Bab 1

Awal semester setelah libur dua minggu lamanya, akhirnya aku kembali bersekolah seperti biasa. Sebelumnya, perkenalkan nama aku, Ratu Gifara yang sudah menginjak kelas 11 Tata Boga di sekolah SMK Tunas Nusantara, Jawa Tengah. Alasan memilih jurusan Tata Boga, aku hanya ikut fealing saja, bukan kemauan orang tua atau pun hanya ikut teman-teman. Sekolahku swasta dan masih baru, jadi jurusan di sini hanya ada dua, yakni Tata Boga dan Pemasaran ( Marketing ).

Angkatan kelas aku sekarang hanya berjumlah sepuluh orang, sedikit ya? Maklum, sekolahnya masih anget, guys. Belum se-terkenal sekolah lain di daerah aku ini. Untuk kelas sebelah dari jurusan Pemasaran, mereka berjumlah paling banyak yakni 25 orang. Meskipun terbilang baru, alumni sekolah aku ternyata pada sukses-sukses sampai bekerja di Malaysia. Ini yang aku bikin tertarik dari SMK Tunas Nusantara. Guru yang humble kepada muridnya, walau ada segelintir terkenal killer. 

Untuk kegiatan eskul selepas pulang sekolah, ada osis, kemudian voli setiap hari senin dan kamis. Basket di hari rabu, dan eskul pramuka wajib pada hari jum'at.

"Aku lupa enggak bawa topi. Gimana dong ini?" Senin. Hari sakral oleh sebagian siswa SMK Tunas Nusantara. Bahkan wakil ketua osis sekolah ini terkenal dingin, cuek, dan emosional. Tapi tidak untuk ketua osis yang friendly serta ramah.

Lusi, sahabat dekatku awal MOS dulu berdecak kasar. Kami berdua berdiri di depan kelas menunggu anak osis memberi arahan siswa dari kelas sepuluh hingga dua belas untuk mengikuti upacara bendera yang wajib diikuti.

"Elo yang teledor. Bisa-bisanya lupa bawa topi di hari mencekam ini?!" Aku mengerucutkan bibir mungil, mendengar ocehan Lusi. 

Ya, kami berdua selalu sebut hari senin adalah paling mencekam dari pada hari lainnya. Selain harus memakai atribut lengkap, anak osis pun semuanya pada galak-galak kecuali satu atau dua yang masih waras, ups.

"Hari pertama enggak mungkin upacara Ratu, kamu tenang aja." Suara Izzu melangkah keluar dari kelas, kemudian memasukkan kedua tangannya di saku celana seraya bersender pada daun pintu.

"Kalau upacara?" Aku mendengus saat Eka--bendahara kelas yang terkenal centil ikut menimpali.

Di sebelahku, Lusi tengah menahan tawa melihat kekesalan dan kegelisahanku pada waktu bersamaan.

Teman kelasku pada keluar kelas, melihat kondisi lapangan yang dipenuhi oleh peserta didik baru kelas 10. Yap, aku juga mengira yang upacara hanya anak didik baru, ya, semoga saja, batinku berharap.

"Murid sekarang lumayan banyak, ya?" celetuk Beni, "ada cecan juga, lumayan bisa gue gebet." Aku memutar kedua bola mata malas. Dasar buaya darat.

"Kuy lah, jadi PMR dadakan. Siapa tau ada adek kelas yang pingsan melihat ketampanan gue," imbuh Riki mengajak Beni.

Si empu malah menolak mentah-mentah, "Adek kelas pingsan bukan ngelihat ketampanan elo bambang." Riki mengangkat kedua alis mengatakan 'terus apa dong'.

"Karena elo jelek dan burik." Tawa kami berenam mulai menguar, kala tampang Riki yang masam seperti buah markisa.

Memastikkan kelas 11 dan 12 ikut upacara atau tidak, Riki memanggil Raja dengan cara berteriak yang tentunya jadi pusat perhatian adek kelas.

"Riki yang teriak, aku malah nanggung malunya," cicitku di angguki Lusi, "temen siapa sih? Gue gak ada tuh punya temen kayak modelan dia," balas Lusi dengan pelan.

Raja turun dari atas podium setelah pamit undur diri. Ternyata lelaki berparas tampan namun mengerikan itu berjalan menghampiri teman sekelasnya, "Kenapa?" Aku beringsut mundur, memposisikan tubuh di belakang Lusi.

Entah kenapa aku selalu merasa takut berada di dekat Raja. Maka dari itu, sejak kelas 10, aku tidak pernah interaksi dengan lelaki itu.

"Sama yang lain aja, cerewetnya minta ampun. Giliran ada Raja, langsung berubah menciut kek kerupuk disiram air." Lusi kamp*et. Ngomongnya keras banget, sampai Raja harus meng-atensi netranya ke arah kami berdua.

"Siapa yang menciut?" tanya Raja sinis. Tapi, tatapannya itu lho, kenapa harus ke aku?

Tanpa aku sadari, Raja memperhatikanku dari atas sampai bawah. Setelah mengetahui sesuatu, Raja bersuara sebelum kembali ke lapangan bergabung bersama osis lainnya.

"Kelas 11 dan 12 ikut upacara juga, gue duluan," ujarnya buru-buru ke lapangan.

"Sial!" makiku keceplosan.

Aku merasakan tepukan pelan di puncak kepala yang terhalang oleh jilbab.

"Perempuan gak baik mengumpat," ucap Izzu tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya yang putih, "mau pakai topi aku dulu, biar enggak di hukum?" Kalau aku pakai topi Izzu, yang ada lelaki itu dong menggantikan hukumanku.

Lusi menyenggol bahu aku seraya bergumam, "Udah, ambil aja. Emang lo mau di hukum bersihin semua toilet atau nggak hormat ke tiang bendera selama dua jam?"

Dengan senyum kaku, aku menolak kebaikan Izzu. Mana tega biarin Izzu panas-panasan, sementara aku adem-ayem di kelas.

Upacara dibubarkan kecuali yang tidak memakai atribut lengkap serta siswa terlambat datang. Dari kelas 11, hanya dua orang perempuan saja yang tidak lengkap, yakni aku dan Devi kelas Pemasaran. Sisanya, laki-laki semua.

"Bagi yang telat, siap gerak?! Luruskan?" komando Raja si ketos galak dan kejam, "lurus?" 

"Kenapa atributnya tidak lengkap!" tanya Raja dari sebelah ujung kanan lebih dulu.

Hilang di rumah, sengaja tidak membawa, malas memakai dasi, dan berbagai alasan lainnya.

Kini, giliran aku yang akan ditanya oleh Raja, "Mau jadi kakak kelas yang sok, gak pakai dasi?" Wait? Kenapa pertanyaan untukku beda dari yang lainnya?

"Biar apa sih? Keren? Atau biar kelihatan sok cantiknya?" sambung Raja, di akhiri decakan sinis.

Ada masalah hidup apa sih Raja terhadapku? Kayak enak banget julitin aku di depan orang-orang? Mana matanya melotot sampai mau keluar dari tempatnya lagi.

"Jawab?! Punya mulut 'kan!!"

Aku sampai memejamkan mata mendengar bentakan Raja. Seumur hidup, baru kali ini aku dibentak, bahkan kedua orang tuaku saja tidak pernah membentakku.

"Untuk seluruhnya, siap gerak?" komando Raja, "kecuali Ratu, semuanya bisa kembali ke kelas masing-masing. Mengerti?!!"

"Siap mengerti!!"

Lho... lho, kenapa aku ditinggal sendiri? Enggak adil ini namanya, marahku yang tentunya dalam hati.

"Tanpa penghormatan, bubar barisan, jalan!" Semuanya beranjak pergi kecuali aku. Aku tidak berhenti menyebut nama hewan di kebun binatang, karena semua ini tidak adil bagiku. 

Aneh. Tentu saja aku tidak mengerti akan jalan pikiran Raja saat ini. Inginku tidak mau berurusan dengan Raja, karena sedari kelas 10 aku terus menghindari lelaki seram yang sayangnya tampan itu. Hello, apa tadi aku bilang, tampan? Sampai ayam beranak pun, aku tarik perkataanku barusan. Katanya wakil ketua osis, tapi memberi hukuman tidak adil sama sekali.

"Lo pilih hormat tiang bendera atau lari sepuluh keliling? Cepat jawab, gue mau urus anak peserta didik baru."

Mulai detik ini juga, aku mengibarkan aura permusuhan untuk Raja Fauzan Diktanu. Lelaki berparas tampan, namun berhati iblis itu.

Bab 2

"Morning, bu Vanya yang cantik jelita, istrinya bapak Dika," sapa aku dengan ceria, ketika turun dari lantai dua.

"Manis banget ucapan kamu, Kak, pasti ada maunya," sahut ibuku tanpa menolehkan kepala kepadaku, sebab sibuk memasak sayur capcay dan menggoreng ikan mujaer kesukaan aku.

Aku menyengir polos menanggapi ibu negara tercinta.

"Nanti kamu naik bus ya, sayang. Ban motor kamu tiba-tiba bocor, setelah bapak cek tadi di garasi." Muka aku yang tadinya ceria, kini mem-poutkan bibir tanda malas harus berdesakan dengan penumpang lain di dalam bus.

"Bapak anterin kakak sampai depan gang," sembur ibu yang tau saja kalau aku ingin di antarkan bapak sampai sekolah, "jangan manja. Arah kantor bapak kamu berlawanan dengan sekolah Tunas Nusantara," imbuhnya terus memberi alasan, agar aku tetap naik bus.

Melirik bapak yang asik membaca koran ditemani teh hangat, aku meminta bantuan kepada beliau supaya mengantarkanku sampai sekolah lewat kode mata. Naas, bapak dan ibu hari ini begitu kompak. Sedari masuk SMK dulu, aku memang di ajarkan supaya mandiri. Motor kesayanganku bermasalah, maka solusinya, ya, naik bus, agar cepat sampai ke sekolahan. Tidak pernah tuh, bapak mengantarku sampai sekolah karena memang kantor beliau berlawanan arah.

"Sarapan dulu, biar kuat berdiri di dalam bus nanti."

Tanpa minat, aku mengambil nasi serta lauk pauk nya. Bahkan ikan mujaer nampak bikin ngiler itu, justru membuatku tidak berselera.

"Pulang dari kantor nanti, bapak akan belikan kebab kesukaan kamu," kata bapak usai menandaskan segelas air putihnya.

Mendengar jajanan favorite disebut oleh bapak, mataku bersinar seperti mendapat emas batangan 100 gram.

"Sama es boba nya juga ya, Pak?" Mendapat respon anggukan dari beliau, aku senangnya bukan main.

"Di kasih hati minta jantung." Bahkan, saking senangnya, aku tidak mempermasalahkan sindiran halus ibu barusan.

Seperti biasa saat motorku bermasalah, bapak memberhentikkan mobil putihnya di depan gang komplek. Menyalimi tangan beliau takdzim, aku mengucap salam dan mulai turun dari mobil.

Kaca jendela yang dibuka perlahan oleh bapak, mengurungkan niatku menyeberang jalan raya, "Hati-hati di jalan. Kalau bisa kamu harus dapat kursi kosong, jangan sampai berdiri sampai sekolahan." Jarak rumahku ke sekolah membutuhkan waktu lima belas menit, jadi selama itu pula aku berdiri bila tak mendapat kursi kosong.

"Siap kapten," ucapku memperagakkan hormat seraya tersenyum manis, "bapak pula hati-hati nyetir mobilnya. Enggak usah ngebut-ngebut, takut nabrak kawanan semut di jalanan." Bapak menggelengkan kepala mendengar ucapan putri semata wayangnya.

Dengan hati-hati, aku menengok ke kanan serta kiri melihat banyaknya kendaraan berseliweran. Bapak sudah pergi duluan usai membunyikan klakson untukku. Sekarang, giliran aku yang sedari tadi tidak menyeberang juga.

Huft

Sekarang hari apa sih? Mendadak banyak kendaraan lalu-lalang, dan sukses membuatku susah menyeberang. Menepuk kening saat mengetahui hari ini adalah sabtu, artinya para pekerja buruh maupun kantoran berangkat sepagi ini.

"Mau ke seberang sana, Dek?" Sibuk melihat kendaraan, aku di kejutkan oleh suara bapak-bapak yang sepertinya akan menyeberang juga.

Seraya tersenyum kaku aku pun menjawab 'iya', kepada beliau.

"Barengan saja kalau gitu. Bahaya dek, sekarang jalanan lagi ramai-ramainya, takut adek kenapa-kenapa."

Akhirnya aku bisa sampai pula di halte, tempat pemberhentian bus maupun angkot berkat bapak-bapak tadi.

"Makasih, Pak, sudah membantu aku nyeberang jalan," ucapku setulus mungkin.

Mata beliau malah berkeliaran ke arah barat. Apa yang sedang dicari olehnya? Tukang bubur, nasi padang, atau tulisan nomor sedot wc yang ditempel pada tiang listrik? Sepertinya opsi pertama lebih baik daripada yang ketiga, batinku menahan tawa atas ke absurd-an yang aku buat sendiri.

"Sebenarnya ada pem-- " ucapan beliau terputus, dan itu membuat aku penasaran, "loh, kok enggak ada sih anak pemuda tadi?" cicit beliau yang sayangnya aku tidak dapat mendengar karena suara bising kendaraan di jalan.

Bus berhenti di depan halte, segera aku pamit pada beliau, "Aku duluan, Pak. Sekali lagi terima kasih." Ucapanku dibalas senyuman oleh beliau.

Seperti dugaan ibu, keadaan bus penuh dengan penumpang, dan tidak ada satu pun tersisa kursi yang kosong untukku. Alamat terus berdiri selama lima belas menit, keluhku dalam hati.

Baru saja bus akan jalan, sang kenek mengetuk kaca menggunakan koin, tanda ada penumpang yang akan naik. Aku berdiri anteng di tengah-tengah karena mendapat dorongan dari penumpang lain arah belakang. Tas aku biarkan di depan menghindari sesuatu yang akan terjadi. Seperti ponsel mendadak hilang maupun dompet yang isinya tidak seberapa, namun uang jajan selama sebulan akan lenyap seketika.

"Aduh!" ringisku mendapat senggolan keras di bahu ulah seseorang.

Melihat ke bawah, aku mendapati tali sepatuku yang terlepas sebelah. Dengan gerakan cepat, aku segera berjongkok membetulkan tali sepatu dengan benar.

Dug

Benda dari atas menghantam kepalaku sampai membuat aku pening karena ada yang keras di dalam tas tersebut. Tunggu. Sepertinya aku mengenali tas hitam ini? Memungut tas yang jatuh di depanku, aku segera bangkit dan bersiap mengeluarkan sumpah serapah untuknya.

Raja. Lelaki yang kemarin sudah aku tandai sebagai musuh karena berhasil membuat emosiku tertahan saat itu juga.

Melempar tas Raja masih dengan tatapan aura permusuhan. Rupanya lelaki itu memakai earphone, makanya aku berdecih pun tidak di dengar olehnya.

"Sok imut banget lo. Mata di sipitin, bukannya cantik, malah bikin gue enek." Aku terperangah atas ucapan pedas seperti bon cabe level sepuluh.

"Berhenti, Bang?" teriak Raja pada sang supir bus.

Ternyata sampai pun aku di depan sekolah tercinta. Karena terburu-buru akan turun, aku hampir saja terpeleset kalau tidak ada Raja di hadapanku. Astaga?! Kenapa lelaki iblis itu yang menolongku, bukannya pangeran berkuda putih?

Hush. Masih pagi udah nge-halu.

Tatapan tajam bagaikan tanos itu aku dapatkan selepas tangan Raja berhasil ku hempaskan.

"Sok imut, cerewet, ceroboh, kayaknya itu hobi lo sekarang? Atau lo sengaja modus biar gue pegang-pegang?" sembur Raja. Tak lupa dengusan sinis senantiasa terpatri kala ucapan itu berakhir.

Aku menganga shock dengan perubahan Raja yang sekarang. Emang aku akui, hampir seminggu ini Raja selalu sinis, menatapku tajam seolah ingin memakan mangsanya, bicara pedas, dan itu semua hanya kepadaku seorang. Yang lainnya tidak!! Bukankah itu terasa mengganjal?

Bel istirahat kedua telah berakhir dua menit yang lalu. Kelasku ramai meski penghuninya hanya berjumlah sepuluh orang. Daripada sepi ya 'kan, kayak kuburan?

"Ketua kelas panggil bu Juliana. Udah hampir sepuluh menit beliau gak dateng juga," suruh Titan, cowok kelas yang suka bicara ceplas-ceplos.

Dari bangku, aku melihat Raja yang duduknya tepat di depanku malah sibuk menulis rangkuman Tata Hidang, tidak menghiraukan ucapan Titan barusan. Aku menghela nafas berat. Jangan bilang aku yang harus menghadap ke ruang guru?

"Wakil ketua kelas, panggil bu Juliana. Sekarang?!" Kalau Eka sudah bersuara, maka aku tidak bisa menolaknya. Repot, cuy kalau berdebat bareng Eka. Bukannya selesai-selesai, Eka akan terus mengoceh, karena hobi perempuan itu mengomel.

"Sabar bestie," semangat Lusi yang ternyata paham keadaan mood ku, "udah gih ke kantor sana. Nanti bu Juliana marah, waktu belajarnya terpotong." Dengan lesu, aku mulai bangkit dari tempat duduk.

Aku membuka pintu sekat kelas yang sengaja dibagi menjadi dua itu, sembari membawa selembar kertas pemberian bu Juliana.

Sengaja ku pukul papan tulis menggunakan penggaris kayu sebanyak tiga kali, agar atensi teman kelas sepenuhnya ke arahku.

"Mohon perhatiannya sebentar teman-teman." Semuanya menurut, kecuali Raja. Huh, lelaki itu lagi. Aku sungguh malas, karena harus menegurnya untuk berhenti mencatat.

Masa bodo dengan lelaki iblis itu, aku mulai membacakan kelompok praktek masak yang akan dilaksanakan minggu depan. Ternyata satu kelompok berisi dua orang, batinku sebelum membaca nama dari kelompok pertama.

Setibanya aku membaca kelompok empat, mataku membola tak percaya. Aku sekelompok dengan Raja? Bisa hancur se-isi bumi, karena aku nggak sudi sekelompok dengan iblis dan bermulut cabai itu.

Bab 3

Sumpah demi alek, aku sebenarnya malas berangkat sekolah hari ini. Bukan karena kedapatan guru killer, melainkan perihal praktek besok dan jadwal belanja sekarang ialah aku, Raja, Izzu, serta Daisy. Belum lagi menggarap RAB ( Rencana Anggaran Belanja ) dengan segala perintilannya, sungguh membuatku ingin berteriak, melampiaskan semuanya.

Tidak segampang yang kalian bayangkan, ketika membuat RAB. Harus pandai berhitung dan butuh ketelitian yang mumpuni. Salah sedikit, auto di ceramahi panjang lebar oleh kajur Tata Boga, hadeuh. Sedang sibuk menggarisi tabel untuk bahan serta harga, Raja mendekat, melempar asal buku besar isi 100 miliknya di atas mejaku. Huh, aku tau kelanjutannya seperti apa.

Paling suruh aku buatin RAB untuknya juga.

"Punya gue juga lo tulisin. Jangan ada yang salah, apalagi bekas tipe-x nya dimana-mana."

Bukannya dikerjakan bersama-sama, Raja main seenaknya suruh aku kerjain punya dia juga. Mana pakai syarat lagi, malesin banget.

"Gue juga sibuk, bukan elo doang." Aku memilih melanjutkan nulis, alih-alih mendengar pembelaan darinya, "bikin RAB semua kelompok lebih susah ketimbang pekerjaan per-kelompok," imbuhnya seraya melenggang pergi ke tempatnya Izzu, di seberang mejaku.

Dia 'kan pinter. Pasti sangat mudah untuknya membuat RAB semua kelompok tanpa berpikir lama?

Untung pelajaran terakhir jamkos, sebab guru bersangkutan tengah sakit. Satu jam sebelum bel pulang, punyaku telah selesai. Meregangkan kedua lenganku, karena mendadak pegal akibat kelamaan nulis.

"Guys, nanti enggak pramukaan, ya. Jadi, yang mau belanja buat besok, langsung cus aja ke toko langganan kita sedari kelas sepuluh," beritahu Riki.

Eh, tumben banget eskul pramuka libur? Biasanya juga enggak pernah absen. Ada apakah gerangan?

"Kelas sepuluh lagi pelatihan, sebelum pelantikan bantara." Semuanya mengangguk paham dan kembali ke rutinitas masing-masing, sebelum bel pulang berbunyi.

"Ratu?" panggil Daisy menghampiriku yang tengah memainkan ponsel.

"Kenapa?" Mematikan ponsel dan menaruhnya di atas meja.

Ditanya olehku, Daisy berdehem pelan lalu matanya bergerak gelisah, seperti sedang menahan BAB? Iyalah, biasanya Daisy banyak tingkah di dalam maupun luar kelas. Lha sekarang? Macam ketahuan selingkuh, padahal si doi hanya sebatas teman saja, nggak lebih. Nyeseknya bukan main.

Aku mengangkat tangan kanan guna menyadarkan Daisy, "Isy, aku ada di depan kamu, kenapa matanya celingukan ke arah Wahyu?" Demi cintaku kepada Dylan Wang, raut wajah Daisy langsung memerah dan gelagapan takut obrolan kita kedengaran oleh si empu nya.

"Pssttt, jangan keras-keras, nanti Wahyu tau bisa gawat," bisik Daisy. Jadi, betul 'kan Daisy terkenal banyak tingkah suka sama Wahyu yang lemah lembut itu.

"Siapa yang suka Wahyu?" Suara Lusi menggema ketika selesai membuang hajat nya.

Seisi kelas kebingungan atas perkataan Lusi, and Daisy mukanya pucat hampir pingsan kalau aku tidak segera mencekal pergelangan tangannya.

"Lusi suka sama gue?" tanya Wahyu lembut. Aku pun hampir terlena olehnya segera di tepis, kala mengingat Dylan Wang, sang pujaan hati ... haluku.

Lusi tergelak, dan kakinya perlahan mendekat pada Wahyu, "Daisy noh yang suka sama elo," jawab Lusi kembali pada bangkunya.

Seolah telepati alias eye contact antara Wahyu dan wajah pucatnya Daisy, bel pulang berbunyi menyelamatkan perempuan banyak tingkah itu dari pertanyaan sang doi.

Di parkiran sekolah, aku berebut dengan Daisy ingin dibonceng oleh Izzu. Sampai upin-ipin yang tak kunjung lulus TK, aku gak sudi dibonceng Raja, bikin darah tinggi. Saling berdebat, akhirnya Raja membawaku menuju motor matic lelaki itu. Waduh, harus banget gitu aku bareng Raja? Help me please?!

Selama perjalanan aku cosplay jadi manequin. Iya, diam terus padahal mulutku gatal sekali ingin mengeluarkan beribu-ribu kata yang tertahan akibat di depanku ini adalah Raja. Selain bermulut pedas, aku lihat Raja orangnya cuek, jadinya mulutku terus bungkam seperti diberi lem.

Sesampainya di toko, Raja mengambil buku catatan berisi daftar data belanjaan dalam tas hitamnya, lalu menyerahkan begitu saja kepadaku.

"Kenapa gak kamu aja?" ujarku sebisa mungkin menahan kesal.

Raja tidak menyahut, lelaki itu malah kembali lagi menuju motornya.

"Udah yuk, kita masuk duluan aja. Keburu sore dan cuaca lagi mendung," ajak Izzu kepadaku serta Daisy.

Aku yang membaca bahan di buku catatan, sementara Izzu bertugas mengambil bahan tersebut. Tak lupa Daisy yang mendorong troli di samping aku.

Untuk praktek besok ialah memasak satu macam cake setiap kelompoknya. Di antaranya ada black forest, rainbow cake, chiffon cake, butter cake dan red velvet. Aku dengan Raja kebagian rainbow cake, di mana adonannya berlapis serta berwarna-warni seperti cintaku kepada Dylan Wang.

Pukul lima sore, kami berempat selesai berbelanja untuk kebutuhan praktek esok hari. Hujan mulai rintik-rintik membasahi bumi, membuat kami bergegas menuju parkiran. Menenteng kantung kresek masing-masing di kedua tanganku, sedangkan untuk bahan yang mudah pecah seperti telur dan lainnya dibawa oleh Izzu. Berbicara hal random dengan Daisy, aku penasaran akan Raja yang lama sekali menghidupkan motornya. Jangan-jangan? Aku berbalik arah demi mengenyahkan pikiran negative ku.

Sudahlah, motor Raja tidak bisa di starter maupun di sela. Ottoke ini. Gak mungkin aku naik kendaraan umum yang sangat jarang sekali mengarah ke tujuan rumahku.

"Isy," melasku memberi kode kepadanya agar aku ikut pulang bersamanya dan Izzu.

Tak

Aku meringis ketika Daisy menjitak pelan kening mulusku, "Gila lo?! Ogah dih." Mata Daisy melotot, sementara aku mengembungkan kedua pipiku, "elo pergi sama Raja. Pulangnya juga sama Raja dong."

"Lo pulang ke rumah gue dulu," kata Raja sambil menarik lengan bajuku. Gawat, aku mau dibawa ke kost-an nya Raja?

"Nggak!?" Aku berusaha memberontak meminta Raja melepaskan cekalan di lengan bajuku, "jangan gila deh. Aku gak mau ya, ke kost-an kamu. Mending aku jalan kaki aja."

Raja berdecak kasar. Matanya menghunus tajam ke arahku, sampai Izzu dan Daisy menghampiri kami.

"Kamu ikut dulu aja sama Raja ke pondok pesantren. Nanti Raja minjem motor punya abi nya." Aku mencerna penjelasan dari Izzu. Rupanya aku salah paham deh, batinku menggaruk alis yang mendadak gatal.

Pondok pesantren Al-Jabar kini terpampang nyata di depanku, setelah turun dari angkot bersama Raja. Izzu bilang, pesantren ini milik kedua orang tuanya Raja, dan lelaki bermulut pedas itu adalah anak bungsu yang memilih nge-kost alih-alih tinggal bersama dengan umi dan abi nya. Itulah sedikit cerita Izzu di sela chat tadi.

"Kalau ada santri putra, elo nunduk. Jangan tebar pesona, apalagi ganjen sama santrinya abi." Aku diam tak menjawab ucapan sinis Raja.

Pintu gerbang dibuka sebagian oleh lelaki bersarung hitam, baju koko putih, dan jangan lupakan kopiah sebagai pelengkapnya menjadi imamku di masa depan nanti.

Ketika akan menyapa disertai senyum manis andalanku, Raja sengaja menjegal sebelah kakiku. Tenang. Hampir saja aku berkata kasar di depan santri tadi. Setelah puas menjahili aku, Raja menyelonong lebih dalam lagi hingga sampailah di depan rumah sederhana, namun elegant itu.

Baru saja aku dan Raja akan mengucap salam, pintu tiba-tiba terbuka, hingga menampilkan sosok anak kecil yang aku kira berumur dua tahun, "Ummah, ada pacarnya om Raja dateng."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED