Bab 1

Seorang pria berkulit putih berambut sedikit coklat baru saja membuka matanya pelan. Dia Race Agnito, anak dari pasangan Tuan Milano dan Nyonya Maria. Ksatria paling hebat di wilayah timur dan juga kepercayaan Raja Michel yang juga pamannya sendiri.

Race menghela napas dalam lalu mengusap wajahnya pelan.

"Mimpi apa itu? Siapa gadis itu?"

Race lalu bangun dari posisi tidurnya dan mengusap pelan wajahnya.

"Kenapa aku menghunuskan pedang itu padanya? Apa salahnya sebenarnya? Apa salah gadis itu?"

Wajah race terlihat begitu bingung dan sedang berpikir keras sekarang.

Di wilayah lain tepatnya di barat. Keluarga bangsawan Marionet baru saja melepas kepergian putri angkatnya Ivy. Nyonya Liana baru saja masuk ke kamarnya dan mendapati sang suami sedang duduk di kursi kerjanya.

"Sudah pergi?" tanya Tuan Marques sembari melihat ke arah sang istri.

"Em, sudah," singkat Nyonya Liana menjawab.

"Bagus! Akhirnya kita bisa membebaskan Cheris dari kutukan."

" Iya, aku juga merasa lega akhirnya Cheris bisa panjang umur. Lagi pula kita menghidupi Ivy di rumah ini juga untuk menjadi tameng Cheris dan menggantikan putri kita untuk mati muda."

"Kau, yakin bukan kalau gadis itu menikah dengan ksatria timur itu bisa menggantikan Cheris?"

"Tentu saja, sayang. Menurut peramal terakhir yang kita datangi. Keturunan peramal dan penyihir terakhir di utara akan bisa menggantikan kutukan turun temurun Cheris. Ivy adalah keturunan peramal dan penyihir terakhir yang sudah aku pastikan asal-usulnya sebelum aku benar-benar membawanya kesini," terang Nyonya Liana panjang lebar.

"Baguslah! Semoga saja kutukan itu cepat menghilang dari putri kita dan Ivy benar-benar bisa menggantikan kesialan Cheris," tandas Tuan Marques.

"Iya, sayang," ujar Nyonya Liana sependapat.

***

Malam ini Race datang ke paviliun kedua orang tuanya. Tuan Milano dan Nyonya Maria memberikan perintah supaya Race datang. Race sedang memotong kecil-kecil daging bakar miliknya, sedangkan Tuan Milano dan Nyonya Maria saling memandang satu sama lain sebelum terdengar deheman pelan dari Tuan Milano. Race mengangkat kepalanya mendengar sang ayah seakan memberi kode padanya.

"Ayah sudah mempunyai calon istri yang cocok untukmu, Race," ujar Tuan Milano tiba-tiba.

"Apakah orang itu, sayang?" tanya Nyonya Liana menimpali.

"Tentu saja siapa lagi," sahut Tuan Milano.

"Aku, tidak mau menikah dengan siapapun itu."

Race menolak dengan tegas dan tanpa berpikir apapun lagi.

"Kau ingin membantah ayahmu ini, Race?" Suara Tuan Milano mulai sedikit meninggi.

"Tidak seperti itu, Ayah. Hanya saja apakah ini tidak berlebihan? Aku, kau jodohkan bahkan nama dan seperti apa calon istriku saja aku tidak tahu." Race mencoba memberikan alasannya untuk tidak menikah.

"Race, gadis itu akan membuat keluarga kita makmur. Kau, tahu tentang bisnis ayahmu, 'kan? Dia akan sangat membantu dengan bisnis itu," timpal Nyonya Liana mencoba membujuk Race.

Race menarik napas dalam dan mulai kehilangan kesabarannya. Race menatap kedua orang tuanya bergantian.

"Apakah sebuah pernikahan hanya berarti sesimpel itu, ibu? Apakah pernikahan kalian juga sebagian dari bisnis? Atau memang sejak dulu kalian sudah terbiasa seperti itu, jadi aku ataupun Willingga harus mau mengikuti jejak kalian juga?"

"Race, Ibu hanya ingin kau bahagia. Menikahi gadis ini akan membuatmu semakin kuat di kerajaan, gadis itu juga bisa membuat bisnis ayahmu semakin maju. Ibu mohon turuti kami."

"Jangan membawa-bawa anak bodoh yang sudah mati itu! Mau tidak mau, kau harus menikah dengan putri bangsawan dari barat itu!" hardik Tuan Race benar-benar kehilangan kesabarannya.

***

Di dalam kereta mewah yang bagus, Ivy baru saja akan memejamkan matanya tidur. Perjalanannya dari barat ke timur tentu saja membutuhkan waktu lama dan juga melelahkan. Baru saja akan terlelap napas Ivy lalu tidak beraturan, Ivy kembali membuka matanya nanar dan seperti baru saja melihat sesuatu yang tidak bagus dalam mimpinya.

"Siapa orang itu? Kenapa dia menusukkan pedang itu padaku?" ujar Ivy dengan ketakutan dan mengedarkan pandangannya ke seluruh arah.

Ivy kembali tenang saat menyadari itu semua hanya mimpi. Ivy mengurut dadanya pelan lalu kemudian mengambil air putih yang disediakan di samping dirinya duduk.

"Sepertinya itu hanya mimpi, tapi kenapa aku memimpikan hal seperti itu? Apa itu juga termasuk ramalan?" gumam Ivy kemudian meneguk air putih itu perlahan.

"Kita mulai memasuki wilayah timur!"

Terdengar suara kusir kereta kuda itu berteriak dari luar. Ivy lalu melihat ke arah jendela dan melihat area wilayah timur yang baru sekali ini dia datangi. Ivy tersenyum melihat wilayah timur yang ternyata cukup ramai dan asri.

"Apa kehidupanku akan lebih baik disini?"

***

Di paviliun Bungalo kediaman Race. Race mengusap wajahnya pelan lalu kemudian mengambil posisi duduk sekarang. Lagi-lagi Race bermimpi hal tentang Ivy, gadis yang akan dia nikahi.

"Siapa sebenarnya Ivy? Kenapa takdirnya justru seburuk itu? Lagi-lagi aku bermimpi tentang gadis itu. Besok pagi dia sampai disini, lalu aku harus menikahinya. Bagaimana bisa aku menikahi perempuan yang bahkan tidak aku kenal."

Tok...tok...tok

Suara ketukan pintu kamar Race membuat laki-laki tampan itu melihat ke arah pintu. Race lalu turun dari ranjang dan berjalan untuk membuka pintu.

"Winter? Untuk apa kau kesini?" tanya Race.

"Sudah tidur?" Winter justru balik bertanya.

"Sudah, karenamu aku terbangun. Jika tidak ada yang penting pergilah!"

"Ck,,,aku ingin menghiburmu, Race."

Winter lalu masuk ke kamar Race tanpa permisi dan duduk di kursi dekat ranjang Race.

"Menghiburku? Untuk apa?" tanya Race heran.

Winter lalu menepuk pelan kursi kosong di sampingnya  menyuruh Race untuk duduk juga, dia kemudian tersenyum tipis.

"Besok kau sudah beristri, tentu saja aku tidak ingin melewatkan malam ini begitu saja. Ayo, kita mabuk sampai pagi malam ini. Setelah kau memiliki istri, kau tidak akan bisa mabuk bersamaku lagi."

Race menatap sepupunya yang merupakan putra mahkota itu. Race menghela napas berat dan juga jengkel. Race lalu membuang mukanya begitu saja.

"Kau, selalu bisa mengemas ejekan menjadi sebuah penghiburan, Winter Agnito."

Meskipun jengkel pada sepupunya itu, Race juga berakhir duduk di samping Winter sekarang. Keduanya benar-benar melakukan ide Winter untuk mabuk malam ini.

"Jadi, kau setuju untuk menikah?" tanya Winter lagi.

"Tentu saja, kapan aku bisa menolak permintaan ayah dan ibu?" ujar Race membenarkan.

"Berarti kau memang mau pada gadis itu? Dia pasti cantik makanya kau bersedia."

Race mendengus pelan lalu kemudian tertawa kecil. Kepalanya menggeleng pelan.

"Menikahinya bukan berarti aku tertarik padanya. Wajahnya saja aku tidak tahu seperti apa. Aku menikahinya karena kedua orang tuaku, Winter. Aku, tidak akan menggunakan perasaanku padanya. Pernikahan kami hanya sebatas saling membutuhkan satu sama lain. Toh akhirnya aku juga akan mengeksekusinya nanti."

"Eksekusi? Apa maksudmu, Race?" Winter bertanya dengan ekspresi wajah bingung dan tidak percaya.

***

Ivy memandang bingung ke arah tiga pelayan yang tiba-tiba datang ke kamarnya. Masing-masing dari mereka membawa barang yang berbeda, Miranda membawa beberapa gaun yang terlihat begitu indah, sedangkan pelayan lainnya ada yang membawa kotak yang sepertinya sepatu dan ada juga yang membawa kotak make up.

"Selamat malam, Nyonya muda," ucap Miranda.

"Iya, selamat malam," sahut Ivy sembari tersenyum ramah.

"Perkenalkan ini Selina dan ini Gareta, mereka juga melayani anda disini."

Miranda memperkenalkan rekan kerjanya pada Ivy dan menunjuk Selina dan Gareta bergantian.

"Jadi aku memiliki 3 pelayan yang masih muda-muda. Lalu kalian mau apa kesini di jam seperti ini?" tanya Ivy.

" Kami semua kesini untuk mempersiapkan makan malam anda, ini baju-baju yang di siapkan untuk anda. Silahkan pilih!" terang Miranda.

"Saya bertugas untuk merias anda, Nyonya muda," sambung Gareta dengan suara riang dan sangat bersemangat.

"Apakah makan malam butuh hal yang sangat berlebihan seperti ini? Aku, cukup mengenakan baju biasa dan tidak harus berhias," ujar Ivy menampilkan wajah polosnya.

"Dibagian mana yang berlebihan, Nyonya muda? Bukankah ini hanya baju biasa yang para bangsawan kenakan," tukas Gareta.

Lagi-lagi Miranda menatap Ivy dengan wajah tidak senang.

"Dasar kampungan! Aku, tidak percaya dia putri bangsawan di daerah utara, bagaimana bisa perempuan seperti ini disandingkan dengan Tuan muda Race," batin Miranda bermonolog.

Selina dan Gareta sendiri justru tersenyum geli mendengar pertanyaan Ivy. Keduanya lalu mendekat pada Ivy dan memegang tangan Ivy bersamaan. Ivy terkejut dan melihat ke arah Selina dan Gareta bersamaan.

"Benar, Nyonya muda ini sama sekali tidak berlebihan. Ini bukan makan malam biasa, Nyonya muda. Tuan muda Race akan ikut dalam makan malam ini, baru besok akan diadakan pesta untuk memperkenalkan anda ke semua orang di timur ini. Ayo kita mandi terlebih dahulu, saya akan membantu anda mandi," timpal Selina.

"Ha? Apa?"

Wajah Ivy mendadak terlihat terkejut dan ketakutan.

"Ayo, Nyonya muda aku antar ke kamar mandi. Aku, akan membantu anda menggosok punggung anda dengan Selina juga," ajak Gareta kemudian.

"Aku, bisa mandi sendiri. Kalian siapkan baju dan yang di butuhkan saja!"

Ivy lalu melesat pergi meninggalkan ketiga pelayannya dan masuk ke dalam kamar mandi.

"Kenapa Nyonya muda begitu lucu," ujar Gareta terkekeh pelan.

"Kau, benar dia begitu lucu dan menggemaskan," timpal Selina sependapat.

"Itu bukan lucu tapi konyol, putri bangsawan tidak ada yang seceroboh dan juga senorak dia," tukas Miranda yang benar-benar tidak menyukai Ivy.

"Jangan terlalu kasar, Miranda!" tutur Gareta sedikit tidak suka dengan sikap Miranda.

"Itu memang kenyataan, Gareta. Baru kali ini aku bertemu dengan putri bangsawan yang bersikap seperti itu. Dia itu terlalu memperlihatkan kalau dia benar-benar dari kalangan rendahan."

Ketiga pelayan Ivy itu sedang berdebat, tanpa mengetahui kalau dengan berbalutkan handuk, Ivy melihat dirinya sendiri di kaca. Ivy terlihat bingung dan juga sedih, dia lalu memegangi punggungnya pelan.

"Apa yang harus aku katakan tentang bekas-bekas luka ini?"

***

Bab 2

Malam sudah cukup larut bahkan untuk di bilang makan malam itu tentu saja sudah sangat terlambat. Sedangkan Ivy masih duduk di kursi meja makan menunggu kedatangan suaminya. Ivy menatap semua makanan yang dihidangkan malam ini, Ivy bahkan tidak menyentuh sedikitpun makanan yang ada disitu. Ivy berniat makan bersama dengan suaminya, tapi ternyata sang suami tidak datang.

"Apa dia lupa?" gumamnya pelan.

"Tapi, bagaimana bisa lupa? Bukankah dia yang menyuruh semua pelayan menyiapkan ini? Lalu, aku harus bagaimana?" ujar Ivy lagi.

Ivy menghela napas dalam lalu kemudian berdiri dari posisinya. Ivy kembali melihat makanan yang ada di atas meja dan memegangi perutnya yang terasa lapar.

"Sudahlah aku makan besok pagi saja, sebenarnya aku sangat ingin makan bersamanya. Bukankah ini kali pertama kami bertemu? Lalu, kenapa dia tidak menemuiku?" ujarnya lalu meninggalkan meja makan.

Ivy sudah akan kembali ke kamarnya, tapi tiba-tiba saja seseorang berdiri di hadapannya. Ivy mengangkat kepalanya dan melebarkan matanya tidak percaya melihat laki-laki berkulit lebih putih darinya, berambut coklat gelap dan juga berwajah tegas.

"Siapa?" tanyanya sembari memundurkan kakinya selangkah.

"Ivy Marionet?" ucap laki-laki itu dengan nada bertanya.

"Em."

"Apa kau ini Ag,,,Agnito? Ah,,,kenapa aku jadi lupa nama depannya?" sambung Ivy lagi.

"Winter Agnito, putra mahkota di daerah timur."

"Seingatku suamiku bukan putra mahkota," tukas Ivy yang mengira kalau Winter adalah suaminya.

"Memang dia bukan putra mahkota," ujar Winter.

"Lalu untuk apa kau kesini? Apa kau datang bersama suamiku?" tanya Ivy sembari menatap Winter.

"Tidak." Winter menjawab dengan singkat.

"Jadi?"

"Aku ingin melihatmu saja, aku penasaran. Siapa Ivy Marionet yang sukses mendapatkan Race Agnito," tukas Winter.

"Ha?"

"Race bukan laki-laki gampangan yang bisa siapapun dapatkan. Siapa sebenarnya kau ini, Iv? Kenapa paman dan bibi justru memilihmu menjadi istri Race?" ujar Winter lagi.

***

Pagi ini Ivy terlambat bangun, semalam dia terlalu banyak menggunakan sihirnya untuk menutupi semua bekas luka di badannya supaya tidak ada yang melihat. Dia juga tidak makan malam, jadi tenaganya benar-benar tidak tersisa. Miranda sudah masuk ke kamar Ivy beberapa waktu lalu dan meletakkan susu panas di meja dekat ranjang Ivy. Melihat Ivy masih belum juga bangun Miranda mendengus kesal.

"Sepertinya hanya ini tanda kalau dirinya memang putri bangsawan, selalu telat bangun pagi," gerutu Miranda yang kemudian meninggalkan kamar Ivy begitu saja.

Beberapa jam kemudian Ivy yang sudah mengumpulkan tenaganya lagi terbangun. Ivy menggeliat lalu kemudian menguap, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan sangat terkejut saat melihat ada laki-laki yang duduk di kursi dekat jendela.

"Aaaaaa!!!" teriak Ivy dan kemudian menggeser posisinya.

Laki-laki yang melihat ke arah luar jendela itu lalu melihat ke arah Ivy dengan kening mengkerut.

"Kenapa berteriak?" ucapnya.

"Si,,,siapa, kau? Kenapa bisa ada di dalam kamarku?" tanya Ivy dengan suara ketakutan.

Laki-laki yang lebih menarik daripada Winter di mata Ivy itu tersenyum tipis. Dia berdiri dan mendekat ke ranjang Ivy.

"Hei! Hei! Jangan mendekat! Disitu saja!" ucap Ivy kembali menggeser posisinya.

"Kenapa aku tidak boleh duduk disini? Aku, berhak atas tempat ini juga."

Ucapan laki-laki itu membuat otak Ivy bekerja, dia lalu menutup mulutnya terkejut.

"Agnito,,,Ag,,,aisshhh siapa namamu?" tanya Ivy yang benar-benar tidak bisa mengingat nama suaminya sendiri.

"Race Agnito, bagaimana bisa kau tidak mengingat nama suamimu sendiri. Cepatlah bangun! Aku, tunggu di meja makan."

Race kemudian berdiri dan berjalan akan meninggalkan kamar Ivy. Dengan cepat Ivy menahan tangan Race.

"Tunggu!"

Race terkejut dengan yang Ivy lakukan, tanpa sadar Race justru menepis tangan Ivy kasar. Sekarang gantian Ivy yang terkejut dengan sikap Race. Ivy menatap tangannya yang di tepis oleh Race dengan sedikit kasar.

***

"Tidak akan ada pesta penyambutan ataupun pesta untuk memperkenalkan dirimu. Aku, terlalu sibuk untuk mengurus itu semua," ucap Race sembari sibuk memotong daging panggang menu makan siangnya dengan Ivy hari ini.

"Lalu, jangan pernah menungguku pulang. Aku, tidak akan pulang ke paviliun ini kecuali ada hal mendesak. Jadi, silahkan berhubungan dekat dengan semua pelayan yang ada disini. Jika kau membutuhkan sesuatu bilang saja pada Miranda, dia adalah pelayan terlama dan sangat paham dengan paviliun ini," sambung Race lagi.

Race lalu memasukkan sepotong daging ke mulutnya dan sibuk mengunyah, sedangkan Ivy sendiri hanya mengaduk-aduk sup cream yang dia pilih untuk makan siang.

"Satu lagi, kita memang suami istri. Tapi, jangan berharap aku akan melakukan kewajibanku sebagai suami padamu. Aku, juga tidak akan menuntut apapun padamu. Tapi, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Kau, akan tetap mendapatkan hakmu sebagai istriku disini. Aku, akan mencukupi semua kebutuhanmu tapi tidak dengan kebutuhan suami istri," ucap Race penuh dengan penekanan dan menatap Ivy dengan lekat sekarang.

Ivy yang sudah melihat ke arah Race sejak mendengar ucapan Race tadi, melebarkan matanya tidak percaya. Ivy menelan ludahnya dengan susah payah, dia sedang menahan dirinya sendiri untuk menanyakan apa maksud Race mengucapkan ini semua padanya.

"Ada yang ingin kau tanyakan?" ujar Race lagi.

"Kalau tidak ada yang ingin kau tanyakan, lanjutkan makanmu! Aku, akan kembali ke base camp pelatihan. Aku, seorang pemimpin prajurit kerajaan, jadi aku tidak bisa bersantai dan beramah tamah makan 3 kali sehari bersamamu. Mulailah beradaptasi disini!" sambung Race lagi.

Race lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Ivy yang sedari tadi diam saja. Ivy meremas sendok makannya dengan erat lalu kemudian memejamkan matanya sejenak.

"Jadi, kenapa kau mau menikah denganku jika kau tidak memiliki waktu untuk berpura-pura menjadi suami? Seharusnya kau menolak saja perjodohan kita. pernikahan ini tidak harus terjadi jika kau tidak mau. Ak.,,,aku memilih tetap tinggal di barat jika kau menolak menikah denganku. Bukankah, kita memang tidak pernah saling mengenal satu sama lain? Kenapa, kau justru sibuk menjelaskan hal yang bisa saja kau hindari, Race?"

***

"Nyonya muda tidak makan lagi?" tanya Selina.

Melihat Gareta masuk ke dalam dapur dengan membawa nampan berisi makanan yang sepertinya tidak disentuh oleh Ivy. Selina menjadi semakin khawatir pada Ivy.

"Iya, sepertinya dia sedikit kesusahan beradaptasi disini. Jenis makanan disini juga sangat berbeda dengan di utara. Makanan disini sedikit berminyak sepertinya," ujar Gareta menanggapi.

"Ah,,,kau benar, Gareta," tukas Selina sependapat.

Tidak lama Miranda datang dan tertawa mencibir kedua rekan kerjanya itu. Miranda lalu mengambil sepotong ayam yang dimasak saus oleh Selina tadi. Miranda tanpa ragu lalu memasukkan sepotong ayam itu ke mulutnya.

"Itu bukan karena makanan yang membuat Nyonya muda Ivy tidak mau makan," ujarnya dengan mulut penuh.

"Lalu?" tanya Gareta dan Selina bersamaan.

"Nyonya muda itu tidak diharapkan disini. Tuan muda Race saja tidak mau menemuinya, apalagi keluarga besar Agnito. Sudah sangat jelas perjodohan mereka berdua ini hanya untuk kepentingan keluarga Agnito saja. Tuan besar pasti memiliki tujuan sendiri dengan menikahkan Tuan muda Race dengan Nyonya muda Ivy. Yang jelas Nyonya muda Ivy itu bukan istri ataupun menantu disini," tutur Miranda.

"Lalu apa?" tanya Gareta lagi.

"Tawanan."

Ivy yang sejak tadi ada di balik pintu dapur membalikkan badannya dan meremas bajunya erat. Ivy yang tadinya ingin minta dibuatkan jus untuk menambah tenaganya, justru mendengarkan hal buruk itu dari gosip pelayan-pelayannya sendiri. Ivy menghela napas dalam lalu mengurungkan niatnya untuk minta dibuatkan jus.

"Ternyata dimanapun, aku ini tidak lebih dari tawanan. Aku, diambil karena aku dibutuhkan dan bermanfaat bagi mereka."

Untuk menghilangkan perasaan sedihnya Ivy berjalan-jalan di area paviliun. Sialnya Ivy justru berjalan terlalu jauh ke dalam hutan.

"Aku dimana? Ke arah mana supaya bisa kembali ke paviliun? Kenapa jalannya jadi bercabang dua?"

Ivy terlihat kebingungan melihat kedua jalan bercabang di hadapannya. Ivy menarik napas dalam dan menutup matanya pelan. Setelah membaca beberapa mantra, Ivy kembali membuka matanya dan kemudian melihat kedua jalan setapak itu lagi bergantian. Ivy lalu tersenyum senang saat melihat satu jalan yang begitu terang. Ivy lalu tanpa ragu berjalan menyusuri jalan setapak itu untuk pulang ke paviliun.

Ivy baru saja sampai di paviliun saat gelap. Ivy terkejut ketika melihat ada Race di hadapannya.

"Dari mana saja? Kau, tidak tahu hari sudah gelap?" hardik Race.

"Aku, jalan-jalan keliling paviliun," jawab Ivy sedikit ketakutan.

"Lalu, kenapa pergi sendiri? Seharusnya kau minta salah satu pelayan menemanimu, Miranda misalnya. Bukankah aku sudah bilang kau itu tanggung jawabku disini!"

Race terdengar semakin marah.

"Maaf, aku tidak tahu kalau ini akan membuatmu marah. Aku, pikir kau juga tidak akan pulang ke sini. Bukankah kau bilang akan pulang jika hanya ada hal mendesak?"

"Kalau aku tidak pulang memangnya kau akan menghabiskan seharian untuk jalan-jalan? Ini sudah malam. Aku, dengar kau bahkan tidak makan pagi dan makan siang. Kau, mau mati disini ha? Jika ingin mati jangan di paviliun ku! Jangan melakukan hal yang membahayakan apapun itu jika kau memang mau menjadi istriku!" ujar Race lagi.

"Kenapa aku harus menuruti ucapanmu, Race? Bukankah jika aku tidak ada akan lebih baik bagimu?" tanya Ivy menatap Race lekat dan mulai memberanikan dirinya untuk membantah Race.

"Jangan membantahku, Iv! Kau tidak punya hak membantahku disini!"

"Lalu apa hakku? Diam saja saat semua memperlakukanku sebagai tawanan dimanapun aku berada?"

Ivy terus saja menatap Race yang juga menatap Ivy dengan tajam.

"Kau, bukan tawanan justru kau itu ancaman bagiku terutama Winter."

***

Bab 3

Beberapa bulan kemudian

Gareta masuk ke dalam kamar Ivy dengan membawa banyak kotak, hingga wajah Gareta hampir tidak terlihat.

"Nyonya muda, ini pakaian baru dari Tuan muda Race," ucap Gareta yang kemudian memohon izin untuk masuk ke ruang ganti.

Ivy menghela napas dalam karena mulai lelah dengan sikap Race. Suaminya itu benar-benar melakukan tanggung jawabnya sebagai suami. Race mencukupi semua kebutuhan Ivy, bahkan bisa dibilang berlebihan. Hanya saja Race jarang sekali pulang ke paviliun, mungkin hanya 2 minggu sekali. Itu pun hanya sebentar dan hanya marah-marah pada Ivy yang selalu salah di depan Race.

Setelah meletakkan baju-baju yang Race berikan untuk kesekian kalinya untuk Ivy, Gareta keluar dan menghampiri Ivy yang duduk di kursi dekat jendela.

"Nyonya muda, ingin makan siang apa? Selina dan koki sedang menyiapkan daging saus, apakah tidak apa-apa?"

"Apa saja akan aku makan, Gareta. Em,,,boleh aku bertanya?" ujar Ivy kemudian.

"Tentu saja, Nyonya muda."

"Siapa yang membawa baju-baju itu? Apakah Race mengirimnya dengan kereta lagi?" tanya Ivy yang sebenarnya sudah tahu kalau Race tidak mungkin membawanya sendiri untuknya.

Melihat pelayannya tidak bisa menjawab dan seperti sedang menatapnya iba. Ivy lalu tersenyum dan kemudian menggerakkan tangannya cepat mengusir Gareta.

"Tidak usah di jawab! Aku, sudah bisa menebak jawabanmu, Gareta. Kembalilah ke dapur!"

Malam harinya di kamarnya, Ivy yang sangat kesepian susah tidur. Terlebih lagi Ivy selalu mengingat kedatangannya adalah ancaman bagi Race. vy beringsut turun dari ranjang dan berjalan menuju jendela kamarnya. Ivy melihat keluar jendela dan melihat ke bawah.

"Apa kalau jatuh dari sini akan terasa sakit?"

"Ini pasti akan lebih sakit dari pukulan Ibu ataupun Charly." sambung Ivy lagi bermonolog.

Brakkk!!!

Pintu kamar Ivy terbuka dengan keras dari luar.

"Kau, gila? Bukankah aku bilang kalau mau mati jangan di paviliun ku!"

Race menyeret Ivy menuju ranjang. Race mendudukkan Ivy sedikit kasar hingga membuat Ivy hampir saja jatuh ke belakang.

"Kau, gila?" hardik Race lagi.

"Aku?" tanya Ivy polos.

"Iya, siapa lagi? Kalau kau tidak gila, untuk apa kau berpikiran lompat dari jendela itu?"

"Lompat? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku berpikir seperti itu?" batin Ivy bingung.

"Jawab! Kenapa diam saja? Kau, tidak akan sedikitpun kekurangan disini. Aku, akan bertanggung jawab atas dirimu, finansialmu, makanmu, baju dan semua kebutuhanmu. Jadi, diamlah! Duduk tenang, nikmati hidup mewahmu disini tanpa memiliki pikiran untuk mati. Mengerti?" bentak Race lagi mengejutkan Ivy.

Ivy menatap Race lekat, memang benar semua yang Race katakan. Dia hidup serba berkecukupan, mewah dan juga tidak kekurangan apapun. Hanya saja Race tidak mengerti perasaan Ivy, Race tidak tahu bagaimana inginnya Ivy hidup normal seperti orang lain. Terlebih lagi statusnya sekarang sudah menjadi seorang istri, tentu saja Ivy ingin diperlakukan layaknya seorang istri bukan seperti tawanan seperti yang Miranda katakan.

Race menatap tajam Ivy dan melihat mata sang istri berkaca-kaca. Race menarik napas gusar lalu kemudian menghembuskannya kasar. Race juga mengusap wajahnya sekarang. Melihat Race yang begitu frustasi seperti itu, Ivy menarik tangan Race dengan ragu. Ivy lalu menggenggam tangan Race tanpa permisi.

"Maaf, Race," ucapnya lirih.

Race terkejut dengan ucapan Ivy, dia yang biasanya akan langsung menepis tangan Ivy kasar sekarang justru diam saja dan hanya menatap Ivy dengan mata melebar.

"Aku, akan menuruti ucapanmu, Race. Aku, tidak akan berpikiran untuk mati lagi. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah membuatmu marah seperti ini," ucap Ivy lagi dengan mata berkaca-kaca sudah akan menangis.

"Kenapa kali ini aku diam saja disentuh gadis ini? Kenapa, aku harus khawatir dengan mimpi yang selalu hadir padaku tentang gadis ini? Ada apa sebenarnya padaku sekarang?" batin Race bermonolog.

***

Di paviliun Bungalo, tempat tinggal Race. Race dan Winter sedang minum-minum bersama malam ini.

"Kau, yakin tidak pernah menemui Ivy?" tanya Winter.

"Iya," singkat Race mengiyakan.

"Kau, aneh sekali, Race. Dia itu istrimu bukan orang asing."

"Aku, tahu."

"Lalu, kenapa sikapmu seperti itu? Bukankah kau akan menyakiti hatinya yang lembut?"

Race melihat ke arah Winter sekilas, Race lalu kembali meneguk minumannya.

"Aku, sudah bertanggung jawab padanya. Aku, mencukupi semua kebutuhannya, ada banyak pelayan yang menemaninya, dia hidup mewah dan tidak akan kurang satu apapun. Kurang apa lagi?" ujar Race.

"Race, Ivy bukan hanya membutuhkan itu semua. Bukankah dia lebih membutuhkan perhatian dan juga dirimu lebih dari apapun."

Winter sedikit tidak sependapat dengan sepupunya itu.

Race tersenyum smirk lalu kembali menuangkan minuman ke gelasnya.

"Ini hanya pernikahan karena perjodohan, Winter. Lagipula pada akhirnya kami akan berpisah, aku tidak memiliki niatan untuk hidup selamanya dengan gadis itu."

"Kalau pikiranmu seperti itu, kenapa kau menerima perjodohan ini? Tidakkah kau sedang menyakiti seseorang sekarang?" tanya Winter lagi dengan ekspresi wajah berubah serius dan terlihat tidak senang dengan sikap Race sekarang.

"Karena ini takdirku. Pada akhirnya takdir ini juga untukmu, Winter. Di masa depan, aku akan melakukan apapun untuk dirimu putra mahkota," ucap Race yang sukses membuat bingung Winter.

"Untukku?" tanya Winter lagi.

"Iya, Ivy itu wanita tidak baik untukku ataupun untukmu. Aku, akan menghentikannya sebelum kau yang menjadi korban pertama karena Ivy."

"Apa maksudmu, Race? Kenapa aku jadi korban Ivy? Siapa sebenarnya gadis itu?"

Winter semakin bingung dengan ucapan Winter.

"Putri bangsawan dari barat," ujar Race enteng.

"Aku, juga tahu, tapi apa maksudmu dengan aku menjadi korban pertama Ivy?"

"Turuti saja perkataanku, Winter!"

"Apa pikiranku tentang Ivy benar?" batin Winter.

***

Ivy sedang berkeliling taman samping paviliun tempat tinggalnya sendirian. Ivy terlihat takjub melihat taman bunga yang tertata rapi.

"Ternyata di paviliun yang berisi orang-orang dingin dan pelayan ketus ini, banyak bunga cantik yang tumbuh. Bunga apa ini? Anggrek ungu?"

Ivy tersenyum senang dan tangannya terulur tanpa ragu-ragu untuk memegang bunga itu. Seseorang menarik tangan Ivy cepat.

"Kau, ini benar-benar bodoh atau bagaimana?" ucap Winter.

Ivy mengerutkan keningnya melihat kedatangan Winter di paviliunnya.

"Kenapa?"

"Kau, tidak tahu?"

"Apa?"

"Bunga itu beracun, Ivy. Kau, tidak tahu?"

"Aku, tidak tahu sama sekali, Bunga secantik ini bisa beracun?"

Ivy terlihat bingung dan memandang bunga itu lagi.

"Kau, memang sangat polos, Iv. Kau, benar-benar tidak memegangnya bukan?" tanya Winter memastikan lagi.

"Em,,,aku belum memegangnya. Terima kasih sudah mencegahku memegangnya."

"Ngomong-ngomong ada apa, kau datang kesini, Winter? Apakah ada urusan dengan Race? Kami tidak tinggal seatap," tanya Ivy lagi.

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Bisa kita bicara berdua saja?" tanya Winter berwajah serius.

Winter dan Ivy berakhir berjalan-jalan keliling taman sembari terus mengobrol.

"Jadi, kau tidak tahu apa-apa tentang Race?" tanya Winter.

"Iya, sedikitpun. Karena itu aku tidak tahu kenapa aku dianggap ancaman oleh Race, terutama untukmu Winter," jawab Ivy.

"Aku, juga tidak tahu apa maksud Race, tapi sejauh ini aku merasa kau tidak berbahaya bagiku, Iv. Maka dari itu aku datang kesini dan memastikan sendiri," terang Winter.

Ivy tersenyum lalu memegang tengkuknya yang merinding.

"Tengkukku merinding, ada sihir yang akan mencelakai seseorang," batin Ivy.

Mata Ivy lalu tertuju ke arah hutan dan melihat panah emas menuju ke arah mereka berdua.

"Itu sihir, aku harus melindungi Winter."

Dengan cepat Ivy lalu memeluk Winter, menjadikan dirinya sendiri tameng.

"Hei! Kenapa, kau memelukku tiba-tiba? Apa yang kau lakukan?"

"Di,,,diamlah sebentar!"

"Ivy! Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?"

Winter melepaskan pelukan Ivy dengan paksa. Akhirnya Ivy melepas pelukannya pada Winter.

"Ivy! Apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu membiru?" Winter mulai panik.

"Tidak,,,tidak ap..."

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED