Bab 1

Pria berkulit sawo matang tampak berdiri sambil mengerutkan alis. Sudah beberapa menit ia di situ sambil memegang seutas kalung berlian. Sesekali ia memperhatikan koleksi lain yang berada di balik kaca lalu mengangguk.

"Sepertinya ini sangat cocok," gumam Radit memperhatikan kalung emas putih yang dihiasi liontin simpul cinta bertahtakan berlian yang sejak tadi ia pegang.

Sambil tersenyum, ia membayangkan leher jenjang Naura istrinya yang dihiasi kalung itu. Kulitnya yang putih mulus benar-benar pasangan yang ideal untuk hadiah yang dia pilih.

Radit melirik harga yang dikaitkan pada pengait kalung, dan kembali tersenyum. Enam puluh juta tak ada artinya bagi seorang pengusaha kuliner sukses sepertinya, terlebih ia mengeluarkannya untuk wanita yang sangat dikasihi.

Wanita yang begitu setia dan sabar menghadapi cobaan dan gonjang ganjing rumah tangga mereka. Wanita yang tetap mendampingi saat Radit kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan, dan menjadikan dirinya sebagai tulang punggung keluarga untuk sementara.

Wanita yang tetap bergeming saat sebagian keluarga besar dan teman-temannya menyarankan untuk bercerai. Ia justru menanggapinya dengan senyum dan melupakan desakan-desakan itu.

Kesetiaan dan keteguhan Naura itulah yang membawa Radit pada posisinya sekarang. Naura yang percaya akan kemampuan Radit dalam mengolah makanan hingga membuatnya sukses menjadi seorang pengusaha kuliner.

Begitu beruntungnya Radit memiliki istri seperti Naura. Wajah yang cantik dengan mata seperti kacang almond, dagu belah, tubuh yang proporsional, tidak kurus nan tak gemuk. Naura juga seorang wanita cerdas dengan karir gemilang. Di usianya yang baru 34 tahun, ia sudah menduduki posisi wakil direktur di perusahaan. Hal terpenting adalah, Naura tak pernah lelah untuk mendukung Radit dalam menjalani pengobatan mengatasi mani encer yang membuat mereka berdua tak juga mendapat keturunan setelah delapan tahun menikah.

"Mas nggak usah kecil hati, Dokter kan bilang kalau itu bukan permanen, dan masih bisa disembuhkan. Yang penting mas nggak stres, lagipula dengan begini kita bisa lama pacarannya." Kalimat menghibur seperti itulah yang selalu diucapkan Naura kala dirinya sedang terpuruk lantaran belum juga menghadirkan keturunan.

Pria mana yang tak bahagia mendapatkan dukungan seperti itu. Apalagi saat mengatakannya, Naura memeluk erat Radit dan menyandarkan kepala pada dada bidangnya.

Radit tersenyum kala mengingat itu semua, dan perhatiannya kembali pada seuntai kalung di hadapannya. Naura sungguh istri yang manis.

"Saya ambil yang ini, Mbak," kata Radit pada pelayan toko perhiasan.

"Baik Pak, apakah Bapak perlu kotak kado atau mungkin kartu ucapan?" kata pelayan yang di seragamnya tersemat name tag bertuliskan Yessi itu.

"Boleh keduanya Mbak, kalau ada kotak kado berwarna merah. Istri saya sangat menyukai warna merah," papar Radit pada Yessi.

"Tunggu sebentar, biar saya siapkan dulu."

Radit mengangguk dan menunggu Yessi memberikan kotak dan kartu ucapan untuknya. Saat pesanannya datang, ia pun segera menuliskan pesan mesra untuk istrinya.

Naura sayang, terima kasih untuk selalu menjadi matahari bagiku. Selamat hari Anniversary yang ke-8

                Radit, Yang Selalu Mencintaimu

 Setelah menulis pesan singkat pada kartu, Radit pun menyerahkan kartu kredit platinumnya kepada pelayan toko.

                            ***

Dengan bersiul-siul, Radit mengemudikan mobilnya ke rumah. Sesekali ia melirik pada jok di sampingnya dan membayangkan reaksi istrinya.

"Semoga saja Naura senang akan hadiahku," gumamnya.

Pria betkulit sawo matang itu, sengaja pulang lebih awal untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun perkawinannya. Ia akan menyiapkan hidangan istimewa untuk istri tercintanya.

Setelah dari toko perhiasan Amore, Pria dengan tinggi hampir 180 senti itu menyempatkan diri untuk pergi ke supermarket, membeli bahan makanan untuk makan malam mereka. Steak salmon, soup kepiting asparagus dan juga pudding kelapa muda akan menjadi hidangan istimewa.

"Aku akan memberikan kejutan untukmu, Sayang." Radit berbicara sendiri sambil mengemudi.

Perasaannya kali ini seperti perasaan seorang anak remaja laki-laki yang tengah mengenal cinta monyet. Berbunga-bunga, tak sabar ingin segera mengajak pujaan hatinya untuk makan bakso di kantin sekolah. Sungguh lucu, tapi seperti itulah jatuh cinta, ya Radit selalu jatuh cinta pada Naura setiap hari.

"Hmm sampai juga," gumam Radit ketika mobil SUV nya berhenti di halaman rumah dengan pekarangan yang cukup luas.

Rumah Radit dan Naura memang terlihat berbeda dibanding rumah di kanan kirinya. Umumnya rumah di perumahan bangunannya hampir sama, namun tidak dengan tempat tinggalnya. Rumah Radit terlihat lebih kecil dibanding tetangganya. Karena dirinya minta desain khusus saat membeli rumah ini. Meminta halaman yang lebih luas daripada bangunan.

Ada sesuatu yang sedikit berbeda di sekitar rumah Radit siang itu. Sebuah mobil BMW Hitam yang asing terparkir di depan pagar rumahnya.

Sejenak, pria 37 tahun ini mempertanyakan siapa pemilik mobil itu dan kenapa parkir di depan rumahnya. Istrinya masih berada di kantor dan hari ini sedang tidak membawa mobil karena masuk bengkel.

"Ah sudahlah," batinnya. 

Radit menganggap mungkin saja itu mobil dari tamu tetangga kanan atau kirinya, maka dari itu ia tak pernah melihatnya. Radit pun segera masuk ke dalam rumahnya dan memulai persiapan kejutannya.

Pria bertubuh tegap ini mencoba untuk membuka kunci pintu utama rumahnya. Memutar kunci ke arah kiri, namun ternyata tak bisa seperti sedang tidak terkunci. Ketika mendorong, pintu pun tak juga terbuka. Hal ini membuatnya merasa ada yang janggal.

"Apa mungkin mobil di depan punya kantor Naura ya, dan dia sedang di rumah karena ada keperluan. Tapi kalau itu Naura, kenapa mobilnya tak dibawa masuk saja."

Radit kembali mengingat-ingat apa yang ia lakukan pagi itu. Berdiam sejenak dan mulai berpikir, sampai akhirnya ia menyadari kalau pagi tadi Radit berangkat lewat pintu belakang. Mungkin saja tadi ia hanya mengunci pintu depan dengan grendel.

Pria berkulit kecoklatan ini pun berjalan menuju pintu belakang. Mengambil kunci yang diletakkan di bawah pot bunga.

"Akhirnya terbuka juga," Ia bergumam, kemudian melangkah dan meletakkan belanjaannya di dapur.

Sambil berjalan santai, Radit pun bermaksud ke kamarnya untuk menyimpan hadiah kejutan.

Sayup-sayup ia mendengarkan suara musik dari arah kamar tidurnya. Ia pun mengernyitkan alis tebalnya dan menduga ada pencuri yang memasuki rumahnya.

"Kenapa ada yang menyalakan musik, apa ada pencuri di rumahku?" pikirnya.

Radit mencoba untuk menduga-duga bagaimana pencuri itu bisa masuk. Apakah mungkin rumahnya sudah lama diincar?

Dengan segenap keberanian yang terkumpul, segeralah ia berjalan mengendap-ngendap sambil membawa tongkat golf yang ada di depannya. Perlahan-lahan bersiap untuk menghajar pencurinya.

Pintu kamarnya sedikit terbuka, dan Radit mendorong pelan-pelan sambil mengintip siapa yang ada di sana. Saat itu ia dihadapkan sebuah kejutan yang luar biasa. Pemandangan yang membuat dadanya terasa sakit tiba-tiba.

Hampir saja Radit menjatuhkan kotak hadiah dalam genggamannya. Namun ia mencoba untuk menghela napas lega, tak ingin ada keributan dan menggunakan sedikit akal sehatnya.

Meletakkan tongkat golf di lantai dan meraih ponselnya agar bisa merekam apa yang dilihatnya, hanya untuk berjaga-jaga. Melakukannya dengan penuh pergolakan dalam batin.

Sepasang pria dan wanita tengah bergelut di atas ranjang dan tanpa berbusana. Wanita yang ada di sana adalah Naura, istri yang sangat dikasihinya.

Bab 2

Dengan langkah gontai Radit menuju sofa di depan kamar tidurnya setelah merekam adegan Naura selama tiga puluh detik. Sejenak memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam.

"Tidak! Aku tak boleh menunjukkan kalau aku terluka. Aku tak boleh marah, aku harus tahu apa keinginan Naura yang sebenarnya." Radit kemudian mengacak-acak rambutnya, wajahnya mulai panas karena pemandangan yang tadi ia lihat.

Kado yang rencananya akan diberikan pada istri diletakkan di samping. Mengambil ponsel pintarnya dan mencoba untuk fokus di sana. Walau sebenarnya telinga masih terasa sakit mendengar suara desahan dan kikikan manja dari Naura, yang biasanya selalu dilewatkan bersama dirinya.

Batin Radit terasa sakit saat mendengar Naura menjerit, dan menyebut nama seorang laki-laki dan bukan namanya. Radit mengepalkan tangan dan meremas kuat-kuat, melangkah ke pantry untuk mengambil air dingin dan mendinginkan pikiran.

"Sungguh tak disangka," sesal Radit sambil melirik ke arah pintu kamarnya yang belum juga terbuka lebar. Ia kembali meminum air dingin dan menghabiskannya dengan cepat lalu memejamkan mata dan menghembuskan napas secara perlahan-lahan.

Dengan lebih tenang, Radit mulai melangkah menuju sofa tempat ia duduk tadi. Ia masih ingin memberi kejutan bagi Naura. Namun sekarang, ia yang mendapatkan kejutan itu.

                        ***

Naura telah merapikan penampilannya setelah bergumul dengan laki-laki yang bersamanya. Rambut panjangnya kembali digulung rapi.

Wanita di awal tiga puluh itu terlihat begitu bahagia. Wajahnya terlihat lebih cerah dibanding pagi tadi.

Di belakangnya, tampak seorang pria tengah merapikan dasi. Pria itu pun tak kalah rapi dengan Naura, walau rambutnya masih sedikit basah karena tidak menggunakan hair dryer.

"Kamu pinter banget deh sayang," puji Naura mendaratkan bibir merekahnya pada pipi laki-laki itu. Lelaki itu adalah Fajar yang bekerja di gedung yang sama dengan Naura.

"Apa sih yang nggak buat kamu, Sayangku," balas Fajar kemudian mengecup punggung tangan Naura.

"Kita balik kantor yuk!" ajak wanita berkulit putih itu menggandeng tangan Fajar.

Dengan manja, Naura melangkah berdempetan dengan sang kekasih. Bersikap seperti layaknya pasangan pengantin baru yang tak ingin berjauhan satu sama lain.

Perlahan, Fajar membuka pintu kamar Naura, dan saat itulah sebuah suara mengejutkan mereka berdua,— "Kalian sudah selesai?"

Deg! Naura seolah tertembak. Tak mampu berkata atau berbuat apa-apa begitu melihat sosok yang menegur mereka. Ia pun memilih untuk mengalihkan muka dan menyembuyikan rasa malu akibat tertangkap basah.

Naura melepaskan gandengan Fajar dan berganti meremas-remas tangannya sendiri dengan gugup. Fajar pun berusaha untuk memandang ke arah pria yang menegurnya, tapi tetap tak bisa menutupi kegugupannya. Walau wajahnya terangkat, tapi beberapa kali bola matanya mengarah ke bawah.

Kekesalan dan kegelisahan Radit sendiri sudah pergi. Ia sudah lebih tenang dan siap menghadapi segala kemungkinan yang akan datang.

"Eh, Mas Radit, sudah lama Mas?" tanya Naura dengan suara yang terdengar dipaksakan.

Saat ini Naura berharap kalau suaminya tidak tahu apa yang dilakukan bersama Fajar di kamar. Namun sepertinya itu harapan yang konyol. Radit sudah melihatnya keluar kamar bersama laki-laki lain. Hal yang tak lazim dilakukan oleh tamu yang datang ke rumah.

"Kenapa kalian berdua terlihat gugup begitu, duduklah sini!" Radit menepuk sofa dan mengundang mereka untuk duduk di hadapannya. Sikap Radit yang tenang ini jelas membuat pasangan selingkuh ini salah tingkah.

"Naura, tolong buatkan minum untuk kita bertiga!" perintah Radit.

Cepat-cepat Naura melakukan apa yang diminta oleh suaminya, tanpa bertanya untuk apa. Ia pun memilih es sirup untuk disajikan di siang yang panas ini. Membuatnya dengan tangan yang bergetar.

Takut-takut, Fajar mulai mendekat ke arah Radit dan duduk di hadapannya.

"Silakan duduk! Siapa namamu?" tanya Radit tenang sekan tak terjadi apa-apa.

"Saya Fajar, Pak."

Diam-diam Radit mengamati sosok Fajar dari atas ke bawah. Ukuran dan bentuk tubuhnya tak jauh beda darinya. Hanya sepertinya Fajar terlihat lebih muda.

"Kerja dimana?" tanya Radit lagi.

Fajar justru terlihat bingung dengan sikap Radit yang menanyainya seperti seorang Ayah pada pria yang akan mengajak kencan putrinya. Tak ada nada kemarahan atau makian yang keluar dari mulut pria di hadapannya.

"Saya bekerja di PT. Gilang Persada, Pak."

"Apa jabatanmu?"

"Saya pimpinan cabang kantor Wahidin," jawabnya berusaha tenang dan masih memikirkan apa yang akan dilakukan oleh suami Naura padanya.

Radit mengernyitkan dahi mendengar jawaban dari Fajar. Mengingat Jl.Dr. Wahidin adalah area tempat Naura bekerja. Mungkinkah hubungan mereka sudah lama?

"Sudah lama kenal Naura?"

"Lumayan, kebetulan kami satu gedung."

"Hmm," jawab Radit misterius lalu mengangguk-angguk.

"Apa kamu sudah menikah?" tanya Radit lagi sambil diam-diam memperhatikan jemari Fajar, mencari-cari apakah ada cincin yang melingkar di sana.

Fajar diam sejenak, kemudian menggeleng. Berharap agar pembicaraannya dengan suami Naura yang misterius ini berakhir.

Naura pun tiba-tiba datang sambil membawa tiga buah gelas es sirup dan duduk di samping Radit dengan kepala menunduk. Ia tak berani menatap suami serta selingkuhannya.

"Silakan diminum, tenang saja yang buat Naura bukan saya, jadi tak akan ada racun atau obat tidur di situ," kata Radit dengan penuh satir.

Masih dengan penuh tanda tanya, Fajar pun mengambil dan meminum es sirup buatan Naura perlahan. Radit sendiri menegaknya dengan cepat. Berusaha mendinginkan pikirannya lagi, takut kalau-kalau ia emosi saat mengajukan pertanyaan berikutnya.

"Fajar, apa kamu mencintai Naura?" tanya Radit lagi sambil memandang ke arah Fajar dan Naura bergantian.

Kini Naura pun ikut bingung dengan sikap suaminya. Wanita itu menunduk dan memperhatikan rok nya yang tersingkap lalu menutupnya dengan bantal sofa.

Radit tersenyum sinis, dalam hati ia ingin tertawa. Untuk apa menutupi paha sekarang, bukankah ia dan Fajar sudah pernah melihat Naura tanpa busana dan merasakan tubuhnya.

Kembali Radit mendekatkan wajahnya pada Fajar. Lalu mengulang pertanyaan yang sama.

"Maaf," balas Fajar.

"Saya tidak meminta Anda untuk meminta maaf, saya hanya ingin tahu apakah Anda mencintai Naura atau tidak," kata Radit dengan tenang namun membuat Fajar dan Naura merasa bersalah.

"Ya, saya mencintainya,” jawab Fajar.

Radit meletakkan jari pada dagunya dan mengangguk. Merasa cukup dengan informasi yang dibutuhkannya.

"Baiklah kalau begitu, saya rasa Anda bisa tinggalkan kami dulu. Biar saya selesaikan masalah saya dengan Naura, yang saat ini masih sah menjadi istri saya," usir Radit dengan halus sambil menekankan kata masih sah menjadi istri saya pada Fajar.

"Keputusannya nanti akan disampaikan oleh Naura," tambah Radit.

 Kini hanya Naura yang tampak berkaca-kaca dan bimbang memperhatikan Fajar yang sekarang membelakanginya menuju pintu keluar. Radit yang melihat ini pun berkata pada Naura, “Silakan, kalau kamu mau mengantar tamumu!”

Bab 3

Naura masih menunduk saat kembali ke ruang tamu setelah mengantar Fajar ke depan rumah dan menutup pagar. Radit suaminya masih duduk di sofa dan menoleh ke arahnya. “Duduk di sini Naura, Mas mau bicara!”

Naura mematung, tak langsung menuruti permintaan Radit, sampai suaminya harus mengulang dua kali. “Naura!” panggil Radit dengan suara yang masih lembut.

Naura langsung mengambil tempat di samping suaminya sambil melihat ke arah lantai. "Naura, sekarang Mas minta kamu jujur sama Mas!" tegur Radit lembut sambil memegang kedua bahu istrinya.

 "Maafkan saya Mas."

"Naura kecewa dengan Mas? Naura cinta dengan Fajar?"

Naura hanya tertunduk dan terisak. Ia tak bisa menjawab pertanyaan suaminya. Semua terasa berat, ia tahu ia bersalah namun ia sadar kalau saat ini perasaannya untuk Radit telah pudar seiring kedekatannya dengan Fajar.

"Maaf, Mas. Seharusnya saya nggak tergoda."

"Naura bahagia?" tanya Radit santai dan malah terkesan membingungkan.

"Eh, mmm,—" Naura tampak tak bisa melanjutkan kalimatnya.

Ingin rasanya mengatakan ya ia bahagia bersama Fajar. Namun sepertinya ia takut mengatakannya, Bagaimana kalau suaminya marah?

"Fajar ingin menikahi saya Mas," jawabnya takut-takut.

"Kamu sendiri bagaimana? Mau atau tidak?" tanya Radit masih lembut berusaha untuk menahan emosi, tapi jika ia meluapkannya sekarang artinya ia kalah.

Naura diam, tapi beberapa saat kemudian ia mengangguk pelan. Radit menghembuskan napas panjang dan kembali memandang ke arah istrinya. "Kalau memang kamu bahagia, Mas akan melepaskan kamu. Kemasi barang-barangmu dan Mas akan antar ke rumah orang tuamu."

"Mas Radit,—" Kedua mata Naura berkaca-kaca entah apa yang bisa dikatakan olehnya.

"Naura, Mas minta kamu pada Papa dan Mama dengan baik, maka Mas juga harus memulangkanmu dengan baik. Terakhir kali Mas minta sama kamu, tolong kalian berdua jangan bertemu dulu sebelum masalah kita selesai."

"Mas," panggil Naura kemudian memegangi tangan Radit, tapi langsung ditepiskan dengan pelan, dan Radit kembali mengingatkannya untuk membereskan semua milik Naura.

"Aku ... Aku minta maaf Mas. Aku,—" Naura terdiam tak melanjutkan kalimatnya.

Sebenarnya Naura sudah menyiapkan jawaban khusus kalau misalnya suaminya memergoki apa yang dilakukan bersama Fajar. Naura akan mengungkapkan seluruh uneg-unegnya selama berumah tangga bersama Radit. Mengatakan betapa nyamannya ia bersama dengan Fajar

Namun reaksi yang ditampilkan oleh Radit sungguh di luar dugaan. Pria beralis tebal itu justru bersikap seolah tidak ada apa-apa, tenang dan sangat bijak.

Bingung, menyesal atau mungkin merasa bersalah. Hanya Naura sendiri yang mampu menggambarkan perasaannya saat ini.

"Mas, apa Mas nggak pengin tahu alasanku?" tanya Naura disambut gelengan kepala suami yang kini akan menjadi mantan.

Radit memandangi Naura dengan tatapan yang bersahabat. Menyentuh pundak wanita ramping itu dengan lembut dan berkata,—

"Naura, maaf aku tak ingin tahu lebih lanjut tentang hal ini. Aku hanya tahu kalau kamu terlihat nyaman bersamanya."

"Kenapa, Mas?"

Radit hanya menghela napas panjang mendengar pertanyaan Naura. Jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini, tentu saja hancur sehancur-hancurnya. Pria mana yang tahan melihat istrinya tidur dengan pria lain di depan mata kepala sendiri.

Bukan Radit tak peduli akan istrinya. Ia hanya tak ingin hatinya semakin terluka mengetahui alasan perselingkuhan wanita berambut panjang itu.

Bagi pria berambut klimis itu, sudah jelas kalau istrinya sudah tak nyaman bersamanya. Terlihat dari bagaimana Naura tak berusaha mencegahnya mengembalikan pada mertuanya. Tak terlihat pula keinginan Naura berusaha untuk memperbaiki rumah tangga mereka.

"Naura, Mas minta maaf selama menjadi suami, Mas belum bisa membahagiakanmu."

Naura hanya memandang pria di hadapannya yang kini mulai mengangkat kopernya keluar rumah, kemudian berjalan mengekor. Setelah menyimpan koper di bagasi, Radit pun duduk di balik kemudi menunggu dirinya untuk masuk.

Sampai saat ini Naura belum juga bisa memahami sikap suaminya yang tetap tenang. Namun dari sorot mata Radit ia tahu kalau suaminya memang terpukul dengan kejadian itu. Delapan tahun pernikahan cukup membuat Naura tahu bagaimana karakter suaminya itu.

                         ***

Kedua orang tua Naura tampak heran melihat putrinya datang dengan membawa kopor yang dulu dipakai saat meninggalkan rumah untuk menikah dengan Radit.

"Ada apa ini?" tanya Rustam, ayah Naura.

"Mmm begini Pa, kedatangan saya bersama Naura kemari karena,—" Radit menghentikan kalimatnya dan menoleh ke arah Naura sambil mengangguk dan meminta persetujuan.

"Bilang saja, Mas," ucap Naura.

Setelah menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata sejenak, Radit pun mengatakan pada kedua orang tua Naura. "Maafkan saya Pa, saya bermaksud untuk memulangkan Naura pada Papa dan Mama.”

"Jadi kalian mau berpisah?" tanya Ayah Naura.

"Maafkan saya Pa, saya telah gagal menjadi panutan untuk Naura," kata Radit.

"Tapi kenapa?"

"Mungkin Naura yang bisa menjelaskannya," jawab Radit menoleh pada Naura.

Ia tak ingin menjelekkan wanita yang sudah delapan tahun ia nikahi. Karena itulah ia ingin mertuanya mendengar dari versi putri mereka.

"Saya mencintai pria lain," jawab Naura yang sekali lagi membuat kedua orang tuanya terkejut. Keterkejutan mereka pun semakin bertambah saat Naura menceritakan kronologi kejadian hari ini.

"Apa Naura? Bisa-bisanya kamu melakukan itu. Mau ditaruh dimana muka Papa, Nak?" ungkap Pak Rustam geram sementara Naura hanya bisa diam. Saking marahnya pria itu sampai mengangkat tangannya hendak memukul Naura.

“Sudah Pa, sabar! Tidak perlu seperti ini!” ucap Radit mencegah mertuanya untuk memukul Naura. Sementara Naura menutupi wajahnya dengan kedua tangan menghindar tamparan ayahnya.

Radit pun mengambilkan air putih kemasan yang memang ada di meja dan memberikan pada Pak Rustam untuk meredam emosi. “Tenang Pa … tenang. Kita tak perlu emosi menghadapi masalah ini, nanti urusannya bisa melebar kemana-mana.”

"Nak Radit, Papa selaku orang tua Naura meminta maaf padamu. Terus terang Papa malu dengan perbuatan Naura,” kata Pak Rustam setelah merasa emosinya lebih tenang.

"Saya yang minta maaf Pa, karena saya tidak bisa menjadi seorang suami yang baik untuk Naura."

"Jelaslah Naura milih laki-laki lain. Ngapain juga hidup lama-lama sama laki-laki mandul seperti kamu," Kali ini Bu Fatma, Ibu Naura yang kurang suka pada Radit pun berkomentar.

"Maafkan saya Ma!" jawab Radit menunduk.

"Ma!" cegah Pak Rustam agar istrinya diam saja.

"Apa sih Pa. Malah bagus kan kalau mereka bercerai. Apa bagusnya Naura hidup dengan laki-laki nggak berguna ini. Lihat saja bagaimana dulu dia pernah nyusahin Naura dengan tidak memiliki pekerjaan. Kalau Naura milih laki-laki lain ya itu namanya waras."

"Tapi Ma, Naura melakukan itu saat ia masih sah menjadi istri dari Radit."

"Kalau gitu cerai saja, tapi ingat Radit! Rumah yang kalian tempati itu ada haknya Naura! " tambah Bu Fatma.

"Nggak bisa donk Ma, Mas Radit beli rumah itu kan waktu belum nikah sama Naura," cergah Naura.

"Eh Naura, yang namanya sudah nikah ya harta bersama. Lagipula dia kan dulu sempat numpang hidup sama kamu!" tambah Bu Fatma.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED