meletakkan tongkat yang biasa ia gunakan untuk berjalan. “Kamu juga duduk.”
“Iya, Ayah.”
Aji menatap lekat anaknya sebelum bicara. Dia sudah mendengar berbagai rumor tentang perselingkuhan putranya. Bahkan suka bermain dengan banyak wanita. Tapi dia memilih diam karena ingin anaknya sadar sendiri atas kesalahannya. “Iyan.”
“Ya, Ayah.”
“Bagaimana hubunganmu dengan Vanda akhir-akhir ini?” Itu pertanyaan pembuka dari ayahnya. Andriyan merasa bersalah. Apalagi baru saja tunangannya memergokinya berciuman dengan wanita lain. Dia bingung hendak menjawab apa, jadi dia memilih untuk diam saja. Matanya pun mengalihkan pandangan.
“Iyan, keluarga kita memang tidak seberpengaruh Keluarga Kusumawirya. Perjodohan kalian terjadi karena Vanda menyukaimu. Ayah tahu alasanmu kuliah magister di luar negeri untuk menunda pernikahan kalian yang seharusnya dua tahun lalu. Kamu tahu kan kalau pernikahan bukan main-main?”
Andriyan masih terdiam dan menunduk.
“Setelah menikah, tidak boleh ada wanita lain selain istrimu. Itu adalah pedoman yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Jangan sampai kamu melanggarnya karena tidak rela untuk menikah.”
“Iyan tidak akan melanggar pedoman keluarga kita, Ayah,” ucap Andriyan segera.
“Sampai mati pun harus setia,” tegas Aji. Keluarga Prakarsastra sangat menghormati tradisi pernikahan. Maka mereka pun punya pemahaman yang lebih konservatif dan ketat tentang rumah tangga. Itu sebabnya tidak pernah ada cerita tentang perceraian atau perselingkuhan dalam sejarah keluarga. Sekali menikah, untuk selamanya.
Pedoman ini cukup menyiksa bagi beberapa pemuda karena mereka harus lebih berhati-hati dalam memilih calon istri. Sebab, peraturan tak tertulis dalam keluarga membuat mereka merasa terkekang. Hal itu membuat Andriyan berpikir bahwa ia harus menikmati hidupnya sebelum menikah, agar tidak menyesal di kemudian hari. Baginya, gaya hidup seperti ini hanya akan menjadi kenangan masa lalu.
"Iyan, kalau kamu ingin membatalkan pertunanganmu dengan Devanda, katakan saja sekarang," ujar Aji.
Ayahnya mengucapkan hal itu dengan serius, membuat Andriyan teringat delapan tahun yang lalu. Saat pertama kali ia bertemu dengan Devanda yang selalu tampak datar. Andriyan yang berusia 19 tahun baru saja lulus SMA dan diterima di universitas favoritnya. Namun, situasinya bertepatan dengan kondisi perusahaan yang sedang krisis. Saudara-saudara Aji, yaitu paman-paman Andriyan, tidak mau membantu karena sibuk dengan kampanye politik mereka.
Acara peluncuran produk baru dari Keluarga Prananta, membuat Aji berkenalan dengan Sakti yang merupakan Kepala Keluarga Kusumawirya. Keluarga yang sangat berpengaruh dan memiliki kedudukan lebih tinggi dari Keluarga Prakarsastra itu disambut hangat oleh Aji. Mereka pun saling memperkenalkan anak-anak mereka.
"Ini dia Andriyan Prakarsastra, putra tunggal saya," kata Aji. Lalu Andriyan menyapa Sakti dengan sopan.
Sakti tersenyum kagum melihat Andriyan yang beretika baik. Kemudian, Sakti memperkenalkan dua anaknya yang memiliki aura sangat berbeda. "Ini dia Devanda Kusumawirya, putri sulung saya dan Delvino Kusumawirya, putra bungsu saya."
"Wah, hebat sekali ya Pak Sakti. Anda memiliki anak yang lengkap, laki-laki dan perempuan. Perpaduan yang luar biasa karena Anda harus memahami bagaimana sifat laki-laki dan perempuan dan bagaimana mendidik mereka."
"Hahaha... begitulah, Pak Aji. Mereka adalah anak-anak yang sangat aktif."
Aji mengamati perbedaan Devanda dan Delvino. Jika Vanda begitu diam, kaku, dan tampak tidak peduli dengan apa pun yang terjadi di sekitar, Vino lebih ceria, ramah, murah senyum, nyaman diajak berbincang, dan atraktif.
"Kalau boleh tahu, perbedaan usia Vanda dan Vino berapa tahun ya, Pak?" tanya Aji karena tidak bisa dilihat dari tinggi badan. Vino yang merupakan laki-laki tentu memiliki tinggi badan lebih dari kakaknya.
"Mereka berjarak tiga tahun, Pak. Vanda 17 tahun dan Vino 14 tahun."
Aji mengangguk paham, mereka pun mulai membincangkan banyak hal hingga menemukan salah satu pernyataan bahwa Sakti ingin membantu Aji mengatasi krisis perusahaannya.
"A-Anda serius, Pak Sakti?" tanya Aji. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Bagaimana mungkin ada orang baik yang tiba-tiba datang untuk membantunya? Ini seperti rezeki tak terduga dari Tuhan.
"Papa," panggil Devanda sambil menarik sedikit kain kemeja Sakti. Otomatis Sakti menoleh dan belum sempat membalas ucapan Aji.
"Iya, Sayang?"
"Aku ingin menikahinya," bisik Devanda.
“Apa?” Sakti merasa tidak percaya dengan permintaan anaknya. Pasti bukan itu yang Devanda maksud, kan?
“Vanda ingin menikah dengannya,” ucap Devanda sambil menunjuk ke arah Andriyan.
“Dia siapa?” Sakti menoleh ke arah Aji. “Om Aji?”
Devanda melotot dan segera menggeleng. “Iyan. Andriyan Prakarsastra.”
Andriyan yang sibuk mengedarkan pandang akhirnya kembali menatap Sakti, Aji, dan Devanda dengan tatapan bingung karena mereka memperhatikan dirinya bersamaan. “Saya?”
Devanda mengangguk mantap. “Keputusan Vanda sudah bulat, Pa. Vanda harus menikah dengan Iyan.”
Sakti masih bingung karena anak perempuannya yang masih bau kencur ini bahkan baru memperoleh KTP tahun ini. Kenapa jadi tiba-tiba sekali ingin menikah dengan laki-laki yang belum mapan maupun jelas masa depannya? Namun, sejak kecil sampai sekarang, Devanda bukan anak yang rewel. Bahkan belum pernah meminta apa pun padanya. Sehingga Sakti sangat terharu karena akhirnya anaknya mengajukan permintaan.
“Boleh Papa tahu kenapa Vanda ingin menikah dengan Iyan? Vanda kan baru pertama kali bertemu dengan Iyan,” ucap Sakti. Aji jadi ikut menyimak dengan saksama.
“Karena … dia ganteng?” Vanda mengatakannya dengan serius. Bahkan raut wajahnya menunjukkan kejujuran, tidak ada indikasi bahwa dia bercanda atau bohong. Devanda sangat serius dan sadar dengan apa yang diucapkannya.
“Tapi ini terlalu tiba-tiba, Nak. Selama ini Papa saja tidak tahu kalau selera pria Devanda adalah yang tampan.”
Andriyan tidak memiliki prestasi yang begitu luar biasa selain wajah tampannya, sehingga Sakti masih sulit percaya dengan penilaian Devanda. Sebagai ayah, Sakti sangat tahu bagaimana Devanda memiliki pemikiran yang lebih dewasa daripada anak seusianya. Devanda juga lebih cerdas dalam menilai sesuatu hal sehingga Sakti jarang merasa cemas dengan keputusan yang perempuan itu ambil, tapi sekarang tiba-tiba sekali dia ingin menikah? Dengan laki-laki yang baru pertama kali dia temui? Hanya karena … tampan?
“Kalau permintaan Vanda terlalu sulit untuk dilaksanakan sekarang, kami bisa bertunangan dulu. Lagi pula masih sama-sama sekolah,” ucap Devanda.
Semuanya masih tercengang. Aji dan Sakti seperti kehabisan kata-kata. Aura yang Devanda bawa itu seperti aura dominan yang mana permintaannya bisa langsung dipenuhi saat itu juga.
“Apa maksudnya, Ayah?” tanya Andriyan yang tidak paham.
“Apa kamu … mencintainya?” tanya Aji pada Devanda. Setidaknya sebagai calon mertua, dia harus tahu isi kepala menantunya.
Devanda melirik Andriyan yang masih seperti orang bodoh karena tidak bisa memahami percakapan di depannya. “Saya ingin menikahi orang paling tampan di dunia! Andriyan lah solusinya.”
Alasan pernikahan yang tidak masuk akal bagi Andriyan kala itu. Tapi menarik.
Awalnya Andriyan ingin membiarkan pertunangan itu berjalan tanpa arah sembari memahami isi kepala Devanda yang sebenarnya. Namun berbeda dengan apa yang wanita itu katakan, perilakunya terhadap Andriyan sama sekali tidak menunjukkan rasa ketertarikan. Ia bahkan tumbuh dengan menutup mata dan telinga atas segala perselingkuhan atau pengkhianatan yang Andriyan lakukan. Padahal kalau memang Devanda tertarik pada wajah tampan Andriyan, akan muncul rasa kepemilikan yang mengharuskan Andriyan untuk hanya menjadi milik Devanda seorang.
Tapi kenapa Devanda diam saja membiarkan Andriyan berbuat nakal dan berkeliaran? Apa karena mereka belum menikah? Atau … Devanda sengaja diam saja untuk menarik perhatian Andriyan?
Memang tidak masuk akal jika Andriyan masih menjadi tunangannya selama delapan tahun, batin Andriyan.
“Andriyan.”
Sontak Andriyan mendongak ketika sadar dirinya masih berada di ruangan ayahnya. Tanpa sengaja pikirannya tadi melayang jauh akan hari pertemuan pertamanya dengan Devanda.
“Jadi, apa kamu ingin membatalkan pertunangan ini?”
Pertanyaan ini terlalu tiba-tiba. Andriyan bingung harus menjawab apa. Sudah dari lama dia memang tidak memiliki keinginan untuk menjadi bagian hidup Devanda dan tidak ingin perempuan aneh itu menjadi istrinya. Tapi sejak berusia 19 tahun, benak Andriyan seolah sudah tertancap pernyataan bahwa dia merupakan calon suami Devanda. Sehingga jika tiba-tiba dia sudah bukan lagi calon suami Devanda, dia merasa aneh.
“Iyan tidak tahu, Ayah.”
“Memangnya kamu sudah mencintainya? Sebenarnya ayah tidak ingin kalau kamu sampai menyakiti anaknya dan membuat Keluarga Kusumawirya merasa dendam pada keluarga kita, tapi selama ini Ayah menerima pertunangan yang diinginkan Vanda karena dia tertarik padamu.”
Tapi dia sama sekali tidak tertarik padaku!
Itulah yang membuat Andriyan kesal. Dia dan ayahnya seperti dipermainkan. Itu sebabnya Andriyan merasa dia tidak bisa membatalkannya begitu saja.
“Ayah tidak perlu khawatir lagi. Biarkan hal ini menjadi urusan Iyan dan Vanda.”
Aji tampak menghela napas berat lalu mengurut keningnya. “Baiklah, selesaikan semuanya dengan cara yang benar. Jangan mengecewakan ayah, Iyan.”
“Baik, Ayah.”
***
Andriyan sudah mendapatkan informasi bahwa Devanda berada di kamarnya. Saat ini di dalam rumah Keluarga Kusumawirya, hanya ada Devanda, asisten, dan para pembantu hingga ajudan. Katanya adiknya ikut perjalanan bisnis orang tua mereka. Untuk menyambut Andriyan, Devanda sudah menunggu dan duduk rapi di sofa tamu yang memang sudah tersedia di dalam kamarnya yang luas. Ini akan menjadi kali kedua Andriyan melihat kamar Devanda.
“Selamat datang, Kak Iyan,” ucap Devanda dengan ekspresinya yang serius, seperti biasa.
Andriyan juga seperti biasa, bersikap tak sopan dan semena-mena. Ia memberikan kode pada para asisten untuk menunggu di luar. Setelah pintu tertutup, Andriyan langsung mendudukkan diri di hadapan Devanda. Tatapannya sangat merendahkan, tapi tak berhasil membuat Devanda menciut sama sekali.
“Sepertinya ada yang sangat ingin Kakak bicarakan.”
“Sudah 15 hari aku terus mengajukan permintaan untuk bertemu, tapi kamu terus menolak kedatanganku,” kata Andriyan dengan kening berkerut. Harga dirinya sangat tercoreng akan hal itu.
“Saya sedang tidak enak badan, semoga Kakak bisa memakluminya,” dalih Devanda.
Ini respon yang wajar kalau memang dia sakit hati setelah melihatku yang berciuman dengan perempuan lain saat itu, tapi ini adalah pertama kalinya dia mengabaikan permintaanku untuk bertemu, batin Andriyan yang terus menatap lurus Devanda.
“Tentang hari itu, aku tahu apa yang kamu pikirkan sampai kamu memperlakukanku begini,” kata Andriyan. Nadanya penuh emosi dan penekanan.
“Saya kurang paham dengan apa yang Kakak maksud,” ucap Devanda.
“Aku tahu kamu paham apa yang kumaksud.”
“Tidak sama sekali,” jawab Devanda langsung, tidak mau kalah.
Devanda, perempuan ini memang terlihat tidak peduli dan mengacuhkanku. Tapi sebenarnya, dia menyukaiku. Dia pasti sangat menyukaiku sampai gila dan menjadi bersikap begini. Dari awal sebenarnya dia sadar bahwa dia berpotensi untuk dijodohkan dengan Jonathan Prakarsastra, putra sulung dari anak paman tertuaku. Bisa dibilang sepupuku. Daripada aku, Jonathan memiliki pengaruh lebih besar melalui kemampuan dan prestasi yang berhasil dia capai. Dia sangat membanggakan nama besar Prakarsastra dan ada kemungkinan untuk menjadi gubernur dalam pemilihan tahun depan.
Tapi kenapa dia malah memilihku? Tentu karena aku tampan dan dia menyukaiku.
Mau dipikirkan dari sudut pandang apa pun, status yang dimiliki Jonathan itu lebih baik daripada aku. Ini semua pasti karena Devanda menyukaiku dan dia rela mengabaikan ambisinya demi bersamaku.
Masalahnya hanya … aku tidak menyukainya.
Itu yang Andriyan pikirkan tentang Devanda.