Bab 1

Pagi ini masih sama seperti hari-hari biasanya, Sekolah Sekolah dan Sekolah. Hidup memang tak jauh-jauh dari yang namanya buku pelajaran. Itu jugalah yang dialami gadis bernama, Kimberly Hana Affandi, yang biasa dipanggil Kim atau Kimmy.

"Pagi Ma, Pa," sapa Kim pada mama dan papanya yang sudah berada di meja makan untuk menikmati sarapan.

"Pagi, Sayang," balas William dan Jessica.

"Loh, Mama pagi-pagi udah rapi aja, mau kemana, Ma?'' tanya Kim pada mamanya.

"Ini, Mama mau datang ke acara pembukaan butik teman Mama."

"Ooh," balas Kim, kemudian terus melanjutkan sarapannya.

Di saat sedang menikmati sarapannya, tiba-tiba papa dan mamanya malah sibuk berbisik-bisik. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi ia merasa curiga kalau dirinyalah yang sedang menjadi pokok pembicaraan keduanya.

Kim berdehem, membuat kedua orang tuanya mengarahkan pandangan padanya. ''Papa sama Mama ngapain, sih, bisik-bisik?'' tanyanya penasaran.

Tampak William ragu-ragu untuk buka suara, tapi pada akhirnya bicara juga.

"Gini, Sayang. Papa sama Mama mau menjodohkan kamu dengan anak dari sahabat kami,'' terang William tiba-tiba.

Tentu saja itu membuat Kim kaget. Kupingnya saja langsung berasa panas mendengar ucapan papanya barusan.

"Dijodohin?'' tanyanya tak percaya. Bukan, ini lebih tepatnya ekspressi kaget.

"Iya, Sayang. Kamu mau, kan?'' tanya Jessica.

Dijodohkan? Siapa yang mau. Yakali dijodohin sama pacar sendiri, itu baru hal yang paling sempurna.

"Aduh ... Papa sama Mama apa-apaan, sih. Masa iya Aku dijodoh-jodohin segala. Aku juga masih Sekolah, Pa, Ma ... masih 18 tahun. Aku masih pingin kuliah, kerja, dan lain-lain lah pokoknya," jelasnya panjang lebar.

"Meskipun kamu menikah, kamu akan tetap Sekolah seperti biasanya, kok. Mau, ya?" tambah Jessica lagi seqkan berharap banyak jika Kim menerima.

"No!" pekiknya. "Apa Papa sama Mama pikir Aku nggak laku, sampe harus dijodoh-jodohin segala!?"

William menarik napasnya dalam, saat niatnya dan sang istri mendapat penolakan keras. Sebenarnya keduanya pun sudah menebak jika Kim akan memberikan reaksi seperti ini.

"Oke ... kalau gitu kamu tinggal pilih saja, terima perjodohan ini, atau ..." William menggantung ucapannya.

"Atau apa, Pa? Papa mau ngancem aku?"

"Atau ini semua Papa sita," ujar William sambil meletakkan kunci mobil, beberapa kredit card, ponsel dan tablet milik Kim di meja.

Kedua bola mata Kim langsung terbelalak melihat penampakan itu. Ia heran, bagaimana papanya bisa memegang semua aset-aset berharga miliknya?

"Kok semua milikku ada di Papa?"

"Asalnya dari Papa, tentu saja bisa."

"Papa," rengeknya.

"Jadi, gimana? Terima perjodohan yang kami putuskan, atau kehilangan semua ini?" tanya William seakan sengaja membuat putrinya terdesak untuk mengambil keputusan.

"Tapi, Pa ..."

"Kim, Sayang. Masa kamu nggak mau ngabulin permintaan kami ini. Cuma ini, Sayang ... Mama sama Papa nggak minta yang lain-lain. Sejak masih dalam perut, kamu Mama bawa-bawa. Pas udah lahir, Mama manja-manjain sampe saat ini. Kamu seorang yang kami punya, hanya ini permintaan kami, Nak," jelas Jessica mengeluarkan bakat terpendamnya yang tak tersalurkan.

Sudah jelas itu membuat Kim terharu. Karena hingga detik ini, ia tak pernah menolak apapun keinginan dan aturan orang tuanya. Melanggar aturan pun, ia pikir-pikir dulu, biar nggak terlalu mengecewakan kedua orang tuanya.

Dengan napas berat, ia akhirnya pasrah. "Ya udah, ya udah ... aku terima," setujunya dengan wajah ditekuk.

"Beneran, Sayang?" tanya Jessica antusias.

"Iya, Ma. Tapi ..."

"Tapi?'' tanya suami istri itu berbarengan.

"Kalau orangnya nggak ganteng, aku bunuh diri," ancam Kim.

"Oke," jawab keduanya pasti.

"Mama yakin, kamu nggak akan menolak laki-laki ini sebagai pasanganmu. Udah ganteng, berpendidikan, baik, dan kaya. Pokoknya semua yang terbaik ada pada dia," puji Jessica.

Entah kenapa, mendengar pujian-pujian yang diucapkan mamanya, malah membuat ia penasaran dengan sosok laki-laki itu. Tapi tetap saja, yang namanya perjodohan gimana mau enak. Kaya, tapi kasar. Bisa-bisa dirinya jadi korban KDRT di usia beliau. Lembut, tapi fisik minim. Duh, makin parah. Berharap sajalah agar semua hal buruk yang ada di dalam pikirannya tak sampai terjadi.

"Kalau gitu aku berangkat Sekolah dulu, Ma, Pa," ujarnya pada kedua orang tuanya.

Kim hendak menyambar semua barang-barang berharga miliknya yang tadinya mau di sita. Tapi, belum menyentuh, William malah menahan tangannya.

"Jangan bohong, loh," ingatkan William.

"Iya, Papa," balasnya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Kemudian dengan secepat kilat memunguti semua benda-benda berharga miliknya yang tertata di meja. "Bye, Ma, Pa," tambahnya pamit.

"Belajar yang bener, jangan pacaran-pacaran, kan udah mau punya calon suami!" teriak Jessica pada Kim mengingatkan.

"Ahh, calon suami," gumam Kim sambil berlalu pergi.

---000---

Di tempat yang berbeda, seorang laki-laki berparas tampan juga sudah rapi dengan tuxedo yang menutupi tubuh atletisnya. Penampakan yang benar- benar sempurna, apalagi bagi mata kaum hawa.

Menuruni anak tangga, kemudian lanjut melangkah menuju meja makan. Menghampiri pasangan suami istri yang sudah menunggu di sana.

"Aku berangkat dulu," ucapnya pamit pada kedua orang tuanya yang saat itu berada di meja makan.

"Kamu mau kemana?'' tanya Doni pada putranya dengan suasana dingin.

"Aku mau ke Sekolah, nanti siang baru ke kantor," jawabnya tak kalah dingin.

"Duduk dulu, Papa sama Mama mau bicara hal yang penting sama kamu, Vin," ujar Doni yang segera dituruti oleh putranya.

"Ada apa?''

"Papa mau menjodohkan kamu dengan Putri dari teman Papa sama Mama. Namanya Kimberly. Dia juga salah satu siswi di Sekolahmu,'' jelas Doni langsung ke titik pembahasan.

Penjelasan Doni hanya ditanggapi Alvin dengan ekspressi dingin.  Jujur, ia memang kaget, orang tuanya seolah memaksanya dengan perjodohan ini. Tapi, apa dayanya sebagai seorang anak. Ia hanya ingin orang tuanya bahagia. Meskipun hatinya tak menginginkan itu semua.

"Bagaimana, Vin?" tanya Doni menunggu balasan.

"Bukankah itu merupakan sebuah pernyataan, bukan pertanyaan. Jadi, aku tak perlu menjawabnya, kan," ungkap Alvin dingin.

Langsung bangkit dari posisi duduknya dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya yang bahkan belum memberikan penjelasan lainnya. Hanya saja, ia sudah memahami apa yang mereka inginkan.

Terlihat raut kesal di wajah Doni atas sikap Alvin. Ia belum selesai bicara dan dia sudah berlalu pergi begitu saja.

"Sabar. Alvin memang begitu, kan, sikapnya," ujar Karmila menenangkan sang suami.

Menarik napasnya panjang. "Terserah apa kata dia, yang jelas perjodohan ini tetap berlanjut."

Bab 2

"Kimmy!!!''

Suara teriakan itu menggelegar ke seluruh penjuru kelas. Siapa lagi kalau bukan teriakan kedua sahabatnya yang tercinta dan tersayang, Hani dan Jeje.

"Kalian berdua bisa nggak, sih, jangan teriak-teriak gitu," omel Kim pada keduanya.

"Hmm, nggak bisa," jawab Hani dan Jeje barengan.

"Arggh," dengus Kim dengan wajah kesal, dan terlebih dahulu melangkah menuju kelas.

Melihat ekspresi Kim, kedua sahabatnya itu malah tertawa sambil mengekor di belakangnya. Benar-benar melelahkan. Andai saja ada lift menuju lantai tiga, pasti itu sangat menyenangkan.

"Eh, semuanya, ada berita terbaru, nih!" teriak Karin heboh saat memasuki kelas.

"Apaan?''

"Denger-denger, sih, ada Guru baru yang akan gantiin posisinya Pak Anto buat ngajar Bahasa Inggris sama Matematika," jelas Karin.

"Gurunya cowok, apa cewek?" tanya Hani ikutan nibrung.

"Cowok, ganteng!!!" Karin menjawab dengan semangat menggebu-gebu layaknya hendak berperang. "Dan lo, jangan naksir," tambah Karin ketus sambil menunjuk ke arah Hani.

"Ishh," decis Hani.

"Mangsa baru," ujar Niken menambahkan dengan tingkah centilnya.

Yap, Niken dan Karin, mereka berdua adalah musuh bebuyutannya Kim and friend's. Karena mereka berdua selalu mencari masalah dengan mereka bertiga.

"Tapi, gue denger-denger, sih, Gurunya killer," ujar Karin menambahkan.

Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba Bapak Dicky memasuki kelas, membuat semua siswa dan siswi yang tak terletak pada tempatnya berlari menuju kursi masing masing.

"Aduh, si Bapak bikin kagetan, deh, ah,'' ujar Niken masih dengan kebiasaannya yang memalukan itu.

"Maaf, saya ke sini cuma mau kasih tau, kalau pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika di kelas ini akan di gantikan oleh Guru yang baru," jelas Pak Dicky.

"Oke, Pak."

"Kalian tunggu saja di dalam," ujar Pak Dicky menambahkan, sebelum kembali meninggalkan kelas.

Dan benar saja, tak berapa lama setelah Pak Dicky keluar dari kelas, tiba-tiba seseorang masuk. Hingga semua pandangan seisi kelas tertuju padanya. Terutama para siswi yang tak sempat berkedip. Ya, nggak sempat berkedip gara-gara yang masuk adalah seorang cowok ganteng.

"Selamat pagi semua," sapanya saat memasuki kelas dan menuju meja Guru.

"Pagi, Pak," jawab seisi kelas serentak.

"Astaga, ganteng amat.''

"Malaikat guyss."

"Pingin gue kantongin ni Guru."

"Ke KUA yok, Pak."

Itulah sederetan kata-kata yang keluar dari mulut para siswi yang memuji-muji Guru yang saat ini sedang berhadapan dengan mereka. Maklum sajalah, ABG labil, nggak bisa melihat cogan sedikit saja langsung pada heboh.

"Aduh, ganteng amat tu Bapak. Sayang amat kalo di panggil, Bapak," bisik Hani pada Kim yang ada di sebelahnya.

"Udah punya gebetan belum, ya?'' Jeje ikut-ikutan.

"Ganteng, sih, ganteng. Tapi, killer guys," tambah Kim pada Hani dan Jeje .

"Baiklah, sebelum pelajaran saya mulai, saya akan perkenalkan diri dulu. Nama saya Alvian Dika Geraldi, kalian bisa panggil saya Pak Alvin, umur 21 tahun. Mulai hari ini, saya akan menggantikan Bapak Anto untuk mengajar Bahasa Inggris dan Matematika," jelas Alvin. "Ada pertanyaan lagi?" tanya Alvin.

"Udah punya pacar belum, Pak?'' tanya Jeje bersemangat.

"Je, pertanyaan lo nggak bermutu banget, sih," Umpat Kim atas pertanyaan yang di lontarkan Jeje. Memalukan sekali sikapnya ini .

"Jawab, dong, Pak. Itu pertanyaan penting loh."

"Saya masih single,'' jawab Alvin yang sontak langsung membuat para siswi satu kelas heboh. Iya, heboh ngutak-ngatik Ponsel masing-masing, buat kepoin akun Facebook, Path, Instagram, Line, WA dan lain-lain milik Pak Alvin.

"Oke, kalau gitu saya absen kalian dulu," ujar Alvin sambil membuka buku absen .

"Ardylan Dewanta."

"Hadirr, Pak."

"Adji nugraha."

"Hadir...."

"......"

"Crista Hani Febrika."

"Me, Pak."

"Jena Fika Anastasya"

"Hadirr ,Pak"

"Kimberly Hana Affandi"

"Hadir...."

'Jadi, dia?" batin Alvin menatap ke arah Kim.

"Eh, guys. Itu Pak Alvin ngapain ngeliatin gue gitu banget, ya, bikin merinding. Apa make up gue ketebalan atau eyeliner gue yang berlepotan?" tanya Kim pada kedua sahabatnya karena merasa kalau Alvin sedang memperhatikannya.

"Ah, nggak, kok," jawab Jeje sambil mematut-matut wajah Kim.

"Trus, apa yang salah sama gue?" Kim Bingung sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.

"Naksir kali, tuh," jawab Jeje sambil tertawa seolah meledek Kim

"Ih, Jeje," desis Kim kesal.

"Ehem, ada masalah apa di sana?'' tanya Alvin karna mendengar suara ribut-ribut dari arah meja Kim dan Jeje.

"Nggak ada kok, Pak," elak Kim dan Jeje.

"Jangan mengobrol lagi. Sekarang buka buku LKS kalian, kita akan langsung mulai pelajaran," terang Alvin pada seisi kelas.

---000---

Tepat saat waktu menunjukkan pukul sepuluh, bel berbunyi. Itu tandanya waktu istirahat datang. Ada rasa lega yang di tunjukkan semua isi kelas. Karena apa? Ternyata wajah tampan Alvin berbanding terbalik dengan caranya mengajar. Benar-benar menakutkan.

"Oke, pelajaran kita hari ini sudah berakhir. Lusa kita ulangan, dan nggak ada penolakan. Terima kasih," jelas Alvin sambil meninggalkan ruang kelas.

"Hufft, gila, tuh, Guru," umpat Kim setelah Alvin meninggalkan ruang kelas.

"Dua jam brasa enam jam," sahut Hani.

"Hmm, suasana kelas yang hangat mendadak jadi mencekam, kayak kuburan," tambah Jeje.

"Kita ke kantin, yok, haus, nih," ajak Hani.

"Yok, tapi kalian berdua duluan aja. Pesenin strawbery smoothies buat gue, ya. Kebelet, nih," ujar Kim yang berlalu pergi meninggalkan Hani dan Jeje dengan sedikit berlari keluar dari kelas menuju toilet.

Setelah mengeluarkan hasrat manusiawinya, Kim hendak menyusul kedua sahabatnya ke kantin.

Tapi, pada saat ia berjalan di lorong kelas, tiba-tiba

''brugghh''

Seseorang bertabrakan dengannya, dan tak lain ialah gurunya sendiri, Alvin.

"Aduh," Kim meringis karna lututnya sempat mencium lantai. "Maaf, Pak, nggak sengaja," tambah Kim meminta maaf, saat ia lihat siapakah orang yang ada di hadapannya saat ini. Ya, meskipun ia merasa tak bersalah.

"Kalau jalan lihat-lihat," ujarnya dingin.

"Lah, perasaan Bapak yang nabrak, deh," balas Kim tak mau kalah.

"Kalau menurut kamu saya yang nabrak, dan saya yang salah, trus kenapa kamu barusan minta maaf?"

"Cuma basa-basi doang kali, Pak.''

Mendengar ucapan Kim, bukannya memberi respon atau berkomentar, Alvin malah berlalu pergi begitu saja.

"Gini, nih, yang bikin sakit hati, tanpa bicara apa-apa main pergi aja,'' sungut Kim menuju ke kantin sambil mengumpat kesal.

"Kenapa, lo?'' tanya Hani pada Kim yang tampak kesal.

''Bayangin aja, itu Guru killer tadi dia yang nabrak gue, eh, malah gue yang di omelin," jelas Kim masih dengan wajah kesalnya.

"Pak Alvin?'' tanya Jeje.

"Siapa lagi."

"Hwaa.., mau juga dong, di tabrak Pak Alvin," ujar Hani dengan tingkah lebaynya.

Pada saat itu, tiba-tiba ponsel Kim yang ada disakunya berdering. Iapun segera merogoh sakunya.

"Mama," gumam Kim saat melihat nama yang tertera di layar ponsel, dan seketika menggeser ponselnya ke kanan.

"Ya, Ma?"

"Pulang sekolah kamu langsung kesini, ya, Mama sama Papa mau kenalin kamu sama calon suami kamu," jelas Mama.

"Hari ini?''

"Iya," jawab Mama.

"Hmm, gimana kalau Mama sama Papa aja yang nemuin, aku males,'' balas Kim.

"Mau, semua aset-aset kamu kembali di ambil?"

"Iya, iya. Ntar, aku kesana." Kim langsung menutup sambungan telfon bersama mamanya.

"Lo kenapa?" tanya Jeje melihat raut kesal di wajah Kim.

"Iya, kenapa, sih?" Hani ikut-ikutan.

"Nggak, cuman Papa Mama ngajakin ketemuan sama sahabat-sahabat mereka. Ngebosenin banget, kan," jawab Kim bohong. Ya kali ia jawab jujur, kalau mau ketemuan sama cowok yang bakal di jodohin buat dia. Pasti mereka bakal ketawa ngakak, masa iya keluarganya yang modern ngikutin jejaknya Siti Nurbaya.

"Oohhh," sahut Hani dan Jeje berbarengan

Bab 3

Jam satu siang bel berbunyi. Itu tandanya kegiatan Sekolah untuk hari ini pun berakhir. Semua penghuni sekolah berhamburan keluar layaknya anak ayam yang baru saja keluar kandang.

"Kalian berdua mau jalan?'' tanya Kim.

"Nggak, gue mau tidur siang. Sumpah, ini mata gue ngantuk berat, guys. Tadi aja pas pelajarannya Bu Tini, gue nyaris ketiduran," jelas Hani dengan wajah lesunya .

"Iya, gue juga mau pulang aja," tambah Jeje.

''Hmm.., kalau gitu gue duluan, ya. Mau nyusulin orang tua gue,'' ujar Kim.

"Oke, bye." Kim pamit dan segera menuju mobilnya, begitupun dengan Hani dan Jeje yang menuju mobil mereka masing-masing.

Kim segera menuju Cafe yang sudah diberitahukan mamanya tadi lewat pesan singkat.

Setibanya di cafe yang di maksud, ia menghampiri meja receptionist .

"Maaf, Mbak, saya mau cari meja atas nama Bapak William Affandi. Di sebelah mana, ya?'' tanya Kim pada receptionis.

Wanit itu langsung mengecek nama yang disebutkan Kim, pada sebuah buku.

"Meja atas nama Bapak William Affandi, ada di nomer 13, di lantai dua, sebelah kiri, Mbak," jelasnya mengarahkan.

"Makasih, ya, Mbak," ucap Kim berlalu dan segera menuju ke arah yang dimaksudkan oleh receptionist .

"Ma, Pa," panggil Kim sambil berjalan menghampiri papa dan mamanya yang berada tak jauh dari posisinya.

"Sayang," balas Jessica sambil melambaikan tangan.

Kim segera menghampiri dengan sedikit berlari.

"Kok, lama? Keluyuran dulu, ya?" tanya William yang lebih tepat disebut tuduhan.

"Ih, Papa. Curigaan amat, sih, sama anak. Aku langsung kesini dari Sekolah, ini aja masih pake seragam," jelasnya sambil duduk di kursi yang ada di samping Mamanya.

"Papa cuma becanda kali, Kim."

"O, iya, Kim. Kenalin, ini Om Doni dan Tante Mila," ujar Jessica mengarahkan putrinya pada pasangan suami istri yang berada satu meja dengan mereka.

Kim mengarahkan pandangan pada sepasang suami istri yang usia mereka tak jauh beda dengan orang tuanya.

"Hai, Om, Tante. Aku Kim," ujarnya memperkenalkan diri.

"Hai, Sayang," Sapa Doni.

"Kamu cantik banget," puji Mila.

"Makasih, Tante," jawab Kim malu- malu meong.

Menurutnya Mila ini orangnya riang, keibuan, jelas sekali dari wajah lembutnya itu. Tapi kalau Doni, orangnya agak cuek. Dari raut mukanya, sih, beliau bukan termasuk sosok Ayah yang humoris. Lebih terlihat dingin, kayak si Guru killer. Lah, ini kenapa ia malah keingetan sama itu Guru.

"Ma, Aku ketoilet bentar, ya," ujar Kim pada Mamanya.

"Ya udah, sana. Jangan lama-lama."

"Iya, aku ke toilet bukan buat bobok cantik, kok, Ma. Jadi, nggak akan lama. Oke," canda Kim .

"Kamu ini," gerutu Jessica.

"Ini anak, kok lama banget, ya, datangnya," ujar Mila pada Doni, suaminya. Sambil sesekali melirik waktu di jam tangan.

"Coba di telfon."

Pada saat Mila hendak menelfon, tiba-tiba pandangannya mengarah pada seseorang yang sedang di tunggu-tunggu.

"Ah, itu dia sudah datang," seru Mila yang melihat sosok sang anak dari kejauhan, tampak berjalan mengarah padanya.

"Ayo, duduk," pinta Mila pada putranya.

Pada saat hendak duduk, di saat yang bersamaan Kim yang juga baru balik dari toilet juga hendak kembali duduk ke kursinya.

'Brugghh!!'

"Aduh!!" teriak Kim hebohh.

"Astaga, Kim."

"Kalian nggak apa-apa?" tanya Mila.

"Jalan hati-hati, dong, Kim," omel William.

Ya ampun, ia sangat yakin dengan pasti kalau ini bukanlah salahnya. Tapi, malah dirinya yang kena omel.

Ingin melabrak si pelaku, tapi niatnya seketika terhenti detik itu juga. Kaget, saat melihat siapa orang yang ada di depan matanya. Bahkan, dia jugalah yang menabraknya di sekolah, tapi malah tak mengaku.

"Kamu."

"Aduh, Bapak kok hobby banget, ya, nabrak saya. Nggak di Sekolah, nggak di sini," semprot Kim langsung, sambil kembali berdiri dari duduk manisnya di lantai.

"Kamu nuduh saya nabrak kamu lagi?'' tanya Alvin tak kalah sewotnya.

''Ah, terserah Bapak lah, toh, Bapak juga nggak akan mau di salahkan," cerocos Kim.

"Ehem."

Deheman Papanya Alvin membuat semuanya kembali duduk ke kursi masing-masing, termasuk Kim dan Alvin sendiri.

"Lah, ini Bapak kenapa juga ikut- ikutan duduk di sini?'' tanya Kim heran.

"Tenang dulu, Sayang," sergah Jessica.

"Kim, apa kamu kenal dengan dia?'' tanya Mila pada Kim, menunjuk ke arah Alvin yang masih duduk bersandar di kursi dengan tampang dinginnya.

"Ya, dia Guru di Sekolah aku, Tan," jawab Kim.

"Menurut pendapat kamu, dia gimana?" tanya Jessica ikut-ikutan.

"Hah?''

Kim agak bingung. Masa ia ditanya mengenai pendapatnya tentang Alvin yang baru dia kenal beberapa jam saja. Tapi ia bisa pastikan, Alvin adalah tipe cowok yang menyebalkan.

"Iya, menurut kamu Alvin itu gimana?'' ulang Jessica menunggu jawaban.

"Jujur, nih, ya. Meskipun baru ketemu hari ini, tapi menurut saya Pak Alvin itu, hmm ... nyebelin pake banget, ngeselin, dingin dan muka tembok. Rasanya pengen saya cakar-cakar, dan jambak-jambakin," jelas Kim dengan semangat menggebu gebu.

Penjelasan Kim sukses membuat muka Alvin tampak begitu horor. Seperti vampire kejauhan darah, yang siap menggigit leher siapapun yang menyenggol dia.

"Sorry ya, Pak. Ini jangan disangkut pautin sama nilai saya loh, harus profesional. Eh, ngomong-ngomong ini Bapak kenapa di sini?''

Kim kembali menyadari kenapa dari tadi si Guru killer juga ikut-ikutan duduk di sini. Nggak mungkin juga, kan, kalau ini guru mengikutinya. Kalau benar begitu, jelas saja dia sangat kekurangan pekerjaan.

"Kim, Alvin ini anaknya Tante Mila, sama Om Doni," jelas Jessica

"A-apa?!"

Jujur, ia sangat kaget mendengar penuturan mamanya itu. Berarti, dari tadi ia sudah menjelek-jelekkan anaknya Mila sama Doni. Oh astaga, ini memalukan .

"Jadi?'' Kim mengedarkan pandangannya pada Alvin, Mila, dan Doni.

"Iya, Sayang. Alvin adalah putra kami."

"Dan Alvin jugalah yang akan kami jodohkan sama kamu, Sayang," tambah Jessica semakin memperjelas.

"Whattt!!!''

Astaga naga. Belum reda rasa kagetnya kalau Alvin adalah anak dar Doni dan Mila, sekarang ditambah lagi dengan ucapan mamanya barusan. Demi apa ia mesti dijodohin sama Alvin yang jelas-jelas adalah gurunya sendiri.

"Mama, bercandanya nggak lucu," ujar Kim dengan senyuman terpaksanya.

"Ini serius," tegas Jessica.

"Omaigat!!!" Kim seolah menahan rasa kagetnya agar tak terlalu histeris. "Kok, cuma aku yang kaget, Bapak nggak kaget gitu dengernya?'' tanya Kim pada Alvin yang masih duduk dengan santainya. Seolah-olah tak kaget ataupun sejenisnya.

"Saya sudah tau," jawabnya singkat. Kim langsung memasang muka juteknya mendengar jawaban Alvin

Kim tertawa agak paksa. Kemudian beranjak dari posisi duduknya. "Saya mau bicara sama Bapak," ujar Kim langsung menarik tangan Alvin dan membawa dia keluar dari Cafe. Ia benar-benar geram dengan masalah ini.

"Hei, Lepas!'' bentak Alvin sambil menunjuk tangan Kim yang masih memegang pergelangan tangannya.

"Ih, Bapak kok nyebelin banget, sih." Geram Kim melepaskan tangan Alvin dengan kasar.

"Kamu dari tadi terus memanggil saya dengan sebutan, Bapak. Memangnya saya sudah bapak-bapak," kesal Alvin tak terima.

"Kan Bapak Guru saya.''

"Iya, kalau di Sekolah."

"Ah, terserahlah. Bapak sudah tau dari awal, kan, kalau saya yang dijodohin sama Bapak?'' tanya Kim.

"Ya," jawabnya singkat.

"Pantesan jutek," cetus Kim.

"Biasa saja."

"Oke, kalau gitu saya minta Bapak buat tolak perjodohan ini," pinta Kim.

"Maaf, saya bukan seorang anak yang mau hancurin keinginan orang tua saya. Kenapa bukan kamu saja?"

"Pak, kalau saya yang batalin, ntar semua fasilitas saya bakalan disita. Hancur dong hidup saya."

Sudah jelas ia tak ingin mimpi buruk itu sampai terjadi.

"Ya sudah, kalau gitu jalani saja. Gampang, kan,'' ujar Alvin singkat sambil berlalu pergi meninggalkan Kim dan kembali ke dalam cafe .

"Aaaakkhh!!!" teriak Kim frustasi atas sikap Alvin yang menurutnya sangat-sangat menyebalkan. Mudah sekali dia berpikir dan menjawab se-simple itu. Masalah ini menyangkut kehidupannya selanjutnya.

"Jadi, semua fix, ya," ujar Mila.

"Iya atuh, Jeng. Alvin udah terima, Kim juga gitu, kita lanjutlah," sahut mamanya Kim.

"Lanjut?" Bingung Kim.

"Kami sudah sepakat kalau kalian besok tunangan. Trus, hari minggu kalian menikah."

"Hah?'' Semoga saja saat ini jantungnya dalam keadaan baik-baik saja.

Meskipun ia tau dijodohkan, tapi nggak secepat ini juga kali nikahnya. Masa iya dalam beberapa hari ini statusnya bakalan berubah jadi seorang istri.

"Tapi, Ma, Pa, Om dan Tante. Apa nggak cepet banget, ya. Ini nikah beneran, loh," ujar Kim mengingatkan. Ya, siapa tau aja ibu-ibu dan bapak-bapak ini lupa apa itu menikah.

"Iya, kami pingin cepet-cepet aja. Biar kamu ada yang jagain, Kim," ujar Jessica.

"Dan Alvin ada yang ngurusin," tambah Mila, yang dibalas tatapan nggak jelas dari putranya itu. "Dan satu lagi, Kim. Jangan panggil Alvin dengan sebutan Bapak terus dong, umur kalian cuma beda kisaran 5 tahun. Panggil Kak Alvin aja."

Hanya memberikan senyuman dan anggukan. Apalagi yang akan ia lakukan selain itu.

Setelah semuanya beres, Mila malah memaksanya pergi sama Alvin untuk membeli cincin tunangan. Dengan hati yang sangat dipaksakan akhirnya ia turuti juga.

"Awas, ya, kalau Bapak sampe ngasih tau orang satu Sekolah tentang ini semua," peringat Kim yang saat itu sedang berjalan di belakang Alvin. Tapi ucapannya tak mendapakan respon apa-apa. Tapi ia yakin, kalau Alvin mendengar ucapannya barusan .

Setibanya di sebuah toko perhiasan, mereka berdua langsung disambut oleh pemilik Toko.

"Eh, Mas Alvin. Mau ambil pesanannya, ya?''

"Iya." Angguk Alvin mengiyakan.

"Ini siapanya, Mas?" tanya nya sambil menunjuk ke arah Kim yang berdiri disamping Alvin. "Adiknya, ya, Mas," tebaknya karna melihat Kim yang masih mengenakan seragam SMA.

'Ih, enak bener ni orang ngomongnya. Masa iya gue yang cantik, imut-imut gini dibilang adiknya si muka tembok," batin Kim merutuki perkataan si pemilik Toko.

"Kenapa? Biasa aja dong, mukanya,'' ujar Alvin yang melihat ekspressi muka kesal Kim yang tak terima kalau ia dikira adiknya.

"Ini, Mas, cincinnya," ujar pemilik toko yang kembali sambil membawa sepasang cincin.

Alvin tiba-tiba saja menarik tangan Kim dan itu membuat Kim kaget.

"Eh, eh, mau ngapain?'' tanya Kim. Tapi Alvin tetap memegang tangannya dan tertuju pada jari manis Kim.

"Udah pas atau belum?'' tanya Alvin.

'Oowh mau cobain cincin, kirain--'

''Gimana, udah pas atau belum?'' tanya Alvin tanpa menatap ke arah Kim.

"Iya."

"Duh, ini calon istrinya Mas Alvin. Maaf, saya kira tadi adiknya, Mas. Soalnya masih pake seragam SMA. Kok bisa, sih, Mas? Apa kecelakaan, ya, Mas?" tanya-nya nggak berhenti-berhenti, yang hanya dijawab dengan tatapan tak suka dari Alvin.

'Kecelakaan? Maksudnya, gue bunting, gitu? Anjirr, mulut ni orang pengen ditabok kayaknya. Dia kira gue cewek apaan,' gerutu Kim dalam hati.

"Maaf, Mas," ujar si pemilik toko seolah tau arti dari ekspresi wajah Alvin.

Setelah selesai untuk urusan cincin, Alvin dan Kim kembali ke mobil. Dalam keadaan berdua di mobil beginilah, Kim menjadi sangat canggung.

"Ini kita mau kemana?'' tanya Kim yang menyadari kalau ini bukan arah jalan pulang ke rumahnya.

''Makan, saya lapar,'' jawabnya dingin.

Bukan hanya Alvin yang merasa lapar, Kimmy pun juga begitu. Pada pertemuan di Cafe tadi, ia tak dipersilahkan untuk makan terlebih dahulu. Sungguh keterlaluan sekali orang tuanya.

"Saya pikir Bapak nggak punya rasa lapar," ledek Kim sambil tertawa lepas.

"Saya juga manusia."

"Benarkah?'' tanya Kim becanda. Tapi Alvin malah membalasnya dengan tampang sangarnya.

"Becanda kali, Pak." Kim menyadari tatapan yang ia terima dari Alvin itu begitu menakutkan.

"Saya kan sudah bilang, jangan panggil saya dengan sebutan, Bapak," protes Alvin untuk yang kesekian kalinya masalah panggilan Kim padanya.

"Iya, iya, maaf, Pak. Eh, maksudnya, Kak," ulang Kim pada perkataannya, meskipun agak berat.

#di restoran

"Ini menu nya, Mas, Mbak," ujar seorang pelayan cafe sambil menyodorkan buku menu pada Alvin dan Kim.

"Saya pesen salad, sama minumnya green tea," ujar Alvin sambil menyodorkan kembali buku menu pada pelayan Cafe dan menatap Kim seolah bertanya mau makan apa? Tapi nggak mungkin juga seorang Alvin mengatakan itu langsung.

"Saya pesen chicken saos teriyaki," jawab Kim.

"Sebentar, Mas, Mbak," ucapnya sambil berlalu.

Saat makan pun, Alvin dan Kim tak bicara apa-apa. Apa yang akan dibicarakan, menurut Kim, Alvin bukanlah lawan bicara yang baik.

"Bapak vegetarian?'' tanya Kim membuka pembicaraan.

"Bukan,'' jawabnya singkat.

"Trus kenapa?" tanya Kim sambil menunjuk ke arah piring Alvin.

"Memangnya cuma seorang vegetarian yang boleh makan salad?'' tanya Alvin balik .

"Hehehe, iya, ya," balas Kim cengengesan.

"Dan satu lagi. Jangan pernah bicara disaat makan, itu sangat tidak sopan," jelas Alvin mengingatkan, masih dengan tampang dinginnya yang menurut Kim sangat kelewat batas. Seperti tak punya eksressi saja.

"Peraturan apa itu?" tanya Kim. Tapi pertanyaannya malah dikacangin begitu saja oleh Alvin.

Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Alvin mengantar Kimmy balik ke rumahnya.

"Makasih, Pak, sudah mengantar saya pulang dengan selamat," ucapnya yang sudah berada di luar mobil Alvin.

"Sudah saya bilang jangan panggil saya Bapak," kesal Alvin yang berada di dalam mobil.

"Eh, iya, Bapak Alvin," ledek Kim yang langsung kabur sambil ketawa. Entah kenapa, melihat tampang Alvin yang sedang kesal, itu membuatnya sangat terhibur .

"Malam," teriak Kim saat menapaki kakinya di ruang keluarga .

"Kimmy, jangan teriak-teriak," semprot mamanya langsung, yang ternyata sudah menunggu di ruang tamu.

"Eh, Mama, kirain nggak ada orang. Papa juga," ujar Kim menyadari tak hanya mamanya yang ada di sana, begitupun papanya.

"Gimana?'' tanya papa.

"Gimana apanya, Pa?'' tanya Kim balik .

"Ya elah, maksud Papa gimana kamu sama Alvin?''

''Biasa aja."

"Ganteng, kan, Alvinnya?'' tanya mama senyum-senyum nggak jelas.

"Hmm, gini, ya, Pa, Ma. Ya, memang, sih, Pak Alvin itu ganteng. Tapi Papa tau, kan, dia orangnya nyebelin pake banget, Pa. Papa nggak mau ngerubah keputusan Papa buat batalin ini semua?" tanya Kim .

"Sayangnya, enggak. Papa malah tambah semangat ngeliat sifatnya Alvin."

"Papa nyebelin!'' kesal Kim meninggalkan mama dan papanya yang malah semakin bersemangat tentang perjodohan gila ini.

"Jangan tidur larut malam. Besok kamu tunangan loh, jam sepuluh,'' teriak mamanya.

Ia bisa mendengar teriakan mamanya itu dengan sangat jelas, tapi ia abaikan saja.

Bagi pasangan yang akan bertunangan atau menikah dwngan rasa cinta, mungkin mereka takkan bisa tidur semalaman karena saking bahagianya. Tapi tidak dengan Kim, ia malah tak bisa tidur memikirkan itu semua karena ia tak cinta bahkan mengenalpun tidak. Semoga saja kejadian hari ini hanya mimpi belaka.

---000---

Yap, benar selali. Hari ini adalah hari pertunangannya dengan Alvin. Hah, dunia ini benar-benar sudah tak berada diposisi yang seharusnya. Begitu juga dengan pemikiran kedua orang tuanya yang ikut bergeser dari porosnya.

"Non, bangun!"

Suara bibik yang heboh berteriak-teriak di pintu kamarnya Kim.

"Kimmy!!!"

Nah, kalo yang ini bukan suara bibik lagi, melainkan suara dari ibu negara yang perkataannya tak bisa dibantah sedikitpun.

"Iya,'' jawab Kim segera bangun dan berjalan dengan gontai untuk membuka pintu kamarnya. "Aduh Mama sama Bibik ngapain, sih, teriak-teriak nggak jelas," racau Kim sambil masih ngucek-ngucek matanya yang masih ngantuk berat.

"Sudah jam delapan Kimmy dan kamu masih saja tidur. Kamu lupa ini adalah hari pertunangan kamu sama Alvin." Mamanya langsung heboh mengomel seperti sebuah mobil yang remnya sudah blong.

''Mama bilang, lupa? Mama tau, semalaman aku nggak bisa tidur, cuman mikirin tunangan nggak jelas ini."

"Nggak jelas kamu bilang? Jelas-jelas ini udah ada di depan mata kamu. Jadi, ya, nikmatin aja. Sudahlah, sana kamu mandi dan siap-siap. Dan ini baju yang akan kamu pake," jelas Jessica sambil meletakkan dress berwarna putih dan hels di atas tempat tidur.

Setelah selesai mandi, ia segera mengenakan baju yang sudah disediakan mamanya tadi. Disaat itu, tiba-tiba ponselnya berdering.

"Hadeh.., si Jeje nelfon," keluh Kim saat melihat nama Jeje lah yang tertera dilayar ponselnya.

"Ya, Je.''

"Lo nggak masuk?"

"Iya, mau ke acara tunangannya sepupu gue." Bohong Kimmy.

"Tapi, besok masuk, kan?"

"Iya, besok gue Sekolah, kok."

"Ya udah, bye."

"bye."

"Gue mau menghadiri acara tunangan sepupu gue. Hello, jelas-jelas gue yang tunangan," gerutu Kim sambil menghentakkan kakinya pertanda kesal.

Jam setengah sepuluh, Kim dan keluarga besar menuju ke tempat acara yang sudah ditentukan. Entah kapan orang tuanya mempersiapkan semua ini. Yang jelas, semuanya sudah beres saja.

"Waw.., Kimmy, Sayang. Kamu cantik banget," puji Mila mematut-matut penampila Kim. "Bener kan, Vin?" tanya Mila pada Alvin yang berada di sebelahnya, yang hanya dibalasnya dengan tatapan dinginnya pada Kim.

'Lumayan, cantik,' batinnya.

"Nggak salah pilih kita," tambah Doni, papanya Alvin.

"Makasih, Om, Tante," ucap Kim.

"Ayo, Jeng, duduk dulu," ajak Tante Mila.

Sementara Kim, ia malah lebih memilih duduk dipojokan dari pada kumpul sama emak-emak dan bapak-bapak. Karna menurutnya itu sangat membosankan.

Sekitar sepuluh menit kemudian, mamanya memanggil dari kejauhan. Saat ia hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba seseorang langsung menabraknya.

'Brugghh.'

"Omaigat," umpatnya kesal. Apalagi saat melihat siapa orang yang menabraknya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED