Bab 1

Malam itu sekitar jam sebelas lebih cuaca masih sangat tidak bersahabat, sejak tadi hujan turun dengan derasnya disertai guruh dan petir.

Di tempat yang sepi depan pintu kamar periksa itulah Ronald, seorang dokter yang malam ini bertugas sebagai dokter jaga, menghabiskan waktunya dengan membaca novel online ‘Premanku Canduku’ di platform keren ‘Bakisah’ yang memang cerita itu sedang sangat booming dan naik daun di sana.

Premanku Canduku karya Fajar Merona, berkisah tentang seorang istri yang terjebak dalam dilema yang nyaris tak berkesudahaan akibat ulah fantasi gila suaminya yang aneh dan nyaris tak berkesudahan. Hingga membuat sang dokter gagah itu pun makin penasaran dengan kelanjutannya.

‘Apakah aku termasuk golongan suami sejenis Bayu atau Ardi?’ tanya Ronald pada dirinya sendiri, setelah membaca bab terakhir. ‘Jadi makin penasaran ingin berjumpa dengan Siska istrinya Bayu. Masa laluku sebenarnya gak jauh beda dengan Alex, sang Preman itu,’ lanjutnya sambil menerawang, merenung jauh pada masa lalunya.

Dokter Ronald berusia 35 tahun, masih tampak gagah dan ganteng dengan tinggi badan 175 cm dan berat ideal karena sangat rajin berolah raga untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya . Sudah hampir sepuluh tahun bekerja sebagai dokter umum di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Namun kali ini dia sedang mendapat tugas bimbingan di rumah sakit cabang di luar Pulau Jawa.

Sang Dokter muda sudah berkeluarga kurang lebih tiga tahun, namun belum dikarunia anak. Sudah hampir dua bulan Ronald terpisah dengan istri tercintanya karena tugas. Belinda istrinya berusia 32 tahun, seorang dokter yang bekerja di sebuah kinik kesehatan salah satu perusahaan konstrusi terbesar di Indonesia. Ronald pun berencana membuka klinik bersama istrinya. Namun entah kapan bisa terealisasi.

Kesepian sudah menjadi temannya sehari-hari, apabila ktika tugas jaga malam. Mendengar suara-suara aneh dan cerita-cerita seram lainnya sudah tidak membuatnya merinding lagi. Sudah sangat kebal. Namun malam ini, dia sungguh-sungguh merasakan sesuatu yang berbeda. Mungkin karena sudah terlalu lama jauh dari istrinya, atau memang karena hujan yang deras, embusan angin dan hawa dingin yang mengigir hingga membuatnya merasa malam sangat panjang.

Ronald masih terus membaca novel online, kali ini beralih ke cerita ‘Ketagihan Teman Suami’ yang ternyata tak kalah serunya dengan cerita yang tadi selesai dibacanya. Kisah kali ini pun masih tentang lika-liku rumah tangga, namun dilihat dari sudut yang berbeda. Cukup lama juga Ronald tenggelam dalam cerita yang belum lama terbit di Bakisah itu, babnya pun masih sedikit tapi memang sudah sangat seru.

Hening sekali suasananya. Hanya gemuruh derasanya hujan yang terdengar. Rumah sakit ini memang masih baru, berada di sudut kota kabupaten sehingga masih belum terlalu ramai karena fasilitas dan tenaga medisnya pun belum terlalu lengkap sehingga penerimaan pasien pun sangat dibatasi.

Tak lama kemudian Ronald mendengar bunyi lain dari lorong yang sepertinya agak jauh. Suara seseorang yang melangkah itu makin mendekat sehingga mengundang perhatian sang dokter gagah dan tampan yang sedang sangat kesepian itu untuk menghentikan aktivitas membacanya.

‘Siapa malam-malam datang ke sini, tumben?’ tanya sang dokter dalam hati.

Suara langkah itu terdengar makin mendekat, dan tak lama kemudian dari tikungan lorong muncul sesosok wanita yang ternyata seorang gadis cantik berpakaian perawat dan berjilbab lebar. Di luar seragamnya dia pun memakai jaket cardigan pink berbahan wol untuk menahan udara dingin malam itu. Hanifah, nama suster itu, dia berjalan ke arah Ronald berdiri.

“Permisi, Dok,” sapanya sambil tersenyum manis.

“Malam, Sus. Lagi ngapain nih malem-malem ke sini?” balas Ronald sambil memperhatikan kaki sang suster untuk memastikan jika dia tidak melayang atau ngesot.

“Oh, anu, Dok. Saya sedang jaga malam, tapi keadaan sedang sepi. Daripada ngantuk saya keliling sekalian ingin lebih mengenal keadaan sekeliling,” jawab sang suster dengan sangat ramah.

Ronald sedikit mengernyitkan dahinya sebab tidak tahu kalau ternyata ada suster yang belum dkenalnya jaga malam bersama dirinya.

“Oh iya, maaf, kok rasanya saya baru lihat suster di sini?” tanya Ronald sambil kembali memperhatikan Hanifah dari atas hingga bawah. Walau bukan seorang penakut namun Ronald tetap saja ingin memastikan jika wanita cantik yang ada di depannya bukan sejenis hantu atau demit yang gentayangan.

“Iya, Dok. Saya baru tadi pagi sampai di sini, pindahan dari rumah sakit lain,” jawab Hanifah. “Ya, itu tadi sekalian mau mengenal keadaan di sini juga, Dok.” Lanjutnya.

“Oh, pantes saya baru lihat,” timpal Ronald.

“Heheh, emang dokter kira siapa?” tanya Hanifah sambil menjatuhkan pantatnya pada bangku panjang dan duduk di sebelah Ronald.

‘Wow, hoki nih’ seru Ronald dalam hati, dia jelas kegirangan mendapat teman baru.

“Dikirain suster ngesot ya, Dok, hahaha,” tambah Hanifah sambil tertawa untuk mencairkan suasana. Dia memang terkenal sebagai wanita pemberani, sehingga cerita-cerita mistis tentang rumah sakit banyak didengarnya namun sama sekali tak dipercayainya.

“Hehehe dikira suster ngesot, gak tahunya suster cantik,” sambung Ronald sambil terkekeh karena suasana dingin sudah mulai berubah hangat.

“Kalau ternyata memang iya suster ngesot, gimana Dok?” tanya gadis itu dengan suara pelan sambil tertunduk.

Tiba-tiba Ronald merasakan sesuatu yang lain, sedikit aneh dan bulu kuduknya agak merinding. Lalu tiba-tiba gadis itu mengangkat wajahnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan, kemuddian tertawa cekikikan sambil menatap wajah Ronald yang tampak pucat dan tegang.

“Hihihi, dokter ini lucu ah. Mungkin kan udah sering jaga malam. Tapi kok digituin aja keliatannya udah takut banget sih, Dok,” canda Hanifah sambil terus tertawa.

‘Wah, suster ini kayanya kebanyakan nonton film horor nih. Udah bikin aku nahan napas aja nih, tunggu aja akan kubuktikan kalau kamu memang benar-benar manusia, Sus!’ geram Ronald dalam hati.

“Iya nih, suster baru kok nakal ya, awas saya laporin loh,” kata Ronald sambil menyenggol bahu samping gadis itu. Sebentar kemudian Hanifah baru menghentikan tawanya, dia masih memegang perutnya yang kegelian.

“Hihi, iya-iya maaf deh Dok. Emang saya suka cerita horror kok. Saya kan pembaca setia cerita ‘Hasrat Dunia Lain,’ di Bakisah, hehehe,” katanya dengan sangat enteng.

“Sus, kalau di tempat seperti begini, mending jangan ngomong sembarangan deh, soalnya yang gituan itu emang ada, kok,” sahut Ronald dengan wajah serius, dan masih bertanya-tanya takutnya suster ini memang jadi-jadian.

“Iya, Dok, maaf deh,” ucap Hanifah pelan dan serius.

“Eh iya, ngomong-ngomong, nama saya Hanifah Puspita, Dok. Panggil aja Hanifaj atau Hani. Saya suster baru di sini, maaf baru ngenalin diri,” ucap Hanifah sambil kembali menatap wajah Ronald yang sudah kembali tidak terlihat tegang.

“Saya Ronald. dokter jadi malam ini. sebenarnya saya bukan tigas di sini, tapi kuburan sebelah.” Balas Ronald.

“Hah!” Teriak Hanifah sambil meloncat dari duduknya, lalu mata indahnya terbelalak menatap Ronald tak percaya.

“Hehehe, makanya kalau masih penakut jangan coba-coba nakut-nakutin orang, hehehehe.” Ronald merasa senang karena sudah bisa membalas keisengan Hanifah.

Malam itu Ronald merasa beruntung sekali mendapat teman ngobrol seperti Hanifah, biasanya suster-suster lain paling hanya tersenyum padanya atau sekedar memberi salam basa-basi. Maklumlah mereka semua tahu kalau Ronald cukup berpengaruh juga di rumah pusat itu dan memiliki jabatan penting di rumah sakit pusat. Selain itu mereka juga tahu sang dokter sudah mempunyai istri.

Ronald dan Hanifah pun terlibat dalam obrolan ringan. Sejatinya Ronald memang sangat tertarik dengan Hanigah yang dia rasa cukup berbeda dengan suster lain yang sudah dikenalnya di rumah sakit baru ini. Selain masih muda dan cantik alami, Hanifah juga ternyata sangt luas wawasannya dan asik diajak ngobrol.

Pria normal mana yang tidak tertarik dengan gadis berkulit putih mulus berwajah kalem keibuan tapi sangat crdas seperti dia. Rambut hitamnya disanggul ke belakang tampak terbayang walau tertutup dengan jilbabputihnya. Tubuhnya yang padat dan montok pun sangat ideal dengan tinggi 168 cm. Pakaian perawat dengan bawahan rok panjang menambah keanggunan pesonanya.

Hanifah berusia 24 tahun dan belum menikah. Untuk gadis secantik Hanifah sebenarnya tidak begitu susah mendapat pasangan, ditambah lagi dengan bodinya yang montok dan padat, tentu banyak lelaki yang mau dengannya. Tapi sejauh ini belum ada pria yang cocok di hatinya. Tak sedikit juga dokter yang menggodanya, bahkan Hanifah pun menemui kecocokan dengannya, namun sayang mereka sudah beristri. Hanifah tak ingin menjadi pelakor.

Sebagai wanita yang cukup taat dalam menjalankan syariat agamnya, Hanifah tentu saja sangat menjaga pergaulannya dengan lawan jenis. Namun malam ini, dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Entah mengapa dia merasa mendadak gelisah dan darahnya berdesir saat duduk berdua saja dengan Dokter Ronald. Bukan saja karena sang dokter tampak sangat gagah dan tampan, namun memang sangat berbeda dengan dokter-dokter yang selama ini dia temuinya.

‘Sayang dia sudah beristri juga,’ keluh Hanifah dalam hati.

Hati kecil Hanifah tidak dapat dibohongi jika dalam hitungan menit ngobrol dengan Ronald, hatinya sudah tertawan. Doter Ronald memang sangat berbeda. Dia sangat cair tidak kaku seperti dokter pada umumnya yang baru kenal. Dari obrolan hangatnya Hanifah sangat yakin jika Ronald memang dokter yang sangat gaul, trendy.

Ya, Hanifah tidak salah, karena Ronald memang sangat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi kemasyarakat dari sejak sekolah hingga saat ini.

Malam terus beranjak larut dan obrolan mereka pun semakin cair dan hangat bahkan cenderung sedikit panas. Ronald berhasil membawa Hanifah membahas sesuatu yang sejatinya tak layak mereka perbicncangkan dalam suasana seperti itu. Setan pengganggu sudah pasti bersorak, karena mendapat kesempatan emas untuk menjadi yang ketiga diantara mereka dengan tugas khusus sebagai pembakar syahwat.

Semakin lama Ronald pun semakin berani. Tak terasa mereka pun duduknya makin mendekat nyaris rapat. Sesekali Ronald pun mencuri pandang ke arah belahan dada sang suster yang membayang di balik pakaian dan jilbab panjangnya. Suasana malam yang dingin, obrolan yang mulai hangat kian membuat Ronald gelisah dalam dorongan birahi yang sudah bangkit.

Apalagi Ronald sudah hampir dua bulan tidak mendapat asupan belain kemesraan dari istrinya, walau dari wanita bukan istinya dia sudah mendapatkannya seminggu yang lalu. Namun begitulah nagsu, selalu merasa tidak puas dan selalu pandai mencari alasan untuk pembenaran.

Dan hebatnya, nafsu juga kadang membukakan jalannya sendiri dengan sangat mudah. Hanifah memang tidak lebih cantin dari Belinda, istrinya, namun birahi kadang tidak terlalu memperhitungkan hal demikain.

^*^

Bab 2

Semakin lama Ronald semakin berani menggoda suster muda yang awalnya terkesan alim itu dengan guyonan-guyonan nakalnya. Hanifah sendiri hanya tersipu-sipu dengan obrolan mereka yang lumayan panas bahkan cenderung jorok itu. Namun dia juga sangat nyaman berdiskusi dengan dokter tampan rupawan itu.

Obrolan mereka bahkan sudah tak ada batas lagi, sepertinya mereka sudah sedikit melupakan kode etik hubungan kerja antara dokter dengan suster.

“Terus terang aja, sejak Hani datang, kok di sini jadinya lebih hanget ya,” kata Ronald sambil meletakkan tangannya di lutut Hanifah dan mengelusnya ke atas sambil menarik rok panjangnya hingga pahanya mulai sedikit tersingkap.

“Jangan gitu dong, Dok, mau saya gaplok apa ya?” Hanifah protes tapi kedua tangannya yang dilipat tetap di meja tanpa berusaha menepis tangan Ronald yang mulai kurang ajar.

“Ah, Hani, masa pegang gini aja gak boleh. Lagian di sini kan sepi gak ada siapa-siapa, dingin lagi,” timpal Ronald makin berani. Tangannya makin naik dan paha yang mulus itu pun semakin terlihat.

“Dok, saya marah nih! Lepasin gak? Dokter kan sudah punya istri, saya hitung sampai tiga ya!” sentak Hanifah dengan wajah yang menujukan kekesalannya. Matanya menatap wajah tampan Ronald yang tersenyum mesum.

“Jangan marah dong, Han. Mendingan kita seneng-seneng aja, ya?” sahut Ronald dengan sangat entengnya.

Sejurus kemudian dokter jaga itu dengan berani merangkul bahu Hanifah dan tangan satunya menyingkap rok di sisi yang lain. Hanifah tidak bergeming, tidak ada tanda-tanda penolakan walau wajahnya masih terlihat kesal, tegang dan marah.

Hanifah mulai menghitung dalam hati, namun Ronald malah makin kurang ajar, dan tangannya makin nakal menggerayangi pahanya. Hitungan sampai lima sudah berkahir, namun entah mengapa Hanifah tidak lantas beranjak pergi atau berteriak ketika kelakuan dokter mesum ini makin nakal dan kurang ajar.

Dokter Ronald yang sudah kerasukan nafsu itu menganggapnya apa yang ducapkan Hanifah hanyalah sandiwara untuk meninggikan harga dirinya, sehingga dia malah semakin bernafsu. Sebelum Hanifah berpura-pura berontak, Ronald sudah lebih dulu mendekapnya dan melumat bibir sang suster dengan sangat lembut namun cukup ganas.

”Hmm mmhh..” Hanifah berontak dan mendorong-dorong tubuh Ronald, berusaha lepas dari dekapannya namun tenaganya tak ada apa-apanya. Belum lagi Ronald juga mendekap dan terus menaikkan rokknya lebih tinggi lagi. Hanifah bahkan sudah bisa merasa hembusan angin malam menerpa paha mulusnya yang telah tersingkap. Jga tangan kekar sang dokter makin lembut mengelusinya hingga membuatnya terangsang.

“Aah jangan mmhh, Dook…” Hanifah berhasil melepaskan diri dari cumbuan Ronald tapi cuma sebentar.

Karena ruang geraknya terbatas, bibir mungil sang suster itu kembali menjadi santapan buas sang dokter. Lalu tangan Ronald mulai meremas-remas buah dada Hanifah yang masih tertutup pakaian dan jilbabnya. Ronald dapat merasakan kalau payudara suster muda ini masih sangat kencang dan padat, pertanda belum pernah dijamah lelaki lain. Sementara tangan satunya tetap mengelus paha sang suster mengalirkan setrum rangsangannya.

Hanifah terus meronta walau tidak terlalu keras, dan itu hanya menjadi sia-sia belakan, malah pakaian bawahnya semakin tersingkap dan jilbab perawatnya nyaris copot. Ronald melepaskan jaket cardigan pink Hanifah, sehingga tinggal baju seragam yang terlihat. Lama-lama perlawanan Hanifah melemah. Sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifnya benar-benar telah meruntuhkan segala pertahanan sang dara.

Pesona dan kepiawan Ronald dalam menakukan wanita sudah tidak diragukan lagi. Jangankan mereka yang sudah berpengalaman, bahkan sudah puluhan gadis alim nan polos berubah menjadi liar setelah mendapat sentuhannya. Ronald hanya bersiakap mesra dan sangat lembut pada Belinda, istri tercinanya. Kebuasan dan kebrutalan gairah seksualnya justru dilampiaskan pada wanita yang bukan istrinya.

Birahi Ronald sangat mudah bangkit bila bersama wanita lain. Apalagi jika suasananya sangat mendukung seperti malam ini. Hujan yang masih mengguyur dan dinginnya malam kian membuatnya lupa diri. Bulu kuduk Hanifah merinding merasakan sesuatu yang basah dan hangat di lehernya. Ronald sedang menjilati lehernya yang jenjang setelah jilbabnya berhasil disingkap sang dokter bernafsu besar itu.

“Doook, jangaaaan…” Hanifah mendesah, saat merasakan lidah sang dokter terus bergerak menyapu dengan sangat lembut dan intens pada lehernya, sehingga menyebabkan tubuhnya menggeliat nikmat secara sendirinya.

Mulut Hanifah yang tadinya tertutup rapat-rapat menolak lidah sang dokter pun mulai sedikit membuka. Lidah kasap sang dokter yang sudah kerasukan birahi tingkat tinggi itu pun langsung menyeruak masuk ke dalam mulut suster yang masih sedikit polos. Bayangan Hanifah yang pernah berciuman dengan pacarnya saat SMA, lambat laun membawanya untuk merespon dan melayani sang dokter. Hingga mereka pun kini saling berpagutan dengan penuh gairah.

Sementara itu Ronald yang pengalamannya jauh di atas awan, dngan mudahnya mulai melucuti kancing bajunya dari atas dan sekaligus mencopot jilbab Hanifah. Tangan perkasa sang dokter itu pun menyusup ke dalam cup bra sang suster. Dan begitu menemukan putingnya yang benar-benar masih kencang dan padat, dia langsung memain-mainkannya dengan dipilin lembut hingga keras menggemaskan.

Di tengah ketidak-berdayaannya melawan nafsu besar dokter mesum itu, Hanifah semakin pasrah membiarkan tubuhnya dijarah. Tangan Doketr Ronald menjelajah semakin dalam, dibelainya paha dalam gadis itu hingga menyentuh selangkangannya yang masih tertutup celana dalam. Sementara baju atasan Hanifah juga semakin melorot sehingga terlihatlah bra biru di baliknya.

”Kita ke dalam aja biar lebih enak,” bisik Ronald.

“Kamu emang kurang ajar, ya. Kita bisa dapet masalah kalau gak lepasin saya!“ Hanifah mendapat kesempatan untuk berontak dan memperingatkan dokter brengsek itu.

“Halag, sdahlah, Han. Kurang ajar- kurang ajar, tapi kan kamu suka juga ya? Gak mungkin ada masalah. Saat ini saya yang punya kuasa di rumah sakit ini!” Ronald mulai menujukan sisi arogannya. Padahal sebelumnya tak pernah dia bicara sesombong itu, walau kenyataannya memang benar, nasib semua tenaga kesehatan di rumah sakit baru itu memang ada di tangannya.

“Tapi, Dok,” Hanifah sedikit menurunkan emosinya. Dia sadar dengan posisinya di rumah sakit ini.

“Han, berseneng-seneng dikit kan gak papa? Dingin-dingin begini emang enaknya ditemenin cewek cantik kaya kamu, kok,” lanjut Ronald dengan rayuan gombalnya.

“Yu di dalam aja, biar gak kena masalah,” ajak Ronald sambil menuntun Suster Hanifah ke ruang periksa pasien tempat mereka berjaga.

Hanifah disuruh naik ke sebuah ranjang periksa yang biasa dipakai untuk memeriksa pasien. Selanjutnya Ronald langsung menggerayangi tubuh Hanifah yang terduduk di ranjang itu.

Ronald menarik lepas celana dalam gadis itu hingga terlepas. Celana itu juga berwarna biru, satu stel dengan branya. Kemudian dia berlutut di lantai, ditatapnya kemaluan Suster Hanifah yang ditumbuhi bulu-bulu yang lebat namun terawat dengan baik dan tidak tidak melebat kemana-mana.

Hanifah dapat merasakan panasnya napas Ronald di daerah sensitifnya. Ronald mempreteli kancing baju atas Hanifah yang tersisa. Lalu bra itu disingkapnya ke atas. Kini terlihatlah payudara sang suster muda yang berukuran sebesar bakpao dengan putingnya berwarna coklat.

“Uuuhh, Dook…” desah Hanifah ketika lidah Ronald mulai menelusuri gundukan buah dadanya itu. Lidah sang dokter bergerak liar menjilati seluruh payudara yang kencang dan padat itu tanpa ada yang terlewat.

Setelah basah semua, dikenyotnya daging kenyal itu, puting mungil itu digigitinya dengan gemas.

“Aah Dooook aaah ssssy…!” Tiba-tiba Hanifah melenguh panjang dan tubuhnya pun tersentak. Merasakan lidah panas sang dokter yang mulai menyapu bibir vaginanya lalu menyusup masuk ke dalamnya.

Hanifah gadis alim yang belum pernah melakukan aktovitas sejauh ini, sebenarnya merasa malu, marah dan jijik terpaksa harus melakukan ini. Namun rupanya libido yang telah dibakar Ronald, membuat sang suster melupakan perasaan itu. Mulut dan lidah Ronald kini merambat ke atas menciumi bibirnya. Sambil tangannya tetap menggerayangi payudaranya. Kemudian dokter itu kembali menghisap vagina Hanifah dengan sangat rakus..

Ronald makin membenamkan wajahnya di selangkangan Hanifah, lidahnya masuk makin dalam mengais-ngais liang kenikmatan suster muda itu hingga menyebabkan Hanifah kian menggelinjang dan mengapitkan kedua paha mulusnya pada kepala Dokter Ronald.

”Nah, sekarang tinggal kita mulai, Han,” kata Ronald membuka pakaiannya sendiri. sementara Hanifah masih tertegun antara percaya dan tidak dirinya bisa dengan semudah itu pasrah pada lelaki yang bukan siapa-siapanya. ‘Mungkinkah dokter ini menggunakan hipnotis atau pelet?’ tanya Hanifah dalam hatinya, bingung sendiri.

“Pokoknya malam ini saya bakal membuat kamu punya pengalaman indah yang tak akan bisa terlupakan, hehehe,” ucap Ronald penuh percaya diri. Dia sangat yakin jika Hanifah belum pernah dijamah terlalu jauh oleh lelaki manapun sebelumnya.

Hanifah yang merasa sudah dihipnotis itu, tertegun melihat pria gagah yang sudah telanjang bulat di hadapannya. Tubuh Ronald tampak kekar, rudalnya yang sudah menegang pun lumayan besar, bulu-bulu yang tidak terlalu lebat pun membuat Hanifah terbelalak. Ini benar-benar pengalaman pertamanya melihat lelaki dewasa telanjang bulat dalam keadaan horny. Hanifah ingin berontak namun lagi-lagi itu hanya ada dalam hatinya saja.

Ronald naik ke ranjang ke atas tubuh Hanifah. Wajah mereka saling bertatapan dalam jarak dekat. Ronald begitu mengagumi wajah cantik Hanifah, dengan bibir tipis yang merah merekah, hidung bangir, dan sepasang mata indah yang tampak sayu karena sedang menahan nafsu. “Dok, apa gak akan jadi masalah main di sini?” tanya Hanifah yang sesungguhnya dia sendiri merasakan jika itu ucapan bukan keluar dari mulutnya.

“Aaah, kamu masih saja meragukan posisi saya di rumah sakit ini. Siapapun yang berani mengganggu kita, bisa saya pecat sekarang juga! Kamu pun bisa saya naikkan jabatannya kalau mau nurut.” Ronald kembali menujukan arogansinya sambil langung melumat bibir gadis itu.

Hanifah yang mendapat janji surga, langsung memberikan perlawan maksimal. Mereka berciuman dengan penuh gairah, Hanifah yang sudah tersangsang berat itu pun berani melingkarkan tangannya memeluk tubuh sang lelaki yang akan menjadikan dirinya memiliki kedudukan pengting di rumah sakit ini kelak. Kedudukan yang tentu saja diidam-idamkan oleh semua suster.

Ronald yang sudah seminggu lamanya tidak menikmati kehangatan tubuh wanita, sebab tiga suster langganannya sedang palang merah secara bersamaan, begitu bernafsu berciuman dan menggerayangi tubuh Hanifah.

Mendapat kesempatan bercinta dengan perawan tentu saja tidak akan disia-siakannya. Dua suster sebelumnya, walau belum menikah namun sudah bukan perawan lagi. Dan bahkan justru merekalah yang awalnya meminta untuk ditiduri sang dokter, tentu saja mereka pun ingin mendapat perhatian lebih dari Dokter Ronald, demi karir dan masa depannya.

Bab 3

Setelah kurang lebih lima menitan berciuman sambil bergesekan tubuh dan meraba-raba, mereka melepas bibir dengan napas yang terngah-engah dan memburu. Ronald mendaratkan ciumannya kali ini ke lehernya. Kemudian mulutnya merambat turun ke payudaranya, sebelumnya dibukanya terlebih dulu pengait bra yang terletak di depan agar lebih leluasa menikmati dadanya.

“Eemmhh aahhh aahh, Dokteeeer….,” desah Hanifah menikmati hisapan-hisapan liar sang dokter pada kedua buah dadanya yang terasa semakin keras dan panas.

Tangannya memeluk kepala yang rambutnya lebat dan hitam itu. Hanifah merasakan kedua putingnya semakin mengeras akibat rangsangan yang terus datang sejak tadi tanpa henti. Sambil menyusu, Ronald juga mengobok-obok vaginanya. Jari-jarinya masuk mengorek-ngorek liang senggama sang suster hingga membuat daerah itu semakin basah dan becek oleh lendir birahi.

“Han, saya masukin sekarang ya, udah gak tahan nih,” kata Ronald di dekat telinga Hanifah.

Hanifah hanya mengangguk. Dia tak mungkin lagi menolaknya karena dia sendiri sudah merasa kepalang tanggung, juga dia anggap memebrikan kegadisan yang selama ini dijaganya dengan baik, sebagai sebuah pengorbanan karis saja.

Hanifah berpikir semua dia lakukan dan relakan demi bisa mendapatkan kedudukan baik di rumah sakit ini. Lagian dokter yang memintanya pun tidak mengecewakan. Muda, gagah dan tampan. Andai pun suatu saat nanti ditakdirkan menjadi istri kedua atau ketiganya, tentu saja Hanifah tidak akan menolaknya.

“Ikhlas ya, Han?” tanya Ronald untuk lebih memastikan. Hanifah menjawabnya dengan senyuman kecil dan anggukan kepalanya.

Ronald tersenyum jahat dalam hati, sambil langsung menempelkan ujung kepala rudalnya ke mulut vagina gadis alim itu.

“Sssssst…” Terdengar desisan sensual dari mulut Hanifah ketika Ronald sedikit menekan pantatnya hingga rudalnya semakin dalam menerobas lobang vagina sang suster.

“Uuhh sempit banget Han, kamu bener-bener masih perawan ternyata,” erang Ronald sambil terus mendorong-dorongkan rudalnya secara perlahan. Tahu sangat tahu apa yang harus dilakukan saat memerawani seorang gadis.

“Uuuuuh, sakiiit Dooook!” walau sudah pasrah dan sudah tahu akan sakit, Hanifah tak urung juga mengerang kesakitan dan mencengkram kuat lengan Ronald setiap kali rudal itu terdorong masuk lebih dalam di vaginanya yang masih perawan.

Setelah beberapa kali tarik dorong akhirnya rudal itu tertancap seluruhnya dalam vagina suster itu. Darah perawan mengalir dari sana. “Uuuuuu, enak dan legit banget memek kamu Han. Kamu memang benar-benar masih perawan. Apa saja yang dilakukan pacar kamu selama ini, Han?” Komentar Ronald dalam berceracau.

Sebagai jawabannya Hanifah menarik wajah Ronald mendekat dan mencium bibirnya. Selain untuk meredam rasa sakit di vaginanya, dia juga tidak berniat menjawab pertanyaan itu. Ronald mulai menggoyangkan pinggulnya memompa vagina sang gadis yang kini sudah tidak perawan lagi. Desahan tertahan terdengar dari mulut Hanifah yang sedang berciuman. Rasa sakit yang dideritanya berangsur-angsur bisa diatasinya.

Ronald memulai genjotan-genjotannya yang makin lama makin bertenaga. Dalam usainya yang masih relatif muda, stamina dan rudal sang dokter memang masih sangat bisa diandalkan. Masih sanggup membuat banyak wanita menggelinjang kenikmatan dan kelelahan.

Ronald sangat mahir dalam mengatur frekuensinya agar staminanya tetap stabil dan tidak cepat muncrat sebelum lawan mainnya benar-benar mendapat kepuasan maksimal.

Sambil menggenjot mulutnya juga bekerja, kadang menciumi bibir gadis itu, kadang menggelitik telinganya dengan lidah, kadang mencupangi lehernya.

Hanifah pun semakin terbuai dan menikmati persetubuhan terlarangnya. Dia bahakn sudah melupakan semua prinsip hidupnya yang akan senantiasa menjaga kesuciannya sampai bertemu dengan lelaki yang benar-benar telah menjadi suaminya. Hanifah tidak menyangka persetubhan terlarangnya ternyata membawanya melayang tinggi ke tempat yang bahkan belum pernah dibayangankan sebelumnya.

Ronald semakin kencang menyodokkan rudalnya dan mulutnya semakin menceracau, nampaknya dia akan segera orgasme.

“Malam masih panjang, Dok. Jangan buru-buru, biar saya yang gerak sekarang,” kata gadis perawat itu tanpa malu-malu lagi. Dan beberapa film porno yang pernah diam-siam dia tonton pun kembali terputar, seolah memberikan tutorial untuk berbuat hal yang sama agar bisa memberikan service terbaiknya pada sang dokter.

Ronald tersenyum mendengar permintaan Hanifah. Mereka pun bertukar posisi, Ronald tiduran telentang dan Hanifah menaiki rudalnya. Batang itu digenggam dan diarahkan ke vaginanya. Hanifah lalu menurunkan tubuhnya dan desahan terdengar dari mulutnya bersamaan dengan rudal yang terbenam dalam vaginanya.

Mata Ronald membeliak saat rudalnya terjepit di antara dinding kemaluan Hanifah yang sempit. Sang suster pun mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dengan kedua tangannya saling genggam dengan Ronald untuk menjaga keseimbangan.

“Sssshhh aaaa aahh, Dokteeer Ronaaald, uuuuh enaaak banget kontolmu, Dooook, aaaah saya sangaaaat sukaaaa ssst!” lenguh Hanifah tanpa kontrol.

Ronald agak kaget mendengar uapan Hanifah. Tak menyangka ternyata suster muda nan terkesan alim itu cukup berisik saat sedang merasakan kenikmatan bersetubuhan. Bahkan lebih berisik dari wanita manapaun saat pertama disetubuhinya, termasuk Belinda, istrinya.

Hanifah terus mengerang dan melenguh tanpa henti sambil menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuh Ronald engan penuh gairah. Tangannya meraih ujung roknya lalu ditariknya ke atas seragam yang berupa terusan itu hingga terlepas dari tubuhnya. Seragam itu dijatuhkannya di lantai sebelah ranjang, tidak lupa dilepaskannya bra yang masih menyangkut di tubuhnya sehingga kini tubuhnya telanjang bulat terekspos dengan jelas.

Dokter Ronald makin terbelalak, tak menduga gadis perawan ini jauh lebih berani dari perawan manapun yang pernah disetubuhinya. Namun terlepas dari semua itu, Ronald terkesima dengan Hanifah yang memiliki tubuh sempurna. Buah dadanya montok dan proporsional, perutnya rata dan kencang, pahanya juga indah dan mulus, sebuah puisi kuno melukiskannya sebagai kecantikan yang sanggup merobohkan kota dan meruntuhkan negari.

Kembali Hanifah dan dokter jaga itu memacu tubuhnya dalam posisi woman on top. Hanifah demikian liar menaik-turunkan tubuhnya di atas rudal Ronald, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa saat rudal itu menggesek dinding vagina dan klitorisnya.

“Ayo manis, goyang terus, enak banget… kamu ternayata sangat liar dan binal,” kata Ronald sambil meremasi payudara gadis itu.

“Aaaah lontol Pak Dokter pun sangat nikmaaaaat… “ Hanfah yang merasa kepalang tanggung terus meladeninya. Wajahnya bersemu merah karena terangsang berat, kian membuat gairah Ronald melambung. Dia menarik kepalanya ke bawah agar dapat mencium bibirnya.

“Aaaaaaaah Dokteeeer Ronaaaal saaah saya keluaaaar….” Akhirnya Hanifah tidak tahan lagi, dia telah mencapai orgasmenya. mulutnya terus mengeluarkan desahan panjang dan erangan-erangan kenikmatan.

Ronald yang juga sudah dekat puncaknya mempercepat hentakan pinggulnya ke atas sambil meremasi payudara Hanifah lebih kencang. Dia pun merasakan cairan hangat meredam rudalnya dan otot-otot vagina suster alim itu meremas-remasnya sehingga tanpa dapat ditahan lagi spermanya tertumpah di dalam dan membanjir.

Setelah klimaksnya selesai tubuh Hanifah melemas dan tergolek di atas tubuh dokter msum itu.

“Terima kasih ya, Han untuk keperawan memekmu yang sangat nikmat ini,” ucap Ronald sambil tersenyum puas.

“Sama-sama, Dok. Terima kasi juga atas pengalaman pertamanya,” balas Hanifah.

Tangan Ronald terus saja menggerayangi tubuh Hanifah, kadang diremasnya payudara atau pantatnya dengan keras sehingga memberi sensasi perih bercampur nikmat bagi gadis itu. Sedangkan Ronald sering menekan-nekan kepala gadis itu sehingga membuat Hanifah terkadang gelagapan.

‘Gila nih doketer, barbar banget sih,”’kata Hanifah dalam hati.

Walau kewalahan diperlakukan seperti ini, namun tanpa dapat disangkal Hanifah juga merasakan nikmat yang tak terkira. Tak lama kemudian Ronald menyorongkan rudalnya ke mulut Hanifah.

Hanifah kini bersimpuh di depan pria yang senjatanya mengarah padanya menuntut untuk diservis. Hanifah menggunakan tangan dan mulutnya bergantian melayani rudal itu hingga akhirnya rudal Ronald meledak lebih dulu ketika dia menghisapnya.

Sperma sang doketr langsung memenuhi mulut gadis itu, sebagian masuk ke kerongkongannya sebagian meleleh di bibir indah itu karena banyaknya.

“Han, hebat banget seponganmu dahsyat, saya jadi kesengsem loh sama kamu,” puji Ronald ketika beristirahat memulihkan tenaga.

“Sering-sering main ke sini ya, Suster Mesum,” goda Ronald.

“Siaaap Dokter mesumku,” balas Hanifah genit dan manja.

Seperti dugaan Ronald sebelumnya, Hanifah menjadi benar-benar ketagihan dengan persetubuhan liar dan terlarangnya itu. Bahkan Hanifah berani datang ke rumah dinas sementara Ronald, ketika sang dokter itu tidak ditemukannya di rumah sakit. Sepertinya sang suster sudah tak bisa tidur nyeyak lagi bila sehari saja tidak mendapatkan sodokan rudal sang dokter.

Ronald lelaki buas yang memiliki sedikit kelainan fantasi seksualnya, benar-benar memanfaatkan ketidak berdayaan sang suster yang sudah kerasukan syahwat hemaninya itu. Ronald menjadikan Hanifah sebagai budak seksnya. Tak jarang mereka melakukan persetubuhan di tempat yang semestinya. Ronald mengeksplore tubuh susternya itu di tempat-tempat terbuka walau tidak ada yang melihatnya.

Hanifah yang awalnya masih sangat polos dan lugu, benar-benar sangat menikmati sensasi-senasi gila yang disughkan sang dokter bernafsu besar itu, hingga tak sadar, jika sesungguhnya dia telah menjadi seorang wanita binal yang tidak risih mempertontonkan kemolekan tubuhnya pada semua mata jalang lelaki mata keranjang.

Hanifah justru merasa sangat bangga dan terangsang ketika ada lelaki yang menatapnya dengan sangat bergairah dan penuh nafsu, seolah akan menelannya hidup-hidup. Hanifah juga rela mengganti semua pakaiannya dengan yang berukuran ketat hingga menonjolkan setiap lekuk tubuhnya, walau secara sepintas masih tetap terturup.

Hanifah baru menyadari jika dirinya sudah benar-benar menjadi seorang busex ketika Dokter Ronald harus pindah tugas ke tempat lain. Dia benar-benar kelabakan dan tak berdaya menghadapi hantaman birahi liarnya yang seolah tak ada redanya.

Akhirnya Hanifah pun berbuat nekad. Dia mengajak Satpam rumah sakit ke kostannya untuk memuaskan shahwat hewaninya yang semakin ditahan semakin membuncah. Hanifah pun sudah tahu cara mendapatkan kepuasan dari lelaki lain yang berada di dekitarnya. Selain sesama perawat dia juga bisa mendapatkan dokter dan lain-lain. Hanifah baru sadar jika rudal Ronald, bukan yang terbaik.

Hanifah sama sekali tidak peduli dengan Ronald yang sudah pergi. Dia benar-benar sedang menikmati semua perubahan hidup dalam dirinya. Terlebih lagi setelah Dokter Ronald benar-benar menunaikan janjinya dengan baik.

Hari ini, Suster Hanifah resmi diangkat menjadi Suster Kepala. Tentu saja pengangkatan itu sempat mendatanngkan gelobang protes dari sesama suster yang sudah lebih dulu bertugas di sana. Namun Hanifah sama sekali tidak ambil pusaing.

“This is my dream! Terima kasih Dokter Ronald yang ganteng,” ucap Hanifah sambil menciumi amplop berisi Surat Keputusan Pengangkatan dirinya menjadi Suster Kepala.

Lantas bagaimana dengan Dokter Belinda, istrinya Dokter Ronald?

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED