Rintik hujan masih tersisa di pagi nan dingin ini. Semalam hujan turun sangat deras, menyisakan basah di tanah dan dedaunan.
Seperti biasa, Ramona bersepeda keliling kampung menjajakan sarapan dan minuman hangat racikan tangannya sendiri.
Pagi ini begitu tenang, suara cicit burung hampir tidak terdengar. Tidak seperti pagi biasanya, mungkin pengaruh hujan lebat tadi malam membuat mereka enggan bersuara.
Ramona melewati lapangan hijau tempat anak-anak biasa bermain bola kaki di sore hari. Lapangan itu kini basah dan becek.
Ramona menghentikan kayuhan sepedanya ketika mendengar suara erangan di balik semak-semak yang tumbuh di pinggir lapangan. Ia turun dari sepeda, kemudian berjalan mendekati sumber suara.
"Astagaaa!" Perempuan paruh baya tersebut berlari ke arah seorang gadis yang terbaring lemah di tanah di balik semak-semak. Ramona dengan cepat mengangkat kepala gadis itu, jari telunjuknya terarah ke bagian bawah hidung si gadis.
“Nak ... nak ...” Ramona menggoyang-goyangkan tubuh si gadis, karena tidak mendapatkan respon apapun, ia kemudian berlari mencari bantuan kepada warga.
Pagi ini, kampung mastah di hebohkan dengan penemuan si gadis yang masih belum diketahui identitasnya. Tubuh dan wajahnya penuh lumpur, mungkin ini akibat hujan deras yang mengguyur bumi tadi malam.
Ramona dan beberapa orang warga membawa gadis tersebut ke rumah sakit, sebagian warga lagi ke kantor polisi melaporkan kejadian tersebut.
Ramona, perempuan yang usianya hampir 50 tahun ini berjalan mondar mandir di depan ruang ICU menanti dokter yang sedang memeriksa si gadis. Ia memang tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak tapi ia punya rasa keibuan yang tinggi, ia punya jiwa kasih sayang yang besar. Terbukti, ia berhasil membesarkan Raymond hingga dewasa dengan baik. Raymond-nya adalah anak adiknya yang meninggal karena kecelekaan sewaktu Raymond masih berusia 2 tahun.
“Apa yang terjadi pada gadis malang itu, Dok?” tanya Ramona pada salah seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
“Dia korban pemerkosaan, apa sudah ada yang menghubungi polisi?”
Ramona menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia tidak menyangka, gadis malang yang ia temukan di lapangan bola adalah korban perbuatan keji lelaki yang berhati binatang.
Di saat yang sama, dua orang polisi datang menghampiri. Atas laporan dari dokter, polisi tersebut meminta izin pada dokter itu untuk mengidentifikasi identitas si gadis guna menghubugi keluarganya.
*
Ramona menyeduh teh hangat lalu menambahkan sedikit madu ke dalamnya. Ia kemudian duduk di kursi santainya setelah meminum beberapa tegukan teh yang ia ramu tadi.
Ramona memejamkan mata sambil memijit ringan bagian atas pelipis matanya, ia masih belum bisa membayangkan bagaimana ekspresi keluarga si gadis tadi jika mengetahui anak mereka telah menjadi korban perkosaan.
“Mama memikirkan apa?” Tangan Raymond mengambil alih pijitan di kepalanya. Sontak Ramona membuka mata, ia menoleh ke belakang, di tempat Raymond berdiri.
“Raymond? Kamu kapan pulang?” Ramona langsung bangkit dan memeluk putranya, sudah hampir 6 bulan Raymond tidak pulang. Sejak di wisuda, Raymond memutuskan untuk mencari kerja di kota.
“Pagi tadi,” jawab Raymond.
“Ma, aku sudah dapat pekerjaan. Mama ikut aku ke kota, ya? Mama tidak perlu lagi menjajakan sarapan pagi keliling kampung,”
Raymond mengambil duduk persis di depan Ramona. Ia meminta Ramona kembali duduk di kursi santainya.
“Mama lebih bahagia hidup di sini. Ini rumah peninggalan kakek dan nenek kamu, tidak mungkin mama meninggalkan rumah ini. Tempat ini memiliki sejuta kenangan yang tidak akan bisa mama lupakan.”
“Tapi Ma, aku—“
“Raihlah cita-cita mu setinggi yang kamu bisa. Mama akan terus mendukungmu, dimanapun kamu berada,” potong Ramona.
Raymond tersenyum kecil mendengarnya, Ramona memang perempuan yang sangat tangguh. Raymond mengidolakan sosoknya, Raymond mencintainya meskipun Ramona bukanlah ibu kandungnya.
“Kamu bekerja di mana?” tanya Ramona lagi.
“Di perusahaan Albravo.”
“Albravo? Punya Tuan Almeer?” tanya Ramona lagi.
“Iya, Ma! Aku bertemu Bryan. Dia baru saja kembali dari luar negeri. Tidak lama lagi, ia akan menggantikan posisi Tuan Almeer di perusahaan.” Lagi, Raymond tersenyum kecil menceritakan sahabat masa kecilnya yang memiliki nasib yang sangat baik dan terlahir dari orang tua yang kaya raya.
“Bryan memberikan aku pekerjaan, dan minggu depan aku sudah mulai bekerja,” lanjut Raymond.
“Mama senang mendengarnya, mama doakan kamu bisa sesukses Bryan.”
Ramona kembali memeluk Raymond, ia turut bahagia melihat keberhasilan putranya.
“Siapa yang datang siang-siang begini?” Ramona mengurai pelukannya ketika mendengar bel rumah berbunyi.
“Biar aku yang buka, Ma!” ujar Raymond.
Raymond melangkahkan kakinya menuju pintu depan, diikuti Ramona dari belakang. Mereka jarang sekali kedatangan tamu, biasanya yang datang hanya tetangga dekat yang meminta ramuan minum untuk menghangatkan tubuh, dan itu mereka bisa langsung melalui pintu samping rumah, tempat kursi santai Ramona berada.
“Ada apa?” tanya Raymond kepada dua petugas yang memakai seragam kepolisian yang berdiri di depan pintu rumah mereka.
“Saudara Raymond Wahyudi?” tanya salah satu polisi tersebut.
“Iya, saya sendiri. Ada apa?” tanya Raymond sambil menautkan kedua alisnya.
Polisi tersebut memperlihatkan tanda pengenal dan surat perintah yang ia bawa. Ramona langsung mengambil surat tersebut dan membacanya.
“Apa ini?” tanya Ramona.
“Tidak mungkin, anak saya baru saja datang pagi ini. Tidak mungkin ia pelakunya. Anda pasti salah orang, Pak!”
Raymond berdiri kaku ketika mendengar tuduhan yang ia terima, tidak lama kemudian kakinya melangkah mundur ke belakang.
“Bu-bukan saya ....” ujarnya terbata-bata.
“Anda bisa jelaskan nanti. Maaf, Bu! Putra anda kami bawa.”
Ramona berdiri menghadang ke dua polisi yang hendak membawa Raymond. ia melindungi Raymond dengan tubuhnya.
“Anda tidak bisa membawa putra saya begitu saja. Anda punya bukti apa? Putra saya anak yang jujur, jika ia bilang bukan dia, artinya bukan dia pelakunya. Anda salah orang, Pak! Saya sangat mengenal putra saya.” ujar Ramona.
Lalu salah seorang polisi mengeluarkan foto dari saku bajunya. Sebuah foto jam tangan yang sudah di kemas ke dalam sebuah plastik.
“Jam tangan ini, ada nama putra ibu di belakangnya. Ini kami temukan di lokasi kejadian.”
Ramona meluruh, kakinya menjadi tidak berdaya untuk menopang beban tubuhnya. Jam tangan itu, adalah hadiah yang ia berikan pada Raymond sewaktu putranya berhasil meraih gelar sarjana. Ia sengaja mengukir nama Raymond di belakang jam tangan tersebut.
“Ma ....” Raymond memegang tubuh Ramona dan membawa Ramona duduk di sofa.
Ramona menepis tangan putranya, ia bahkan memalingkan wajah dan tidak mau lagi memandang wajah Raymond. Ramona kecewa, ia sangat kecewa. Gadis malang yang ia tolong pagi tadi ternyata ulah putranya sendiri. Ia bahkan merutuki si pelaku perkosaan, mendoakan si pemerkosa supaya hidupnya tidak tenang. Ternyata yang ia doakan justru putra yang ia cintai.
“Bukan aku, Ma! Aku tidak melakukannya.” Raymond membela diri.
“Bawa dia, Pak! Cepat bawa si pemerkosa ini jauh-jauh dari hadapan saya,” pinta Ramona.
Ramona mendatangi rumah sakit sekali lagi. Setelah ia tau jika putranya pelaku perkosaan, ia merasa sangat bersalah dan merasa gagal menjadi orang tua.
Bagaimana tidak, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana terlukanya gadis itu. Ia sendiri yang membawa dan menghubungi keluarganya dan sekarang ia harus di hadapkan dengan kenyataan jika Raymondlah pelaku perkosaan itu. Ramona didera rasa bersalah yang sangat besar.
Ramona membiarkan Raymond dibawa polisi, biarlah Raymond mempertanggung jawabkan perbuatannya, karna bagi Ramona dosa yang paling besar adalah dosa memperkosa.
Perkosaan tidak hanya melukai diri korban tapi juga melukai jiwa serta masa depan si korban dan Ramona lebih memihak pada gadis itu dibandingkan putranya.
"Ma, aku mohon! Percayalah kepadaku. Bukan aku pelakunya."
Teriakan Raymond masih terngiang di telinga Ramona. Ia lebih memilih menutup mata dan telinganya dibanding melihat Raymond.
Ramona menghela nafasnya sebentar sebelum mengetuk pintu ruang inap kelas 3 di rumah sakit tersebut. Setelah dirinya merasa siap untuk bertemu keluarga gadis itu, Ramona lalu mengangkat tangannya, mengetuk pintu sebanyak 3 kali lalu memutar gagang pintu.
Dengan langkah berat, Ramona berjalan mendekati ranjang si gadis. Gadis muda itu nampak tertidur lelap.
"Brengsek! Untuk apa kau ke sini?" Lelaki yang bernama Alden mendekati Ramona.
Ramona mengehentikan langkahnya, ia sudah mempersiapkan diri untuk hal ini.
"Tenang! Ini rumah sakit." Irene, istri Alden bersuara. Ia meraih tangan suaminya.
"Bagaimana aku bisa tenang. Anaknya sudah menghancurkan hidup Almoora. Moora sudah tidak punya masa depan lagi." ujar Alden sengit.
"Maafkan aku Tuan Alden, aku datang ke sini atas nama putraku. Aku minta maaf kepada kalian. Raymond akan mempertanggung jawabkan perbuatannya." ucap Ramona.
"Cih, ia bisa saja di penjara selama 1 tahun atau dua tahun, setelah itu ia bisa bebas. Tapi bagaimana dengan adikku? Adikku akan menanggung malu sampai akhir hayatnya." balas Alden.
"Tidak, Moora tidak akan menanggung malu. Jika ada yang akan menanggung malu, orang itu adalah Raymond. Akan kupastikan hidup Moora akan baik-baik saja."
Ramona memandang Almoora dengan tatapan iba. Ia mengusap lembut kaki gadis malang itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Ramona.
"Ia baru saja di beri obat penenang. Tadi ia berteriak histeris dan tidak bisa ditenangkan. Sepertinya ia mengalami trauma," jawab Irene sambil mengusap kepala Moora.
"Aku turut menyesal. Aku tidak percaya putraku bisa sekeji ini. Aku sudah mendidiknya dengan sangat baik, aku kecewa kepadanya. Asalkan kalian tau, aku berada di pihak kalian. Meskipun ia putraku, aku tetap menentang perkosaan ini." Ramona berkata dengan terus terang.
"Dimana putramu? Bajingan itu perlu aku hajar hingga ia merasakan sakit seperti yang Moora rasakan." Alden bangkit dari duduknya, wajahnya memperlihatkan kemarahan yang tertahan. Almoora adalah adik perempuannya, mereka hanya berdua saja. Orangtua mereka sudah lama meninggal dunia. Hidup Almoora adalah hidupnya, kebahagiaan Almoora menjadi tujuannya. Ia tidak bisa menerima jika Almoora diperlakukan dengan kurang ajar oleh seorang pria.
Alden akan membuat perhitungan dengan Raymond. Entah apa itu, Raymond harus bisa merasakan sakit yang di rasa Almoora. Begitu menurut pikiran Alden.
"Sayang, tenang dulu. Ibu Raymond sudah ada di sini. Masalah ini bisa kita bicarakan dengan baik-baik. Mereka sudah menunjukkan itikad yang baik." Irene menenangkan Alden.
Alden kembali duduk setelah ditenangkan istrinya.
"Saya merasa menyesal dengan kejadian ini, Tuan! Raymond sekarang berada di kantor polisi. Aku sudah bilang, meskipun ia putraku, aku akan berdiri bersama kalian. Almoora tidak akan kehilangan masa depan. Raymond akan mempertanggung jawabkan perbuatannya."
Ramona menghela nafasnya, kemudian ia melanjutkan perkataannya.
"Sekarang, aku menyerahkan semua keputusan di tangan kalian. Jika kalian mau Raymond di penjara, aku akan menjaga Almoora sampai ia berhasil melewatkan masa traumanya. Jika kalian mau, Raymond bertanggung jawab penuh pada Almoora ... izinkan Raymond menikahinya. Hanya ini yang bisa aku tawarkan kepada kalian. Aku akan menerima, apapun yang kalian putuskan."
Ramona menatap serius Alden dan Irene yang duduk di depannya. Sesekali ia menatap Almoora yang masih tertidur di bawah pengaruh obat.
Hatinya sakit, ia tidak bisa membayangkan putra tersayangnya meniduri paksa gadis malang ini.
"Almoora akan menikah dengan Raymond." ujar Irene.
"Apa maksudmu? Kau tidak bisa memutuskan secara sepihak. Moora harus tau dan yang paling berhak memutuskan itu dia." sangkal Alden.
"Tapi Sayang, Almoora sudah tidak punya masa depan lagi. Siapa lelaki yang mau menikahinya?" ujar Irene sengit.
"Tapi untuk urusan menikah, itu semua harus mendapatkan persetuan Moora."
Suami istri itu malah bertengkar di depan Ramona.
"Anda benar Tuan Alden. Almoora lah yang menentukan, aku akan menunggu kabar dari kalian." Ramona berdiri dan undur diri.
Irene mengantar Ramona sampai ke pintu luar. Kemudian, ia kembali ke tempat suaminya.
"Pikirkan lagi! Raymond harus menikahi Almoora. Laki-laki itu harus bertanggung jawab. Dia tidak bisa seenaknya hidup bebas setelah keluar penjara sementara Almoora harus menanggung malu seumur hidupnya." tegas Irene.
"Moora tidak mencintainya, apa bisa ia hidup dengan lelaki yang tidak ia cintai seumur hidupnya?"
"Ini sudah menjadi takdir Moora! Suka atau tidak suka, Almoora harus menghadapinya. Dan menurutku, keputusan yang paling baik adalah menikahkan Almoora dengan lelaki yang memperkosanya."
"Sayang... pikirkanlah semua ini. Aku hanya menyampaikan yang terbaik menurut pendapatku," lanjut Irene.
"Aku tidak yakin Moora bisa menerimanya, ia adalah gadis yang sangat lembut. Apa bisa ia hidup dengan serigala yang beringas seperti si brengsek itu." Alden mengusap wajahnya, ia sangat putus asa memikirkan nasib adik kesayangannya.
“Almoora gadis yang kuat. Dia memang lembut tapi dia kuat. Kita harus mendukung keputusan ini, pikirkan masa depan Almoora. Aku khawatir tidak ada lelaki yang akan mau menerima gadis korban perkosaan untuk menjadi istrinya kecuali lelaki itu bukan lelaki baik-baik.” pungkas Irene.
Alden berdiri dari duduknya, ia menghampiri Almoora. Satu tangannya mengusap lembut wajah adiknya. Almoora mengerang, ia merasakan sentuhan di wajahnya.
“Jangan sentuh aku,” rintihnya.
“Aku mohon, jangan sentuh aku!”
Almoora mengigau dalam tidurnya, keringat bercucuran di dahinya. Wajah Almoora sampai basah dengan keringat.
Alden mengepalkan kedua tangannya mendengar rintihan Almoora.
“Kau akan bahagia. Aku pastikan kau akan bahagia di masa depanmu. Tidak akan ada orang yang bisa menyakitimu.” gumam Alden.
Irene memperhatikan suaminya dari tempat ia duduk. Wajah Alden tampak memerah menahan amarah. Tidak lama kemudian, Alden melangkah mundur.
“Aku akan pergi sebentar, jika Moora sudah sadar segera hubungi aku.” perintah Alden pada Irene.
“Kau mau kemana?”
“Ke rumah bajingan itu.”
“Jangan lupa lihat Dennis. Aku tadi menitipkannya sama tetangga.” pinta Irene.
Alden hanya bergumam mendengar permintaan Irene, kemudian ia melangkahkan kaki lebarnya ke luar ruang inap tersebut.
Not a dangerous husband 3
Ayam yang sangat lezat
“Aku akan pergi sebentar, jika Moora sudah sadar segera hubungi aku.” perintah Alden pada Irene.
“Kau mau kemana?”
“Ke rumah bajingan itu.”
“Jangan lupa lihat Dennis. Aku tadi menitipkannya sama tetangga.” pinta Irene.
Alden hanya bergumam mendengar permintaan Irene, kemudian ia melangkahkan kaki lebarnya ke luar ruang inap tersebut.
Dennis adalah putera Alden dan Irene. Sore itu, Dennis meminta izin pada Irene untuk bermain bola bersama teman-temannya. Sudah hampir malam, Dennis belum juga pulang ke rumah. Irene meminta tolong pada Moora untuk mencari Dennis.
Dennis baru berusia 5 tahun, ia kalau bermain sering lupa waktu. Selalu saja begitu, hingga kalau Dennis tidak pulang, Almoora lah yang mencari Dennis ke rumah teman-temannya.
Sore itu juga seperti itu, Moora mencari Dennis ke lapangan bola. Lapangan itu telah kosong, tidak ada satu anakpun yang bermain di sana. Moora mulai mencari Dennis ke rumah teman-teman Dennis. Hasilnya sama, Dennis tidak ada di rumah temannya.
Kampung Mastah adalah kampung yang kecil, jika matahari sudah tenggelam warga kampung Mastah tidak ada lagi yang keluar rumah. Almoora masih berkeliling mencari Dennis, anak kecil itu adalah anak kakaknya dan Almoora sangat sayang kepadanya.
“Del, kamu melihat Dennis?” tanya Almoora pada Delso, salah seorang teman Dennis yang sudah berusia 7 tahun.
“Tadi kami main ke pantai, pulang dari pantai Dennis kembali ke lapangan bola katanya sendalnya tertinggal di sana,” jawab Delso.
“Terima kasih.”
Almoora kembali memutar arah jalannya untuk kembali ke lapangan bola. Jalan setapak itu sudah sangat gelap, padahal masih jam 8 malam.
Almoora mempercepat langkahnya, ia sangat mengkhawatirkan Dennis. Moora takut, Dennis akan tersesat seperti kejadian beberapa bulan yang lalu. Waktu itu, Dennis tidak menemukan jalan pulang hingga ia menggigil kedinginan di luar rumah. Ditambah lagi cuaca waktu itu sedang tidak baik, angin bertiup dengan sangat kencang. Dennis duduk ketakutan di pinggir jalan setapak sambil memeluk tubuhnya sendiri. Beruntung Almoora bisa menemukannya dan membawa Dennis pulang.
Malam ini, Almoora seperti mersakan kejadian yang sama. Langit sangat gelap, tidak ada bintang yang menghiasinya. Angin juga bertiup dengan kencang. Almoora khawatir, Dennis akan tersesat lagi seperti waktu itu.
*
Di waktu yang sama, tempat yang berbeda.
“Apa lo gak pernah minum, hah?” Bryan bertanya kepada Raymond. Ia tertawa besar setelah melontarkan pertanyaan tersebut. Tawanya terdengar sedikit mengejek Raymond.
“Tidak, aku belum pernah melakukannya.” Raymond menjawab dengan jujur. ‘Mama melarangnya,’ Raymond melanjutkan perkataannya di dalam hati. Tentu saja ia tidak mau Bryan mengetahui alasannya yang tidak pernah meminum alkohol.
“Why? Lo sudah cukup dewasa untuk meminum ini.” Bryan kembali tertawa. Ia sudah menghabiskan 3 botol minuman dan ia masih bisa tertawa dan berbicara. Bryan benar-benar seorang peminum alkohol yang kuat.
“Hanya masalah kebiasaan. Aku tidak biasa meminumnya,” jawab Raymon sambil tersenyum kecil.
Sudah hampir 3 jam mereka bersama. Raymond dan Bryan adalah teman lama, mereka berasal dari kampung yang sama. Bedanya adalah Bryan berasal dari keluarga yang kaya raya. Tuan Almeer, Ayah Raymond memiliki banyak perusahaan di kota. Dan Bryan menjadi pewaris tunggal semua kekayaannya.
Bryan melanjutkan sekolahnya di luar negeri, dan sekarang ia kembali. Mereka berjumpa dan saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Raymond dengan jujur mengatakan kalau ia baru saja di wisuda dan sedang mencari pekerjaan. Lalu Bryan langsung menawarkan Raymond untuk bekerja di perusahaannya.
Menurut pengakuan Bryan, perusahaan itu akan ia ambil alih. Ialah yang akan menjadi CEO di sana dan ia meminta Raymond untuk membantunya. Tentu saja Raymond tidak menolak, karena memang itu yang ia butuhkan. Bekerja dan membawa mamanya ke kota.
“Ayooo, minumlah agak satu botol,” Bryan menyerahkan satu minuman kepada Raymond.
Raymond mengambil minuman tersebut dan mencoba meneguknya.
“Gimana, enak kan? Haaah ... dalam keadaan seperti ini, kita butuh wanita untuk menghangatkan badan.” ujar Bryan.
“Wanita?”
“Ya, wanita! Jangan bilang lo belum pernah memperawani anak gadis orang.” Bryan bertanya dengan pandangan mendelik.
“Belum, memang belum!” Raymond menggelengkan kepalanya. Ia berkata jujur, jangankan memperawani seorang gadis. Berdekatan dengan perempuan saja Raymond tidak pernah. Di usianya yang sudah 24 tahun, Raymond bahkan belum pernah pacaran.
“Oh my god. Lo benar-benar seorang Raymond yang sangat malang.” Bryan kembali tertawa besar, ia meneguk seluruh minuman di dalam botol yang ia pegang. Lalu melempar botol itu jauh.
“Apa lo gak punya ‘pedang’, hah?”
“Lo pasti gak punya ‘pedang’ yang gak bisa lo asah.”
Bryan berkata lagi, tubuhnya sudah mulai oleng dan mulutnya sudah mulai meracau mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti Raymond.
“Ayo kita cari wanita!” ajak Bryan. “Aku membutuhkannya sekarang,”
“Aku akan antar kamu pulang, mana kunci mobilmu? Biar aku yang nyetir!” ucap Raymond.
Raymond kemudian mencari kunci mobil di dalam saku jaket yang dikenakan Bryan, ia lalu memapah tubuh Bryan untuk masuk ke dalam mobil. Setelah itu, ia membawa mobil menuju kampung mereka.
Kepala Raymond agak sedikit pusing, ini karena alkohol yang ia minum tadi. Raymond bukan seorang peminum, ia hanya meminum beberapa tegukan dan sudah memberikan pengaruh pada tubuhnya, sementara Bryan sanggup menghabiskan 4 botol minuman. Benar-benar lelaki yang tangguh, pikir Raymond.
Mobil yang Raymond bawa sudah memasuki jalan setapak yang gelap. Raymond mulai mengedip-ngedipkan matanya. Kemudian ia merasakan pandangannya mulai mengabur, instingnya mengatakan jika ia harus menghentikan mobil yang ia bawa. Raymond takut ia akan menabrak sesuatu jika menyetir dalam keadaan seperti itu.
“Kenapa berhenti?” tanya Bryan.
“Aku merasa sedikit pusing,” jawab Raymond.
Bryan kembali mengambil satu botol minuman lagi, ia membuka segel botol itu dengan lihat kemudian meminum beberapa tegukan lagi.
“Nih, minum!” perintahnya pada Raymond. “Lo akan merasa lebih ringan jika meminumnya,” lanjutnya.
Raymond mengambil botol minuman tersebut dan meneguk minuman itu hingga setengahnya.
“Good man!” ujar Bryan. Ia menyandarkan tubuhnya di jok mobil.
“Lo harus merasakan wanita, Bro! Mereka itu sangat lezat!” racau Byran.
“Lezat?” Raymond membeo. Pikiran Raymond sudah mulai memasuki alam bawah sadarnya.
“Sangat lezat. Jika lo sudah mencicipi mereka, lo akan ketagihan!”
Raymond mulai membayangkan ucapan Bryan. Alam bawah sadarnya menampilkan makanan-makanan yang semuanya di rasa sangat lezat. Raymond serasa mencicipi salah satu makanan itu, dan benar saja. Rasanya sangat lezat.
“Ada wanita!” Bryan dengan cepat membuka pintu mobil. Ia berlari dengan cepat ke arah wanita yang ia lihat tadi.
Raymond mengejarnya dari belakang. Raymond melihat Bryan menangkap sesuatu, sesuatu yang di tangkap itu meronta-ronta dan berteriak. Raymond tertawa melihatnya. Raymond membayangkan Bryan menangkap seekor ayam. Ayam itu berusaha melepaskan diri, namun Bryan lelaki yang tangguh. Ayam tersebut berhasil masuk dalam dekapan Bryan.
“Bryan pasti akan memakan masakan yang lezat,” Raymond berkata sambil membayangkan seekor ayam panggang yang utuh. Ia tersenyum membayangkan dirinya sewaktu kecil dulu ketika Ramona menghidangkan ayam panggang utuh di hari ulang tahunnya, ia mengambil ayam tersebut dan memakannya dengan rakus. Ayam panggang mama yang paling lezat, ucap Raymond di dalam hati.