Tias adalah tipe wanita yang tingkat kesabarannya memang luar biasa. Ia tidak pernah marah meski Azam secara tidak langsung mengabaikan tanggung jawab dan juga menyakiti hatinya dengan tidak mau peduli bagaimana perasaan Tias tinggal berdekatan dengan Ibu mertua yang ucapannya seringkali menyakitkan bagi telinga dan hatinya.
"Sabar aja, Dik. Ibu udah tua. Yang namanya orang tua, ya, begitu. Ibu nggak ada niatan untuk seperti itu, memang tata bahasanya aja yang kurang pas. Jangan di ambil hati dan dipikirkan, ya. Ditambah lagi sabarnya. Anak Ibu yang deket, kan, cuman aku."
Itu adalah jawaban dari Azam saat Tias mengadu soal ibunya yang selalu saja memandang dirinya sebelah mata.
Dari awal pernikahan memang Tias sudah di anak tirikan oleh ibu mertuanya itu, karena beliau merasa bahwa ia sudah merebut anak sulungnya darinya. Azam memang mempunyai tiga saudara, tapi hanya ia yang terlahir sebagai laki-laki dan menjadi tulang punggung ibunya selama beberapa tahun terakhir setelah kepergian sang Ayah. Setelah kepergian suaminya itulah Bu Ningsih selaku ibu kandung dari Azam semakin menunjukkan dan semakin kentara bahwa beliau tidak suka dengan dirinya. Entah apa alasan pastinya Tias tak begitu paham. Yang ia tahu, ibunya overprotective pada anak sulungnya karena merasa takut beliau di nomor duakan. Padahal kenyataan yang terjadi adalah selalu Tias yang di nomor duakan oleh Azam.
Dengan ditemani rengekan Hanifa yang terdengar beberapa kali dan berhenti dengan sendirinya, Tias berusaha semaksimal mungkin untuk cepat menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Bangun sebelum subuh nyatanya tak juga membuat pekerjaannya lebih cepat selesai.
"Tias!" Sebuah teriakan yang nyaris setiap hari ia dengar membuat wanita 35 tahun itu dengan sengaja tak menyahut teriakannya.
"Yas, ada gula nggak? Ibu minta dulu setengah kilo, ya. Sama sekalian ada bumbu dapur Ibu yang habis. Minta sedikit." Sekali lagi Bu Ningsih tidak mencari terlebih dahulu keberadaan menantunya itu di mana. Beliau langsung menuju dapur dan berteriak meminta sesuatu.
Momen seperti itu tidak hanya terjadi satu atau dua kali dalam pernikahan Tias selama sembilan tahun ini, tapi sudah ratusan kali bahkan mungkin tidak terhitung lagi. Ia diam saja tidak menyahuti Ibu mertuanya bukan berarti mencoba untuk bersikap kurang ajar terhadapnya, tapi rasanya ia sudah lelah jika harus terus merespon ibunya yang sudah ia ketahui maksud dari kedatangannya ke rumahnya.
'Untuk apa izin minta ini itu jika mengambil sesuatu tanpa persetujuan dari pemiliknya. Kalaupun aku tidak memberikan izin, Ibu juga tetap akan mengambilnya, kan? Bahkan sebelum mengambilnya, Ibu masih sempat mencaci maki aku. Entah bagaimana aku memanggil wanita yang melahirkan suamiku itu. Dari semua sifat yang ada, sama sekali tidak ada baiknya.'
Tias menggerutu dalam hati seraya menjemur pakaian yang belum selesai ia jemur karena terhalang oleh rengekan Hanifa. Di saat dirinya selesai dan berbalik ke dalam rumah, ia dikejutkan dengan sosok Bu Ningsih yang berada di tengah pintu dengan membawa gula beserta bumbu dapur yang hanya direspon oleh hembusan napas kasar.
"Tias, kamu ngapain aja sih kerjaannya? Beresin rumah lah. Berantakan sekali ini, masih pagi udah berantakan nggak karuan," ujar Bu Ningsih seolah kesal.
"Tadi sudah aku beresin, Bu. Yang namanya punya anak kecil, ya, begitu. Ibu, kan, juga pernah ngurus anak kecil."
"Jawab aja kalau di kasih tahu. Makanya, bangunnya jangan siang-siang. Lagian punya anak banyak-banyak. Kayak orang kaya yang bisa bayar baby sitter aja," gerutu Bu Ningsih berlalu dari sana.
Pekerjaan rumah tangga memang dianggap sebelah mata oleh kebanyakan kaum para laki-laki. Mereka selalu menganggap enteng pekerjaan ibu rumah tangga yang justru sebenarnya pekerjaan mereka tidak pernah ada habisnya. Pekerjaan bahkan sudah menanti dari mereka bangun pagi hingga ketemu pagi lagi. Ibu rumah tangga tidak boleh sakit, tidak boleh libur, apalagi cuti. Jangankan melakukan itu semua, untuk mengeluh saja rasanya bagi para suami tidak pantas. Mungkin memang tidak semua laki-laki seperti itu, tapi kebanyakan dari mereka banyak yang tidak menghargai istrinya sebagai ibu rumah tangga. Azam adalah salah satu contoh laki-laki itu.
"Kamu dari pagi ngapain aja sih, Dik? Setiap aku pulang tuh, masih aja ada yang berantakan kalo nggak gitu masih ada yang belum kamu kerjain. Kamu tahu, kan, aku nggak suka sama yang berantakan kayak gini. Kita udah bareng-bareng sembilan tahun. Kenapa kamu nggak berubah-berubah juga?" Sebuah keluhan di sore hari terdengar dari mulut Azam untuk istrinya.
"Mas, anak kita itu ada tiga. Aku ngerjain semuanya sendirian, kamu masih punya dua anak balita. Kalaupun aku beresin mainannya, pasti nanti juga diberantakin lagi. Namanya juga anak-anak. Kamu setiap weekend, kan, juga tahu sendiri bagaimana keadaan rumah. Salwa sama Hanifa aja tidur siangnya nggak barengan. Perkara mainan yang berantakan aja kamu selalu protes."
Azam menolehkan kepalanya ke arah di mana Tias sedang sibuk memasak untuk makan malam. Pria itu heran, kenapa akhir-akhir ini istrinya itu seringkali membantah setiap kali ucapannya. Seringkali memutar keadaan sehingga dirinya yang bersalah. Pria itu menjadi curiga bahwa istrinya itu sedang menyembunyikan simpanan. Biasanya seseorang yang awalnya menjadi sangat penurut dan selalu mengalah dalam setiap momen dan tiba-tiba berubah, itu artinya ia sudah merasa bahwa ia punya backingan ketika ditinggalkan oleh pasangannya. Yah, setidaknya itulah yang ada di pikiran Azam.
"Kamu akhir-akhir ini kok jadi jawab terus apa yang aku ucapin sih, Dik? Kamu punya selingkuhan, punya pacar kamu? Kamu merasa aman kalau sewaktu-waktu kamu ninggalin aku, kamu udah punya cadangan?"
Tias seketika mematikan kompornya yang menyala, membersihkan tangannya dengan air, lalu menyusul suaminya ke ruang tengah dan duduk di sebelahnya. Setelah memastikan bahwa ketiga anaknya sedang bermain di teras, Tias seketika berucap,
"Mas, kamu ini bicaranya ngelantur sekali. Kamu bicara kayak gitu mikir apa enggak? Didengar anak-anak gimana? Abi sudah cukup paham sama omongan orang dewasa, kamu jangan asal bicara seperti itu. Lagian kenapa kamu jadi nuduh aku yang nggak-nggak, sih? Emang waktu aku buat nyari pacar itu kapan kalau aku sibuk sama anak kamu?"
"Ya nyatanya lihat aja sekarang kamu berani sama aku."
"Astaghfirullahaladzim, Mas. Aku berani gimana, sih? Aku, kan, cuman jawab apa yang kamu ucapkan. Aku selama ini diam karena ya aku hargai kamu sebagai suami aku, tapi kamu terus-terusan mengeluhkan hal yang sama. Kamu, kan, juga lihat sendiri gimana keadaan rumah, kamu juga lihat bagaimana kerjaan aku kalau kamu lagi libur kerja, kan? Jadi aku itu nggak mudah Mas, ngurus rumah ngurus tiga anak, ngurus kamu. Belum lagi kalau aku banyak orderan."
"Kok kamu jadi ngeluh? Kok kamu jadi merasa kamu yang paling cape, aku juga cape seharian kerja di luar rumah. Kamu bikin suntuk aja, udah cape-cape dari kerja, rumah berantakan, kamu dikasih tahu ngelawan lagi, bikin mood aku rusak aja."