“Mba Rania sibuk apa di rumah?” Seorang tetangga menyapa perempuan berusia 25 tahun ketika dia pergi ke warung di depan rumahnya. Perempuan itu hanya tersenyum meski tentu saja tidak menyukai pertanyaan dari ibu-ibu yang menatapnya dan tersenyum seolah pertanyaannya adalah sebuah hal yang sangat wajar. Tentu saja wajar, jika pertanyaan itu tidak pernah diucapkan oleh orang lain tentu itu adalah hal yang sangat wajar. Tapi Rania tahu, pertanyaan itu adalah satu dari sekian banyak pertanyaan yang ingin tetangganya ucapkan ketika melihat wajah perempuan itu.
“Ada Bu, kan bisa kerja dari rumah.” Rania menjawab ringan dan masih berusaha tersenyum sebelum pertanyaan berikutnya dia dengar. Perempuan itu mencoba mempercepat belanja gorengan dan juga lontong meski dia menutupi gerak-geriknya yang sudah tidak nyaman itu.
“Bisnisan begitu ya? Jualan?” Ibu tetangga Rania kembali bertanya membuat perempuan itu tersenyum memasukkan lima buah lontong ke tas plastik meski masih menunggu mendoan yang masih di goreng di belakang.
“Bisa dikatakan seperti itu.” Rania menjawab dengan jelas dan masih mengembangkan senyum di wajahnya itu.
“Iya juga ya, kalau bisa kerja di rumah kenapa juga harus keluar rumah. Lagi pula Mba Rania kan tetap dapat uang saku dari Ibu Bapak.” Sebuah kata yang cukup membuat perempuan itu terdiam sejenak meski masih berusaha menyunggingkan senyum. Dia memeriksa sebentar ke dalam warung, tapi mendoan masih belum selesai di goreng.
“Engga juga Bu, saya kalau bisa cari uang sendiri ya sendiri saja, tidak dapat dari siapa-siapa.” Rania seolah memperjelas posisi sumber keuangannya. Ibu tadi sepertinya mendengarkan Rania sambil memeriksa sayuran yang akan dia beli.
“Gak masalah juga untuk Mba Rania digaji oleh adik sendiri, kan ngurus ponakan.” Kalimat lain yang rasanya membuat Rania sungguh ingin berontak dan berteriak sekeras mungkin untuk membela dirinya. Meski begitu dia masih tersenyum.
“Enggak kok Bu, saya cari uang sendiri.” Rania akhirnya memperjelas jawabannya.
“Mba Rania ini mendoannya sudah selesai di goreng.” Rania tersenyum menerima plastik putih yang berisi sepuluh buah tempe mendoan yang masih panas. Dia kemudian memberikan sejumlah uang dan menundukkan kepalanya sedikit untuk undur diri dari Ibu tetangga yang masih memilih sayur tadi.
Rania masuk ke dalam rumah, tentu saja kedua orang tuanya sudah menunggu karena Rania membeli lontong dan mendoan untuk sarapan ketiga orang yang tinggal di rumah itu.
“Masa tadi si Ibu yang tinggal di ujung jalan sana dekat kuburan mengira kalau aku dihidupi oleh adikku.” Rania terlihat menyampaikan apa yang dia dengar baru saja. Perempuan ini selalu saja kesal dengan komentar-komentar tetangganya.
“Terus kamu jawab apa?” Laki-laki yang sedang membuka lontong dan bersiap mengambil gorengan itu terlihat kesal sama seperti Rania.
“Ya jawab cari uang sendiri lah.” Rania menjawab dengan suara yang lebih lantang untuk melampiaskan kekesalannya.
“Mungkin karena di sekitar sini semua orang yang membantu keluarganya selalu saja diukur dengan uang?” Rania kembali mengatakan seuatu yang kali ini membuat wanita yang menjadi Ibunya selama 25 tahun itu tersenyum.
“Memang gak semua orang seperti kamu, jadi ya sudah tidak perlu kamu pikirkan.” Ibunya membuat Rania kembali berbesar hati meski dia masih terlihat kesal.
“Masalahnya aku sama sekali tidak pernah menerima uang dari adikku, untuk jajan saja aku cari uang sendiri. Kenapa seolah-olah dia menghidupi aku?” Rania kembali berkomentar dengan kesal.
“Gak perlu dipikirkan omongan tetangga begitu, mereka juga pernah bertanya pada Bapak. Tapi Bapak juga menjawab santai jika kamu melakukan banyak pekerjaan yang mungkin tidak bisa dipahami oleh mereka.” Laki-laki yang sudah menghabiskan lontong dan mendoan itu kemudian menggeser gelas berisi teh manis miliknya.
“Benar, mau dijelaskan seperti apapun juga mereka tidak mengerti.” Ibu Rania membuat perempuan itu kemudian berjalan menuju ke kamarnya.
Keahlian yang dimiliki Rania memang bukan hal yang terlalu baik meski sebenarnya dia juga bisa menggunakannya di jalan yang benar. Rania lebih memilih merasa benar melakukan beberapa hal dengan orang-orang yang satu pemikiran dengannya di dunia maya.
[Kenapa belum on?] Rania mendapatkan pesan dari sebuah aplikasi rahasia yang dia gunakan bersama empat orang lainnya. Mereka bekerja bersama-sama di dunia maya meski belum pernah bertemu di dunia nyata satu sama lainnya. Rania meraih laptopnya dan kemudian menyalakannya. Perempuan itu mengunci pintu kamarnya seolah bersiap melakukan sesuatu dengan temannya yang lain.
[Semua sudah bersiap?] Sebuah pesan kembali diperoleh oleh Rania dalam sebuah grup.
{Bukankah hari ini kita tidak punya rencana seperti ini? Kita masih memilih target?} Seorang dengan ID Ze mengirimkan pesan. Rania juga menyadari jika ini bukanlah hari dimana mereka akan melakukan operasi.
[ Ze benar, kita bahkan belum menemukan target. Ketika kita lebih cermat menentukan target maka kita akan lebih aman. Seperti sebelumnya. Kita hanya menatap jauh tempat yang penuh dengan debu.] Seseorang dengan ID Ranger 99 mengungkapkan sesuatu yang membuat Rania tersenyum.
[R99 benar, maka bantulah untuk menemukan target seperti biasa, kita semua harus memeriksa sampai kemungkinan yang tidak pernah dilihat oleh orang lain. Para tikus menyembunyikan keju bahkan sampai lubang yang tidak bisa dilihat manusia.] Orang lain dengan ID Aida00 membenarkan anggota lainnya. Rania tersenyum karena chat yang dia baca. Mereka memang masih saling mendukung satu sama lain dan hampir tidak pernah terjadi salah paham meski mereka hanya berkomunikasi tanpa melihat seperti apa mereka satu sama lain.
Baru sekitar lima bulan ini dan mereka berlima baru mengerjakan dua proyek besar dalam kurun waktu lima bulan. Tidak ada tanda mereka di curigai oleh siapapun.Mereka selalu berbagi informasi jika kemungkinan bertemu atau ada orang yang mengawasi mereka. Bahkan Rania merasa dia aman berada di lingkungannya meski dia mendengar berbagai celoteh tetangganya yang selalu membuatnya kesal.
[Hei Naughty? Apa kamu sama sekali tidak ingin mengatakan apapun? Biasanya kamu punya banyak informasi tentang beberapa target.] Chat kembali masuk dan memanggil Rania untuk ikut berkomentar di grup tersebut. Rania memeriksa laptop yang tadi dia nyalakan. Beberapa informasi yang dia kumpulkan memang ingin dia sampaikan kepada rekannya di grup tersebut.
“Nyalakan microfon? Aku tidak suka berbagi informasi dengan teks.” Rania memulai pembicaraan lima arah. Tidak terdengar jawaban itu artinya mereka semua siap mendengarkan.
“Ada dua orang yang aku rekomendasikan, mereka orang besar di negara ini. Tapi mereka pasti tidak akan melaporkan karena keju itu terlalu mahal dan langka.” Rania tersenyum di sambungan alat komunikasi.
“Kirimkan saja datanya supaya kita bisa langsung voting?” Seseorang berkomentar membuat Rania tersenyum lagi.
“Kita punya banyak waktu, jadi sebaiknya jangan langsung voting, tapi kalian bisa mendalami informasinya lagi. Kita butuh waktu yang paling pas untuk proyek ketiga ini.” Rania menutup pembicaraan dan kemudian menutup semua tampilan layar setelah dia mengirimkan file ke grup tadi. Perempuan itu kemudian mematikan laptopnya dan memeriksa saldo di rekeningnya. Dia tersenyum melihat angka yang tertera di sana. Setidaknya dia tidak perlu memikirkan banyak hal untuk saat ini.
“Katanya si memang mau ada yang kontrak, kan sudah lama kosong rumahnya itu.” Rania mendengar sayup tetangganya sedang membicarakan sesuatu ketika dia menunggu tukang sayur lewat di depan rumahnya. Perempuan itu hanya tersenyum sedikit. Dia merasa terbiasa, jika dia ikut membicarakan hal seperti itu, bukankah akan sama jika nanti dia punya giliran yang lain? Rania terbiasa mendengar hal seperti itu.
“Belum lewat juga?” Ibu Rania bertanya kepada anak perempuannya itu, dia juga duduk di kursi di teras rumahnya bersama dengan anak perempuannya itu.
“Belum.” Rania masih mengawasi jalanan karena tukang sayur dengan pick up belum berjalan dari rumah tetangga yang tidak jauh dari rumahnya. Sejak Rania di rumah, Ibu Rania terbiasa memberhentikan mobil sayur di depan rumahnya dan tidak berjalan jauh ke tempat tetangga dimana semua orang berkumpul bersama untuk berbelanja. Mereka tentu akan berbelanja sambil membicarakan sesuatu. Ibu Rania juga menghindari hal seperti itu.
“Katanya rumah depan mau ada yang menempati?” Rania masih diam sambil memeriksa ponsel pintarnya. Dia melihat reality show dari negeri kimchi yang selalu saja menghibur ketika dia menontonya.
“Lumayan juga kalau punya rumah tapi bisa dijadikan tempat kos atau kontrakan.” Ibu Rania kembali mengajak anak perempuannya itu berbicara sambil menunggu mobil sayuran lewat. Rania mematikan video di ponsel pintarnya dan kemudian tersenyum.
“Kalau Ibu pasti susah, masalahnya gak semua penghuni kos atau kontrakan akan menganggap tempat tinggalnya seperti rumah mereka. Mereka nanti kalau tidak bersih, Ibu yang rewel.” Rania terlihat tersenyum mengetahui sifat Ibunya.
“Ya kalau gak kelihatan mata mungkin gak seperti itu.” Ibu Rania tersenyum mengakui jika dia memang tidak tahan dengan sesuatu yang menurutnya tidak sesuai. Karena itu juga mereka tidak pernah punya asisten rumah tangga.
“Tapi anehnya kok kontrak rumah di sini, biasanya kan banyak yang kontrak di dekat jalan besar, atau di gang sebelah sana itu yang masih dekat dengan jalan besar lagi.” Ibu Rania kembali mengatakan sesuatu yang membuat putrinya itu menyunggingkan senyum.
“Sesukanya yang mau menggunakan rumah lah Bu, ada-ada aja Ibu ini.” Rania mulai bercanda dan mengejek Ibunya sedikit. Wanita itu hanya tersenyum karena apa yang Rania katakan benar.
Tidak berapa lama mobil tukang sayur lewat dan mereka segera berdiri di depan pagar halaman rumah. Rania terlihat mengamati apa yang masih ada di mobil sayur itu. Tentu saja dia mencari sesuatu yang menarik baginya. Meski ternyata di sana sudah tidak banyak tersisa sayuran atau bahan makanan lainnya. Setelah selesai membeli beberapa bahan makanan mereka berdua kemudian masuk lagi ke dalam rumah.
“Rumah depan itu katanya di kontrakkan.” Rania tersenyum karena mendengar bahan pembicaraan yang hampir sama dari Bapaknya. Dia hanya lewat dan membawa belanjaan ke belakang. Ketika dia kembali lagi Rania kemudian duduk di ruang tengah, tempat kedua orang tuanya duduk di sana. Perempuan itu sebenarnya harus mengamati seseorang tapi dia sedikit melewatkannya.
“Kok bisa ya Pak ngontrak di daerah sini? Apa dia kerja di sekitar sini?” Ibu Rania lagi-lagi masih melontarkan pertanyaan yang hampir sama.
“Bisa jadi, atau mungkin sekolah. Apa bisa jadi dia guru?” Bapak Rania lebih parah lagi, langsung memberikan analisis bahkan ketiga mereka belum melihat orangnya. Rania hanya tersenyum dan menatap kedua orang tuanya bergantian. Rasanya dia memang hanya ingin bisa menghasilkan uang tanpa meninggalkan kedua orang tuanya. Jika banyak temannya menghasilkan banyak uang dengan bekerja di perantauan, maka inilah jalan yang dipilih oleh Rania untuk menghasilkan uang dengan cara yang dia anggap paling mudah.
“Adikmu itu, pinjam uang ke Bapak tapi gak pernah di kembalikan.” Bapak Rania tiba-tiba mengubah arah pembicaraan mereka. Perempuan itu sangat mengerti jika mereka mungkin tidak kekurangan. Tapi meski adiknya bahkan bekerja keras, mereka sering kali membutuhkan dana untuk hal-hal penting. Rania hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun. Perempuan itu kembali memeriksa ponsel pintarnya. Dia tentu saja memiliki banyak uang tersimpan dengan cara yang berbeda. Perempuan itu mengerti bagaimana dia bisa menempatkan uang di aplikasi pembayaran online bahkan yang berskala internasional. Dia terdiam sesaat, jika dia mengatakan punya uang untuk membantu kedua orang tuanya, maka mereka akan bertanya bagaimana dia punya uang yang banyak. Selama ini Rania hanya mengatakan dia mendapatkan uang dengan bermain game online. Jumlah yang dia dapatkan juga bukan hasil yang banyak.
“Mungkin dia memang butuh, biarkan saja Pak. Nanti kalau ada rejeki Rania kembalikan uang Bapak yang dipinjam adik.” Rania dengan tenang mengatakan sesuatu yang membuat Bapaknya tersenyum.
“Gak perlu, maksud Bapak bukan begitu. Kalau pinjam yang memang harus di kembalikan. Kalau memang minta Bapak pasti beri. Jangan pinjam tapi tidak di kembalikan itu namanya dia belum bisa konsisten dengan apa yang dia katakan.” Rania terdiam mengerti apa yang bapaknya maksudkan. Perempuan itu tidak menjawab lagi dan hanya mencerna apa yang Bapaknya katakan.
“Ya sudah kalau begitu biarkan saja. Semoga rejeki kita lancar dan bisa terus membantu mereka jika mereka membutuhkan.” Ibu Rania terlihat berusaha menenangkan suaminya itu.
“Kadang memang apa yang orang lihat ya itu yang menjadi pendapat mereka. Misalnya adiku itu, dia kelihatannya kerja dan seolah menanggung kehidupan semua orang di rumah ini. Padahal ya kamu juga cari uang sendiri dan bahkan dia yang kurang dan minta ke Bapak. Kamu sepertinya yang butuh, tapi sama sekali tidak pernah minta.” Bapak menatap Rania dan anak perempuannya itu hanya tersenyum.
“Tapi kalau Rania butuh dan tidak punya uang, pasti Rania akan minta. Jadi ya sama saja Pak.” Perempuan itu mencoba menenangkan Bapaknya supaya laki-laki itu tidak terlalu memuji dia.
“Iya si, cuma ya dia yang kelihatannya kerja keras begitu uangnya juga tetap kurang.” Bapak terlihat prihatin dengan adik laki-laki Rania.
“Karena dia juga sudah punya banyak tanggungan, beda sama Rania Pak.” Perempuan itu kembali mencoba menenangkan Bapaknya yang mungkin saja kesal dengan sikap adik laki-laki nya itu.
“Lagi pula setiap anak punya usahanya dan juga punya rejekinya masing-masing. Kita juga sebagai orang tua tidak masalah memberi kepada mereka.” Ibu Rania kembali berusaha memberikan pengertian yang membuat Bapak Rania terdiam.
“Jadi kapan yang kontrak rumah pindahan? Sepertinya banyak yang menunggu.” Rania terlihat tersenyum berusaha mengalihkan pembicaraan ke obrolan yang lainnya.
“Besok atau lusa, ada yang bilang jika yang pindah itu laki-laki. Mungkin seusia kamu karena dia sepertinya kerja dimana gitu dan posisinya sudah lumayan tinggi.” Bapak bercerita seolah memang tahu detailnya seperti apa.
“Kalau ada tetangga baru, maka aku pasti tidak akan terus-menerus jadi bahan omongan bukan? Semoga ada yang menarik yang membuat mereka tidak lagi ingin membicarakan kita.” Rania kemudian berdiri dari kursinya dan tersenyum kepada kedua orang tuanya yang tersenyum juga melihat wajah dari kedua orang tuanya itu.
Perempuan itu mengendarai motornya masuk ke halaman rumahnya dan mendapati mobil di belakangnya berhenti di jalan depan rumahnya. Ada seseorang yang keluar dari mobil itu dan kemudian berjalan masuk ke rumah di depan.
“Bu Dhe itu ada mobil hijau, bagus.” Keponakan Rania terlihat berhenti di teras rumah ketika Rania sudah memasukkan motor ke garasinya.
“Kakak mau masuk?” Rania tersenyum memanggil keponakannya itu. Seperti biasa Rania memang mengantar dan menjemput keponakan berusia empat tahun itu. Keponakan laki-lakinya itu mengangguk perlahan dan tersenyum.
“Tapi itu mobil siapa Bu Dhe?” Keponakannya bertanya ketika dia sudah berada di kamar Rania.
“Mobil?” Bapak Rania yang hendak mendekati cucunya itu bertanya karena celoteh cucu laki-lakinya itu.
“Iya Kakung, ada mobil warna hijau di depan.” Sekali lagi keponakan Rania kembali membicarakan tentang apa yang baru saja dia lihat.
“Itu sepertinya yang mau menempati rumah depan.” Rania dengan santai menjelaskan kepada Bapaknya. Laki-laki itu kemudian berjalan ke depan menuju ke ruang tamu rumahnya, dia mengawasi dari sana apa yang baru saja cucunya katakan.
“Bu Dhe, kakak mau jajan di depan.” Rania tersenyum menggeleng pelan.
“Memang mau jajan apa?” Perempuan itu sedang menggoda keponakannya supaya anak kecil itu sedikit kesal karena diberikn pertanyaan.
“Jajan di depan ayo Bu Dhe ke depan.” Rania kemudian mengambil uang dari dompetnya dan mengajak keponakannya itu berjalan menuju ke warung di depan rumahnya. Perempuan itu melihat mobil hijau tadi kini sudah masuk di halaman rumah di depan rumahnya. Sepertinya orang yang hendak menempati rumah itu sedang mengeluarkan beberapa barang dari mobilnya. Perempuan itu kini mengamati keponakannya yang sedikit bingung karena harus memilih jajan. Perempuan itu kemudian berjalan pelan lagi menuju ke rumahnya setelah keponakannya membeli jajan di warung tadi. Pandangannya sedikit tertuju pada seseorang yang sedang membawa sesuatu dari mobil di halaman depan rumah di depannya itu ketika Rania menutup pintu pagar.
Laki-laki dengan kulit yang sedikit coklat dan tubuh yang terlihat bugar. Tipe kesukaan Rania yang tidak besar dan terlalu berotot, tapi dia juga bukan laki-laki yang kurus. Baju yang dia kenakan juga sangat sederhana, celana pendek chino dan kaos hitam. Rania tersenyum mengagumi tetangga barunya yang menarik.
“Bu Dhe lama banget liat apa sih?” Keponakan Rania membuat perempuan itu tersenyum dengan sedikit rasa malu.
“Nutup pintu kakak, yuk masuk sekarang.” Perempun itu mengajak keponakannya masuk ke dalam rumah dan kemudian masuk ke kamar Rania. Dia membantu keponakannya makan jajan yang baru saja dibeli. Setelahnya dia kemudian tersenyum sebentar dan meraih ponsel pintarnya. Agak lama dia kemudian membuka sebuah aplikasi. Lama dia mengamati beberapa orang yang ada di layar ponselnya itu.
“Bahkan ketika pindah begitu banyak yang sedang mengamati.” Rania bergumam sedikit dan pelan.
“Apa Bu Dhe? Kenapa?” Keponakan Rania yang mendengar perempuan itu bergumam bertanya.
“Gak apa-apa.” Rania menjawab dengan santai dan tersenyum. Perempuan itu melihat layar ponselnya sebentar lagi.
Tidak banyak orang yang tahu jika Rania mengawasi orang-orang di lingkungan itu dengan cara seperti ini, entah cctv atau drone yang cukup kecil. Perempuan itu memang memasang cctv di depan rumahnya meski dia juga sangat hati-hati supaya tidak kentara.
[Hai Naughty, menurutku target kedua lebih baik. Aku menemukan sumber rekening yang tidak mungkin akan dia laporkan.] Seseorang mengirimkan pesan pribadi kepada Rania. Perempuan itu membaca pesan dan memperhatikan pengirim Ranger 99. Salah satu teman di dunia maya yang sukup pendiam. Rania sering bertukar pikiran dengan temannya di dunia maya sekaligus juga pathner dalam pekerjaan.
[Kamu bisa kirimkan informasinya, pekerjaan akan dilakukan jika kita semua sudah mempelajari apa yang akan kita lakukan bersama.] Rania membalas pesan itu sambil tersenyum.
[Tentu saja, aku hanya ingin memberi informasi dan juga memastikan jika kita akan segera mengambil keju.] Ranger 99 kembali mengirimkan pesan untuk Rania.
[Sabarlah, bukankah baru sekitar satu bulan kita mengambil keju. Jangan terlalu boros.] Rania mengingatkan Ranger 99 seolah mereka sudah kenal cukup lama.
[Tentu, hanya saja aku sedang ingin pergi berlibur ke sebuah tempat. Jadi aku tentu ingin mengumpulkan dana dan kemudian tidak memikirkan hal itu untuk beberapa lama. Target kita juga sepertinya sudah lama menumpuk keju.] Ranger 99 kembali membalas pesan dari Rania.
[Jangan menumpuk keju di tempat yang sama.] Rania mengingatkan temannya di dunia maya itu.
[By The Way, bukankah kamu Naughty Neighbor? Apakah kamu tidak menyukai tetanggamu?] Ranger 99 bertanya kepada Rania. Perempuan itu akhirnya merebahkan diri di samping keponakannya yang sudah tertidur setelah makan jajan.
[Kamu sendiri Ranger 99 apa itu berarti seorang penyelamat?] Rania terlihat menebak apa yang sebenarnya dilakukan oleh temannya untuk menutupi pekerjaan mereka.
Ponsel pintar Rania berdering, sepertinya seseorang yang baru saja mengirimkan chat melakukan panggilan telepon dengan Rania. Perempuan itu sedikit canggung dan bahkan melewatkan panggilan pertamanya. Dia menerima panggilan telepon setelah nada dering ponselnya terdengar lagi.
“99?” Rania langsung menjawab panggilan itu dengan mengucapkan angka. Terdengar sangat aneh jika orang lain mendengar percakapan mereka.
“Bukankah kita juga bisa saling berteman bukan hanya tentang pekerjaan?” Rania terdiam tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh rekan kerjanya itu.
“Naughty?” Ranger 99 kembali bertanya kepada Rania yang masih diam. Perempuan itu menoleh sebentar melihat keponakannya sudah tertidur. Dia meraih laptop dan kemudian berpindah ke kamar di sebelah dan mengunci pintu. DIa menyalakan laptopnya dan kemudian menekan beberapa aplikasi. Setelahnya dia memasang headset di telinga dan meletakkan ponsel pintarnya.
“Meski tidak tertulis, bukankah kita seharusnya saling membatasi diri?” Rania kembali mengingatkan rekannya itu sambil memeriksa beberapa hal dengan laptopnya. Tentu saja ini bukan satu-satunya laptop milik Rania. Uang yang dia hasilkan selain untuk kepentingan sehari-hari juga digunakan untuk menambah perlengkapan kerja baginya. Dia masih mengamati cctv lagi, Rania penasaran karena laki-laki yang tinggal di depan rumahnya itu juga sepertinya sangat menyukai teknologi. Dia melihat barang yang diturunkan dari mobilnya tidak biasa.
“Setidaknya aku hanya ingin kita lebih kompak dan bisa satu pemikiran. Jika kita tidak saling bicara bukankah itu sulit?” Rekan Rania kembali menyatakan pendapatnya.
“Kita hanya harus selaras dalam masalah pekerjaan, dan kita membuktikan itu. Dari enam bulan terakhir saja semua rencana kita berjalan dengan baik. Yang kita butuhkan hanya rencana yang bisa dilakukan bersama.” Rania dengan santai menjelaskan. Baginya pekerjaan ini bukanlah untuk selamanya karena dia sadar jika terlalu beresiko. Dia kemudian memutuskan sambungan telepon dengan ranger 99
Perempuan itu masih mengamati layar laptopnya, entah mengapa dia begitu penasaran dengan seseorang yang sedang berada di teras rumah di depan rumahnya itu. Rania melihatnya mengeluarkan beberapa cpu dari mobilnya. Selain penampilannya yang menarik, apa yang laki-laki itu lakukan membuat perempuan berusia 25 tahun ini sangat penasaran. Rania hanya ingin mencari tahu lebih jauh. Selama ini dia juga melakukan itu kepada semua tetangga di lingkungan rumahnya. Dia tahu berapa beban atau tanggungan yang harus dibayarkan dalam masing-masing rumah di lingkungannya itu. Rania juga bisa mengetahui semua pemasukan rumah tangga di lingkungan itu jika mereka menggunakan rekening. Penghuni baru itu jadi target baru bagi Rania.