Bab 1

Jika dipikir lagi, sepertinya sudah beberapa bulan ini Becca tidak pernah melihat lagi seorang dosen tamu yang selalu menjadi pembicaraan para mahasiswa St.Paul University.

Namanya Derren Lambert, lebih dikenal dengan Prof. Lambert. Masih tergolong muda, mungkin berumur 35-an? Becca tak pernah mencari tahu data pribadi pria tersebut. Namun yang pasti, Becca menyadari bahwa ada debaran aneh dalam dadanya setiap ada yang menyebut nama pria itu.

Mungkin kagum, atau bahkan suka. Entahlah, Becca pun tak mengerti. Satu hal yang pasti, siluet pria itu melekat pada ingatannya. Bahkan, bagaimana aroma parfum yang selalu dipakai oleh Derren pun seakan menyita memori indra penciumannya.

Sial! Becca menendang ujung sepatunya pada batu kecil di jalanan paving pertokoan. Padahal, ia sudah berniat untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Namun alam bawah sadar seakan selalu menuntunnya untuk kembali menerjemahkan kegelisahan di dalam dirinya sebagai pertanda suka.

Hah! Becca menggelengkan kepalanya cepat. Kegilaan ini harus segera dihentikan sebelum menjadi terlalu dalam. Pandangannya mulai menjelajah ke penjuru tempat, mencari sesuatu yang bisa ia bawa pulang sebelum kembali mengurung diri di kamarnya sampai keesokan hari. Roti isi atau dimsum yang belakangan ini selalu menjadi tujuan kuliner anak muda sepertinya enak.

Tunggu, kaki Becca otomatis berhenti saat matanya menangkap sesuatu di gang sempit dekat toko dimsum yang ia tuju. Beberapa orang mengenakan jaket hitam tampak mengepung satu orang berjas mewah. Jantung Becca berdetak cepat, ia sedang dalam pilihan untuk balik badan dan berpura-pura untuk tidak melihat, atau terus melangkah menuju toko dimsum, atau…

Hei!! Becca mengenali pria berjas mewah itu!

Derren Lambert?

Sial! Kalau seperti ini Becca tidak akan bisa pura-pura tidak melihat. Oh, no! kenapa mereka menodongkan pisau lipat pada Prof. Lambert?? Tanpa berpikir panjang, bahkan Becca tidak berpikir sama sekali, ia langsung berlari dan melompat ke tengah-tengah para pria menyeramkan itu.

Seharusnya Becca diam saja tanpa perlu ikut campur. Lihatlah, saat ini dia justru terpaksa merasakan perih dan panas yang mulai menyebar di perutnya. Kaus tipisnya terkoyak, cairan amis berwarna merah menyebar cepat di sana. Sementara para pria berjaket hitam tadi telah berlarian, masuk ke dalam mobil tua dengan beberapa baret yang terlihat mengakar di body mobil.

"Apa yang kau lakukan?!” Seru Derren sambil menekan luka di perut Becca. “Kau bodoh atau bagaimana sampai melompat begitu saja ke depan orang yang sedang mengacungkan senjata tajam?!”

Becca berusaha mendongak, menatap wajah Derren dengan susah payah. Pria itu mengerutkan kening, sambil mengetatkan rahang, sebelum akhirnya menggendong Becca. “Sial, kau sudah kuselamatkan kenapa malah mengomel padaku?”

***

Derren Lambert, masih dengan tangannya yang memerah karena darah dari luka Becca, mendengar penjelasan dokter dengan sesekali melirik kepada Becca yang terbaring di ranjang emergency room. Wanita itu sedikit mengernyit sambil membalas lirikan Derren dengan gerakan mata.

“Beruntung lukanya tidak terlalu dalam. Nona Willson diperbolehkan untuk pulang setelah proses perawatan dan administrasinya selesai.”

Derren mengangguk, kemudian menatap pada Becca sebelum dia beranjak untuk mengurus administrasi. “Kau, tunggu di sini sampai aku kembali.”

Beca tidak menjawab, ia hanya mengekorkan pandangannya sampai pria tadi menghilang di balik pintu. Cukup bodoh sebenarnya, karena dalam situasi seperti ini, ia justru tak bisa berhenti untuk tidak tersenyum. Tindakan impulsif Becca pada akhirnya berhasil menyelamatkan seseorang yang ia sukai, meskipun dirinya yang menjadi korban.

Tak lama kemudian, Derren kembali dengan sekantong obat di tangan kanan. Melihat pria itu menyodorkan kantong obat itu, Becca segera menegakkan badannya dan meraih kantong itu; menjejalkannya pada tas yang tergelatak di tepi ranjang. Namun karena gerakannya terlalu cepat, membuat luka di perutnya kembali terasa nyeri.

“Pelan-pelan saja,” ucap Derren. “Kau butuh kursi roda? Aku akan ambilkan untukmu.”

Becca sontak menahan Derren dengan menarik tangan pria itu cepat. Pandangan mereka bertemu, sentuhan tangan dari Becca membuat Derren mengernyit, memperlihatkan dengan jelas cekungan tak begitu dalam di kening.

“Tidak perlu! Aku bisa jalan sendiri.”

Sadar akan tangannya yang masih memegang lengan Derren, Becca segera menariknya dan berdehem pelan. Perlahan, ia berdiri dan berusaha untuk tegak meskipun rasa panas dan nyeri kembali menjalar dari lukanya.

“Berapa aku harus membayarmu?” tanya Becca setelah mereka merada di dalam mobil Derren.

Derren menyipitkan matanya, mencoba untuk menyelami pikiran wanita yang ada di sebelahnya itu. “Membayar untuk apa?”

“Biaya perawatan. Aku tidak ingin berhutang budi pada orang lain.” Becca mengatakannya dengan tegas, tanpa tersirat keraguan sedikit pun.

Derren menjadi sedikit tertarik pada Becca. Bagaimana bisa ia mengatakan akan mengganti biaya perawatan, sementara wanita itu juga yang telah melompat di depannya dengan tiba-tiba saat para gerombolan preman tadi menghunus pisau lipat. Bukankah itu tidak masuk akal? Jika Derren adalah Becca, ia pasti menganggap semuanya telah impas.

“Biaya perawatan itu adalah balas budiku padamu,” jawab Derren, sambil menginjak pelan pedal gasnya. “Kau menyelamatkanku, ingat?”

“Berarti kita impas?” Becca berusaha memperjelas.

Derren mengangguk, tapi sedetik kemudian berdecak kencang. “Kau benar-benar wanita yang aneh. Bagaimana bisa kau melompat begitu saja untuk menjadi tameng pada orang yang tidak kau kenal?”

Becca mengerutkan keningnya. Mencari alasan tentang tindakannya yang memang tidak akan pernah bisa diterima oleh akal sehat mana pun. Lagipula Derren tidak akan pernah percaya jika Becca mengatakan bahwa ia melakukan itu karena menyukainya.

“Mungkin karena aku merasa menjadi seorang yang harus melindungi orang lain. Dan kebetulan aku melihatmu sedang terkena masalah. Yah, begitulah.”

Jawaban yang aman, kan? Lagipula Derren tidak akan mengingat dirinya di beberapa kelas yang sempat ia pimpin.

Derren memicingkan kedua matanya, jelas ia tidak bisa menerima alasan tidak masuk akal yang baru saja dilontarkan oleh Becca. “Kau gila? Bagaimana kalau kau mendapatkan hal yang lebih buruk dari saat ini?”

“Mati yang kau maksud?” Becca mengatakannya seolah itu bukanlah hal yang menakutkan. “Setidaknya aku mati karena telah menyelamatkanmu. Tidak masalah.”

“Rebecca Willson, benar? dengarkan aku,” ucap Derren lagi, masih dengan tetap mengemudikan mobilnya tenang. “Aku tidak tahu masalah apa yang ada di hidupmu, tapi jangan pernah sekalipun mengorbankan nyawa demi orang yang tidak kau kenal. Atau kau akan menyesalinya.”

Becca tersenyum. Percuma ia menjelaskan pada Derren tentang pandangannya terhadap kehidupan. “Baiklah, Prof. Lambert. Aku tidak akan melakukannya lagi.”

“Prof. Lambert? Kau tahu siapa aku?”

Derren terkejut saat Becca memanggilnya dengan sebutan Prof. Lambert. Sementara dari tadi, ia bahkan tidak menyebutkan namanya pada Becca. Lagipula, tidak ada yang tahu bahwa dirinya juga seorang dosen profesor selain profesi utamanya sebagai CEO dari sebuah perusahaan perdagangan yang menduduki peringkat tiga besar di Amerika selain mahasiswa/mahasiswi di St. Paul University.

Becca menoleh cepat pada Derren, terlihat panik karena tanpa sadar kelepasan bicara. Berpura-pura bodoh adalah jalan ninjanya. “Apa? Aku bilang seperti itu?”

“Kau kuliah di St. Paul?”

Sial! Becca telah tertangkap basah. “Aku berada di kelas saat kau menjadi dosen tamu.”

Derren mengerutkan keningnya, mencoba untuk mengingat sosok Becca di kelasnya. “Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

Becca tertawa kecil, pundaknya sedikit bergoyang. “Tentu saja, aku selalu berada di paling ujung dan tak terlihat. Tapi aku bisa melihatmu dengan jelas dari tempatku duduk.”

Mobil berbelok ke sebuah kawasan perumahan, tempat di mana Becca tinggal.

“Terakhir aku menjadi dosen tamu adalah tahun lalu, dan kau masih mengingatku?” tanya Derren.

Becca mengangguk pelan, hampir tak kentara. “Ingatanku tajam. Karena itu, responku bertindak lebih cepat dari otakku saat melihatmu dalam situasi seperti tadi. Maaf karena telah merepotkanmu.”

Derren menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan halaman luas tak berpagar. Setelah menarik tuas rem tangan, ia menoleh pada Becca dan menatapnya dengan penuh keheranan. Entah kenapa dari tadi Becca berhasil menarik perhatiannya.

Well, tentu saja tindakan Becca tadi memang sangat menarik perhatian. Namun cara berpikir wanita itu, dan juga bagaimana cara ia berbicara padanya, seakan ada aura lain yang menariknya untuk lebih memperhatikan wanita itu.

“Kau memang aneh. Seharusnya aku yang minta maaf padamu karena gara-gara aku, kau menjadi celaka seperti sekarang.”

Becca tersenyum. Ia pun mengakui bahwa dirinya aneh, dan saat ini dia tidak menyesalinya. Come on, bagaimana bisa ia menyesali tindakannya jika karena itu, ia bisa memiliki waktu untuk bersama dengan seorang Derren Lambert?

“Terima kasih karena telah mengantarku, Prof. Lambert. Aku ingin mengajakmu untuk mampir, tapi kau pasti sedang dalam jam sibuk.” Becca hendak membuka pintu mobil, tapi gerakannya terhenti sebelum sempat tangannya menarik tuas pintu.

Seorang wanita berambut pirang, didorong kencang ke arah pintu oleh pria paruh baya berpawakan gendut. Keduanya saling berteriak, dan berakhir dengan sang pria menarik kasar rambut wanita kembali ke dalam rumah.

“Mereka orang tuamu?” tanya Derren.

Becca tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang sambil memejamkan matanya erat, berusaha untuk menghalau ketakutan yang tiba-tiba menyebar di dalam dirinya. Derren menyadari hal itu, keningnya kembali mengerut saat melihat gestur tubuh Becca yang terlihat tidak nyaman. Ia bahkan melihat pundak Becca sedikit gemetar.

“Orang tua angkat. Mereka memang sering seperti itu, anggap saja kau tidak pernah melihatnya.” Suara Becca terdengar bergelombang.

Derren dengan cepat menahan Becca saat wanita itu akan keluar dari mobil. Tidak ada alasan, bahkan pria itu juga terkejut dengan tindakannya sekarang. Sementara Becca telah menuntut jawaban melalui tatapan matanya.

“Ikutlah denganku.” Derren mengunci pintu mobilnya lagi. Badannya dicondongkan sampai di depan Becca yang masih duduk, membantunya memasang kembali sabuk pengaman.

“Prof. Lambert?” Suara Becca tercekat, ketakutannya teralihkan dengan tindakan Derren yang sangat tiba-tiba.

Derren menginjak pedal gasnya tanpa menoleh lagi pada Becca. “Hari ini kau ikut denganku.”

Bab 2

“Panggil saja Derren. Lagipula aku tidak akan pernah mengajar lagi.”

Becca menoleh cepat, tatapan kagum saat menatap mansion besar di hadapannya segera terarah pada Derren. Kedua matanya sedikit memicing, menautkan alis tebalnya yang terbentuk alami. Pintu besar terbuka, membawanya pada istana pribadi milik Derren Lambert. “Kenapa kau tidak akan pernah mengajar lagi?”

Tatapan mata Derren tak terbaca, kilatannya terlihat penuh misteri saat pria itu menoleh pada Becca. “Sebut saja aku terlalu sibuk. Nah, Becca… karena aku tahu kau merasa tidak nyaman jika pulang ke rumahmu sendiri saat ini, aku mengizinkanmu untuk tinggal di sini sementara waktu.”

Becca jelas tidak mengerti dengan situasi yang saat ini sedang ia hadapi. Hari ini terlalu hectic baginya. Pada situasi normal, ia hanya perlu pulang pergi dari rumah ke kampus. Berusaha untuk tidak menonjol, dan mengendap cepat ke dalam rumah; berharap orang tuanya tidak menangkap sosoknya.

Ugh! Becca mengeryit dengan sebelah mata tertutup saat luka yang ada di perutnya mulai terasa menyiksa. Terlalu banyak bergerak bukanlah anjuran dokter saat memperbolehkannya pulang. Namun wanita itu dari tadi terus berjalan ke sana – kemari.

“Kenapa?” tanya Becca.

Derren meraih tangan Becca, menuntun wanita itu untuk duduk di sebuah sofa yang terletak di ruang tengah dengan interior super mewah. Suasana klasik yang tak akan pernah dimakan zaman seakan menyedotnya masuk ke dalam novel sastra yang pernah ia baca di perpustakaan kampus.

Selain itu, satu benda yang berhasil menarik perhatian Becca adalah lampu kristal gantung di atasnya yang terlihat besar dan megah. Saat ini ia merasa sedang berada di dunia yang berbeda, Becca bahkan merasa seperti tidak pantas berada di ruangan ini saat melirik bajunya yang terlalu sederhana.

“Anggaplah aku ingin balas budi pada dirimu karena telah menyelamatkan nyawaku. Dan karena luka di perutmu harus dirawat dengan baik, bukan? Kurasa orang tuamu lebih sibuk bertengkar.” Derren duduk di sebelah Becca, menatapnya penuh penasaran. “Katakan, kenapa kau terlihat ketakutan saat melihat mereka tadi?”

Becca menggigit bibir bawahnya. Bagaimana bisa ia menceritakan kehidupannya yang berantakan pada pria yang ia sukai? Tidak, itu akan membuat nilai dirinya jadi jatuh. Becca tidak ingin terlihat lemah. “Siapa yang takut? Kau salah lihat.”

Sebelah mata Derren menyipit, menyadari kebohongan di bawah ucapan Becca. “Kau tidak lupa dengan gelar profesor yang melekat di diriku, bukan?”

Sial! Tentu saja Becca tidak bisa berbohong pada Derren. Pria itu adalah Profesor Psikologi yang selalu menjadi dosen tamu rutin di kampusnya, setidaknya sampai tahun lalu. Indikator kebohongan adalah julukan lain bagi Derren selain pria tampan kaya raya penuh pesona.

Karena memikirkan hal itu, Becca menjadi mulai teralihkan dengan fakta bahwa Derren adalah sosok pria yang jenius. Bagaimana bisa dia meraih gelar profesor di umur semuda ini, dan masih sukses menjadi CEO perusahaan besar? It's like, apa pun bisa dilakukan pria itu.

“Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Derren lagi.

Becca tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Masalahnya sekarang adalah, ia termasuk tipe orang yang cenderung berucap dulu sebelum memikirkannya. “Apakah otakmu tidak lelah memikirkan semua hal yang ada pada dirimu?”

Derren menautkan kedua alisnya. “Apa maksudmu?”

Becca membenarkan posisi duduknya. Wajahnya terlihat lebih antusias dari sebelumnya. “Kau bisa mendapatkan gelar profesor, sementara kau juga seorang CEO di sebuah perusahaan besar. Bagaimana bisa? I mean, apa yang kau lakukan untuk bisa membagi otakmu untuk melakukan semua hal itu dalam satu waktu?”

Derren terkekeh, semakin menatap Becca intens dan tanpa sadar telah sedikit mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Becca. Jujur saja, ia terus terkejut dengan apa yang telah diucapkan oleh Becca. “Kenapa kau seakan mengetahui semua hal yang ada pada diriku?”

Becca tersentak, menyadari bahwa dirinya telah melanggar batas lagi. Umpatan kasar menggema di pikirannya. Selain bodoh telah melompat begitu saja di tengah-tengah preman yang membawa pisau, ia juga mulai menyadari bahwa dirinya terlalu bodoh untuk menahan mulutnya agar tidak bicara yang seharusnya tidak diucapkan. Saat ini, dia terdengar seperti seorang maniak yang telah memata-matai Derren.

“Kau tak menyadari kalau kau sangat terkenal di kampus? Aku mendengar banyak rumor mengenaimu,” jawab Becca cepat.

Hal itu bukan kebohongan. Teman-temannya di kampus memang sering bergosip banyak hal, salah satunya adalah tentang Derren Lambert. Dan tentu saja ia sebagai tersangka utama yang menyukai Derren, mengumpulkan informasi itu dengan senang hati.

“Begitukah?” Derren menyeringai. “Cukup menyenangkan saat mengetahui tentang diriku yang digosipkan para anak muda seperti kalian. Tapi, jangan mengalihkan pembicaraan lagi, Rebecca. Kau tahu harus menjawab pertanyaanku tadi.”

Becca menghela napas. Bersamaan dengan itu, ia merasa lega saat Derren menarik tubuhnya; memberi ruang bagi Becca untuk menata lagi ritme jantungnya yang hampir meledak.

Sementara kabar buruknya adalah, tidak ada jalan keluar lagi bagi Becca untuk saat ini. “Pertama, panggil saja Becca. Aku tidak terbiasa dipanggil Rebecca.”

Derren menyeringai, apa pun yang ia inginkan selama ini akan selalu ia dapatkan. Termasuk hal ini. “Got it, yang kedua?”

“Well…” Ada jeda sedikit sebelum Becca melanjutkan. “…mereka mengadopsiku saat aku masih kecil. Awalnya kami baik-baik saja, sampai beberapa tahun terakhir tiba-tiba mereka sering bertengkar. Bahkan Dad jadi sering memukul Mom. Setiap bertengkar, mereka selalu mengatakan kalau aku adalah anak pembawa sial. Mom yang awalnya selalu melindungiku, sekarang jadi ikut menyalahkan dan membenciku. Beberapa kali aku harus mengurung diri di kamar karena takut menjadi sasaran saat mereka bertengkar. Kurasa mereka ingin bercerai, tapi terhalang karena aku ada di tengah-tengah mereka.”

Untuk hal itu Becca bisa dengan mudah menceritakannya, tapi tidak dengan ayah angkatnya yang beberapa bulan terakhir mulai memukulnya. Jika ia menceritakan hal itu juga pada Derren, runtuh semua harga dirinya.

Derren kembali melihat pundak Becca yang mulai gemetar lagi. Secara naluri, ia menepuk pelan pundak Becca untuk menenangkannya. “Tinggal saja di sini kalau kau mau. Tidak perlu pulang ke sana.”

Becca mendongak, menatap heran pada Derren. Tak cukup dengan semua hal yang telah ia alami hari ini, masih saja ditambah dengan perkataan konyol dari seorang pria yang ia sukai? Really? “Jangan bercanda. Kita bahkan baru saling berinteraksi hari ini,” ujar Becca.

Sekalipun Becca menyukainya, tapi sikap Derren itu saat ini membuatnya tidak nyaman. Bagaimana bisa pria yang bisa dibilang baru mengenalnya langsung menawarkan tempat tinggal?

“Aku hanya ingin membalas budi pada orang yang telah menyelamatkan nyawaku.” Derren mendengkus pelan. “Memangnya apa yang kau pikirkan.”

Becca tersentak, menyadari pikiran konyol yang sempat ia pikirkan. Memalukan! Bisa-bisanya cara berpikirnya bisa serendah itu. Bodoh! “Nothing, memang apa yang aku pikirkan?”

Derren menyeringai. Ia merasa gemas pada sikap Becca yang menurutnya sangat lucu. Sedetik kemudian, ia kembali tersadar. Sikapnya sendiri terlihat sangat bebeda dengan biasanya. Selama bertahun-tahun ia merasa tidak ingin dekat dengan wanita mana pun, tapi entah kenapa saat ini ia seperti tersedot pada pesona Becca. Namun apakah wajar jika secepat ini?

“So, kau menerima tawaranku?” Derren bertanya sekali lagi.

Becca mulai bimbang, harga dirinya merasa tertantang oleh tawaran dari pria yang ia sukai. Jika ia mengatakan iya, pasti ia akan bisa bebas memandang wajah tampan itu setiap hari. Namun jika ia menolaknya, apakah ia telah melewatkan kesempatan emas dalam hidupnya? “Kurasa… lebih baik aku pulang saja. Aku tidak ingin berhutang budi padamu.”

Derren menatap dalam pada Becca. Rahangnya mengetat, seiring dengan desiran yang menyebar cepat dari dada. Penolakan itu membuatnya menjadi lebih tertantang. Pesona seorang Becca tidak main-main. “Hutang budi? Akan impas jika kau menjadi asisten pribadiku. Aku bisa membayarmu, dan membiayai kuliahmu, tapi ada satu syarat…”

Insting Becca mulai mengeluarkan alarm bahaya. Ia tahu arti tatapan mata dari Derren yang saat ini seakan sedang menguliti dirinya. Seharusnya, Becca tahu kalau otak seorang pria akan selalu didominasi dengan pikiran seperti itu.

“…jadilah wanitaku, maka aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik. All pleasure to you.”

Bab 3

Kedua mata hazel Becca membulat, menegaskan tentang rasa tidak terimanya yang mulai naik ke pusat logika. Ia memang menyukai pria yang sedang menatap buas di depannya itu, tapi tidak dalam alur seperti ini.

“Maafkan aku, Prof. Lambert. Ah, maksudku Derren. Aku… sepertinya, aku harus segera pulang!”

Becca berdiri cepat, di dalam pikirannya hanya terlintas tentang bagaimana caranya segera berlari dari tempat mewah ini.

“Tunggu!” Derren menarik tangan Becca, berdiri di depan wanita itu, sangat dekat. “Lukamu akan bertambah parah jika kau tidak bisa duduk dengan tenang, Becca.”

Tangan Derren terangkat, menggantung di sebelah kepala Becca. Mencoba untuk menelusup, tapi segera dihentikan karena akal sehatnya telah berhasil menampar sisi buas dalam dirinya yang telah lama ditahan.

Kaki Becca mundur satu langkah, menghindari tubuh proporsional dengan wangi musk yang sejujurnya selalu ia rindukan. Tidak! Harga dirinya tidak serendah itu.

Menjadi wanitanya? Dengan pengucapan nada yang seakan ingin memakannya bulat-bulat seperti itu? Yang benar saja!

“Terima kasih untuk niat baikmu, tapi aku bukan wanita seperti itu, Derren!” Becca menepis tangan Derren.

Sementara Derren menghela napas dalam-dalam. Membodohkan dirinya sendiri karena tak bisa mengontrol hasratnya yang naik secara tiba-tiba. Sialan! Kenapa juga ia harus mengucapkan kalimat bodoh seperti itu pada Becca. Di mana letak alpha aura yang selama ini melekat di dirinya? Menyedihkan sekali ketika ia seakan menjelma dari seekor serigala menjadi anak husky yang menatap sedih pada Becca yang baru saja menghilang dari balik pintu.

***

Seharusnya saat ini telah aman. Biasanya, orang tuanya hanya akan bertengkar selama beberapa menit, selanjutnya saling diam sambil menunggu dirinya lewat untuk dijadikan sasaran pelampiasan amarah.

Becca menelan ludahnya susah payah. Dengan sangat hati-hati, ia membuka pintu, mengendap tanpa bersuara; berjingkat-jingkat layaknya pencuri kecil menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.

“Rebecca Willson!” seru seorang pria bersuara berat dan serak.

Aliran darah Becca serasa berhenti mengalir. Tangannya mengepal, menyembunyikan gemetar yang tiba-tiba datang. Badan langsingnya berbalik kaku, menghadap pada Jhon Willson, ayah angkatnya. “Yes, Dad?”

Tanpa jawaban, Jhon Willson mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Tamparan keras mendarat pada pipi Becca, menciptakan panas menyengat dan membuat telinganya berdenging kencang.

“Sudah kubilang pergi dari rumah ini!! dasar anak pembawa sial!!” Tak puas hanya dengan menampar, Jhon Willson mengayunkan tendangannya pada kaki Becca.

“Dad…” rintih Becca, luka di perutnya mulai terasa panas.

Jhon Willson semakin tak terkontrol. “Pergi!! Gara-gara kau, keluargaku berantakan!!”

Tangannya terangkat lagi, bersiap untuk melayangkan pukulannya lagi pada Becca yang telah bersimpuh di lantai, namun segera terhenti saat seseorang menangkap tangan itu dan memitingnya ke balakang, membuat Jhon Willson mengumpat sumpah serapah.

“Derren?” bisik Becca, sambil mengernyit dengan rahang mengetat karena menahan rasa teramat sakit di luka yang mulai merembes merah lagi.

“Kurang ajar! Lepaskan!!” sentak Jhon Willson, berusaha menatap Derren yang semakin menarik tangan pria itu sampai mengaduh kesakitan. “Sialan! Siapa kau?! Lepaskan!!”

Derren menyeringai, menampilkan tatapan tajamnya yang berhasil merenggut nyali Jhon Willson. Tak hanya sorot tajam, pria paruh baya tersebut seakan melihat sorot mata yang tak akan segan membunuh.

“Sungguh, aku sangat membenci seorang ayah yang seharusnya melindungi anaknya.” Suara berat Derren terdengar mematikan. “Tak peduli anak kandungmu atau bukan, bukankah perbuatanmu ini lebih biadab dari para anjing liar yang memangsa buruannya?”

“Siapa kau sebenarnya?!” Jhon Willson masih bersusah payah untuk melepas tangannya dari cengkeraman Derren.

“Aku?” seringai menghiasi wajah Derren. “Aku adalah wali Becca mulai saat ini. Semua hal yang berhubungan dengan Becca akan menjadi tanggung jawabku. Sekali lagi kau menyentuh wanitaku, aku tak akan segan-segan mengambil nyawamu yang tak berharga itu. mengerti?!”

Jhon Willson menggeram, merasa tak terima tapi tak bisa berkutik. Derren semakin mengencangkan tarikan di tangan pria paruh baya itu, sampai akhirnya benar-benar mengangguk dan mengatakan tak akan pernah mengganggu Becca lagi.

“Good,” ucap Derren. “Kau tak akan menyesal karena telah menuruti ucapanku saat ini. Dan jika kau melanggar janjimu itu, bersiap-siaplah untuk menerima lebih dulu dariku!”

Derren melepas tangannya, mendorong tubuh Jhon Willson menjauh, dan membiarkan pria itu kabur. Saat ia menoleh pada Becca, wanita itu masih menatapnya ngeri. Sosok baru lagi yang ia temukan di diri pria yang ia sukai. Kali ini, ia tak bisa lari lagi. mungkinkah ia akan lebih aman jika bersama Derren Lambert?

Tak sempat menatap lebih dalam lagi, pandangan Becca telah menggelap. Ia pingsan di pelukan Derren.

“Becca, sudah kubilang untuk jadi wanitaku saja. sekarang aku tidak akan pernah melepaskanmu.”

Derren menggendong Becca, mendekapnya erat ke luar rumah. Mulai saat ini, tak ada lagi Rebecca Willson. Wanita cantik itu, telah menjadi seorang yang baru, Becca Lambert.

***

Hening.

Becca mengerjap pelan, merasakan beberapa tubuhnya yang nyeri saat ia mencoba untuk bergerak. Hei, apa yang ada di tangannya?

Jarum infus? Mungkinkah ia berada di rumah sakit? Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Tak mungkin ia berada di rumah sakit. Ruangan ini terlalu mewah untuk sebuah kamar rawat inap, bahkan VVIP sekalipun.

Ah, rahangnya sedikit sakit saat ia mencoba untuk membuka mulutnya. Tamparan ayah tirinya benar-benar penuh tenaga. Mungkinkah itu yang membuat kepalanya sekarang terasa berat?

“Kau sudah merasa lebih baik?”

Suara itu, Becca menoleh cepat. Derren Lambert tersenyum padanya. Mata birunya terlihat lebih terang dari tadi. Meskipun begitu, Becca masih menarik tubuhnya untuk mundur sedikit saat Derren memeriksa suhu tubuhnya.

“Sudah turun. Tadi kau demam saat kubawa ke sini,” ucap Derren, sambil menarik kursi sebelum diletakkan di sebelah ranjang Becca dan duduk di atasnya. “Karena kurasa kau akan lebih nyaman jika dirawat di sini, aku memanggil dokter pribadi yang biasa merawatku saat sakit. Katakan, apa yang kau rasakan saat ini?”

Orang gila mana yang menanyakan bagaimana perasaan Becca setelah semua hal yang ia lalui hari ini. Tentu saja ia merasa tidak baik-baik saja.

“Kenapa kau membawaku ke sini?” Pada akhirnya, Becca hanya menanyakan itu setelah puluhan pertanyaan telah coba ia rangkai dalam pikirannya.

Derren bersandar santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Kekehan ringan terdengar, sementara kedua matanya menatap lembut pada Becca. “Lalu aku harus membiarkanmu mati di tangan ayah angkatmu itu? Kau bahkan telah diusir dari rumah. Atau… kau memiliki tujuan lain selain di sini?”

Becca terdiam. Tak perlu ditanyakan, jawabannya sudah jelas bahwa ia tak memiliki tempat lagi untuk dituju. Sejujurnya, ia tadi sempat berharap untuk mati saja sebelum Derren datang untuk membelanya.

“A-aku… bisa pergi ke mana saja. Aku bisa tidur di mana saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan.” Becca menunduk, ia merasa tak nyaman saat kedua mata mereka beradu.

“Kalau begitu… tinggallah di sini. Kau bisa tidur di mana saja, kan?” Derren menyunggingkan sebelah senyumnya.

Tawaran yang menggiurkan, tapi bukankah itu sama saja Becca menjual dirinya sendiri pada pria di depannya saat ini? apakah itu tindakan yang wajar pada wanita seumurnya? Bahkan jika ia sudah berada di umur yang benar-benar dewasa, apakah hal seperti ini normal dilakukan?

“Aku tidak memiliki uang untuk membayar biaya sewa. Lagipula, jarak dari mansion ini ke kampus terlalu jauh. Aku kesulitan untuk mengejar bus kalau tinggal di sini.” Alasan yang masuk akal bagi manusia berpola pikir sederhana.

Derren mencondongkan badannya, menikmati setiap moment saat Becca berjingkat kaget tiap kali dirinya mendekat. “Kau tidak perlu membayar. Justru aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Termasuk akomodasi transportasi kemana pun kau pergi.”

Becca menatap gelisah pada Derren. Apakah ini artinya, ia terlepas dari kutukan keluarga angkatnya, tapi harus masuk ke kandang serigala?

Derren kembali bersandar, posisi yang sama seperti tadi. Sebelum berbicara, seringainya mengembang separuh di sisi kiri. “Kamar ini adalah milikmu, rumah ini bisa kau anggap rumah sendiri, sementara kau…” sorot biru Derren menembus pertahanan Becca. “…adalah milikku.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED