Bab 1

Maaf, sayang. Bulan ini Abi cuma bisa ngasih segini ke kamu. Maaf ya. Soalnya dalam kondisi hamil, Naura membutuhkan lebih banyak uang. Ami tidak marah kan?" Arsyad menyodorkan sebuah amplop coklat tipis kepada Ika istri pertamanya.

"Ya terimakasih, Bi. Masih bersyukur di kasih rezeki." Ika menerima amplop itu.

"Abi ke kamar mandi dulu ya?"

"Iya, Bi. Sementara Ami siapkan untuk makan malam.

Ya hari adalah jadwal Arsyad berkunjung kerumah tersebut, setelah menikahi Naura dua bulan yang lalu. Sesuai komitmen Arsyad, dua minggu bersama Naura, maka ia akan kembali ke rumah yang di diami Ika selama dua minggu juga.

Sepeninggal suaminya, Ika membuka amplop yang tadi di berikan Arsyad padanya.

"Satu juta lima ratus ribu rupiah. Setengah dari bulan lalu." Gumamnya lirih.

Jumlah itu jauh berbeda dari nominal bulan lalu. Bulan lalu Arsyad menyerahkan tiga juta. Total gaji Arsyad sebagai karyawan di perusahaan adalah tujuh juta. Biasanya dulu, enam juta selalu Arsyad serahkan pada Ika. Selebihnya Arsyad gunakan untuk kebutuhannya sendiri.

Namun setelah menikahi Naura. Semua jadi berbeda. Sesungguhnya Ika ikhlas dengan takdirnya. Namun apa yang terjadi sekarang adalah diluar dugaannya semula.

"Mi, bulan ini Abi cuma bisa seminggu bersama Ami. Itu juga melihat keadaan Naura. Apabila keadaannya tidak baik, Abi harus kembali padanya. Noura menuntut Abi untuk lebih sering bersamanya. Karena kondisinya yang sedang hamil muda. Maafkan Abi ya." Arsyad membelai rambut hitam panjang dan lurus milik Ika.

Ika diam sesaat, lalu tersenyum kecut.

"Aku mungkin harus lebih mengerti. Inikah takdir seorang istri yang tak bisa memberikan keturunan." Ika membatin.

"Maaf, Bi. Ami kebelet." Dengan sedikit menyembunyikan mukanya yang mulai memerah. Ia berlari ke kamar mandi.

Di cermin kamar mandi, Ika tidak bisa menahan bulir-bulir bening itu. Ia menyekanya perlahan.

"Sekarang semua terbagi dengan tidak adil. Hiks... Hiks... Ku kira dengan mengizinkanmu poligami akan menambah ladang pahala bagiku. Tapi mengapa semuanya harus seperti ini. Mulai waktumu yang hanya ku dapatkan sepertiga dalam sebulan, nafkah, dan mungkin saja cintamu yang tidak lagi terbagi rata antara aku dan Naura..." Kembali Ika menyeka air mata nya.

"Berbagi memang tak mudah. Namun demi bakti ku, dan juga agar kau mendapatkan momongan, aku ikhlas. Karena aku sadar, rahim ini belum mampu memberikanmu keturunan."

Ika melamun, teringat kembali kejadian beberapa bulan lalu.

***

Beberapa bulan yang lalu

Ika sibuk menyiapkan hidangan di meja makan. Biasa aktivitas yang akan ia lakukan apabila datang berkunjung ke rumah mertuanya. Ia akan membebaskan mertuanya dari tugas dapur. Dari memasak, beres-beres, mengepel hingga membersihkan kamar mandi.

Ika sama sekali tidak merasa di perbudak. Justru ia merasa bangga bisa melakukan itu untuk meringankan pekerjaan rumah sang mertua. Dengan begitu, akan menambah bakti terhadap orang tua bukan?

"Ika,..." Panggil Bu Melia

Ika menghentikan pekerjaannya,

"Ya, Bu." Tanggap Ika cepat.

"Bisa bantu ibu sebentar?"

"Tentu saja."

"Kamu ke pasar, ibu sudah membuat daftar barang belanjaan yang harus di beli."

Bu Melia menyodorkan sebuah kertas berisi daftar barang belanjaan.

"Ya baiklah. Tapi nih Ika belum selesai menyiapkan hidangan di meja makan."

"Tidak apa-apa. Nanti ibu yang akan menyelesaikannya.

"Oh ya. Baiklah, Ika bisa pergi sekarang."

"Terimakasih. Nih kunci mobilnya." Bu Melia mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.

"Tidak usah, Bu. Pakai sepeda motor saja, Bu. Lebih leluasa."

Kebiasaan mertuanya adalah membeli kebutuhan dapur di pasar tradisional. Tentu saja sepeda motor adalah pilihan yang pas.

"Ini uangnya." Bu Melia menyodorkan beberapa lembaran uang berwarna merah.

"Tidak usah, Bu. Pakai uang Ika saja."

"Ah, Ika. Ibu jadi tidak enak pakai uang kalian."

"Tidak apa-apa, Bu. Sesekali membeli kebutuhan orang tua sendiri."

"Aduuh terimakasih kalau begitu."

"Sama-sama, Bu."

Ika bergegas mengambil helm dan berjalan menuju sepeda motor matic miliknya.

Dengan cekatan ia mengendarai sepeda motor menuju ke pasar.

Di tengah perjalanan, Ika lupa kalau dompetnya tertinggal di meja ruang keluarga. Dengan cepat Ika segera berbalik arah.

Beberapa menit kemudian, ia sampai kembali di rumah mertuanya.

Tapi tunggu dulu, ketika ingin meraih dompetnya, Ika mendengar ada obrolan serius antara suami dan mertuanya. Perlahan Ika menguping pembicaraan mereka.

"Arsyad, apa kamu yakin ingin tetap mempertahankan istrimu?" Bu Melia bertanya kepada anak lelakinya.

Arsyad sejenak menghentikan aktivitasnya. Nasi yang baru saja ingin ia masukkan ke mulut, di letakkan kembali ke piring.

"Maksud ibu?"

"Maksud ibu, apa kamu masih mencintai Ika sepenuhnya?"

Dahi Arsyad berkerut.

"Tentu saja, Bu. Dia istriku. Tentu saja. Aku mencintainya." Jawab Arsyad sungguh-sungguh.

Wanita paruh baya di hadapannya melengos.

"Apa kamu tidak berpikiran ingin memiliki momongan."

Kali ini Arsyad tidak langsung menjawab, melainkan meneguk air putih yang telah di suguhkan oleh istrinya tadi sebelum ibunya menyuruh Ika sang istri untuk keluar membeli persediaan dapur yang mulai menipis.

"Tentu saja setiap pasangan ingin memiliki buah hati, Bu. Hanya saja terkadang butuh waktu untuk menunggu." Arsyad berusaha menenangkan diri.

"Ini bukan soal waktu, Nak. Tapi ini menyangkut masa depan. Tidak bisa selamanya kalian hanya berdua. Kamu butuh seorang anak."

"Bu, kami sudah sejak dulu menginginkan buah hati. Tapi apa mau dikata, Tuhan belum menganugerahkan." Ucap Arsyad lesu.

"Arsyad, sebaiknya kau dengarkan ucapan ibu."

"Aku selalu dengar ucapan ibu."

"Kali ini bukan hanya mendengar, tapi turuti. Kalau kau ingin masa depanmu ceria dengan hadirnya momongan. Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu Ika hamil. Namun nyatanya, perut Ika tidak kunjung bisa hamil cucuku. Ibu ini sudah menua, Arsyad. Sedangkan kau adalah anak ibu satu-satunya. Ibu ingin segera menimang cucu."

Arsyad diam beberapa saat.

"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membuat Ika cepat mengandung?"

"Kalau menunggu perempuan itu mengandung, sepertinya tidak akan menuai hasil, itulah yang kita lakukan selama ini."

"Jangan bilang seperti itu, Bu. Dokter bilang, Ika kemungkinan bisa hamil. Namun seperti yang saya bilang tadi. Kita mesti harus bersabar menunggu."

"Buka pikiranmu, Arsyad. Lima tahun apa tidak cukup untuk bersabar dan menunggu? Program kehamilan sudah di lakukan. Masih saja Ika tak kunjung mengandung. Itu menandakan rahim perempuan itu kering. Tidak mampu menampung benih darimu. Sebaiknya, turuti perkataan ibu. Kali ini saja, ibu mohon."

"Apa sebaiknya yang harus saya lakukan, Bu."

"Nikahi Naura...!"

"Apaaa??" Arsyad terbelalak

Ika yang sedang menguping tidak kuasa menahan bendungan bulir air mata yang jatuh dari sudut matanya.

"Aku tidak bisa menceraikan Ika, Bu. Dia istri yang baik. Aku menginginkan putra dari rahimnya."

"Kalau begitu kau melawan ibu. Tidak bisakah kau lihat Naura bahkan lebih cantik dan alim di banding Ika. Orang tuanya lebih terpandang dari pada orang tua Ika. Begitu juga dengan pendidikannya, yang jauh di atas Ika yang cuma lulusan SMA."

Ada rasa getir menusuk jantung, ketika Ika mendengar ucapan pedas dari bibir mertuanya.

"Sekali lagi ibu tegaskan, nikahilah Naura."

Lagi-lagi Arsyad terdiam cukup lama.

"Baiklah, Bu. Sepertinya ucapan ibu perlu di pertimbangkan. Dan juga aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Aku harus meminta pendapat Ika."

Akhirnya terdengar juga lelaki itu bicara.

Bersambung...

Bab 2

Ada rasa getir menusuk jantung, ketika Ika mendengar ucapan pedas dari bibir mertuanya.

"Sekali lagi ibu tegaskan, nikahilah Naura!"

Arsyad terdiam cukup lama.

"Baiklah, Bu. Sepertinya ucapan ibu perlu dipertimbangkan. Dan juga aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Aku harus meminta pendapat Ika."

Akhirnya terdengar juga lelaki itu bicara.

"Pertimbangkan dengan baik, Arsyad. Jika kamu menikahi Naura, maka secara tidak langsung kamu memperbaiki perekonomian keluarga. Dengan gelar pendidikannya, tidaklah sulit bagi Naura untuk menemukan pekerjaan yang layak. Tidak seperti Ika yang bergantung sepenuhnya pada gajimu."

Dug...!

Kembali jantung Ika seperti tertusuk duri. Nyeri teramat nyeri. Berbagai pertanyaan silih berganti datang di pikiran. Apakah mungkin ia seburuk itu di mata sang mertua? Serendah itukah sosok Ika di mata Bu Melia? Apa perempuan itu tidak mengetahui usaha Ika selama ini? Entahlah...

Padahal Bu Melia tahu bahwa Ika bukan sekedar seorang ibu rumah tangga yang hanya berdiam diri dirumah. Ika juga mempunyai usaha kecil-kecilan. Ia mempunyai toko online yang mulai berkembang.

Meski tidak menghasilkan uang dengan jumlah yang cukup banyak, namun penghasilannya bisa untuk mencukupi kebutuhan pribadinya sendiri dan membantu kebutuhan rumah tangga.

Dengan begitu uang enam juta yang diberikan oleh Arsyad padanya setiap bulan selama ini, lebih dari cukup untuk membayar cicilan mobil dan rumah. Di luar itu, karena hanya hidup berdua, Ika masih bisa menyisihkan sebagian uang sebagai tabungan.

"Ibu tidak mau tahu, dua hari lagi kamu harus memberikan keputusan yang pasti." Kembali Bu Melia menegaskan.

"Bu, apa Ibu tidak memikirkan perasaan Ika? dia pasti terluka apabila Arsyad menceritakan masalah ini. Apalagi sampai menyampaikan niat untuk menikahi Naura." Arsyad masih berusaha untuk mengurungkan niat ibunya.

"Kamu ini bagaimana sih, Arsyad? Tadi kamu bilang kamu setuju dan ingin membicarakannya terlebih dahulu sama si Ika. Kok sekarang ngomongnya begitu. Kamu lebih peduli perasaan Ika, apa perasaan ibu? Ibu ini sudah lama menunggu kehadiran cucu. Tapi istrimu itu tidak bisa memberikan keturunan. Kalau dia sungguh-sungguh mandul kamu mau bilang apa? Apa kamu ingin selamanya Ibu tidak mempunyai cucu? Dan kamu ingin selamanya tidak mempunyai anak? Berpikirlah yang luas, Arsyad. Wanita bukan cuma Ika. Jangan berpikir hanya dari satu sisi saja. Kau hanya memikirkan perasaan Ika, tapi tidak memikirkan yang lain. Kamu ingin membuat Ibu kecewa?"

"Bukan seperti itu yang Arsyad maksudkan, Bu. Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian. Sekali ini ibu mohon kamu menuruti permintaan ibu. Sekali ini saja. Tolong jangan membantah!"

"Bu, Baiklah nanti malam akan kucoba membicarakannya baik-baik sama Ika."

"Pokoknya Ibu tidak mau kamu hanya coba-coba. Kau adalah laki-laki, lelaki berhak menentukan keputusannya sendiri. Jangan terlalu mengikat keputusanmu pada Ika, Arsyad. Aku tak suka kau menjadi lelaki pengecut. Jangan pernah jadi suami takut Istri! Kalau kamu mau berpikir jernih, pasti kau sadar bahwa tidak ada yang bisa kamu banggakan dari istri semacam Ika."

Sungguh, Ika yang mendengar percakapan mereka dibuat tidak percaya dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh Bu Melia.

Ika merasa pilu, setelah kedua orang tuanya tewas beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan, maka Bu Melia lah yang ia anggap sebagai orang tua satu-satunya. Namun sekarang, orang yang ia hormati itu mengambil tindakan yang sangat menyakiti hatinya.

Sebelum suami dan mertua menyadari kehadirannya, Ika segera mengambil dompet yang tadi tertinggal di atas meja, dan diam-diam meninggalkan rumah.

Dengan muka sayu, Ika kembali ke pasar. Tidak ada yang tahu akan kehadirannya di rumah tadi, tidak ada juga yang tahu jika ia telah mendengar percakapan rahasia antara ibu mertua dan suaminya.

Entah bagaimana menggambarkan suasana hati Ika saat itu. Sungguh sulit untuk diuraikan. Perkataan Ibu mertuanya tadi tidak bisa dianggap sebagai sebuah lelucon.

Dulu memang pernah Bu Melia bercerita tentang sosok Naura pada Ika. Bahkan dulu ibu mertua pernah membawa perempuan itu datang ke rumah tanpa sepengetahuan Arsyad.

Bu Melia membangga-banggakan Naura adalah seorang sarjana ekonomi. Karena itu, wajar saja jika Ika yang hanya lulusan SMA dipandang sebelah mata oleh ibu mertua.

Bertemu sekali dengan Naura, membuat Ika menyadari, dari segi wajah, putri dari sahabat bu Melia itu memang memiliki wajah yang cukup cantik. Dengan tubuh yang tinggi semampai, dan bentuk tubuhnya yang sintal dan berisi. sungguh dia adalah wanita idaman bagi sebagian pria yang melihatnya.

Ika menyeka air mata yang mulai kembali bercucuran.

"Wajar jika Ibu ingin menggantikan aku dengan menantu yang lebih baik. Hiks... Naura memang memiliki banyak kelebihan dibanding aku."

Sebetulnya Ika tidaklah jelek, hanya saja ia lebih suka berpenampilan sederhana. Tidak terlalu sederhana, namun tidak berlebihan.

"Mungkin Ibu benar, tidak ada yang bisa dibanggakan dariku. Mungkin ini memang salahku yang tidak bisa memberikan keturunan.

Hiks... Hiks...

"Maafkan Ami, Bi. Ami belum bisa melahirkan anak untukmu. Dan juga cucu buat ibu."

Ika kembali menitikkan tetesan air mata.

"Sudahlah, Ika. Ini adalah jalan hidup yang harus kamu lalui, bersabarlah."

Ika mengelus dada, berusaha menguatkan hati.

***

Sebelum memasuki rumah, Ika memastikan tidak ada sisa-sisa kesedihan dan kepiluan di wajahnya. Melalui kaca spion sepeda motor, Ika bercermin, dan menekan-nekankan tisu di sekitaran matanya yang masih terlihat memerah.

"Sepertinya aku sudah terlihat baik-baik saja."

Ika perlahan melangkah masuk,

"Ika? kamu sudah pulang? Kok lama sekali ya? Ibu nunggu-nunggu dari tadi lo. Ya sudah tidak apa-apa, bawa langsung ke dapur dan taruh di tempat semestinya. Kamu tahu kan di mana harus meletakkan bahan makanan dan sayuran?"

Ika yang baru saja datang disambut dengan celotehan mertuanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.

"Sudah tentu Ika tahu, Bu." jawab Ika tanpa menoleh, karena takut jika mertua melihat matanya yang kemungkinan masih kemerahan.

Dengan cepat ia melangkah ke dapur membuka kulkas dan menyusun bahan makanan yang baru saja ia bawa. Menghadap ke kulkas, Ika tidak bisa menahan air mata. Dalam hati Ika mengumpat-umpat, menyesali diri mengapa ia tercipta sebagai makhluk yang begitu cengeng. Mengapa bendungan air mata tidak mampu untuk menahan diri untuk keluar dari peraduan.

Ika membayangkan apa yang akan dikatakan oleh Arsyad nanti malam. apakah pria itu benar-benar akan menceraikannya atau meminta izin untuk menikahi Naura? Lalu apa jawaban yang akan Ika berikan? Gejolak pikiran membuat wanita berkulit bening tersebut seperti tidak mempunyai semangat hidup.

"Ami, kenapa menangis? Apa yang sedang Ami pikirkan? Ayo ceritakan sama Abi."

Sentuhan tangan Arsyad di pundaknya dari belakang sontak membuat Ika terkejut. Dia merasa lalai, mengapa tangisannya sampai bisa menarik perhatian sang suami.

Apa yang harus ia katakan?

Bersambung...

Bab 3

"Ami, kenapa menangis? Apa yang sedang Ami pikirkan? Ayo ceritakan sama Abi."

Sentuhan tangan Arsyad di pundaknya dari belakang, sontak membuat Ika terkejut. Dia merasa lalai, mengapa tangisannya sampai bisa menarik perhatian sang suami.

Apa yang harus ia katakan? Ika bingung, haruskah ia menyampaikan keluh kesahnya? Tapi tidak, wanita itu masih bisa mengontrol hatinya. Walaupun beban batin yang ia pikul begitu berat, tapi setidaknya sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu.

"Tidak, Bi. Ami tidak apa-apa?"

"Tapi Ami menangis? Jangan bohong, Mi."

"Tidak, Ami baik-baik saja. Ini tadi mata Ami kelilipan. Makanya terasa sedikit perih."

"Kelilipan dimana?"

"Tadi tiba-tiba saja ada serangga yang terbang, eh tiba-tiba masuk ke mata Ami. Sudah, Bi. Tidak apa-apa."

"Sini, coba Abi lihat, siapa tahu serangga ya masih ada di dalam."

Ika bingung. Ia takut apabila Arsyad tidak menemukan tanda-tanda adanya bekas gigitan serangga atau semacamnya, karena memang matanya merah bukan karena hal itu.

"Sudah tidak ada lagi, Bi. Tadi sudah Ika keluarin serangganya."

"Beneran?"

"Iya, masa Ami bohong." Ika memaksa untuk tersenyum.

"Abi heran sama Ami pagi ini, kok kelihatan agak sungkan sama Abi," lanjut Arsyad.

Semula Ika mengira pertanyaan Arsyad akan berakhir, tapi nyatanya lelaki itu masih saja melontarkan pertanyaan yang lain. Membuat suasana hati Ika semakin tidak menentu.

"Arsyad, apa yang kau lakukan di sana? Ika bisa menyusun sayuran-sayuran itu sendiri di kulkas. Ia tidak perlu bantuanmu. Untuk apa kamu menunggunya di sana?"

Suara ibu mertua dari ambang pintu dapur. Sontak membuat pasangan suami istri itu terkejut.

"Ibu? Arsyad cuma duduk, tidak membantu apa-apa. Iya kan, Sayang?" Arsyad menoleh ke istrinya sebagai syarat minta pendapat.

"Iya Bu, Arsyad benar." Ika mengiyakan.

"Baiklah kalau begitu. Arsyad, tolong kamu menemani ibu mengambilkan pesanan, dan mengantarnya ke rumah Naura."

Arsyad terkejut.

Sedangkan Ika, setelah mendengar mertuanya menyebut nama Naura, ada rasa perih yang menusuk hati Ika. Ada rasa yang sulit diungkapkan mendengar nama perempuan yang mertuanya sebut "Naura".

"Pesanan apa, Bu? Kenapa harus mengantarnya ke rumah Naura?"

Arsyad sesekali melirik kearah Ika. Melihat reaksi istrinya. Namun saat sang istri tetap diam saja. Meski Ika terlihat tidak menanggapi ucapan Bu Melia, namun Arsyad bisa melihat wajah itu menunduk lesu. Ada gelagat yang tidak baik pada wajah sang istri.

"Arsyad, tidak usah terlalu banyak tanya. Ibu cuma minta tolong menemani Ibu mengambilkan pesanan dan mengantarnya ke rumah Naura. Itu saja."

Sesaat Arsyad diam, kembali ia menoleh pada Ika,

"Mi, boleh Abi pergi menemani Ibu sebentar?"

"Bagaimana kalau Ika ikut?" usul Ika.

"Apa? Ikut? Pekerjaanmu di rumah masih belum selesai. Maaf Ika, lebih baik kamu selesaikan dulu pekerjaanmu." timpal Ibu Mertua.

"Ya sayang, lagian Abi cuma sebentar. Boleh ya?"

"Ya silakan, Bi." Ika menjawab pendek.

"Halah, Arsyad. Mau ambil pesanan saja pake pamit ke Ika. Sering Ibu bilang sama istri tidak perlu berlebihan. Biasa-biasa saja." sela Bu Melia.

"Ya, Ibu benar. Abi seharusnya mendengar apa kata ibu."

Arsyad menghirup nafas panjang, lalu mengelahnya perlahan.

"Kalau begitu, Abi pergi ya, Sayang. Sebentar saja habis ngambil pesanan dan mengantarkannya, Abi akan segera pulang."

"Ya, Bi pergilah."

***

Dalam perjalanan, Arsyad terus kepikiran pada istrinya. Membayangkan bagaimana apabila Ika mengetahui rencana sang ibu. Sikap Arsyad yang lebih banyak diam. Membuat Bu Melia dongkol.

"Arsyad? Apa Ika benar-benar telah menguasai hatimu? Sehingga membuatmu jarang bicara seperti ini. Kamu cuma diam saja, mengabaikan Ibu kandungmu sendiri."

Arsyad tertegun. Dia tidak menyadari kalau dari tadi Bu Melia mengamati gerak geriknya.

"Ah tidak Bu. Arsyad cuma merasa tidak enak saja sama dia."

Mendengar jawaban itu, Bu Melia semakin kesal.

"Tidak enak kenapa? Apa yang membuat perasaanmu terlalu condong sama Ika, dibanding sama Naura? Tidakkah kamu liat perbedaannya begitu besar di antara mereka?

"Tentu saja karena dia istriku, Bu." Jawab Arsyad cepat.

"Oh jadi karena dia istrimu, kamu lalu mengabaikan aku yang merupakan ibu kandungmu? Sekarang ibu tanya sama kamu, kamu lebih menyayangi Ika atau Ibu?"

pertanyaan Bu Melia membuat Arsyad berada dalam dua pilihan yang berat. Karena memang kedua-duanya merupakan wanita yang ia sayang.

"Tidak usah membuatkan aku pilihan seperti itu. Ibu maupun Ika sama-sama aku sayangi. Sama-sama aku cintai."

"Sepertinya kamu menyejajarkan posisi ibu dan Ika. Tidak bisa, Arsyad. Aku adalah ibumu, yang harus kau hormati. Kau tentu sudah tahu dengan pepatah yang mengatakan "Jasa Ibu tidak akan terbalaskan". Kau dan ibu terikat dengan ikatan darah yang kuat. Sedangkan kau Dan Ika hanya terikat dengan satu akad pernikahan. Dan bisa terpisahkan kapan saja. Apakah kamu masih menyejajarkan posisi ibu dan Ika di hatimu?"

Arsyad bukannya tidak tahu dengan pepatah yang disebutkan oleh ibunya. Memang Arsyad tidak menyalahkan pepatah itu. Memang jasa Ibu tidak akan pernah terbalaskan. Tapi tidak berarti semua perintah seseorang ibu harus dituruti. Karena ia sadar seorang ibu juga adalah manusia biasa. Tidak semua kemauan seorang ibu bisa dibenarkan.Termasuk perintah ibunya saat ini. Sungguh menikahi Naura adalah sebuah keputusan yang berat.

"Kemana kita harus mengambil pesanannya?"

"Kita tidak langsung mengambil pesanannya, tapi terlebih dahulu kita ke rumah Naura."

"Lha, tadi kata ibu mau ambil pesanan dulu?"

"Tidak usah nanti kalian saja yang ambil."

"Kalian siapa yang Ibu maksud?"

"Kau dan Naura."

"Apa? aku dan Naura? Kenapa harus kami berdua?" Arsyad melotot keheranan. Hatinya bertanya-tanya ada apa lagi kah ini?"

Arsyad menerka-nerka bahwa sang Ibu mengajaknya ke rumah Naura, pastilah ada niat tertentu menyangkut perjodohan yang ingin beliau lakukan. Dalam hati Arsyad memohon pada yang kuasa semoga saja Bu Melia terbuka hatinya dan menarik keinginan untuk menyuruh anak lelakinya menikahi Naura.

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED