Bab 1

“Kau! Pelakunya!”

Tanganku menunjuk seseorang yang begitu aku kenal.

Saat mengetahui siapa biang kerok dari semua teror ini. Aku sempat denial, menyangkal berulang kali karena sosoknya yang benar-benar di luar perkiraanku.

Namun seluruh bukti yang kukumpulkan dengan sembunyi-sembunyi itu mengarah hanya padanya seorang. Di tempat kejadian perkara yang sesungguhnya, aku memojokkan sang pelaku.

“Meha, kau menyusahkan sekali.” Seringai pembunuh berdarah dingin itu yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri.

Aku lengah, luput menilai jika ia masih punya sisi baik terlepas dari rangkaian pembunuhan keji yang ia lakukan.

“BUGH!”

Pukulan ke kepalaku dari arah belakang.

Gelap.

Aku tak tahu jika ia punya kaki tangan.

Aku salah perhitungan.

Dan kini, namaku yang mungkin akan terpampang di setiap surat kabar elektronik bersandingan dengan nama-nama korban sebelumnya.

Ah, Meha. Padahal kamu baru saja jatuh cinta.

“Meha.... Meha.... TOLONG!” Teriakan Nina - sahabatku yang kutemukan dengan tubuh terpotong-potong di dalam mesin autoklaf laboratoriumku 6 bulan lalu.

“Nina!” Aku terkejut, melihatnya yang sedang ketakutan di dalam lingkaran bertanda bintang.

“Sebentar lagi dia datang, tolong Aku Meha, tolong!” Tangannya dengan sekuat tenaga memukul-mukul dinding tak kasat mata yang melingkarinya.

“Nina! Nina!” Panikku hendak mengeluarkannya dari kungkungan itu namun usaha kami sia-sia.

Sosok hitam tiba-tiba muncul di udara dalam lingkaran Nina. Wajah Nina semakin ketakutan dan air mata keluar deras dari matanya.

“No, no, NOOO!!” Pekik Nina menyayat hati saat aku terpaku menyaksikan sosok di dalam jubah hitam menyeramkan mengeluarkan tangan dengan jari jemari panjang, tak ada wajah di balik tudung jubah itu, hanya berupa tengkorak hewan bertanduk, dan rongga mata yang terisi api berkobar. Sosok itu merenggut leher Nina, lalu mencekik lehernya, Nina megap-megap sembari memandangku meminta pertolongan.

“LEPASKAN! LEPASKAN!” Aku menendang dan meninju dinding tak kasat mata itu sekuat tenaga. Sosok itu mengulurkan tangannya satu lagi padaku, namun Nina menangkapnya sekuat tenaga, terlepas dari posisinya yang tak menguntungkan, ia masih berusaha melindungiku.

“AAARGH!!” Lengkingan Nina menyakitkan telinga saat kusaksikan iblis itu menarik paksa jantung Nina keluar dari rongga tubuhnya hanya dengan jari jemarinya, tubuh Nina terkulai lemas saat penopang hidupnya itu telah lepas.

Seperti boneka tak berharga, tubuh lemas Nina disentakkan lalu sosok itu menghilang membawa jantung sahabatku itu.

“NOOO! Nina! Nina!”

“Keluar ... keluarlah... da-dari... sini, Meha. Ba-bangunlah!”

Lalu, seperti ada lubang hitam raksasa yang menyedot kesadaranku pergi dari mimpi buruk tentang Nina.

“NOOO!” Teriakku saat tak lagi melihat sosok Nina.

“SRAAK!” Tarikan paksa dari kain hitam yang menutupi kepalaku membuatku tersadar. Ruangan ini temaram, sebuah kamar terbengkalai dari baunya yang lapuk. Aku menatap sang pembunuh keji yang berdiri di depanku itu dengan gigi bergemeletuk.

Siapa sangka Langdon Bortolomov, Kaprodi yang terkenal baik dan pengayom itulah pelaku pembunuhan berantai yang membayangi kampus kami 6 bulan belakangan. Pantas saja ia begitu licin menghindar dari endusan polisi. Karakter yang dia tunjukkan ke masyarakat begitu suci tanpa cacat cela.

Remi, kekasihkulah yang justru menjadi kambing hitam dan harus mendekam di penjara karena tipu dayanya. Sungguh culas dan tak termaafkan!

“Sialan!” Aku mengumpat keras.

“DIAM KAU MEHA! Sudah cukup kau jadi duri dalam petualanganku! Jalang kecil, kali ini permainan detektif-detektifanmu itu harus berakhir. Tenanglah, tunggu sebentar lagi, aku akan membuat namamu terkenal! Oh Meha... Rubah kecilku.” Dengan tangannya yang menjijikkan ia menggamit daguku. Aku menggigit bibir bawahku menahan tangis.

Bagaimana bisa, aku mengidolakan sosok ini dulu. Sangat naif. Sir Langdon menjadi Kaprodi termuda, dengan kharismanya yang pandai memikat lawan bicara. Materi-materi kuliah yang terkini, perdebatan berbobot tanpa henti dengan para mahasiswa dan rekan dosen yang tak setuju dengan teorinya.

Tak butuh waktu lama, ia yang semula datang sebagai dosen baru itu menaiki tangga karir dengan cepat. Tak peduli tua muda, laki laki atau wanita, tertipu oleh pesonanya.

Namanya wira wiri di stasiun TV nasional. Viral sebagai dosen ter “panas” dekade ini. Belum lagi latar belakang keluarganya yang merupakan turunan old money. Seolah keberuntungan tak lepas dari bayang-bayangnya.

Suami dari Mrs Leah Thompson-Bortolomov, mantan model yang banting setir menjadi philantropist terkenal di kalangan atas. Dengan penggambaran tanpa cela itu maka siapa sangka kini, sosok bak malaikat didepanku itu berubah menjadi tukang jagal paling ditakuti.

Hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhku. ‘Tolong! Siapapun! Aku tak ingin menjadi korbannya!’

“Uggh!” Aku berusaha dengan sekuat tenaga melepaskan tali yang mengikatku di kursi, tapi tak bisa.

“Ckckck, jangan buru-buru rubah kecil. Tunggu sebentar dan kau akan menikmati penyatuan denganku. Bukankah itu yang kau inginkan? Aku tahu kau selama ini diam-diam menjadi pengagum beratku. Groupies tuan Langdon?”

“CUIH!” Aku meludahi wajahnya yang mendekat.

“SLAP!!” Tamparan keras pada pipiku, rasa berdenging sesaat. Bibirku pecah karena tamparan kerasnya tadi. Selanjutnya dengan kasar tangan pembunuh itu meremas rahangku.

“KAU. Kurang ajar. Padahal tadi aku ingin memberikanmu pelepasan yang indah. Tapi, karena kau tak menjadi jalang penurut maka kesucianmu akan kurenggut kasar! Kita lihat apakah harga dirimu itu masih ada saat kesucianmu kurenggut. Shirley! Sumpal mulutnya! Aku sudah muak mendengar ia berbicara!”

‘Shirley? Ia kah kaki tangan pembunuh ini? Bagaimana mungkin? Aku sungguh telah dibodohi.’ Panik, aku semakin berusaha keras membuka ikatan pada kaki dan tanganku, hingga kulitku rasanya terkelupas karena tergesek tali tambang. Aku dapat merasakan darah mengalir dari pergelangan tangan dan kakiku.

Aku menggeleng-geleng saat sumpal kotor dimasukkan paksa ke dalam mulutku oleh Shirley. Lalu tanpa belas kasihan ia menahan kepalaku kasar dan dijejalkannya juga, aku merintih tanpa suara. Memandangnya dengan tajam, Shirley menatapku balik dengan seringai mengejek yang kejam.

Mr Langdon sedang mempersiapkan sesuatu di lantai yang tampak tak asing, bintang berbentuk lingkaran itu digambarnya dengan kapur putih. Di tengah-tengah layaknya altar, diletakkan sebuah meja kayu yang memiliki strap di ujung-ujungnya, memungkinkan persembahannya diam di tempat tak dapat kabur.

Rupanya selama ini, korban-korban itu adalah hasil dari ritual pemujaan setan. Siapa yang dapat menyangka? Diabad 21 ini, ritual tua kejam ini masih terjadi.

“Done,” Ucap Mr Langdon menyeringai puas melihat hasil kerjanya. Cahaya dari lilin membuat bayangannya memanjang layaknya setan yang kulihat dalam mimpiku tadi bersama Nina.

“Apakah sudah saatnya, Sir?” Shirley mencicit.

“Ya. Kau dapat memanggil mereka.”

Shirley lalu keluar dari ruangan dan kembali dengan membawa 3 orang bertudung hitam, wajah mereka tak dapat terlihat.

Saat satu persatu dari orang itu membuka tudung mereka, aku semakin pias. Sungguh di luar perkiraanku.

“Mari kita lakukan!” Perintah Mr Langdon.

Ketiga orang yang sosoknya tak asing bagiku itu lalu mendekatiku, membuka ikatan tali dan mencancangku di altar.

Pakaianku direnggut paksa, hanya menyisakan pakaian dalamku saja. Teriakpun percuma karena tak ada suara yang dapat keluar dari mulutku.

‘Siapapun! Tolonglah! Tolonglah aku!’

“HAHAHA! Lihatlah. Belum apa-apa kau sudah ketakutan. Kenapa kau tak tunduk sedari tadi. Aku bisa melakukannya dengan lembut untukmu yang pertama kali. Tapi karena kau nakal, aku akan melakukannya dengan kasar!”

Mr Langdon mendekat dan membuat sayatan di kedua pergelangan tanganku.

Perih... Ruangan tampak kabur saat mereka mulai menggumamkan mantra. Bayang-bayang mereka yang mengelilingiku dari 5 penjuru tampak menyatu menjadi sosok menyeramkan berjubah hitam tadi.

Saat kesadaran hampir meninggalkan ragaku. Sayup-sayup aku mendengar suara pintu didobrak paksa dan teriakan-teriakan orang dari dalam ruangan.

Suara tembakan bersahutan, setelah itu aku tak tahu lagi.

Karena kini gelap kembali menguasai.

Bab 2

“Bagaimana keadaan gadis itu?”

“Belum siuman karena masih kehilangan banyak darah Sir.”

“Laporkan keadaannya padaku langsung, tempatkan dua penjaga di depan ruangannya. Dia adalah saksi kunci kita, kita tak mau mengambil resiko kehilangannya.”

“Baik, Sir.”

Aku mendengar samar-samar percakapan dari luar masih dengan mata terpejam, kesadaranku berusaha mengetuk-ngetuk untuk ke permukaan tapi fisikku tak kuasa. Kegelapan seolah lebih mudah untuk digapai dibanding terang. Aku terseret pasrah pada tarikan kelelahanku lagi.

Disorientasi waktu, rasanya lelah. Entah sudah berapa lama rasanya aku berlari di dalam kabut tebal bertelanjang kaki. Rumput di bawah kakiku basah berlumpur, piyama rumah sakit yang kukenakan kotor tak karuan, sela-sela jarikupun mulai terasa gatal.

“Meha... Meha...!” Lagi-lagi aku mendengarkan suara teriakan Nina, untuk itulah aku tadi berlari, mencari-cari sumber suaranya.

Sumber cahaya satu-satunya di kejauhan layaknya mercusuar yang menjadi tujuan pelarianku. Menembus kabut samar-samar.

“Meha... Meha... Jangan!” Kali ini teriakan Nina berubah.

“NINA...! Kamu dimana?! Tunggu aku!”

“Me... Meha... BANGUN!” Teriak Nina tiba-tiba muncul dihadapanku dengan mata melotot, membuatku terkejut dan terbangun di atas ranjang rumah sakitku yang hangat.

“SYUT... SYUT! BRUGH!” Keheningan terpecah oleh suara ganjil dari luar ruangan.

“Ceklek!” Seseorang membuka pintu ruanganku dan berjalan dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara. Instingku mengatakan jika niat orang ini tak baik. Dengan hati-hati aku menyimpul tali infus dengan tangan kananku dan menggenggamnya erat. Masih dengan mata setengah terpejam.

Siluet asing itu mendekat, mengarahkan pistol berperedamnya pada pelipisku.

Mati. Sudutnya tak pas untukku melakukan serangan dadakan. Nekat, sekarang atau tidak ada kesempatan sama sekali.

Sepersekian detik kemudian, momentum pistol itu memuntahkan amunisinya, tangan kiriku sudah menggenggam larasnya, mengarahkan sudutnya melewati kepalaku.

“SYUT!” Amunisinya teredam busa kursi pengunjung.

Sebelum pembunuhku sempat bereaksi, aku sudah melilitkan selang infus itu di lehernya kuat-kuat dari belakang mengunci tubuhnya tak bergerak dengan kedua kakiku yang bebas, tangannya menggapai-gapai dan merenggut rambutku.

“AAARGH!!” Teriakku saat kulit kepalaku panas seolah hendak terlepas, tarikanku pada selang infus di lehernya semakin kuat.

Tak kupedulikan rasa sakit di kepalaku itu, karena jika aku lengah sedikit maka situasi akan cepat mudah berbalik tak mendukungku.

Sadar jika posisinya tak menguntungkan, tangan yang tadinya merenggut rambutku digunakannya untuk menyikut pinggulku kuat-kuat, aku berteriak tanpa suara. Namun tetap teringat untuk tak melepaskan genggamanku pada selang infus itu.

Putus asa, sang penyerang kini menggunakan kedua tangannya untuk melonggarkan jerat infus pada lehernya dengan panik.

1... 2... 3... 4... detik kemudian saat asupan oksigen di kepala sang penyerang benar-benar hilang dan sudah tak kurasakan lagi perlawanan dari tubuhnya.

Kudorong kasar tubuh sang penyerang dari atas tubuhku hingga ia jatuh terjerembab di lantai. Aku melepas selang infus yang masih tertancap dari tanganku. Begitu juga dengan beberapa patch yang menempel pada dada dan keningku.

Sempat melirik jam dinding dan suasana di luar yang masih gelap. Tak membuang waktu, menyambar mantel yang dipakai oleh si penyerang dan bergegas keluar dari ruangan. Kulihat dua orang penjaga yang berpakaian polisi di depan ruanganku telah tewas, begitu juga dengan tiga orang perawat di counter depan, pembunuhku tak main-main.

Mengendap-endap aku melewati ruangan security rumah sakit yang terlentang di kursinya dengan pelipis bocor. Melihat layar monitor CCTV untuk memastikan tak ada serangan susulan.

Melalui tangga darurat, aku kabur dari rumah sakit tanpa alas kaki.

DONG DONG DONG

Suara lonceng katedral di kejauhan berbunyi sebanyak 6 kali.

Tepat ketika aku sudah sampai di bawah, fajar menyingsing dari ufuk timur, aku berbelok menghindari jalan besar, memasuki lorong-lorong sempit entah menuju kemana. Keputusan sesaatku adalah untuk menghindar sejauh-jauhnya secara acak. Aku tak tahu entah siapa lagi yang mengincar nyawaku.

Tiba di persimpangan, aku mendapati jika sedang berada di lingkungan perumahan suburban yang sepi. Mengapa mereka membawaku ke sini? Jauh dari kota? Dengan merapatkan jaket aku semakin mempercepat langkah. Saat tiba-tiba sebuah mobil van berhenti tepat di sampingku, bannya berdecit nyaring, belum juga aku bertindak, dua pasang tangan membekap mulutku dan meringkus tubuhku masuk ke dalam mobil van yang langsung tertutup dan melaju cepat.

“Hmmmph!” Berontakku.

“Diam! Ouch!” Teriak kesakitan pria yang membekap mulutku saat jarinya tergigit olehku.

“Meha! Meha! Kalem!” Perintah suara pria yang tak asing bagiku dari bangku depan.

“Daniel?! Apa-apaan?!”

“Nanti akan kujelaskan, sementara ini kami akan membawamu ke tempat aman. Tolong, percayalah pada kami.”

“Permintaanmu berlebihan mengingat bagaimana caramu membawaku.” Sinis aku melirik penyekapku yang tetap menahan tubuhku erat.

“Terpaksa Meha, cuma ini cara satu-satunya agar kau mau ikut dengan kami dalam waktu singkat.”

“Apa mau kalian! Turunkan aku sekarang!” Aku memberontak sekuat tenaga.

“Meha! Meha! Tenang dulu. Kami berencana membawamu ke tempat aman. Percayalah.”

“Rencana apa?! Aku akan berontak jika kalian memaksakan kehendak, berkaca dari pengalaman, aku sudah belajar untuk tak lagi gampang percaya dengan orang.”

“Oke, oke. Dengar, kami akan membawamu ke stasiun TV kenalanku. Apa yang kau bongkar ini merupakan skandal nasional Meha. Banyak orang penting yang akan terseret. Jika informasi ini tak dilempar ke publik, aku takut akan tenggelam dan kau akan dibungkam paksa.”

“Kawan-kawan! Ada mobil hitam yang sedang mengikuti kita! Berpegangan! Aku akan menaikkan kecepatan!” Teriak pengemudinya yang seorang perempuan, tanpa menunggu persetujuan kami ia langsung tancap gas membelah jalanan sepi pagi hari itu.

Hari baru saja dimulai saat orang-orang yang baru bangun menyaksikan dua mobil berplat nomor kota mengemudi dengan ugal-ugalan. Sumpah serapah terdengar di sepanjang jalan.

“Rene! Mereka sudah di samping!”

“Tsk! Menjengkelkan. Kawan, bersiap untuk benturan!” Rene membanting kemudi ke kiri. Tubuh kami saling berhimpitan di kursi penumpang karena benturan keras tadi.

Mobil penguntit itu melenceng ke pedestrian namun dengan cepat dapat dikendalikan dan kali ini mengincar mobil kami dengan kecepatan tinggi!

“Mereka mengeluarkan senjata!” Teriak pria di samping kiriku lalu ikut-ikutan mengeluarkan senjatanya juga.

“Astaga. Jangan lagi!” Aku mengernyit lelah ke samping.

Adu tembak pun tak terelakkan. Kawan Daniel tertembak dan tewas, aku merunduk semakin dalam ke kursi penumpang.

DOR!

Tembakan sekali lagi dari arah samping tepat mengenai batang leher Rene.

“Dan- Dani... el.” Rene pun tak tertolong.

“Tidaaak! Rene!!” Daniel meraung sedih namun mengambil alih kemudi dengan tangannya yang bebas.

Mobil melambat tepat di tepi jembatan, mobil penguntit tadi menabrak mobil kami hingga menghantam pembatas. Mobil yang kami tumpangi terjun bebas ke arah air yang tampak tenang menyambut.

“Maaf, Meha...”

Hanya itu kata yang keluar dari Daniel saat mata kami bersitatap sebelum benturan keras dengan muka air terjadi, tak lama mobil sudah terisi air. Tampak leher Daniel yang terkulai canggung, kuduga akibat benturan dengan airbag yang menggelembung tiba-tiba, tatapan matanya padaku sudah tak bernyawa.

Hatiku menjerit kehilangan temanku satu persatu. Namun kini aku harus segera menyelamatkan diri, air sudah hampir penuh. Dengan satu tarikan napas panjang aku menyelam mencari jalan ke luar.

Pintunya tak bisa dibuka, terkunci otomatis. Satu-satunya jalan adalah keluar lewat jendela yang terbuka dan terhalang mayat teman Daniel, kusingkirkan mayat itu cepat sebelum aku kehabisan udara.

Mobil sudah tenggelam ke dasar dan terseret arus, aku keluar dari arah arus datang menghindari diri dari terperangkap dalam bodi mobil lagi. Dadaku sudah sangat sesak meronta meminta udara.

Dengan sisa tenaga aku berenang ke permukaan. Sekelebat ingatan menyeruak mengingat tentang cahaya dari mercusuar dalam mimpiku tadi malam.

Rasanya tinggal sedepa lagi, tapi paru-paruku sudah tak kuat. Saat aku hampir menyerah mengikuti arus, sebuah tangan menyambarku naik.

Aku ditarik naik ke sebuah sekoci dan terkapar di lambungnya terbatuk-batuk mencari udara saat sebuah wajah muncul di atasku dengan seringai palsu.

“Well, hello Meha.”

Si jalang Mrs Leah Thompson-Bortolomov.

Bab 3

“Ikat dia sebelum kabur! Sumpal mulutnya juga!”

‘Sial! Keberuntungan belum juga dipihakku. Ditangkap oleh ular licik ini.’

“Cih. Tutupi mukanya juga, aku tak tahan!” Dengan bergidik ia menatapku yang memandangnya dengan dendam berkilat-kilat.

Aku berontak saat orang suruhannya memegangi tubuhku, namun staminaku yang telah terkuras kalah tanpa perjuangan berarti.

Suara sirine terdengar mendekat dari arah jalan raya, rasa bahagiaku terbit namun segera dipadamkan oleh jalang itu dengan menampar pipiku begitu kuat dan membuatku pingsan. Sayup-sayup aku mendengar, kaki tangan si jalang memintanya untuk bersembunyi menutup kepala dan menambatkan sekoci di bawah jembatan agar tak terlihat.

Kembali ke masa dimana masalah paling berat yang kuhadapi hanya seputar tugas dan laporan bulanan.

Sir Langdon con artist itu, adalah magnet kuat popularitas, siapapun yang berhasil masuk dalam lingkarannya akan terciprat kepopulerannya itu. Dan ia senang mengundang segelintir mahasiswa yang menarik minatnya ke perjamuan megah yang ia adakan setiap tiga bulan sekali di kediamannya yang mewah.

Terkadang, apa yang menarik baginya itu terlihat begitu random. Ia tak suka hal-hal mainstream. Cukup berhasil untuk membuat para mahasiswa bersinar dengan cara mereka masing-masing agar mampu memikat sang kunang-kunang. Akupun tak tahu apa yang membuat minatnya beralih padaku, si cupu asisten laboratorium mikrobiologi ini.

Dopaminku meningkat ketika suatu hari ia datang ke laboratoriumku sendiri tanpa Rene - asisten galaknya. Awalnya ia menanyakan tentang penelitian yang sedang kujalankan, yaitu seleksi beberapa kandidat khamir yang paling ampuh dalam mengurai gula.

Aku bercerita dengan menggebu-gebu, dan ia memperhatikanku dengan seksama tanpa menginterupsi dengan mata elangnya.

“Oh, maaf Sir. Aku terlalu banyak berbicara,” Jedaku tersipu malu sembari menggigit bibir, khawatir.

Ada rasa gugup dan takut saat pandangan matanya yang lekat memperhatikan bibirku dengan pandangan.... sensual? Dan apa yang dilakukannya setelah itu, menyapu lembut bibirku dengan ibu jarinya.

Glek!

Si perawan yang zero pengalaman ini semakin berdebar tak karuan.

Clang!

Suara besi yang dijatuhkan dengan sengaja mengejutkan kami dari arah pintu.

Remi melihat kami dengan pandangan marah. Aku menjauh dari Sir Langdon yang terkekeh geli.

Jika kalian belum tahu, Remi adalah anak satu-satunya Sir Langdon dari mendiang istri pertamanya.

“Hello, Remi.”

“Hai dad. Aku tak tahu jika dad sudah pandai melarikan diri dari Rene.”

“Sir. Rapat dengan senat dalam 5 menit.” Rene muncul dari balik Remi dengan wajah dingin tanpa ekspresinya.

“Tsk! Rene - Remi, kalian penghancur pesta. Oya, Meha kau kuundang dalam pesta perjamuan akhir minggu ini, datanglah.”

“Baik, terimakasih Sir.”

Sir Langdon keluar dari ruangan, menyisakan Remi yang masih berkacak pinggang di depan pintu, masih dengan pandangan marah ke arahku. Tinggal kami berdua di ruangan, ia mendatangiku dengan gusar. Aku tak paham, karena kami tak pernah sedekat itu, untuk apa ia marah?

“Kupikir kau berbeda, Meha. Kau sama-sama murahannya.”

“Apa?! Bisa-bisanya! Apa urusannya denganmu?! Kita bukan siapa-siapa, jadi urus saja urusanmu sendiri, TU-AN RE-MI.”

“Tsk! Kau sudah pandai menggoda rupanya, apakah itu keahlian tersembunyimu? Apa dari situ kau mendapatkan uang untuk membiayai kuliahmu?”

Apa-apaan sih dia? Dari tadi tak henti-hentinya menghinaku? Mataku memanas, sebagai anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan. Untuk sampai di posisiku sekarang bukanlah perkara mudah, masa muda dan kesenangan sudah kukorbankan. Bisa-bisanya dia menilaiku hanya dari sekali pandang?

“KAU. TAK TAHU. APA-APA. TUAN MUDA. KEMBALILAH KE MANSIONMU YANG ME-,”

Belum selesai aku berbicara saat bibirnya membungkam bibirku dengan rakus. Aku yang semula terkejut dan hendak mendorongnya terhanyut dengan permainannya yang panas. Tangannya bergerilya di dalam blouse ku, setiap inchi yang disentuhnya terasa membakar.

“Ah...” Desahan tak kuasa keluar dari mulutku saat bibirnya menyapu leher jenjangku. Hembusan napasnya di telingaku membangkitkan birahi hewaniku yang selama ini tertidur.

Saat hasratku sedang menggebu, ia menghentikan permainannya dengan tiba-tiba. Membingungkanku yang sedang terselimuti kabut hasrat. Aku menatapnya dengan pandangan sayu.

“SIALAN!” Umpatnya geram lalu dengan kasar mendudukkanku di meja laboratorium, direnggutnya leherku dan permainan panas kami dimulai lagi, kali ini lebih menuntut dibanding tadi. Aku merasa di awang-awang, tak pernah tahu jika rasanya sememabukkan ini.

“OH!! Meha!!” Suara terkejut dari pintu, Nina berdiri di sana sembari menutup matanya dengan kedua tangan.

Kesadaranku datang, kudorong kuat tubuh Remi yang memandangku dengan seringai usilnya seperti biasa. Memalukan, bagaimana bisa aku tertipu olehnya tadi! Bodoh sekali kamu Meha! Aku mengutuk diri.

Kuperbaiki kancing blouseku yang entah kapan terbuka, menampakkan buah dadaku yang kencang. Remi mendekat padaku dan berbisik.

“Siapa sangka jika kau cepat sekali basah, Meha. Permainanmu tadi tak buruk juga, kau pasti sudah biasa melakukannya.”

“SLAP!” Kutampar pipinya, cukup sudah hinaannya, ia sempat membuatku lengah tadi, kuakui itu. Dan kini aku begitu menyesalinya.

“Maaf Tuan, tidak akan ada lain kali. Mulai sekarang kita tidak akan saling mengenal. Aku mengutuk diriku karena perbuatanmu tadi.”

“Siapa kau mendikteku? Aku mengklaimmu menjadi milikku Meha.”

“Aku bukan properti yang bisa dibeli.”

“Oya? Bagaimana jika, beasiswamu dicabut? Apakah itu cukup untuk membeli harga dirimu?”

Air mataku hampir jatuh, aku lelah sekali menjadi miskin. Selalu dimanfaatkan, aku tak punya apapun selain harga diri sebagai manusia, dan kini dengan gampangnya ditawar seperti menakar keju dan roti.

“Cabut saja, aku akan pergi sejauh mungkin, ke belahan dunia yang tak terjangkau oleh tangan-tangan kalian yang tak pernah tahu arti dari bekerja keras,”

“No, Meha. Kau tak boleh kemana-mana, sudah kukatakan jika kau milikku. Camkan itu.”

“Aku lelah, mungkin konsep harga diri tak pernah ada dalam kamusmu Tuan. Tapi kami, kaum marjinal ini, berpegang teguh pada itu, dan uang sebanyak apapun tak akan mampu membelinya, setidaknya bagiku.”

“Kenapa kau begitu keras kepala?” Tangannya kembali menggamit lenganku.

“Lepaskan! Kau menyakitiku.”

Menyadari perbuatannya, ia melepaskan remasannya pada lenganku, lalu berlalu pergi, tak lupa menggumamkan ultimatum.

“Jangan kemana-mana Meha, aku janji tak akan mengganggumu lagi.”

Seharusnya aku lega kan mendengar pernyataannya? Tapi kenapa hatiku terasa sakit?

“Bagaimana rasanya tadi? Aku lihat kamu sangat menikmatinya, ah ah ah!” Nina menirukan suara desahanku tadi membuat pipiku semerah tomat.

“Diamlah! Kau berlebihan!”

“Oya? Jadi, suara siapa itu yang tadi kudengar?”

“Entahlah, tapi bukan aku.”

“Baiklah tuan puteri keras kepala. Hari ini jadi isolasi?”

“Mm, jadi. Ngomong-ngomong, aku diundang oleh Sir Langdon di perjamuannya akhir minggu ini.”

“Oya?! Sungguh luar biasa! Setelah ini kita harus mampir ke Frockney! Aku akan membantumu mencari dress!”

“Haruskah?” Godaku dengan mata berbinar.

“Yes. Yes. YES!” Teriak Nina kegirangan.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku memanjakan diri pergi menggunakan taksi, aku tak ingin dress off shoulder satin berwarna hitam dengan potongan sederhana yang kukenakan menjadi berantakan jika bepergian menggunakan trem, di tanganku menggenggam clutch merah yang juga didapatkan dari Frockney, toko yang terkenal akan barang-barang vintage bekas berkualitasnya dengan harga ramah di kantong mahasiswa.

Tak ada perhiasan mahal di leherku yang jenjang, untuk itu aku mengenakan riasan sedikit berani malam ini untuk mengalihkan perhatian orang pada assesorisku yang minim. Begitulah harapanku.

Sesampainya di mansion milik Sir Langdon yang mewah, aku melaporkan namaku pada pelayan yang berjaga di pintu depan. Ia mengangguk setelah memastikan namaku ada di daftar undangan. Salah satu pelayan kemudian mengantarku ke ruangan perjamuan yang sudah di penuhi orang-orang.

Pintu besar dibuka oleh sang pelayan, dan aku masuk ke ruangan yang terang benderang, orang-orang sudah mulai makan mengambil di prasmanan. Aku masuk dengan kikuk, tak ada yang kukenal di sini, wajah-wajah yang asing.

Di ujung ruangan, mataku bersirobok dengan pandangan Remi yang lekat menatapku, beberapa gadis mengelilinginya dengan antusias, wajahnya tampak begitu kesal. Kapan sih dia bersikap ramah padaku! Kilasan pergumulan kami beberapa hari lalu muncul membuatku tersedak dan buru-buru ke kamar mandi.

Dasar orang kaya, di mana kamar mandi mereka?! Aku membuka pintu satu persatu, namun tak mendapati ruangan yang kutuju. Lega saat akhirnya menemukannya di ujung lorong.

Kini, setelah usai dari kamar mandi, aku harus mengingat lagi letak ruangan perjamuan tadi. Menggeram kesal karena kemampuan spasialku yang payah kumat di saat aku membutuhkan keajaiban.

Dengan pelan aku membuka ruangan satu persatu, saat di ruangan yang tampak seperti perpustakaan pribadi itu aku melihat sepasang kekasih yang saling memagut penuh gelora.

“Aah...!” Pekik tertahan keluar dari mulutku tanpa sengaja kala kusadari siapa dua insan itu.

Remi dan Mrs Leah Thompson.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED