-Nina-
Aku sudah berada di apartemen ini selama satu minggu, semua berjalan cukup baik meski aku masih belum mendapat panggilan pekerjaan, apartemen ini terasa sangat nyaman dan mewah, bahkan bilik kamar mandi disini pun terbuat dari marmer berkelas, aku hampir terduduk lemas ketika mendengar bahwa harga satu unit apartemen empat belas lantai ini bisa mencapai sekitar tiga puluh empat miliar rupiah, atau jika aku harus membayar sewa maka aku harus merogoh kocek sebesar seratus delapan juta rupiah per bulan. Aku tidak bisa membayangkan berapa lama waktu yang ku butuhkan untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.
Tapi semua kenyamanan itu hilang begitu seseorang datang sambil membawa koper TUMI Alpha 3 berwarna hitam, ia adalah sosok yang tak pernah ku lihat selama bertahun-tahun.
Nico berdiri mematung sambil memegangi kopernya dan memandangku seakan aku adalah hantu.
Sedangkan aku, aku tidak membeku, tapi tulang kaki ku mendadak lemas dan rasanya aku akan terjatuh, mengingat kembali ciri-ciri yang nenek sebutkan tentang pemilik apartemen ini, aku baru menyadari bahwa pria itu adalah Nico, temperamental, dan rewel. Jelas itu dia.
"Sedang apa kau di rumahku?" tanya Nico, suaranya agak tinggi.
"Aku, aku pengganti nenek yang biasa membersikan tempat ini." jawabku. "Bukankah nenek sudah mengatakannya padamu?"
“Tapi ku pikir," Nico berpikir sambil menatapku dengan mengerutkan dahinya." atau paling tidak bukan…” Ia tidak melanjutkan kata-katanya dan malah menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Bukan apa?” Aku bertanya dengan sikap menantang.
“Bukan kau.” Balas Nico, ia mengangkat dagunya.
(Jadi dia tidak keberatan jika yang menginap adalah seorang wanita kecuali aku?) Aku menggeleng sambil mencibir dan melipat kedua tangan diatas perut.
“Jika aku tahu kau adalah pemilik tempat ini, maka aku juga tidak akan sudi tinggal disini sedetikpun.” Kataku dengan kasar, ikut mengangkat dagu.
Nico mengalihkan pandangan dan tertawa, sangat mengejek.
Aku memang butuh tempat tinggal, tapi aku tidak akan menghancurkan harga diriku dengan tetap bertahan disini, jadi ku putuskan untuk masuk ke perpustakaan dan mengambil koper, untung saja aku memang selalu menyusun bajuku di dalam koper, untuk berjaga-jaga jika suatu hari aku harus segera pergi.
“Aku akan pergi.” Kataku sambil menyeret koper dengan tangan kanan.
Nico hanya menatap tanpa ekspresi.
“Mau kemana kau malam begini?” Ia melihat jam di tangannya, terdengar cemas dengan ekspresi dingin.
“Kurasa berada di jalan akan lebih baik daripada disini,” kataku. Aku tidak serius, tentu saja aku tidak ingin tinggal di jalan dan menjadi gelandangan. Tapi tetap ku langkahkan kakiku menuju pintu, tentang kemana tujuanku akan ku pikirkan dalam perjalanan.
“Dengar.” Nico meraih lenganku, langkahku terhenti dan sialnya aku masih merasakan getaran seperti tersengat listrik tegangan rendah yang membuat hatiku berdebar-debar karena sentuhannya. “Aku tidak ingin menjadi orang jahat karena mengusir seorang gadis di tengah malam seperti ini,” katanya.
Aku mendengarkan.
“Kau bisa tetap tinggal disini, “ sambung Nico.
"Kau serius?" Tanyaku, merasa lega, senang dan sangat bersyukur.
"Ya, Tapi segera cari tempat lain besok." katanya.
"Baiklah, terimakasih." kataku lalu menggenggam erat tangannya.
Nico menarik tangannya. Seakan ia tidak ingin disentuh olehku.
"Cihh.. Sombong sekali." gerutu ku pelan. "Apa kau sudah makan? Aku baru saja akan makan malam."
Ia melirik semangkuk mie di meja makan. "Sudah." jawabnya.
"Baiklah, aku makan sendiri saja." kataku lalu duduk dan menyuap mie ku, terserah dia mau berpikir apa, toh aku di matanya memang sudah buruk, dia di mata ku lebih buruk lagi.
"Ada apa denganmu?" Nico duduk di kursi yang berseberangan denganku.
"Rumah yang biasa ku sewa akan dijual oleh pemiliknya, dan aku tidak punya uang untuk menyewa tempat yang baru." Meski ini menyedihkan, tapi aku ingin tetap terlihat kuat dan percaya diri.
"Kenapa tidak pulang ke rumah orang tuamu?"
"Mereka sudah tidak ada." jawabku lagi. "Pernah sih berpikir ingin pergi ikut bersama mereka, tapi itu adalah pikiran yang bodoh kan?"
"Tentu saja bodoh." Nico membentak. "Dan maaf, aku tidak tahu tentang orang tuamu."
(Bagaimana kau bisa tahu? Kau tidak pernah menghubungiku sama sekali dasar pria kejam.) Aku menghujatnya dalam hati. "Tidak apa-apa."
"Kau baik-baik saja?"
"Tentu." ucapku yakin, "Apa aku harus terpuruk? menangis? apa kau akan kasihan padaku jika aku menangis? apa kau tidak akan mengusirku?"
Nico diam saja.
"Sudah cukup aku menangis, satu hal yang diajarkan air mata padaku, bahwa menangis tidak akan menyelesaikan apapun."
"Kemana saja kau selama ini?" tanyanya.
"Bukankah seharusnya itu adalah pertanyaan ku?" Aku ternganga. "Kau yang pergi kenapa malah tanya aku kemana saja?"
"Maksudku bagaimana kau menjalani hidup selama ini?" Ia mengalihkan pandangan dariku.
"Ayahku meninggal beberapa bulan setelah kau pergi, dan ibu menyusul setahun setelahnya." Aku bercerita. "Aku membiayai kuliah dengan bekerja serabutan termasuk menjaga toko roti, dan pemilik toko roti tempatku bekerja memberiku tempat tinggal, sayangnya ia harus pergi ke luar negeri untuk tinggal bersama anaknya, semua asetnya di sini sudah dijual."
"Lalu apa rencana mu kedepannya?"
"Aku masih mencari kerja, seperti yang kau tahu, itu tidak mudah." kataku. "Ku mohon jangan usir aku, aku akan mencari tempat lain setelah aku mendapatkan gaji pertama ku ya." Aku memohon padanya.
"Memangnya kapan kau akan dapat pekerjaan?" Nico yang ku kenal kini semakin kaku saja.
"Kan sedang ku cari, secepatnya." Aku masih dalam posisi memohon. "Aku janji aku akan mencari pekerjaan secepatnya, atau jika sudah sangat terdesak, mungkin aku akan menghubungi pemilik toko roti itu lagi saja."
"Kenapa?"
"Sebelum pergi, bos ku itu sempat mengajakku ikut bersamanya, ia bilang bahwa anak laki-lakinya belum mempunyai calon istri dan sebenarnya ia ingin aku menjadi menantunya."
"Lalu?"
"Awalnya aku menolak, tapi setelah ku pikir-pikir lagi seharusnya waktu itu aku ikut dengannya saja, tidak masalah menikah dengan siapapun, yang penting kan aku bisa mendapatkan tempat tinggal dan bisa melanjutkan hidup."
"Apa-apaan kau?" Suara Nico meninggi lagi. "Mana ada orang yang menikah karena alasan konyol seperti itu."
"Apa salahnya? Aku bisa saja mencintainya nanti."
"Wahh.. yang benar saja, mana bisa seperti itu, sangat tidak masuk akal." Ia menggeleng dan memandangku sambil mencibir.
Aku mendengus. "Aku sudah selesai." kataku lalu pergi ke wastafel dan mencuci mangkuk dan berjalan ke perpustakaan.
"Mau kemana kau?" tanyanya. "Kita harus bicara."
"Tidur, kita bicara besok saja." kataku, aku tidak ingin berdebat dengannya, bisa gawat kalau aku membuatnya marah dan mengusirku malam ini.
"Kau tidur dimana?"
"Perpustakaan." Aku berteriak sebelum menutup pintu lalu segera tidur.
-Nina.-
Pagi-pagi sekali aku sengaja pergi sebelum Nico bangun, mengirim lamaran dan menemui beberapa teman, berharap bisa mendapatkan pekerjaan, atau setidaknya tempat tinggal. Tapi sayangnya mereka semua tidak bisa menampungku dengan macam-macam alasan.
Dan hari ini aku pulang dengan tangan kosong lagi, sialnya saat aku melewati toko roti dan melihat Croissant di sana, aku teringat pada Nico, pria itu sangat menyukai roti yang terbuat dari adonan puff pastry itu.
“Tidak apa-apa, siapa tahu bisa meluluhkan hatinya dan mengijinkan aku menginap semalam lagi.” Aku menepuk pelan kantongku.
“Hai..” Aku tersenyum kecut, baru melihat dia duduk di ruang tamu saja sudah membuatku gugup, “Kau habis olahraga?” tanyaku ketika menyadari dia sangat berkeringat.
Nico menggeleng.
“Sudah makan? Aku membawa Croissant matcha.” Aku menunjukkan plastik berisi Croissant di tanganku. “Aku ingat kau sangat suka Croissant matcha kan?”
Nico mendengus, “kau pikir aku masih mahasiswa ingusan?”
“Ku pikir masih suka.” Aku merengut.
“Kau darimana saja? Pulang malam begini?”
“Mencari kerja, dan menemui beberapa teman.” Jawabku. “Ini untukmu, aku akan ganti baju dulu.” Kataku lalu pergi setelah menyerahkan seplastik roti padanya.
Dan begitu aku akan mengambil pakaian di dalm koper yang ku letakkan di perpustakaan, aku tidak menemukan semua tas dan koperku di sana.
“Hei, kau keluarkan barang-barang ku?” tanyaku dengan kesal, sangat kesal, (dia pria kejam,) pikirku. “Aku memintamu memberiku waktu, aku juga sedang mencari tempat tinggal baru.”
Nico hanya makan roti yang ku belikan tanpa menjawabku.
“Hei kau ini tidak bisa mengingatbkebaikan orang ya?” aku melanjutkan kemarahanku. “Bagaimana pun juga dulu kan aku sering membantumu, aku bahkan sangat perhatian padamu, aku bahkan oernah merawatmu saat kau sakit, kau ini tidak tahu terimakasih ya?”
Pria itu hanya mengangkat bahu tanpa beban, tanpa rasa bersalah.
Aku menghela nafas, “Baiklah, lupakan saja, kau memang tidak punya hati.” Kataku. “Kau kemanakan barang-barang ku? Kau buang kemana? Dasar tidak sopan.”
Kali ini ia memandangku dengan tatapan acuh tak acuh. “Disana.” Katanya menunjuk sebuah ruangan atau lebih tepatnya itu adalah salah satu kamar kosong disini.
Aku segera pergi untuk menyelamatkan tas dan koperku yang mungkin sedang terjungkal di lantai.
Namun saat ku buka pintu, kamar itu kelihatan sangat berbeda dengan yang terakhir kali ku lihat, seprainya baru, gorden abu-abu, sekarang bahkan ada ada tanaman dan lampu hias juga.
“Kau bisa tidur disana, perpustakaan bukan tempat untuk tidur.” Suara Nico yng tiba-tiba muncul di belakang mengagetkan aku.
Aku langsung mengatupkan bibir, merasa bersalah dan malu.
“Bukankah seharusnya kau berterima kasih?” katanya.
Aku tersenyum getir lagi. “Maaf, dan terimakasih.” Ucapku malu.
“Aku tidak punya hati? Tidak sopan?” sindirnya.
“Ku tarik kembali.” Kataku. “Tadi aku marah, hanya asal bicara.”
“Biasanya saat marah seseorang akan mengeluarkan isi hati yang sebenarnya.”
“Tidak, tidak.” Aku mengibaskan tangan di depannya. “Kau itu baik, yang terbaik.”
Ia menghela nafas. “Kau membuatku kelelahan, aku memindahkan barang-barang mu sendirian.”
“Maaf, kupikir kau akan mengusir ku makanya aku buru-buru cari tempat lain.” Kataku lalu ku lirik croissant di meja. “Itu ada lima, boleh ku minta satu?”
“Katanya diberikan padaku?” Ia menyembunyikan seplastik croissant dalam dekapannya.
“Seharian aku pergi berkeliling untuk mencari pekerjaan, aku juga lapar.” Aku memelas.
“Kalau lapar makan yang benar, kenapa minta roti ku?”
“Astaga.. itu juga kan aku yang beli.”
“Satu saja nih.” Katanya memberikan satu potong croissant nya padaku.
“Asikk..” cepat-cepat ku ambil dan ku makan.
“Nin.” Ucapnya ragu-ragu, “aku tidak masalah..”
“Apa?”
“Tidak masalah kau tinggal disini.” Sambungnya. “Lagipula aku perlu pembantu.” Ia duduk bersandar dan mengunyah roti lagi.
Kata pembantu sungguh membuatku tersinggung, tapi ku tabahlan hati dan lapangkan dada, menerima kata-katanya yang menyebalkan, dari dulu Nico memang cenderung menyebalkan.
“Terimakasih.” Ucapku. “Sebenarnya dari dulu setiap kali aku kesulitan kau selalu ada untukku, ku pikir kali ini aku tidak punya tempat untuk berlindung, tapi sepertinya kau memang di kirim untuk menyelamatkan aku ya.”
Wajahnya memerah.
“Kenapa wajahmu merah?” aku meledeknya.
“Tidak, wajahku putih.”
“Tapi jadi merah.” Aku semakin meledek. “Hei apa kau punya pacar?”
Ia tersedak. “Kenapa tanyakan itu?”
“Kau masih saja mudah gugup hqnya karena kata-kata seperti itu, mana bisa pacaran.”
“Pacaran bukan soal kata-kata.” Protesnya.
“Lalu apa?” tanyaku. “Hubungan fisik?”
Ia menatap tajam dan kesal padaku. Entahlah sejak dulu memang kami seperti ini, saling membuat kesal bahkan setelah enam tahun berpisah.
“Eh iya bagaimana kalau nanti pacarmu datang? Ada aku disini?” aku mendadak cemas.
“Akan ku bilang kau pembantuku.” Katanya lalu pergi.
“Mau kemana?” tanyaku. Mengambil plastik yang masih berisi tiga croisant di dalamnya.
“Itu mulikku,” katanya.
“Iya, hanya akan ku bereskan.” Aku mencibir.
“Kemari kau.. Aku akan menjelaskan peraturan di rumah ini.”
Aku mengikutinya ke ruang tengah.
Nico duduk bersandar di sofa sambil melipat kedua tangannya.
“Peraturan pertama adalah tidak menggangu kencan satu sama lain.” Nico menyebutkan syarat pertamanya.
“Apa?” Aku menatap sinis padanya.
“Bagaimanapun juga kita adalah mantan, jika kau masih memiliki perasaan padaku itu urusanmu, tapi kau tetap tidak bisa mencampuri urusan cinta kita masing-masing.” Katanya dengan ekspresi penuh percaya diri dan sikap yang sangat menyebalkan. “Kenapa? Tidak ada masalah kan? Ini baik untuk kita berdua.”
Aku melipat kedua tangannya dengan kesal, “Hei kupikir kau masih belum juga bisa mengerti, sedikitpun aku tidak punya perasaan yang tersisa untukmu hingga aku bisa keberatan tentang hubungan cintamu dengan wanita lain, silahkan saja, tidak perlu kau katakan pun aku memang tidak peduli.”
“Dengar,” Aku sedikit mencondongkan tubuhku kedepan untuk menekankan setiap kata-kataku. “Aku tidak peduli kau berkencan ataupun menikah dengan seseorang. Well, tapi aku setuju, memang lebih baik melegalkan peraturan ini. Setuju, aku benar-benar setuju.” Kataku lalu bersandar sambil mengangguk-angguk. Entah kenapa aku mendadak kesal lagi.
“Jika kau melanggar aturan ini, maka kau harus angkat kaki dan akan kuberikan sangsi yang berat.” Kata Nico dengan mengatupkan giginya, mungkin kesombongannya terluka oleh sikap angkuhku.
Aura negatif bertebaran dimana-mana, dan udara dingin seakan menambah kengerian akan situasi perang dingin ini.
“Kedua, jangan pernah mengajak temanmu untuk menginap, apalagi seorang pria.” Nico menyebutkan peraturan selanjutnya, “Ingat, kau hanya menumpang disini.”
Aku hanya menggeleng tidak percaya Nico bisa mengatakan hal seperti itu padaku. Mood nya mudah sekali berubah dan tak terkendali, sesaat ia baik sesaat kemudian menyebalkan.
“Ketiga, jangan pernah masuk ke kamarku . Ada atau tidak aku di rumah, kau jangan pernah masuk ke sana.” Kali ini Nico yang mencondongkan tubuhnya kepadaku untuk menekankan kata-katanya.
Dan hanya itu persyaratan yang Nico ajukan, sedangkan aku tidak mengajukan persyaratan apapun, yang ku pikirkan hanya bagaimana caranya agar aku bisa cepat mendapatkan pekerjaan dan pergi dari sini.