Bab 1

Dalam perjalanan ke kantor sosok Dean sedang mengarahkan pandangannya ke arah jendela mobil. Bias kaca yang gelap membuat pria berambut cokelat dan pemilik mata abu-abu yang indah itu merangsang pikirannya tentang masalalunya yang suram.

"Jangan pikir kamu bisa lolos, Eduardus Oxley. Sampai kapanpun aku akan membalas semua perbuatanmu. Karena kau telah membuat dua wanita yang paling aku cintai meninggal, aku berjanji ... aku akan___"

Drttt... Drttt...

Getaran ponsel membuat Dean menghentikan pikirannya. Ia mengambil benda pipih itu dari saku jas hitamnya yang mahal lalu menatap layar. Mata abu-abunya yang tadi begitu tajam kini berubah cerah ketika melihat nama si penelepon.

"Halo, Mami?"

"Dean," sapa wanita dari balik telepon, "Apakah kamu sudah bertemu gadis itu? Bagaimana keadaannya, Dean? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia kurus, gemuk atau ___"

"Mami," sergah Dean, membuat wanita itu menghentikan ucapannya. Ia tersenyum dan berkata lagi, "Aku belum bertemu gadis itu, Mam. Mungkin hari ini aku akan bertemu dengannya."

"Oh, Dean, aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku benar-benar merindukannya, Dean."

Dean terkekeh. "Sabar ya, Mam, pasti ada saatnya Mami akan bertemu dengannya. Mami masih ingat kan apa yang dikatakan ibunya?"

"Iya, aku masih ingat, bahkan sangat ingat. Dan itu sebabnya aku rela menahan rindu sampai saatnya tiba. Tapi kali ini aku ...." Wanita di balik telepon itu menghentikan suaranya.

"Tapi apa, Mam?"

"Tapi kamu harus berjanji dulu."

"Janji apa, Mam?" tanya Dean.

"Kamu harus berjanji padaku, ketika dia sudah bertemu denganmu nanti janganlah kau menyiksanya. Jangan kejam-kejam kepadanya, Dean."

Dean lagi-lagi tertawa. "Aku janji, Mami. Lagi pula aku tidak mungkin bisa bersikap kejam padanya. Jika aku berani melakukan hal itu roh ibunya pasti akan datang dan menggangguku setiap malam."

Wanita di balik telepon itu tertawa. "Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu, Dean. Kau juga harus menjaga gadis itu jika kau sudah bertemu dengannya."

"Tanpa Mami memberitahu aku pasti akan menjaganya. Mami tenang saja."

"Kamu benar-benar anak andalan kami. Ya, sudah, sampai jumpa lagi."

Tut! Tut!

Di sisi lain.

Kensky berjalan santai di atas trotoar. Keindahan kota New York di pagi hari membuat wanita pemilik rambut panjang yang warnanya cokelat kehijauan ini tampak bahagia. Karena tidak memiliki kendaraan, Kensky lebih senang berjalan kaki di pagi hari untuk menghirup udara bersih yang belum terkontaminasi polusi.

Drtt... Drtt...

Suara telepon bergetar membuat Kensky segera meraih benda itu dari dalam tasnya. Sambil terus berjalan tanpa melihat genangan air yang berada tak jauh di hadapannya, Kensky kini menyambungkan panggilan itu. "Halo, Tan?"

"Kamu di mana, Kensky? Kamu akan datang ke apartemenku pagi ini, kan?"

Kensky menepuk dahinya. "Astaga, aku lupa. Maafkan aku Tanisa, saking sibuknya aku lupa memberitahukannya kepadamu."

"Soal apa, Kensky?"

"Soal lamaran kerja yang aku ajukan tempo hari di perusahan yang kau referensikan."

"Aku ingat, terus?"

"Aku sudah diterima dan pagi ini aku akan menghadiri wawancara di kantor itu."

"Benarkah? Aku ikut senang, Sky. Lalu, di mana kamu sekarang? Kenapa ada suara kendaraan yang lewat?"

"Aku sedang berjalan kaki menuju kantor itu. Jam sembilan nanti wawancaranya akan dimulai."

"Jam sembilan? Ini masih jam tujuh, Kensky." Terdengar tawa Tanisa dari balik telepon.

"Memang. Tapi aku sengaja pergi lebih awal, karena aku ingin mampir ke Bebbi Caffe dulu untuk sarapan. Mungkin setelah wawancara aku akan ke apartemenmu dan____"

Byur!

Cipratan air kotor itu kini membasahi tubuh, rambut, dan ponsel Kensky. Air yang berwarna cokelat itu bahkan berhasil masuk ke mulut Kensky saat sedang terbuka.

Kensky segera memuntahkan air itu. "Sialan!" Ia berteriak dengan suara keras. Dilihanya sebuah mobil hitam baru saja melewatinya. Kensky ingin berkomentar, tapi pikirannya kini tertuju kepada sahabatnya. Dengan cepat Kensky menempelkan kembali ponselnya ke telinga dan tak memperdulikan mobil itu.

"Halo, Tan? Halo?" Kensky menatap layar ponsel yang sekarang berwarna hitam. Dalam hati ia berkata, "Kenapa tidak ada suara, ya?" Kensky menekan tombol kunci untuk menyalakan layar, tapi tidak bisa. Ia menekan lama dan ternyata ponselnya mati total.

Kensky kembali mengingat daya batrei yang dilihatnya terakhir kali. "Perasaan dayanya penuh." Saking penasarannya Kensky kembali menekan tombol samping untuk menyalakannya, tapi hasilnya sama. Mati. "Sial!" dia berteriak keras, "Jangan bilang kalau ponselku rusak, Tuhan. Aku tidak punya uang untuk membelinya."

Mata Kensky kini menatap pada dirinya sendiri. Rok hitam ketat dan licin yang panjangnya sampai paha itu sudah basah. Kemeja putih berlengan panjang itu pun telah berubah warna menjadi cokelat. Bahkan ia sendiri bisa merasakan jika pakaian dalamnya juga ikut basah.

Kensky ingin menangis. "Ya, ampun, bagaimana ini? Sebentar lagi kan aku ada wawancara," dengan kesal Kensky pun berteriak, "Dasar mobil sialan!"

Tanpa disadari Kensky ternyata mobil itu sudah lama berhenti di dekatnya. Sosok dari balik kemudi pun keluar dan membuka pintu di bagian belakang.

Kensky terdiam. Tatapannya terfokus pada lelaki bertubuh jangkung dan kekar. Lelaki itu turun dari mobil, rambutnya yang cokelat dan tampilannya yang berantakan terlihat memukau saat terkena sinar matahari pagi.

"Ya, Tuhan," teriak Kensky dalam hati. Lututnya nyaris lemas saat lelaki itu berbalik, "Dia sangat tampan," puji Kensky saat melihat rahangnya yang tegas dan kokoh itu memiliki janggut.

Mata abu-abu lelaki itu menatap tajam. Dengan langkah gontai ia mendekati Kensky lalu berkata, "Apa katamu tadi?" tanyanya pelan.

Suara lelaki itu berat dan rasanya Kensky ingin pingsan saja, karena tak tahan melihat ketampanan lelaki itu. Namun, perlakuan yang baru saja diterimanya membuat sikap garang Kensky pun seakan tergugah. Tatapannya yang tadi terkagum-kagum, kini berubah garang. "Kataku sialan, kenapa? Supirmu itu telah membuatku basah. Bukan hanya itu juga, tapi ponselku rusak akibat percikan air kotor itu."

"Supirku?" Lelaki itu menoleh ke belakang untuk melihat pria berjas hitam yang kini berdiri di belakangnya, "Apa kau yang telah membasahinya?"

Si supir itu menundukan kepalanya untuk meminta maaf, tapi lelaki yang merupakan pemilik mobil itu menghentikannya dan berbalik menghadapi Kensky lagi. "Dia tidak melihat air itu, Nona! Sama seperti Anda tadi waktu berjalan tanpa menggunakan mata Anda," bentaknya.

Mata Kensky melotot sambil berkacak pinggang. "Ingat ya, Pak. Di mana pun Anda berjalan, Anda harus menggunakan kaki Anda, bukan mata Anda! Lihat," Kensky menunjukan tubuhnya, "pakaianku kotor dan sebentar lagi aku ada wawancara "

Supir itu spontan melangkah maju untuk meminta maaf, tapi lagi-lagi si pemilik mobil menghentikannya, "Apa yang Anda inginkan sekarang, Nona?" tanyanya kepada Kensky.

"Minta maaf dan ganti rugi! Aku hanya ingin kalian mengganti handphone-ku saja," Kensky menunjukkan ponselnya kepada mereka, "Lihat, benda ini sudah tidak bisa hidup lagi," katanya sambil menekan tombol untuk menghidupkan layar yang tidak lagi berfungsi."

"Kau pikir kamu siapa?"

Spontan ia menyebutkan nama, "Kensky, namaku Kensky Revina."

Mata lelaki itu melebar. "Kensky Revina? Kenapa namamu bisa sama dengan calon istriku, ya? Atau mungkin kau adalah calon istriku?" katanya sambil menyeringai.

Kensky tidak terpengaruh. Dia hanya terkekeh dan kembali menatap lelaki itu. "Nama boleh sama, tapi orangnya belum tentu sama, Pak."

"Entahlah, lagi pula aku sendiri belum pernah bertemu dengannya. Tapi dari ciri-ciri kalian berdua sangat mirip," balasnya.

Kensky semakin kesal. Ia tidak suka disamakan dengan orang lain. "Siapapun Anda, aku tidak mengenal Anda. Dan asal Anda tahu, nama saya adalah Kensky Revina Oxley. Mungkin nama depanku bisa sama dengan nama calon istri Anda, tapi nama belakangku tidak mungkin, kecuali kami terlahir dari ayah yang sama."

Lelaki itu terkejut. "Tapi nama kalian berdua sama, nama lengkapnya juga Kensky Revina Oxley."

Kensky balas terkejut. "Itu tidak mungkin!"

"Itu mungkin, Nona. Apa benar nama ayahmu adalah Eduardus Oxley?"

Kensky terdiam lagi. Mulutnya sampai terbuka lebar karena terkejut. "Bagaimana kau tahu nama ayahku?"

Lelaki itu menyeringai. "Kalau begitu tebakanku benar, kan?" Dengan cepat ia mengulurkan tangan, "Perkenalkan, namaku Dean Bernardus Stewart. Aku calon suamimu, Nona Kensky Revina Oxley."

Kensky menggeleng kepala. "Itu tidak mungkin, aku tidak mengenalmu."

Dean semakin mendekati Kensky lalu berbisik, "Ayahmu sudah menjodohkan kita sejak kecil," Dean mundur beberapa langkah untuk menjauhi Kensky. Dengan tatapan menyelidik ia berkata, "Aku tidak menyangka kalau ternyata calon istriku begitu cantik dan ...," Dean kembali mendekati Kensky dan berbisik, "sangat menggairahkan."

Bola mata Kensky yang berwarna gold itu melotot. "Apa katamu?!" Dia meraih sepatu flatnya dan memukuli tubuh Dean, "Dasar laki-laki mesum. Aku bukan calon istrimu! Aku tidak mengenalmu dan ayahku tidak pernah menjualku kepada lelaki sepertimu."

Teriakan Kensky mengundang orang untuk menatap mereka. Dean yang memanfaatkan kesempatan itu dengan sigap menyambar sepatu Kensky hingga gadis itu semakin kesal.

"Kembalikan sepatuku!"

"Kau cukup berisik juga, ya?" Dean menarik sepatu itu dari Kensky dan melemparkannya ke tengah jalan, "Ambil sana jika kamu mau."

Dengan kesal Kensky berlari ke tengah jalan untuk mengambil sepatunya. Dan ketika dia berhasil mengambil sepatunya, dia berbalik lalu melihat mobil Dean sudah hilang. "Dasar orang gila! Beraninya dia mengaku-ngaku sebagai calon suamiku!"

Bersambung___

Bab 2

Kensky terpaksa memutar jalur. Tidak punya cukup waktu untuk kembali ke rumahnya lagi dan berganti pakaian, ia akhirnya berjalan menuju apartemen Tanisa yang kebetulan tidak jauh dari kejadian itu.

Ting! Tong!

"Semoga saja Tanisa ada di dalam," lirih Kensky. Ia hendak menangis melihat kondisinya yang begitu kotor. Seandainya pagi ini tidak ada wawancara, mungkin ia tidak akan sepanik ini. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menjadi staf di perusahan ternama itu.

Ting! Tong!

Kensky menekan bel itu lagi dan tidak butuh waktu lama, sosok dari dalam pun muncul.

Clek!

"Kensky!" Tanisa terkejut melihat sahabatnya yang kini terlihat kotor dan basah, "Apa yang terjadi denganmu?" Meski perihatin akibat apa yang menimpa Kensky, tapi Tanisa tidak bisa menahan tawanya karena melihat kondisi gadis itu.

Dengan wajah malas Kensky menjawab, "Maukah kau meminjamkanku pakaian?"

Tawa Tanisa meledak. Dia tertawa puas kemudian mempersilahkan Kensky untuk masuk. Dia berjalan mendahului Kensky untuk mengambilkan handuk. "Bersihkan tubuhmu di kamar mandi, biar aku yang akan menyiapkan pakaian untukmu."

Kensky menurut. Gadis yang bertubuh mungil dan berkulit putih itu berjalan menuju kamar mandi. Tanisa yang ternyata adalah sahabat dekatnya itu memiliki rambut hitam dan berkulit eksotis. Ia tidak kuasa menahan tawa melihat tubuh Kensky dan rambut panjang indah yang biasanya rapi kini lemas dan kotor.

Kensky pun keluar dari kamar mandi. Bagian tubuhnya yang tidak ditutupi handuk itu kini terlihat bercahaya. Rambutnya yang panjang dan kotor tadi pun sudah bersih, wangi dan terbungkus handuk berwarna putih.

"Apa yang membuatmu seperti ini? Apakah percakapan kita di telepon begitu serius, sehingga kau tidak melihat jalan dan jatuh ke parit?" tanya Tanisa. Lagi-lagi ia tak bisa menahan tawa setiap kali mengingat penampilan sahabatnya saat pertama kali muncul di depan pintu.

Sambil mengeringkan diri dan mulai memakai pakaian dalam yang disediakan Tanisa Kensky mulai bercerita, "Saat aku sedang berbicara denganmu di telepon tadi, tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju melewati dan melindas genangan air yang ada di sepanjang jalan. Akibat kejadian itu, tubuhku basah dan handphone-ku rusak."

Tanisa tertawa. "Ya, Tuhan, kamu pasti sangat malu," ekspresinya berubah, "Tapi kenapa ponselmu bisa rusak?"

Kensky mulai mengancingkan kemeja putih yang berlengan panjang. "Waktu bicara tadi aku menempelkan ponsel ke telinga kiriku, sedangkan air itu menyembur dari arah kanan. Kau tahu, air itu bahkan lolos masuk ke dalam mulutku, Tanisa."

Tanisa tertawa lagi. "Ya, Tuhan, Kensky ... harimu ini benar-benar sangat buruk." Gadis itu tertawa terbahak-bahak.

"Entalah, tapi sebaiknya kamu tidak mengatakan bahwa hari ini adalah hari buruk. Jika hari ini buruk, mungkin aku tidak akan ada jadwal wawancara hari ini."

Tawa Tanisa perlahan berhenti. Ia menatap Kensky yang sudah mengenakan kemeja putih polos dan rok hitam ketat yang panjangnya di atas lutut. Mereka memang memiliki tubuh yang sama. Ukuran underware pun sama, hanya saja Tanisa sering memakai bra yang lebih besar dari aslinya, sehingga dadanya terlihat lebih berisi. Dan saat mata Tanisa menatap dada Kensky, ia nyaris terbahak. "Pakai silikon, ya?"

Kensky melemparkan handuk setengah basah itu ke wajah Tanisa. "Silikon, memangnya kamu yang terobsesi ingin memiliki dada besar. Seandainya tidak ada wawancara hari ini, aku tidak akan mau memakai dalamanmu yang besar ini," Kensky berkata kemudian berjalan menuju mereka rias.

Tanisa pun tertawa sambil terus menatap gadis itu. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya, apa mobilnya tidak berhenti? Apakah pemilik mobil itu tidak bertanggung jawab?"

Kensky menceritakan pertengkaran antara dirinya dan Dean sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Calon suami?" tanya Tanisa dengan nada heran, "Kenapa dia bilang begitu?"

Kensky mengangkat bahu. "Aku sendiri tidak tahu, tapi seperti itulah yang dia katakan. Dia bahkan menyebut nama lengkap ayahku dengan benar. Aneh, bukan?"

Tanisa berdiri di depan Kensky. "Aneh, tapi kenapa tebakannya bisa benar, ya? Atau mungkin benar apa yang dia katakan, bahwa ayahmu telah menjodohkan kalian?"

Kensky mengambil sikat rambut dan mulai menyisir rambutnya yang setengah basah. "Entahlah, tapi kurasa dia hanya mengada-ada. Jika benar aku telah dijodohkan, ayahku pasti sudah mengatakan itu sejak lama. Dia juga pasti akan melarangku melakukan ini dan itu, tapi kenyataannya tidak. Ayah bahkan tidak pernah membicarakan masalah itu denganku."

"Iya, tapi kalau dipikir-pikir tidak mungkin dia bisa menebak namamu dengan lengkap dan benar. Begitu juga saat dia menyebut nama ayahmu dengan lengkap dan benar. Aku rasa dia memang sudah mengenal kalian, Sky."

"Sudahlah Tan, aku tidak mau memikirkannya. Biarkan ayahku yang mengurusnya. Aku tidak ingin berkencan atau menikah muda. Lelaki itu memang tampan, bahkan wanita manapun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta, termasuk aku. Tapi aku tidak ingin mengambil pusing, aku punya tujuan lain," tatapan Kensky kini mengarah pada Tanisa. Ia menatap sahabatnya itu dari cermin lalu berkata, "Yang aku inginkan sekarang adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Aku ingin menghasilkan uang sendiri, agar nanti aku bisa keluar dari rumah itu dan menyewa apartemen."

"Kau tidak perlu keluar dari sana, Kensky. Rumah itu milik almarhumah ibumu."

"Benar, tapi aku bagaikan di neraka jika harus bertahan di sana. Jadi, lebih baik aku keluar demi mencari ketenanganku sendiri."

***

Dengan wajah cantik dan make-up tipis yang natural, wanita yang usianya sebentar lagi akan mencapai dua puluh tiga tahun itu duduk di ruang tunggu. Ruangan yang tepatnya di lantai sepuluh Kitten Group. Rambutnya sudah disanggul sedemikian rupa agar terlihat mempesona. Lehernya yang putih dan panjang membuat gadis yang ternyata adalah Kensky itu terlihat cantik dan anggun.

Namun sayangnya pikiran yang selalu menghantuinya itu membuat Kensky terlihat jelas bahwa dirinya sedang gelisah. "Ya, Tuhan, bagaimana aku bisa mendapatkan handphone baru? Semoga saja aku bisa diterima di kantor ini, agar nanti bisa membeli handphone baru," katanya dalam hati.

Sejak ibunya masih hidup, Kensky tidak pernah meminta uang kepada Eduardus untuk membeli segala keperluannya. Hal itu dikarenakan sang ibu selalu menyediakan semua kebutuhan dan keperluan Kensky baik dari hal kecil maupun yang sebesar apapun. Kensky sangat berbeda dari anak-anak perempuan pada umumnya, yang lebih dekat dengan orang tua laki-laki daripada orang tua perempuan. Kensky sejak lahir memang sudah dekat dengan ibunya daripada ayahnya. Namun sejak ibunya meninggal, mau tidak mau Kensky harus menjadi pengemis pada ayahnya sendiri untuk membiayai kebutuhannya. Ia bahkan rela diperlakukan hardik oleh ayahnya demi mendapatkan uang jajan. Lebih sangat disayangkan lagi, sejak memiliki ibu tiri yang serakah, uang jajan yang diberikan ayahnya selalu dikorting oleh wanita itu. Kensky kesal dan ingin memprotes, tapi ayahnya justru membela istri barunya itu dan mengancam tidak memberikan uang jajan lagi kalau menjelekan ibu tirinya itu. Dengan kejadian itu Kensky memutuskan untuk hidup hemat dan menabung dua puluh lima persen dari sebagian uang yang ayahnya berikan, karena hanya dengan cara itulah ia bisa memenuhi keperluannya sendiri.

"Kensky, sedang apa kau di sini?"

Suara dari arah belakang membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan menatap sosok si pemilik suara. "Soraya?" ia terkejut, "Kau sendiri sedang apa di sini?"

Soraya adalah saudara tiri Kensky. Dia memiliki rambut panjang dan berwarna cokelat. Dia juga memiliki tubuh yang lebih tinggi dari Kensky dan usia mereka hanya berbeda tiga tahun. Namun, orang-orang mengira usia mereka sangat jauh. Soraya sering merias wajahnya setebal mungkin, sehingga dia terlihat lebih tua jauh daripada Kensky.

Karena penasaran kenapa Kensky ada di kantor itu, Soraya segera mengambil posisi tepat di sampingnya lalu berkata, "Aku ada jadwal wawancara. Kau sendiri sedang apa di sini, hah?"

"Aku juga ada wawancara," balasnya santai.

Soraya terkejut. "Tidak mungkin! Siapa yang menyuruhmu untuk bekerja di sini? Kau itu tidak pantas bekerja di sini, Kensky. Dan sebaiknya kau pulang saja, aku yakin kau pasti tidak akan diterima di perusahaan ini."

Kensky pun dengan santai menjawab perkataan Soraya, "Tidak pantas? Kalau tidak pantas, lantas kenapa mereka menerima pengajuanku dan menyuruhku untuk hadir di sini pagi ini?"

Soraya tertawa seakan mengejek. "Mungkin mereka pikir kau adalah aku. Tapi tidak apa-apa, kau ikuti saja apa yang mereka katakan. Tapi kita lihat saja nanti, kau pasti tidak akan diterima."

"Nona Oxley?" Suara wanita dari arah pintu membuat Kensky dan Soraya sama-sama berdiri.

"Iya, saya sendiri!" Mereka berdua sama-sama menjawab.

Wanita yang merupakan sekertaris Ceo di Kitten Group itu menatap bingung. Dilihatnya lagi berkas yang ada di tangannya itu lalu berkata, "Maaf, ternyata kalian bernama belakang yang sama."

Soraya menyeringai licik, sedangkan Kensky dengan senyum manis menatap sekertaris itu.

"Pemilik nama Kensky Revina Oxley di antara kalian siapa?" katanya sambil menatap Kensky dan Soraya secara bergantian.

"Saya!" Dengan cepat Kensky mengangkat tangan.

"Baik. Ayo, ikut saya."

Soraya menatap kesal karena Kensky mendapat giliran lebih dulu.

Dengan tersenyum puas sambil membetulkan dandannya Kensky pun berkata pada Soraya dengan nada mengejek, "Aku duluan, ya."

Sekertaris itu pun membawa Kensky masuk ke ruangan Ceo, sementara Soraya menatap tajam dan langsung meraih ponsel untuk menghubungi seseorang. Dengan kesal ia kembali duduk dan menunggu panggilannya terhubung.

"Halo?" sapanya begitu panggilan terhubung, "Mama, ternyata Kensky hari ini ikut wawancara juga. Namanya bahkan lebih dulu dipanggil daripada aku."

Suara di balik telepon itu terdengar kaget. "Masa, sih? Memangnya dia mengajukan permohonan di perusahan itu juga?"

"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas jika dia berada di sini, itu berarti dia telah mengajukan permohonan. Mama tidak berniat menikahkan dia dengan Dean, kan?"

Bersambung___

Bab 3

"Kau sudah gila, ya? Mana mungkin mama mencalonkan satu laki-laki untuk dua perempuan."

"Lalu kenapa dia bisa ada di sini? Di waktu yang bersamaan, lagi. Tadi memang dia sempat bilang kalau pihak perusahan ini telah mengirim email kepadanya. Tapi kan aneh, masa jadwalnya harus sama denganku."

"Kau tidak usah khawatir. Meskipun kalian saat ini sama-sama menghadiri wawancara dan memiliki nama belakang yang sama, tapi mama yakin kalau kaulah yang akan diperlakukan spesial di kantor itu. Lihat saja nanti, kau pasti akan mendapatkan posisi yang lebih tinggi daripada Kensky."

"Mama yakin? Tapi pendidikanku kan tidak setinggi dia."

"Memang, tapi status kalian berbeda."

"Status? Maksud Mama?" tanya Soraya.

"Dia kan hanya karyawan biasa, sedangkan kau adalah calon istri dari pimpinan perusahaan. Lagi pula tidak mungkin Dean akan memberikanmu jabatan rendah, sementara kau adalah calon istrinya."

"Tapi kenapa hatiku mengatakan tidak ya, Ma? Aku ragu."

Suara tawa dari balik telepon terdengar. "Kau tidak perlu susah-susah memikirkan hal itu, Soraya, mama sudah mengatur semuanya. Percayalah, sekarang tugasmu hanyalah bekerja di sana dan menuruti semua perintah Dean. Oke?"

"Tapi kalau aku tidak diterima, bagaimana? Apalagi selama ini Dean belum pernah melihatku."

"Kau ini bicara apa, sih? Kau pikir aku membuatmu menunggu lama di sana untuk alasan apa, hah? Dean sendiri yang menghubungi mama tadi dan menyuruhmu agar datang ke Kitten Group untuk diwawancara."

"Iya, tapi buktinya Kensky lebih dulu daripada aku," keluh Soraya.

"Memangnya sekarang jam berapa?"

"Jam sembilan lebih sedikit."

"Ya, sudah, kalau begitu tunggu saja sampai tiba giliranmu. Mama rasa Dean melakukan ini bukan kebetulan, pasti ada tujuan lain sehingga kalian dijadwalkan secara bersamaan."

"Aku tidak mengerti soal itu, yang tahu itu hanya Mama dan Dean."

"Ya, sudah. Kalau begitu sebaiknya kau turuti saja permainan Dean dan jangan membuatnya kecewa, paham?"

"Iya, iya, aku paham." Diputuskannya panggilan telepon karena tak ingin mendengarkan omelan ibunya.

Soraya menarik napas panjang lalu menatap pintu cokelat di mana terdapat papan ukir yang tergantung dan bertuliskan Ceo Room. "Semoga saja apa yang dikatakan mama benar, bahwa aku akan mendapatkan posisi di atas dari Kensky."

Di sisi lain.

"Silahkan duduk, Nona Kensky," perintah si sekertaris saat melihat sang atasan sedang berbicara di telepon, "Setelah menelepon, beliau pasti akan langsung mewawancarai Anda."

Kensky mengangguk paham. "Terima kasih, tapi aku di sini saja." Ia berdiri sedikit jauh dari meja Ceo untuk menunggu sampai sosok berjas hitam yang kini berdiri membelakanginya itu selesai.

"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Semoga berhasil."

Kensky tersenyum lembut. "Terima kasih. Sumpah, aku sangat gugup."

"Tenanglah. Aku yakin Anda pasti akan diterima." Sekertaris itu meremas tangan Kensky yang dingin lalu menunduk pamit.

Kensky pun ditinggal sendirian bersama sosok laki-laki yang masih berdiri di balik dinding kaca. Tubuh tegap lelaki yang tinggi dan kekar itu membuatnya terpana. "Ya, ampun, dari belakang saja dia terlihat tampan, apalagi di depan."

"Baiklah, aku akan menghubungi Mami nanti setelah makan siang."

Tut! Tut!

Dean memutuskan panggilan teleponnya lalu memutar tubuh menghadap peserta wawancara yang pertama.

Zet!

Dean terkejut. "Kau?"

Kensky sama terkejutnya. "Kau?"

Lelaki bernama lengkap Dean Bernardus Stewart adalah Ceo sekaligus pewaris tunggal di Kitten Group. Lelaki yang sering disapa Dean itu kini tertawa sambil menatap Kensky. "Ternyata kita memang jodoh, ya? Tak kusangka kalau kita akan bertemu untuk kedua kalinya pagi ini," ia memborong semua tubuh Kensky yang sudah mengenakan pakaian bersih dan rapi. Tatapannya tajam dari atas hingga ke bawah dan berhenti tepat di dadanya, "Tapi sepertinya ada yang berubah di tubuhmu setelah kejadian tadi," katanya lalu berjalan mengintari meja. Dean berdiri tak jauh dari tubuh Kensky, "Apa kau sengaja menambahkan ukurannya agar aku lebih terpikat dan menerimamu di kantor ini?"

Kensky melihat ke arah pandang Dean. Dan begitu tahu mata lelaki itu tertuju ke arah dadanya, dengan cepat Kensky menutupi dada itu dan berkata, "Ini bukan ukuran aslinya. Aku hanya ...."

Dean lebih mendekatkan dirinya kepada Kensky. Wanita itu terlihat gugup dan Dean menyeringai puas. "Kau tidak perlu menjelaskan, Sayang. Aku akan lebih menyukaimu meskipun bobot tubuhmu berisi."

Mata Kensky terbelalak. "Ini bukan pelindungku! Ukuranku bukan sebesar ini. Aku ...." Saat itulah Kensky sadar akan kata-katanya yang tidak sopan. Ia menelan kembali sisa penjelasannya dan menatap Dean yang sedang menahan tawa.

"Kalau bukan milikmu, lantas itu punya siapa?" Tawa Dean hampir meledak, tapi dengan cepat ia berbalik dan membelakangi Kensky untuk menatap ke luar dinding kaca.

Kensky yang merasa harus jujur pun langsung berkata, "Karena Anda tidak mau bertanggung jawab atas insiden tadi pagi, mau tidak mau aku meminjam kemeja, rok, juga pakaian dalam temanku," Perkataan Kensky sengaja dibuat jelas agar Dean kasihan kepadanya dan mau mengganti rugi.

Dengan cepat Dean berbalik menghadap Kensky. "Kau memakai pakaian dalam temanmu?" tanyanya dengan suara parau dan alis berkerut-kerut.

Kensky menunduk sambil mengangguk sehingga tak sempat melihat senyum Dean yang begitu cepat. "Aku tidak punya waktu banyak untuk pulang ke rumah," katanya pelan. Seandainya ia tak membutuhkan pekerjaan ini, seandainya Dean bukan Ceo di perusahan ini, sudah pasti Kensky tidak akan sudi menjelaskan panjang lebar dan berkata jujur kepada lelaki itu. Ia pun harus memasang muka kasihan agar Dean mau menerimanya, "Jadi mau tidak mau aku terpaksa ke apartemen temanku untuk meminjam pakaiannya."

Dean mendekatinya lagi dan posisi mereka kali ini sangat dekat. "Maafkan aku, Sayang, tapi aku tidak mau calon istriku meminjam atau memakai pakaian milik orang lain."

Spontan Kensky marah dan mendorongnya. "Aku bukan calon istrimu!"

Dean tersenyum. "Baiklah, mungkin ayahmu belum menceritakannya padamu. Tapi sebagai laki-laki yang profesional, aku akan tetap bersikap wajar sampai kau mau mengakui bahwa akulah calon suamimu yang sebenarnya. Oke?"

"Kau gila!"

Tatapan Dean berubah tajam. "Ya, aku gila karenamu, Sky."

Hampir saja Kensky meledakan emosinya, tapi lagi-lagi ia kembali disadarkan oleh pekerjaan yang sangat ia butuhkan itu. "Terserah Anda saja kalau begitu, yang jelas ayahku tidak pernah mengatakan bahwa diriku sudah dijodohkan atau dicalonkan dengan lelaki manapun."

"Mungkin ayahmu sengaja belum mengatakannya karena ingin memberimu kejutan," katanya pelan lalu berjalan mendekati meja, "Baiklah. Karena aku tidak ingin calon istriku berdiri lama, sekarang kita mulai saja."

Mata Kensky mengikuti dan melihat Dean sedang membuka map berwarna biru yang ada di atas meja. Lelaki itu kini membalik-balikan lembaran kertas yang ada di dalam map itu untuk diperiksa. Kensky yakin kalau map itu adalah miliknya.

"Kensky Revina Stewart," ledek Dean lalu mendongak menatap gadis yang kini sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Ia bahkan tertawa melihat ekspresi Kensky, "Maaf, Sayang. Tapi sebentar lagi nama belakangmu akan berubah, dulunya Kensky Revina Oxley dan akan berubah menjadi Kensky Revina Stewart," Dean tesenyum samar, "Atau kau mau disapa Mrs. Stewart?"

Kensky tak menggubris dan tak ingin membatah agar proses wawancaranya cepat selesai. "Bisa Anda mulai saja wawancaranya, Pak?"

Dean tertawa. "Baiklah, Nona Stewart. Selamat, kamu diterima di Kitten Group, besok kau sudah bisa mulai bekerja di perusahaan ini."

Mata Kensky terbelalak. "Diterima? Aku diterima? Tapi Anda belum mewawancarai saya, Pak?"

Dean mendudukan diri lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Ia menautkan kesepuluh jemarinya di atas perut sambil menatap Kensky. "Apa kata-kataku tadi kurang jelas, Sayang? Kalau begitu kemarilah, aku akan membisikannya langsung di telingamu agar semakin jelas."

Mata Kensky melotot. Emosinya nyaris meledak atas ketidaksopanan Dean. Tapi demi pekerjaan penting itu lagi-lagi Kensky harus menahan emosinya. "Tidak perlu. Tapi jika itu benar, aku sangat berterima kasih kepada Anda."

Dean tersenyum samar. "Besok kau bisa mulai bekerja di kantor ini. Kau ingin di posisi mana, menjadi asisten kepala keuangan atau menjadi sekertaris pribadiku?"

Kensky dengan cepat menjawab, "Asisten saja. Aku ingin menjadi asisten di bagian keuangan."

Jawaban terbata-bata Kensky membuat Dean menunduk untuk menahan tawa. "Kau yakin tidak ingin bersama calon suamimu?"

Seandainya bukan Ceo, Kensky pasti sudah melabrak mulut lelaki itu. Ia pun tak ingin membantah soal apa yang dikatakan Dean tentang keterkaitan mereka. Yang terpenting baginya sekarang adalah ia diterima dan resmi bergabung di Kitten Group.

"Lebih baik seperti itu, Pak. Saya ...," Kensky lupa nama lelaki itu. Dilihatnya papan nama dari marmer hitam bertuliskan Dean Bernardus Stewart, "Saya rasa lebih baik seperti itu, Pak Dean. Terpisah ruangan."

Lelaki itu dengan cepat berdiri. Ia berjalan melewati meja dan mendekati Kensky. Ia berdiri tepat di hadapan gadis itu. Jarak yang sangat dekat membuat Kensky bisa menghirup parfum aroma woody dari tubuhnya. Lelaki itu kemudian meraup sebelah pipinya dan mengelus lembut.

Lutut Kensky nyaris lemas. Ditatapnya mata Dean yang begitu indah. Bibirnya yang tipis dan merah begitu menggoda. Rahangnya yang tegas dan berbulu membuat Kensky ingin sekali menempelkan tangannya ke sana. Dalam hati Kensky berkata, "Apa benar ayah telah menjodohkanku dengannya? Ya, Tuhan ... jika itu benar, aku akan sangat senang sekali."

Bersambung___

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED