Di tengah ratusan makam umat manusia, seorang wanita muda sedang terisak di depan pusara yang masih basah. Tangisnya terdengar begitu memilukan, sesekali ia menyebut kata ‘papa’ dengan lirih. Mengusap-usap papan nisan yang bertuliskan nama ‘Firman’ itu.
“Sudahlah, Alin! Tidak usah lebay, papamu itu memang sudah pantas mati. Hidup pun tidak berguna, hanya akan menyusahkan saja.” Heera berkata dengan pedas.
Ucapan Heera sangat melukai perasaan Alin. Laki-laki yang dimaki itu adalah orang yang paling berharga bagi Alin.
“Kenapa tante berbicara seperti itu? Yang meninggal ini papa aku tant, papa kak Friska juga. Suami tante!” ucap Alin dengan suara serak.
Sejak Firman dinyatakan meninggal, Alin tak henti-hentinya menangis. Ia benar-benar sudah tidak memiliki sandaran dalam hidup. Pertama, sang mama yang hilang tanpa kabar berita sejak ia berusia 7 tahun. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan mama Alin—Nuri sampai saat ini. Kini, sang ayah juga pergi meninggalkan Alin selamanya. Rapuh! Itulah yang dirasakan oleh Alin sekarang.
“Papa sudah bangkrut. Jadi tak ada gunanya hidup,” sahut Friska yang sibuk memerhatikan kukunya.
“Kalian memang manusia tidak punya hati, apa hanya harta yang ada di dalam benak kalian?” sergah Alin.
Alin tidak terima orang yang ia sayangi dihina oleh orang lain. Terlebih lagi oleh keluarga sendiri.
Alin dan Friska merupakan saudara tiri, sedangkan Heera adalah ibu tiri Alin.
“Jangan sok suci kamu! Semua orang butuh uang untuk bertahan hidup,” hardik Heera.
“Biarkan saja dia di sini, Ma! Lebih baik kita pulang,” ajak Friska.
Mereka meninggalkan Alin seorang diri, ntah bagaimana ia akan pulang nanti.
Hampir satu jam Alin duduk menatap kosong gundukan tanah itu, ia masih belum percaya sang papa tidak lagi ada di dunia.
Saat matahari mulai turun, Alin berpamitan pada papanya. Ia berusaha untuk mengikhlaskan agar Firma bisa tenang di alam sana.
“Assalamualaikum!” Langkah Alin terhenti ketika mendapati dua orang laki-laki berbeda usia sedang bergabung dengan kakak dan tantenya.
Tak ada yang menjawab salam Alin, dua orang pria asing itu malah fokus memerhatikan Alin dari atas ke bawah.
“Kamu siapa? Kenapa sangat mirip dengan Firman?” tanya pria paruh baya.
“Saya Alin, Om. Salah satu putri papa,” jawab Alin sopan.
Sok manis banget, sih. Batin Friska.
“Mari duduk!” ajak Riga.
Alin memilih duduk di sofa single yang berada di antara mereka.
“Tuan ada keperluan apa kemari?” tanya Heera mengalihkan pandangan Riga.
“Sebelumnya saya minta maaf, jika yang saya sampaikan nanti kurang berkenan.
“Namun, apa yang akan saya katakan merupakan janji kami dulu—
Riga menjeda ucapannya, ia menelisik satu persatu ekspresi para wanita itu.
“Saya dan Firman pernah berjanji untuk menjodohkan putra-putri kami setelah dewasa,” lanjut Riga.
Mendengar penuturan Riga, Heera dan Friska saling pandang. Mereka seperti mendapatkan angin segar untuk mempertahankan predikat orang kaya.
Mereka dapat memastikan jika pasangan ayah dan anak di hadapan mereka merupakan orang terpandang. Apalagi, Friska sejak awal sudah tertarik pada putra Riga. Meskipun terlihat dingin, ia begitu memesona di mata Friska.
“Saya tidak keberatan, Tuan. Bila perlu pernikahan dilaksanakan segera,” jawab Heera antusias.
Dasar gila harta! hardik Evano—putra Riga dalam hati.
Riga hanya tersenyum tipis, “Maaf nyonya! Tapi putri anda ada dua, siapa yang akan dinikahkan dengan putra saya, Evano?”
Riga sangat berharap Alin yang akan menikah dengan Evano. Meskipun baru kali ini bertemu dengan putri-putri dari sahabatnya itu, Riga dapat menilai Alin jauh lebih baik dari Friska.
“Jelas Friska lah, Tuan!” cetus Heera merangkul sang anak.
Mendengar jawaban Heera, Alin hanya diam saja. Ia juga tidak berharap menikah karena perjodohan. Alin memiliki mimpi bisa menghabiskan sisa hidup dengan pria yang mencintai dan menerima ia apa adanya.
“Kenapa tidak Alin?” tanya Riga.
“Anak saya hanya Friska, Tuan. Dia hanya anak Firman dengan selingkuhannya,” tuduh Heera menunjuk Alin.
Sontak Alin mendongakkan kepala. Sang mama tidak melakukan apapun, tapi Heera dengan tega menuduh begitu.
“Maaf, Tante! Tolong jaga ucapan, Tante!” ujar Alin meredam kekesalan.
“Apa yang dikatakan mamaku benar! Mamamu itu telah merebut papa dari kami,” timpal Friska menyetujui ucapan Heera.
“Jangan keterlaluan, Kak! Tante Heera sendiri yang meninggalkan papa.
“Jadi, jangan lancang memfitnah mamaku,” bantah Alin.
Beberapa detik suasana hening. Sampai Alin kembali berucap, “Sepertinya saya tidak ada kepentingan di sini. Kalau begitu saya permisi!”
Alin beranjak meninggalkan ruang tamu. Ia tidak ingin mendengar lagi tudingan buruk yang diucapkan Heera dan Friska tentang Nuri.
“Lihat, Ma! Tidak punya sopan santun,” sindir Friska memanas-manasi.
“Kamu benar! Mungkin karena tidak ada ibu yang mengajari, dia menjadi seperti itu!”
Alin tetap melangkah, ia tidak ingin termakan perkataan kakak dan ibu tirinya itu.
Riga mengikuti langkah Alin dengan sorot mata iba, ia percaya pada perkataan Alin. Entah mengapa Riga merasa Heera dan Friska berusaha memojokkan gadis malang itu.
“Eh. Maaf, Tuan! Pembicaraan kita terganggu. Jadi, kapan Friska dan nak Evano menikah?” tanya Heera.
“Pernikahan akan diadakan dua minggu lagi. Nyonya dan nak Friska cukup duduk tenang, biar saya yang handel semua persiapan.”
Mereka mengangguk senang, impian mereka tetap menjadi orang kaya akan segera terwujud.
“Kalau boleh tahu, nak Evano kerjanya apa?” tanya Heera penasaran.
Sejak datang ke rumah mereka, Evano tidak sekali pun mengeluarkan suara. Hanya Riga yang terus berbicara.
“Dia asisten pribadi CEO di Aditama corp,” bukan Evano yang menjawab, tapi Riga.
Ternyata dia hanya asisten. Kata hati Friska.
“Kalau tuan sendiri?” tanya Heera lagi.
“Apa kalian pernah mendengar Xander hotel’s?”
“Siapa yang tidak mengenalnya, Tuan. Seluruh dunia juga tahu,” puji Heera.
“Anda terlalu memuji, Nyonya. Saya pemilik hotel tersebut,” tutur Riga.
Friska dan Heera menganga tidak percaya. Pemilik hotel yang telah membuka cabang di setiap penjuru dunia duduk bersama mereka. Lebih-lebih sebentar lagi Friska akan menjadi bagian keluarga sultan itu.
“Anda tidak bergurau ‘kan tuan? Lalu, kenapa nak Evano hanya menjadi asisten CEO?” tanya Heera memastikan.
“Hehe. Untuk apa saya bergurau, Nyonya. Evano menjadi asisten adalah pilihannya, saya tidak ingin memaksa dia melakukan apa yang tidak diinginkan,” jelas Riga.
“Tapi, semua diwariskan pada nak Evano ‘kan, Tuan?”
Evano setengah tersenyum, Benar-benar keluarga matre. Batin Evano.
Hal ini yang dibenci Evano ketika berhubungan dengan wanita. Ia menganggap semua kaum hawa sama, mendekati laki-laki hanya sebatas harta. Tidak ada yang tulus dalam menjalin hubungan.
“Tentu, Nyonya! Evano putra saya satu-satunya,” jawab Riga tersenyum miris.
Ia teringat pada seseorang yang memiliki sifat persis seperti Heera.
Bersambung ...
Dua minggu berlalu, hari ini merupakan pernikahan Friska dan Evano. Riga sudah mempersiap pesta mewah untuk sang Anak. Meskipun ditentang keras oleh Evano, tapi Riga tetap kekeh dengan keputusannya. Ia juga mengundang reporter untuk meliput hari penting tersebut.
Riga sengaja membuat acara besar-besaran untuk membuktikan pada Tisya—mantan isterinya, bahwa ia kini sudah menjadi orang sukses dan terkenal. Tisya merupakan ibu Evano Xander yang meninggalkan suami dan putranya demi lelaki yang lebih kaya. Saat itu Riga belum sesukses sekarang, ia baru mulai merintis karir. Namun, Tisya tidak bisa hidup sederhana. Ia memilih berselingkuh dan meninggalkan sang putra yang baru menginjak usia 10 tahun.
“Vano, apa calon isterimu sudah datang?” tanya Riga dengan wajah panik.
Hanya tinggal beberapa saat lagi menjelang ijab, tapi tak satu pun dari pihak calon mempelai wanita yang tiba.
“Tidak tahu, Pa!” jawab Evano cuek.
Ia tidak peduli dengan pernikahan tersebut, Evano menerimanya hanya untuk membuat sang papa senang. Selama ini, Riga sudah banyak berkorban untuk Evano. Anggaplah ini sebagai bentuk bakti Evano pada Riga.
Di waktu yang sama, Friska masih disibukkan perihal riasan wajah yang terlalu natural. Padahal ia sudah terlihat cantik, tapi Friska menginginkan make up yang glamour. Akhirnya, ia menjadi terlambat datang ke pernikahan.
“Mau ngapain kamu?” Friska mencekal tangan Alin kuat.
“Mau masuk, Kak.”
“Heh. Saya tidak sudi berangkat satu mobil dengan kamu!” ketus Friska menghempas tangan Alin.
“Terus aku berangkat dengan apa, Kak?” Alin berusaha tetap bersikap baik.
“Bukan urusanku!” Friska masuk dan menutup pintu mobil kencang.
Alin hanya bisa mengehela nafas berat menghadapi sikap Friska. Ingin rasanya Alin tidak datang saja, tapi bagaimanapun Friska adalah kakaknya. Darah yang sama mengalir dalam tubuh mereka.
Alin memutuskan tetap berangkat dengan mobil yang biasa dipakai sang ayah. Sesaat rasa rindu menyusup dalam hati Alin. Kenangan bersama Firman menari-nari dalam pikiran Alin.
“Aku rindu, Pa!” lirih Alin. Setetes air mata jatuh tanpa bisa dielakkan.
Alin telah tiba di depan rumah megah bak istana. Meskipun rumah Alin juga terbilang mewah, tapi tak sebanding dengan yang ada di hadapannya ini.
“Alin?” sapa Riga.
“Iya, Om?”
“Friska mana? Orang-orang sudah menunggu sejak tadi, loh.”
“Kak Friska sudah berangkat duluan dengan tante Heera, Om. Apa mereka belum tiba?” tanya Alin bingung.
Riga menggeleng. Saat ia ingin buka suara, seorang pelayan datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
“Maaf, Tuan! hosh, hosh.”
“Ada apa?”
“Itu, Tuan! Nona Friska, Hosh.” Wajah pelayan itu terlihat berkeringat.
“Ada apa dengan Friska? Bicara yang jelas,” tukas Riga mulai tak sabar.
“Nona Friska mengalami kecelakaan, Tuan.”
“Apa?” pekik Alin menutup mulut.
“Mbak, tahu dari mana? Lalu, bagaimana keadaan kakak dan tante saya?” tanya Alin. Air mata Alin meluncur begitu saja.
“Nyonya Heera baik-baik saja, tapi nona Friska dilarikan ke rumah sakit.” Pelayan itu berbicara sedikit berbisik.
“Aku harus ke rumah sakit, Om!” Alin kontan berlari ke mobil. Ia sangat khawatir dengan kondisi sang kakak. Kendati Friska sering berbuat tidak baik, tapi Alin sangat menyayangi sang kakak.
“Alin, tunggu!” Riga menahan tangan kanan Alin.
Sontak Alin berbalik, “Kamu harus bantu, Om!” pinta Riga.
“Bantu apa, Om?”
Riga tampak berpikir sejenak, “Kamu harus menggantikan Friska menikah dengan Evano!”
Seketika Alin membeku, permintaan Riga terdengar tidak masuk akal bagi Alin. Tidak mungkin ia menikah dengan calom suami kakaknya, sedangkan Friska tengah berbaring lemah di rumah sakit.
“Tidak mungkin, Om!” tolak Alin.
Ia menarik nafas dalam sebelum berkata, “Evano calon suami kakakku. Bagaimana bisa aku menikah dengannya?”
“Tidak ada yang salah, Alin. Kamu juga merupakan putri Firman, bukan?
“Om, mohon! Kamu gantikan Friska, ya?” Riga memegang kedua bahu Alin dengan raut wajah memelas.
“Aku tidak bisa, Om!” tolak Alin sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Ia melepaskan tangan Riga yang masih berada di bahunya, kemudian melangkah pergi.
Lagi-lagi Riga mencekal tangan Alin, “Tunggu!”
Riga tidak akan melepaskan Alin begitu saja. Selain tidak ingin menanggung malu, ia lebih menyukai Alin untuk menjadi menantunya.
“Om akan menghubungi, Heera. Jika dia memberikan izin kamu menggantikan Friska, maka kamu tidak bisa menolak, Alin!” tegas Riga.
“Tapi—” ucapan Alin terhenti, saat ia mendengar suara Heera dari ponsel Riga.
“Halo, Tuan!”
“Anda di mana, Nyonya?”
“Saya di rumah sakit, Tuan. Kami mengalami kecelakaan saat menuju ke sana. Fris–ka, Tuan. Dia koma,” ujar Heera mulai terisak.
Mendengar penuturan Heera, Alin kembali menjatuhkan air mata. Rasa takut kehilangan menguasai diri Alin. Baru 14 hari yang lalu ia kehilangan sang papa, sekarang saudara satu-satunya juga berjuang antara hidup dan mati.
“Kalau begitu, izinkan Alin yang menggantikan Friska menikah dengan Evano!”
Seketika tangis Heera berubah menjadi Amarah, “Apa maksud anda, Tuan? Seharusnya anda bersimpati pada putri saya, tapi dengan mudahnya anda meminta Alin menggantikan posisi Friska. Anda jangan main-main dengan saya, Tuan!” bentak Heera.
“Tenang, Nyonya! Kenapa anda sangat marah? Alin juga putri Firman, jadi tidak ada yang salah.” Riga berucap tanpa beban.
“Tapi, Friska yang menjadi calon isteri Evano.”
“Firman tidak pernah mengatakan putri mana yang akan dinikahkan dengan putra saya, Nyonya.”
“Saya tidak akan mengizinkan Alin mengantikan posisi Friska,” tegas Heera.
Menikahkan Friska dengan Evano merupakan jembatan untuk menjadi orang kaya. Heera tidak akan melepaskan kesempatan yang sudah di depan mata begitu saja. Terlebih bukan hanya harta yang akan didapatkan, tapi juga status sosial.
“Tidak masalah! Asal anda mampu mengganti biaya yang saya keluarkan untuk acara pernikahan hari ini,” lontar Riga menantang.
“Berapa biayanya?”
“1 Triliun”
Heera terpaku, dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu. Semasa Firman masih hidup saja, ia tidak pernah memegang uang lebih dari 100 juta. Sekarang Riga meminta ganti rugi dengan angka fantastis itu. Mustahil!
“Bagaimna, Nyonya?” tanya Riga.
“Saya tidak punya uang sebanyak itu,” cicit Heera.
“Oke! Berarti anda setuju Alin yang menikah dengan Evano.” Riga mematikan telepon tanpa menunggu respon dari Heera.
“Kamu dengar sendiri ‘kan? Heera sudah menyetujuinya,” Riga tersenyum ke arah Alin.
“Tante tidak setuju. Om yang memutuskan secara sepihak,” sungut Alin.
“Ayo kita masuk! Pernikahan Akan segera dimulai.”
“Aku harus melihat kondisi kak Friska, Om.”
“Om akan mengizinkan kamu pergi setelah pesta selesai,” tutur Riga tetap menarik tangan Alin.
Selama Alin didandani, ia terus saja menangis. Perasaannya campur aduk; antara takut, khawatir, dan rasa bersalah menjadi padu dalam hati. Andai masih ada pilihan lain, mungkin Alin akan memilih jalan itu.
“Apakah sudah siap?”
Bersambung ...
“Apakah sudah siap?” tanya seorang wanita yang ditunjuk sebagai bridesmaid Alin.
“Sudah!” jawab sang MUA.
“Mari, Nona!”
“Apa kamu mau membantu saya kabur dari pernikahan ini?” Alin menatap sendu pada wanita muda itu.
“Lupakan!” sambung Alin melihat wajah bingung dari pendampingnya itu.
Sempurna! Satu kata yang menggambarkan penampilan Alin. Semua mata tak berkedip saat sang pengantin menuruni anak tangga. Mereka sangat takjub melihat penampangan indah di depan mata. Mungkin, jika para tamu undangan tahu pengantin wanita secantik itu, mereka rela menunggu lebih lama lagi.
Melihat Alin yang turun, Evano merasa ada yang janggal. Bukankah Friska yang akan menikah dengannya? tapi kenapa Alin yang berbalut gaun pengantin. Ia melirik ke arah Riga yang kebetulan menatapnya. Riga menganggukkan kepala sembari tersenyum manis. Evano paham maksud sang papa, tapi ia merasa aneh dengan raut bahagia yang terpancar dari wajah Riga.
“Isterimu cantik sangat, Tuan!” bisik salah seorang tamu yang berdiri di dekat Evano.
Evano hanya tersenyum miring menanggapi ucapan orang tersebut.
“Apa kau ingin menikah dengannya?” tanya Evano.
“Jika ada kesempatan saya tidak akan pernah menolak, Tuan.” ucap orang itu tersenyum merekah.
Pernikahan Evano dan Alin menjadi pernikahan termegah sepanjang sejarah. Mereka bak pangeran dan putri dalam cerita dongeng, tampil sangat menawan. Namun, dari wajah mereka tak terpancar kebahagiaan sedikit pun. Alin yang tampak murung dan bersedih, sedangkan Evano yang bersikap dingin dan cuek.
Tisya juga menyaksikan pernikahan putra sulungnya itu dari balik layar televisi, ia tidak bisa menahan air mata yang jatuh ketika tahu Evano kini sudah menikah. Namun, tidak meminta restu, bahkan memberitahu pun tidak.
“Hampir 20 tahun, Van! Kamu tidak pernah mau bertemu dengan mama, bahkan enggan menatap mama. Sekarang kamu menikah tanpa memberitahu mama,” Tisya mengusap sudut mata yang berair.
“Sayang, kenapa menangis?” tanya suami Tisya—Sandro. Kemudian ia melihat apa yang di tonton istrinya.
“Itu pernikahan putramu?” tanya Sandro.
“Iya, Mas!” jawab Tisya lemah.
“Pestanya megah sekali,” tutur sandro.
Namun, Tisya hanya melirik tanpa ingin menanggapi.
Sejak Tisya memilih keluar dari rumah, baik Riga maupun Evano tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan Tisya. Mereka seperti memiliki dunia yang tidak saling terhubung. Walaupun takdir mempertemukan mereka, Evano dan Riga memilih berpura-pura tidak acuh.
Tisya menyesal telah meninggalkan Evano, demi hidup bergelimang harta ia menyia-nyiakan anaknya. Kini semua sudah terlambat, nasi sudah menajdi bubur. Tisya sudah kehilangan kepercayaan sang putra.
“Apa kamu ingin datang ke sana?” tanya Sandro merangkul sang isteri.
Tisya menggeleng pelan dengan air mata yang masih terurai.
Sandro dapat merasakan pilu sang isteri, tapi ia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Tisya meninggalkan sang putra juga karena permintaannya dulu.
Sebelum memilih menikahi Tisya, Sandro tahu jika ia sudah memiliki suami dan seorang anak. Karena tahu suami Tisya tidak lebih baik darinya, Sandro semakin gencar mendekati Tisya. Sandro berjanji akan membahagiakan Tisya, jika bersedia menikah dengannya. Karena ingin merubah kehidupan yang pas-pasan, Tisya menerima lamaran Sandro meski harus kehilangan sang anak. Karena sandro tidak ingin Tisya membawa apapun dari mantan suaminya, termasuk Evano.
“Aku ke kamar dulu, Mas!” Tisya beranjak meninggalkan Sandro.
“Aku temani, ya?” tawar Sandro.
“Tidak perlu, Mas. Aku ingin sendiri.” Sandro merasa bersalah pada Tisya, secara tidak langsung ia sudah memutus hubungan ibu dan anak.
Warna kemerah-merahan mulai menghiasi langit, Alin semakin gelisah. Ia tidak sabar untuk mengunjungi sang kakak di rumah sakit. Evano menyadari keresahan Alin, tapi ia sama sekali tidak berniat untuk bertanya.
Setelah para tamu bubar, Alin segera menghampiri Riga untuk meminta izin menjenguk Friska. Awalnya Riga tidak memberi izin, ia menyuruh Alin menunggu sebentar lagi. Namun, Alin tetap ingin pergi sekarang, Riga terpaksa memberi izin dengan catatan harus diantar supir.
Rumah Sakit
Alin tergesa-gesa menyururi lorong rumah sakit, ia memacu langkah agar segera mencapai ruangan sang kakak.
“Bagaimana keadaan kak Friska, tante?” tanya Alin ketika melihat Heera memandang Friska di balik kaca.
Heera mengepalkan tangan ketika mendengar suara wanita yang sangat ia benci. Wajah memerah menahan emosi, ia berbalik menatap nyalang pada pemiliki suara.
PLAK!
PLAK!
Pipi kanan dan kiri Alin di tampar sangat keras, bahkan ada darah di sudut bibir wanita yang baru menikah itu.
“Kenapa tante menamparku?” tanya Alin memegang pipi yang terasa memanas.
Heera tersenyum sinis, “Masih bertanya kenapa? Dasar wanita busuk!” tudingnya.
“Kamu sudah merebut posisi putri saya! Kamu menghancurkan kebahagiaannya,” teriak Heera.
“Aku juga tidak mengingikan ini tante, tapi aku tidak punya pilihan lain.” Suara Alin bergetar menahan tangis.
“Sok polos!” Heera ingin menampar Alin lagi, tapi suara seseorang menghentikan aksi Heera.
“Berani sekali anda melukai menantu saya, Nyonya!” Aura Riga terlihat sangat menakutkan.
“Tuan?” Heera membeku, perlahan ia menurunkan tangannya.
“Ternyata anda sangat kejam, Nyonya!” seru Riga saat telah berada diantara mereka. Ia sendirian, sedangkan Evano tidak bisa datang karena memiliki kepentingan lain.
“Dia pantas mendapatkannya!” ketus Heera.
“Heh ... saya bersyukur putra saya tidak jadi menikah dengan putri dari wanita kejam seperti anda,” cibir Riga.
“Jaga ucapan anda, Tuan!”
Riga bersidekap dada, menatap Heera mengintimidasi.
“Anda menyalahkan Alin atas semua ini, padahal kalian sendiri yang menyebabkan pernikahan Alin dan Evano terjadi.
“Alin tidak bersalah! Dia melakukan atas permintaan saya. Mungkin ini takdir, agar putra saya mendapatkan isteri yang baik.”
Riga membawa Alin pergi dari sana, ia tidak akan membiarkan wanita jahat seperti Heera menyakiti putri sahabatnya.
“Om! Alin harus menengok keadaan kak Friska,”
“Ibunya tidak menginginkan kehadiranmu, jadi tidak perlu memaksakan diri.” Riga berkata dengan tegas.
Heera mengumpat dan memaki mereka, ia bersumpah bahwa Friska akan mendapatkan kembali posisinya.
“Aku akan membuatmu menderita, Alin! Dan kau tuan Riga Xander, saya pastikan Friska akan menikah dengan putra anda.” Heera tersenyum jahat dengan tangan yang mengepal.
Alin sedang berada di dalam mobil bersama Riga, ia sangat prihatin dengan kondisi sang menantu. Riga mengobati pipi Alin dengan pelan, ia memperlakukan Alin seperti putri sendiri. Riga juga berjanji dalam hati akan melindungi Alin dari orang-orang yang akan menyakitinya.
“Om?” Alin memegang tangan Riga.
“Panggil saya papa! Sekarang kamu juga putri saya,” Riga membelai lembut rambut Alin.
Mata Alin berkaca-kaca dengan perlakuan Riga, ia seperti mendapatkan kembali kasih sayang seorang ayah.
“Boleh aku memeluk pa−pa?” tanya Alin.
Riga merentangkan tangan mengisyaratkan agar Alin memeluknya. Tanpa menunggu lama, Alin menubruk tubuh kekar itu.
Setelah berada di rumah, Alin diantar Riga menuju kamarnya bersama Evano. Alin sangat gugup karena baru kali ini ia berada di ruangan tertutup dengan seorang laki-laki. Evano berdiri dan mendekati Alin.
Bersambung ...