“Terima kasih banyak..” Sebuah senyum sumringah pria gondrong itu perlihatkan pada semua orang yang menjadi rekan kerjanya malam ini. Dia kemudian menuju ruang ganti untuk berpakaian lebih dahulu sebelum pulang. Hanya celana jeans belel dengan jaket yang dirangkap sweater sudah menjadi style yang paling mencerminkan dirinya. Dan hanya dengan itu dia masih pula terlihat menakjubkan. Meski nasibnya tidak.
Begitu memastikan semua semua orang telah beranjak dan toko sudah dalam keadaan kosong, pria tampan itu langsung saja mengunci pintu toko dengan keamanan berlapis. Ketika mengambil langkah pertamanya, pandangan matanya langsung tertumbuk pada sosok wanita yang berjalan dengan setiap langkah yang dibuat melenggak lenggok serta make up cukup tebal yang menempel pada wajahnya. Membelalakan mata, pemuda itu lantas mendekat dan menarik pergelangan tangan wanita itu cepat-cepat sebelum wanita itu melangkah lebih jauh lagi dari jangkaunnya.
Tidak lagi, dia kapok membiarkan wanita itu pergi sendirian. Mestinya dia mengikat wanita itu dirumah saja. Bukannya membiarkan dia berkeliaran dengan gaun malam yang mencolok untuk mengundang gairah dari para pria hidung belang. Menurut pria itu sendiri dadanan si wanita lebih mirip wanita penghibur dibanding penyanyi klub malam.
Rambut wanita itu bergelombang, dicat warna orange terang. Gaun malamnya yang dia kenakan memiliki belahan dada yang rendah membuat bagian depan tubuhnya terekspos dengan mudah jika dia menunduk sedikit saja. Belum masuk kedalam bar saja dia sudah bisa membuat beberapa pejalan kaki pria perlu setidaknya minimal dua kali untuk melirik sambil meneteskan air liur menjijikan mereka. Pemuda itu tak habis pikir mengapa wanita itu rela memperlihatkan lekuk tubuh indahnya yang sama sekali tidak cukup bila ditutupi dengan gaun seksi macam ini hanya demi sebuah pekerjaan yang gajinya tak seberapa. Terus terang Dia risih menyaksikan wanita nomor satu dalam hidupnya itu dilirik para pria random dijalanan. Dia bahkan tidak berani membayangkan apa saja yang si wanita perbuat didalam tanpa pengawasan darinya.
“Pulang sekarang!” Pria gondrong itu begitu saja menarik tangan si wanita dengan paksa. Nada suaranya juga meninggi. Dia tidak suka melihatnya dalam penampilan seperti ini.
“Apa-apaan kau ini! lepaskan aku! Aku mau bekerja Lean!” Akhirnya nama si pria disebut, wanita itu membalas ujaranya dengan sengit ketika mata mereka bertatapan.
“Kau tidak perlu bekerja, biar aku saja. Kau mengerti ? diam saja dirumah ya?” pintanya sambil merajuk. Sementara kedua tangannya masih menawan tangan wanita itu. Tapi wanita itu malah tidak mau kalah dan mencoba menepis tangan yang menawannya dengan kasar.
“Kau pikir cuma kau saja yang bisa bekerja menghidupi kita? kau tau bahwa itu tidak cukup. Jadi tidak perlu so bersih dan menyuruhku diam dirumah!” balas si wanita dengan nada yang marah. Tapi mereka berdua adalah dua eksistensi yang paling keras kepala. Yang satu menolak maka yang satu akan memaksa dua kali lipat lebihnya.
“Berhenti menolak dan ikut aku pulang! Kau ini menyusahkanku sekali!” Lean lantas membuka jaket miliknya dan menyampirkannya begitu saja di bahu wanita itu. Dia tidak mau menerima penolakan apapun. Lean sungguh setengah membungkus tubuh wanita itu dengan jaket besar yang dia kenakan.
“Lean!” pekiknya lagi.
Kali ini Ketika tangannya disentak Lean tak lagi berusaha membawa si wanita pulang. Penolakan yang betul-betul keras tersebut menghentikan upaya Lean untuk membawanya pergi. Kali ini mata si pria nampak teriritasi saat melihat betapa merahnya polesan lipstick di bibir wanita itu. Astaga.. apa dia mengenakan lipstick yang berlapis-lapis sampai bisa setebal dan bling bling macam itu?
“Kau pulang duluan saja malam ini dan tidak perlu menungguku. Aku bosan harus terus mengurus tingkahmu yang berlebihan seperti aku ini adalah pacarmu. Aku tidak mau kau dihajar sekuriti karena kebodohan yang kau perbuat. Kau mengerti kan?” suruhnya lagi sambil telunjuk yang telah dihias kutek senada dengan bibirnya untuk menunjuk kearah dada Lean. Dia bahkan melepaskan jaket yang semula tersampir dibahunya dengan sangat mudah dan tanpa rasa bersalah. Jaket tak berdosa itu kini sudah jatuh ke jalan.
Lean hanya diam menatap wanita itu sekali lagi. Rasa tidak rela kentara terlihat dari air mukanya. Hatinya teriris pedih, Ketika melihat siluet wanita itu mulai masuk kedalam pintu masuk bar sambil melenggak lenggok seperti cara jalannya ketika mereka pertama kali bertemu. Leandra tahu bahwa disana berbahaya dan penuh pria hidung belang. Tapi wanita itu malah meminta dirinya berdiam diri dan pulang begitu saja tanpa upaya menyeret wanita itu kembali kerumah bersamanya ? jangan bercanda!
“Bu..” Lean tidak putus asa. Pada akhirnya memanggil sebutan itu terhadap wanita yang coba dirinya seret beberapa saat lalu. Biasanya panggilan itu akan cukup ampuh untuk membuatnya tidak berani melangkah maju lagi. Wanita itu Kembali menoleh, melirik kearah putranya yang masih terdiam membeku ditempat yang sama saat dia menepis tangan Lean dengan kasar.
“Lipstikmu tidak enak dilihat. Cepat hapus!” Leandra sudah berdiri didepan wanita yang adalah ibunya dan mencoba untuk meraih bibirnya. Tapi sang ibu cepat tanggap dan menghindari pergerakan Leandra dengan sangat mudah.
“Sudah kubilang jangan urusi aku dan pulanglah anak nakal! Bisa bisanya kau berkomentar soal make up luar biasa ibumu ini”
“Marie, cepat masuk! Sampai kapan kalian terus melakukan drama didepan pintu?” seorang sekuriti bergerak cepat menarik tangan sang ibu untuk masuk. Berhasil memisahkan Leandra dengan sang ibu sang sekuriti kemudian berdiri didepan pintu lagi sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
“Kau ingin membuat masalah lagi disini?” Baru kemarin dia melakukannya dan membuat ibunya kewalahan bicara dengan sang manager bar. Meski tidak suka, selama dia tidak punya uang yang cukup untuk membayar seluruh hutang itu dia tidak punya kuasa apa-apa selain membuat masalah.
Sekali lagi Lean harus mengalah dan merelakan ibunya untuk masuk kedalam sana. Membantu mencari nafkah untuk keluarga mereka. Ya, semua ini terjadi setelah kematian ayahnya. Sepeninggal kepala keluarga dengan tidak adanya harta peninggalan. Lean mulai banting setir menjadi sebuah mesin pencari uang. Dia melakukan apap saja yang bisa ditukar dengan uang. Pekerjaan apapun dia lakukan dikala senggang. Semua itu karena dia tidak bisa berdiam diri membiarkan ibunya bekerja ditempat laknat itu. Meski begitu setelah perjuangannya yang melelahkan, sang ibu masih tak dapat diselamatkan. Dia masih harus bekerja disana karena hutang. Seperti naskah drama ayah Lean adalah seorang penjudi yang memiliki hutang dimana-mana dan salah satu hutang terbesar yang dia limpahkan pada keluarga kecilnya adalah terhadap bar ini. Sehingga sang ibu mesti bekerja untuk menutupi hutang yang dibebankan sang ayah itulah yang kerap Marie ibunya katakan.
Setelah ini tidak ada yang bisa dia lakukan. Menunggu juga bukan jalan yang benar. Lean perlu pulang dan menyiapkan makan malam. Kedua adiknya pasti sudah menunggu dirumah. Namun baru saja memacu langkah menuju arah jalan pulang. Matanya melihat pada satu pemandangan yang membuat dadanya berdebar kencang. Bukankah itu wanita yang dia layani saat bekerja di caffe siang tadi? Dia terlihat sibuk menggandeng seorang pria mabuk yang nampaknya baru keluar dari bar. Meski pria itu terlihat bertingkah sedikit pada batas wajar, wanita itu sama sekali tidak mencoba melawan maupun kabur. Lean awalnya tidak ingin ikut campur, dan cukup mengamatinya dari jauh seperti ini. Lagipula dia mengira mungkin itu kekasih si wanita. Namun dia tidak bisa mempertahankan dirinya sendiri Ketika mendengar wanita itu memekik cukup kencang, sebab pria yang digandengnya berusaha untuk memeluknya secara paksa. Dan si wanita terlihat cukup kesulitan sekarang. Apalagi Ketika tingkah pria itu semakin menjadi dengan menarik kerah bagian atas si wanita seolah berusaha melepaskan kancing bajunya dengan paksa, tindakan asusila yang sangat tidak sopan dan kurang ajar. Geram dan tak tahan hanya berdiam diri dan menyaksikan. Pada akhirnya Lean tanpa ba bi bu lantas langsung menerjang melayangkan tinjunya dengan cukup keras kearah si pria mabuk itu hingga dia tumbang.
“Mampus kau—”
“APA YANG KAU LAKUKAN SIALAN! DIA KAKAKKU!” pekik si wanita yang kini malah menampar dirinya dengan keras. Bukan tamparan yang dia herankan. Melainkan perkataan si wanita.
Loh apa?
"Kau beruntung karena khusus kali ini perbuatanmu akan kuanggap tidak pernah terjadi, tapi kedepannya aku tidak akan segan menyeretmu ke kantor polisi." Alvida berujar pada pria asing itu setelah memastikan sang kakak telah masuk kedalam mobil. Wanita cantik itu masih tidak bisa melepaskan seluruh amarahnya, rasa dongkol terpancar dari wajahnya. Bagaimanapun pria yang berdiri dihadapannya sekarang ini baru saja memukul kakaknya. Awalnya Alvida memang berencana untuk langsung membawanya ke kantor polisi. Tapi mengingat waktu yang sudah larut, juga tubuhnya yang lelah Alvida sepertinya harus menunda keinginan hatinya untuk sementara. Dia tidak ingin terjebak dalam sebuah hal merepotkan seperti mengikuti prosedur pelaporan dikantor polisi. Waktu luangnya akan semakin terkikis percuma padahal dia begitu ingin segera ada dirumah.
Pria berambut gondrong yang baru saja berlagak layaknya super hero tersebut kini cuma bisa berdiri sambil menundukan kepalanya didepan Alvida. Mungkinkah dia sebenarnya orang baik tapi salah mengira? Mungkinkah dia merasa bersalah karena dirinya salah sasaran?
“Maafkan saya,” ujar pria itu dengan nada lemas. Kepalanya masih menunduk. Alvida hanya menatap pria itu tajam sembari melipat kedua tangannya didepan dada.
"Ini dunia nyata, jadi tolong pikir dulu dan bersikaplah layaknya manusia biasa sesuai tata aturan. Apa kau pikir tindakanmu sekarang layak untuk dikenang sebagai super hero dalam drama drama murahan? Apa yang kau lihat tidak selamanya benar. Gunakan otakmu sedikit sebelum bertindak!"
Setelah puas memakinya seperti itu, Alvida langsung masuk kedalam mobilnya untuk meninggalkan pria yang merepotkannya itu. Alvida sebetulnya bisa saja meminta ganti rugi pada dia karena telah melakukan tindakan kriminal dengan sembarangan memukul orang. Tapi Alvida masih mempertimbangkan keputusannya begitu dia melihat penampilan pemuda itu yang sepertinya tidak akan sanggup untuk membayar kompensasi yang sepadan atas apa yang telah dia lakukan. Nampak bahwa Alvida akan menjadi pihak yang sepertinya matrealistis sekali dengan menyeretnya demi kompenasasi besar disebabkan pemukulan. Tindakan itu dia nilai berlebihan dan cukup untuk mengundang infotaiment mengusut tuntas masalah kecil ini. Padahal untuk saat ini dia sedang menghindari awak media, sebab Alvida sedang merancang masa depan didepan mata. Alvida tidak mau hancur hanya karena sebuah gossip murahan yang menyebar.
Alvida melirik sang Kakak sudah tertidur dijok belakang. Mudah-mudahan dia tidak mempertanyakan sudut bibirnya yang lebam esok hari ketika dia sadar.
***
"Apa yang sudah terjadi pada Marco ?" Sosok kakeknya tanpa diduga telah berdiri dihadapan mereka. Pria tua itu seolah memang ada disana secara sengaja untuk menanti kedatangan mereka berdua. Alvida lantas bergerak cepat memerintahkan beberapa body guard khusus yang Kakeknya sewa demi menjaga kediaman Ivander. Tapi kali ini tenaga mereka Alvida pergunakan untuk membawa Marco yang masih belum sadar dari hangovernya.
"Saya menemukan Kakak ada di gang sempit di pintu keluar sebuah Club. Sepertinya Kakak depresi lagi." Alvida berkata dengan lugas terhadap Ivander. Kakeknya langsung mengerutkan kening begitu mendengar laporan singkat tersebut. Meski telah tua, namun ketegasan dari dirinya sama sekali tidak luntur. Bisa jadi karena efek dia yang sebagai kepala keluarga lah yang membuatnya sama sekali tidak terlihat melemah meski telah berusia lanjut.
"Club? bagaimana bisa kau bertemu dia?"
"Murni hanya sebuah ketidaksengajaan, Saya undur diri Kek. Saya sudah cukup lelah hari ini untuk mendapatkan introgasi dari Anda. Lebih jelasnya Kakek dapat bertanya pada Kakak besok pagi."
Alvida memberi salam dan menunduk penuh penghormatan pada pria yang disegani seluruh isi rumah ini. Tak buang waktu pula wanita itu langsung masuk kekamarnya sendiri dan melepaskan seluruh lelah yang sejak tadi dia tanggung. Betapa melelahkannya hari ini.
Marco dahulunya tidak seperti itu. Dia adalah seorang kakak yang baik sekaligus Direktur Utama di perusahaan keluarga mereka. Faktanya pria itu juga adalah pria yang paling lurus, paling kaku dan yang paling patuh terhadap seluruh tata krama dan aturan dikediaman mereka. Tapi, tepatnya setahun yang lalu Marco bertemu dengan seorang wanita yang bekerja di club malam yang kerap dia datangi akhir-akhir ini. Berdasarkan informasi dari beberapa orang suruhan sang Kakek, Marco diidentifikasi telah menjatuhkan hatinya pada wanita itu. Seperti yang bisa ditebak, hubungan mereka langsung mendapatkan pertentangan keras dari Ivander selaku kepala keluarga. Akibatnya Marco sempat hendak melarikan diri demi bersama wanita yang dia cintai. Namun usaha tersebut gagal, karena Ivander telah lebih dulu menciduk pria itu.
Sementara wanitanya sendiri ? nasibnya sama persis seperti kisah dalam drama yang kerap Cammie sahabat Alvida saksikan tiap harinya. Dia diberi uang suap oleh sang Kakek untuk menjauhi cucunya. Nominal yang tidak seberapa bagi kalangan elit sepertinya tentu berbeda jumlahnya dengan pandangan ukuran kelas rendah dari wanita itu. Sehingga tanpa perlu usaha keras dia mengerti dan menyadari posisinya.
Dengan membawa lari uang itu, wanita itu pergi meninggalkan Marco. Tidak ada alasan yang perlu dia sampaikan, karena sejatinya uang lebih menggoda ketimbang cinta yang terlalu rumit untuk mereka berdua. Sejak saat itu pula prilaku Marco mulai berubah. Dia mulai depresi dan kerap kali tertangkap sedang mengunjungi club malam tersebut demi mencari wanita yang dia cintai
Alvida sendiri hanya menjadi pihak netral mulanya. Dia sudah tahu sejak awal bila kakaknya terlibat asmara dengan seorang wanita yang jauh dibawahnya. Tapi segalanya berubah ketika Alvida pernah sekali kedapatan melihat wanita itu bercumbu rayu tanpa malu dengan pria lainnya. Maka pilihannya berubah menjadi pro pada sang Kakek. Ya, Alvida pernah melabrak wanita itu. Karena sungguh dia tidak pantas untuk bersama dengan Marco. Hasilnya hubungannya dengan Marco menjadi agak renggang karena merkea berdua bertengkar hebat.
Cinta? Itu adalah hal yang membuat Kakaknya jadi segila sekarang. Jadi ketika ada sebuah penawaran dengan dalih tersebut haruskah Alvida mengatakan iya dan menerima begitu saja setelah konsekuensi yang dia tahu terlihat didepan mata ? bukankah akan gila jadinya jika hidup Alvida yang lurus dan sempurna jadi hancur serupa milik kakaknya ? Alvida bersumpah tak akan sebodoh kakaknya, dan tak akan sudi mengenal perasaan itu seumur hidupnya. Apapun yang terjadi.
Alvida menghela napas berat. Isi kepalanya lagi-lagi penuh dengan masalah eksternal.
Harusnya bukan begini. Mestinya malam ini dia langsung tidur dan memejamkan matanya dengan mudah. Sebab besok dia harus menyelesaikan rangkaian dari persiapan menuju Show-nya yang hampir mendekati deadline. Itu adalah show yang sangat penting mengingat itu adalah tender besar yang bisa menaikan nama perusahaan dan juga namanya pribadi dikancah dunia fashion.
Alvida berharap semoga dia tidak mendapati ada masalah yang berarti setelah ini.
***
Leandra merasa sedikit bersalah hari ini.
Merutuki dirinya sendiri sebab dia tidak menyangka bisa jadi tipikal orang yang sembrono dan segila itu. Memukul orang tanpa alasan sudah jelas adalah sebuah tindakan kriminal. Jadi wajar bila wanita itu marah padanya. Dan karena sikapnya yang tidak bisa berpikir dengan cara yang waras itulah sepertinya wanita dengan pembawaan anggun tersebut sudah mencapnya sebagai pria rendahan. Dia masih ingat betapa menusuknya tatapan wanita itu padanya, namun dibalik itu semua wanita itu masih mempesona. Leandra akui tubuhnya mungkin tidak berisi layaknya sang ibu, namun justru karena perbedaan itulah dia malah jadi menarik. Tubuhnya kecil dan mungil, namun pembawaan serta sikap dan cara pikirnya memperlihatkan sekali bila dirinya adalah sosok wanita dengan kualitas tinggi.
Untuk pertama kali dia bertemu dengan wanita yang seperti itu. Bukannya dia tidak pernah melihat wanita kaya dan cantik hanya saja wanita high class macam dia sepertinya susah didapat dan ditemui dimanapun. Seperti bertemu dengan mahluk mitologi, saking langka dan layaknya mitos yang hidup dan berkembang di masyarakat. Terimakasih pada Tuhan yang sudah mempertemukan dirinya dengan wanita macam itu bahkan berinteraksi sebanyak dua kali meski pertemuan mereka sama sekali tidak disengaja. Wanita yang dalam pertemuan pertama sudah mengusik hatinya, menarik dirinya untuk terjerat dalam pesona yang dia punya. Namun dibalik itu semua mengapa dia harus berurusan dengan pria mabuk?
Lean bodoh! Bukankah wanita itu berteriak padanya jika pria itu adalah kakaknya? Tapi kenapa pria yang disinyalir adalah konglomerat tersebut bisa berada disebuah club malam pinggiran kota begini? Mestinya mereka menjaga citra mereka bukan?
Sudahlah. Titik. Ini bukan perihal yang harus dia urusi. Kedepannya pun mereka mungkin tidak akan pernah bertemu lagi. Apa yang mesti memenuhi pikirannya sekarang ? wanita asing? Lucu. Bukankah tidur nyatanya lebih bagus dan berguna untuk dilakukan ketimbang membuang waktu secara sia-sia?
Dihadapannya telah berdiri sebuah flat sederhana dan terkesan murah. Saat itulah Lean sadar bila dunianya terlampau jauh berbeda. Dia mungkin bermimpi, berandai untuk bisa menjalin hubungan dengan wanita kharismatik yang dia temui. Namun, dia cukup tau diri. Lihat kondisinya, dia hanyalah pemuda miskin. Flat yang ditempatinya terpencil, saat hujan turun lebat selalu saja ada bocor, meskipun Lean sudah berusaha untuk memperbaiknya disana sini. Tapi tetap saja.. terus begitu.
Masuk kedalam, dia disuguhi ruangan sempit. Hanya ada empat ruangan dalam flat tersebut. Kamar yang disekat dengan lemari. Kamar mandi, dapur dan ruang tengah yang disatukan. Lean mengintip pada satu ruangan yang terdapat pintu, dari celah tersebut dia melihat kedua adiknya sedang tertidur. Terlebih satu adik yang paling bungsu mengidap penyakit yang serius. Mereka membutuhkan biaya besar untuk menyambung hidup gadis malang tersebut.
Dari kondisi ini Lean selalu bertanya, kapan kira-kira ada waktu yang tiba bagi dirinya untuk dapat mengubah hidup keluarganya ?
“Bukannya sudah kuperingatkan berkali-kali jika dalam proses cutting itu harus dilakukan dengan detail dan hati-hati? Dan apa yang saat ini kulihat? Apa ini pantas untuk dilanjutkan?” Alvida berteriak kalap ketika pagi ini saat melakukan pengecekan dia mendapatkan satu buah kain yang digunting secara serampangan hingga benangnya terulur padahal proses pemotongan untuk sentuhan akhir tidak boleh sembarang.
“Ma—maafkan saya Bu. Saya mohon, saya tidak akan mengulangi hal ini lagi. Karena itu berikan saya satu kesempatan lagi.” Seperti biasa bila Alvida memergoki kesalahan mereka, akan terjadi sebuah drama klasik berupa permohonan maaf dan juga air mata. Dalam situasi ini biasanya Alvida akan mulai disudutkan oleh semua pandangan karyawannya. Tapi wanita itu tidak peduli.
“Aku tidak membutuhkan maaf darimu. Daripada kau berpura-pura menangis didepanku seperti itu. Mestinya kau sadar diri dan bersihkan kekacauan yang sudah kau buat. Selesaikan dalam tiga puluh menit. Aku akan Kembali mengeceknya lagi nanti. Anggap itu sebagai kemurahan hatiku.”
Perempuan yang kena semprot Alvida hanya bisa meneguk salivanya saja dengan susah payah saat berhadapan dengan sang bos. Jantungnya terasa melompat keluar begitu dia dimarahi didepan semua orang dengan suara menggelegar. Ketika Alvida sudah keluar dari ruangan barulah mereka semua bisa bernapas lega.
“Hei kau tidak apa-apa kan?” Semua orang mulai mendekati sang korban.
“Aku tidak apa-apa,” jawabnya pasrah.
“Aku harap kau tidak masukan kata-katanya kedalam hati. Dia memang selalu seperti itu pada semua pegawai yang menurutnya pekerjaannya tidak sesuai dengan standart. Kedepannya tolong lebih detail lagi, karena Bu Alvida memang orang yang perfectionist.”
“Iya, aku mengerti. Memang ini salahku. Sudah untung dia tidak memecatku.”
Sementara itu setelah Alvida berbalik meninggalkan ruang kerja karyawan. Inspeksi pagi selalu menjadi momok yang kerap meninggalkan bekas mendalam terutama dalam hal emosi. Sakit kepala yang dia derita juga tak kunjung membaik karena mendapatkan tekanan dari semua aspek. Persiapan mereka cukup sibuk, tak jarang Alvida kerap begadang dan lembur untuk menyelesaikan beberapa rancangannya. Meski untuk beberapa rancangan telah dia serahkan pada karyawan seperti tadi. Karena riskan terjadi hal seperti tadi, makanya untuk beberapa rancangan Alvida sendiri yang menuntaskannya.
Menghempaskan dirinya sendiri diatas kursi kerja diruangan pribadi adalah hal yang paling bisa Alvida nikmati di kantor ini. Sebab hanya ditempat ini dia sedikit bisa menghembuskan napas lega, dan menikmati waktuku yang tak terbatas untuk bergelut dengan kertas dan pensil. Membuat sketsa dan bermain dengan imajinasi. Sejak pukul delapan pagi, dimana jam kerja kantor dimulai Alvida baru bisa kembali keruangannya pukul dua siang. Jam makan siang bahkan terlewatkan karena banyak kesalahan yang dia dapati dibagian produksi. Padahal semua pegawainya adalah orang-orang yang berbakat dibidang masing-masing dan mereka tidak berkerja dalam waktu satu hari. Mereka adalah satu team, dengan jam terbang lebih dari satu tahun. Semestinya mereka semua bisa professional. Namun apa yang Alvida dapatkan justru jauh daripada ekspektasinya sendiri. Masih bisa dimaklumikah orang-orang professional melakukan kesalahan sepele yang kerap dilakukan pemula? Sungguh, itu membuatku naik pitam.
Alvida adalah penganut semua hal serba sempurna. Detail kecil tak luput dari perhatian. Jadi, Ketika ada satu kesalah kecil sudah tidak bisa ditolerir lagi. Sebut saja bila ini adalah buah hasil yang ditanam keluarganya sejak kecil. Didikan memang tidak pernah salah. Alvida sudah terlalu biasa untuk menjadi yang terbaik diantara yang terbaik.
Sekali lagi Alvida menggoreskan pensil diatas kertas putih kosong di meja kerjanya. Kembali membuat satu rancangan baru sebagai pelengkap dari seluruh rangkaian busana yang akan diperagakan dalam kurun waktu satu bulan lagi. Mengingat Fashion Week musim ini adalah target yang dikejar, ada banyak hal kecil yang perlu dirampungkan secepatnya.
Imajinasi dan inovasi. Dua hal yang menjadi modalnya sejak menggeluti bidang ini. Cita-cita yang berhasil dia wujudkan meski dalam waktu yang tidak sebentar. Pelatihan, study, semua hal itu bahkan sudah menghabiskan separuh dari masa mudanya. Sampai titik dimana Alvida melewatkan kisah romansa, atau hal lainnya. Melajang dengan setumpuk pekerjaan tidak pernah terpikirkan menjadi kehidupan yang ia inginkan. Hanya seperti itu saja dan Alvida hanya mencoba menerima kemudian menjalaninya. BIla soal inspirasi dia sudah tahu jawaban paling baik untuk menjadi solusinya.
Satu-satunya hal terbaik yang bisa mendatangkan sebuah inspirasi hanya satu hal. Guru, sahabat, bahkan keponakannya sendiri kerap kali menceramahiku soal itu.
Hal yang mudah, tidak sulit, menyenangkan, tidak melelahkan, membuat hati jadi lebih bahagia, membawa banyak perubahan positif dalam hidup. Ya itulah yang Alvida butuhkan. Namun sejauh ini dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara untuk melakukannya. Tidak pernah..
Karena Alvida masih sering keliru memaknai arti dari cinta
***
“Hei Aunty, matamu itu cantik tapi kalau sudah berkantung mata dan berwarna hitam begitu jadi buruk sekali loh. Kau begadang lagi?” Alvida mengurut pelipisnya dengan jengkel. Didepannya sekarang telah duduk Bonney keponakannya yang dengan mudah bisa berkomentar buruk tanpa memikirkan konsekuensi ataupun Alvida akan suka padanya atau tidak. Dia terlihat melukis sebuah senyum penuh kemenangan dan begitu menikmati harinya seolah sedang mengejek Alvida atas perbedaan suasana hati yang begitu mencolok diantara mereka berdua. Belum sampai disitu, Bonney yang merasa mendapatkan sedikit perhatian dan kasih sayang dari Alvida kerap melakukan apapun yang dia suka. Termasuk membawa sang Bibi keluar dari kantornya disaat dia stress parah lantaran ulah bawahannya tadi siang di jam pulang kerja.
Saat ini mereka sudah duduk di sebuah kafetaria yang berada di pinggir jalan. Bonney memilih duduk di pinggir jendela agar mereka berdua bisa melihat suasana jalanan yang dipenuhi orang-orang berlalu lalang untuk kebutuhan mereka sendiri.
“Ayolah Aunty bergairahlah sedikit, maksudku kita sedang bersantai sekarang. Lagipula pekerjaanmu kan tidak begitu banyak. Dari yang aku perhatikan kau kan cuma menggambar saja.”
“Kalau saja pikiranku sesederhana milikmu. Dengar Bonney setiap pekerjaan itu harus dilakukan dengan kerja keras. Kau juga harusnya melakukannya hal yang serupa kalau tidak kau akan—"
“Astaga! No Aunty! Saat ini aku tidak ingin mendengar nasehat apapun oke? Kita berdua tidak sedang dikantor jadi tolong jangan bahas pekerjaanku. Apa Aunty tidak lihat kalau badanku sudah sangat kurus belakangan ini. Deadline sialan, tugas presentasi, ocehan dari atasan. Itu suda cukup membuatku stress, jadi tolong Aunty tidak melakukan hal serupa begitu.”
“Itu resiko pekerjaan, kau tidak mungkin akan mendapatkan teguran kalau kau melakukan pekerjaamu dengan sempurna.”
“Aunty~ tidak semua orang sepertimu.”
Bonney benar, Alvida memang diciptakan sebagai orang yang hebat.
Menurut anggapannya dan juga dari apa yang oranglain lihat dari dirinya. Berpendidikan tinggi, kaya, lahir dari keluarga elit, terhormat, cantik, anggun, jenius. Semua kalimat positif Alvida raup untuk dirinya sendiri sebagai penggambaran dari kesempurnaan tersebut. Dan satu hal lagi kepercayaan diri itu tidak datang dengan sendirinya. Namun melalui bukti-bukti konkret yang bisa dipercayai. Apapun yang dia lakukan selalu sempurna, jika dia sudah memulai maka dia tidak akan mengalami kegagalan. Sebab Alvida selalu berusaha hingga dititik darah penghabisan agar dia tidak merasakan situasi dan perasaan sebagai seorang pecundang.
“Aku itu ya bukan tipe yang menikmati hal-hal dalam sangkar emas. Aku suka kebebasan dan juga pria-pria tampan,” lanjut Bonney lagi.
“Tidak mengherankan untukmu.”
“Wow, apa itu barusan? Aunty itu terlalu kaku tahu. Pantas saja kalau sampai sekarang tidak ada yang mau menjadi kekasihmu. Begini saja, kau harus pergi ke salon lalu kita ke sauna! Bagaimana?”
“Kau bilang hanya untuk makan saja kan? Jadi itu yang akan aku kabulkan. Setelah ini aku akan kembali ke kantor.”
“Kau mau kembali kesana? Aunty ini sudah jam pulang! Waktunya beristirahat. Kenapa kau ini suka sekali bekerja?”
Perdebatan berakhir ketika seorang pelayan menghampiri meja mereka. Dia membawa sebuah nampan berisi beberapa kudapan yang sudah mereka pesan. Pelayan pria itu langsung menatanya di atas meja. Suasana terasa lebih hening padahal kedua wanita itu beberapa saat lalu sibuk bercengkrama.
“Silahkan pesanan anda,” pelayan berambut gondrong itu melirik kearah Alvida sedikit terhenyak tapi cepat-cepat dia mengubah ekspresinya. Alvida sendiri tidak begitu menghiraukan pria yang melayaninya, dia fokus melihat keluar jendela dimana semua orang nampak bergandengan tangan bersama pasangan mereka. Kebahagiaan yang penuh ilusi itu, Alvida harap mereka tetap terjebak dalam delusi itu hingga akhir.
“Hei tampan masih ingat aku?” sapa Bonney.
“Tentu saja, saya selalu ingat para tamu yang cantik seperti Anda.” Setelahnya ada tawa kecil Bonney yang menggelegar diudara sebagai balasan untuk pelayan itu.
Mau tak mau mendengar keponakannya sedang berusaha untuk menggoda seorang pria antah berantah dan dibalas dengan rayuan serupa membuat Alvida mendengus geli. Tapi itu tidak sepenuhnya salah si pelayan. Toh, keponakannya sendiri yang terang-terangan merayunya duluan. Setelah ini Alvida bertaruh bahwa muka Bonney akan berseri-seri layaknya bocah SMA baru pubertas.
Tadinya Alvida pikir mereka akan berhenti sampai disana, tapi menyadari bahwa percakapan itu semakin panjang lantaran dia selalu saja meladeni apapun yang Bonney katakan. Ini jelas tidak bagus. Waktu istirahatnya sudah hampir habis, dan dia sendiri juga tidak betah lama-lama ditempat ini. Alvida tidak punya pilihan untuk mengusir pelayan itu pergi agar dia bisa menikmati makanannya dengan tenang.
“Apa kau tidak bisa kembali bekerja? Apakah ditempat ini tidak ada etikanya?”
Percakapan diantara kedua mahluk berbeda gender itu akhirnya berhenti. Alvida melirik kearah si pelayan dia terperangah, tapi Alvida tidak memberikan reaksi. Beberapa detik setelahnya kepala pelayan itu tertunduk.
“Tidak langsung pergi?” tuntut Alvida lagi.
“Aunty jangan begitu. Ya ampun maafkan dia, terkadang dia memang selalu impulsive. Tapi dia orang yang baik kok,” Bonney serta merta membela pria itu. Apa dimata mereka perkataan Alvida disinyalir terdengar kasar?
“Anu… Nona, untuk yang kemarin malam… mohon maafkan saya,” Alvida mengerutkan kening saat dia mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apa yang dia katakan beberapa menit lalu. Kemarin malam?
“Sudahlah.” Meski tidak paham tapi Alvida tidak ingin memperpanjang ini lagi. Tapi begitu pria itu menatap matanya dengan lurus saat itulah Alvida menyadarinya. Dia pria yang telah memukul Marco kemarin malam. Sungguh dunia ini begitu sempit.
“Tapi kemarin malam saya—”
“Aku tidak datang kemari untuk itu. Tidak perlu membahasnya lagi saat aku bilang itu tidak masalah. Kau tidak perlu mengatakan maaf berulang kali, karena bisa saja aku jadi muak dan menarik kembali kata-kataku semalam.”
Mendengar hal itu si pelayan langsung mengangguk pelan dan kembali ke posisi kerjanya. Seharusnya sejak tadi dia melakukan itu karena Alvida tidak suka sesuatu yang mengulur-ulur waktu dan tidak punya manfaat apapun untuk keberlangsungan hidupnya. Tapi dampak dari itu, dia melihat keponakannya menatap dia tidak suka.
“Apa?” Alvida mendelik.
“Apa yang baru saja kau lakukan? Aku masih ingin mengobrol dengan dia Aunty!” Bonney menumpahkan kekesalannya, tapi Alvida acuh tak acuh menanggapinya.
“Kau bisa mengobrol dengannya sesukamu setelah aku pergi, aku cuma ingin menyantap makanan ini dengan nikmat tanpa gangguan dari orang asing. Lagipula aku lihat dari interaksi kalian kau sudah mengenal dia kan?”
“Ya memang, tapi menurut Aunty dia tampan kan?” tiba-tiba Bonney memutar pembicaraan mereka.
“Tidak. Biasa saja.”
“Ck, kau ini memang tidak menarik. Terus yang bagaimana yang menurutmu tampan? sampai kapan Aunty mau setertutup ini? kau akan semakin tua dan keriput loh.”
“Berisik, aku tidak perlu mencari. Suatu saat akan ada yang datang padaku. Aku yakin Kakek sudah punya rencana kearah sana. Dia pasti akan menyuruhku menikah dengan pria pilihannya.”
“What? Aunty mau mau saja menerima perjodohan tanpa tahu bagaimana rasanya letupan dan gairah cinta?”
“Aku tidak bilang akan menerimanya. Aku akan melihat dia dulu. Lagipula, aku senditi tidak peduli dengan namanya perasaan melankolis menjijikan itu.”
“Apa yang terjadi diluar sepengetahuanku? Apa kau bertemu pelayan tampan itu disuatu tempat?” Selidik Bonney tiba-tiba. Alvida hanya menghela napas lelah.
“Bukan hal penting. Makan saja makananmu aku akan secepatnya menghabiskan ini lalu pergi dari sini.”
Alvida tidak begitu menghiraukan Bonney yang kembali bertingkah tidak pada tempatnya. Dia terlihat asyik memandangi si pelayan yang sedang berkeliling dari satu meja kemeja lain untuk melayani para tamu yang datang. Jika melihat dari suasana kafe-nya memang padat. Tapi range usia dan didominasi oleh para gadis muda menunjukan seberapa terkenalnya pelayan yang Bonney bilang tampan pada Alvida barusan. Jika diperhatikan Alvida bisa setuju pada pendapat keponakannya, pelayan itu memang punya wajah diatas rata-rata. Dengan modal itu dia bisa mendaki karir yang lebih mapan. Jadi artis atau model misalnya? Melihat tubuhnya juga bagus.
“Antar aku ke kantor Bonney. Kita kemari karena kau memaksaku, jadi aku tidak bawa mobil.” Setelah menemai keponakannya yang kurang kerjaan itu. Maka titah demikian keluar dari mulut Alvida.
“As you wish my Aunty.” Untungnya suasana hati Bonney nampak lebih baik.
Tiba di kantor semua orang nampaknya sudah pulang. Tersisa beberapa pegawai bagian keamanan dan cleaning service saja. Alvida langsung menuju keruangannya dan memeriksa banyak hal sebelum pulang. Dia tidak bisa tidur jika belum memastikan semua halnya sempurna. Mengingat pekerjaan ini punya peluang besar dan bisa memenangkan tender yang nilainya milyaran.
Matahari bergerak turun, suasana semakin sepi dan malam telah menyelimuti. Alvida tidak menyadari seberapa banyak waktu telah bergulir. Dia selalu terlalu larut dalam dunianya sendiri jika sudah menyangkut berkas dan beberapa laporan dari bawahannya. Terakhir dia menghabiskan waktu agak lama di pemeriksaan bahan-bahan yang akan dieksekusi keesokan harinya. Ketika dirasa sudah cukup, Alvida akhirnya memutuskan untuk bergegas pulang. Dia benar-benar ingin berendam di bath tube berisi air hangat dilengkapi dengan lilin aroma terapi kesukaannya. Jangan lupakan pula kelopak bunga mawar yang bertaburan di airnya nanti. Air hangat akan membantunya untuk memanjakan seluruh sendi dan tulang-tulang ditubuhnya yang lelah dan pegal sekaligus mengusir stress yang membuat kepalanya penat.
Seluruh skenario itu tersusun rapi dipikirannya sampai kemudian pandangan matanya tertuju pada sebuah lampu ruangan yang masih menyala.
Masih ada entitaskah disana?
Tanpa sadar langkah kakinya sudah mencapai pintu depan ruang Direktur Utama. Tapi dia tidak bisa mendengar suara apapun dari sini.
Haruskah dia mengetuk pintunya?