Bab 2

Tanpa mengetahui apapun mengenai Caleb, Eddith menyambut kedatangan mereka dengan penuh kehangatan.

"Nona Eddith sudah semakin dewasa saja." Ucap Caleb dengan tersenyum tipis.

"Ah, ia Tuan. Maafkan aku, aku tidak mengenal tuan sebelumnya." Balas Eddith dengan perasaan canggung.

"Tidak masalah, namun sebagai pria yang telah dipercaya oleh paman Dave, aku merasa sangat bertanggung jawab." Ucap Caleb berbohong, dan Eddith pun percaya begitu saja.

"Ayah merepotkan tuan, maafkan ayahku, tuan Caleb."

"Tidak masalah, selama berada di negera ini kau sepenuhnya menjadi tanggung jawabku. Jadi, tak perlu merasa sungkan dan tak perlu juga berkata apapun pada paman. Karena, paman akan merasa sangat terbebani tentunya."

"Baik, Tuan Caleb. Terimakasih atas kepedulian tuan."

Sejak pertemuan pertama kali itu, Eddith menjadi lebih sering menghabiskan waktu bersama Caleb. Eddith bahkan bekerja di sebuah perusahaan milik Caleb tanpa sepengetahuannya. Caleb berlagak seperti pria biasa yang banyak membantu, hingga tiba saatnya sifat posesif Caleb mulai muncul.

***

Apartemen Kediaman Caleb Linch •

"Tuan muda, sampai kapan tuan akan berada di kota ini?" Tanya asisten Joviz.

"Sampai aku dapat menguasai perasaan Eddith."

"Bukankah itu membutuhkan waktu, tuan? Karena sepertinya, Nona Eddith bukan tipe wanita yang gampang dirayu."

"Tentu saja, jika dia wanita gampangan, untuk apa aku sampai bertindak sejauh ini. Pastikan dia tidak berpikir untuk berkomunikasi dengan Dave."

"Baik, Tuan muda."

Caleb pun duduk menghadap ke arah jendela dengan pemandangan malam dipenuhi bintang di langit.

Ugh.. "sial! Eddith, aku sudah tidak sabar ingin menguasai mu sepenuhnya, dari ujung kaki hingga ujung rambutmu.." ucap Caleb sembari bermain solo dengan batang berurat miliknya. Menaik-turunkan jemarinya, sembari membayangkan hal-hal mesum bersama Eddith.

Aghh... Caleb pun mencapai titik klimaks dengan napas terengah-engah. "Brengsek! Ini berbeda, aku ingin Eddith sungguhan, berbaring melebarkan kedua kakinya hanya untukku.." ucap Caleb penuh hasrat.

Caleb pun mengambil iPad miliknya, memantau keberadaan dan semua pergerakan dari Eddith, tanpa sepengetahuan dari Eddith sendiri.

"Wanitaku cepat sekali beradaptasi dengan situasi apapun.. jika begini, akan ada banyak lalat busuk mulai menggodanya.." ucap Caleb, dengan segala sikap posesif dan obsesi yang mulai mencuat.

"Segera pindahkan Eddith ke divisi bagian pemberkasan, agar tidak banyak lalat yang mencoba menempel." Titah Caleb pada asistennya, yang khusus di tempatkan pada perusahaan tersebut.

***

•Perusahaan Penyedia Jasa Kota A•

Eddith terlihat cukup sibuk dengan tanggungjawab barunya dibagian divisi pemberkasan perusahaan. Sehingga, tak banyak waktu bagi Eddith untuk saling berinteraksi dengan rekan kerja lainnya. Karena itulah yang Caleb inginkan, tak sulit untuk mengatur segalanya sesuai keinginan harapan Caleb.

Bzztt...

"Ayah?" Ucap Eddith lalu menerima panggilan dari ayahnya, Mr. Dave.

Mr. Dave: "Eddith, putri ayah, bagimana keadaanmu di sana?" Tanya Mr. Dave dengan suara penuh kecemasan.

Eddith: "Aku baik-baik saja ayah, aku bahkan sudah bekerja dengan baik. Bagaimana kabar ayah di sana?"

Mr. Dave: "Ah, sungguh? Ayah sangat lega mendengarnya, ayah harap semua baik-baik saja."

Eddith: "Baik Ayah. Kuharap, ayah tidak terlalu memaksakan diri. Jika lelah, beristirahatlah ayah.."

Mr. Dave: "Baiklah, sayang. Mendengar kau dalam kondisi baik, ayah sangat lega dan bahagia.." ucap Mr. Dave dengan suara melemah.

Eddith: "Ayah, jaga kesehatan ayah, karena aku hanya memiliki ayah saja.." ucap Eddith dengan menahan air matanya.

Karena sebenarnya Eddith sudah mengetahui permasalahan besar yang saat ini ayahnya sedang alami. Hanya saja, keduanya saling tak ingin membahas perihal masalah itu, demi menjaga perasaan masing-masing agar semua baik.

"Ayah masih sama, tidak berubah.. selalu menyimpan semuanya seorang diri.." ucap Eddith, kemudian terduduk lemas di atas kursi kerja miliknya. Menarik napas sejenak, dan berusaha agar tetap tenang ditengah situasi yang amat sulit ini.

Knock...knock...

"Permisi Nona Eddith, tuan CEO ingin bertemu dengan Nona sekarang di ruangan pimpinan." Ucap salah seorang rekan kerjanya.

"Baik, saya akan segera ke ruang pimpinan."

Eddith menatap wajah sendunya dicermin dan mulai menata ekspresi agar terlihat tetap profesional.

•••

•Ruangan Chief Executive Officer Caleb Linch•

"Selamat siang, Tuan Caleb, Nona Eddith disini." Ucap salah seorang bawahan, menghantarkan Eddith ke ruangan CEO untuk pertama kalinya.

Eddith sangat terkejut, tatkala mengetahui bahwa Caleb adalah pimpinannya sekaligus pemilik perusahaan tersebut.

"Selamat siang, Tuan." Ucap Eddith menyapa, sementara karyawan lainnya pun keluar stau persatu, tersisa Caleb dan dirinya.

"Kemarilah, Nona Eddith." Ucap Caleb menatap Eddith dengan begitu lekat.

"Apa kau tidak ingin bertanya, mengapa aku memanggilmu kemari?" Tanya Caleb, sembari berdiri dan bersandar di meja kerjanya, telat di hadapan Eddith.

Eddith cukup bingung harus bertindak seperti apa.

"Maaf, tuan, saya hanya menjalankan perintah tanpa banyak bertanya, jika itu ialah perintah dari atasan saya." Ucap Eddith dengan wajah tegap namun matanya menatap ke bawah, terasa segan untuk menatap Caleb secara langsung.

"Eddith, aku tahu, ayahmu sedang mengalami masalah besar dengan sisa dari gudang terbesarnya, bukan?"

"Maaf tuan, saya belum memahami maksud dari ucapan tuan.." balas Eddith, lalu mulai berani menaikan tatapannya.

"Aku tidak ingin aku sungkan padaku, terlebih ketika kita hanya berdua saja. Katakan saja, hal apa yang dapat kubantu untukmu, akan kulakukan apapun itu." Caleb dengan berani menyentuh wajah Eddith, spontan Eddith menghindar.

"Ah, maaf tuan, saya tidak bermaksud menyinggung anda." Eddith merasa bersalah atas sikapnya, namun itu merupakan tindakan reflek darinya sebagai wanita muda yang tak pernah memiliki hubungan dengan pria manapun.

"Eddith, jangan bebani dirimu dengan menyimpannya sendiri, katakan padaku, apa yang dapat kulakukan untukmu? Karena, kau sudah menjadi tanggungjawabku." Ucap Caleb dengan segala akal liciknya untuk perlahan membuat Eddith bergantung padanya dirinya.

"Saya hanya ingin membantu pekerjaan ayah bangkit kembali, namun sepertinya tidak semudah itu bagi pekerja baru seperti saya."

"Mengapa kau berpikir demikian, aku dapat memberikan segalanya untukmu, apa kau masih meragukan Caleb Linch? Aku tidak membawa nama keluargaku, namun namaku sendiri dengan kekuatan yang telah dibangun selama ini." Caleb meyakinkan Eddith untuk mulai mempercayainya.

"Biarkan saya untuk berpikir tuan, saya.."

"Aku akan memulihkan usaha ayahmu saat ini juga, jadi tak perlu banyak menunda." Caleb pun memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengadakan pasokan barang yang telah hangus terbakar bahkan berkali lipat banyaknya, hanya melalui telepon seluler saja.

Eddith benar-benar terperangah akan kekuatan dari seorang konglomerat di hadapannya.

"Tuan, terimakasih, tapi tidakkah ini terlalu berlebih-lebihan.. bagaimana kami harus mengganti segalanya, bisakah anda memberikan kami waktu lebih banyak, sampai semua asuransi kami.."

Shhtt... Caleb menghentikan ucapan Eddith, dengan menutup mulut Eddith menggunakan jari telunjuknya.

"Sekarang, cukup fokus saja dengan pekerjaanmu, urusan mengganti itu kita masih memiliki banyak waktu."

"Baik Tuan, terimakasih banyak."

Caleb menyeringai puas, akan segala rencananya yang berjalan cukup mudah.

***

Bab 3

•Kediaman Eddith Eugene •

Di sebuah rumah sewa minimalis, para penghuni yang fokus dengan urusan masing-masing.

Beberapa minggu kemudian...

Bzzztt...

Mr. Dave: "Eddith, lebih baik sekarang kau pergi dari kota itu, ayah akan mengirimkan biaya tiket pesawatmu saat ini juga.."

Eddith: "Ayah, ada apa lagi ini? Mengapa ayah selalu bertindak sepihak seperti ini.." ucap Eddith, cukup kesal dengan sikap ayahnya tersebut.

Mr. Dave: "Aku tidak akan langsung mengerti, namun kutegaskan padamu, pria yang selama ini menjadi malaikat penolong ialah seorang bajingan kejam tanpa perasaan!" Teriak Mr. Dave.

Eddith: "Ayah, apa yang ayah katakan?" Eddith terkejut akan sikap ayahnya yang tak seperti biasa.

Mr. Dave: "Caleb Linch ialah pelaku pembakaran gudang ayah, dan dia ingin agar ayah menyerahkanmu padanya. Tentu ayah tidak akan rela, karena dialah yang telah menyebabkan derita keluarga kita, keluarganya sangat busuk!" Isak tangis Mr. Dave

Sejenak, Eddith mencoba untuk mencerna semua ucapan dari ayahnya.

Mr. Dave: "Eddith, ayah hanya ingin kau tumbuh menjadi wanita ceria tanpa harus lelah memikirkan keluarga, karena kau berhak bahagia. Namun, jika ada yang mengusik mu, ayah ialah orang pertama menghadapinya.." Isak Mr. Dave sedari tadi.

Eddith mulai berpikir sejenak, dan menyadari ada banyak kejanggalan akan pertemuannya bersama Caleb dsna segala tindak Caleb yang diluar nalar, sebagai orang baru pertama bertemu.

Mr. Dave: "Eddith, jika kau masih tidak mempercayai ayah, maka akan ayah tunjukkan rekaman suara percakapan kami, ketika bajingan itu datang untuk mengancam ayah.." Mr. Dave pun segera mengirim bukti rekaman antara dirinya bersama Caleb waktu itu.

Eddith: "Ayah, aku harus pergi kemana?" Isak Eddith dengan tubuh gemetar ketakutan dan tak menyangka akan kenyataan yang baru saja diketahuinya kini.

Mr. Dave: "Pergilah ke Kota X, disana ada kerabat dari mendiang kakekmu...--"

Setelah mendengarkan semua itu, Eddith bergegas untuk bersiap-siap untuk pergi meninggalkan negara perbatasan yang kini ditempatinya. Eddith akan pergi ke sebuah kota yang terletak paling ujung, sebuah kota kecil.

***

Eddith bahkan tidak membawa banyak barang, hanya membawa beberapa kebutuhan juga berkas penting miliknya.

Eddith menumpang di sebuah kereta tua untuk tiba di desa tujuannya. Eddith akan membantu nenek dari saudara pihak kakeknya, untuk mengurus sebuah usaha kecil dan terletak di sebuah kota kecil, hanya membutuhkan beberapa puluh menit perjalanan saja dari desa.

Kota X•

"Kediaman Mrs. Leah Eugene"

Sebuah rumah minimalis dengan desain klasik ala Jepan9, karena suami dari nenek Leah merupakan keturunan asli Jepan9

"Selamat pagi, nenek.." ucap Eddith menyapa seorang wanita tua yang sangat mirip dengan mendiang kakeknya.

"Eddith, cucu kami.." ucap nenek Leah, lalu mendekap Eddith.

"Lama sekali kita tidak berjumpa, nek.. maaf, baru sekarang aku menemui nenek.." ucap Eddith menangis haru di dekapan nenek Leah.

"Sudahlah, yang lama biarlah berlalu, saat ini terpenting kau sudah bersama nenek."

"Apakah nenek tinggal seorang diri?"

"Ah, nenek bersama Molly," ucap nenek Leah, sembari menyerukan nama Molly, yang ternyata seekor anjing lucu berbulu lebat.

"Nenek, sekarang aku akan terus bersama nenek.." ucap Eddith tak kuasa menahan rasa sedih, tatkala melihat seorang wanita tua renta harus tinggal seorang diri untuk merawat dirinya.

"Mulai besok, kau akan belajar mengurus usaha kecil kita di kota."

"Baik nek." Ucap Eddith.

Kini, Eddith telah berdua bersama Nenek Leah, dan membantu segala pekerjaan yang biasa dilakukan nenek sendiri.

Mereka memiliki usaha kecil dibandingkan usaha milik ayahnya di kota A. Sebuah penyedia jasa juga sebuah toko bunga beserta toko perabotan rumah tangga lainnya.

Jarak tempuh lima belas menit dari desa tempat tinggal menuju tempat usaha mereka. Eddith mengendarai sebuah mobil bak sederhana, sebagai media pengangkut barang.

Kota X•

•Happy Florist Shop•

Eddith memulai pekerjaan barunya sebagai pengelola toko bunga juga toko perabotan di sampingnya. Sembari berjaga toko, Eddith juga melakukan pekerjaan paruh waktu lainnya yang dilakukan secara remote.

Bzzztt... Beberapa kali sebuah panggilan datang mengusik fokus Eddith, hingga akhirnya Eddith pun menerima panggilan tersebut.

"Apakah sudah puas bermain petak umpet ya, sayangku.." ucap seseorang yang tentu saja Eddith mengenal suara tersebut.

Eddith bergegas untuk menutup panggilan, sementara tubuhnya masih terasa lemas akibat syok.

"Sial! Apa-apaan ucapan tidak tahu malu itu!" Gumam Eddith yang mulai kehilangan rasa aman.

***

Meski lelah seharian, Eddith tetap memilih untuk pulang menemui nenek Leah di rumah. Setiap kembali, semua hidangan lezat sudah tersaji di atas meja makan.

"Eddith, ada paket untukmu, nenek sudah letakan di atas nakas kamarmu."

"Baik nek, terimakasih." Ucap Eddith sembari membersihkan diri, kemudian duduk di atas tempat tidur.

Sebuah bucket bunga beserta paperbag yang berusia gaun indah berada di sana.

"Semoga harimu semakin baik, aku mencintaimu.." Tertanda Mr. C.L.

Sebuah inisial nama yang tentu saja Eddith kenali. Eddith ingin mengembalikannya, namun tak tahu harus kemana.

Bzzztt.. beberapa spam pesan masuk ke ponsel Eddith, dan mulai mengusik ketenangan yang selama beberapa waktu terakhir dinikmatinya.

"Besok aku akan menemui di Happy Florist Shop."

Eddith mengabaikan pesan tersebut dan menganggapnya sebatas ancaman belaka.

Hingga tiba hari esok...

***

•Happy Florist Shop•

Saat sedang menikmati secangkir teh panas, seseorang tamu tak diundang datang ke toko tersebut.

Yah, tidak lain, dia ialah Caleb dengan setelah mantel panjang berwarna hitam, topi hitam. Meski berpenampilan biasa, aura kekayaan dengan uang unlimited pun tak dapat ditutupi.

"Saya ingin bucket paling best seller di toko ini." Ucap Caleb pada salah seorang pekerja, sembari menatap ke arah Eddith.

"Baik Tuan, silakan duduk menunggu kami menyiapkannya."

"Saya ingin bertemu langsung dengan bos kalian, karena kami adalah teman lama, Eddith Eugene."

"Ah, baik tuan. Silakan masuk." Ucap mereka dengan ramah.

Disanalah pertemuan mereka setelah sekian lama.

Di ruang kerja milin Eddith.

"Aku mengalami sedikit kesulitan untuk dapat menemukanmu, namun itu merupakan tantangan tersendiri bagiku. Selama ini aku berusaha agar tetap menunggu dengan tenang, namun rasanya aku merasa semakin resah saja."

"Mengapa anda melakukan kejahatan pada keluarga saya dan bertindak seolah-olah malaikat penolong?"

"Ah, sangat berterus terang sekali, tapi aku suka." Caleb bangkit dari tempat duduknya menuju ke arah meja kerja Eddith.

"Jawab! Mengapa kalian sangat kejam pada kami?"

"Mengapa? Alasannya, hanya untuk bercanda saja."

"Brengsek!" Plakk... Eddith memukul wajah tampan Caleb.

"Penderitaan serta kesusahan orang lain kalian anggap sebatas candaan saja? Benar-benar manusia keji!" Ucap Eddith penuh amarah.

"Lantas, bagaimana denganku yang harus menunggu lama untuk sebuah janji palsu diakhiri pengkhianat dari ayah beserta anak perempuannya.."

"Apa maksud anda, jangan berlagak sebagai korban! Bajingan!"

"Eddith, sejak kecil kita pernah sangat dekat, Dave bersama ibumu bahkan berjanji untuk menjodohkan kita. Namun, ketika mendiang kakekku hendak menagih janji, ayahmu dengan lantang mengatakan, jika Eddith berhak memilih jalannya sendiri. Ah, kau juga sudah menyetujui perjodohan itu. Namun, setelah sepuluh tahun kemudian, kau bahkan tidak mengingat wajahku.." ucap Caleb dengan setengah tertawa.

"Hanya karena itu?"

"Hanya karena itu? Seluruh usaha ayahmu, keluargaku yang menjadi penyokong, namun setelah mendengar pengakuan angkuh Dave, kakek terkena serangan jantung, karena merasa sangat dikhianati. Lantas, Dave masih saja berkilah, enggan untuk mengatakan yang sebenarnya?"

"Pembohong! Aku bahkan tidak pernah mengenal keluarga kalian! Pergi dari sini!" Usir Eddith.

"Baiklah, setelah ini aku akan membuat Dave berkata jujur padamu. Akan kutunggu kau merangkak ke arah kakiku, Eddith Eugene pembohong!"

Eddith merasa ucapan dari Celeb membuat sesuatu dihati kecilnya terguncang, seakan pernah terjadi sesuatu dimasa lalu mereka.

Apakah yang dikatakan Caleb memang benar adanya?

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED