Ah, aku geram. Manakah yang harus kusalahkan, Kang Yana atau nasib diriku?
Terlanjur kesal, ku acak-acak taburan bunga yang berbentuk love diatas kasur hingga berserakan. Ku obrak-abrik semua isi lemari hingga luluh lantak. Kamar yang tertata indah entah untuk siapa. Kini berubah seperti kapal pecah. Biarkan saja Kang Yana tahu akulah yang berulah seperti ini. Perasaanku sudah terlanjur dicabik-cabik olehnya.
Baru saja aku membeli mulut pedas tetangga. Apa aku harus menjualnya lagi? Ku remas sprei dan menariknya dengan kencang hingga terlepas dari kasur.
Aku berjalan gontai keluar kamar. Semua sudah jelas, ada wanita lain yang Kang Yana sembunyikan. Kalau tidak, mana mungkin ada kamar tersembunyi dengan seluruh pakaian wanita. Tega nian kamu Kang. Andai saja aku berpikir lagi sebelum menerima pinanganmu, andai saja aku tak terbuai rayuan gombalmu. Mungkin, aku tak akan terlibat dengan urusan yang membuat kepala pening tujuh keliling. Nasi sudah menjadi bubur.
Tapi...bubur juga sepertinya enak kalau dibumbui. Otak normalku kembali connect.
Tidak, aku tidak boleh diam saja. Aku harus mencari cara untuk memperjelas semua ini. Semua kesemuan harus terungkap didepan mataku sendiri. Bukan Soraya namanya jika harus mundur. Apalagi ini menyangkut masa depan.
Duduk sejenak di sofa ruang tamu. Hening, ruangan besar tanpa penghuni. Begitu menyeramkan. Seharusnya rumah yang di isi oleh pria saleh, selalu menyejukkan hati. Tapi bukan kesejukan dan ketentraman yang kurasa. Hanya ada rasa panas yang membakar seluruh tubuh. Padahal ac sudah nyala semua.
Entah apa yang merasukiku saat ini, ide gila mulai menghujan. Cepat-cepat ku buka layar ponsel dan mencari toko online shop. alat penyadap suara ku tekan search. Sampai akhirnya ku temukan alat sadap suara berukuran koin agar bisa kusimpan di tempat tersembunyi, dibalik kasur atau dibalik meja kamar rahasia. Segera ku klik beli dan masuk keranjang, sengaja memilih ekspedisi ojek online agar bisa sampai secepatnya.
Menurut pengalamanku, alat ini ampuh membuktikan kesalahan seseorang yang sedang membicarakan niat jahat mereka.
Aku tersenyum mengingat masa-masa masih bekerja. Saat menjebak karyawan yang dicurigai licik. Alat seperti itu ampuh sebagai bukti kecurangannya sebelum di audit.
Setelah dua jam menunggu, gawaiku bergetar tanda telepon masuk.
"Assalamualaikum Teh, paket sudah sampai sesuai alamat." Sudah pasti itu telepon dari tukang ojek online yang mengirim pesananku.
"Oke, tunggu sebentar!" Dengan cepat kuambil uang dua puluh ribu dari dompet.
Aku segera berlari keluar rumah. Halaman yang cukup luas, membuatku harus berjalan sekitar beberapa meter untuk sampai di gerbang depan,
"Makasih." Ku berikan uang itu pada tukang ojek, sekedar untuk membeli cemilan. Karena pesanan sudah kubayar via transferpay.
Tak sabar ingin segera kupasang alat ini diseluruh kamar. Aku membeli lima alat sadap. Tak apa, mengeluarkan sedikit tabungan, demi menguak kebenaran.
Aku berlari sedikit lebih cepat memasuki rumah. Hatiku selalu terbakar ketika melihat kamar nomor tiga. Bukan terbakar cemburu, tapi terbakar kebencian karena telah ditipu.
Kutepak jidat, saat melihat kamar yang sudah amburadul, merasa sedikit bodoh, kenapa tadi menghancurkan seluruh isi kamar? Alhasil harus kubereskan sendiri agar tak menuai kecurigaan dari Kang Yana.
Kutata kembali seluruh isi lemari. Meski berat. Meski sesungguhnya tak sudi melakukan ini.
Seperti berada dalam perangkap. Baru sehari berada di rumah ini, serasa sudah seabad. Setiap detak jam kutunggu, kulihat, kureningi. Tuhan, semoga seluruh prasangkaku cepat terjawab.
Jika Kang Yana memang menyembunyikan wanita lain, kenapa tidak bilang dari awal?
Itu berarti tak ada bedanya dengan lelaki lain yang mempunyai tiga atau empat istri. Ah, tidak! Tidak mungkin. Seluruh prasangka berkecamuk. Kupejamkan mata erat. Menelan saliva yang mulai mengering.
Selesai!
kupasang satu alat dibawah meja samping ranjang. Dan satu di belakang ranjang.
***
Aksi dimulai, kulipatkan lengan baju. Berjalan cepat menuju kamar ketiga. Dengan seluruh kekuatan, kudobrak pintu hingga badanku ikut jatuh bersamaan dengan pintu terbuka.
"Hentikan!" Teriakku dengan nafas terengah. Kembang kempis dadaku naik turun. Sungguh batin terguncang menyaksikan adegan itu dengan mata kepalaku sendiri.
Nyaris Kang Yana terkejut, menjatuhkan tubuhnya kebelakang kasur hingga telentang.
Jijik aku melihat pemandangan yang seharuanya tak kulihat. Wanita itu menutup wajahnya dengan selimut.
"Sora..."
Kang Yana mendekatiku. Aku mundur beberapa langkah. Kugelengkan kepala tak percaya.
"Detik ini juga, tolong ceraikan aku!"
"Tidak Neng, Aa tidak akan menceraikan Neng."
"Oke, kalau begitu aku yang akan menggugat cerai." Ku akhiri pembicaraan. Bergegas kutinggalkan Kang Yana yang berusaha mengejarku.
Kututup pintu kamar. Runtuh tubuh ini dibalik pintu. Air mata mulai merebak di pelupuk mata.
"Sora.... Soraya... " Teriak Kang Yana.
"Sora... Soraya... Soraya..."
Suara itu terus menggema dalam ruangan. Aku terperanjat. Nafas terasa sesak. Peluh dingin membasahi seluruh tubuh. Tidur terlalu lama membuat pikiran terbawa ke alam mimpi. Apalagi tidur di sore hari.
Benar kata Kang Yana saat mengisi pengajian di kampungku dua minggu lalu. Tidur sore itu dapat menyebabkan yuuritsul majnuun alias mewarisi kegilaan atau lebih jelasnya kehilangan akal.
Ah, aku malah kehilangan akal setelah bersamamu Kang.
Bagaimana akalku akan sehat, jika Kang Yana saja menyembunyikan banyak rahasia dariku.
"Hanya Neng satu-satunya wanita yang Aa cintai dan sayangi."
"Hanya Neng yang akan menemani Aa hingga maut menjemput, dan kamu harus yakin, kita akan bersua kembali di akhirat."
Hati wanita mana yang tak tersentuh dengan rayuan seperti itu, rayuan yang kaluar dari mulut pria berparas tampan dan meneduhkan. apalagi diucapkan saat masih hangat-hangatnya menjadi pasangan suami istri.
"Bulshit!!"
Omong kosong semua, bisa-bisanya lelaki se'alim Kang Yana mengatakan kebohongan.
terlalu banyak melamun hingga tak sadar Adzan Maghrib sudah berkumandang. arloji menunjukkan pukul enam sore. Namun Kang Yana tak kunjung pulang. Seharusnya dia yang mengimami salat di mesjid.
Kuraih gawai diatas nakas. Tiga panggilan tak terjawab dari nomor Kang Yana. Dua Panggilan tak terjawab dari nomor asing. Baru saja kusentuh Nama Kang Yana dilayar ponsel, tiba-tiba nomor asing itu menghubungi lagi.
Siapa? Keningku mengerut. Aku tak biasa menerima panggilan dari nomor sembarangan, apalagi yang tak dikenal.
Kuabaikan panggilan itu, kusimpan kembali gawai diatas nakas. Berwudu dan berdzikir adalah cara terampuh menghilangkan kegelisahan.
Ku ayunkan kaki ke kamar mandi segera mengambil air wudu. Usai wudu, gawai masih bergetar.
"siapa sih?" Ganggu orang saja magrib- magrib nelpon." Gumamku, spontan telunjuk ini menekan tombol reject.
Kutunaikan salat. Aku bersujud bersimpuh bercengkerama dengan Sang Maha Pmberi petunjuk. Memohon agar Allah segera membukakn segala rahasia yang ditutup rapi oleh Kang Yana. Berharap Kang Yana akan berbicara jujur mengatakan semuanya.
Aku sadar dosaku melanjung tinggi, namun lebih dosa manakah seorang suami yang menyembunyikan sesuatu dari istrinya? Allah. Tangisku bergemuruh membiat badan gemetar hebat.
Selesai salat, gawai masih saja bergetar. Kali ini aku berbaik hati mengangkat nomor asing itu. Namun, saat kudekatkan pada telinga, nomor itu memutus panggilan.
Iseng banget ya ini nomor heuh. Awas aja kublokir nanti!
Aku mencoba menghubungi Kang Yana lagi. Allah kenapa aku harus khawatir sama Kang Yana. Mungkinkah naluri seorang istri mulai menjelma dalam diriku? bukan, bukan itu, hanya saja ingin cepat memastikan apa yang dirahasiakan Kang Yana dariku.
Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar.
"Kang Yana?" batinku menerka. Aku bergegas lari keluar untuk menyambut. Ya, aku harus pura-pura menyambutnya dengan senyuman. Meski sejujurnya ingin ku pentung kepalanya.
"Assalamualaikum bidadariku?" Dia menyodorkan tangan kanannya.
Bidadari? Hmmh bidadari yang keberapa kang?
"Wa'alaikumsalam." Kuraih tangan dan menciumnya tanda hormat. Allah kenapa pesonanya selalu menimbulkan getaran hebat dalam dada . Aroma parfumnya, parfum khas dengan aroma vanila dan cendana menusuk-nusuk hidungku. Sungguh menggoyahkan keteguhan untuk tidak berbaik hati padanya.
Dasar hati...menyingkirlah sebentar! Kita perlu waktu membuktikan kebenaran. Bisikan-bisikan bermunculan ditelingaku.
"Bapak, sudah makan Neng?" Tanya nya sambil meraih tanganku. Dia menggandengku berjalan menuju kamar Bapak Mertua. Memang, Bapak sudah tua, umurnya sudah hampir seabad, tapi dia masih terlihat sehat, hanya giginya yang tinggal sisa dua. Meski terkadang ada penyakit bawaan umur yang menyerangnya. Begitu Kata Kang Yana. Jadi aku harus telaten sesekali menengok bagaimana kondisi Bapak.
Lega melihat Bapak sudah tidur, kami kembali keluar. Kang Yana mengajakku duduk sebentar di sofa ruang tamu. Dia mendudukanku diatas pangkuannya. Aku tak mampu berontak.
Tapi ada yang aneh ku perhatikan seluruh tubuhnya. Kang Yana terlihat segar, seperti habis mandi. Kulit putihnya bercahaya. Tapi aku selalu gagal fokus kalau sudah melihat rambut Kang Yana yang sedikit basah. Pikiranku selalu travelling kemana-mana.
Kugelengkan kepala menolak prasangka lagi. Sudah jadi prinsip, tak ingin asal tuduh, minimal harus ada barang bukti. Selain aku melihatnya sendiri.
"Oia Neng, tadi Aa beli ubi cilembu sama bolu susu. Tapi lupa ketinggalan di mobil. Boleh Aa minta tolong ambilkan!" Kang Yana mengusap pundakku. Kemudian memberikan kunci mobilnya.
Alhamdulillah, akhirnya aku terlepas dari Kang Yana. Aku segera berdiri, lantas berjalan menuju parkiran.
Aku mencari-cari didalam mobil, karena Kang Yanq tak memberitahuku dimana letak umbi dan bolunya. Mungkin dia lupa karena kelelahan.
Setelah kubuka pintu depan mobil, penglihatanku jatuh tepat pada sesuatu yang tergeletak diatas jok samping sopir. Kain berwarna merah. merah membara seperti hati yang terbakar api kemarahan.
Kujemberngkan kain itu, tiba-tiba jatuh satu benda kecil.
Niqab?
Lalu Kuambil benda kotak yang jatuh kebawah jok.
"Foto? Foto seorang wanita bercadar."
Yaa allah...
Yaa rahman...
Yaa rahiim...
Apakah ini jawaban do'aku, justru aku menemukan bukti tanpa harus bersusah payah.
Allah, sekali lagi kaki ku gemetar terasa ingin runtuh. Dugaanku benar, ada wanita lain yang hadir dalam hidup Kang Yana.
Pertahannaku runtuhh. Aku beringsut meremas niqab dan foto itu. Bening bulir mulai membendung pelupuk mata.
Tapi siapa wanita ini?
Kuusap air mata yang sudah merebak. Berusaha menyembunyikan kesedihan. Ah kenapa harus ada air mata. Bukannya aku tidak mencintainya?
Aku berbalik menuju rumah, kutenteng bolu susu dan umbi yang katanya oleh-oleh Bandung untukku. Tak sudi aku memakannya.
Akan kuberikan kejutan untuk Kang Yana, niqab dan foto wanitanya , entah istri atau selingkuhan yang ia sembunyikan. Tapi mana mungkin seorang ustadz seperti Kang Yana selingkuh? Lalu apa aku benar-benar dijadikan tumbal sebagai istri kedua atau ketiga? Ah, perasaan kesal dan menyesal berkecamuk dalam dada.
Namun, tak kudapati Kang Yana di sofa ruang tamu. Kemanakah dia? apakah dia kembali ke tempat persembunyiannya? Dimanakah dia menyembunyikan wanita itu??
Kulempar susu dan umbi diatas meja. Maaf Kang aku nggak bisa menghormati laki-laki sepertimu lagi.
Tak kudapati Kang Yana di sofa ruang tamu. Kemana kamu Kang? apa kembali ke tempat persembunyian? Dimana kamu menyembunyikan wanita itu?? Aku menerka-nerka.
Kulempar bolu susu dan umbi diatas meja. maaf Kang, Aku nggak bisa menghormati laki-laki sepertimu .
"Kenapa makanannya dilempar? apa kamu tidak suka?" Suara Kang Yana yang tiba-tiba berdiri dibelakangku begitu mengagetkan. Entah darimana datangnya sosok pria berbadan tinggi itu. Sorot matanya seperti ingin memarahiku, tapi tertahan.
Aku hanya menggeleng menjawabnya.
Marahi saja aku Kang!!
Ingin sekali ku remas mukanya yang pura-pura polos itu.
Aku yang berniat belajar mencintai, Kini dengan serta merta Kang Yana mengahancurkan harapan itu.
Kutarik nafas sedalam mungkin. Dan menghembuskannya perlahan. Kusodorkan foto yang ditemukan tadi.
"Foto siapa ini Kang?"
Kang Yana tak menghiraukanku. Dia Malah asyik dengan ponsel digenggamannya.
"Foto siapa ini?" Kuulang lagi pertanyaan dengan nada menekan.
Mendengar penuturanku, Kang Yana melirik dan mengambil foto itu dari tanganku dengan santai. Aku yakin Kang Yana mengenal wanita itu, meski tertutup niqab.
"Tidak tahu Neng, memangnya foto siapa itu?" Kang Yana mengembalikan foto itu padaku. Lantas, dia duduk dan membuka kotak bolu susu yang kulempar tadi.
Hebat sekali kamu Kang, membalikkan pertanyaan itu padaku.
"Sini duduk! biar Aa suapin." Kang Yana mengalihkan pembicaraan.
Makin kesal aku dibuatnya. Seharusnya langsung kupentung saja kepalanya biar tahu rasa.
"Yakin, tidak mengenal wanita dalam foto ini?" Interogasiku belum selesai. Berharap Kang Yana mau mengakui keberadaan wanita itu.
"Kalau ini?" Kutunjukkan niqab tepat lima sentimeter dari hidung mancungnya.
"Kenapa sih Neng, nanya yang aneh-aneh gini? Ada-ada aja ah." Dia masih terlihat santai. Bahkan dia malah menarik tanganku hingga tubuhku menimpa tubuhnya. Kini aku berada dipelukan Kang Yana. Erat begitu erat pelukannya.
Mata kami beradu. Kurasakan nafasnya kian memburu. Begitupun yang kurasakan. Seandainya tidak ada foto dan niqab, tidak ada kamar tersembunyi. Aku ingin membalas pelukannya dan takkan kulepaskan.
Ku merasakan nafasnya kembang kempis, dia menarik wajahku hingga bibirku terpaut dengan bibirnya.
Namun, aku tak ingin lagi berdiam tanpa jawaban. Segera kutarik tubuhku dari pelukannya, hingga nyaris terjatuh.
"Jawab jujur A! Neng Mohon jawab sejujur-jujurnya siapa wanita itu? Apakah dia istri pertama, atau istri keduamu?" Aku berusaha berbicara pelan. Namun Kang Yana tetap bergeming.
"Jawab!!! Aku menemukan kedua benda ini didalam mobilmu." Akhirnya aku berteriak dihadapan Kang Yana.
Namun, lagi-lagi bukan jawaban yang kudapat. Kang Yana malah menghamburkan bolu susunya kelantai.
"Jangan berlebihan! Aa gak suka kamu tidak sopan sama suami! Asal Neng tau Aa tidak pernah kenal wanita itu!" Wajah teduh itu kini berubah seperti singa yang ingin menerkamku. Matanya melotot tepat didepan wajahku.
"Berarti benar Aa memiliki istri lebih dari satu, dua atau tiga?" Teriakku sambil menahan air yang mulai menerobos kelopak mata.
Tangan kananya melayang keudara, dan berehenti tepat di samping pipiku.
"Pukul aku! Pukul!" Teriakku.
"Jangan mencoba membangunkan macan yang sedang tidur." Kang Yana mengakhiri kalimatnya. Tangannya mengepal dan berlalu meninggalkanku.
Ah, berarti semua dugaanku benar, kalau tidak, kenapa Kang Yana menghindar dari pertanyaan-pertanyaanku? Kenapa dia harus marah?
Aku semakin geram saat netraku menangkap Kang Yana memasuki kamar ketiga sambil membantingkan pintu.
Allah, Apa aku salah bertanya dan ingin meminta penjelasan? lalu kepada siapa aku harus bertanya selain pada Kang Yana? Jelas-jelas semua bukti ada. Masih saja mengelak.
***
Hingga pukul tiga pagi, mataku masih terjaga, Kang Yana pun masih berada dikamar ketiga. Sungguh keterlaluan, tak terlihat rasa bersalahnya sedikitpun. Aku yang harus menghampiri? Ogah, tak ada dalam kamusku orang yang tak bersalah meminta maaf pada orang yang bersalah.
Dan malam ini, nggak perlu kutunaikan kewajibanku padanyanya. Sudah terlanjur jijik, ketika mengingat suara desahan itu. Akupun akan terpaksa jika harus melakukannya dengan Kang Yana.
"Pelan, pelan dong, nanti sakit!" Suara itu kini terdengar jelas di ponselku. Ya, suara berasal dari kamar tersembunyi. Akhirnya alat penyadap itu berfungsi.
Tapi, kali ini aku malas harus menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri seperti dimimpi tadi. Aku tak sanggup jika nanti hatiku benar benar hancur menyaksikan adegan hot dua sejoli itu. Kali ini cukup tahu saja, tahu bagaimana kelakuan asli Kang Yana dibelakangku. Sementara akan kusimpan semua rekaman ini sebagai bukti.
Tak tahan berlama-lama didalam rumah penuh rahasia ini, aku segera membereskan pakaian kedalam tas. Tak perlu membawa banyak. Cukup untuk ganti beberapa hari, sebelum menemukan alasan untuk pulang kerumah ibu dan bapak. Aku tak mau mereka terbebani lagi dengan masalahku. Baru saja mereka meredamnya. Masalah emak-emak yang selalu berceloteh tentangku. Aku tak mau mengembalikan beban itu pada mereka.
Selesai memasukkan pakaian, aku bergegas berjalan keluar kamar. Tiba-tiba diambang pintu, aku berpapasan dengan Kang Yana.
"Neng?"
Aku tak menjawabnya. Langkahku tetap mengayun melewatinya yang berdiri didepanku.
"Mau kemana?" Dia menarik tangan kiriku.
"Lepaskan!"
"Tidak!"
"Lepas!" Teriakku lagi.
"Jawab mau kemana?" Teriaknya menarikku. Lagi-lagi tubuhku sangat dekat dengannya.
"Apa pedulimu?" Sekuat tenaga kulepaskan cengkeraman tangannya dan berjalan cepat keluar rumah.
Neng, tunggu! Aa bisa jelasin Neng, maaf semalam Aa khilaf." Kang Yana membuntutiku.
"Tidak, biarkan aku pergi kalau Akang masih tidak mau mengaku." Aku terus berjalan lebih cepat dan ingin berlari.
"Kalau Akang masih tidak mau mengaku, biarkan aku pergi." Aku terus berjalan lebih cepat dan sedikit berlari.
Mengabaikannya yang sedang berusaha menarik tanganku, adalah cara terbaik menghindar dari semua emosi yang mulai membara. Aku segera masuk kedalam taksi online yang sudah dipesan satu jam yang lalu.
"Jalan Mang!" Kuluruskan pandangan kearah sopir, tanpa menghiraukan Kang Yana yang menggedor-gedor jendela mobil.
"Oke Teh."
Kusandarkan tubuhku pada jok mobil. Rahasia Kang Yana sudah terkuak, tapi pertanyaan tentang siapa wanita-wanita itu masih terngiang dikepalaku.
Dua puluh menit sampai di rumah Shena sahabatku.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Shena yang sudah menunggu didepan rumah.
Aku menjawabnya dengan senyum. Meski kutahu Shena pasti faham apa yang kurasakan saat ini. Shenalah sahabat yang selalu mendukungku dalam keadaan apapun. Jadi aku memilih untuk menginap dirumahnya untuk sementara waktu.
"Masuk yuk!" Shena menggandengku.
"Duduk dulu, tenangkan dirimu!" Shena memberiku segelas teh hangat.
"Kamu yakin suamimu punya wanita lain Sor?"
Ku mengangguk penuh keyakinan, sambil menyeruput teh bikinannya.
"Kamu melihatnya?" Tanyanya lagi, menatapku seperti khawatir.
Aku menggeleng. "Tapi aku punya bukti yang kuat. Ini bukti yang kutemukan di dalam Mobil Kang Yana." Ku jemberengkan niqab merah yang masih sedikit tercium wangi parfum wanita. Lalu, kusodorkan foto wanita bercadar itu pada Shena. Shena ikut mengamati.
"Dan...ini hasil rekaman dari alat penyadap yang kusimpan dikamar rahasia itu Shen."
Segera kubuka ponsel dan memutar suara desahan-desahan itu. Agak risih memutarnya didepan Shena, karena Shena belum menikah. segera kumatikan rekaman itu sebelum Shena mendengarnya lebih lama.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan dengan bukti-bukti ini?" Tanyanya lagi.
Kutarik nafas perlahan, ku hembuskan dengan kasar. "Mungkin...aku akan menggugat cerai Kang Yana."
" Kamu yakin?" Shena memegang kedua tanganku. Ada rasa iba yang terlihat dari sorot matanya. Mungkin dia juga merasa kasihan padaku. Melihat nasibku yang begitu menyedihkan.
"Aku yakin. Tak masalah jika aku harus jomblo seumur hidup, daripada aku tersiksa batin harus membagi rasa cinta...Ah, maksdku berbagi suami."
"Kamu mulai mencintainya?"
Aku pun menyandarkan kepalaku pada bahunya. Sekali lagi, wanita mana yang tak mencintai suaminya sendiri apalagi lelaki itu adalah lelaki tampan, mapan dan impian semua wanita. Hanya saja, Ah, aku harus cepat-cepat melupakan rasa yang mulai tumbuh ini.
"Tidak Shena, aku tidak mencintainya. Aku cuman nghak mau mengecewakan ibu dan bapak shen."
" Justru kalau kamu menggugat cerai, pasti ibu dan bapak sakit hati Sora!"
Perkataan Shena ada benarnya. Tapi bukannya orang tua lebih sakit hati, jika melihat anaknya menderita tersakiti oleh orang lain?
"Yaudah kamu istirahat dulu. Biar besok kita pikirkan jalan keluarnnya bagaimana. Dua hari ini kebelakang, sepertinya kamu selalu begadang, aku kira kamu begadang melayani suamimu.."
Hahahh..Shena malah menertawaiku.
" Gak lucu.!" Ku manyunkan mulutku pada Shaila.
"Lagian nikah ko buru-buru, udah sih lah bairin. Memang cowok cuman dia aja yang tampan?"
"Tapi akunya yang udahh terlalu tua oneng.." Kulemparkan bantal kecil pada Shena. Rasanya sedikit terhibur berada deidekat Shena.
***
Sudah pukul delapan pagi, aku berusaha memejamkan mata, dari setelah salat subuh. Tapi tetap saja suara-suara desahan itu menggelitik telingaku. Membuat pikiranku selalu travelling jauh.
Tiba-tiba ponsel yang masih kugenggam bergetar agak lama.
Kukerutkan kening. Nomor yang tak dikenal. Ini kali kedua ada nomor asing menerorku.
"Ah, siap sih?" Kusentuh gambar telepon berwarna hijau mencoba menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum, punten ieu leres sareng istrina Ustadz Yana?" Suara seorang laki-laki dengan nafas tersenggal-senggal.
"Iya betul." Aku menjawab singkat.
"Apa?" Aku terkaget mendengar penuturan dari telepon, bahwa Kang Yana mengalami kecelakaan di jalan Eor dan masuk jurang.
Tuhan, ujian apalagi yang kau trehkan dalam skenario kehidupanku? Meski aku benci sama Kang Yana tapi bagaimanapun dia telah menjadi suamiku, aku harus pergi melihat keadaan Kang Yana.
Aku tak ingin merepotkan Shena lagi. Dia masih tertidur pulas. Aku tak mungkin membangunkannya.
Kuputuskan untuk pergi sendiri. Secepat kilat ku pesan taksi Budiman yang sudah menjadi langganan.
Setelah Sepuluh menit menunggu, taksi pun datang. segera aku masuk dan duduk di jok penumpang. Dengan kecepatan tinggi taksi neluncur membawaku menuju Rumah Sakit tempat Kang Yana dilarikan.
Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya sampai. Rumah Sakit Dewi Husada, terpampang jelas didepan bangunan.
"Kang Yana" Gumamku. Entah rasa sedih atau kasihan yang saat ini bergemuruh dalam dada. Kubuang nafas kasar, lalu turun dari mobil. Bergegas aku masuk dan mengahampiri meja Front Office.
Langkahku mengayun setengah berlari, setelah mendapatkan nomor kamar Kang Yana. Kakiku bergetar ketika melihat dua orang polisi sedang berada didepan kamar.
"Mohon maaf bu, apa ibu keluarganya? Tanya polisi itu.
"I-iyapak saya istrinya." Nafasku tersenggal-senggal.
"Ini barang-barang yang dapat kami selamatkan. Kami akan segera menyelidiki penyebab kecelakaan tunggal yang menimpa Pak Yana. Sementara kewajiban kami menyampaikan pada keluarga sudah selesai."
"Jika penyelidikkan sudah selesai, tolong hubungi saya secepatnya ya pak. ."
"Baik bu, itu sudah merupakan kewajiban kami." Kedua polisi itu berlalu dari rumah sakit.
Sungguh tak percaya apa yang terjadi. Kang yana terkulai lemah diruang rawat inap. Apa aku terlalu jahat mencurigainya memiliki wanita selain aku. Ah, entahlah bukan saatnya memikirkan hal itu.
Kuhampiri Kang Yana. Kutatap wajahnya yang masih terlihat tampan, tapi kepalanya sudah dibaluti perban. Ingin sekali kupegang tangannya dan mengecup keningnya. Tapi, semua itu hanyalah keinginan hati yang mencinta. Ada rasa benci yang lebih besar dari itu. Hingga hatiku merasa puas melihat Kang Yana terkulai lemah.
"Hmmh...Kemana istri-istri rahasiamu Kang?"
"Ini balasan setimpal untuk orang yang berani membohongiku." Puas, aku puas tertawa dalam hati. Allah, apa aku termasuk orang jahat menertawakan suami sendiri?..
Kudengar suara pintu terbuka. Seorang dokter didampingi dua orang suster menghampiriku.
"Pasien sudah melalui kritisnya. Namun, ada benturan dikepala sehingga mengakibatkan pembekuan darah sebelah kiri sehingga harus dilakukan tindakan operasi." Tutur dokter itu dengan jelas.
"Lakukan yang terbaik dok!"
"Baik kalau begitu, nanti saya buatkan surat persetujuan operasinya. Ibu bisa langsung keruangan saya." Setelah selesai menjelaskan, dokter itu meninggalkan kamar. Namun salah satu suster masih berdiam dan menghampiriku.
"Oia bu, untuk satu pasien lagi, apakah ibu juga penanggng jawabnya?" Tanya suster itu.
"Satu pasien?"Tanya hatiku.
" Emm berapa orang sus korban kecelakaannya tadi?"
"Setahu saya dua bu tadi yang dilarikan kesini."
"Oke, antar saya melihat pasiennya sus"
"Baik bu mari!"
Siapa pasien satunya lagi?
Perasaan tak enak tiba-tiba menjalar dalam tubuhku. Benar saja pasien itu adalah seorang wanita dengan pakaian lebar dengan warna merah yang sama seperti niqab itu.
Aku berjalan di belakang suster. Kupejamkan mata tak ingin melihat siapa pasien itu.
"Bu,"
"Oh,, emm, iya." Kuusap wajahku yang tak berkeringat. Aku harus menerima kenyataan kalau Kang Yana sedang bersama wanita ini ketika mengalami kecelakaan.
Kidekati pasien wanita yang terbaring itu. Saat ku mendekat dan mengamati pasien itu. Sepertinya wajah itu tak asing dimataku.
"Suci?" Gumamku.