Bab 1

Di kantor, aku dikenal sebagai "Ratu Es" yang sempurna dan tak tersentuh.

Namun di balik topeng itu, aku menyembunyikan neraka bernama PGAD-kelainan yang membuat tubuhku terus-menerus berada dalam gairah seksual yang menyiksa tanpa obat penekan hormon.

Bencana terjadi saat gathering kantor di Puncak: aku lupa membawa obat penyelamatku, dan parahnya, aku dipaksa berbagi kamar sempit dengan Dhimas Pakpahan, atasan kaku yang paling kutakuti.

Malam itu, pertahananku runtuh.

Dhimas tidak hanya menyaksikan tubuhku menggeliat liar di luar kendali, dia juga yang turun tangan "menjinakkan" gairahku dengan sentuhan intim yang menghancurkan batas profesionalisme kami.

Keesokan harinya, saat seorang rekan kerja mesum mencoba memperkosaku karena melihat kondisiku yang kacau, Dhimas mengamuk dan menghajarnya hingga babak belur.

Namun, ketakutan sejatiku justru muncul setelahnya.

Bukan karena darah yang tumpah, melainkan saat Dhimas mendekapku erat di depan semua orang, menatapku dengan obsesi gelap, dan menyatakan klaimnya:

"Mulai sekarang, kamu adalah tanggung jawabku. Hanya aku yang boleh menjadi 'obat' bagi tubuhmu."

Bab 1

Gisela Soegiharto POV:

Hidupku adalah kebohongan yang dingin, sebuah topeng sempurna yang setiap hari kubangun untuk menyembunyikan api neraka di dalam diriku. Malam ini, topeng itu akan meleleh, dan aku akan terbakar habis. Aku lupa obatku.

Jantungku berdebar tak karuan, bukan karena kegembiraan perjalanan ke Puncak, tapi karena ketakutan yang mencekik. Di dalam tas tangan Hermes-ku yang mahal, yang selalu rapi dan terorganisir, ada satu lubang besar: botol kecil pil penekan hormon itu tidak ada. Napasku tertahan di tenggorokan. Ini bukan sekadar lupa dompet atau ponsel. Ini adalah bencana.

Aku menderita PGAD, Persistent Genital Arousal Disorder. Atau, dalam bahasa yang lebih jujur, hiperseksualitas. Ini bukan fetish atau pilihan gaya hidup. Ini adalah kutukan genetik yang membuat setiap sentuhan, setiap getaran, setiap rangsangan sekecil apa pun, memicu gairah yang tak terkendali. Sensasi yang tak pernah berhenti, tak pernah puas. Aku hidup dalam neraka gairah yang konstan.

Obat-obatan adalah satu-satunya penolongku. Pil-pil itu menekan badai hormon di dalam diriku, memberiku kedamaian semu, memungkinkan aku berfungsi seperti manusia normal. Tanpa mereka, aku hanya akan menjadi budak dari tubuhku sendiri, sebuah wadah kosong yang dikendalikan oleh nafsu yang tak pernah terpuaskan. Aku gemetar memikirkan apa yang akan terjadi.

Kantor mengadakan gathering di Puncak. Sebuah acara rutin untuk mempererat kebersamaan tim. Bagiku, ini adalah arena perang. Setiap mata, setiap sentuhan tak disengaja, adalah ancaman. Aku harus menjaga jarak. Aku harus menjadi "Ratu Es".

"Gisela, kamu baik-baik saja?" Suara Rina, rekan kerjaku dari HRD, memecah lamunanku.

Aku mengangguk kaku, berusaha menutupi kepanikanku. "Ya, hanya sedikit pusing karena perjalanan."

Dia tersenyum pengertian. Aku tahu dia tidak curiga. Tidak ada yang pernah curiga. Bagaimana mungkin mereka membayangkan seorang wanita yang selalu rapi, dingin, dan profesional, menyembunyikan monster seperti itu di dalam dirinya? Aku adalah Gisela Soegiharto, Senior Administration Staff, 25 tahun, dan aku adalah penipu ulung.

Vila yang kami sewa berada di lereng bukit Puncak, terpencil dan damai. Udara dingin pegunungan menyelinap masuk melalui jendela mobil, menusuk kulitku. Dinginnya Puncak, itu yang berbahaya. Dingin membuat tubuhku bereaksi lebih tajam. Setiap serat sarafku terasa telanjang, terlalu peka.

"Ada sedikit masalah dengan booking kamar," Bu Susi, kepala HRD, mengumumkan dengan nada menyesal. "Ada double booking untuk beberapa kamar. Jadi, kita harus sedikit menyesuaikan."

Jantungku mencelos. Tidak. Tolong jangan.

"Gisela, kamu dan Pak Dhimas akan berbagi satu unit vila kecil. Ini yang tersisa. Maaf ya," Bu Susi tersenyum canggung.

Dhimas Pakpahan. Namanya saja sudah membuatku merinding. Manajer Operasional kami. Pria Batak yang berwibawa, bertubuh besar, atletis, dan hemat bicara. Auranya mendominasi, memancarkan kekuatan yang tak terbantahkan. Dia adalah definisi dari bahaya yang terbungkus dalam setelan rapi. Dan aku harus berbagi kamar dengannya.

Aku merasakan getaran halus dimulai di antara kedua kakiku, sensasi yang familiar dan menakutkan. Tanpa obat, tubuhku sudah mulai memberontak. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menghentikannya. Ini baru permulaan.

"Baik, Bu," kataku, suaraku terdengar serak di telingaku sendiri. Aku tidak bisa menolak. Aku tidak pernah bisa menolak. Aku adalah bawahan, dan dia adalah atasan.

Dhimas hanya mengangguk, ekspresinya datar seperti biasa. Matanya yang tajam sempat menatapku sekilas, seolah mencoba membaca sesuatu. Aku segera mengalihkan pandanganku, takut dia akan melihat kepanikan yang membara di mataku. Aku akan hancur. Aku akan kehilangan segalanya.

Aku tahu, PGAD ini bukan hanya sekadar "gairah tinggi". Ini adalah rasa sakit. Sensasi yang terus-menerus itu terasa seperti tekanan yang tak tertahankan, seperti ada sesuatu yang mengiris di dalam diriku, mencari jalan keluar. Rasanya seperti ada jutaan semut merayap di bawah kulitku, tapi hanya di satu tempat. Tempat yang paling intim.

Dulu, aku berpikir aku gila. Aku masih remaja ketika pertama kali merasakannya. Sensasi aneh yang tak bisa dijelaskan. Aku malu, takut, dan tidak tahu harus berbuat apa. Dokter-dokter bilang aku cuma "terlalu aktif" atau "sedang dalam fase pencarian jati diri." Sampai akhirnya, aku bertemu seorang spesialis yang mengerti. Dia memberiku nama untuk monsterku: PGAD. Dan dia memberiku obat.

Obat itu adalah penopang hidupku. Tanpa itu, aku tidak bisa bekerja, tidak bisa bersosialisasi. Bayangkan, mencoba fokus pada spreadsheet sementara tubuhmu berteriak minta dilepaskan. Bayangkan, mencoba tersenyum pada rekan kerja sementara setiap sentuhan pakaian di kulitmu terasa seperti sengatan listrik.

Sekarang, pil-pil itu, penyelamatku, ada di meja rias di apartemenku, ratusan kilometer dari sini. Dan aku terjebak di sini, di Puncak, dalam satu vila kecil, dengan Dhimas Pakpahan, atasan langsungku yang kaku, yang tak pernah ramah, dan yang entah mengapa, membuat setiap pori-pori kulitku terasa lebih hidup.

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungku yang semakin liar. Aku harus tetap tenang. Aku harus. Kalau tidak, aku akan mempermalukan diriku sendiri di depan semua orang. Lebih buruk lagi, di depan Dhimas. Aku tidak bisa membiarkannya melihatku seperti ini. Seorang wanita karier yang profesional, yang mereka sebut "Ratu Es," tiba-tiba berubah menjadi... sesuatu yang lain.

Sensasi itu kini mulai menjalar lebih kuat, tekanan di antara pangkal pahaku semakin intens. Aku bisa merasakan denyutan yang tak teratur, dan rasa gatal yang dalam, seperti ingin mencakar kulitku sendiri. Aku mengatupkan gigiku, mencoba menahan. Aku harus mencari cara untuk keluar dari sini. Atau setidaknya, mencari cara untuk selamat dari malam ini.

Tetapi, bagaimana caranya? Aku tidak punya alasan logis untuk menolak pembagian kamar ini. Aku tidak punya cara untuk mendapatkan obatku. Aku terjebak. Dan monster di dalam diriku, yang sudah lama tertidur, kini mulai terbangun. Aku merasa seperti bom waktu yang detiknya mulai berdetak semakin cepat.

Keringat dingin membasahi punggungku meskipun udara Puncak sangat dingin. Aku bisa merasakan celana dalamku mulai lembap. Sial. Ini terlalu cepat. Biasanya, aku setidaknya punya beberapa jam sebelum efek penekanan hormonnya benar-benar hilang. Tapi mungkin stres dan kehadiran Dhimas mempercepat segalanya.

Aku melirik Dhimas yang sedang berbicara dengan Bu Susi, wajahnya tenang dan berwibawa. Dia tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Dan aku harus memastikan itu tetap begitu. Ini adalah hal terakhir yang aku inginkan, untuk rahasia tergelapku terbongkar di depan atasan yang paling aku hormati - dan takuti.

Bagaimana jika suaraku bergetar? Bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan ekspresiku? Bagaimana jika... bagaimana jika tubuhku bereaksi begitu liar sehingga Dhimas tidak punya pilihan selain menyadarinya? Rasanya seperti kehancuran yang tak terhindarkan, sebuah takdir yang telah menunggu untuk menjemputku di Puncak ini.

Aku memejamkan mata sesaat, berdoa agar ini semua hanya mimpi buruk. Tapi saat aku membukanya, Dhimas sudah berdiri di depanku, memegang kunci kamar. Matanya menatapku dengan tatapan yang entah kenapa terasa mengintimidasi.

"Gisela?" suaranya rendah dan dalam. "Kita satu kamar."

Itu bukan pertanyaan. Itu adalah pernyataan. Dan bagiku, itu adalah awal dari akhir.

Bab 2

Gisela Soegiharto POV:

Tubuhku terasa seperti medan perang. Setiap saraf di intiku berteriak, meronta, dan berdenyut dengan intensitas yang mengerikan. Aku mencoba bernapas pelan, memaksakan diriku untuk tetap tenang di hadapan Dhimas. Aku tidak bisa membiarkan dia melihat apa yang sedang terjadi padaku.

"Baik, Pak Dhimas," kataku, berusaha agar suaraku tidak pecah. Rasanya seperti ada duri di tenggorokanku. Aku memaksakan senyum tipis, yang pasti terlihat lebih seperti seringai kesakitan.

Dia hanya mengangguk lagi, lalu berbalik dan berjalan menuju salah satu bilik vila. Bilik yang sama denganku. Aku mengikutinya, setiap langkah adalah siksaan. Sensasi di antara kakiku semakin kuat, seperti terbakar dan gatal secara bersamaan, mendesak, menuntut kelegaan. Aku bisa merasakan detak jantungku di seluruh tubuhku, terutama di area sensitif itu.

Vila kami sederhana, dengan dinding kayu tipis yang tampaknya tidak akan banyak menyaring suara dari luar. Ini hanya akan memperburuk keadaan. Aku sudah bisa mendengar tawa-tawa rekan kerja dari kamar sebelah, diselingi dengan musik pop yang samar. Malam baru saja dimulai.

Aku masuk ke dalam bilik, Dhimas sudah meletakkan tasnya di sudut. Ruangan itu kecil, hanya ada dua tempat tidur single yang dipisahkan oleh sebuah nakas kecil dan lampu tidur. Tidak ada privasi. Sama sekali tidak ada privasi.

Aku meletakkan tasku di tempat tidur yang paling jauh darinya, berharap bisa memberikan sedikit ruang bernapas. Tapi ruang ini terlalu sempit. Kehadirannya saja sudah menyesakkan. Aroma maskulinnya, sentuhan aftershave yang samar, semuanya menembus pertahananku. Tubuhku bereaksi.

Aku menyilangkan kakiku rapat-rapat, mencoba menekan sensasi yang semakin ganas. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Ini seperti meditasi yang sia-sia di tengah badai.

"Kamu terlihat pucat, Gisela," suara Dhimas memecah keheningan. Dia sudah melepas jaketnya dan melipat lengan kemejanya. Otot bisepnya menonjol, dan sekali lagi, tubuhku bereaksi.

Aku menggelengkan kepala. "Tidak, Pak. Saya baik-baik saja." Aku berbohong. Aku tidak baik-baik saja. Aku sedang sekarat di dalam.

Aku takut. Aku takut jika ada orang yang tahu. Reputasiku sebagai "Ratu Es" akan hancur lebur. Aku akan dianggap wanita murahan, jalang. Karierku akan tamat. Semua yang kubangun, perlahan-lahan akan runtuh. Aku sudah bekerja keras untuk sampai di sini, untuk mendapatkan kepercayaan, untuk dihormati. Sekarang, itu semua terancam oleh tubuhku sendiri yang tak tahu diri.

Dari kamar sebelah, aku mendengar suara-suara yang lebih spesifik. Tawa yang lebih genit, bisikan-bisikan, dan kemudian... suara desahan samar. Sialan. Mereka sedang bermesraan. Suara-suara itu seperti bensin yang disiramkan ke api di dalam diriku. Gairahku melonjak gila-gilaan.

Aku menggigit bibir bawahku begitu keras hingga aku bisa merasakan rasa asin darah di lidahku. Ini satu-satunya caraku untuk sedikit mengalihkan perhatian dari penderitaan di bawah sana. Rasa sakit fisik untuk menekan rasa sakit yang lebih dalam.

"Gisela, kamu tidak apa-apa?" Dhimas mendekat.

Aku tersentak. Tidak. Jangan mendekat. "Saya... saya hanya sedikit kedinginan, Pak," kataku, suaraku bergetar tak terkontrol.

Dia meletakkan punggung tangannya di dahiku. Sentuhannya seperti sengatan listrik. Panas. Dingin. Segala-galanya.

"Kamu tidak demam. Tapi kamu gemetar," katanya, nadanya datar tapi ada nada observasi di dalamnya.

Sentuhan itu. Sentuhan tangannya di dahiku. Itu sudah cukup. Sebuah letupan kecil terjadi di dalamku. Organ intimku berkontraksi dengan kejam. Napasku tercekat. Aku harus mengeluarkan suara, tapi aku tidak bisa. Aku tidak boleh.

Tubuhku menegang. Aku bisa merasakan sesuatu mengalir di dalamku, seperti gelombang panas yang membanjiri, memaksaku untuk melengkungkan punggung. Aku memejamkan mata, berusaha keras mengunci suara yang ingin keluar dari tenggorokanku.

Tidak. Tidak sekarang. Jangan di sini. Jangan di depannya.

Tapi tubuhku tidak mendengarkan. Kontraksi itu semakin kuat, datang bertubi-tubi. Ini adalah pengalaman yang mengerikan, orgasme yang datang tanpa rangsangan yang sebenarnya, tanpa kelegaan, hanya rasa sakit yang menguras tenaga.

Aku bisa merasakan pahaku bergetar tak terkendali. Aku merasakan lembap yang memalukan di antara kakiku, tanda yang tak terbantahkan. Sebuah orgasme. Orgasme sakit pertamaku malam ini, dan itu terjadi hanya karena sentuhan di dahiku.

Aku membuka mata, napas terengah-engah. Dhimas masih menatapku, alisnya sedikit mengernyit. Aku tahu, aku tahu dia pasti melihat sesuatu. Pipiku pasti memerah, dan mataku berkaca-kaca karena rasa malu yang membakar.

Dia menarik tangannya, tapi tatapannya tidak lepas dariku. Itu adalah tatapan yang terlalu tajam, terlalu observatif. Aku merasa telanjang di bawah tatapannya.

"Kamu yakin hanya kedinginan?" tanyanya lagi, suaranya kini lebih rendah, lebih seperti bisikan.

Aku hanya bisa mengangguk, terlalu malu untuk berbicara. Aku ingin menghilang. Aku ingin lari. Tapi tubuhku terasa lemas, kakiku gemetar.

Lalu, dia melangkah lagi, mendekatiku. Sedikit. Terlalu dekat.

"Kalau begitu, ini," katanya, dan sebelum aku bisa bereaksi, dia meraih selimut tebal dari tempat tidurnya, dan membentangkannya ke pundakku, seolah ingin menyelimutiku.

Sentuhan selimut di kulitku, yang seharusnya menenangkan, justru terasa seperti jarum-jarum kecil yang menusuk. Kehadirannya begitu dekat. Aroma maskulinnya, yang kini semakin kental, menyerbu hidungku. Aku bisa melihat otot-otot di lengannya yang terbuka. Mendengar detak jantungnya yang stabil di tengah kekacauan di dalam diriku.

Tubuhku memberontak lagi. Sensasi yang baru saja sedikit mereda, kini meledak kembali dengan kekuatan dua kali lipat. Orgasme kedua datang, lebih kuat, lebih menyakitkan. Aku menggigit bibir, mengunci rahangku, mencoba menahan erangan yang ingin keluar.

Aku bisa merasakan tubuhku melengkung lagi, tanpa sadar. Sensasi yang tak terkendali itu menguasai diriku. Aku harus keluar dari sini. Aku harus menjauh darinya.

"Saya... saya perlu udara segar, Pak," kataku, suaraku nyaris tak terdengar. Aku mendorong selimut itu dari pundakku, meskipun aku tahu itu adalah alasan yang buruk.

Aku segera berbalik, ingin lari ke pintu. Aku tidak peduli ke mana, asalkan jauh darinya, jauh dari ruangan kecil ini, jauh dari sentuhannya, jauh dari kehadirannya yang entah bagaimana, membuatku gila.

Tapi saat aku berbalik, kakiku yang gemetar justru tersandung karpet. Tubuhku yang lemas kehilangan keseimbangan. Aku terjatuh.

Bruk!

Aku merasakan lututku menghantam lantai kayu yang dingin. Rasa sakit itu, untuk sesaat, mengalihkan perhatian dari badai gairah. Tapi itu hanya sesaat.

Dhimas langsung meraih lenganku, mencoba membantuku berdiri. "Gisela!" serunya, nadanya kini mengandung keprihatinan yang jelas.

Sentuhannya. Lagi. Sekarang dia memegang erat lenganku, menarikku ke atas. Tubuhku yang lemas bersandar padanya, tak berdaya. Aroma tubuhnya, kehangatannya, kekuatan ototnya yang terasa di lenganku. Itu semua terlalu banyak.

Aku bisa merasakan tubuhku bergetar hebat. Rasa pening membanjiri kepalaku. Aku tidak bisa mengendalikan apa pun lagi. Bahkan pikiranku pun terasa kabur. Orgasme ketiga datang, dan kali ini, erangan pelan lolos dari bibirku, tidak bisa kutahan lagi.

Dhimas membeku. Aku bisa merasakannya. Dia pasti mendengarnya. Dia pasti merasakannya. Dia pasti tahu.

Aku merasa sangat malu, sangat telanjang. Aku ingin sekali bumi menelanku hidup-hidup. Air mata mulai mengalir di pipiku, bukan karena lututku yang sakit, tapi karena rasa malu yang tak tertahankan.

"Gisela, apa yang terjadi padamu?" tanyanya, suaranya kini lebih dingin, lebih serius. Dia menahan bahuku, membuatku tetap berdiri di depannya. Matanya yang tajam menatap langsung ke mataku, menuntut jawaban.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, air mata membasahi pipiku. Aku merasa seperti mangsa yang tertangkap basah, dan dia adalah predator yang baru saja menemukan mangsanya terlalu lemah untuk lari. Aku tidak punya jalan keluar.

Bab 3

Gisela Soegiharto POV:

Tubuhku benar-benar menyerah. Otot-ototku terasa seperti jeli, tidak mampu menopang bobotku sendiri. Aku hanya bisa bersandar pada Dhimas, tangannya masih memegang bahuku dengan kuat. Aku merasa seperti boneka kain yang tak berdaya di tangannya. Rasa malu membakar wajahku, tapi itu kalah dengan badai di dalam diriku.

Gairah itu kini mengamuk, jauh melampaui rasa sakit. Itu adalah kebutuhan primal yang mencengkeram setiap inci keberadaanku. Aku menginginkannya. Aku menginginkan Dhimas. Aku menginginkan kelegaan yang hanya bisa dia berikan, meskipun aku tahu itu salah, memalukan, dan tidak profesional. Tapi tubuhku tidak peduli pada profesionalisme.

"Gisela, jawab aku," suaranya lagi, rendah dan tegas. "Ada apa denganmu?"

Aku hanya bisa menggelengkan kepala, air mata masih mengalir deras. Tidak ada kata yang bisa keluar dari bibirku. Lidahku terasa kaku, tenggorokanku tercekat. Aku terlalu malu, dan terlalu rentan.

Dia mengamati wajahku, tatapannya tajam, mencari jawaban. Aku tahu dia sedang menganalisaku, memproses setiap detail kecil: tubuhku yang gemetar, napasku yang terengah-engah, mata yang berkaca-kaca, dan mungkin, bahkan aroma tubuhku yang kini terasa berbeda. Aroma gairah.

Dhimas adalah pria yang cerdas. Dia tidak akan mudah tertipu dengan alasan "masuk angin" atau "lelah." Dia pasti sudah menyadari sesuatu.

Tiba-tiba, dia menghela napas panjang. Matanya terpejam sesaat, seolah sedang mengambil keputusan penting. Ketika dia membukanya lagi, tatapannya berubah. Ada sesuatu yang baru di sana: pemahaman. Dan sesuatu yang lebih gelap, lebih posesif.

"Masuk," perintahnya, suaranya kini lebih lembut, tapi tetap mengandung otoritas. Dia tidak lagi bertanya. Dia memerintah.

Dia tidak menunggu jawabanku. Lengannya melingkari pinggangku, dan dia menarikku agar berdiri tegak. Aku tersandung, tapi dia menopangku dengan kuat. Tubuhku menempel padanya, dan sensasi itu meledak lagi. Aku merasakan kekerasan otot-otot di perutnya, kehangatan tubuhnya yang besar, dan dadanya yang bidang.

Napasku tersangkut di tenggorokan. Gelombang panas membanjiri bagian bawah tubuhku. Gairah itu berteriak lebih keras lagi. Aku merasakan orgasme lain datang, tanpa peringatan, tanpa perlawanan. Aku melengkungkan punggungku ke belakang, tak bisa menahan.

Sebuah erangan rendah keluar dari bibirku. Aku merasa ingin mencakar dinding, merobek pakaianku sendiri. Rasa malu campur aduk dengan kebutuhan yang mengerikan.

Dhimas tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menarikku lebih dekat, satu tangannya kini menyentuh punggung bawahku, seolah menopangku agar tidak jatuh. Tangannya yang lain kini menekan pinggangku, memastikan tubuhku tetap menempel padanya. Ini adalah sentuhan yang, entah kenapa, terasa begitu familiar, begitu tepat.

Dia tidak lagi mencoba membantuku berdiri. Dia memegangku dengan tujuan. Dia memelukku, menekan tubuhku yang gemetar ke tubuhnya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang kuat dan stabil di dadaku. Itu adalah sauh di tengah badai.

"Ayo, Gisela," bisiknya, suaranya kini lebih dalam, lebih serak. "Kita duduk."

Dia membimbingku, setengah menyeretku, ke tepi tempat tidur terdekat. Aku tidak punya tenaga untuk melawan, atau bahkan untuk berjalan sendiri. Kakiku hanya mengikuti, atau lebih tepatnya diseret.

Saat kami duduk, dia tidak melepaskan pelukannya. Justru, dia memutar tubuhku agar aku duduk menyamping di pangkuannya, wajahku menghadap ke arahnya. Tubuhku yang gemetar kini bersandar sepenuhnya padanya. Paha-pahaku terbuka sedikit, dan aku bisa merasakan kekerasan di pangkuannya.

Jantungku berdegup kencang, memukul-mukul rusukku seperti burung yang terperangkap. Aku tahu. Aku tahu apa yang sedang terjadi padaku. Dan dia tahu juga. Aku bisa melihatnya di matanya. Aku bisa merasakannya dari caranya memegangku, caranya menatapku.

"Obatmu?" tanyanya, suaranya sangat rendah sekarang, hanya untuk telingaku.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala, air mata kembali mengalir. "Lupa," bisikku, suaraku parau.

Dia menghela napas lagi, kali ini terdengar lebih berat. "Sial," desisnya.

Tiba-tiba, dari kamar sebelah, suara-suara itu kembali. Kali ini, lebih jelas. Desahan. Tawa genit. Dan kemudian, suara ranjang yang berderit.

Mataku melebar panik. Tidak. Ini tidak bisa terjadi. Aku sudah tahu betapa sensitifnya aku terhadap suara-suara itu. Dan sekarang, aku berada di pangkuan Dhimas, tanpa obat, dengan gairah yang mengamuk, dan suara-suara itu...

Tubuhku bereaksi instan. Gelombang lain yang lebih kuat menghantamku. Orgasme keempat datang, dan kali ini, aku tidak bisa menahan erangan yang lebih keras. Kepalaku mendongak, punggungku melengkung, dan lenganku mencengkeram bajunya erat-erat.

Dhimas segera bertindak. Tangannya yang satu menekan punggungku, menarikku lebih dekat padanya. Tangannya yang lain naik ke belakang kepalaku, menekan wajahku ke lehernya.

"Sstt," bisiknya, suaranya rendah dan mendominasi. "Jangan bersuara. Ada orang lain di sini."

Aku bisa merasakan kehangatan kulit lehernya, mencium aroma tubuhnya yang begitu maskulin dan memabukkan. Itu adalah campuran keringat, aftershave, dan sesuatu yang lebih primal. Itu membuat gairahku semakin tak terkendali.

Aku mencoba melawan. Aku mencoba mendorongnya. Ini salah. Ini sangat salah. Tapi tubuhku yang lemas tidak punya kekuatan. Aku seperti terperangkap di antara otot-ototnya yang keras, tak bisa bergerak, tak bisa bernapas.

Suara-suara dari kamar sebelah semakin intens. Desahan yang lebih dalam, sentuhan-sentuhan yang lebih berani. Itu semua seperti racun yang menyuntikkan dirinya ke dalam darahku, membuatku semakin gila.

Aku merasakan orgasme datang lagi dan lagi, tanpa henti, setiap kali dipicu oleh suara-suara itu, oleh sentuhan Dhimas, oleh aroma tubuhnya. Ini adalah siksaan yang mengerikan, puncak dari PGAD-ku. Tubuhku terus-menerus mencapai klimaks, tapi tak pernah benar-benar puas. Itu hanya memperpanjang penderitaan.

Air mata membasahi leher Dhimas. Aku tahu aku basah kuyup di antara kakiku, dan dia pasti merasakannya. Aku tahu betapa memalukannya ini. Tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku tidak bisa menghentikan air mataku, dan aku tidak bisa menghentikan tubuhku.

Aku hanya bisa berdoa agar orang-orang di sebelah tidak mendengar erangan-eranganku yang samar, yang berhasil kutahan sebagian besar. Aku berharap dinding kayu tipis ini cukup untuk menutupi kehinaan dan penderitaanku. Aku berharap ini segera berakhir. Tapi aku tahu, ini baru permulaan.

Dhimas menahan kepalaku di lehernya, tangannya mengelus rambutku dengan gerakan menenangkan, tapi di saat yang sama, sangat posesif. Seolah dia ingin meleburkanku ke dalam dirinya.

"Tenang, Gisela," bisiknya, napasnya hangat di telingaku. "Aku di sini."

Kata-katanya, meskipun seharusnya menenangkan, justru terdengar seperti sebuah deklarasi. Sebuah deklarasi bahwa dia kini memegang kendali. Atas diriku. Atas tubuhku. Dan yang paling menakutkan, atas rahasia tergelapku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED