"Lo yakin mau tunggu sendiri? Mau gue temenin?" sekali lagi Rayna memeriksa keadaan sahabatnya.
"Gak usah, gue sendiri saja nanti Nick malu kalo ada lo."
"Airy, lo yakin Nick bakalan datang? Kok gue gak yakin sih?" bukan tanpa alasan Rayna cemas kalau Nick akan mengecewakan Airy kali ini. Karena sudah beberapa kali Airy di kecewakan.
"Gue yakin, kemaren gue bilang sendiri sama Nick kok." Dan Airy selalu bersikap optimis meyakinkan sahabatnya yang khawatir ia sedih.
"Terus dia bilang apa? Bilang iya datang?"
"Nick cuma ngangguk saja."
"Alamak! Itu bukan jawaban yang pasti Airy! Bisa saja Nick itu gak sengaja ngangguk tapi gak tahu lo bilang apa! Lo lebih jelas kek."
"Masa Nick budek sih gue ngomongnya jelas kok. Sudah sana lo cabut! Gue mau pesan dulu sama waitersnya."
"Ya sudah gue cabut, kalo lo butuh gue atau ada apa-apa lo telepon nanti gue jemput." Rayna meninggalkan Airy sendiri di sebuah cafe favorit Airy.
"Iya sudah gue bakal pulang sama Nick."
"Jangan halu ya? Ya sudah. Sekali lagi selamat ulang tahun ya Airy sayang sahabat terbaik gue." Rayna khawatir dengan sahabatnya tapi ia tetap harus mendukung apa yang diinginkan Airy.
Menurut Rayna, belum tentu Nick akan datang di perayaan ultah Airy. Airy sengaja hanya mengundang Nick ke cafe kesukaannya. Tapi Airy yakin banget Nick akan datang dan wajahnya sangat cerita.
Airy menunggu Nick di meja cafe paling sudut. Pemandangannya sangat indah, kaca di hadapannya menampilkan city light yang cantik berkelip. Airy memilih menu yang paling baik di cafe ini, orange jus dan dessert tak terlalu manis kesukaan Nick. Airy juga mereques lagu-lagu romantis untuk menghabiskan malam ini.
Dari jam 7 seperti waktu yang Airy katakan, Nick sudah terlambat 1 jam. Makanan sebentar lagi akan di keluarkan. Juga kue ulang tahun kecil yang disiapkan oleh pemilik cafe nanti menjadi gong acara ultah Airy. Tapi jam-jam berikutnya berlalu dengan cepat. Airy bolak-balik menengok ke arah pintu menanti Nick.
Beberapa waiters mencoba menghibur Airy dengan membawakan kue tart mini berlilin satu untuk Airy tiup yang keluar lebih cepat. Mereka tahu teman yang di tunggu Airy tak akan datang. Airy bukan pelanggan pertama yang dikecewakan ketika menunggu pasangan di cafe mereka.
Hingga cafe ini hendak tutup, Nick tak juga datang. Hingga akhirnya waiters membungkus makanan yang sudah dipesan untuk Airy bawa pulang, karena cafe harus tutup.
"Nick, kenapa kamu gak datang? Ada apa Nick?" desah Airy kecewa. Tapi ia tak berpikiran jelek. Airy berpikir kalau Nick mungkin berhalangan karena sakit atau mobilnya mogok.
Airy berjalan gontai menuju halte bis, ia sengaja tak membawa motornya karena yakin Nick akan memberikannya tumpangan.
***
Keesokan harinya Rayna menghadang Nick di lorong sekolah.
"Nick, gue mau bicara sama lo! Sini lo!" Rayna menarik tangan Nick ke tempat sepi.
"Apa sih?"
"Kenapa semalem lo gak datang ke cafe? Airy tunggu lo di sana! Tega ya lo! Kalo lo memang gak mau datang lo bilang dong! Jangan bikin Airy nungguin lo!"
"Memang gue janji akan datang? Kenapa hanya gue yang lo marahin? Lo dong temennya hibur dia. Gue semalem gak bisa gue sibuk sama keluarga gue!"
"Lo tahu kan kalo kemaren ultahnya Airy?"
"Ya Airy bilang sama gue, mau ngerayain ultah. Ya silakan saja, gue gak bisa, sama yang lain saja."
"Asal lo tahu ya, kemaren hanya lo yang diundang, bahkan gue gak diundang. Hanya lo! Terus lo gak datang!"
"Mana gue tahu hanya gue yang di undang. Sudah ah, ribet banget sih!" Nick hanya berlalu pergi.
Rayna akhirnya melepas Nick menuju kelasnya. Nick memang tak pernah menanggapi perasaan Airy. Tapi Airy dengan gigih terus mengejar Nick.
Rayna mendapati Airy duduk di kursinya dan berusaha untuk tidur tertelungkup di atas meja dengan tangan menyilang sebagai penyangga kepalanya.
"Airy, lo baik-baik saja kan?"
"Hmm... iya gue baik-baik saja, cuma ngantuk"
"Airy lo sedih ya Nick gak datang?"
"Sedih sih pasti, tapi ini tantangan! Gue gak akan patah semangat!" tiba-tiba Airy bangun dan bersemangat.
"Airy, sampai kapan lo ngejar cinta Nick? Lo masih yakin dia bakalan nerima lo?"
"Gue yakin! Gue akan ngejar sampai gue gak bisa ngejar dia lagi!"
"Nanti malem ikut gue yuk, gue ada reuni sama teman SMP gue. Kali saja lo bisa ketemu orang yang bikin lo jatuh cinta."
"Lo mau comblangin gue sama teman lo? Hehhe.. boleh saja. Kalo ada teman lo yang bisa bikin gue berpaling dari Nick gue bakal lupain Nick!"
"Benar ya? Janji loh!"
"Iyaaa. Lo lihat gak Nick di mana pagi ini?"
"Astagaaa... ada dikelasnya! Gak usah lo samperin sudah mau bel masuk kelas!" Rayna menahan tangan Airy agar tak keluar lagi dari kelas.
"Iya nanti saja pas istirahat."
"Gue khawatir melihat lo sama Nick, sudah sering ditolak tapi masih saja gigih."
"Kalo cinta kan harus diperjuangkan, iya gak? Hehehhe.."
"Iya sih. Tapi kira-kira juga kalo ditolak terus ya kemungkinan dia gak suka sama lo. Jangan maksa."
"Ya untuk sekarang gue masih semangat!"
Airy masih saja semangat, kalo yang lihat pasti sudah merasa iba dengan Airy. Sering banget di cuekin dan di tolak terang-terangan sama Nick. Tapi dari pandangan Airy itu biasa saja.
"Hay Nick. Kemaren kemana aku nungguin di cafe kok gak datang?" tanya Airy dengan ceria-ceria saja gak ada kemarahan.
"Gue ribet sama urusan keluarga. Gue gak janjikan mau datang? Kemaren lo ultah?"
"Iya, gue mau ajak lo rayain dengan makan di cafe."
"Oh, selamat ya."
"Makasiiiih." Jawab Airy bahagia.
"Ya sudah apa lagi?" tanya Nick yang bingung melihat Airy masih di depannya.
"Bagaimana kalo pulang sekolah kita makan ice cream di ujung jalan?"
"Gue gak suka ice cream."
"Lo sukanya apa?"
"Gue sukanya sendiri, dan makan, minum apa pun sendiri."
"Hmmm.. beli sendiri di mana ya?"
"Lo punya hobi ganggu orang ya? Awas gue mau ke kantin."
"Ya sudah gue traktir di kantin saja ya?"
Nick berjalan tanpa menoleh lagi. Airy berjalan di belakangnya.
Nick makan hingga 80 ribu dan dengan sigap Airy membayar duluan. Nick santai saja sambil memasukan lagi uangnya.
"Airy lo dipanggil bu Mariana di kantor."
"Hah, dipanggil? Kenapa ya?"
"Sudah buruan!" kata Rayna.
"Okey, Nick gue cabut dulu ya. Bye." Nick gak bilang apa-apa melihat kearah Airy juga enggak.
"Eh Nick, lo tahu gak kemaren Airy bela-belain ngumpulin duit buat ngerayain ultah sama lo. Tapi lo gak datang dan gak kasih kabar. Lo kok bisa sih tega banget? Ini buat lo jajan 80 ribu, Airy pakai uang hasil dia ngelesin math anak-anak SMP. Tapi lo gak ada ngehargainnya! Seenggaknya lo jangan PHP!" teriak Rayna membela Airy.
"Tolong bilang juga sama sahabat lo jangan peduliin gue. Gue gak suka dia dekat-dekat sama gue. Dan gue gak akan pernah kasih harapan sama dia. Dan dia sudah ganggu gue. Jangan harap gue mau pacaran sama dia."
"Lo memang tega ya. Lo berasa cakep dan Airy gak pantes buat lo? Airy itu keren dan manis, Airy juga punya sexy brain, dia pinter. Gue harap Airy bosen ngejar lo. Dan menemukan orang lain. Karena gue sudah sering bilang buat ninggalin Lo, dia malah ketawa dan bertahan, memang gila."
"Belajar, kalo apa yang kita mau belum tentu bisa kita dapatkan. Bilang sama dia. Jangan di kira gue gak cape ngadepin dia yang muka tembok. Gue gak pernah kasih respon tapi dianya aja yang kegeeran. Bawa sahabat lo dari depan gue dan jangan pernah lagi muncul di muka gue!" hardik Nick tanpa perasaan
Airy mendengar semua pembicaraan Rayna dengan Nick, karena tadi ia berbalik hendak mengambil buku yang ada di atas meja. Airy tahu kalau Nick susah di taklukan, tapi baru kali ini ia dengar betapa Nick benci dengannya. Airy kembali ke ruang guru melupakan buku catatan harian miliknya.
"Airy, mulai minggu depan tolong gantikan ibu untuk mengajar anak kelas 1 pelajaran tambahan ya. cuma sampai ibu selesai melahirkan." Pinta Ibu Mariana
"Baik Bu. Bahannya saya di kasih kan Bu?"
"Iya ini bahannya untuk 2 minggu. Buat singkat padat dan jelas ya, Cuma 1 jam saja sepulang sekolah. Tenang saja nanti Ibu kasih bayaran."
"Baik Bu." Airy kembali ke kelas, hatinya hancur. Selama ini Rayna sering mengatakan hal yang sama untuk meninggalkan Nick tapi ia tetap semangat. Perkataan Nick tadi membuatnya patah hati. Apa kali ini ia harus mundur?
"Airy tadi lo dipanggil kenapa?" Reyna Khawatir ada masalah.
"Bu Miranda kan mau cuti melahirkan, jadi nanti kelas Les sepulang sekolah gue yang ambil alih. Ngajar kelas 1."
"Ooooh. Baguslah, biar pikiran lo gak ngejar Nick mulu. Cape gue liatnya."
"Gue harus pastiin sendiri kalau Nick gak ada perasaan buat gue. Bagaimana kalau gue tembak saja ala-ala romantis. Gue akan buat acara nembak yang seru, lo tolong rekam aksi gue!"
"Airiiiiii, lo yakin bakalan diterima? Lo kok pede banget sih? Hati lo terbuat dari apa sih? Mental lo gue acungin jempol sih!"
"Gue gak yakin tapi gue harus melakukan hal ini. Kalo gak melakukannya gue bakalan penasaran. Jadi dukung gue ya?" Mata Airy berbinar-binar minta dukungan. Siapa yang gak luluh melihat mata manis Airy yang selalu ikut tersenyum.
"Airy, lo tahu kan kalo gue sayang sama lo, gue sahabat lo. Gue dukung apa yang lo mau. Nanti gue ajak Nara juga."
"Nah begitu dong. Nanti gue kasih tahu bagaimana gue mau nembak Nick!"
"Hmm," Rayna merasa kasihan dengan semangat Airy yang salah orang. Reyna cuma bisa menatap sedih sahabatnya, ia tak yakin Nick bisa berubah 180 derajat dengan cepat.
"Nick, pacar lo itu dan nungguin di luar kelas. Hehehhe." Goda Winny. Airy selalu keluar paling cepat hanya untuk duluan ke depan kelas Nick. Ia selalu mengantar Nick sampai mobilnya dan berpamitan. Ritualnya setiap hari selain setiap pagi menunggu Nick di depan gerbang dan mengantar Nick ke kantin.
Padahal tak pernah mendapatkan perhatian dari Nick tapi ia gigih melakukannya. Sepanjang koridor sekolah Airy bakalan bercerita tentang apa pun yang ia alami atau ia tonton di tiktok. Nick tanpa respon hanya menatap ke depan.
"Apaan sih lo, gue gak punya pacar!"
"Jangan begitu, Airy itu lucu loh. Jangan nyesel ya kalau ada yang nikung. Udah jadi inceran banyak cowok-cowok loh."
"Gue bakal berterima kasih kalo ada yang bisa ngalilhin perhatian dia ke gue."
"Dasar habek, hati beku!" umpat Winny.
****
Airy sudah merencanakan acara nembak Nick dengan baik. Ia memikirkan semuanya sampai tak bisa tidur. "Rayna tolong rekam dan Nara tolong pegang tulisan ini ya. Nanti kalo gue sudah berdiri depan Nick, sudah merekam dan pasang lagu ya Rayna. Terus Nara pegang tulisannya. Tunggu sampai gue selesai ngengkapin perasaan gue."
"Lo kasih apa buat jawab iya apa enggak?" Tanya Reyna.
"Ini gue sudah beli bunga mawar. Kalo terima ambil mawarnya kalo enggak ya gak usah diambil."
"Lo yakin Airy?" tanya Nara meyakinkan lagi. "Masih belum terlambat kalau lo mau mundur dan batalin."
"Yakin, gue harus pastikan lebih cepat."
"Ya sudah semoga ini lebih baik cepat ketahuan."
Biasanya sepulang sekolah Nick suka bermain gitar di depan ekskul musik. Airy berencana menembak Nick di sana. Dengan bantuan Rayna dan Nara. Juga beberapa teman sekelasnya.
"Itu Nick sudah di posisi ya. Gue ke sana, sesudah gue kasih kode kalian pada ke sana ya. Inget tugas masing-masing. Dan yang lain kalo sudah ada jawaban kasih confeti ya?" atur Airy
Dengan percaya diri Airy berjalan menghampiri Nick yang sedang sibuk dengan gitar akustiknya.
"Hay Nick, aku perlu beberapa menit waktu lo ya. Sebentar saja." Sapa Airy sambil mengemukakan kata pembukaan.
"Hmmm.." Nick hanya mendehem. Airy segera berdiri didepan Nick, sambil mengeluarkan bunga mawar merah dari belakang tubuhnya. Nick sedikit terkejut.
"Nick, lo tahu kan perasaan gue sama lo, gue gak bisa lebih lama lagi nyembunyiin perasaan gue dan gue mau menyatakan cinta gue sama lo. Nick lo mau gak jadi pacar gue? Ambil mawar ini kalau lo terima cinta gue." Sebut Airy panjang dalam satu nafas.
Rayna sudah merekam aksi Airy. Nara memegang tulisan poster buatan Airy dan beberapa teman sekelas menunggu aba-aba menarik confeti.
Nick memandang mata Airy tajam, hingga ia sadar jika Airy memiliki mata coklat yang indah, senyum Airy sungguh sangat manis.
Tangan Nick melepas gitar dan mengambil mawar dari tangan Airy. Tapi mengambilnya dari atas. Airy tersenyum melihat Nick mengambil mawar sebagai jawaban.
Tapi tidak sampai situ, Nick meremas mawar yang ada ditangannya. Nick menolak Airy mentah-mentah.
"Jangan pernah lagi lo tanya pertanyaan itu! Gue gak akan menerima cinta lo." Nick menjawab dengan suara berat dan menusuk. Ia sungguh-sungguh, menghancurkan mawar, sebenarnya bukan pilihan untuk menolak, tapi Nick tampak kesal dengan kelakuan Airy.
Tak lama confeti tetap di tarik karena perintahnya adalah sesudah ada jawaban di tarik. Nick berharap Airy sedih dan mundur selamanya dengan reaksinya.
Tapi bukan Airy namanya jika reaksinya seperti orang normal. Airy malah gagal fokus karena melihat telapak tangan Nick berdarah tertusuk duri mawar.
"Jangan Nick! Tangan lo berdarah! Buang Nick! Biar gue obatin tangan lo." Airy malah merebut bunga hancur itu dan membuangnya, ia mengambil slayer dari dalam tasnya dan membersihkan tangan Nick. Lalu menyiramnya dengan air mineral.
"Nick tangan lo tergores. Seharusnya lo ga usah meremas mawar cantik itu. Kalo lo nolak ya nolak saja, jangan kaya gini tangan lo jadi luka karena gue." Airy panik dan raut wajahnya sedih melihat Nick berdarah. Dan merekatkan tensoplas berwarna pink yang selalu ada ditasnya.
"Sudah gue bisa urus sendiri." Nick mendorong Airy sampai terjengkang kebelakang.
"Nick! Lo ga usah kasar kaya begitu!" Nara gak sabar lagi dengan perbuatan Nick. Nick hanya berdiri dan meninggalkan Airy di sana tanpa membantunya bangun dari lantai.
"Sudah Nara, gak apa-apa. Yuuk balik. Misinya gagal ya teman-teman. Tapi lo tetap rekam kan Airy? Buat dokumentasi, lain kali gue bikin lebih baik lagi. Mungkin ini terlalu sederhana." Senyum Airy yang membuat Rayna dan semua yang ada di sana gemes dengan reaksi Airy.
"Yuuk gue traktir makan di kantin." Ajak Nara sekedar menghibur Airy.
"Airy, are you ok?"tanya Rayna
"Iya gue baik-baik saja. Salahnya di mana ya tadi? Apa kurang romantis? Lagunya salah?" Airy masih berpikir keras mengevaluasi apa yang ia lakukan barusan.
"Airy, gak ada yang salah. Itu sudah cukup romantis kok. Gak lebay. Tapiiii... emang Nick gak mau jadi pacar lo. Stop sampai sini saja yaa..." sekali lagi Rayna menasehati Airy.
"Gak bisa Rayna, ini perjuangan. Batu saja di tetesin air lama-lama bolong. Sama kaya hati manusia, lama-lama bisa luluh kok." Senyum Airy.
"Gue sudah tahu jawaban lo bakal kaya gini. Mau sampai kapan hanya elo dan Tuhan yang tahu."
Rayna dan Nara hanya geleng-geleng kepala gak tahu lagi cara mematikan semangat Airy untuk menjadi pacar Nick.
"Airy... ada anak baru di kelas Nick loh. Cakep! Hehehhe.."
"Hmmm,"
"Iiih begitu saja. Lihat yuk, kali saja keren. Lumayan buat gantiin Nick."
"Gak ah, gue itu setia." Tampik Airy teguh pada pendirian Nick adalah segalanya.
"Ah gak asyik lo, kan cuci matalah. Melihat yang seger-seger. Aaakh.. aaah.. sakit Nara. Ampun." Rayna di jewer Nara dari belakang yang dengar apa yang dikatakan Rayna.
"Bagus ya, bisa-bisanya ngomongin cowok lain! Sini lo harus gue hukum!" Nara menarik Rayna dalam pelukannya dan membawanya ke kantin.
"Aaakh.. tolong Airy!"
"Ahahaha... sukurin. Hajar saja Nara! Celamitan itu! Hahaha.." Airy puas ngomporin Nara yang posesif dan cemburuan.
Dikelas Nick...
"Halo, nama gue Mark. Gue duduk sebelah lo ya?"
"Duduk saja kosong kok." Jawab Nick ramah.
"Kamar mandi di mana sih?"
"Lo keluar kelas ke kanan terus mentok belok kanan lagi."
"Oh terima kasih gue ke sana dulu."
Mark hendak membuang hajatnya tapi diperjalanan menuju sana ia berpapasan dengan Airy. Tak sengaja tabrakan seperti di film-film romantis.
"Ups! Sorry gue gak melihat jalan. Sakit gak?" Mark terkejut dan merasa bersalah.
"Eh, gak papa kok. Santai saja. Yuk gue duluan." Jawab Airy yang ketabrak oleh Mark.
"Wow.. cantik banget..." memandang sampai Airy hilang dari tikungan lorong sekolah.
Mark kembali ke kelasnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Eh Woy, Nick. Tadi gue melihat cewek imut banget, cantik sekaligus manis. Gue harus tahu namanya dan nomor hpnya. Dan selebihnya harus jadi pacar gue."
"Woooowww... sabar baru juga lo sehari di sekolah ini. Banyak pilihan."
Besoknya Mark mencari sosok yang dia tabrak kemarin, harus tahu siapa namanya dan kelas berapa. Kebetulan Airy sakit 3 hari dan gak masuk sekolah. Pencarian Mark sia-sia.
Sampai suatu hari di kantin sekolah.
"Nick, itu yang gue bilang imut dan lucu!" Mark menunjuk ke pojok kantin.
"Oh Rayna namanya. Jangan sudah ada pawangnya. Galak sama posesif. Cari yang lain."
"Lo yakin itu dia?"
"Yang pakai sepatu putih kan?"
"Bukaaan.. sebelahnya yang pakai sepatu hitam!"
"Heeemm, sepatu hitam? Itu Airy, yakin lo bilang dia manis?" tanya Nick menyakinkan.
"Lo jangan lihat pakai mata biasa tapi pakai mata hati. Dia itu berlian dalam lumpur tahu gak! Lo kenal ga? Kenalin dong."
"Gue kenal tapi males ngenalin ke elo. Lo kenalan saja sendiri. Gue saranin jangan sama dia."
"Kenapa?"
"Dia obsesi sama salah satu murid di sini, dan kayanya susah untuk kelain hati. Tapi kalo lo bisa ambil hatinya sih hebat."
"Okey deh, tunggu sini!" dengan meyakinkan Mark berjalan mendekati Airy, Nick tak menyangka Mark tak patah semangat dengan Airy.
"Gila si Mark, apa yang dia lihat sih dari Airy? Aneh!" Tapi Nick tak melepaskan pandangannya dari Airy.
Sementara Rayna sadar jika Mark mendekati meja mereka. Nara sedang ke kamar mandi bisa murka kalau sampai lihat Mark di meja mereka.
"Hay, maaf gue anak baru di sini. Nama gue Mark. Boleh kenalan gak?" Mata Mark tertuju hanya pada Airy, Rayna menyadarinya.
"Boleh... boleh banget. Duduk sini saja." Yang jawab Rayna sambil memberikan kursinya untuk Mark
"Eh Rayna ngapain sih lo?" Airy panik
"Nama lo siapa?" tanya Mark pada Airy
"Eh nama gue Rayna dan ini sobat gue namanya Airy. Salaman dong Airy. Hehhe." Rayna menyenggol Airy yang masih bingung
"Airy."
"Gue Mark. Kapan-kapan ajak gue school tour dong. Sekalian lihat ekskul apa saja sama sport apa saja."
"Kok kapan-kapan, nanti saja pas pulang sekolah. Sekarang kan Sabtu jadi semua ekskul lagi latihan. Hari ini lo gak kasih bimbingan kan sama kelas 1 Airy."
"Boleh nanti habis jam selesai gue ke kelas lo. BTW kelas lo yang mana?"
"Itu yang pojok. Jemput di sana saja. Jangan telat." Rayna tetap semangat padahal katanya tadi mau jalan.
"Apa Airy pemalu sampai perlu juru bicara?" senyum Mark menawan.
"Gak perlu, Rayna aja cerewet banget. Ya sudah nanti gue ajak lo school tour." Jawab Airy ramah. Pada dasarnya Airy itu baik dan ramah. Banyak yang suka dan sayang sama Airy sebagai teman.
"Yes, gue balik ke sana dulu ya.. sampai nanti."
Mark kembali ke meja Nick dengan senyum-senyum sendiri.
"Nick! Sukses Nick, gue langsung di ajak school tour nanti setelah jam pelajaran selesai. Gue harus terima kasih sama sobatnya Airy yang suport gue banget. Kata orang kalo mau sama orang deketin dulu sabahatnya. Ternyata benar begitu. Hehehhe."
Nick cuma diem, ia merasa sedikit kesel karena Airy begitu saja nerima ajakan Mark. Tapi Nick terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Hari-hari berikutnya Mark semakin gencar mendekati Airy dan sepertinya Airy tak merasa terganggu dengan perhatian Mark. Memang karena ada Mark, pendekatan Airy pada Nick sedikit berkurang. Airy tak lagi menunggu di gerbang dan bercerita di sepanjang koridor sekolah. Juga menunggu Nick ketika pulang sekolah.
Karena Mark yang melakukan semuanya kepada Airy. Rayna dan Nara sangat mendukung apa yang Mark lakukan pada Airy. Sepertinya ini cara agar Airy lupa sama Nick.
"Nick, boleh bicara sebentar ga?" cegat Airy ketika bertemu dengan Nick.
"Iya ada apa?"
"Lo apa kabar? Soal kemaren lalu maaf ya. Cara gue mungkin salah dan bikin lo gak nyaman. Lain kali gue ulang ya. Bolehkan?"
"Hemmm.." Nick sedikit bingung, Nick pikir Airy sudah mabuk kepayang sama Mark, tapi kok sepertinya Airy masih suka sama dia.
"Serius Nick? Terima kasih ya. Sabar ya gue akan cari cara yang paling romantis."
"Lo akhir-akhir ini sibuk banget sama Mark ya?" tertumben Nick bertanya pada Airy.
"Ah iya itu, Mark. Gue jadi tahu bagaimana rasanya jadi elo Nick. Hihii.. gue jadi seperti ngaca melihat gue sendiri memperlakukan lo. Hihihi."
"Airy! Lo ngapain di sini? Itu Mark nyariin mau ngasih pesanan lo! Yuuk!" Rayna sengaja menegaskan perkataannya biar Nick dengar.
"Nick, kekelas duluan ya. Bye."
"Lo ngapain tadi sama Nick? Mulai lagi ya lo kecintaan sama dia?"
"Apa sih Rayna, tadi gue minta maaf soal kemaren. Dan gue janji akan melakukannya lebih baik."
"Apaaaa? Lo gila ya? Lo bucin parah! Kenapa lo yang minta maaf dan mau ngulangin lagi? Sakit lo!"
"Sudah sih ah. Jangan ribut."
"Terus lo anggap apa usaha Mark? Usaha gue sama Nara?"
"Maaf deh gue bikin lo kesel."
"Ya sudah deh, gau usah minta maaf. Gue cuma minta lo jangan kecewain Mark dia juga gak salah apa-apa."
"Iyaaa..yuuk ah. Nanti telat."
***
"Eh Nick, menurut lo kapan ya gue nembak Airy?"
"Memang lo sudah yakin bakal diterima? Lo kan baru saja kenal, sabar dulu lah. Nanti disangka lo gampang suka."
"Lo benar juga. Gue puas-puasin bikin momen seru saja deh sama dia dulu."
"Lo kenapa bisa suka sama dia sih?" Nick penasaran
"Selain dimata gue dia itu manis, cantik sekaligus sexy, Airy itu lucu. Ngobrol sama dia seru dan rame. Dan hatinya tulus banget. Sopan, menarik terlebih lagi dia pinter. Oh baru inget! Untung lo tanya! Gue mau minta dia jadi tutor gue dipelajaran. Soalnya sudah mau ujian kelulusan. Ada alasan untuk berduaan. Hehhe.. memang cerdas gue."
"Kalo lo mau belajar gue bisa ngasih les buat lo, gratis!" sahut Nick ngegas.
"Bagaimana sih lo, polos amat. Gue kan hanya mau dekat-dekat sama dia. Les hanya buat alasan."
"Oh.. iya.. lupa gue."
"Nick, lo kan tampan, tinggi, kaya. Memang gak ada yang suka sama lo? Gak percaya gue. Lo kayanya jomlo?"
"Ada tapi ya gue tolak. Gue gak mau pacaran. Apa lagi di kejar-kejar, males gue."
"Ouuuhh... Lo memang rada jutek ya....hehehhe. Eh iya, gue mau tanya. Merek sepatunya Airy itu apa sih? Lihat deh ini gue foto diem-diem. Gue cari di mall kok gada ya?" Nick melirik ponsel Mark yang penuh dengan foto-foto Airy.
"Memang sepatunya beli di pasar bukan Mall. Lo cari sampai tua juga gak ada di Mall. Airy bukan datang dari keluarga mapan." Nick sengaja bilang begitu biar Mark ilfill sama Airy.
"Wow, pakai sepatu gak branded saja Airy gue cakep and keren. Gue suruh supir gue beli ah ukuran gue. Gue mau sepatu gue couple lan sama Airy gue." Mark mengirim foto sepatu Airy ke ponsel supirnya untuk di belikan sesuai ukuran kakinya.
"Kurang kerjaan banget sih lo? Ngapain banget pakai nyamain sepatu Airy."
"Sepatu lo nomor berapa Nick?"
"Nomor gue 44."
"Oh okey. Sudah gue kirim, lo juga gue beliin satu."
"Iiih ngapain gue gak mau kembaran sama kalian ya."
"Seru-seruan saja. Kenapa sih lo."
Dan benar besoknya sepatu itu datang 4 pasang untuk Rayna dan Nara juga. Airy yang tahu kalau Mark beli sepatu samaan sama dia hanya ketawa saja. Airy anggap itu konyol. Tapi Nick gak mau pakai, karena gengsi.