Aulia mengepak semua pakaian yang ada di dalam lemari ke dalam tas bepergian yang ia bawa saat datang pertama kali ke rumah suaminya. Pakaian Laras hanya bertambah sebanyak dua biji yang merupakan pakaian lebaran, selebihnya tidak ada pembelian baju baru.
Semua hasil usaha sang suami yang masuk ke ibu pria itu membuat ia harus menerima jika ia suaminya tidak memberi uang belanja. Dengan alasan sang ibu yang mengatur semua kebutuhan sehari-hari di rumah, Angga berpikir bahwa Aulia tidak membutuhkan uang, bahkan untuk membeli pembalut pun ia harus mengemis terlebih dahulu.
“Jika kau keluar dari rumah ini, maka jangan pernah berpikir untuk kembali lagi!” ujar Angga ke Aulia.
“Baik. Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini lagi!” kata Aulia tanpa ragu.
“Pergi saja! Tapi, jangan pernah berharap kami akan membiayai perceraian yang kau inginkan,” tukas si ibu mertua.
Sejenak Aulia ragu dan berniat untuk kembali, namun saat melihat wajah culas sang mertua dan wajah manja suaminya, keraguan itu langsung menghilang.
“Jangan khawatir, aku tidak akan meminta uang pada kalian satu rupiah pun tidak akan,” kata Aulia dengan yakin.
“Memang kau punya uang untuk naik taksi?” tanya Angga, berpura-pura khawatir.
Tentu saja tidak ada, batin Aulia. Mana mungkin dia yang hampir tidak pernah dikasih uang oleh suaminya memiliki uang di dalam dompetnya. Meski begitu, ia tetap melangkah pergi dari rumah sang suami.
“Kenapa? Kau mau kasih uang aku untuk pulang?!” sindir Aulia.
“Untuk apa?!” tukas sang mertua. “Kau yang memilih untuk pergi, maka jangan harap kami akan memberi uang padamu, meski itu hanya sekedar untuk naik taksi,” imbuhnya.
Sudut bibir Aulia naik ke atas membentuk senyum sinis, ia tidak terkejut sama sekali. Kebaikan keluarga suaminya hanyalah sebuah isapan jempol belaka, mereka hanya berderma saat di hadapan banyak orang namun sejatinya mereka adalah orang kikir.
“Tidak perlu. Aku pasti bisa pulang meski tidak ada satu rupiah pun di dalam dompetku,” ucap Aulia.
Di bawah langit senja, ia berjalan keluar dari rumah besar milik keluarga Angga. Langit sore tidak membuat Aulia gentar apa lagi malu dilihat oleh para tetangga yang tampak tertarik melihat dia yang membawa tas besar juga tas ransel dan tas selempang kecil.
Bisik-bisik pun terjadi, namun ia mengabaikan hal itu. Aulia terus berjalan menuju jalan utama sambil memutar otak mencari cara dia untuk sampai ke rumah.
“Aku tidak bisa pulang ke rumah,” gerutu Laras.
Orang tuanya tidak akan membiarkan dia untuk mendapatkan kebahagiaan dengan melepaskan diri dari pernikahan yang menyiksa batin.
“Bisa-bisa mereka meminta aku untuk kembali ke rumah Angga, menyuruh memohon untuk menerimaku kembali,” ucap Aulia di tengah pandangan orang-orang.
Masih terukir dengan jelas di kepala dia saat ia menceritakan bagaimana ibu mertua juga suaminya memperlakukan dirinya. Sang ibu yang sangat peduli pada omongan orang bukan membesarkan hati dia malah menuduh dia manja. Dia diminta untuk menerima takdir yang telah ditetapkan untuknya dan bersyukur dengan dia masih dijamin untuk makan setiap hari meski tidak diberi uang belanja.
Air mata bergulir membasahi wajah tirus Aulia saat teringat sikap orang tuanya yang tidak mau ikut campur dengan kerumitan dia dalam berumah tangga, Mereka lepas tangan begitu saat setelah memaksa dia untuk menikah dengan pria yang tidak ia kenal sama sekali. Bahkan, saat ia mengatakan tidak bisa menikah dengan Angga setelah beberapa kali pertemuan, ibunya langsung menuduh dia sebagai anak durhaka karena melawan perintah orang tua.
“Mbak Aulia,” sapa salah seorang tetangga yang lewat.
“Ya?”
“Apa Anda mau pulang?”
Aulia mengangguk dengan air mata yang berderai.
“Apa perlu kami bantu untuk memanggilkan taksi?” Pasangan suami istri paruh baya itu menawarkan bantuan ke Aulia.
“Masalahnya adalah ….” Aulia tidak bisa memberitahu mereka mengenai ia yang tidak memiliki uang untuk membayar taksi.
Pasangan suami istri itu saling bertatapan dan seperti memahami kesulitan yang dihadapi oleh Aulia. Meski begitu, mereka tidak mempertanyakan dugaan mereka mengenai Aulia yang tidak memiliki uang sama sekali.
“Kalau begitu, apa ada ingin kamu hubungi untuk menjemput?”
Aulia teringat dengan sahabatnya dan ia pun teringat dengan ponsel yang ia masukkan ke dalam tas selempang kecil. Sayangnya, pulsa yang dikirim oleh sahabatnya telah habis ia gunakan untuk menelepon sang sahabat demi menghapus jejak kiriman pulsa dari dia.
“Aku hanya ingin memastikan nomor kamu tetap aktif,” kata Zahwa yang memiliki perasaan tidak enak dengan pernikahannya.
“Ada. Tapi, saya tidak punya pulsa telepon dan saya juga selalu menggunakan wifi, jadi …”
“Kalau begitu biar kami bantu untuk menghubungi,” Pasangan suami istri itu kembali menawarkan bantuan.
“Terima kasih,” ucap Aulia dengan tulus dan penuh syukur.
“Kalau begitu, sebaiknya Anda menunggu di rumah kami.”
Dia menangis penuh syukur dengan kebaikan sang tetangga yang bersedia mengulurkan tangan mereka untuk memberi tempat untuk dia berteduh di kala azan Magrib berkumandang.
“Terima, kasih,” ucap Aulia sekali lagi.
Aulia menghubungi Zahwa melalui ponsel suami istri tersebut dengan mengirim pesan singkat bertuliskan 'SOS’ dan peta lokasi di mana sahabatnya dapat menjemput dia.
Aulia menerima tawaran untuk melaksanakan salat Magrib sambil menunggu Zahwa yang sudah dalam perjalanan. Dalam diam dia menunggu, tuan rumah tidak bertanya lebih apa yang terjadi padanya dan Aulia benar-benar bersyukur dengan hal itu.
Tiga puluh menit berlalu, Zahwa akhirnya datang dengan setelan formal celana panjang.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Zahwa saat melihat bekas tangan di pipi tirus Aulia.
Aulia menangis dalam pelukan sang sahabat melupakan keberadaan tuan rumah yang terus memberi ruang padanya untuk menenangkan diri.
“Tidak apa! Aku sudah di sini! Ayo kita pulang!” tukas Zahwa sambil menepuk lembut punggung sahabatnya.
Zahwa mengucapkan terima kasih kepada tetangga Aulia yang sudah dengan baik hati memberi tempat untuk wanita kurus itu menunggu dengan aman dan nyaman.
“Terima kasih,” ucapnya.
Sebuah mobil sudah menunggu mereka dengan wanita muda yang duduk di kursi, langsung turun saat melihat mereka berdua keluar. Dengan sigap, wanita muda itu memasukkan tas besar dan ransel ke bagasi. Aulia masuk ke dalam mobil dengan tangis dan mata bengkak juga pipi yang memerah.
“Kita ke puskesmas terlebih dahulu,” kata Zahwa ke wanita muda yang mengemudikan mobil.
“Kenapa?” tanya wanita muda itu.
“Kita akan melakukan visum,” jawab Zahwa.
“Zahwa, tidak … aku tidak ….” Aulia tidak dapat merangkai kata yang tepat untuk menyatakan keberatannya.
“Bukankah kau ingin bercerai dari Angga?” tanya Zahwa.
“Ya, tapi ….”
“KDRT adalah alasan yang tepat untuk kau bercerai darinya dan kau membutuhkan bukti,” jelas Zahwa.
Aulia yang sangat ingin mengakhiri pernikahan mereka tidak lagi melawan saran sahabatnya. Meski pikirannya kacau, ia sadar jika alasan dirinya bercerai karena tidak rela di madu kurang kuat di hadapan hukum meski itu diperbolehkan, karena agama membolehkan. Akan tetapi, tidak dengan KDRT yang agama juga mengutuk suami yang ringan tangan pada istrinya.
“Tidak, aku tidak mau pulang ke rumah!” tolak Aulia saat sahabatnya berkata akan mengantar dia pulang setelah mendapatkan laporan visum dari pihak puskesmas.
“Jika kau tidak mau pulang, lalu kau mau ke mana?” tanya Zahwa sambil melihat langit yang gelap.
“Terserah. Pokoknya aku tidak mau pulang ke rumahku, aku masih belum siap untuk konfrontasi dengan orang tuaku,” tukas Aulia.
Zahwa yang mengetahui perangai dan sikap orang tua Aulia tidak memaksa wanita itu untuk pulang. Dengan sikap ibunya yang sangat memedulikan omongan tetangga dan sang ayah yang tidak memiliki ketegasan, kepulangan Aulia dengan kedua pipi bengkak tidak akan membuat mereka memeluk putrinya melainkan akan menyudutkan dan menyalahkan sang putri tanpa bertanya yang terjadi.
“Kalau begitu, kita ke hotel saja!” kata Zahwa ke wanita muda yang mengemudikan mobil.
“Baik,” jawab Maria.
Aulia bernafas lega saat mendengar nama hotel disebutkan. Ia tahu harusnya ia tidak bersikap keras kepala dengan menolak untuk pulang ke rumahnya dengan ia yang tidak memiliki uang sepeser pun. Akan tetapi, ia masih belum siap bertemu orang tuanya yang ia yakini tidak akan menerima kepulangan dia dengan penuh kasih sayang. Dan ia juga tidak bisa berharap untuk dibawa pulang ke rumah Zahwa yang jauh lebih terasa seperti rumah sendiri dibandingkan rumahnya.
“Terima kasih,” ucap Aulia.
Zahwa memeluk tubuh kurus Aulia sambil menepuk lembut punggungnya.
“Semua akan baik-baik saja,” ucap Zahwa.
“Amin,” gumam Aulia.
Malam semakin larut saat mereka tiba di hotel. Zahwa menemani Aulia tidur di hotel dengan membiarkan Maria pulang untuk menjemput mereka dengan membawakan baju bersih untuk Zahwa.
“Apa orang tuamu tidak akan curiga?” tanya Aulia ke Zahwa.
“Tidak akan. Maria sudah sering mengambilkan pakaian bersih untukku di tengah-tengah jadwal seminar yang sibuk,” jawab Zahwa menenangkan hati Aulia.
“Jadi, ceritakan apa yang terjadi?” tanya Zahwa.
Aulia menceritakan perihal suaminya yang akan menikah lagi karena Aulia tidak segera hamil dan perlawanan dia menolak untuk di madu. Penolakan tersebut berujung pada ia mendapatkan tamparan keras dari sang suami dan sua kali dari ibu mertuanya.
“Jadi, kau sudah dengan keputusan bulat untuk bercerai?”
“Ya.”
“Bagaimana dengan buku nikahnya? Apa kau mengamankannya?”
“Ya, aku sudah memastikan membawa semua dokumen keluarga yang aku butuhkan,” jelas Aulia.
Tekad bulat terlihat di mata sayu dan sembab wanita itu membuat Zahwa tidak lagi bertanya tentang kebulatan untuk bercerai.
“Namun ….” Aulia terlihat malu dibandingkan ragu membuat Zahwa mengetahui masalah yang dapat menghambat sahabatnya itu.
“Kau tidak perlu khawatir untuk masalah uang, aku akan membantumu,” kata Zahwa.
“Terima kasih,” ucap Aulia dengan mata berlinang.
Memiliki Zahwa sebagai sahabatnya adalah hal yang paling Aulia syukuri dalam hidup. Dengan kebijaksanaan dan wawasan yang dimiliki oleh wanita berparas Jawa-Cina-Arab itu membuat Aulia mampu bertahan menjalani pernikahan yang sulit dan menguras emosi selama dua tahun.
Malam semakin larut semakin sunyi tidak membuat Aulia terlelap dalam tidur. Rasa panas yang masih terasa di kedua pipi membuat ia kesulitan untuk terlelap. Ia tidak ragu dengan perceraian namun ia tidak dapat membayangkan amarah yang akan ia terima dari orang tuanya esok hari saat mereka tahu, sang putri kabur dan ingin menggugat cerai.
Zahwa harus menghadiri seminar pagi hingga siang memberi Aulia ruang untuk sendiri di dalam kamar hotel yang cukup luas saat tinggal dia seorang. Aulia menatap jauh ke luar jendela kaca hotel menunggu dengan gugup kedatangan Zahwa yang akan mengantarkan dia untuk pulang.
Tepat pukul tiga, Zahwa dan Maria datang menjemput Aulia di hotel. Siap tidak siap, dia harus pulang menghadapi orang tuanya dan menerima semua konsekuensi yang akan diterima oleh dia, bahkan jika itu di usir oleh mereka.
“Aku akan menemanimu sampai semuanya jelas,” kata Zahwa.
“Tapi ….”
“Aku hanya akan duduk di teras dan Maria akan tetap di dalam mobil,” kata Zahwa.
“Terima kasih,” Untuk ke sekian kali, Aulia mengucap syukur dengan dikirimnya Aulia dalam hidup dia yang tidak adil baginya.
Rumah dengan pagar besi berwarna merah tampak sunyi tidak membuat jantung Aulia berhenti berdegup kencang tidak karuan. Semakin ia mendekati pintu depan rumah, semakin kencang jantungnya berdegan dan keringat dingin menyerang kedua tangan Aulia yang kurus.
“Assalamu’alaikum,” ucap Aulia dengan ragu.
Zahwa mengangguk memberi dukungan padanya dan menyembunyikan diri di balik tembok rumah.
“Wa'alaikum salam,” balas suara wanita muda yang tidak lain adalah adik Aulia.
“Mbak Aulia,” ujar sang adik dengan kaget.
Aulia masuk dengan ragu menyeret tas bepergian dia yang besar. Vina hanya berdiri bengong melihat sang kakak membawa tas besar dengan tas ransel juga tas selempang. Tanpa kehadiran orang tuanya, Aulia melangkah semakin ke dalam rumah menuju kamarnya.
“Aulia,” Wajah terkejut sang ayah sama dengan sang adik saat melihat kehadiran dia dengan tas yang ia bawa.
“Ayah,” sapa Aulia.
“Apa itu? Mengapa kau …?” tanya sang ayah.
“Aku keluar dari rumah suamiku,” jawab Aulia.
“Apa maksudmu? Kenapa?”
Belum sempat Aulia menjawab pertanyaan sang ayah, ibu Aulia bergabung dengan mereka di ruang tamu dengan mata terbelalak kaget.
“Apa itu?” tanya sang ibu.
“Mbak, keluar dari rumah Mas Angga,” jawab Vina.
“Apa maksudnya?” tanya si ibu.
“Aku akan mengajukan cerai ke Mas Angga karena ….”
“Apa kau gila?!” Belum Sempat Aulia menyelesaikan perkataannya, si ibu sudah memotong dengan nada tinggi.
“Aku tidak mau ….”
Lagi-lagi Tina memotong perkataan putrinya tanpa memberi ruang ke sang putri untuk menyelesaikan perkataan.
“Rumah tangga itu kau kira mudah? Tidak, semua rumah tangga pasti ada ujiannya. Hanya karena kau tidak diberi uang belanja dan lelah dengan sikap cerewet mertuamu tidak lantas kau bisa mengajukan cerai begitu saja.”
“Mas Angga akan menikah lagi,” teriak Aulia.
“Apa?”
“Aku tidak mau di madu dan memilih untuk meninggalkan rumah,” ujar Aulia.
“Mengapa?” tanya Tina tidak jelas.
“Apa ibu ingin aku di madu? Apa tidak masalah jika aku memiliki madu?” tanya Aulia.
“Bukan … bukan itu … mengapa dia akan menikah lagi?” tanya Tina. “Apa yang sudah kau lakukan sampai membuat suamimu memilih untuk menikah lagi? Apa kau menjadi istri yang culas dan menolak untuk melayani hasrat suamimu karena tidak diberi uang belanja?”
Aulia harusnya tidak terkejut dengan tuduhan demi tuduhan yang katakan oleh sang ibu. Meski begitu, rasanya tetap sakit saat ibu yang melahirkanmu tidak membelamu dan lebih memilih menyudutkan putrinya dibanding memeluk dan bertanya.
“Tepatnya, apa yang belum aku lakukan sampai membuat Mas Angga akan menikah lagi,” ujar Aulia.
“Apa yang memangnya yang belum kau lakukan? Sudah aku bilang meski dia tidak memberi uang belanja kau tetap harus melakukan apa yang diminta oleh suamimu,” Lagi-lagi Tina menuduh sang putri alih-alih membelanya.
“Kehamilan di luar kuasaku, Bu!” ujar Aulia dengan perasaan tersayat.
“Apa? Kehamilan apa?” tanya Tina dengan wajah bengong.
“Aku dimadu karena aku tidak kunjung hamil,” jelas Aulia.
Sekali lagi, Tina yang tidak pernah benar-benar peduli dengan perasaan sang putri menyudutkan Aulia.
“Makanya, kau seharusnya pergi periksa ke dokter agar mendapatkan vitamin untuk membuat kau cepat hamil,” kata Tina tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Ibu … bagaimana kau … aku sungguh tidak percaya, kalau kau lebih membela orang lain dibandingkan putrimu sendiri,” ucap Aulia dengan air mata yang berlinang.