Bab 1

“Kau akan menikah denganku, Nathan.”

Suara Aubree berkata dengan cukup tegas dan penuh penekanan pada pria yang bernama Nathan yang ada di hadapannya ini. Sepasang iris mata hijau gadis itu menatap manik mata cokelat Nathan. Ini hal yang mungkin konyol bagi banyak orang tapi tidak bagi Aubree. Di pesta jamuan makan malam yang diadakan keluarganya ini, Aubree kembali dipertemukan oleh Nathan.

Enam tahun lalu Aubree pernah bertemu dengan Nathan. Pria itu berhasil membuat Aubree jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan dulu Aubree pernah mengatakan kalau takdir kembali mempertemukan mereka, maka Nathan memang ditakdirkan untuknya. Akan tetapi, sayangnya ketika Aubree mengutarakan apa yang ada dipikiran dan hatinya pada Nathan—pria itu malah tak mengindahkan ucapannya.

Nathan mengembuskan napas kasar menatap sosok gadis yang berdiri di hadapannya. Dia jengah mendengar ucapan gadis gila ini. Bahkan Nathan sampai harus menyingkir dari pesta agar sedikit menjauh dari kerumunan banyak orang tetapi gadis gila di depannya ini benar-benar selalu mengikuti langkahnya. Setiap kali dirinya pindah maka gadis di depannya ini akan terus mengikuti. Andai saja acara ini bukanlah acara dari rekan bisnis keluarganya, maka Nathan sudah pasti menyeret gadis di depannya ini.

“Nona Aubree … hentikan omong kosongmu. Lebih baik kau menemui keluargamu yang sedang menyambut para tamu undangan. Mereka pasti mencarimu,” ucap Nathan dingin, dan tegas.

Aubree tersenyum anggun. Dia melangkah mendekat pada Nathan seraya berkata sensual, “Aku tidak berbicara omong kosong. Kau memang akan menikah denganku, Nathan. Ah … satu lagi aku juga menyambut tamuku. Kau calon suamiku termasuk tamu undanganku. Keluargaku mengundang keluargamu di acara ini. Jadi sama saja aku menyambut tamu undanganku kan?”

Nathan kehilangan kata-kata berbicara dengan gadis di depannya ini. Perkataan gadis ini benar-benar konyol. “Fine, kalau kau tidak mau pergi maka aku yang akan pergi.”

Nathan hendak menjauh namun dengan cepat Aubree mencegat Nathan. Bahkan setiap Nathan ingin bergerak ke kiri maka Aubree akan ikut ke kiri. Begitu pun jika Nathan bergerak ke kanan maka Aubree akan bergerak ke kanan.

“Kenapa sulit bagimu percaya kalau aku adalah calon istrimu, Nathan?” Aubree semakin melangkah mendekat pada Nathan. Namun, setiap kali Aubree mendekat maka Nathan akan menghindar.

“Aku tidak mungkin memercayai hal-hal omong kosong. Sekarang menyingkirlah,” desis Nathan penuh peringatan. Sesaat Nathan berusaha mengendalikan emosi dalam dirinya. Ya, pertemuan pertama mereka enam tahun di mana Nathan tidak sengaja menabrak Aubree kala berada di rumah sakit. Lalu kedua kalinya Nathan kembali bertemu dengan Aubree di gereja kala Nathan menghadiri undangan pernikahan kerabatnya. Di sana Aubree mengatakan kata-kata konyol yaitu kalau mereka kembali dipertemukan artinya memang mereka ditakdirkan bersama. Dan di sinilah Nathan terjebak. Nathan bertemu lagi dengan gadis gila yang tak henti berbicara omong kosong.

“Oke, kalau kau masih belum juga percaya. Bagaimana kalau kita bertaruh,” ucap Aubree dengan nada sengaja menantang. Tampak gadis itu melukiskan senyuman penuh arti.

Nathan mengerutkan keningnya, menatap dingin gadis aneh di depannya ini. “Bertaruh apa maksudmu?” tanyanya dengan nada yang tak ramah.

Aubree tersenyum. “Bertaruh kalau kau pasti akan menikah denganku.”

Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya. Senyuman mengejek terlukis di wajahnya. “Otakmu itu sudah sakit. Aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali. Hari ini aku datang ke pesta undangan makan malam keluargamu karena mewakili keluargaku. Jadi berhenti mengucapkan hal-hal yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang tidak aku kenal?”

Aubree mengangkat bahunya tak acuh. Lalu dia mengibaskan rambut panjangnya. Gaun yang dipakai Aubree sangatlah seksi. Gaun berwarna merah dengan belahan dada yang terekspos. Tubuh gadis itu tinggi semampai. Rambut pirang tergerai indah. Setiap kaum Adam selalu menatap Aubree dengan tatapan memuja. Namun, lain halnya dengan Nathan. Hanya Nathan satu-satunya pria di pesta ini yang tak memedulikan keberadan Aubree.

“Kalau begitu kita buktikan saja, ucapanku yang benar atau dirimu,” jawab Aubree dengan nada santai tapi tersirat anggun.

Nathan berdecak pelan. Demi Tuhan, Nathan ingin sekali menyeret paksa gadis ini untuk keluar. Tetapi, dia tak mungkin melakukan hal itu karena nantinya dirinya akan menjadi sorotan banyak orang.

“Terserah apa yang kau katakan. Kalau kau memang ingin menikah silahkan cari orang lain. Di sini banyak pria yang bisa kau dekati. Aku harap kau tidak lagi mengejarku seperti ini. Aku tidak tahu siapa kau dan kau juga pasti tidak tahu siapa aku. Aku menyarankan agar kau pergi ke rumah sakit sekarang. Kau butuh psikiater untuk mengatasi gangguan kejiwaanmu. Sekarang aku harus pergi. Aku tidak memiliki waktu untuk menghadapimu.” Nathan berkata begitu tegas. Pria itu segera menyingkirkan tubuh Aubree yang menghalangi langkahnya. Tetapi gerak Nathan terhenti kala Aubree tiba-tiba memeluknya dari belakang. Refleks, Nathan terkejut karena Aubree memeluknya. Terlebih banyak mata yang kini tertuju padanya dan Aubree. Nathan langsung berbalik, dengan tanpa belas kasihan Nathan menyeret tangan Aubree membawa gadis itu menjauh dari tempat itu. Tampak beberapa tamu undangan tidak henti yang tak lepas menatap Nathan dan Aubree.

Brakkk

“Akh—” Aubree sedikit meringis kala Nathan mendorong tubuhnya hingga terbentur ke dinding. Ya, Nathan membawanya ke sebuah ruangan kosong. Ruangan yang begitu gelap dan sempit tetapi Aubree masih bisa melihat dengan jelas wajah tampan dan rupawan Nathan. Wajah yang selalu berhasil menyihir Aubree.

“Kau ini benar-benar sudah gila! Kau sengaja mempermalukanku di depan banyak orang?” bentak Nathan keras.

Aubree mengusap-usap bahunya pelan. Dia sedikit mendongakan wajahnya menatap wajah Nathan. “Kenapa kau tidak percaya padaku, Nathan? Aku sudah mengatakan kalau kita akan menikah. Kau akan menjadi suamiku. Harusnya kau percaya bukan malah meninggalkanku begitu saja. Lagi pula siapa yang mempermalukanmu? Nanti semua tamu undangan yang datang juga akan datang ke pernikahan kita. Jadi anggap saja tadi aku menunjukan pada mereka kalau kita adalah pasangan yang mesra dan serasi.”

Nathan mengumpat dalam hati. Sorot matanya menatap Aubree memendung kekesalan. Rahangnya mengetat. Tangannya terkepal begitu kuat. Detik selanjutnya Nathan langsung melangkah mendekat pada Aubree, mengikis jarak di antara mereka. Refleks, Aubree melangkah mundur. Hingga tubuh Aubree kembali terbentur ke dinding.

Degup jantung Aubree berpacu semakin keras kala Nathan menghimpit tubuhnya. Aroma parfume mahal Nathan telah berhasil membuat darah Aubree berdesir. Sepasang iris mata cokelat Nathan bertemu dengan iris mata hijau Aubree seolah memberikan sebuah percikan di dalamnya. Aubree mengangkat wajahnya demi bisa melihat wajah Nathan begitu dekat. Jarak mereka berdua begitu dekat bahkan sangat dekat dan intim.

“Aku memberikan peringatan pertama dan terakhir padamu, pergilah sejauh mungkin dariku. Aku tidak mau kau menggangguku!” seru Nathan dengan begitu tegas.

Aubree tak mengindahkan ucapan Nathan. Dia malah begitu menikmati wajah tampan Nathan di hadapannya. Sorot mata tajam. Hidung mancung. Rahang tegas. Ya, tidak salah jika Aubree jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria di hadapannya ini. Wajah Nathan benar-benar merupakan bentuk dari pahatan yang sempurna.

“Kenapa sulit bagimu untuk menerima kenyataan di mana aku akan menjadi istrimu, Nathan?” Suara Aubree bertanya dengan nada yang terdengar menggoda di telinga Nathan.

Nathan menatap begitu tajam manik mata hijau Aubree. “Dengarkan aku baik-baik. Tidak ada orang waras di dunia ini yang mau mendengarkan omongan orang yang tidak waras,” desisnya penuh ketegasan.

Senyuman di wajah Aubree terlukis di wajah gadis cantik itu. Dia bahkan tak memedulikan ucapan Nathan yang mengatakan dirinya sudah tidak waras. Kini dengan berani, Aubree membawa tangannya menyentuh rahang Nathan seraya memberikan tatapan yang begitu menggoda pada manik mata cokelat Nathan yang begitu memabukan itu.

“Lihat aku, Nathan. Kau yakin tidak mau menikah denganku? Tidakkah kau tertarik dengan tubuhku?”

Bab 2

“Lihat aku, Nathan. Kau yakin tidak mau menikah denganku? Tidakkah kau tertarik dengan tubuhku?”

Suara Aubree berbisik sensual di telinga Nathan. Berusaha menggoda pria yang ada di hadapannya. Tatapan Aubree tak lepas menatap manik mata Nathan seolah dirinya telah tenggelam dalam keindahan manik mata pria itu. Degup jantungnya berpacu begitu keras. Seakan melompat dari tempatnya. Jarak Aubree dan Nathan begitu dekat dan intim. Bahkan rasanya Aubree tak ingin menghentikan hari ini. Anggap saja dia gadis yang tak waras. Aubree tak peduli. Selagi Nathan ada didekatnya maka apa pun akan Aubree lakukan.

Nathan mengembuskan napas kasar mendengar ucapan gila sosok gadis di hadapannya. Sejenak, Nathan terdiam menatap lekat-lekat manik mata hijau Aubree. Sebenarnya gadis di hadapannya ini memiliki paras yang cantik. Nathan tak akan menampik akan hal itu. Manik mata hijau yang indah. Rambut pirang tergerai panjang. Wajah cantik, mulus tanpa noda sedikit pun di wajahnya. Bahkan ketika kulit Nathan tanpa sengaja menyentuh kulit gadis ini—dia merasakan kulit gadis yang ada di hadapannya ini begitu lembut seperti bayi yang baru dilahirkan. Hanya saya semua kelebihan dari sosok gadis di hadapannya ini tertutupi dengan sifat gilanya. Well, Nathan masih cukup waras untuk memilih seorang gadis yang akan mendampinginya. Dia tak mungkin memilih gadis gila ini.

“Jika kau butuh psikiater, aku akan memberikan salah satu psikiater terbaik untuk mengobati gangguan kejiwaanmu,” tukas Nathan penuh dengan penekanan. Sorot matanya kian menajam, dam penuh peringatan pada Aubree.

Senyuman anggun di wajah Aubree terlukis. Gadis itu sedikit mendongakan wajahnya. Jaraknya dengan Nathan sangat dekat. Bahkan bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir Nathan. Hidung mancung mereka saling bersentuhan. Manik mata hijau Aubree menatap sensual tatapan tajam dari manik mata cokelat Nathan.

“Aku tidak membutuhkan psikiater, Nathan. Yang aku butuhkan adalah dirimu,” bisik Aubree sensual di depan bibir Nathan.

Nathan menggeram penuh emosi. Detik selanjutnya, Nathan menjauh dari Aubree. “Kau memang sudah gila! Terlalu lama aku di sini, aku bisa tidak waras sepertimu!” tukasnya yang hendak melangkah. Namun, gerak Aubree begitu cepat. Gadis itu segera mengambil ponsel Nathan dari saku milik pria itu. Lalu …

“Apa kau bisa pergi dari sini tanpa ponselmu, Tuan Nathan Lucero Afford?” Suara Aubree dengan nada yang menggoda bercampur menantang. Kini gadis itu menunjukan ponsel Nathan.

Nathan langsung membalikan tubuhnya mendengar ucapan Aubree. Refleks, dia terkejut kala ponsel miliknya ada di tangan Aubree. Nathan tak menyadari Aubree mengambil ponselnya saku celananya.

Nathan berdecak kesal. “Kembalikan ponselku!”

“Tidak … aku tidak akan mengembalikannya. Aku masih mau di sini bersama denganmu. Kau tidak boleh pergi.” Aubree langsung menyembunyikan ponselnya ke belakang tubuhnya.

Nathan menggeram kesal bercampur dengan umpatan di mulutnya. Dengan cepat, dia mendorong tubuh Aubree hingga terbentur ke dinding. Pria itu menghimpit tubuh Aubree dengan tubuhnya. Lalu Nathan segera merampas kembali ponsel miliknya yang ada di belakang tubuh gadis itu.

“Jangan lagi menggangguku,” desis Nathan penuh dengan peringatan. Pria itu langsung melangkah pergi meninggalkan Aubree di ruangan kosong dan gelap itu. Pun Aubree bergeming. Gadis itu melukiskan senyuman di wajahnya kala Nathan pergi darinya.

Hingga kemudian, sesuatu muncul dalam benak Aubree. Suatu ide yang luar biasa dan membuat Aubree tersenyun cerdik. Kini Aubree merapikan gaun di tubuhnya, dan melangkah dengan anggun meninggalkan ruangan itu.

Di pesta, Aubree melihat banyaknya para tamu undangan yang memenuhi tempat pesta undangan makan malam yang diadakan oleh keluarganya itu. Malam semakin larut. Namun, pesta semakin meriah. Rekan bisnis keluarganya terlihat banyak yang tengah menikmati minuman mereka dan tentu membahas bisnis yang cukup membosankan bagi Aubree.

Tatapan Aubree teralih pada Nathan yang tengah mengobrol dengan rekan bisnisnya. Seperti semesta telah mendukungnya. Ternyata Nathan masih ada di pesta. Hanya saja pria itu berusaha mencari celah menjauhi dirinya, dan bergabung dengan para tamu undangan lain. Detik selanjutnya, Aubree mengalihkan pandangannya pada seorang pelayan yang membawakan minuman. Aubree segera menjentikan jemarinya memanggil sang pelayan.

“Anda ingin minum apa, Nona?” tanya sang pelayan dengan sopan kala tiba di depan Aubree.

“Antarkan minuman untuk pria yang memakai jas berwarna navy di ujung kanan.” Aubree mengeluarkan sesuatu dalam dompetnya. Lalu dia menuangkan serbuk obat ke dalam wine yang khusus untuk Nathan.

“Nona ini—” Sang pelayan menggantung ucapannya kala melihat Aubree memasukan sesuatu di minuman itu. Tapi pelayan itu tidak berani berucap karena dia mengenal Aubree adalah anak dari bosnya.

“Cukup antar saja minuman ini ke pria itu,” tukas Aubree dengan nada yang tidak mau dibantah.

Sang pelayan mengangguk cepat. Menuruti permintaan Aubree. Lalu pelayan itu melangkah meninggalkan Aubree, dan menghampiri pada Nathan. Sedangkan Aubree terus melihat pelayan itu sampai memberikan minuman pada Nathan.

Hingga ketika Nathan telah menegak wine yang pelayan berikan; senyuman di wajah Aubree langsung terlukis. Aubree langsung mendekat pada Nathan.

“Nathan…” Aubree segera memeluk lengan Nathan kala terlihat jelas Nathan begitu pusing.

Nathan memijat pelipisnya kala merasakan sakit di kepalanya begitu menyerang. Bahkan Nathan tak menyadari kalau Aubree tengah memeluk lengannya.

“Ikut denganku, Nathan.” Aubree segera membawa Nathan menjauh. Sebelumnya, Aubree telah berpamitan pada tamu undangan yang tengah berbicara dengan Nathan tadi untuk membawa Nathan. Tentu tamu undangan itu tidak bisa melakukan apa pun. Karena memang pemilik dari pesta ini adalah keluarga Aubree.

Kini Aubree membawa Nathan ke dalam kamar, gadis itu langsung meletakan tubuh Nathan di ranjang empuk. Kesadaran Nathan sudah melemah. Tampak senyuman di wajah Aubree terlukis kala melihat Nathan yang tengah memejamkan matanya. Jika membuka mata; maka Nathan layaknya pahatan yang sempurna. Dan jika memejamkan mata, pria di depannya itu begitu menggoda.

Aubree duduk di tepi ranjang. Gadis itu mulai mencium rahang Nathan. Aroma parfume maskulin Nathan yang sukses membuatnya berdesir. Darah Aubree seakan mendidih kala merasakan jambang Nathan bersentuhan di pipi halusnya. Napas Nathan menerpa kulitnya seperti memberikan aliran listrik yang menimbulkan sensasi liar.

Dengan berani, Aubree membawa jemari lentiknya membuka satu persatu kancing kemeja Nathan. Dada bidang pria itu membuat Aubree begitu terbakar oleh api hasrat. Namun, tiba-tiba gerak Aubree terhenti kala pelupuk mata Nathan bergerak. Aubree tampak terkejut terutama kala Nathan membuka kedua matanya.

“N-Nathan … kau—”

Nathan yang baru saja membuka mata, dia merasakan sakit di kepalanya. Pria itu segera mengendarkan pandanganya kala matanya sudah terbuka. Seketika Nathan sedikit rerkejut melihat dirinya berada di sebuah kamar. Lalu dia menatap sosok gadis yang di depannya. Pun Nathan melihat kancing kemeja bagian atasnya sudah beberapa terbuka. Raut wajah Nathan berubah. Sorot matanya tampak menajam menunjukan kemarahan dalam dirinya.

“Apa yang kau lakukan, Aubree?” seru Nathan dengan nada tinggi, dan keras.

“A-Aku … tadi …” Aubree segera bangkit berdiri. Dia terpergok seperti sedang mencuri. Sial, ini sangat memalukan. Bahkan Aubree tidak mampu menyusun kata-kata di kepalanya.

Nathan melompat turun dari tempat tidur. Dia segera mengancingkan kemejanya. Kepalanya memang masih begitu pusing. Namun, Nathan mampu mengatasinya rasa sakit di kepalanya itu.

“Kau mau menjebakku, Aubree?” Suara Nathan berseru dengan nada penuh geraman kemarahan. Sorot matanya kian menajam. Bahkan terlihat seperti singa yang hendak membunuh.

“T-Tidak … aku tidak menjebakmu … tadi kau pingsan. Jadi aku membawamu ke sini saja.” Aubree membantah dengan cepat. Kepanikan melanda dirinya. Dalam hati Aubree mengumpati kebodohannya. Obat yang dia masukan ke dalam wine itu adalah obat yang membuat orang mabuk. Tapi kenapa Nathan masih sanggup membuka matanya?

“Dan kau pikir aku dengan bodohnya bisa kau tipu, Aubree Randall?” Nathan mencengkram dengan kasar kedua rahang Aubree.

“A-Aku tidak menipumu, Nathan. Kau memang pingsan tadi,” jawab Aubree sedikit merintih kala Nathan mencengkram rahangnya. Gadis itu menyanggah seraya mendongakan kepalanya menatap manik mata cokelat Nathan.

Nathan menggeram kala Aubree tidak mau mengaku. Tapi percuma saja. Gadis di depannya ini memang sudah gila. Jika dirinya memaksa bicara sama saja dengan dirinya sudah kehilangan akal sehatnya.

“Menjauhlah dariku! Jangan pernah kau munculkan wajahmu di depanku! Aku tidak mau melihatmu lagi!” Nathan melepas cengkraman tangannya di rahang Aubree. Dia langsung membalikan tubuhnya, dan hendak meninggalkan Aubree. Namun …

“Bagaimana mungkin aku menjauh dari calon suamiku sendiri, Tuan Nathan Lucero Afford?” Suara Aubree berseru dengan keras hingga membuat langkah Nathan terhenti.

Nathan bergeming. Pria itu masih memunggungi Aubree. Didetik selanjutnya, Nathan melihat Aubree dari sudut matanya dan memberikan tatapan dingin. “Otakku masih waras dalam memilih calon istri. Dan tentu itu bukan dirimu,” jawabnya seraya melanjutkan langkahnya meninggalkan Aubree di kamar itu sendirian.

Aubree menatap punggung Nathan yang mulai lenyap dari pandangannya. Tampak senyuman di wajah Aubree terlukis. “Kita lihat saja nanti, Nathan. Kau atau aku yang benar.”

Bab 3

Aubree duduk di sebuah ruang keluarga di mansion megah bersama dengan ibunya serta rekan bisnis dari keluarganya itu. Ya, lima tahun lalu Aubree telah kehilangan ayahnya. Dan kini dia datang ke rumah salah satu rekan bisnis dari mendiang ayahnya. Tampak para pelayan sejak tadi mondar-mandir mengantarkan makanan dan minuman serta menyajikannya ke atas meja. Terlihat Aubree duduk dengan anggun. Balutan gaun berwarna hijau dengan model tali spaghetti membuat Aubre terlihat memukau. Senyuman hangat dan menawan selalu Aubree lukiskan kala ibunya tengah membahas bisnis dengan rekan bisnis keluarganya itu.

“Aubree, tunggu sebentar, ya, Sayang. Putraku masih ada dijalan. Dia pasti sebentar lagi akan datang,” ujar Bianca—ibu dari pria yang dijodohkan untuknya.

Hari ini adalah hari di mana Aubree menemui pria yang akan dijodohkannya. Mungkin jika banyak gadis yang menolak perjodohan lain halnya dengan Aubree. Terlihat Aubree yang sangat bersemangat dan begitu bahagia dipertemuan ini.

“Tidak apa-apa, Bibi. Aku sabar menunggu putramu,” jawab Aubree dengan ramah dan sopan. Senyuman tetap terlukis di wajah cantiknya.

“Kami mengerti kesibukan putramu, Bianca,” sambung Delina—ibu Aubree yang mengerti.

“Nanti setelah putraku datang, kita akan langsung membicarakan tanggal yang tepat pernikahan Aubree dan putraku,” ujar Arthur—ayah dari pria yang dijodohkan untuknya.

“Aku setuju, Arthur,” jawab Delina dengan senyumannya. Pun Aubree memberikan sebuah senyuman yang semakin lebar di wajahnya. Senyum yang begitu menunjukan gadis cantik itu tampak bahagia.

“Maaf, aku terlambat.” Suara bariton memasuki ruang keluarga. Tampak pria itu sangat tampan dan gagah. Balutan jas formal berwarna silver membuat tubuh kekarnya tercetak begitu jelas. Dada bidang. Rahang tegas ditumbuhi bulu-bulu. Hidung mancung menjulang melebihi bibir tipis berwarna merah muda. Pria itu layak dikatakan seperti pahatan yang tercipta sempurna.

“Sayang, kau sudah datang?” Bianca bangkit berdiri menyambut putranya datang, dan memberikan pelukan hangat.

“Maaf, Mom. Aku terlambat,” ucap pria itu seraya membalas pelukan sang ibu.

“Ah, tidak apa-apa. Ayo Mommy kenalkan dengan gadis yang tempo hari Mommy ceritakan,” ujar Bianca dengan semangat.

Detik selanjutnya, Bianca membawa putranya itu semakin menghadap Aubree dan ibu Aubree. “Nathan, ini Aubree Randall. Gadis cantik yang ingin Mommy tunjukan padamu. Dan di samping Aubree adalah Bibi Delina, ibunya Aubree. Mommy yakin saat di pesta waktu itu pasti kau sudah bertemu dengan Aubree dan juga Bibi Delina,” ujarnya yang sontak membuat Nathan membatu.

Tampak raut wajah Nathan begitu terkejut. Sepasang iris mata cokelatnya menatap tak percaya gadis yang tengah duduk di hadapannya itu. Rambut pirang gadis itu, ditambah manik mata hijaunya membuat Nathan tak mungkin lupa.

“Kau—”

“Hi, Nathan. Senang bertemu denganmu.” Aubree tersenyum melihat Nathan yang begitu terkejut. Pria tampan itu tak bisa menutupi ekspresi wajah terkejutnya. Bahkan sepasang iris mata Nathan melebar, memberikan tatapan tak percaya.

Ya, tentu saja Nathan terkejut. Sejak kejadian di pesta, Nathan berusaha menghindar dari Keluarga Aubree. Dia tidak mau lagi berurusan dengan gadis yang tidak waras itu. Tapi kenapa sekarang dirinya harus bertemu lagi?

“Nathan, Daddy rasa ini sudah waktunya untuk kamu segera tahu,” ujar Arthur—ayah Nathan yang langsung membuat Nathan mengalihkan pandangannya.

“Maksudmu apa, Dad?” Nathan bertanya dengan nada dingin, dan tatapan begitu lekat pada sang ayah.

“Aubree adalah calon istrimu. Daddy dan Mommy bersama dengan Bibi Delina telah menjodohkanmu dan Aubree. Kalian berdua akan menikah bulan depan,” jawab Artur yang sontak membuat Nathan semakin terkejut.

Nathan membisu untuk beberapa saat. Apa yang dikatakan ayahnya membuatnya begitu terkejut. Hari ini Nathan diminta datang ke rumah orang tuanya karena menuruti permintaan sang ibu yang akan mengenalkannya dengan seorang gadis. Tujuan Nathan hanya karena menghargai ibunya. Tapi kenapa sekarang dia di hadapkan dengan perjodohan? Terlebih gadis yang dijodohkan adalah gadis yang tidak waras.

Nathan seakan dijebak. Jika dia menolak dengan tegas maka kedua orang tuanya pasti akan malu di hadapan rekan bisnis kedua orang tuanya itu. Andai Nathan tahu bahwa ini adalah perjodohan. Dia tidak akan pernah mungkin menghadiri pertemuan tidak jelas seperti ini.

“Maaf, apa aku bisa berbicara dengan Aubree berdua saja?” pinta Nathan dengan nada dingin, namun terdengar sopan.

Delina tersenyum. “Tentu saja, Nathan. Tentu kau bisa bicara dengan Aubree. Kalian bisa saling mengenal lebih dekat.”

Bukan hanya Delina yang tersenyum mendengar Nathan ingin berbicara pada Aubree, tetapi kedua orang tua Nathan pun tersenyum senang.

“Aubree, pergilah bersama Nathan. Dia ingin bicara denganmu,” ucap Delina dengan hangat pada putrinya.

Aubree tersenyum. Lalu dia pamit permisi mengikuti Nathan yang tengah berjalan menuju ke halaman belakang. Tampak wajah Aubree yang begitu bahagia melihat Nathan lagi. Pria di hadapannya ini memang selalu berhasil membuat darah yang mengalir di tubuhnya berdesir. Hanya cukup melihat wajah Nathan saja, sukses membuat organ-organ dalam tubuh Aubree bergejolak hebat.

“Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Aubree?” Nathan menghentikan langkahnya kala tiba di halaman belakang rumahnya. Pria itu membalikan tubuhnya, menatap Aubree dengan tatapan yang begitu dingin dan tajam.

“Aku tidak merencanakan apa pun, Nathan,” jawab Aubree sambil membalas tatapan Nathan dengan tatapa anggun.

Nathan mengumpat dalam hati seraya memejamkan mata sesaat. Nathan berusaha mengendalikan emosinya agar tak meledak. “Jangan main-main denganku, Aubree. Kau sengaja meminta ibumu mendatangi orang tuaku agar aku mau menikah denganmu?” tuduhnya yang sudah yakin akal bulus dari gadis aneh di hadapannya itu.

Harusnya Aubree tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Nathan. Namun, kenyataannya Aubree tidak sama sekali marah. Gadis itu bahkan terlihat biasa saja. Seakan kata-kata Nathan tidak ada yang melukainya meskipun pria itu menuduhnya sembarangan. Karena memang Aubree tidak pernah mendatangi orang tua Nathan. Tepatnya setelah pesta itu selesai, semesta seakan mendukung Aubree. Ibunya memang berniat menjodohkannya pada Nathan. Tentu saja hal itu tidak mungkin Aubree tolak. Malah gadis itu begitu bersemangat.

“Aku tidak pernah meminta orang tuaku mendatangi orang tuamu. Bukan kah beberapa hari lalu saat di pesta, aku sudah mengatakan padamu kita akan menikah?” Aubree membalikan ucapannya dengan nada tanpa rasa bersalah. Gadis itu tersenyum dengan anggun.

“Shit! Aubree kau benar-benar sudah tidak waras! Kau tahu aku tidak menyukaimu. Bahkan aku tidak mengenalmu! Bagaimana mungkin bisa aku menikahimu, hah?” seru Nathan meninggikan suaranya.

Aubree melangkah mendekat pada Nathan. Manik mata hijaunya tak lepas menatap manik mata cokelat Nathan. “Tapi aku menyukaimu, Nathan. Aku juga mencintaimu. Sekalipun kau bilang tidak menyukaiku pasti itu hanya sementara saja. Kau hanya terkejut dengan semua yang secara tiba-tiba. Aku yakin seiring berjalan waktu kau pasti akan menyukaiku dan mencintaku,” jawbanya dengan penuh rasa percaya diri.

Nathan mengusap wajahnya kasar. Nathan pikir dirinya sudah terbebas dari gadis yang tidak waras ini, tapi kenyataannya dia terjebak semakin dalam. Bahkan seperti terjerat oleh pagar berduri yang sulit untuk keluar.

“Aku tidak mungkin jatuh cinta pada gadis yang tidak waras!” seru Nathan dengan nada penuh peringatan dan tatapan tajam.

Aubree tak mengindahkan ucapan Nathan yang mengatakan dirinya tidak waras. Malah Aubree asik melihat wajah Nathan yang kesal dan marah. Emosi di wajah pria tampan itu membuat Aubree tidak berkedip sedikit pun.

“Kau tidak memiliki pilihan lain, Nathan. Kita memang ditakdirkan bersama. Ibuku dengan kedua orang tuamu sudah mengatur perjodohan ini,” ujar Aubree dengan senyuman anggun di wajahnya.

“Tidak akan! Aku akan menghentikan perjodohan sialan ini! Jangan harap aku akan menikahimu!” Nathan berkata begitu tajam. Pria itu langsung melangkah masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Aubree begitu saja.

“Nathan, tunggu aku.” Aubree segera berlari menyusul Nathan ke dalam rumah.

“Dad … Mom …” Suara Nathan berseru lantang kala memasuki ruang keluarga. Ya, pria itu menatap dingin dan tegas kedua orang tuanya. Ingin rasanya Nathan meledakan amarah tapi itu adalah hal yang tak mungkin. Pun Nathan harus tetap menghargai tamu yang datang.

“Nathan? Apa kau dan Aubree sudah membahas pernikahan kalian?” tanya Arthur seraya menatap Nathan dengan tatapan yang serius dan tersirat ketegasan di sana.

“Dad, ini tidak mungkin. Aku bahkan baru mengenal Aubree. Bagaimana bisa aku menikah dengan gadis yang baru aku kenal?” seru Nathan dengan geraman tertahan. Rahang pria itu mengetat. Tangannya terkepal begitu kuat.

Aubree bergeming di tempatnya kala melihat Nathan yang tengah menolak dirinya. Terlihat jelas Delina—ibu Aubree tidak bersuara. Tepatnya ibu Aubree itu membiarkan Nathan dan Arthur berbicara.

“Kau dan Aubree akan menikah bulan depan, Nathan. Kalian masih memiliki waktu untuk berkenalan lebih dekat,” tukas Arthur menekankan, dan tak suka dibantah.

Nathan mengumpat dalam hati. Dia sudah tahu ini akan terjadi jika menentang keinginan ayahnya. Sejenak, Nathan mengatur napasnya meredakan amarah yang terbendung dalam dirinya.

“Tidak bisa! Aku belum mau menikah, Dad!” tegas Nathan penuh penekanan pada sang ayah agar tidak lagi memaksanya.

“Mau sampai kapan kau tidak mau menikah, Nathan? Kakakmu saja sudah menikah sebelum usianya 30 tahun. Lagi pula aku dan ibumu memilihkan gadis yang tepat untukmu, Nathan!” seru Arthur dengan nada tinggi, dan penuh penekanan. Pria paruh baya itu tak suka dibantah sedikit pun.

“Aku bilang aku belum mau menikah, Dad!” tegas Nathan lagi.

“Kau tidak memiliki pilihan, Nathan! Semuanya sudah aku diatur! Aku tidak mau mendengar penolakanmu!” Artur menatap tajam putranya. Sorot matanya menunjukan jelas kemarahan dalam dirinya kala Nathan menolak perjodohan ini.

“Nathan.” Bianca bersuara dengan penuh kelembutan. Dia menengahi perdebatan putra dan suaminya. “Aubree adalah gadis yang tepat untukmu. Meski kau belum mengenalnya, tapi perlahan nanti kau akan mengenal Aubree dengan baik, Nathan.”

Nathan mendesah frustasi. Raut wajahnya terlihat jelas menunjukan begitu kacau. Pria itu benar-benar seakan dijebak dalam pilihan rumit. Ya, diusia yang sudah memasuki 32 tahun ini memang kerap kali ditanyakan kapan dirinya untuk menikah. Tapi Nathan tidak pernah menyangka kalau orang tuanya akan menjodohkannya dengan gadis aneh yang nyaris menjebaknya di pesta tempo hari.

“Fine, kalian atur saja pernikahan itu.” Nathan dengan wajah yang kesal terpaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya. Posisinya tersudut, dan tak mungkin bisa membantah. Sedangkan Aubree yang melihat Nathan menerima; gadis itu langsung tersenyum bahagia.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED