"Saya terima nikahnya Naura Imron dengan mas kawin 25 gram emas dibayar tunai."
Deg!
Sah! Semuanya berseru dan kini pengantin Ervan dan Naura Imron telah sah menjadi suami istri. Hanya sedikit orang yang menyaksikan pernikahan ini, setidaknya rukun dan syarat pernikahan dilaksanakan dan tak dilanggar.
Seorang perempuan kecil merasa bahwa ini mimpi, bagaimana mungkin ia menikah tanpa dihadiri oleh kedua orang tuanya dan hanya dihadiri wali hakim dan beberapa saksi. Ia hanya tertawa lucu dan tak menyangka akan menjadi seperti ini. Walau akal sehatnya membeku saat ini.
Pikirannya kacau tak karuan. Ini semua entah bermula dari mana sampai bisa jadi begini. Kepalanya bahkan enggan untuk menilik situasi di ruangan yang tak begitu luas. Ingin pasrah, namun kenapa kehidupannya begini? Udara dingin dengan bibir yang membisu tak banyak berkomentar. Matanya terpejam menahan takdir yang bahkan tak terlintas dipikiranya.
Dua hari sebelumnya.
Prak!
"Dasar anak bodoh, masak seperti ini saja kau tidak becus!"
Crang!
"Kenapa kau diam saja? Cepat ambilkan garam, dasar anak tidak berguna!" Wajah wanita paru baya itu merah terbakar emosi.
Teriakan itu membuat wajah anak perempuannya menjadi kaku dan ketakutan. Ia tak dapat berbuat apa-apa selain menurut pada sang ibu.
Ia berlari ke dapur mengambilkan garam di mangkuk kecil.
"Ini, Bu garamnya," sodor anak perempuan tersebut dengan kepala menunduk.
"Tuang ke pancinya dan jangan sampai keasinan!" cerca ibu tanpa memelankan suaranya.
Sang gadis itu dengan gemetar menabur garam ke panci sedikit demi sedikit, diaduk, kemudian dicicip. "Sudah tak asin," batinnya, kemudian duduk di kursi kembali untuk makan.
Tatapan iba ditunjukkan sang ayah yang duduk kaku tak berguna di samping istrinya. Ia sebagai ayah justru tak dapat membela anak kesayangannya, hanya dapat menatap dengan penuh arti pada gadisnya.
3 bibir tersenyum melihat suasana pagi ini. Ya, tontonan asik pagi mereka adalah menyaksikan saudarinya dicerca oleh sang ibu negara. Naura memiliki 2 kakak dan 1 adik laki-laki, hanya ia yang perempuan.
Walau hanya satu, Naura diperlakukan seperti anak tiri yang dibenci ibu seolah-olah ayah kandungnya telah tiada dan menyisakan penderitaan bagi sang ibu tiri. Padahal Naura juga menderita semenjak kelahiran anak bungsu.
Sejak kecil Naura tak mendapat kasih sayang, ditambah pekerjaan semakin banyak semenjak ia masuk SD. Harus menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, piring, bahkan membersihkan rumah sudah menjadi kewajibannya.
Berangkat ke sekolah berjalan kaki sekitar 2 kilo meter, sedang ketiga saudara naik angkot dan diberi uang jajan. Ayah diam-diam selalu memberikan uang jajan pada Naura dan mengobati luka yang digoreskan oleh ibu kandung yang jahat di malam hari saat semuanya sudah tidur.
Ayah tidah bisa membantah ibu karena pernikahan ini hasil dari perjodohan. Ibu yang menolak keras memberikan syarat jika ingin menjadi suaminya tak boleh melarang atau membantah apapun yang dilakukannya. Ayah yang mencintai ibu dengan cara menurut, hanya bisa diam saja saat anak perempuannya diperlakukan dengan sadis.
Usai sarapan gadis tersebut segera merapikan meja, mencuci piring juga mengelap lantai yang terkena tumpahan mangkuk ibu yang dibuang tadi, dengan tangan yang banyak luka dan memar.
Setiap hari tangisnya selalu tumpah, tak pernah tersenyum ataupun tertawa, selalu menundukkan kepala juga tak banyak bicara.
Dirasa rumah sudah bersih, ia pamit pada ayah untuk berangkat kuliah.
"Maafkan Ayah, ya Nak. Ayah tak bisa membuatmu tersenyum," lirih ayah dengan suara pelan sambil memeluknya.
"Tidak apa Ayah, Naura baik-baik saja, kok." Senyum tipis ditunjukkan gadis yang dimarahi tadi.
"Ini bekal untukmu."
"Terima kasih, Ayah." Naura menyalami ayah kemudian berjalan keluar pagar rumah menuju jalan yang biasa dilewati angkot.
Senyumnya merekah ketika ia tiba di kampus, di tempat inilah ia dapat mengekspresikan dirinya. Masuk ke dalam kampus dengan penuh harap bahwa suatu hari nanti ia dapat membanggakan orang tuanya.
Waktu pulang telah tiba, tapi Naura tidak langsung pulang ke rumah, ia pergi ke taman yang jaraknya tidak begitu jauh dari kampus. Sebelum masuk, ia membeli kopi di warung kecil yang dekat dengan taman.
Berjalan perlahan dengan beberapa buku di pelukannya, menatap jalanan yang dipijak, ia tidak suka meninggikan pandangan.
Mata indah Naura menemukan kursi taman yang panjang, ia duduk di sana kemudian mengerjakan tugas kampus.
Senja mulai terlihat, pandangan menjadi redup, Naura bergegas pergi ke halte bus yang akan membawanya ke stasiun kereta.
Suasana di desa ini tidak begitu ramai, juga ditambah senja sudah mulai pergi. Desa yang sangat nyaman dan tenang. Berbeda dengan keadaan rumah Naura. Baru saja tiba di rumah sudah mendapatkan tatapan tajam dari ibu.
"Ke mana saja kamu, bukannya pulang lebih cepat, malah lambat! Cepat masak, kakak dan adikmu sudah kelaparan!" Tatapan yang menyala itu membuat Naura langsung terbakar rasa takut dan segera melaksanakan perintah ibu.
Naura tak sanggup menatap wajah ibu, ia selalu menundukkan kepala, hingga yang tampak di matanya hanya kaki sang ibu.
Berlari ke kamar kemudian ke dapur dengan pakaian sederhana, tak lupa ia mengenakan kerudung agar rambut panjangnya tak jatuh walau sehelai.
Memasak dengan bahan yang ada di dapur. Tangannya cepat sekali mengupas sayuran juga mengiris, sikap gesitnya patut diakui karena tak begitu lama masakan sudah siap dihidangkan.
Nasi sudah tersedia di meja, tinggal lauknya saja. Makanan di nampan perlahan dibawanya ke meja makan.
Drrrrttt.
Drrrrttt.
Tangan kecil nan kurus itu terlihat gemetar, namun ia tetap berusaha meraih meja.
Tes.
Tes.
Currr.
Tangan ibu meraihnya cepat.
"Terima kasih, Bu," lirih Naura menatap nanar ibu.
"Astaga anak ini, membawakan makanan segini saja sudah gemetar. Makanya, pulang kuliah tuh jangan keluyuran, dasar anak tak tahu diri. Pergi sana! Bikin jengkel saja," usir ibu tanpa belas kasihan.
Tiga jemari kakak tertua menoyor bahu Naura hingga terjungkal ke depan membuat Naura hampir mencium lantai.
"Hahah, dasar anak sial," umpatnya setelah membiarkan adiknya terjatuh.
"Emang gak ada gunanya dia, hahaha."
"Sudah-sudah makan, aku lapar," lerai adiknya yang tak begitu perduli, yang penting ia makan.
Dengan tubuh yang masih gemetar ia masuk ke dalam kamar. Segera minum air yang ada di botol besar.
Glek.
Glek.
Glek.
Setengah botol habis diminum. Semua tubuhnya merunduk, mata layu menatap lantai dengan kosong.
"Dasar anak bodoh, sialan, tak berguna! Bikin jengkel saja."
Suara ibu terngiang-ngiang di telinganya membuat mata tak sanggup lagi menahan tangis.
"Hiks." Tangisnya pun tumpah.
Tok tok tok.
"Hei, anak bodoh, bersihkan dapur." Walau suaranya datar, tetapi makna dari ucapannya membuat Naura lagi-lagi serasa dicambuk di bagian dada.
"Iya, Bu," sahut Naura sambil berlari ke pintu.
"Sedang apa kau di dalam, lama sekali?" tanya ibu setelah Naura ke luar.
Naura menggeleng sambil menjawab, "tidak melakukan apa-apa."
"Cepat bersihkan dapur, nanti ayahmu pulang dapur berantakan. Lamban," cerca ibu dengan wajah sinis.
Kaki panjang Naura membawanya ke dapur, tangan kurus dan lecet segera merapikan meja makan yang berantakan, mata merah juga masih terlihat jelas.
Pukul 12 malam.
Ayah baru pulang dari tempatnya bekerja, walau gajinya tidak begitu besar, tapi tetap dijalani. Ia langsung pergi ke kamar Naura.
Tok, tok, tok.
Punggung jemari ayah mengetuk pelan. "Naura, apa kamu sudah tidur?" bisik ayah pelan sekali.
Naura yang tengah terjaga dengan buku di meja belajar mendengar ketukan pintu. Ia segera berlari untuk membuka.
"Ayah!" serunya dengan wajah berbinar sambil membuka pintu.
"Anak kesayangan Ayah belum tidur?"
"Naura masih belajar sambil menunggu Ayah."
"Kamu sudah makan?"
Naura menggeleng.
"Kalau begitu ayo makan di kamarmu, nanti ibu bangun karena makanan ini enak sekali," bisik ayah di depan wajah putrinya dengan sedikit senyum lucu.
Naura mengangguk girang. "Kalau begitu, Naura ambilkan piring ya, Yah?"
"Iya."
Ayah masuk ke dalam, duduk di karpet yang tipis. Matanya mengedar melihat seisi kamar putrinya yang kosong melompong. Meja belajar hanya dipenuhi dengan buku.
Naura kembali dengan 2 piring dan sendok. Keduanya makan bersama, ayah selalu membawa makanan sisa pelanggan yang masih utuh. Beruntung sekali ayah bekerja di bagian dapur restoran, jadi ia bisa membawa sisa makanan yang masih bisa dimakan.
Naura makan dengan sangat lahap. Matanya berkaca-kaca menikmati makanan yang lezat dan jarang ia rasakan. Tangan ayah menyeka air mata yang perlahan menetes tanpa kata. Ekspresi ayah dan Naura menggambarkan perasaan yang perih jika diucapkan.
Bersambung ....
Keesokan harinya.
Weekend telah tiba, di mana semuanya bisa berleha-leha untuk sementara. Namun berbeda dengan Naura, ia malah bekerja keras seharian penuh di rumah.
Ayah yang menyayanginya tidak memiliki libur, namun jika ingin cuti pihak restoran mengizinkannya, ditambah ayah dibayar setiap ia kerja, tidak memiliki gaji bulanan.
Tugas Naura di akhir pekan ialah berbelanja bahan makanan ke pasar. Jaraknya cukup jauh sehingga harus menggunakan kereta menuju ke sana.
Di dalam kereta hanya ada sedikit orang, mungkin karena weekend tak begitu banyak penumpang sampai membuat sesak.
Matanya perlahan terlelap dalam duduknya. Tidak ada satupun yang membangunkan karena mereka semua mengira Naura tidak ingin turun di stasiun selanjutnya.
Namun sudah sampai di stasiun terakhir, Naura masih tak kunjung bangun, sang petugas pun menghampiri.
"Permisi, kita sudah sampai di stasiun terakhir," ucap petugas laki-laki dengan pelan.
Mata Naura langsung terbangun dan duduk tegap. "Ya Allah, saya di mana? Saya kelewat, ya?" Ia sangat panik.
"Memangnya Anda mau ke mana?"
"Saya mau ke Depok."
"Wah, jauh sekali. Ini di Jakarta."
"Astagfirullah, kalau begitu saya pamit. Terima kasih sudah membangunkan saya." Naura menundukkan kepala sekali, kemudian berlari ke luar stasiun.
Ia sangat bingung sekali tidak tahu ini di mana. Kota yang sangat luas dan ramai tidak mungkin Naura sanggup melangkah seorang diri.
Ia duduk di kursi tepi jalan tepatnya di bawah pohon.
"Aku di mana ini? Aku harus segera pulang. Tapi, aku harus tenang. Ayah bilang kita harus tenang. Okay, tarik napas." Naura menarik napas.
"Huh, baiklah, sekarang utamakan belanja, jadi aku harus pergi ke pasar yang ada di sini." Naura mengangkat tubuh dan masuk ke angkot yang kebetulan berhenti.
Di depan terdapat rel kereta, semuanya buru-buru melintas. Suara peringatan terdengar, tapi angkot belum juga melaluinya.
"Bang, bang, cepetan bang!"
"Bang ayo, itu keretanya sudah mau lewat!"
"Ck, gimana sih, Bang?"
"Bang supir, saya tidak mau mati. Turun di sini saja."
Teng teng teng!
Tentu mereka semuanya panik dikarenakan roda depan angkot sudah di rel pertama, juga di depan terdapat mobil yang berusaha melaju.
Teng teng teng!
Suara peringatan terdengar semakin keras, namun kedua mobil ini masih tersangkut. Kereta sudah terlihat dari jarak cukup jauh, namun tetap saja terlihat menyeramkan.
Teng teng teng!
"Aduh neng, celaka ini. Cepat turun!"
"Tapi angkot Abang bagaimana?"
"Sudah, biarkan saja!" Abang supir turun terlebih dahulu meninggalkan Naura di belakang.
Teng teng teng!
Naura melihat lelaki yang ada di depan. Nampaknya ia juga kesulitan. Dalam keadaan seperti ini sangat mendebarkan hati.
Teng teng teng!
Ia pindah ke kursi supir, menyalakan mesin dengan sekuat tenaga kemudian menginjak gas.
Brak!
Tanpa takut Naura menabrakkan angkot ke mobil putih di depan dan terus berusaha mendorong. Suara teriakan terdengar sangat mengerikan.
Teng teng teng!
Naura sudah berhasil mengeluarkan mobil putih dari rel, kini giliran bemper belakang mobil masih sedikit lagi. Jika tak maju pasti kereta akan mengenainya juga.
Teng teng teng!
Ia tidak segan-segan menginjak gas lagi hingga mobil depan kembali terdorong.
Wenggggg!
Wengggggg!
Wengggg!
"Huh!" Naura menghembuskan napas kasar. Ia benar-benar merasa hidupnya akan mati hari ini. Namun Allah berkehendak lain, Allah memberikannya keberanian yang tinggi.
Padahal Naura sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengemudi, ia sebelumnya hanya melihat bagaimana abang supir tadi mengemudi, kemudian mempraktekannya di saat nyawanya hampir melayang.
Semua warga sekitar menghampiri mobil depan dan angkot yang ada di belakang.
"Wah, ia perempuan. Cepat selamatkan!"
Naura dibawa keluar. Kakinya ternyata terhimpit besi. Lelaki yang mengendarai mobil depan mendengar dan melihat keadaan Naura dari jauh.
"Bawa ke mobil saya saja," tawarnya sambil membuka pintu belakang.
"Bagaimana bisa? Mobil Anda rusak."
"Rusak belakang tidak akan memengaruhi mesin, saya akan membawanya ke rumah sakit."
"Tunggu ambulans saja."
"Kita tidak mungkin menunggu ambulans datang dalam keadaan macet seperti ini."
"Baiklah, kalau begitu. Jaga dia, karena berkat dia, Anda tidak mati hari ini," ucap salah satu warga yang membopongnya ke dalam mobil.
*
Terdapat 2 kasur pasien, lelaki itu mengeluarkan papanya dari dalam kemudian direbahkan di kasur pasien, suster langsung mendorongnya untuk diperiksa.
Tim medis lainnya mengeluarkan Naura dari belakang mobil kemudian dibawa ke dalam. Banyak sekali mata yang menyaksikan keadaan mobil lelaki tersebut.
"Tolong bereskan mobil saya." Lelaki itu mematikan ponsel dengan sangat elegan.
Orang yang barusan ditelponnya adalah Sekretaris Rey. Ia yang selalu menjadi kaki tangan juga tempat curhat bosnya.
Sedangkan yang menelepon, ia bernama Ervan Armagan. Lelaki yang memiliki lesung pipi, tahi lalat kecil di hidungnya, rahang yang kokoh, lengan berotot menjadi kesan gagah pada dirinya.
Satu jam setelah itu.
"Di mana gadis tadi?" tanya Erdana Armagan---papa Ervan Armagan.
"Dia belum siuman," sahut Ervan tak acuh.
"Bagaimana bisa wajauhmu tak acuh kepada orang yang telah menyelamatkan nyawa kita?" Mata Erdana geram mendengar ucapan anaknya.
"Memangnya harus bagaimana? Terlihat iba?" Ekspresi sangar Ervan memang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Jika gadis tadi tidak memiliki keberanian, mungkin Papa sudah mati."
"Jika sudah takdirnya, mau sakit atau tidak, kecelakaan atau tidak, mati ya mati saja," ucap Ervan enteng tanpa menatap Erdana.
Plak!
"Kenapa watakmu itu seperti mamamu?!" Erdana sangat marah sampai menampar anak semata wayangnya.
"Karena mama lebih baik dari pada Papa."
"Kau!"
Tuk tuk tuk.
Keduanya melirik pintu.
"Ya?" sahut Erdana.
Pintu dibuka seorang suster. "Permisi, maaf mengganggu, pasien yang Anda bawa sudah siuman, ia mencari orang yang membawanya."
"Oh baiklah, saya akan ke sana." Erdana dalam keadaan kurang sehat pun memaksakan diri untuk melihat keadaan gadis yang entah dari mana.
Di dalam ruangan Naura terlihat diam tanpa ekspresi, rasa sakit di kakinya sudah tidak terasa. Lebih sakit ketika dicerca ibu ketimbang luka tersebut, begitu bagi Naura.
"Emh, halo," sapa Erdana canggung.
"Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa kami," tambah Ervan dingin tanpa ekspresi.
"Tidak apa-apa. Bapak berdua baik-baik saja? Apa ada yang luka?"
"Hahah, saya tidak terluka, justru kamu yang terluka."
"Saya baik-baik saja. Oh ya, saya mau pulang," pinta Naura penuh harap.
"Tapi kata dokter kakimu patah," tahan Erdana tak ingin membiarkannya pergi.
"Tapi ..."
"Saya akan memberitahu keluarga Anda. Berikan saya nomor yang dapat dibuhungi," ucap Ervan datar sedatar-datarnya.
"Saya tidak punya nomor keluarga."
"Bagaimana bisa kamu tidak memiliki kontak keluarga?" Ervan kaget mendengarnya.
"Sudahlah, biar kamu antarkan dia pulang," saran Erdana santai.
Mata Ervan manatap tajam Erdana.
Bersambung ....
"Lihatlah wajah yang angkuh itu. Kau mau menolak perintah Papa?"
"Ck, biar kuantar setelah menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda," ucap Ervan sambil lalu. Sebenarnya ia ingin sekali membantah, namun pesan mama selalu terbesit saat hendak membangkang.
Di ruangan yang sejuk oleh AC nan nyaman.
Duduk dengan kewibawaannya di meja kerja, Ervan terlihat sangat perkasa. Memeriksa layar monitor di depannya dengan mulut berbicara melalui telepon.
Ia seorang CEO perusahaan bernama Armagan. Terpampang jelas nama "Armagan" di gedung bagian atas yang mencakar langit.
Bukannya memikirkan gadis yang menyelamatkan hidupnya, Ervan justru malah sibuk berpacaran dengan pekerjaannya. Memang benar-benar workaholic.
Siang telah berganti malam, Ervan baru keluar dari gedung perusahaan, masuk ke dalam mobil dan melaju ke rumah sakit.
Suara deruman mobil Ervan terdengar oleh Erdana yang sudah sangat menunggu kedatangannya ke rumah.
Erdana segera menghampiri. Melihat anaknya berjalan dengan gadis kurus di belakangnya nampak seperti bodyguard saja.
"Anak Papa sudah pulang," sapanya senang sekali.
"Bagaimana keadaanmu?"
Ervan melihat mata Erdana yang menatap Naura. Ternyata pertanyaan itu untuknya, sedang kalimat pertama diberikan pada Ervan.
Kepala Ervan menoleh pada Naura. "Papa bertanya padamu."
"Eh?" Naura mendongak.
Erdana segera meraih Naura yang berusaha berjalan dengan kruk. "Ervan, bantulah dia berjalan untuk sementara."
"Papa tidak lihat? Dia bisa jalan sendiri."
"Hah, dasar anak ini. Untung saja kamu tampan sepertiku," keluh Erdana sambil membopong Naura ke sofa.
"Malam ini kamu menginaplah, saya juga khawatir jika Ervan menyetir sepulang bekerja akan terjadi hal yang tak diinginkan."
"Saya tidak apa-apa pulang sendiri."
"Saya tidak ingin membiarkan malaikat cantik ini pergi begitu saja. Jadi kamu akan menginap di sini, besok Ervan dan saya akan mengantarkanmu pulang."
Mata Ervan langsung membulat. "Mengapa tidak Papa saja? Aku banyak pekerjaan," dalih Ervan yang berusaha menolak.
"Astaga, kamu kenapa seperti ini? Kamu tidak lihat Naura tidak bisa berjalan?"
Ervan menarik panas dan menghembus kasar. "Hah, terserah." Ia berdiri untuk pergi ke lantai atas tempat di mana ia bisa berdiam diri.
"Ck, ck, ck, anak itu benar-benar. Saya akan mengantarmu ke kamar." Erdana membopong Naura menuju kamar.
Terbangunkan pagi bersama matahari, Naura sudah bersih dengan baju yang diberikan asisten rumah. Ia sudah tak sabar ingin pulang, sering sekali melihat ke luar kamar, apakah sang pemilik rumah sudah bangun?
Pukul 8.00 pagi.
Terlihat Erdana melintas ke depan kamar yang ditiduri Naura. Gadis menunggu sejak subuh langsung bangkit.
"A-!" jeritnya tertahan, ia hampir jatuh, lupa bahwa tidak mampu berlari.
"Ya ampun, kamu jangan lari, kakimu masih jauh dari kata sembuh."
Jeritan Naura terdengar membuat Erdana berlari ke kamarnya. Ia membangunkan Naura sambil berkata, "mari kita sarapan terlebih dahulu."
Keduanya sudah berada di meja makan yang cukup luas, namun sepi.
"Tolong panggilkan Ervan," titahnya pada salah satu pelayan di dekat dapur.
"Baik, Tuan." Pelayan perempuan itu menundukkan kepala kemudian berlalu.
"Tidak perlu, saya sudah datang," ucap Ervan dengan tubuh tinggi dan pandangan lurus ke depan.
"Ah iya, Tuan Muda."
Padahal pelayan tersebut baru saja ke luar dari pintu dapur. Ervan berjalan kemudian duduk di samping Erdana.
"Kenapa pakaianmu rapi sekali?"
"Bukankah Papa melihatku berpakaian seperti ini setiap akan pergi ke kantor?" Wajah dingin itu berucap dengan rahang kokohnya.
"Maksud Papa, kita hari ini akan mengantarnya pulang. Kamu tidak perlu berpakaian formal begitu."
"Tidak bisa, hari ini aku ada rapat pagi." Ervan berdiri hendak pergi.
"Suruh sekretaris menggantikanmu hari ini," tegas Erdana tak dapat dibantah.
Tatapan mata yang menyala dari Erdana membuat Ervan tak sanggup melangkahkan kaki, ia kembali duduk dan menghabiskan sarapannya.
Erdana menatap Naura. "Oh iya, saya lupa, nama kamu siapa?"
"S-saya Naura."
"Nama yang bagus."
*
Ervan menyetir, di sampingnya Erdana dan di belakangnya Naura yang berjuang menahan sakit. Naura menjadi kompas kali ini padahal sebenarnya ia sangat ingin tidur.
3 jam kemudian mobil bagus itu menepi di depan rumah Naura. Dari jendela terlihat wajah ibu tengah mengintip. Matanya menangkap sosok Naura dibopong keluar dari mobil.
"Hei, Naura! Dasar anak tak tahu diri! Sekarang kau malah pulang dengan laki-laki yang sebaya dengan ayahmu! Astaga anak ini!" Dari jauh ibu berteriak sambil menghampiri.
Para tetangga mendengar dengan jelas bagaimana ibu Naura mencacinya. Semuanya jadi penasaran dengan apa yang terjadi dan siapa lelaki yang membawa pulang Naura?
"Permisi, Bu, saya Erdana." Ia menunjukkan senyum ramah.
"Halah, kau apakan anak ini?!"
"Saya tahu, Anda sangat khawatir, tapi jangan berpikir kami melakukan hal yang terlarang. Justru anak Ibu telah menyelamatkan saya dan anak saya."
Para tetangga memperhatikan dengan tajam bagaimana perseteruan anak dan ibu juga 2 lelaki yang nampak santai. Dengan tubuh yang bersandar pada pagar yang hampir roboh. Berdiri seperti pagar yang terbuat dari manusia. Daster buluk menjadi saksi bisu atas peristiwa ini.
"Hilih, anak bodoh ini mana bisa menyelamatkan nyawa orang, kamu ini jangan mengada-ngada." Wajah ibu membuat hati Naura sesak dengan ucapannya.
"Bu, dia ini anak yang berharga."
"Hahaha, anak yang berharga? Jika ia berharga pasti keluarga kami tidak akan miskin seperti ini." Ibu Naura masih saja mencercanya hingga akar.
"Dia itu anak sialan, anak tak berguna, tidak ada harga diri. Pergi berhari-hari dan pulang bersama dua laki-laki. Apa namanya anak seperti itu, hah? Saya tidak butuh dia, sangat menyusahkan! Bikin malu."
"Bu, Ibu, dengarkan penjelasan Naura dulu, Bu!" teriaknya di depan rumah dengan kaki patahnya.
Naura sudah dibuang oleh ibunya sendiri, jika ada ayah, mungkin akan membelanya, tapi saat ini ayah pasti tengah bekerja dengan tubuh lemahnya.
"Jika Anda membuangnya, maka saya akan mengambilnya, Naura tidak seburuk yang Anda pikirkan. Buang tangis penyesalan Anda, saya tidak akan membiarkan Naura kembali ke rumah yang terbuat dari Neraka ini," ucap Ervan dengan tegas berdiri di samping Naura.
Semua mata terbelalak mendengar ucapan Ervan.
"Baguslah, bawa saja dia dari sini, Mas. Kasihan, di rumahnya selalu disiksa."
"Untung ada Bapak, jika tidak mungkin Naura sudah menjadi mayat."
"Akhirnya dia bisa bertemu dengan orang baik."
Para tetangga yang berkelainan mendukung dan kasihan pada Naura. Mereka berharap ia akan mendapatkan kebahagiaan. Bukankah aneh, tetangga yang mengharapkan kebahagiaan tetangganya yang lain?
Naura menangis tersungkur di depan pintu gubuk derita. Walau ibu tak menyayanginya, tetap saja Naura ingin belas kasih sayang walau sekecil biji sawi. Dunia ini serasa runtuh saat ibu menutup pintu tak ingin melihatnya lagi. Ia hanya bisa memeluk tubuh dengan tangisan yang tersengal.
Begitulah tanggapan tetangga yang melihat. Ervan menggendong Naura di dadanya, mendudukkannya di kursi belakang. Erdana juga ikut masuk setelah memberi salam pada mereka sang saksi.
Ervan merasa iba ketika melihat bagaimana wajah ibunya yang sangat membenci Naura. Kebencian yang mendalam membuat wajah ibunya terlihat sangat menakutkan.
"Ke KUA sekarang," titah Erdana.
"Untuk apa?"
"Papa ingin kamu menikah dengan Naura."
Jreng!
"Papa, pakai akal sehatmu, mana mungkin aku menikah dengan perempuan yang tak kukenal?"
"Lama kelamaan kamu akan mengenalnya, bukan?"
"Papa yang benar saja."
"Lagi pula umurmu sudah cukup untuk menikah, selama ini juga kamu sulit menemukan jodoh, bukan?"
"Tidak dengan cara seperti ini juga, Pa."
"Nikahi dia jika kamu tak ingin Papa mati di sini."
"Pa, ini pernikahan, bukan pacaran." Ervan sedikit agak merengek.
"Papa tahu."
"Kalau tahu, kenapa berkata seakan-akan pernikahan itu seperti membeli makanan pinggir jalan?"
"Cepat lakukan apa yang kumau," tekan Erdana membuat Ervan tak dapat melakukan apa-apa selain menurut.
Tiba di KUA (Kantor Urusan Agama) Erdana segera mengurus semuanya berserta Sekretaris Rey. Pernikahan telah dilaksanakan, kini Ervan dan Naura telah sah menjadi suami istri.
Bersambung ....