Pagi itu, langit tampak mendung, seperti mencerminkan perasaanku. Di ruang tamu yang sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang terdengar begitu keras. Cangkir kopi yang telah lama kupandang, kini sudah hampir dingin, tak ada satu pun yang bisa menghangatkannya. Aku duduk di sofa dengan tubuh kaku, pikiran berputar-putar, terjebak dalam kebingunganku. Dimas, suamiku, sudah hampir 24 jam tak pulang, dan meskipun aku sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, teleponnya tidak pernah dijawab. Ada yang aneh. Sesuatu yang tidak beres. Aku bisa merasakannya.
Ponselku bergetar tiba-tiba, dan jantungku berdegup cepat. Nama Dimas muncul di layar. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengangkatnya. "Dimas?" suaraku bergetar, harapanku semakin tinggi. "Kenapa kamu belum pulang? Kamu di mana?"
Di ujung sana, ada keheningan sejenak, seperti Dimas tengah berusaha mencari kata-kata. "Rina, kita perlu bicara," jawabnya, suaranya terdengar tegang, berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang tidak beres dengan cara dia berbicara. Semakin aku mendengar suaranya, semakin aku merasa cemas.
"Ada apa, Dim? Kamu kenapa?" tanyaku, berusaha menahan kepanikan yang mulai menguasai diri.
"Dengar, aku-" Suaranya terputus, dan aku bisa mendengar bisikan lain di latar belakang, suara lembut yang terasa asing. "Aku akan pulang sebentar lagi. Ada yang harus aku jelaskan."
Dengan perasaan tidak menentu, aku menunggu kedatangannya di ruang tamu. Setiap detik terasa begitu lama, sementara pikiran buruk semakin membebani otakku. Aku tidak tahu mengapa, tapi hatiku sudah bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang sangat salah. Dimas kembali terlambat pulang, dan nada bicara serta sikapnya semakin berbeda. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara pintu depan terbuka. Dimas muncul di ambang pintu, namun ada sesuatu yang terasa aneh. Ada ketegangan yang jelas di wajahnya, dan di sampingnya, berdiri Nadia-sahabatku, yang sejak awal sudah kuanggap sebagai teman dekat, seperti saudara. Matanya tak berani menatapku, dan tubuhnya tampak kaku, seolah terperangkap dalam kebisuan yang tak bisa diungkapkan.
Aku berdiri dari sofa, terkejut melihat mereka berdua berdiri bersama di sana. "Kalian berdua..." aku hampir tak bisa mengucapkan kata-kata itu, merasa cemas dan bingung. "Ada apa ini, Dimas?"
Dimas melangkah maju, wajahnya tampak serius dan penuh penyesalan. "Rina," katanya dengan suara pelan. "Kita harus bicara. Ini bukan hal yang mudah untuk dijelaskan."
Aku merasa jantungku berpacu semakin cepat, tetapi aku mencoba untuk tetap tenang. "Bicara tentang apa?" jawabku, mencoba menyembunyikan ketakutanku di balik suaraku yang tegas. "Kenapa kamu membawa Nadia ke sini? Apa yang sedang terjadi?"
Nadia menundukkan kepala, tak sanggup bertemu mataku. "Rina," suara Nadia mulai terdengar pelan, "aku tahu ini sangat sulit, tapi... aku dan Dimas-kami sudah menikah."
Kalimat itu menghempasku bagaikan badai besar yang mengguncang seluruh tubuhku. Aku merasa dunia tiba-tiba berhenti berputar. "Apa?" aku bergumam, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. "Apa maksudmu menikah? Kalian... kalian berdua?"
Dimas menggigit bibir bawahnya, tampak kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya. "Kami menikah, Rina," katanya dengan suara serak. "Secara siri. Kami sudah melakukannya beberapa waktu lalu."
Perasaan campur aduk muncul begitu saja-marah, kecewa, dan tidak percaya. "Kamu... kamu menikah diam-diam dengan sahabatku, Dimas?" Aku merasa tubuhku mulai bergetar, dan mulutku terasa kering. "Bagaimana bisa kamu lakukan ini, setelah semua yang kita bangun bersama?"
Dimas menunduk, seakan tak sanggup menatapku. "Rina, ini... ini bukan apa yang kamu pikirkan. Semua ini... aku terjebak," katanya, suaranya penuh penyesalan. "Aku tak tahu harus bagaimana, tapi yang jelas, ini bukan keputusan yang mudah. Aku masih mencintaimu, Rina. Tapi Nadia... dia hamil, dan kami memutuskan untuk menikah secara siri."
Setiap kata yang keluar dari mulut Dimas terasa seperti sembilu yang menusuk langsung ke hatiku. "Jadi, ini semua demi anak?" ujarku dengan nada kecewa. "Kamu memilih dia, Dimas, memilih untuk menikah diam-diam dengan sahabatku, dan aku harus menerima kenyataan ini?"
Nadia akhirnya mengangkat kepalanya, matanya basah, dan suara yang keluar dari bibirnya terkesan hampir tidak terdengar. "Rina, aku tahu ini salah. Tapi aku-kami tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Aku... aku mencintai Dimas, dan dia juga merasa hal yang sama."
Aku menatap mereka berdua, hatiku seakan terbelah. "Jadi selama ini, aku hanya dianggap sebagai pelengkap, bukan?" tanyaku, suaraku bergetar karena menahan emosi yang meluap-luap. "Kalian berdua sudah merencanakan ini, tanpa memberiku kesempatan untuk tahu. Apa yang aku lakukan salah? Apa cinta kita tidak cukup, Dimas?"
Dimas membuka mulutnya, mencoba mencari kata-kata yang bisa menjelaskan semuanya, tapi aku tak bisa lagi mendengarnya. Aku merasa perasaan itu sudah menghilang. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. "Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan lagi," jawab Dimas dengan suara lemah, hampir tidak terdengar.
"Jangan katakan apa-apa lagi, Dimas," ujarku tajam. "Aku... aku tidak bisa terus seperti ini. Aku butuh waktu. Waktu untuk memikirkan semua ini."
Tanpa menunggu jawaban, aku berbalik dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Setiap langkahku terasa berat, seolah bebannya semakin menekan dada. Aku menutup pintu kamar dan merosot ke lantai, terisak. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku tahu satu hal-hidupku tak akan pernah sama lagi.
Aku duduk di lantai kamar, menundukkan kepala dan membiarkan air mataku jatuh begitu saja. Rasa sakit yang datang begitu mendalam, lebih dari yang pernah aku bayangkan. Aku tidak tahu berapa lama aku terdiam seperti itu, hanya berusaha menenangkan diri, tapi setiap kali aku memikirkan wajah Dimas, dan tatapan kosong dari Nadia, rasa sakit itu datang lagi. Seolah ada lubang besar yang menganga di dadaku, menyedot semua harapan dan kebahagiaan yang pernah ada.
Setelah beberapa waktu, aku bangkit dengan susah payah. Kamar ini, yang dulunya terasa begitu hangat dan penuh kenangan indah, kini terasa asing. Setiap sudutnya seolah mengingatkanku pada kebohongan yang telah dipendam, pada janji-janji manis yang kini terasa kosong.
Aku menghapus air mata yang membasahi pipi, mencoba untuk berpikir jernih. Aku harus membuat keputusan. Tidak mungkin aku terus hidup dalam kebingungan seperti ini, terus terperangkap dalam pengkhianatan yang telah mengoyak hatiku. Tapi, entah mengapa, pikiranku kembali teringat pada Dimas. Apa yang membuatnya begitu tega melukai aku dan memilih Nadia? Apakah dia benar-benar mencintaiku? Atau semuanya hanya kebohongan belaka?
Aku keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang tamu. Di sana, Dimas dan Nadia masih duduk, berbicara pelan, namun aku bisa merasakan ketegangan yang semakin menebal di udara. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan lagi padaku. Hati mereka mungkin penuh penyesalan, tapi itu tidak cukup untuk menghapus luka yang kini menganga di hatiku.
"Nadia, Dimas," aku memanggil mereka dengan suara serak. "Aku ingin tahu satu hal." Aku berhenti sejenak, mencoba menenangkan diriku, tapi air mata yang tak kunjung berhenti membuat kata-kataku hampir terhenti. "Kenapa kalian berdua memilih jalan ini? Kenapa harus menyembunyikan semuanya dariku? Apa aku tidak cukup berarti bagimu, Dimas?"
Dimas menatapku dengan mata penuh penyesalan, namun itu tak mengurangi rasa sakit yang ada di hatiku. "Rina, aku tahu aku salah. Aku benar-benar menyesal," katanya dengan suara parau. "Ini bukan keputusan yang mudah. Aku terjebak dalam keadaan yang sulit. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku masih mencintaimu. Aku hanya... aku hanya merasa bingung, dan aku tidak tahu bagaimana cara keluar dari semuanya."
"Benarkah?" jawabku, suara penuh kepahitan. "Kamu merasa bingung, dan itu membuatmu menikahi Nadia secara diam-diam? Bagaimana dengan semua janji yang kamu buat? Apa kamu hanya berkata seperti itu agar aku bisa memaafkanmu begitu saja?"
Nadia menunduk, tidak berani menatapku. "Rina, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak pernah berniat untuk menyakiti kamu. Tapi... aku mencintai Dimas. Kami berdua... kami berdua hanya ingin punya anak, dan itu yang membuat kami mengambil keputusan ini. Aku tahu ini salah, dan aku minta maaf."
Tapi aku tak bisa mendengarnya lagi. Kata-kata itu tak lagi berarti apa-apa. "Kamu tahu, Nadia," aku berkata dengan suara yang teramat keras, "saat aku melihat kalian berdua tadi, aku merasa seolah ada sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku yang hilang begitu saja. Aku merasa sangat bodoh, sangat naif, telah mempercayakan persahabatan kita. Aku tahu kamu sahabatku, tapi ternyata kamu bukan orang yang bisa aku percayai."
Aku merasakan sesuatu yang sangat pedih di dadaku saat mengucapkan kata-kata itu. Aku tak pernah menyangka sahabat yang kuanggap sebagai saudara akan mengkhianatiku seperti ini. Aku merasa sangat kehilangan, dan dalam perasaan itu, aku mulai merasa kebingungan. Bagaimana bisa aku begitu terperangkap dalam semua ini? Bagaimana bisa seseorang yang pernah aku anggap sebagai teman, serta suamiku, bisa melakukan ini padaku?
Dimas mendekat, ingin meraih tanganku, namun aku menarik tangan itu begitu cepat, tidak memberi kesempatan padanya. "Jangan, Dimas," aku berkata dengan nada terputus-putus. "Jangan coba mendekat. Aku sudah lelah dengan semua ini."
Aku berjalan menuju pintu depan, berusaha menenangkan diri. "Aku butuh waktu," aku melanjutkan, dengan suara yang tegang. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, tapi aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Aku... aku tidak bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja."
Dimas berdiri terpaku, wajahnya penuh penyesalan, namun aku bisa melihat ada sedikit keputusasaan di sana. "Rina, jangan pergi. Tolong, kita bicarakan ini," katanya dengan suara parau. "Aku benar-benar mencintaimu. Ini semua... aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Jangan katakan itu padaku, Dimas," jawabku tajam. "Kamu sudah memilih jalanmu, dan aku harus memikirkan apa yang terbaik untuk diriku. Cinta yang kamu tawarkan sekarang... tidak cukup untuk menghapus rasa sakit ini."
Aku membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Aku tidak ingin melihat mereka berdua lagi. Tidak sekarang. Hanya keheningan yang menemani langkah kakiku. Setiap langkah terasa berat, dan aku tahu aku tidak bisa kembali ke kehidupan yang dulu. Semua telah berubah.
Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan yang sama beratnya. Aku duduk di pinggir tempat tidur, mencoba memikirkan langkah berikutnya, namun semuanya terasa kabur. Aku tak bisa lagi mempercayai apa yang ada di sekitarku. Dimas, Nadia, dan bahkan diriku sendiri. Semuanya terasa asing.
Aku meraih ponsel dan membuka pesan yang belum sempat kubaca semalam. Ternyata ada pesan dari teman-temanku, yang merasa khawatir setelah tidak mendengar kabar dariku. Aku hanya membalas dengan kata-kata singkat, memberitahukan mereka bahwa aku sedang baik-baik saja. Padahal, di dalam hati, aku benar-benar bingung. Tidak ada yang baik-baik saja. Semuanya terasa gelap.
Aku tahu aku harus memilih. Terus bertahan dalam hubungan yang penuh luka ini atau memilih untuk meninggalkan semuanya dan mencari kebahagiaanku sendiri. Tetapi bagaimana jika aku sudah terlalu terluka untuk mempercayai cinta lagi?
Pagi itu terasa hampa. Matahari yang bersinar terang seakan tak mampu mengusir awan kelabu yang melingkupi pikiranku. Aku duduk di meja makan, menatap kosong secangkir kopi yang belum tersentuh. Dulu, aku suka menikmati pagi-pagi seperti ini bersama Dimas. Kami akan berbicara tentang apa yang terjadi semalam, merencanakan hari ini, saling tersenyum dan berbagi tawa. Namun sekarang, semua itu terasa begitu jauh, seolah kenangan itu hanya milik orang lain.
Setiap kali aku mencoba untuk berpikir jernih, bayangan Dimas dan Nadia selalu muncul. Mereka berdua, bersama-sama, dalam rahasia yang mereka simpan dari aku selama ini. Aku merasa dikhianati, bukan hanya oleh suamiku, tetapi juga oleh sahabat yang telah aku percayai lebih dari apapun. Apakah cinta mereka lebih besar dari persahabatan kita? Apakah aku hanya menjadi figur yang terlupakan dalam permainan mereka?
Aku menarik napas dalam-dalam dan menatap jam dinding. Waktu terus berjalan, dan aku tidak bisa terus terjebak dalam keraguan dan kesedihan ini. Aku harus membuat keputusan. Aku harus memutuskan apakah aku akan terus bertahan dalam pernikahan yang penuh kebohongan ini, ataukah aku akan berani melepaskan diri dan mencari kebahagiaan sendiri.
Pikiranku terus melayang, berusaha menemukan jawaban, namun tiba-tiba teleponku berbunyi. Nama Dimas muncul di layar. Hatiku berdetak lebih cepat, tetapi aku menahan diri untuk tidak segera mengangkatnya. Aku menatap telepon itu, ragu-ragu. Apa yang bisa dia katakan padaku? Apakah ada yang bisa mengubah perasaan hatiku?
Aku menekan tombol untuk menolak panggilan tersebut dan melemparkan ponsel ke atas meja. Hatiku terasa penuh amarah, tapi juga ada secercah perasaan bingung yang terus mengganggu pikiranku. Aku ingin mendengarkan apa yang ingin Dimas katakan, tapi di saat yang sama, aku juga takut akan lebih terluka jika mendengarnya.
Tak lama setelah itu, pintu depan terdengar diketuk pelan. Aku tahu itu pasti Dimas. Hanya dia yang datang begitu pagi tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Aku merasa dadaku sesak, tak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus membuka pintu dan menghadapi kenyataan? Atau aku bisa memilih untuk mengabaikannya dan terus melanjutkan hidupku tanpa dia?
Dengan perasaan cemas, aku akhirnya berjalan menuju pintu dan membukanya. Dimas berdiri di sana, wajahnya tampak kelelahan, dengan mata yang dipenuhi penyesalan. Ia memakai pakaian yang sama seperti semalam, seolah tidak tidur semalam karena berpikir tentang semuanya. Aku bisa melihat dari ekspresinya bahwa dia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Aku tahu kamu pasti marah, Rina," kata Dimas pelan, suaranya serak. "Tapi, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."
Aku menatapnya dengan tatapan yang tajam, berusaha menahan semua perasaan yang ingin meledak. "Menjelaskan? Apa yang bisa kamu jelaskan, Dimas? Semua sudah jelas. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kamu menikahi Nadia secara diam-diam, dan selama ini kamu menyembunyikan semuanya dariku. Apa lagi yang perlu dijelaskan?" aku berkata, suaraku naik tak terkendali, penuh amarah.
Dimas terdiam, tidak berani membalas kata-kataku. Aku tahu dia merasa bersalah, tapi itu tidak mengurangi rasa sakit yang terus merobek hatiku. Aku merasa seperti tubuhku tertarik ke dalam sebuah pusaran emosi yang tidak bisa kuendalikan. Di satu sisi, aku ingin mendengarkan penjelasannya, tetapi di sisi lain, aku tahu bahwa apapun yang dia katakan tidak akan bisa memperbaiki apa yang telah dia hancurkan.
"Aku tahu, aku salah, Rina. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Aku... aku merasa terjebak. Nadia... dia mengandung anakku, dan aku merasa harus melakukan sesuatu untuk tanggung jawab itu. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku masih mencintaimu. Aku hanya tidak tahu bagaimana keluar dari situasi ini," ujar Dimas dengan suara yang penuh keputusasaan.
Aku menggelengkan kepala, merasa seolah semua kata-kata itu hanyalah sebuah alasan. "Kamu bisa memilih jalan yang lebih baik, Dimas. Kamu bisa memilih untuk jujur, untuk berterus terang sejak awal. Tapi kamu malah memilih untuk membohongi aku. Apakah itu cara kamu mencintaiku?"
Dimas melangkah maju, mendekatiku, namun aku mundur sedikit, menjaga jarak di antara kami. "Rina, tolong dengarkan aku. Aku tahu aku tidak bisa menghapus semua kesalahan yang telah kulakukan. Tapi aku minta kesempatan untuk memperbaikinya. Aku ingin kita mulai lagi, aku ingin kita bisa bersama, seperti dulu."
Suara Dimas terdengar penuh harapan, tetapi itu hanya membuatku semakin terluka. Aku menatapnya, mencari jawaban, tetapi semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa kosong. Apa yang bisa memperbaiki semuanya? Apa yang bisa mengembalikan kepercayaan yang telah hancur begitu saja?
"Aku tidak tahu, Dimas," aku berkata pelan, suaraku hampir tak terdengar. "Aku tidak tahu apakah kita masih bisa kembali seperti dulu. Aku merasa sangat dikhianati. Aku merasa seperti aku tidak mengenalmu lagi. Semua yang kita bangun bersama, semua kenangan itu, kini terasa seperti kebohongan."
Dimas terdiam, dan aku bisa melihat ada air mata yang mulai muncul di pelupuk matanya. Dia tampak sangat menyesal, tetapi itu tidak cukup untuk membuatku mengubah keputusan. Aku merasa seperti aku sedang berdiri di tepi jurang, harus memilih untuk melompat atau mundur.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengangkat kepala, mencoba menenangkan diri. "Aku butuh waktu, Dimas. Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku tidak tahu apa yang akan aku putuskan. Tapi yang pasti, aku tidak bisa terus hidup dalam kebohongan ini."
Dengan langkah yang lambat, aku menutup pintu dan kembali masuk ke dalam rumah. Aku merasa tubuhku begitu lelah, dan hatiku terasa sangat berat. Sementara itu, Dimas tetap berdiri di luar, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku merosot ke sofa, menatap langit-langit, berusaha mengusir semua pikiran yang berlarian di kepalaku. Satu-satunya hal yang aku tahu adalah bahwa hidupku telah berubah, dan aku harus memutuskan ke mana aku akan melangkah selanjutnya. Apakah aku akan tetap bersama Dimas, berusaha memperbaiki semuanya, ataukah aku akan melepaskan diri dari semua kebohongan ini dan mencari jalan kebahagiaanku sendiri?
Semuanya terasa begitu gelap, dan aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk menghadapi semuanya.