"Airy tadi lo dipanggil kenapa?" Reyna Khawatir ada masalah.
"Bu Miranda kan mau cuti melahirkan, jadi nanti kelas Les sepulang sekolah gue yang ambil alih. Ngajar kelas 1."
"Ooooh. Baguslah, biar pikiran lo gak ngejar Nick mulu. Cape gue liatnya."
"Gue harus pastiin sendiri kalau Nick gak ada perasaan buat gue. Bagaimana kalau gue tembak saja ala-ala romantis. Gue akan buat acara nembak yang seru, lo tolong rekam aksi gue!"
"Airiiiiii, lo yakin bakalan diterima? Lo kok pede banget sih? Hati lo terbuat dari apa sih? Mental lo gue acungin jempol sih!"
"Gue gak yakin tapi gue harus melakukan hal ini. Kalo gak melakukannya gue bakalan penasaran. Jadi dukung gue ya?" Mata Airy berbinar-binar minta dukungan. Siapa yang gak luluh melihat mata manis Airy yang selalu ikut tersenyum.
"Airy, lo tahu kan kalo gue sayang sama lo, gue sahabat lo. Gue dukung apa yang lo mau. Nanti gue ajak Nara juga."
"Nah begitu dong. Nanti gue kasih tahu bagaimana gue mau nembak Nick!"
"Hmm," Rayna merasa kasihan dengan semangat Airy yang salah orang. Reyna cuma bisa menatap sedih sahabatnya, ia tak yakin Nick bisa berubah 180 derajat dengan cepat.
"Nick, pacar lo itu dan nungguin di luar kelas. Hehehhe." Goda Winny. Airy selalu keluar paling cepat hanya untuk duluan ke depan kelas Nick. Ia selalu mengantar Nick sampai mobilnya dan berpamitan. Ritualnya setiap hari selain setiap pagi menunggu Nick di depan gerbang dan mengantar Nick ke kantin.
Padahal tak pernah mendapatkan perhatian dari Nick tapi ia gigih melakukannya. Sepanjang koridor sekolah Airy bakalan bercerita tentang apa pun yang ia alami atau ia tonton di tiktok. Nick tanpa respon hanya menatap ke depan.
"Apaan sih lo, gue gak punya pacar!"
"Jangan begitu, Airy itu lucu loh. Jangan nyesel ya kalau ada yang nikung. Udah jadi inceran banyak cowok-cowok loh."
"Gue bakal berterima kasih kalo ada yang bisa ngalilhin perhatian dia ke gue."
"Dasar habek, hati beku!" umpat Winny.
****
Airy sudah merencanakan acara nembak Nick dengan baik. Ia memikirkan semuanya sampai tak bisa tidur. "Rayna tolong rekam dan Nara tolong pegang tulisan ini ya. Nanti kalo gue sudah berdiri depan Nick, sudah merekam dan pasang lagu ya Rayna. Terus Nara pegang tulisannya. Tunggu sampai gue selesai ngengkapin perasaan gue."
"Lo kasih apa buat jawab iya apa enggak?" Tanya Reyna.
"Ini gue sudah beli bunga mawar. Kalo terima ambil mawarnya kalo enggak ya gak usah diambil."
"Lo yakin Airy?" tanya Nara meyakinkan lagi. "Masih belum terlambat kalau lo mau mundur dan batalin."
"Yakin, gue harus pastikan lebih cepat."
"Ya sudah semoga ini lebih baik cepat ketahuan."
Biasanya sepulang sekolah Nick suka bermain gitar di depan ekskul musik. Airy berencana menembak Nick di sana. Dengan bantuan Rayna dan Nara. Juga beberapa teman sekelasnya.
"Itu Nick sudah di posisi ya. Gue ke sana, sesudah gue kasih kode kalian pada ke sana ya. Inget tugas masing-masing. Dan yang lain kalo sudah ada jawaban kasih confeti ya?" atur Airy
Dengan percaya diri Airy berjalan menghampiri Nick yang sedang sibuk dengan gitar akustiknya.
"Hay Nick, aku perlu beberapa menit waktu lo ya. Sebentar saja." Sapa Airy sambil mengemukakan kata pembukaan.
"Hmmm.." Nick hanya mendehem. Airy segera berdiri didepan Nick, sambil mengeluarkan bunga mawar merah dari belakang tubuhnya. Nick sedikit terkejut.
"Nick, lo tahu kan perasaan gue sama lo, gue gak bisa lebih lama lagi nyembunyiin perasaan gue dan gue mau menyatakan cinta gue sama lo. Nick lo mau gak jadi pacar gue? Ambil mawar ini kalau lo terima cinta gue." Sebut Airy panjang dalam satu nafas.
Rayna sudah merekam aksi Airy. Nara memegang tulisan poster buatan Airy dan beberapa teman sekelas menunggu aba-aba menarik confeti.
Nick memandang mata Airy tajam, hingga ia sadar jika Airy memiliki mata coklat yang indah, senyum Airy sungguh sangat manis.
Tangan Nick melepas gitar dan mengambil mawar dari tangan Airy. Tapi mengambilnya dari atas. Airy tersenyum melihat Nick mengambil mawar sebagai jawaban.
Tapi tidak sampai situ, Nick meremas mawar yang ada ditangannya. Nick menolak Airy mentah-mentah.
"Jangan pernah lagi lo tanya pertanyaan itu! Gue gak akan menerima cinta lo." Nick menjawab dengan suara berat dan menusuk. Ia sungguh-sungguh, menghancurkan mawar, sebenarnya bukan pilihan untuk menolak, tapi Nick tampak kesal dengan kelakuan Airy.
Tak lama confeti tetap di tarik karena perintahnya adalah sesudah ada jawaban di tarik. Nick berharap Airy sedih dan mundur selamanya dengan reaksinya.
Tapi bukan Airy namanya jika reaksinya seperti orang normal. Airy malah gagal fokus karena melihat telapak tangan Nick berdarah tertusuk duri mawar.
"Jangan Nick! Tangan lo berdarah! Buang Nick! Biar gue obatin tangan lo." Airy malah merebut bunga hancur itu dan membuangnya, ia mengambil slayer dari dalam tasnya dan membersihkan tangan Nick. Lalu menyiramnya dengan air mineral.
"Nick tangan lo tergores. Seharusnya lo ga usah meremas mawar cantik itu. Kalo lo nolak ya nolak saja, jangan kaya gini tangan lo jadi luka karena gue." Airy panik dan raut wajahnya sedih melihat Nick berdarah. Dan merekatkan tensoplas berwarna pink yang selalu ada ditasnya.
"Sudah gue bisa urus sendiri." Nick mendorong Airy sampai terjengkang kebelakang.
"Nick! Lo ga usah kasar kaya begitu!" Nara gak sabar lagi dengan perbuatan Nick. Nick hanya berdiri dan meninggalkan Airy di sana tanpa membantunya bangun dari lantai.
"Sudah Nara, gak apa-apa. Yuuk balik. Misinya gagal ya teman-teman. Tapi lo tetap rekam kan Airy? Buat dokumentasi, lain kali gue bikin lebih baik lagi. Mungkin ini terlalu sederhana." Senyum Airy yang membuat Rayna dan semua yang ada di sana gemes dengan reaksi Airy.
"Yuuk gue traktir makan di kantin." Ajak Nara sekedar menghibur Airy.
"Airy, are you ok?"tanya Rayna
"Iya gue baik-baik saja. Salahnya di mana ya tadi? Apa kurang romantis? Lagunya salah?" Airy masih berpikir keras mengevaluasi apa yang ia lakukan barusan.
"Airy, gak ada yang salah. Itu sudah cukup romantis kok. Gak lebay. Tapiiii... emang Nick gak mau jadi pacar lo. Stop sampai sini saja yaa..." sekali lagi Rayna menasehati Airy.
"Gak bisa Rayna, ini perjuangan. Batu saja di tetesin air lama-lama bolong. Sama kaya hati manusia, lama-lama bisa luluh kok." Senyum Airy.
"Gue sudah tahu jawaban lo bakal kaya gini. Mau sampai kapan hanya elo dan Tuhan yang tahu."
Rayna dan Nara hanya geleng-geleng kepala gak tahu lagi cara mematikan semangat Airy untuk menjadi pacar Nick.
"Airy... ada anak baru di kelas Nick loh. Cakep! Hehehhe.."
"Hmmm,"
"Iiih begitu saja. Lihat yuk, kali saja keren. Lumayan buat gantiin Nick."
"Gak ah, gue itu setia." Tampik Airy teguh pada pendirian Nick adalah segalanya.
"Ah gak asyik lo, kan cuci matalah. Melihat yang seger-seger. Aaakh.. aaah.. sakit Nara. Ampun." Rayna di jewer Nara dari belakang yang dengar apa yang dikatakan Rayna.
"Bagus ya, bisa-bisanya ngomongin cowok lain! Sini lo harus gue hukum!" Nara menarik Rayna dalam pelukannya dan membawanya ke kantin.
"Aaakh.. tolong Airy!"
"Ahahaha... sukurin. Hajar saja Nara! Celamitan itu! Hahaha.." Airy puas ngomporin Nara yang posesif dan cemburuan.
Dikelas Nick...
"Halo, nama gue Mark. Gue duduk sebelah lo ya?"
"Duduk saja kosong kok." Jawab Nick ramah.
"Kamar mandi di mana sih?"
"Lo keluar kelas ke kanan terus mentok belok kanan lagi."
"Oh terima kasih gue ke sana dulu."
Mark hendak membuang hajatnya tapi diperjalanan menuju sana ia berpapasan dengan Airy. Tak sengaja tabrakan seperti di film-film romantis.
"Ups! Sorry gue gak melihat jalan. Sakit gak?" Mark terkejut dan merasa bersalah.
"Eh, gak papa kok. Santai saja. Yuk gue duluan." Jawab Airy yang ketabrak oleh Mark.
"Wow.. cantik banget..." memandang sampai Airy hilang dari tikungan lorong sekolah.
Mark kembali ke kelasnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Eh Woy, Nick. Tadi gue melihat cewek imut banget, cantik sekaligus manis. Gue harus tahu namanya dan nomor hpnya. Dan selebihnya harus jadi pacar gue."
"Woooowww... sabar baru juga lo sehari di sekolah ini. Banyak pilihan."
Besoknya Mark mencari sosok yang dia tabrak kemarin, harus tahu siapa namanya dan kelas berapa. Kebetulan Airy sakit 3 hari dan gak masuk sekolah. Pencarian Mark sia-sia.
Sampai suatu hari di kantin sekolah.
"Nick, itu yang gue bilang imut dan lucu!" Mark menunjuk ke pojok kantin.
"Oh Rayna namanya. Jangan sudah ada pawangnya. Galak sama posesif. Cari yang lain."
"Lo yakin itu dia?"
"Yang pakai sepatu putih kan?"
"Bukaaan.. sebelahnya yang pakai sepatu hitam!"
"Heeemm, sepatu hitam? Itu Airy, yakin lo bilang dia manis?" tanya Nick menyakinkan.
"Lo jangan lihat pakai mata biasa tapi pakai mata hati. Dia itu berlian dalam lumpur tahu gak! Lo kenal ga? Kenalin dong."
"Gue kenal tapi males ngenalin ke elo. Lo kenalan saja sendiri. Gue saranin jangan sama dia."
"Kenapa?"
"Dia obsesi sama salah satu murid di sini, dan kayanya susah untuk kelain hati. Tapi kalo lo bisa ambil hatinya sih hebat."
"Okey deh, tunggu sini!" dengan meyakinkan Mark berjalan mendekati Airy, Nick tak menyangka Mark tak patah semangat dengan Airy.
"Gila si Mark, apa yang dia lihat sih dari Airy? Aneh!" Tapi Nick tak melepaskan pandangannya dari Airy.
Sementara Rayna sadar jika Mark mendekati meja mereka. Nara sedang ke kamar mandi bisa murka kalau sampai lihat Mark di meja mereka.
"Hay, maaf gue anak baru di sini. Nama gue Mark. Boleh kenalan gak?" Mata Mark tertuju hanya pada Airy, Rayna menyadarinya.
"Boleh... boleh banget. Duduk sini saja." Yang jawab Rayna sambil memberikan kursinya untuk Mark
"Eh Rayna ngapain sih lo?" Airy panik
"Nama lo siapa?" tanya Mark pada Airy
"Eh nama gue Rayna dan ini sobat gue namanya Airy. Salaman dong Airy. Hehhe." Rayna menyenggol Airy yang masih bingung
"Airy."
"Gue Mark. Kapan-kapan ajak gue school tour dong. Sekalian lihat ekskul apa saja sama sport apa saja."
"Kok kapan-kapan, nanti saja pas pulang sekolah. Sekarang kan Sabtu jadi semua ekskul lagi latihan. Hari ini lo gak kasih bimbingan kan sama kelas 1 Airy."
"Boleh nanti habis jam selesai gue ke kelas lo. BTW kelas lo yang mana?"
"Itu yang pojok. Jemput di sana saja. Jangan telat." Rayna tetap semangat padahal katanya tadi mau jalan.
"Apa Airy pemalu sampai perlu juru bicara?" senyum Mark menawan.
"Gak perlu, Rayna aja cerewet banget. Ya sudah nanti gue ajak lo school tour." Jawab Airy ramah. Pada dasarnya Airy itu baik dan ramah. Banyak yang suka dan sayang sama Airy sebagai teman.
"Yes, gue balik ke sana dulu ya.. sampai nanti."
Mark kembali ke meja Nick dengan senyum-senyum sendiri.
"Nick! Sukses Nick, gue langsung di ajak school tour nanti setelah jam pelajaran selesai. Gue harus terima kasih sama sobatnya Airy yang suport gue banget. Kata orang kalo mau sama orang deketin dulu sabahatnya. Ternyata benar begitu. Hehehhe."
Nick cuma diem, ia merasa sedikit kesel karena Airy begitu saja nerima ajakan Mark. Tapi Nick terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Hari-hari berikutnya Mark semakin gencar mendekati Airy dan sepertinya Airy tak merasa terganggu dengan perhatian Mark. Memang karena ada Mark, pendekatan Airy pada Nick sedikit berkurang. Airy tak lagi menunggu di gerbang dan bercerita di sepanjang koridor sekolah. Juga menunggu Nick ketika pulang sekolah.
Karena Mark yang melakukan semuanya kepada Airy. Rayna dan Nara sangat mendukung apa yang Mark lakukan pada Airy. Sepertinya ini cara agar Airy lupa sama Nick.
"Nick, boleh bicara sebentar ga?" cegat Airy ketika bertemu dengan Nick.
"Iya ada apa?"
"Lo apa kabar? Soal kemaren lalu maaf ya. Cara gue mungkin salah dan bikin lo gak nyaman. Lain kali gue ulang ya. Bolehkan?"
"Hemmm.." Nick sedikit bingung, Nick pikir Airy sudah mabuk kepayang sama Mark, tapi kok sepertinya Airy masih suka sama dia.
"Serius Nick? Terima kasih ya. Sabar ya gue akan cari cara yang paling romantis."
"Lo akhir-akhir ini sibuk banget sama Mark ya?" tertumben Nick bertanya pada Airy.
"Ah iya itu, Mark. Gue jadi tahu bagaimana rasanya jadi elo Nick. Hihii.. gue jadi seperti ngaca melihat gue sendiri memperlakukan lo. Hihihi."
"Airy! Lo ngapain di sini? Itu Mark nyariin mau ngasih pesanan lo! Yuuk!" Rayna sengaja menegaskan perkataannya biar Nick dengar.
"Nick, kekelas duluan ya. Bye."
"Lo ngapain tadi sama Nick? Mulai lagi ya lo kecintaan sama dia?"
"Apa sih Rayna, tadi gue minta maaf soal kemaren. Dan gue janji akan melakukannya lebih baik."
"Apaaaa? Lo gila ya? Lo bucin parah! Kenapa lo yang minta maaf dan mau ngulangin lagi? Sakit lo!"
"Sudah sih ah. Jangan ribut."
"Terus lo anggap apa usaha Mark? Usaha gue sama Nara?"
"Maaf deh gue bikin lo kesel."
"Ya sudah deh, gau usah minta maaf. Gue cuma minta lo jangan kecewain Mark dia juga gak salah apa-apa."
"Iyaaa..yuuk ah. Nanti telat."
***
"Eh Nick, menurut lo kapan ya gue nembak Airy?"
"Memang lo sudah yakin bakal diterima? Lo kan baru saja kenal, sabar dulu lah. Nanti disangka lo gampang suka."
"Lo benar juga. Gue puas-puasin bikin momen seru saja deh sama dia dulu."
"Lo kenapa bisa suka sama dia sih?" Nick penasaran
"Selain dimata gue dia itu manis, cantik sekaligus sexy, Airy itu lucu. Ngobrol sama dia seru dan rame. Dan hatinya tulus banget. Sopan, menarik terlebih lagi dia pinter. Oh baru inget! Untung lo tanya! Gue mau minta dia jadi tutor gue dipelajaran. Soalnya sudah mau ujian kelulusan. Ada alasan untuk berduaan. Hehhe.. memang cerdas gue."
"Kalo lo mau belajar gue bisa ngasih les buat lo, gratis!" sahut Nick ngegas.
"Bagaimana sih lo, polos amat. Gue kan hanya mau dekat-dekat sama dia. Les hanya buat alasan."
"Oh.. iya.. lupa gue."
"Nick, lo kan tampan, tinggi, kaya. Memang gak ada yang suka sama lo? Gak percaya gue. Lo kayanya jomlo?"
"Ada tapi ya gue tolak. Gue gak mau pacaran. Apa lagi di kejar-kejar, males gue."
"Ouuuhh... Lo memang rada jutek ya....hehehhe. Eh iya, gue mau tanya. Merek sepatunya Airy itu apa sih? Lihat deh ini gue foto diem-diem. Gue cari di mall kok gada ya?" Nick melirik ponsel Mark yang penuh dengan foto-foto Airy.
"Memang sepatunya beli di pasar bukan Mall. Lo cari sampai tua juga gak ada di Mall. Airy bukan datang dari keluarga mapan." Nick sengaja bilang begitu biar Mark ilfill sama Airy.
"Wow, pakai sepatu gak branded saja Airy gue cakep and keren. Gue suruh supir gue beli ah ukuran gue. Gue mau sepatu gue couple lan sama Airy gue." Mark mengirim foto sepatu Airy ke ponsel supirnya untuk di belikan sesuai ukuran kakinya.
"Kurang kerjaan banget sih lo? Ngapain banget pakai nyamain sepatu Airy."
"Sepatu lo nomor berapa Nick?"
"Nomor gue 44."
"Oh okey. Sudah gue kirim, lo juga gue beliin satu."
"Iiih ngapain gue gak mau kembaran sama kalian ya."
"Seru-seruan saja. Kenapa sih lo."
Dan benar besoknya sepatu itu datang 4 pasang untuk Rayna dan Nara juga. Airy yang tahu kalau Mark beli sepatu samaan sama dia hanya ketawa saja. Airy anggap itu konyol. Tapi Nick gak mau pakai, karena gengsi.