Ular hijau yang membawa seekor tikus berjalan menuju ke sebuah gua. Di sana berkumpul beberapa ekor ular hijau lainnya. Seketika mereka berubah wujud menjadi humanoid.
"Ih, menjijikkan sekali. Kenapa pula aku harus berpura-pura memangsa tikus," kata perempuan itu. Rasanya ingin sekali memuntahkan isi perutnya.
"Memangnya kenapa, Dinda?" tanya sesosok lelaki.
"Kakanda, aku tadi melihat sosok orang yang bisa mengendalikan pisau kembar tersebut. Untung saja dia tak menebas leherku," tanya orang yang dipanggil Dinda.
"Siapa orang itu?" apakah dia kuat?" tanya seseorang yang lebih tua.
"Kelihatannya tidak, atau malah bisa dikatakan lemah. Tapi dia itu sangat sakti. Pisau yang dilemparnya bisa kembali dengan mudah," kata perempuan itu.
"Jangan-jangan dia Main, seorang yang selamat dari kematian," kata orang yang tertua itu.
"Ayahanda, aku ini tak bermain. Aku ini sungguh-sungguh. Dia itu sangat sakti," kata perempuan.
"Namanya Salamain, dia bisa dikatakan anak ajaib. Kalian berdua jangan pernah terlihat masalah apa pun dengan Salamain, dia sosok yang tenang tapi lebih mematikan daripada apa yang kita lihat," kata orang yang dipanggil ayah tersebut.
"Baik, kami mengerti."
***
"Saudaraku, calon mertuaku meminta hal yang aneh. Mereka menginginkan sebuah kekayaan. Karena itulah aku memilih mundur," jawab Raka.
"Yang sabar ya, aku juga belum punya calon," kata Main.
"Main, kau tinggal di sini dulu sebelum rumahmu kami perbaiki," kata Sambodo.
"Terima kasih banyak," kata Main.
Malam hari telah tiba. Sinar mentari kini berganti dengan rembulan. Meski wujudnya masih setengah tapi itu sudah lebih dari cukup untuk Main. Di bawah sinar rembulan Main keluar sendirian. Indera khusus yang dimilikinya mengiring pada sebuah tempat. Bukan rumah yang dia tuju tapi sebuah perkebunan. Sesosok bayangan hitam muncul dari arah belakang. Sebuah serangan dilancarkan bayangan tersebut. Dengan sangat mudah Main menghindar. Main berbalik arah dan menatap bayangan tersebut.
"Siapa kau? Dan apa perlumu?" tanya Main.
"Aku hanya perlu sepasang pisau yang kau miliki," kata si bayangan yang terdengar seperti suara perempuan.
"Berapa lama kau memerlukannya?"
"Selamanya."
Main berkonsentrasi dan mengerluarkan pisau keramik yang dia bawa sebagai cadangan. "Silahkan, ambil ini. Aku tak mau ada masalah dengan ras kalian." kata main sambil melempar pisau yang tertutup.
"Tak kusangka semudah ini. " Dua buah pisau dia ambil bayangan perempuan itu. Saat diamati pisau mirip dengan mainan." Main, aku tahu namamu Main. Bukan berarti kau harus main-main," katanya dengan geram. Amarah di dalam dirinya memanas. Pisau keramin yang dia pegang path menjadi dua bagian.
"Kau bilang pisau kembar milikku. Ya itu yang kupunya dan kuberikan," kata Main dengan santainya.
"Kau ini, berani memainkan aku!" teriaknya dengan penuh amarah. Dua buah pedang telah ada di tangannya. Kini si bayangan menyerang Main.
Dengan berkonsentrasi Main memanggil kedua pisau kembarnya. Serangan dari si bayangan perempuan mampu di tahannya. Si bayangan mundur sedikit, pola dari serangannya dia rubah. Pisau yang dipegang Main bercahaya dan mampu menahan segala serangan dari si bayangan. Adu pedang cahaya dan kegelapan mereka lakukan. Tapi Main kalah tenaga dan cepat capek. Sedikit demi sedikit Main terdesak mundur ke belakang. Sebuah pisau dia lemparkan. Tentu saja si bayangan dengan mudah menghindar. Tiba-tiba Main menghilang dan berpindah ke belakang si bayangan. Sebuah sabetan membuat si bayangan terluka parah di punggungnya.
"Argh!" teriak si bayangan. Dia terjatuh ke tanah. Tiada kata menyerah baginya. Denagan memutar tubuhnya dia kembali melancarkan serangannya. Sebuah sabetan dari pedang misterius dia gunakan. Tapi sekali lagi Main bisa menghindarinya dengan berteleportasi lewat pisau. "Bocah, jangan permainkan aku!" teriaknya.
Sebuah pisau terbang di sebelah kiri si bayangan. Sesaat dia bisa melihat benda itu. Tapi tiba-tiba Main datang dan langsung menyabetkan pisaunya. Kulit lengan atas si bayangan tergores dengan cahaya dari pisau tersebut. Meskipun tak membuat putus tapi mengakibatkan luka yang serius. Pakaian hitam yang digunakan untuk menutupi jati diri menjadi robek. "Argh!" teriaknya merasakan irisan cahaya pisau. Rasa sakit masih saja ditambah dengan tendangan dari Main. Pedang bayangan jatuh ke tanah.
Lagi-lagi si bayangan terkapar di tanah. Sebuah pisau melayang di depannya. Main muncul secara mendadak tapi kali ini si bayangan telah siap. Sebuah tendangan dia lancarkan. Alhasil Main terkena tendangan dan terpental ke belakang. Kini giliran Main terkapar di tanah. Si bayangan melompat tinggi dan menyerang dengan pisau cadangannya. Ketika sampai di tanah tiba-tiba sosok di depannya menghilang. Main telah berpindah ke tempat yang jauh.
"Huh, hampir saja kena," kata Main dengan leganya.
"Kau ini!" Si bayangan kembali lagi menyerang Main.
Tiada kata ketakutan pada Main. Kali ini pisau dia lempar ke arah kanan dan kiri. Tanpa persenjataan Main membentangkan tubuhnya. Tentu saja hal ini membuat si bayangan merasa senang. Dengan penuh senyuman dia menusukkan pisau yang dibawanya. Pisau tinggal satu centimeter dari tubuh Main tapi terlebih dahulu Main menghilang. Secara mendadak Main muncul di kiri si bayangan. Arah serangan berubah ke kiri. Tapi Main menghilang dengan pisau yang dibawanya. Dengan muncul kembali di belakang si bayangan Main menebaskan pisau bercahayanya. Dua garis luka tergambar di punggung si bayangan. "Arg!" teriaknya merasakan irisan pisau yang perih. Main mendendangnya hingga dia terjatuh dan tak kuat lagi berdiri.
Si bayangan telah kalah. Main memilih untuk meninggalkan si bayangan. Punggungnya dia pegang, rasa sakit masih dia alami. Dengan berjalan agak terseok-seok dan napas yang ngos-ngosan Main kembali pulang ke rumah Della.
***
Mentari baru saja menampakkan cahayanya. Para petani mulai berangkat ke tempat biasa mereka menggantungkan hidup pada tumbuhan yang mereka tanam. Tapi kali ini ada sedikit kejanggalan yang terjadi. Tanaman yang berumur kurang dari seminggu menjadi mati karena terinjak-injak. Jejak bekas petarungan mash saja membekas di sana. Dua buah pedang aneh mereka temukan. Bekas darah juga masih tampak jelas. Sesosok perempuan yang terluka menjadi fokus penglihatannya mereka. Beberapa bagian baju robek terkena serangan.
"Siapa yang tega melakukan semua ini?" tanya seorang petani pada dirinya sendiri.
Dilihatlah wajah perempuan tersebut. Ternyata dia bukanlah manusia. Kulit sedikit bersisik dengan mata berwarna hijau membuah para petani kaget. "Dia bukan manusia!" teriaknya.
"Mas, yang penting dia itu perempuan. Kita pemanasan dulu sebelum bekerja. Ada yang mau bergiliran bermain dengannya," kata seorang dengan wajah penuh nafsu.
***
Della sudah berhias dengan cantik. Sebuah tas dia bawa, dompet yang berisi uang dimasukkannya di dalam tas. Terlihat di ruang tamu Main sedang berbincang dengan Raka. "Mas-mas ganteng, aku mau ke pasar. Siapa yang mau ikut?" ajaknya.
"Mau jalan atau naik motor?" tanya Raka.
"Naik motor," jawab Della.
"Aku mundur. Aku tak pernah bisa naik motor," kata Main.
"Wah, kalau aku sedang repot. Motornya aku pakai untuk bekerja," alasan Raka.
"Kalau begitu aku jalan kaki saja," kata Della.
"Aku ikut, kapan lagi berjalan dengan saudariku yang cantik ini," kata Main.
"Mas bisa saja."
Jalan di depan rumah Della sedang ramai. Banyak orang lalu lalang lewat di sana. Bersama dengan beberapa orang Main dan Della ikut menuju ke pasar. Sayang waktu itu aliran sungai sedang deras. Jembatan yang ada masih rusak. Hampir semua orang memilih untuk berputar arah. Della hendak melakukan itu tapi tangannya digenggam Main.
"Mas, ada apa? Kita lewat sana saja," kata Della.
"Atau kita terbang saja," kata Main.
"Caranya?"
Dengan berkonsentrasi kedua pisau secara mendadak muncul di tangan Main. Salah satu diberikan kepada Della.
"Mas, jangan bercanda. KIta tak perlu bunuh diri segala," kata Della.
"Siapa yang suruh? Pegang dengan erat pisau itu dan jangan sampai terlepas," kata Main.
"Buat apa?" tanya Della.
"Begini." Pisau yang dipegang Main menyala terang. Dengan berkonsentrasi pisau bisa mengangkat tubuh main seolah-olah main bisa terbang melayang di angkasa.
"Wow, hebatnya." Della telah yakin dengan ucapan Main. Kini pisau dipegang dengan erat.
Konsentrasi dan memusatkan pikiran dilakukan Main. Sedikit demi sedikit keduanya melayang. Secara perlahan Main dan Della maju sedikit demi sedikit. Derasnya arus sungai yang berada di bawahnya sempat Della lihat dan membuatnya ketakutan. Memejamkan mata menjadi pilihannya.
"Della, kita sudah sampai," kata Main.
Sedikit demi sedikit kelopak mata Della buka. Kakinya telah menginjak bumi, tega rasanya. Rasa takut kini telah hilang. "Mas, lain kali kalau mau mengajak terbang bilang dahulu. Aku malu pakai rok mini. Untung saja tak ada orang yang melihat dari bawah," katanya.
"Lihat itu," tunjuk Main pada beberapa lelaki yang sedang menambang pasir dan batu di sungai.
Rasa malu tak karuan hinggap di hati Della. Wajah cantik kini merona. Tiada lagi daya Della untuk menahan rasanya. Paras wajah ditutupinya. "Mas, kenapa tak bilang sejak tadi," katanya.
"Aku lupa jika ada orang di sana, hehehe," tawa kecil Main. Tangannya dijulurkan ke arah Della. "Mana pisaunya," pintanya.
Dengan keadaan wajah masih tertutup tangan Della membrikan pisau yang dia pegang. Rasa malunya belum hilang.
Kedua pisau telah berada di tangan Main. Niat hati dengan berkonsentrasi penuh untuk mengembalikan pisau. Tapi setelah sekian lama pisau tak hilang juga. Lho, kok tak bisa?" tanyanya sendiri dengan penuh kebingungan.
"Kenapa, Mas?" tanya Della.
"Pisau ku tak mau hilang. Ah, sudahlah." Main membuang pisaunya ke dalam sungai.
Masih dengan wajah tertutup Della berjalan bersama dengan Main. Segerombolan pemuda dengan wajah sangar duduk di sana. Beberapa botol minuman berserakan tak karuhan di dekat mereka.
"Sis, main dengan kami. Sebentar saja," kata seorang pemuda. Terlihat dari omongannya seperti sedikit mabuk.
"Maaf Mas, aku sedang sibuk," kata Della. Bersama dengan Main dia lewat saja.
Kesadaran pemuda itu hampir tiada. Botol minuman yang ada di tangannya di buang. Dipegang tangan Della yang masih menutupi wajah malu. Terlihat kembali wajah cantik Della.
"Kau cantik juga. Temani kami, sebentar saja," kata pemuda itu. Pegangannya semakin kuat.
"Lepaskan aku." Della berusaha memberontak tapi tak bisa. tenaga yang dia miliki tak sepadan dengan pemuda tersebut.
"Mas, kau tak boleh begitu. Jika tak mau jangan memaksa," kata Main.
"Bro, jangan ganggu temanku," kata pemuda yang lain.
"Dan jangan juga ganggu saudariku," balas Main.
"jadi kau saudaranya. Jadi saudara jangan pelit atau...," kata ketua pemuda itu.
"Atau apa?" tanya Main.
"Kami habisi nyawamu." Ketua para pemuda nakal itu mengeluarkan pisau. Para anggota lain melakukan hal yang sama. Benda kecil nan tajam telah bermain di sekitar tangan mereka. Sesekali kilauan cahaya matahari memantul dan menyilaukan mata.
"Aku sebenarnya malas meladeni kalian." Dengan berkonsentrasi pisau cahaya kembali di tangan Main.
Tangan pemuda yang masih memegang tangan Della ditusuk Main dengan sekuat tenaga. Bagian cahaya perpanjangan ketajaman pisau tembus tangan pemuda terbut. Darah keluar di sekitaran pisau. rasa sakit sanagt menusuk hati. genggaman pada tangan Della terlepas. "Argh!" teriaknya merasakan kesakitan yang luar bisa. Tangan yang terluka dipegang, Pisau masih menancap dan darah masih mengalir.
"Kau ini! Berani malaulai temanku!" teriak sang ketua pemuda. Semua serangan dia lancarkan.
Dengan tangan gemulai Main menahan serangan dari ketua pemuda. Menyingkir dari petarungan menjadi pilihan bagi Della. Serangan ketua pemuda mengarah ke tempat lain. Secepat mungkin Main menahan serangan itu. Keduanya saling adu pisau. Meski kalah tenaga tapi pisau bercahaya menambah radius serangan Main. Perut ketua pemuda terisi cahaya. Rasa sakit tak bisa dia tahan lagi. jatuh terkapar di tanah akibat luka parah dan darah yang keluar sangat banyak.
Geram rasa hati pemuda lain. tak mau kalah dengan seorang yang dia remehkan dengan serentak mereka menyerang Main. dari berbagai arah serangan dilakukan. Tapi ketika pisau telah dekat tubuh Main tiba-tiba Main menghilang. Rasa heran menyelimuti para pemuda tersebut.
Rupanya Main berpindah ke dekat pemuda yang terluka. Pisau dia cabut dan pemuda itu ditendangnya. Si pemuda berjatuh ke tanah. Lengkap sudah kedua pisau cahaya milik Main. Dengan genggaman yang kuat pisau mengeluarkan cahaya hingga panjangnya menjadi sekitar satu meter. "Aku tak mau ada yang terluka lagi. Sebaiknya kita akhiri saja semua ini dan kita hidup seperti biasanya," kata Main.
"Tak akan pernah!" Para pemuda berlari ke arah Main. Serangan demi serangan mereka lakukan. Dentingan demi dentingan bunyi adu besi terdengar sangat nyaring dan jelas di telinga Della.
Keadaan Main sedikit terdesak. Serangan bertubi-tubi membuat tenaga Main semakin terkuras. Dipandang dari jarak jauh masih ada sebotol minuman mineral. Sebuah pisau dia lempar. Tiada satu pun mengarah pada sasarannya. Lagi-lagi Main menghilang dan kini mucul di dekat botol mineral. "Maaf Mas-mas semua, aku haua. Aku minum dulu, ya." Botol air mineral dibukanya dan air yang terkandung di dalamnya mengisi butuh Main. Botol plastik yang telah kosong dibuangnya. Kini tenaga dan stamina sedikit pulih.
"Kau ini, serbu!" Para pemuda berbalik arah dan langsung menyerang ke tempat Main berada.
***
Luka yang parah membuat ketua pemuda kilaf. Dengan tekad yang bulat dia merangkak ke sebuah tas. Patung replikasi monster dia keluar. Darah segar masih ada di perut pemuda itu. Kini patung diolesi darah tersebut. Warna merah mata patung tiba-tiba menyala.