"Brak!"
"Akhh!"
Laily berteriak terkejut saat melihat seorang pria tiba-tiba terjatuh di depannya. Botol minuman keras menggelinding terhenti tepat di dekat kakinya.
"Pak!" seru Laily masih tampak terkejut campur ketakutan.
"Sudah jangan takut! Dia pria mabuk yang sama seperti pada malam-malam sebelumnya kita lihat." Pak Ilham, orang tua Laily berusaha menenangkan putrinya yang tampak terkejut.
Setelah mendengarkan penjelasan bapaknya, Laily menarik diri yang sebelumnya menempel ke tubuh pria yang berkalung sorban tersebut.
Laily baru ingat kalau ia punya tetangga tukang mabuk yang tinggal seorang diri di rumah besar yang terletak tepat di samping rumahnya. Dan setiap malamnya ia sering melihat pria itu pulang malam dalam keadaan mabuk.
"Gimana ini, Pak?" Mata Laily menatap tubuh pria yang tergeletak di tanah tak sadarkan diri.
"Apa gak ditolongin?" Gadis yang sudah siap berpakaian mukenah untuk melakukan sholat Lail tersebut menoleh ke bapaknya.
"Sudah, biarkan saja. Biasanya juga ada yang nolongin teman-temannya. Atau kalau tidak begitu sebentar lagi ia akan terbangun dengan sendirinya seperti sebelumnya Bapak pernah lihat," ucap Pak Ilham.
Akhirnya Laily pun kembali melangkah bersamaan dengan Pak Ilham melangkah menuju mushola kecil yang terletak di luar pagar rumah Pak Ilham.
Setiap malamnya, Laily dan Pak Ilham istiqomah melakukan sholat Lail kalau tidak ada halangan. Seperti halnya malam ini, tepatnya jam dua dini hari.
Usai sholat, Laily langsung bermunajat pada Allah. Banyak doa yang ia langitkan. Sebab diantara banyaknya doa yang ia langitkan, Laily tak tau mana yang akan Allah kabulkan.
Oleh karena itu Laily meminta semuanya yang ia inginkan. Kebaikan orang tuanya baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.
Terakhir gadis yang dipanggil wanita malam itu sebab selalu bangun di malam hari untuk melakukan sholat malam, bermunajat pada Allah untuk dikaruniai seorang jodoh yang kelak bisa membawa ia ke jalan menuju surga-Nya.
Seorang pria yang akan membangunkan dan menemani Laily bermunajat pada Allah di malam hari.
Sebuah waktu dimana sangat baik untuk menghadap Allah dan meminta nikmat dan rizki Allah.
***
"Dulu itu ibumu bingung, Nak. Untuk menentukan nama kamu," ucap Pak Ilham.
Seperti biasa, usai sholat Tahajud dan sunnah penutup, Laily dan Bapak bercengkrama di mushola kecil namun damai buat berdiam menurut Bapak dan Laily.
"Kenapa bingung, Pak?"
"Ia, dia bingung antara nama Imroatul Laily dan Nur Laily."
Laily tersenyum. Katanya, ibunya itu dulu sangat suka dengan waktu malam. Saat hamil Laily, ibu Laily nyaris tak pernah meninggalkan sholat malam.
"Ibumu itu suka waktu malam. Oleh karena itu jika anaknya lahir perempuan ia berniat akan memberinya nama Laily. Yang artinya malam." Pak Ilham berucap dengan pandangan mendongak ke atas menatap langit malam. Gelap.
"Saat kau lahir perempuan, ia bingung. Antara memberi nama Imroatul Laily yang artinya wanita malam dengan Nur Laily yang artinya cahaya malam."
Laily masih setia mendengar cerita yang sudah berulang kali didengarnya namun tak bosan untuk didengarkan. Sebuah cerita ibunya dalam menentukan namanya.
"Lalu tiba-tiba ibumu memilih Nur Laily." Pak Ilham tersenyum, larut dalam nostalgianya.
"Kenapa, Pak?"
"Karena kalau Imroatul Laily yang artinya wanita malam kesannya identik dengan wanita gak benar. Sedangkan kalau Nur Laily dengan arti cahaya malam, ibumu berharap kelak kau akan membawa cahaya dalam kegelapan."
"Amin…doakan saya, Pak, agar jadi wanita seperti arti nama yang diberikan Almarhum Ibu dan seperti keinginan beliau, yaitu menjadi cahaya dalam kegelapan."
"Amin …." Pak Ilham segera berseru mengaminkan doa putrinya.
***
Usai sholat Dhuha di kamar, seperti biasa Laily menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga.
Kaki lincah Laily yang hendak ke meja makan untuk meletakkan mangkuk sayur sempat terhenti saat melihat Nando saudara tirinya duduk di kursi seorang diri.
Bapak Laily memang menikah untuk kedua kalinya. Yaitu dengan seorang janda anak dua. Istrinya itu anak dari guru Pak Ilham sendiri.
Andai bukan gurunya sendiri yang meminta untuk menikahi seorang janda dengan anak dua, tentu Pak Ilham tak akan menikah. Ia lebih suka hidup berdua saja dengan putrinya Laily.
"Kenapa hanya diam saja. Cepat kemari. Aku sudah lapar!" ucap pria yang usianya terpaut 5 tahun lebih tua dari Laily.
"Baik, Mas." Laily kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Saat tangannya meletakkan mangkuk sayur yang dibawanya, tiba-tiba Nando menangkap tangan Laily dengan kuat.
"Mas, lepasin!" Laily berusaha menarik tangannya dari genggaman Nando, namun pria yang berstatus saudara tiri itu malah semakin kuat menggenggamnya.
"Kamu semakin hari semakin cantik aja, Li." Nando berdesis di akhir kalimatnya, membuat Laily jijik mendengarnya.
"Dan tubuhmu itu membuat imanku goyah."
Laily beristighfar dalam hati. Ia heran, padahal ia sudah memakai pakaian yang tertutup bahkan longgar hingga menutupi semua lekuk-lekuk tubuhnya.
Namun meskipun begitu, entah kenapa Nando masih saja menatap dirinya dengan penuh nafsu.
Bahkan Nando pernah saat itu berani masuk ke dalam kamarnya tanpa izin.
"Lepasin, Mas!"
Nando segera melepas tangan Laily saat yang lain hadir untuk melakukan sarapan pagi.
Sedangkan Laily langsung pergi ke dapur. Entah kenapa tiba-tiba selera makannya mendadak hilang. Lebih-lebih semeja dengan Nando.
"Gak sarapan bareng kamu, Li?" tanya Nanda adik dari Nando. Yang umurnya sama dengan Laily, yaitu 23.
"Gak, Nan. Aku nanti aja. Masih mau cuci piring." Laily beralasan sambil kembali berlalu dari hadapan Nanda.
***
"Bapak kamu tiba-tiba meriang, Li. Barusan pesan kamu sholat di dalam kamar kamu aja. Dia gak bisa malam ini," jelas Maryam, istri kedua Pak Ilham saat Laily mengetuk pintu kamar bapaknya untuk melakukan rutinitas setiap malamnya di jam dua malam.
"Baik, Bi. Nanti habis sholat Laily buatkan Bapak jamu."
"Iya, biasanya Bapak kamu sembuh dengan itu."
Laily hanya mengangguk. Setelah berpamitan ia langsung pergi keluar rumah.
Saat melewati gang kecil yang ada diantara rumahnya dan pria pemabuk itu, tanpa sengaja Laily berpapasan dengan pria tersebut.
Masih dalam keadaan yang sama, yaitu mabuk dengan tangan memegang botol minuman dan jalannya terhuyung-huyung.
Laily segera menundukkan wajahnya tatkala pria pemabuk itu melirik dirinya cukup lama.
Tangan Laily gemetar dan berkeringat menahan rasa takut. Seharusnya tadi ia mengikuti pesan bapaknya agar sholat di kamar saja.
Namun karena rasanya tidak nyaman, sudah terbiasa sholat di mushola kecil yang terletak diluar pagar rumahnya, Laily memberanikan diri untuk tetap pergi dan melakukan sholat malam di sana. Ia juga sadar sholatnya wanita memang lebih bagus di dalam kamar.
Tapi...entah kenapa, ia tetap ingin sholat di sana. Toh dekat dengan rumah Laily pikir. Bahkan sangat dekat hanya melewati pagar bambu. Antara rumah dan musholla hampir dempet.
Laily segera mengayunkan kakinya dengan rasa ketakutan pada pria pemabuk itu yang masih terus menatap dirinya.
Brewok yang menumbuhi wajah pria pemabuk itu semakin membuat Laily takut dan seram menatapnya. Ditambah rambutnya yang gondrong dan celana yang dipakainya sobek dibagian lutut.
Laily semakin mempercepat langkahnya saat ia merasakan ada seseorang yang mengikuti langkahnya.
Saat menoleh, ia tidak menemukan siapapun. Laily jadi merinding.
Setibanya di mushola, ia segera mendirikan sholat Lail yang istiqomah dikerjakannya setiap malam jika tak ada halangan.
Sholat Laily kali ini tak khusyuk. Seolah merasakan firasat tidak nyaman. Oleh karena itu, dalam sujud terakhirnya, Laily berdoa agar ia dijauhkan dari mara bahaya.
Saat bangun dari sujud terakhirnya dan mau melakukan salam kedua dari sholatnya, tiba-tiba lampu musholla padam. Dan bersamaan dengan itu sebuah tangan kekar menutup mulut Laily.
"Umpph …!" Laily berusaha teriak namun tak bisa. Sumpalan tangan pria itu terlalu kuat.
Selanjutnya tubuh Laily dibaringkan dengan paksa di atas sajadah Laily.
Sekuat tenaga Laily melakukan perlawanan dan menepis kasar saat tangan pria itu hendak membuka mukenahnya.
Laily tak tahu siapa pria itu, sebab keadaan gelap, lampu mushola mati.
"Umpph …!" Lalu masih berusaha berteriak apalagi tangan pria itu sudah menggerayangi dadanya dari luar mukena.
Air mata Laily menetes. Tubuhnya sudah gemetar hebat. Ia tahu dirinya terlalu lemah, untuk melawan kekuatan laki-laki. Namun ia ingat bahwa ia masih punya Allah yang maha kuat.
"Kau sungguh sangat menggoda, Laily. Aku sudah tak tahan lagi."
"Mas Nando!" pekik Laily dalam hati saat mengenali suara itu adalah milik saudara tirinya.
"Umpph…!" Laily berusaha berteriak minta pertolongan. Air matanya semakin deras mengalir.
Saat tangan pria itu hampir berhasil menyingkap mukenah Laily dan hampir membuka kancing bajunya, tiba-tiba ….
"Bugh …!"
Pria yang berusaha menguasai tubuh Laily tersebut terpelanting jatuh kesungkur di bawah mushola yang sempit.
______
Laily segera bangun dan duduk, lalu merapikan penampilannya walau tak sepenuhnya.
Sedangkan pria yang oleh Laily diyakini Nando itu tampak berdiri dan melawan pria yang tadi menendangnya.
Laily tak tahu siapa pria yang telah menolongnya, sebab keadaan gelap.
Tubuh gadis yang masih berbalut mukenah namun berantakan tersebut gemetar hebat, apalagi melihat pergelutan dua pria yang masih tak tampak kedua wajahnya tersebut.
Ingin sekali Laily berteriak meminta pertolongan dan yang pertama memanggil bapaknya, namun rasa takut dan syok masih menguasai hingga ia tak kuasa mengeluarkan suara.
Sedangkan kedua pria di depan mushola itu masih saja bergelut.
"Brugh!"
Laily terkejut saat tubuh kekar seorang pria jatuh menindihnya, hingga posisi Laily yang awalnya duduk jadi terbaring.
Bersamaan dengan itu tiba-tiba lampu mushola hidup.
"Itu dia, Pak RT, mereka yang mau melakukan hal tak bermoral di mushola tempat ibadah ini." Nando menunjuk ke dalam musholla.
Laily terkejut saat melihat ada Pak RT di depan musholla. Dan ada Nando juga.
Melihat itu, Laily semakin yakin kalau tadi pria yang hampir melecehkannya adalah Nando.
Lebih terkejutnya lagi, saat ia melihat pria yang terjatuh di atas perutnya itu adalah pria pemabuk yang sering dijumpainya.
Laily segera mendorong tubuh pria yang paling ditakutinya tersebut hingga bergulir ke samping.
"Ini tak bisa dibiarkan, Pak RT. Ini sudah melanggar hukum agama. Mereka mau berzina di tempat ibadah ini. Cuih!" Nando, pria yang hampir menodai Laily itu berludah seolah dirinya suci.
Iya, benar dugaan Laily bahwa pria yang hampir menodai dirinya itu adalah tak lain Nando. Anak bawaan dari istri kedua Pak Ilham, bapak Laily.
Namun Laily bingung, kenapa Nando berbicara seperti itu pada Pak RT.
"Saya tidak seperti apa yah dituduhkan oleh Mas Nando, Pak. Tadi memang ada seorang pria yang ingin berbuat tak baik pada saya." Suara Laily terdengar bergetar.
"Iya, benar. Dan pria itu adalah dia." Nando tanpa ragu menunjuk ke arah pria yang ada di samping Laily.
Sontak hal itu membuat wanita yang masih memakai mukenah itu terkejut dan menatap pria yang ada di sampingnya.
Pria itu duduk santai dengan tangan menyangga tubuhnya tampak cuek dengan keadaan yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya Pak Ilham yang baru saja datang dan terkejut saat melihat putrinya Laily sedang berduaan dengan seorang pria pemabuk itu tengah di tonton orang banyak di dalam mushola.
Iya, bersamaan Pak Ilham keluar, beberapa warga juga pada ikutan keluar untuk melihat apa yang sedang diributkan.
Laily segera beringsut turun dari mushola. Rasa takut campur terkejut membuat ia lupa untuk menjauhi pria yang paling ditakutinya itu tadi.
"Laily!" seru Pak Ilham menatap dengan ekspresi tak mengerti pada putrinya tersebut.
"Pak, tadi saat Laily sholat tiba-tiba—"
"Tiba-tiba pria itu datang untuk merayu Laily, lalu aku hadir untuk menolongnya namun aku malah mendengar Laily bukan dipaksa, melainkan ia mau sendiri, oleh karena itu aku urungkan niatku untuk membantunya, memilih untuk memanggil Pak RT yang kebetulan lewat." Nando memutar balikkan fakta. Apa yang sudah diperbuat ia balik tuduhkan pada pria pemabuk itu.
"Benar, Laily, seperti itu kejadiannya?" tanya Pak RT pada Laily.
Sontak dengan tubuh gemetar, efek ketakutan ditambah keterkejutan yang masih tersisa, Laily menggelengkan kepala.
"T-tidak, Pak. Laily di sini korban."
"Bohong. Dia berbohong," sela Nando dengan jari telunjuk menuding Laily.
"Aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa perempuan itu sama-sama mau saat diajak berzina oleh pria pemabuk itu!" Suara Nando terdengar nyaring dan tegas seolah ingin menunjukkan pada semua orang bahwa apa yang dikatakannya itu adalah sebuah kebenaran.
"Apa benar seperti itu, Abdi?" Pak Ilham yang tak tahan langsung menanyakan pada pria pemabuk itu.
Saat Pak Ilham menunggu jawaban Abdi penuh harap disertai cemas, Abdi si pria pemabuk itu malah acuh tak acuh.
Melihat itu, Nando yang sempat khawatir langsung merasa lega.
"Kenapa Paman malah menanyakan pada pria tukang mabuk itu. Tentu saja dia tak akan menjawab. Lebih-lebih saat ini otaknya mungkin sudah tak begitu sadar sebab efek minumannya.
"Duh, tidak menyangka dengan Laily. Ternyata apa yang kita lihat selama ini tak seperti apa yang kita lihat dan pikirkan," ucap seorang ibu-ibu yang mungkin sudah percaya dengan fitnah Nando.
Melihat itu senyuman sinis Nando mengembang.
"Benar, apa yang kita lihat sekarang ini tak seperti apa yang kita lihat selama ini. Laily yang rajin ibadah, puasa, seorang guru ngaji bahkan istiqomah menghadiri pengajian agama. Namun malam ini…." Nando tersenyum sinis sambil berkacak pinggang sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Dia hendak berzina di mushola yang dijadikan tempat ibadah dan mengajar ngaji anak-anak." Suara Nando lantang saat mengucapkannya.
Air mata Laily menetes deras. Bahkan saat ini ia sesenggukan. Ia tak menyangka akan mendapat fitnah keji dari Nando.
"Benar, Nak Laily. Apa yang telah dituduhkan Nando bahwa Nak Laily telah—"
"Demi Allah tidak, Pak RT." Dengan suara yang masih gemetar hebat, Laily menyela pertanyaan Pak RT.
"Saya memang didatangi seorang pria saat sedang sholat dan pria itu hampir melakukan hal tidak baik—"
"Dan pria itu siapa? Apa kamu bisa menjawab." Nando dengan lantang saat menanyakannya, memotong perkataan Laily.
Kali ini Laily menatap tajam ke arah Nando. Ingin sekali ia berteriak lantang juga menyebut nama Nando yang telah hampir menodai dirinya.
Namun hal itu Laily tahan, sebab ia tak punya bukti kuat untuk menuduh Nando sebagai pelaku yang hampir melecehkannya.
"Kau tidak bisa jawab, kan?" Nando tersenyum sinis.
"Bukan tak bisa jawab, namun aku tidak bisa menuduh dengan tanpa adanya bukti seperti halnya kamu menuduh aku ingin berzina." Laily menatap tajam ke arah Nando. Rasa benci dan takut pada pria itu bercampur menjadi satu.
"Tadi lampu musholla mati. Jadi aku tidak bisa melihat dengan jelas. Namun aku sempat mendengar suara pria itu. Dan itu adalah kamu," ucap Laily dengan suara masih gemetar, efek ketakutan yang masih tersisa dalam dirinya.
"Eh, Laily. Berani sekali kamu menuduh anak saya yang sekaligus saudara kamu meskipun tiri." Maryam, ibu Nando segera menyahuti. Tampak tak terima.
"Kamu itu udah mau ditolong malah fitna anak saya," hardik Maryam.
"Saya tidak fitnah, Bik, walaupun keadaan gelap, namun Laily masih bisa mendengar dengan jelas suara pria itu. Dan itu suara Mas Nando."
"Ha ha ha …." Nando yang sempat tegang kini malah tertawa.
"Kamu halu, ya, Li? Kamu memang mendengar suaraku, tapi niatku ingin menolongmu. Tapi gak jadi setelah dengar suara kamu yang tampak menikmatinya dengan apa yang diperbuat pria pemabuk itu."
"Itu fitnah!" teriak Laily dengan air mata semakin deras menetes.
"Ini bukan fitnah. Tapi semua kebenaran. Dengar semuanya." Nando mengangkat kedua tangannya dan menghadap ke arah orang yang berkumpul.
"Saya Nando Fikram. Bersumpah demi Tuhan, telah melihat pria pemabuk itu dengan Laily melakukan hal tidak bermoral di mushola tempat ibadah tersebut. Saya bersaksi bahwa mereka hendak berzina namun langsung kepergok oleh diriku."
Laily terhenyak mendengar sumpah yang diucapkan Nando. Ia tak menyangka Nando akan seberani itu membawa nama Tuhan dalam kebohongannya.
"Kalau begitu, beri sanksi pada Laily dan pria itu, Pak RT," ucap salah satu warga pada Pak RT yang telah mempercayai fitnah Nando.
"Iya, Pak RT. Jangan biarkan pezina seperti mereka dibiarkan saja. Sudah begitu Laily itu, kan, terkenal alim, disebut wanita malam sebab selalu bangun malam untuk ibadah, putri dari ketua kampung dan imam masjid lagi. Apa kata yang lain jika sampai tahu perbuatan Laily yang dilakukan dengan pria pemabuk itu."
"Iya, benar. Maka jangan dibiarkan saja, Pak RT."
Suara warga bersahutan agar memberi Laily sanksi. Tentu saja hal itu membuat Nando tersenyum puas.
"Jangan, Pak RT. Putri saya Laily tak mungkin melakukan hal itu. Saya kenal betul dengan putri saya, begitupun juga dengan Pak RT saya rasa." Pak Ilham yang sedari tadi terdiam buka suara untuk membela anaknya.
Pak RT tak segera menjawab. Ia benar-benar sangsi terhadap apa yang telah dituduhkan oleh Nando dan apa yang telah ia nilai sendiri bagaimana tentang Laily yang selama ini ia kenal baik. Bahkan ada niatan untuk menjadikan Laily sebagai menantu.
Melihat keraguan yang ada pada Pak RT, Nando segera bergerak ke arah mushola, lalu mengambil Al Qur'an dan digenggamnya erat.
"Jika Pak RT masih ragu dengan kesaksian saya, lihat ini, saya bersumpah bahwa apa yang telah saya lihat dan saya katakan adalah sebuah kebenaran!" Suara Nando lantang saat mengatakannya. Membuat Laily bergetar mendengarkannya.
'Sungguh berani', hanya kata itu yang terucap dalam hati Laily. Nando membawa nama Allah dan Al qurannya dalam dustanya.
"Apa Pak RT masih tidak percaya dengan kesaksian seorang yang telah membawa nama Tuhan dan Al Quran-Nya?" tanya salah satu warga.
"Iya, sedangkan kami percaya. Oleh karena itu, beri mereka hukuman, Pak RT. Kami tak mau orang seperti mereka dibiarkan saja di kampung kita."
"Iya, saya setuju. Beri mereka hukuman!"
"Pak RT jangan diam saja. Jangan mentang-mentang Laily ingin sekali dijadikan menantu oleh Pak RT dan Pak Ilham adalah teman Pak RT, jadi tak menjalankan amanah. Yaitu keamanan rukun tetangga."
Suara warga ricuh saling bersahutan.
"Baik, harap tenang semuanya." Pak RT berusaha mengamankan warganya. Setelah melewati dilemanya.
"Saya tidak akan diam saja. Saya tetap akan menjalankan hukum yang berlaku di desa ini, memberikan sanksi pada orang yang telah berlaku tidak bermoral di kampung kita."
"Setuju, hukum keduanya, Pak RT."
"Iya, usir mereka."
Menetes air mata Pak Ilham mendengar teriakan para warga. Begitupun juga dengan Laily. Di sini hanya Nando yang tersenyum penuh kemenangan.
Sedangkan pria mabuk itu masih acuh tak acuh tak terbawa oleh keadaan. Masib tenang seolah tak ada yang terjadi.
"Atau kalau tidak nikahkan saja mereka berdua."
Laily begitu terkejut mendengar usulan salah satu warga. Bahkan tak hanya Laily, kali ini Nando juga ikutan terkejut mendengarnya.
_______
"Menikahlah dengan Nak Abdi, Li."
Laily yang menunduk sontak mengangkat wajahnya menatap Pak Ilham yang berdiri di depannya.
Pak RT juga RW memberikan kesempatan pada Laily dan Pak Ilham untuk bermusyawarah terlebih dahulu, berduaan saja untuk memutuskan memilih sanksi yang mana.
"Apa itu artinya Bapak percaya dengan fitnah Mas Nando?" tanya Laily menatap tak percaya pada Pak Ilham.
Pak Ilham segera menggelengkan kepalanya. "Bukan, Nak…bukan."
"Lalu, Pak?"
"Bapak sama sekali tak percaya dengan tuduhan Nando. Sebab Bapak lebih tahu kamu dari kecil, tak akan mungkin melakukan hal ini. Lebih-lebih Bapak sering kali liat kamu ketakutan saat melihat Abdi, apalagi mau melakukan seperti apa yang dituduhkan oleh Nando."
Mendengar penuturan Pak Ilham, Laily bersyukur dalam hati. Sebab hanya satu harapan Laily selain Allah, yaitu bapaknya.
"Tapi para warga tak akan mengerti, Li. Tentunya mereka lebih percaya sumpah palsu Nando, lebih-lebih ia membawa nama Tuhan dan Rasul-Nya, juga Al Qur'an-Nya. Ditambah kita tak punya bukti untuk menyangkal." Wajah Pak Ilham sendu.
"Bahkan Bapak tadi juga sudah merayu Abdi untuk berbicara jujur, namun respon dia masih sama. Acuh tak acuh. Seolah ia sedang tak dikenai musibah. Ya sekalipun ia angkat bicara mengatakan yang sejujurnya, tentunya para warga tak akan mempercayainya. Tak akan ada orang yang percaya dengan tukang mabuk sepertinya. Mau diusir pun dia tak akan susah, sebab dia memang akan diusir oleh para warga sebelum ada kasus ini. Sebab meresahkan warga dengan mabuknya itu."
"Lalu Laily harus bagaimana, Pak? Laily tak ingin diusir, Laily tak ingin jauh dari Bapak." Air mata Laily menetes. Cobaan begitu berat ia rasakan saat ini.
"Tak ada cara lain." Mata Pak Ilham lekat menatap wajah putrinya. "Kau harus menikah dengan Abdi."
"Tapi, Pak, dia tukang mabuk. Apa Bapak mau memberikan putri Bapak ini pada pria mabuk sepertinya yang selalu meresahkan para warga?"
"Kita tak punya pilihan, Nak."
"Tapi, Pak—"
"Bapak tak ingin putri Bapak satu-satunya diusir dan jauh dari Bapak." Pak Ilham segera menarik tubuh Laily ke dalam pelukannya. Seolah ingin memberikan kedamaian dan ketenangan pada Laily, menghibur dari masalah yang sedang menimpanya.
"Kau tak perlu cerita semuanya dari awal, Bapak sudah bisa menebak apa yang terjadi," ucap Pak Ilham dengan tangan mengusap pelan kepala Laily yang berbalut mukenah. Ia terisak dalam dekapan pria yang paling dikasihinya.
"Percayalah, Nak. Jika Abdi memang bukan jodohmu, maka kau tak akan lama bersamanya. Namun jika dia jodohmu, maka akan ada jalan untuk takdirmu…jangan menangis, Sayang, Putri Bapak…kau kebanggan…."
Laily semakin terisak mendengarnya.
***
Nando meluapkan emosinya dengan meninju tembok rumah hingga tangannya terluka.
Nando benar-benar tak menyangka kalau Laily akan lebih memilih menikah dengan Abdi daripada diusir dari kampungnya.
Benar-benar di luar rencananya. Sia-sia ia memfitnah adik tirinya yang sudah lama ia incar.
Tadinya Nando sudah merasa senang sebab yakin wanita cantik yang tak hanya mendapat gelar wanita malam namun juga kembang desa tersebut akan memilih diusir ketimbang menikahi pria pemabuk yang selalu meresahkan warga.
Jika Laily diusir, maka pria licik, preman yang berkedok santri taat itu akan lebih mudah mendapatkan wanita shalihah itu.
Namun harapannya musnah saat wanita cantik itu memilih untuk menikah dengan Abdi daripada diusir.
Nando benar-benar kecewa.
Di sisi lain, setelah membujuk Abdi untuk bersedia menikahi Laily, Pak Ilham mempersiapkan akad putrinya yang secara mendadak tersebut.
Di mushola yang penuh kenangan, Abdi mengucapkan ijab kabulnya yang sakral tersebut dengan lancar. Sempat membuat orang-orang yang menyaksikan heran.
Pria pemabuk yang selalu meresahkan dan tak pernah menyentuh air wudhu apalagi sholat itu begitu lancar melafalkan kalimat ijab kabul.
Tepat para saksi mengatakan 'sah', dunia Laily rasakan runtuh. Ia tak menyangka bahwa akan menjadi seorang istri dari pria pemabuk. Padahal rata-rata pria yang berusaha mendekatinya adalah orang yang terkenall fanatik.
***
Tak ada resepsi seperti pernikahan pada umumnya, setelah akad nikah selesai dan doa selamat, Abdi langsung pergi begitu saja dari mushola, pulang ke rumahnya sendiri yang ada tepat di samping rumah Pak Ilham.
"Kau akan tinggal di mana, Li?" tanya Maryam dengan sinis sambil duduk di kursi yang ada di teras rumah.
"Ya pasti ikut suaminya, dong, Buk." Nanda yang baru saja tiba di teras rumah dan ikut duduk di kursi sebelah Maryam menyahuti.
"Iya, sih. Wanita yang bersuami, kan, memang sudah jadi kewajiban suaminya. Jadi mending kamu ikut pulang sana, Li," ucap Maryam.
Laily hanya menundukkan wajah dengan masih berdiri. Ia tahu ibu tirinya tersebut memang tak pernah menyukai dirinya. Ia hanya menyukai bapaknya saja.
Laily juga tahu kalau ibu tirinya tersebut begitu menginginkan dirinya pergi dari rumah bapaknya. Terlihat saat Maryam selalu menyuruh Laily untuk menikah dan menerima lamaran pria yang masuk.
"Kamu itu terlalu pilih-pilih, Li. Udah mending minggu lalu ada yang masuk mau jadikan kamu istri dari Ustadz Afdal, ya sekalipun istri kedua, tapi gapapa daripada suami kamu sekarang itu."
"Pria pemabuk!" Maryam menyahuti sambil menahan senyum ejekannya. Begitupun juga dengan putrinya Nanda.
"Laliy tidak akan pergi ke mana-mana. Ia akan tetap tinggal di sini denganku," ucap Pak Ilham yang baru saja tiba di rumah.
"Maksud Bapak apa?" Maryam segera berdiri menatap heran pada suaminya tersebut.
"Aku menyuruh Laily agar memilih sanksi menikah, agar ia tetap tinggal di sini. Aku tak ingin jauh dari putriku." Pak Ilham menatap putrinya yang menunduk menyembunyikan air matanya.
Entah kesedihan yang mana yang Laily tangisi saat ini. Pak Ilham tak tahu.
"Apa Bapak mau misahin istri dari suaminya? Itu tidak mungkin, kan, Pak?" tanya Maryam.
"Mana bisa, sepasang suami istri itu harus satu atap." Nanda menimpali.
"Siapa bilang aku mau misahin Laily dengan Abdi?"
"Lalu?" Mata Maryam menyipit menatap suaminya.
"Jangan bilang Bapak mau mengajak tukang mabuk itu untuk tinggal di rumah kita juga?" tanya Maryam penuh selidik. Lalu senyum getir dan sinis menyusul saat tak mendapat respon dari suaminya.
Diamnya Pak Ilham sudah cukup menjadi jawaban.
"Eh, Pak. Orang kampung saja mau mengusir mantu Bapak itu, tapi Bapak mau menampung dia di sini … di rumah ini. Tidak." Maryam melipat tangannya di dada.
"Buk, dia itu menantu kita."
"Bukan kita. Hanya menantu Bapak, suami dari putri Bapak," ucap Maryam dengan pandangan ke arah lain.
"Iya, tapi dia harus—"
"Cukup, Pak. Intinya Ibuk gak setuju jika tukang mabuk itu tinggal di rumah ini. Kalau Bapak tak ingin jauh dari anak Bapak. Ya gampang, tinggal Laily ikut tinggal di rumah suaminya. Toh rumahnya deket. Cuman sebelah rumah aja, kok. Kalau kangen tinggal samperin aja." Setelah berucap dengan sengitnya, Maryam berlalu pergi masuk ke dalam.
"Nanda juga tak setuju serumah dengan pria pemabuk. Bisa-bisa bau minuman keras dan banyak dengan botol rumah ini." Nanda juga ikutan masuk setelah berucap.
"Buk, tunggu …!" Pak Ilham hendak melangkah untuk menyusul istri dan anak tirinya namun segera Laily hentikan dengan cara menahan tangannya.
"Sudah, Pak. Apa yang dikatakan Bibik sama Nanda benar, kok. Laily sebagai seorang istri sudah sepatutnya tinggal bersama suami Laily."
"Tapi, Li—"
"Lagi pula…Mas Abdi mana mau tinggal di rumah ini."
Kali ini Pak Ilham terdiam dengan pikiran campur aduk.
"Nak, Bapak sebenarnya …." Pak Ilham tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Netranya mengembun menahan tangis.
"Sudah, Laily ngerti, kok. Sudah gak apa, lagian Laily dekat, Bapak bisa main tiap harinya." Laily memaksakan senyum di wajahnya.
"Maafkan Bapak, Nak." Pak Ilham kali ini tak kuasa menahan air matanya untuk mengalir.
***
Laily pergi ke rumah Abdi dengan diantar oleh Pak Ilham.
Beberapa kali Pak Ilham mengetuk pintu disertai ucapan salam, namun belum juga ada respon dari dalam.
Saat Pak Ilham ingin mengetuk pintu rumah besar itu lagi, Laily menghentikannya.
"Sudah, Pak. Mungkin dia sedang tidur atau—"
Kata-kata Laily terhenti bersamaan pintu terbuka dari dalam.
Laily segera menundukkan wajahnya tatkala pria yang paling menakutkan baginya muncul dari balik pintu.
"Maaf, Nak, jika mengganggu," ucap Pak Ilham. Abdi hanya diam sambil menatap tas yang dipegang oleh Laily.
"Bapak kemari ingin mengantar istri Nak Abdi. Bukannya seorang istri memang harus tinggal dengan suaminya?" Pak Ilham menatap tak nyaman sama Abdi yang masih menampakkan ekspresi datar.
"Sedangkan…sedangkan jika Bapak ajak Nak Abdi untuk tinggal di rumah kami, pastinya Nak Abdi akan keberatan, sebab Nak Abdi tahu sendiri rumah kami sempit." Pak Ilham tersenyum kaku.
Abdi masih tak bersuara, namun ia membuka pintunya dengan lebar tanda ia menyetujui kata-kata Pak Ilham yang mengantar Laily untuk tinggal bersamanya.
Setelah itu, masih tanpa kata-kata, Abdi masuk begitu saja ke dalam.
Pak Ilham menoleh menatap Laily. "Nak, masuklah! Suamimu sudah memberikan izin."
Mata Laily berkaca-kaca menahan tangis menatap bapaknya.
"Sudah, Bapak akan sering mengunjungi kamu. Kamu juga boleh main ke rumah Bapak. Sana masuk!" titah Pak Ilham.
Laily mengusap air matanya yang sempat menetes.
"Laily masuk, ya, Pak." Setelah mendapat anggukan serta senyuman dari Pak Ilham, Laily masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Setibanya di dalam, Laily mengedarkan pandangannya sekeliling ruangan.
Ternyata besar tak seperti penampakan dari luar yang biasa Laily lihat, namun sayang sedikit berantakan.
Saat baru melangkah, kaki Laily tak sengaja menyepak botol minuman hingga menimbulkan bunyi.
Melihat itu, ketakutan Laily timbul. Tangannya gemetar.
Ketakutan Laily semakin bertambah saat Abdi keluar dari sebuah ruangan. Ia membungkuk mengambil botol minuman yang menggelinding tepat di dekat kakinya.
Laily yang merasa seram melihat penampilan Abdi dengan rambut gondrong, brewok tak terawat dan celana yang dipakainya sobek dibagian lutut segera menundukkan kepalanya.
Entah bagaimana ia akan menjalani hari-harinya dengan tinggal bersama suami pemabuknya itu.
_____