"Morning, bu Vanya yang cantik jelita, istrinya bapak Dika," sapa aku dengan ceria, ketika turun dari lantai dua.
"Manis banget ucapan kamu, Kak, pasti ada maunya," sahut ibuku tanpa menolehkan kepala kepadaku, sebab sibuk memasak sayur capcay dan menggoreng ikan mujaer kesukaan aku.
Aku menyengir polos menanggapi ibu negara tercinta.
"Nanti kamu naik bus ya, sayang. Ban motor kamu tiba-tiba bocor, setelah bapak cek tadi di garasi." Muka aku yang tadinya ceria, kini mem-poutkan bibir tanda malas harus berdesakan dengan penumpang lain di dalam bus.
"Bapak anterin kakak sampai depan gang," sembur ibu yang tau saja kalau aku ingin di antarkan bapak sampai sekolah, "jangan manja. Arah kantor bapak kamu berlawanan dengan sekolah Tunas Nusantara," imbuhnya terus memberi alasan, agar aku tetap naik bus.
Melirik bapak yang asik membaca koran ditemani teh hangat, aku meminta bantuan kepada beliau supaya mengantarkanku sampai sekolah lewat kode mata. Naas, bapak dan ibu hari ini begitu kompak. Sedari masuk SMK dulu, aku memang di ajarkan supaya mandiri. Motor kesayanganku bermasalah, maka solusinya, ya, naik bus, agar cepat sampai ke sekolahan. Tidak pernah tuh, bapak mengantarku sampai sekolah karena memang kantor beliau berlawanan arah.
"Sarapan dulu, biar kuat berdiri di dalam bus nanti."
Tanpa minat, aku mengambil nasi serta lauk pauk nya. Bahkan ikan mujaer nampak bikin ngiler itu, justru membuatku tidak berselera.
"Pulang dari kantor nanti, bapak akan belikan kebab kesukaan kamu," kata bapak usai menandaskan segelas air putihnya.
Mendengar jajanan favorite disebut oleh bapak, mataku bersinar seperti mendapat emas batangan 100 gram.
"Sama es boba nya juga ya, Pak?" Mendapat respon anggukan dari beliau, aku senangnya bukan main.
"Di kasih hati minta jantung." Bahkan, saking senangnya, aku tidak mempermasalahkan sindiran halus ibu barusan.
Seperti biasa saat motorku bermasalah, bapak memberhentikkan mobil putihnya di depan gang komplek. Menyalimi tangan beliau takdzim, aku mengucap salam dan mulai turun dari mobil.
Kaca jendela yang dibuka perlahan oleh bapak, mengurungkan niatku menyeberang jalan raya, "Hati-hati di jalan. Kalau bisa kamu harus dapat kursi kosong, jangan sampai berdiri sampai sekolahan." Jarak rumahku ke sekolah membutuhkan waktu lima belas menit, jadi selama itu pula aku berdiri bila tak mendapat kursi kosong.
"Siap kapten," ucapku memperagakkan hormat seraya tersenyum manis, "bapak pula hati-hati nyetir mobilnya. Enggak usah ngebut-ngebut, takut nabrak kawanan semut di jalanan." Bapak menggelengkan kepala mendengar ucapan putri semata wayangnya.
Dengan hati-hati, aku menengok ke kanan serta kiri melihat banyaknya kendaraan berseliweran. Bapak sudah pergi duluan usai membunyikan klakson untukku. Sekarang, giliran aku yang sedari tadi tidak menyeberang juga.
Huft
Sekarang hari apa sih? Mendadak banyak kendaraan lalu-lalang, dan sukses membuatku susah menyeberang. Menepuk kening saat mengetahui hari ini adalah sabtu, artinya para pekerja buruh maupun kantoran berangkat sepagi ini.
"Mau ke seberang sana, Dek?" Sibuk melihat kendaraan, aku di kejutkan oleh suara bapak-bapak yang sepertinya akan menyeberang juga.
Seraya tersenyum kaku aku pun menjawab 'iya', kepada beliau.
"Barengan saja kalau gitu. Bahaya dek, sekarang jalanan lagi ramai-ramainya, takut adek kenapa-kenapa."
Akhirnya aku bisa sampai pula di halte, tempat pemberhentian bus maupun angkot berkat bapak-bapak tadi.
"Makasih, Pak, sudah membantu aku nyeberang jalan," ucapku setulus mungkin.
Mata beliau malah berkeliaran ke arah barat. Apa yang sedang dicari olehnya? Tukang bubur, nasi padang, atau tulisan nomor sedot wc yang ditempel pada tiang listrik? Sepertinya opsi pertama lebih baik daripada yang ketiga, batinku menahan tawa atas ke absurd-an yang aku buat sendiri.
"Sebenarnya ada pem-- " ucapan beliau terputus, dan itu membuat aku penasaran, "loh, kok enggak ada sih anak pemuda tadi?" cicit beliau yang sayangnya aku tidak dapat mendengar karena suara bising kendaraan di jalan.
Bus berhenti di depan halte, segera aku pamit pada beliau, "Aku duluan, Pak. Sekali lagi terima kasih." Ucapanku dibalas senyuman oleh beliau.
Seperti dugaan ibu, keadaan bus penuh dengan penumpang, dan tidak ada satu pun tersisa kursi yang kosong untukku. Alamat terus berdiri selama lima belas menit, keluhku dalam hati.
Baru saja bus akan jalan, sang kenek mengetuk kaca menggunakan koin, tanda ada penumpang yang akan naik. Aku berdiri anteng di tengah-tengah karena mendapat dorongan dari penumpang lain arah belakang. Tas aku biarkan di depan menghindari sesuatu yang akan terjadi. Seperti ponsel mendadak hilang maupun dompet yang isinya tidak seberapa, namun uang jajan selama sebulan akan lenyap seketika.
"Aduh!" ringisku mendapat senggolan keras di bahu ulah seseorang.
Melihat ke bawah, aku mendapati tali sepatuku yang terlepas sebelah. Dengan gerakan cepat, aku segera berjongkok membetulkan tali sepatu dengan benar.
Dug
Benda dari atas menghantam kepalaku sampai membuat aku pening karena ada yang keras di dalam tas tersebut. Tunggu. Sepertinya aku mengenali tas hitam ini? Memungut tas yang jatuh di depanku, aku segera bangkit dan bersiap mengeluarkan sumpah serapah untuknya.
Raja. Lelaki yang kemarin sudah aku tandai sebagai musuh karena berhasil membuat emosiku tertahan saat itu juga.
Melempar tas Raja masih dengan tatapan aura permusuhan. Rupanya lelaki itu memakai earphone, makanya aku berdecih pun tidak di dengar olehnya.
"Sok imut banget lo. Mata di sipitin, bukannya cantik, malah bikin gue enek." Aku terperangah atas ucapan pedas seperti bon cabe level sepuluh.
"Berhenti, Bang?" teriak Raja pada sang supir bus.
Ternyata sampai pun aku di depan sekolah tercinta. Karena terburu-buru akan turun, aku hampir saja terpeleset kalau tidak ada Raja di hadapanku. Astaga?! Kenapa lelaki iblis itu yang menolongku, bukannya pangeran berkuda putih?
Hush. Masih pagi udah nge-halu.
Tatapan tajam bagaikan tanos itu aku dapatkan selepas tangan Raja berhasil ku hempaskan.
"Sok imut, cerewet, ceroboh, kayaknya itu hobi lo sekarang? Atau lo sengaja modus biar gue pegang-pegang?" sembur Raja. Tak lupa dengusan sinis senantiasa terpatri kala ucapan itu berakhir.
Aku menganga shock dengan perubahan Raja yang sekarang. Emang aku akui, hampir seminggu ini Raja selalu sinis, menatapku tajam seolah ingin memakan mangsanya, bicara pedas, dan itu semua hanya kepadaku seorang. Yang lainnya tidak!! Bukankah itu terasa mengganjal?
Bel istirahat kedua telah berakhir dua menit yang lalu. Kelasku ramai meski penghuninya hanya berjumlah sepuluh orang. Daripada sepi ya 'kan, kayak kuburan?
"Ketua kelas panggil bu Juliana. Udah hampir sepuluh menit beliau gak dateng juga," suruh Titan, cowok kelas yang suka bicara ceplas-ceplos.
Dari bangku, aku melihat Raja yang duduknya tepat di depanku malah sibuk menulis rangkuman Tata Hidang, tidak menghiraukan ucapan Titan barusan. Aku menghela nafas berat. Jangan bilang aku yang harus menghadap ke ruang guru?
"Wakil ketua kelas, panggil bu Juliana. Sekarang?!" Kalau Eka sudah bersuara, maka aku tidak bisa menolaknya. Repot, cuy kalau berdebat bareng Eka. Bukannya selesai-selesai, Eka akan terus mengoceh, karena hobi perempuan itu mengomel.
"Sabar bestie," semangat Lusi yang ternyata paham keadaan mood ku, "udah gih ke kantor sana. Nanti bu Juliana marah, waktu belajarnya terpotong." Dengan lesu, aku mulai bangkit dari tempat duduk.
Aku membuka pintu sekat kelas yang sengaja dibagi menjadi dua itu, sembari membawa selembar kertas pemberian bu Juliana.
Sengaja ku pukul papan tulis menggunakan penggaris kayu sebanyak tiga kali, agar atensi teman kelas sepenuhnya ke arahku.
"Mohon perhatiannya sebentar teman-teman." Semuanya menurut, kecuali Raja. Huh, lelaki itu lagi. Aku sungguh malas, karena harus menegurnya untuk berhenti mencatat.
Masa bodo dengan lelaki iblis itu, aku mulai membacakan kelompok praktek masak yang akan dilaksanakan minggu depan. Ternyata satu kelompok berisi dua orang, batinku sebelum membaca nama dari kelompok pertama.
Setibanya aku membaca kelompok empat, mataku membola tak percaya. Aku sekelompok dengan Raja? Bisa hancur se-isi bumi, karena aku nggak sudi sekelompok dengan iblis dan bermulut cabai itu.
Sumpah demi alek, aku sebenarnya malas berangkat sekolah hari ini. Bukan karena kedapatan guru killer, melainkan perihal praktek besok dan jadwal belanja sekarang ialah aku, Raja, Izzu, serta Daisy. Belum lagi menggarap RAB ( Rencana Anggaran Belanja ) dengan segala perintilannya, sungguh membuatku ingin berteriak, melampiaskan semuanya.
Tidak segampang yang kalian bayangkan, ketika membuat RAB. Harus pandai berhitung dan butuh ketelitian yang mumpuni. Salah sedikit, auto di ceramahi panjang lebar oleh kajur Tata Boga, hadeuh. Sedang sibuk menggarisi tabel untuk bahan serta harga, Raja mendekat, melempar asal buku besar isi 100 miliknya di atas mejaku. Huh, aku tau kelanjutannya seperti apa.
Paling suruh aku buatin RAB untuknya juga.
"Punya gue juga lo tulisin. Jangan ada yang salah, apalagi bekas tipe-x nya dimana-mana."
Bukannya dikerjakan bersama-sama, Raja main seenaknya suruh aku kerjain punya dia juga. Mana pakai syarat lagi, malesin banget.
"Gue juga sibuk, bukan elo doang." Aku memilih melanjutkan nulis, alih-alih mendengar pembelaan darinya, "bikin RAB semua kelompok lebih susah ketimbang pekerjaan per-kelompok," imbuhnya seraya melenggang pergi ke tempatnya Izzu, di seberang mejaku.
Dia 'kan pinter. Pasti sangat mudah untuknya membuat RAB semua kelompok tanpa berpikir lama?
Untung pelajaran terakhir jamkos, sebab guru bersangkutan tengah sakit. Satu jam sebelum bel pulang, punyaku telah selesai. Meregangkan kedua lenganku, karena mendadak pegal akibat kelamaan nulis.
"Guys, nanti enggak pramukaan, ya. Jadi, yang mau belanja buat besok, langsung cus aja ke toko langganan kita sedari kelas sepuluh," beritahu Riki.
Eh, tumben banget eskul pramuka libur? Biasanya juga enggak pernah absen. Ada apakah gerangan?
"Kelas sepuluh lagi pelatihan, sebelum pelantikan bantara." Semuanya mengangguk paham dan kembali ke rutinitas masing-masing, sebelum bel pulang berbunyi.
"Ratu?" panggil Daisy menghampiriku yang tengah memainkan ponsel.
"Kenapa?" Mematikan ponsel dan menaruhnya di atas meja.
Ditanya olehku, Daisy berdehem pelan lalu matanya bergerak gelisah, seperti sedang menahan BAB? Iyalah, biasanya Daisy banyak tingkah di dalam maupun luar kelas. Lha sekarang? Macam ketahuan selingkuh, padahal si doi hanya sebatas teman saja, nggak lebih. Nyeseknya bukan main.
Aku mengangkat tangan kanan guna menyadarkan Daisy, "Isy, aku ada di depan kamu, kenapa matanya celingukan ke arah Wahyu?" Demi cintaku kepada Dylan Wang, raut wajah Daisy langsung memerah dan gelagapan takut obrolan kita kedengaran oleh si empu nya.
"Pssttt, jangan keras-keras, nanti Wahyu tau bisa gawat," bisik Daisy. Jadi, betul 'kan Daisy terkenal banyak tingkah suka sama Wahyu yang lemah lembut itu.
"Siapa yang suka Wahyu?" Suara Lusi menggema ketika selesai membuang hajat nya.
Seisi kelas kebingungan atas perkataan Lusi, and Daisy mukanya pucat hampir pingsan kalau aku tidak segera mencekal pergelangan tangannya.
"Lusi suka sama gue?" tanya Wahyu lembut. Aku pun hampir terlena olehnya segera di tepis, kala mengingat Dylan Wang, sang pujaan hati ... haluku.
Lusi tergelak, dan kakinya perlahan mendekat pada Wahyu, "Daisy noh yang suka sama elo," jawab Lusi kembali pada bangkunya.
Seolah telepati alias eye contact antara Wahyu dan wajah pucatnya Daisy, bel pulang berbunyi menyelamatkan perempuan banyak tingkah itu dari pertanyaan sang doi.
Di parkiran sekolah, aku berebut dengan Daisy ingin dibonceng oleh Izzu. Sampai upin-ipin yang tak kunjung lulus TK, aku gak sudi dibonceng Raja, bikin darah tinggi. Saling berdebat, akhirnya Raja membawaku menuju motor matic lelaki itu. Waduh, harus banget gitu aku bareng Raja? Help me please?!
Selama perjalanan aku cosplay jadi manequin. Iya, diam terus padahal mulutku gatal sekali ingin mengeluarkan beribu-ribu kata yang tertahan akibat di depanku ini adalah Raja. Selain bermulut pedas, aku lihat Raja orangnya cuek, jadinya mulutku terus bungkam seperti diberi lem.
Sesampainya di toko, Raja mengambil buku catatan berisi daftar data belanjaan dalam tas hitamnya, lalu menyerahkan begitu saja kepadaku.
"Kenapa gak kamu aja?" ujarku sebisa mungkin menahan kesal.
Raja tidak menyahut, lelaki itu malah kembali lagi menuju motornya.
"Udah yuk, kita masuk duluan aja. Keburu sore dan cuaca lagi mendung," ajak Izzu kepadaku serta Daisy.
Aku yang membaca bahan di buku catatan, sementara Izzu bertugas mengambil bahan tersebut. Tak lupa Daisy yang mendorong troli di samping aku.
Untuk praktek besok ialah memasak satu macam cake setiap kelompoknya. Di antaranya ada black forest, rainbow cake, chiffon cake, butter cake dan red velvet. Aku dengan Raja kebagian rainbow cake, di mana adonannya berlapis serta berwarna-warni seperti cintaku kepada Dylan Wang.
Pukul lima sore, kami berempat selesai berbelanja untuk kebutuhan praktek esok hari. Hujan mulai rintik-rintik membasahi bumi, membuat kami bergegas menuju parkiran. Menenteng kantung kresek masing-masing di kedua tanganku, sedangkan untuk bahan yang mudah pecah seperti telur dan lainnya dibawa oleh Izzu. Berbicara hal random dengan Daisy, aku penasaran akan Raja yang lama sekali menghidupkan motornya. Jangan-jangan? Aku berbalik arah demi mengenyahkan pikiran negative ku.
Sudahlah, motor Raja tidak bisa di starter maupun di sela. Ottoke ini. Gak mungkin aku naik kendaraan umum yang sangat jarang sekali mengarah ke tujuan rumahku.
"Isy," melasku memberi kode kepadanya agar aku ikut pulang bersamanya dan Izzu.
Tak
Aku meringis ketika Daisy menjitak pelan kening mulusku, "Gila lo?! Ogah dih." Mata Daisy melotot, sementara aku mengembungkan kedua pipiku, "elo pergi sama Raja. Pulangnya juga sama Raja dong."
"Lo pulang ke rumah gue dulu," kata Raja sambil menarik lengan bajuku. Gawat, aku mau dibawa ke kost-an nya Raja?
"Nggak!?" Aku berusaha memberontak meminta Raja melepaskan cekalan di lengan bajuku, "jangan gila deh. Aku gak mau ya, ke kost-an kamu. Mending aku jalan kaki aja."
Raja berdecak kasar. Matanya menghunus tajam ke arahku, sampai Izzu dan Daisy menghampiri kami.
"Kamu ikut dulu aja sama Raja ke pondok pesantren. Nanti Raja minjem motor punya abi nya." Aku mencerna penjelasan dari Izzu. Rupanya aku salah paham deh, batinku menggaruk alis yang mendadak gatal.
Pondok pesantren Al-Jabar kini terpampang nyata di depanku, setelah turun dari angkot bersama Raja. Izzu bilang, pesantren ini milik kedua orang tuanya Raja, dan lelaki bermulut pedas itu adalah anak bungsu yang memilih nge-kost alih-alih tinggal bersama dengan umi dan abi nya. Itulah sedikit cerita Izzu di sela chat tadi.
"Kalau ada santri putra, elo nunduk. Jangan tebar pesona, apalagi ganjen sama santrinya abi." Aku diam tak menjawab ucapan sinis Raja.
Pintu gerbang dibuka sebagian oleh lelaki bersarung hitam, baju koko putih, dan jangan lupakan kopiah sebagai pelengkapnya menjadi imamku di masa depan nanti.
Ketika akan menyapa disertai senyum manis andalanku, Raja sengaja menjegal sebelah kakiku. Tenang. Hampir saja aku berkata kasar di depan santri tadi. Setelah puas menjahili aku, Raja menyelonong lebih dalam lagi hingga sampailah di depan rumah sederhana, namun elegant itu.
Baru saja aku dan Raja akan mengucap salam, pintu tiba-tiba terbuka, hingga menampilkan sosok anak kecil yang aku kira berumur dua tahun, "Ummah, ada pacarnya om Raja dateng."