Setelah pertemuannya dengan sosok pemuda dengan senyum manis itu, Shenia menjadi gagal fokus!
Senyum pemuda itu terngiang-ngiang di ingatannya, tak sadar seulas senyum terbit di wajahnya yang cantik. Dua sahabat Shenia pun saling pandang, tak mengerti apa yang terjadi pada gadis paling populer di sekolah mereka.
"Eh gue mau tanya sama kalian" Shenia tiba-tiba berubah jadi serius, dan jujur saja raut wajahnya yang seperti itu sangat menakutkan!
"Apa?" Seema dan Tantri kompak. Mereka cukup gentar dengan tatapan mata Shenia yang tajam dan raut wajah seriusnya.
"Kalian tau Rafka anak cupu kelas 12 IPA 1?" Shenia bertanya dengan nada yang sama seriusnya.
"Si nerd itu?" Tantri memastikan.
"Iya yang itu!" Shenia membulatkan matanya, serasa mendapatkan harta Karun.
"Gue cuma tahu namanya. Dia Rafka Saabiq. A untuk nama belakangnya gue nggak ngerti. Dia kan anak 12 IPA 1 yang langganan menang olimpiade matematika," jawab Tantri dengan memainkan ponselnya, acuh.
"Seriusan Rafka yang itu, Lo nanyain dia?" Seema terpekik tidak percaya. Dia juga sedikit memajukan tubuhnya.
"Iya, yang tadi kita tolong Seema!" Shenia beralih menatap Seema, dia juga tampak bersemangat.
"Ooo itu...Kenapa emangnya, Lo suka?" Tanya Seema curiga.
"Lo gila apa Seema? Shenia si most wanted girl sekolah kita suka sama nerd ya nggak mungkin!" Tantri tidak setuju, dia juga sudah membuat tanda silang dengan kedua tangannya. Seolah-olah apa yang dia pikirkan tentang Shenia adalah benar.
Tapi, ekspresi Shenia tampak mengatakan hal lain. "Emang kalo suka kenapa?" Shenia malah bertanya balik.
"Lo becanda apa katarak sih? apanya yang Lo suka dari cowok itu? Masih mending kalau cowoknya keren kaya bang Shaquille, lah ini nggak!" Seema tidak habis pikir, dia memijit pelipisnya perlahan.
"Ya nggak tahu. Tapi gue rasa kalo gue udah falling love sama dia," ucap Shenia sambil senyum-senyum sendiri. Wajahnya juga berbinar-binar, penuh kegembiraan.
"Bocah satu emang udah nggak waras deh ma, gue khawatir. Sana bilangin abangnya gih!" Tantri mengintruksi Seema yang memang terkenal tergila-gila dengan kakak Shenia itu.
"Gue sehat, dan kalian nggak perlu bilang sama abang gue. Ngomong aja kalo mau modus ke dia," cibir Shenia.
"Ish tau aja sih, calon adek ipar." Seema cengar-cengir.
"Nggak sudi gue punya kakak ipar kaya Lo!" Shenia membayangkannya ngeri.
Tantri hanya tertawa puas, dia sudah tahu kalau Seema pasti akan mau menuruti permintaannya untuk dekat dekat dengan Shaquille, kakak kandung Shenia apapun alasannya. Dan Shenia sudah pasti menolak mentah-mentah.
Bagi Shenia sahabatnya itu tidak cocok dengan kakaknya, ia tidak mau keduanya akan terluka nanti. Shenia menyayangi keduanya, dan jika Seema dekat dengan Shaquille lalu hasilnya tidak sesuai harapan. Dia pastikan hubungan mereka akan buruk. Shenia tidak mau kalau harus memilih akan berpihak pada siapa antara sahabat dan kakaknya sendiri.
"Ya udah ah, gue mau cari abang tamvan gue" Shenia mengatakannya dengan nada alay, khas banci. Lalu dia lekas berdiri dan membayar makanannya.
Tantri dan Seema mengerutkan kening, siapa pula yang disebut abang tampan oleh Shenia?
"Mau kemana sih?" Tantri berteriak.
"Ada deh, kepo!" Shenia berjalan menjauh sambil tersenyum lebar.
Sampai di depan kelas 12 IPA 1 Shenia berhenti, ia bertanya pada salah satu cowok yang sedang nongkrong di sana.
"Rafka ada nggak?" Tanya Shenia ramah.
"Lagi di perpus, Lo ada perlu?" Cowok itu penasaran.
"Nggak, ya udah thanks." Shenia kemudian berlalu, ia menunju perpustakaan untuk mencari Rafka. Cowok culun yang sudah membuat ia salah fokus sejak pagi.
Di perpustakaan Shenia langsung mengedarkan pandangannya, lalu berhenti pada meja pojok ruangan. Di sana ada Rafka yang sedang serius membaca buku tebal didepannya, kalau itu Shenia ia pasti sudah molor tidak tahan membaca lama-lama.
"Hai," sapa Shenia ramah.
"Ha-hai juga." Rafka mendongak sebentar lalu menunduk lagi.
"Boleh duduk nggak?" Tanya Shenia lembut.
"Boleh kok, silahkan" Rafka tidak berani menatap Shenia.
Shenia hanya menatap wajah Rafka sambil tersenyum, dia tidak tahu tapi wajah Rafka jika diperhatikan sangat tampan menurutnya. Ditambah dengan sikapnya yang sopan membuat Shenia makin jatuh hati.
Lalu apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?
Rafka merasa ditatap sedekat itu pun merasa tidak nyaman. Dia takut atau lebih tepatnya malu?
Belum ada yang pernah begitu dengannya. "Jangan gitu Shenia," ucap Rafka lirih.
"Kenapa, gue ngapain emang?" Tanya Shenia tidak berdosa.
"Ya itu. Jangan natap lama-lama" Rafka berkata malu-malu.
"Emang nggak boleh, natap calon pacar?" Shenia mengedipkan sebelah matanya. Dia juga memberikan penekanan pada kalimatnya.
Rafka hanya diam, dia tidak tahu seorang most wanted girl SMA Manggala se-absurd itu dengannya. Dan apa katanya tadi, MENATAP CALON PACAR?
Rafka tak salah dengar?
Shenia terkikik melihat perubahan ekspresi Rafka, sangat lucu menurutnya. Kalau bukan Rafka ia tidak akan sudi genit begitu.
"Lo suka sama gue nggak?" Tanya Shenia lagi, kali ini dia malah menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Maksudnya?" Rafka masih tidak percaya. Dia juga mulai tak fokus dengan bacaannya.
"Ya suka, Lo suka nggak sama gue?" Shenia memaksa.
"Su-suka kok, kamu kan cantik dan baik." Rafka malu-malu, bahkan dia sudah menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang merah merona.
"Gitu ya. Lo suka gue sebagai apa?" Shenia menggoda Rafka.
"Suka sebagai teman Shenia." Rafka menjawab cepat. Rasanya dia ingin menghilang saja sekarang, berdekatan dengan si most wanted girl SMA Manggala ternyata se-absurd ini.
"Temen aja nih, nggak lebih?" Shenia makin mempersempit jarak diantara mereka, dia bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Rafka yang kini berhadapan dengannya.
"I-iya... aku suka kamu sebagai teman Shenia." Rafka gugup, di jarak sedekat itu Shenia terus menatapnya.
Untung saja perpustakaan sedang sepi, bahkan tidak ada orang petugas perpustakaan juga sedang keluar. Jadi Rafka masih terbilang aman, kalau tidak sudah pasti ia akan makin di bully karena dekat-dekat dengan Shenia.
"Tapi gue suka sama Lo lebih dari temen, gimana dong?" Shenia masih setia dengan posisi nya, bahkan ia sedikit menyingkirkan buku yang menghalangi mereka.
"Jangan Shen, aku nggak pantes buat kamu." Rafka masih menunduk.
"Gue tahu Lo pasti bakal bilang itu" Shenia menyingkir sebentar, lalu memilih duduk di samping Rafka.
Rafka juga memperhatikan gerak-gerik Shenia bingung.
"Tapi gue bakal terus berusaha buat deket sama Lo, apapun alasannya. Lo mau suka atau nggak. Gue nggak peduli," sambung Shenia tulus kemudian berlalu dari pandangan Rafka secepat kilat.
Rafka memegang dadanya, jantungnya berdetak kencang seperti akan melesat dari tempatnya. Dia tidak yakin Shenia akan serius dengan ucapannya tapi tingkah Shenia tadi cukup membuatnya tak karuan.
Kini waktu menunjukkan pukul 16.00 sudah saatnya siswa-siswi SMA Manggala pulang ke rumah masing-masing. Setelah menyelesaikan les atau ekstrakurikuler lain di SMA elit tersebut.
Shaquille Birousk Putra Airlangga, kakak satu-satunya yang Shenia punya itu sedang menunggu adiknya dengan malas. Dia tidak suka ditatap oleh adik kelasnya atau para siswi lain dengan tatapan mengerikan. Mereka tidak segan menatap Shaquille dengan tatapan menggoda, dan itu membuat Shaquille jengah.
"Udah lama bang?" Shenia mengejutkan kakaknya, dengan berdiri di sampingnya secara tiba-tiba.
"Lama banget, bosen gue disini sampe berjamur juga!" Shaquille kesal, lalu berjalan menuju parkiran.
"Yaudah sih santai aja, makanya jangan mau bareng sama gue. Lama kan?" Shenia melangkah mendahului sang kakak.
"Lo kalo nggak dijagain pasti kabur." Shaquille mengekor dibelakang Shenia.
"Dih Sok suci, Lo juga suka kabur kan?" Shenia mendelik.
"Tapi nggak sering," elak Shaquille.
"Tapi pernah?" Shenia tak mau kalah
"Iya-iya bawel." Shaquille mengalah, dia sudah kehabisan energi untuk berdebat dengan Shenia.
Diam, setelah cekcok kecil itu dua bersaudara yang bak Tom and Jerry memilih fokus pada perjalanan ketika kedua sudah berada dalam satu mobil. Tiba-tiba Shaquille teringat sesuatu.
"Lo tadi ngapain ke kelas 12 IPA 1 dek?" Shaquille masih fokus pada kemudi.
"Nyari cowok," jawab Shenia enteng, sesekali dia menjentikkan jarinya. Seolah-olah yang dia lakukan adalah hal wajar.
"Cowok? Tumben, udah nggak jadi most wanted girl lagi ya," ejek Shaquille. Sembari tersenyum sekilas.
Tapi tak ada jawaban dari sang adik, hal itu membuat Shaquille makin gemas dan ingin menggodanya lagi.
"Cowok mana sih yang bisa bikin adek gue sampe segitunya?" Shaquille memandang adiknya sekilas.
"Rafka." Jawab Shenia singkat.
"What?" Shaquille terkejut bukan main, ia sampai menghentikan mobilnya mendadak.
Cittt!
"Buset. Pelan bang!" Shenia kesal, hampir saja jantungnya copot karena ulah kakaknya.
"Barusan Lo ngomong apa? Rafka, Lo cari dia?" Shaquille tidak percaya.
"Iya, kenapa? Lo Nggak suka" Shenia polos.
Shaquille memandang sang adik penuh tanda tanya. Memangnya siapa yang suka jika adiknya yang terkenal cantik jelita dan menjadi incaran para pemuda, malah jatuh hati dan memilih si cowok cupu?
"Memangnya cowok cupu bisa melindungi Shenia?"
Shaquille masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi. Adiknya, seorang Shenia Ereshva Madia putri Airlangga mencari cowok culun bernama Rafka, padahal banyak yang mengejar adiknya itu. Tapi tidak ada yang diberi perhatian khusus oleh Shenia, dan sekarang justru Shenia yang perhatian dengan Rafka.
"Apa dek? Lo serius cari Rafka?" Shaquille masih melongo.
"Iya, Lo budek ya bang apa congek?" Shenia kesal.
Seketika Shaquille menoyor kepala adiknya, bisa-bisanya dia masih bercanda sedangkan kakaknya sudah melongo tak karuan.
"Ngapain Lo cari dia?"Shaquille penasaran, dia bahkan beringsut agar lebih dekat dengan sang adik.
Tapi bukannya mendapatkan jawaban, Shenia malah lekas menutup wajahnya dengan jas almamater. "Kepo!" Shenia menutup matanya, pura-pura tidur!
Shaquille menyerah, tidak ada yang bisa 'menjinakkan' adiknya itu kecuali sang mama. Meski sudah dengan berbagai cara, jika Shenia tidak ingin melakukan sesuatu maka ia akan tetap begitu.
Malam harinya, di sisi lain Rafka masih sibuk dengan buku-bukunya. Minggu depan ada olimpiade matematika dan dia sudah biasa mengikutinya tapi juga tidak akan ceroboh dengan tidak belajar.
"Rafka, ayo turun nak makan dulu!' Zoya, ibunda Rafka masuk ke kamar putranya.
"Bentar mam, tanggung satu bab lagi," jawab Rafka lembut diiringi dengan senyuman tipis.
Zoya mendecik pelan, kemudian dia mendekat pada sang putra dan mengusap punggungnya perlahan.
"Makan dulu ya, nanti langsung disambung deh belajarnya. Nanti kamu bisa sakit kalau melewatkan makan nak." Zoya tetap tidak mau kalah.
Rafka akhirnya mengalah, dia menghela nafas. "Iya mah," jawabnya sembari menutup bukunya, tidak lupa dia juga melepas kacamatanya dan meletakkan benda yang membingkai matanya itu di atas meja.
Apa yang dilakukan Rafka itu tak luput dari pandangan Zoya yang masih berdiri di sampingnya.
"Mama lebih suka kalo kamu gini Ka" Zoya menatap lekat putranya itu.
"Mata aku kan sakit mam kalo baca nggak pake kacamata." Rafka berusaha memberi alasan yang masuk akal, toh memang begitu pula adanya.
Mata Rafka minus, karena terlalu banyak membaca buku dan belajar. Pantas jika dia memakai kacamata, lagipula penampilannya yang seperti itu juga tak terlalu buruk.
"Tapi nggak perlu dipake terus juga, lagian kenapa sih kamu suka banget dandan culun gitu nak?" Zoya tidak habis pikir putra nya itu berubah begitu drastis. Dia kehilangan kepercayaan diri nya dan jadilah seperti sekarang.
"Nggak apa, nyaman aja kaya gini mah." Rafka menjawabnya dengan penuh makna kemudian melangkah pergi, dia sudah paham mama nya itu pasti akan menanyakan kenapa ia lebih suka seperti ini sekarang.
Di ruang makan Aira, sudah duduk menunggu mereka. Wajahnya cemberut karena Rafka sangat lama belajar. Akibatnya anak kecil itu harus menunggu lama untuk makan. Padahal dia sangat lapar.
"Kakak lama banget!" Aira menarik lengan Rafka untuk segera duduk.
"Tadi habis belajar dek." Rafka tenang, sesekali ia mengelus pucuk kepala Aira penuh sayang.
"Tapi kan aku lapar, kakak malah lama," sungut Aira tidak terima. Dia sudah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Lengkap dengan bibirnya yang mengerucut lucu.
"Iya-iya maaf ya." Rafka bertingkah seolah menjewer kedua telinganya sendiri sambil nyengir lebar. Harap-harap dengan begitu gadis kecil didepannya dapat luluh.
Aira tidak tahan dengan sikap Rafka itu, selalu ada hal yang membuat nya tidak bisa marah lama-lama dengannya. Kemudian Aira tersenyum dan menarik tangan Rafka agar tak lagi menjewer telinganya sendiri.
Di saat yang sama Zoya baru saja turun dari kamar Rafka. Wanita itu lekas menghampiri keduanya dan berkata lembut.
"Kalian makan ya, mama mau keluar dulu karena ada perlu sebentar. Aira jangan nakal ya, jangan ganggu kak Rafka!" titah Zoya dan diangguki oleh keduanya.
"Iya mama!" Aira mengangguk patuh.
"Mau aku antar ma?" Tawar Rafka penuh perhatian
"Nggak, mama bisa sendiri. Lagian mama sama supir kok." Zoya memberi tahu.
Setelah merasa cukup, wanita itu kembali berujar pelan. Apalagi saat melihat supir keluarga mereka sudah menunggu dia ambang pintu. Tanda bahwa mobil yang akan Zoya gunakan sudah siap.
"Ya udah mama pergi ya, kalian jaga rumah." Zoya melangkah pergi setelah mengusap puncak kepala Aira dan Rafka bergantian.
Saat tengah asik melahap makanannya, ponsel Rafka berkedip. Tanda ada notifikasi mendarat di benda pipih itu. Dengan segenap rasa penasaran, Rafka memeriksanya.
WhatsApp on
[+62823xxxxxxxxx]
[Hay, save nomor gue.]
Rafka mengerutkan keningnya, siapa yang menghubungi dia malam-malam?
[Ini siapa ya?] Rafka mengetikkan balasan
[Cewek paling cantik di Sekolah.]
Rafka tampak mengingat siapa yang dimaksud 'cewek paling cantik di Sekolah' karena menurutnya di SMA Manggala sudah terlalu banyak populasi cewek cantik, dia juga tidak pernah memperhatikan nya. Jadi dia tidak tahu apalagi mau cari tahu.
Rafka kembali mengirim pesan balasan. [Maaf aku nggak tau.]
[Ck ck. Ini gue, Shenia!]
Rafka membelalakkan matanya sempurna saat nama Shenia terpampang di layar ponsel miliknya.
[Oh iya, aku save kok Shen.]
Tak berselang lama ada balasan pesan lagi yang masuk, masih dari orang yang sama.
[Bagus, kalau gitu sampai jumpa besok!]
Rafka menghela nafasnya pelan, apa lagi ini. Hidupnya berasa diteror oleh Shenia. Semenjak bertemu dengan gadis itu hari-hari tenangnya mulai menghilang. Ada saja kelakuan absurd Shenia yang datang untuk hinggap dan membuatnya menghela nafas lelah.
Di pagi harinya, saat sinar matahari belum terbit sempurna Shenia sudah siap berangkat ke sekolah. Dia mengikat rambut panjangnya seperti ekor kuda. Dengan dua jepit yang ia selipkan di kepalanya, menambah kesan rapi dalam dirinya.
Eits, kalian jangan senang dulu!
Apa kalian pikir Shenia itu gadis baik-baik disekolah?
Shenia hanya rapi sebelum dan setelah sekolah saja, alias hanya di rumah. Untuk mengelabuhi orang tuanya, agar mereka tidak tahu kalau penampilan Shenia berubah urakan saat di sekolah.
Tapi ini juga bukan untuk ditiru, OKE?
Jam menunjukkan pukul 6.30 tapi Shenia sudah siap, rencananya ia akan masuk kelas seni terlebih dahulu sebelum jam pagi.
"Mama.. Shenia berangkat ya, mau ke kelas seni dulu!" teriak Shenia, karena mama nya sedang ada di kamar mandi.
"Iya.. berangkat sama pak Yoso ya?" jawab sang mama tak kalah teriak.
"Nggak, Shenia bisa sendiri. Bye!" Shenia langsung pergi, ia tidak mau diantar atau berangkat bersama kakaknya, terlalu repot menurutnya.
Dijalan Shenia melajukan motor sportnya pelan, jalan ibu kota belum terlalu ramai. Ia bisa sedikit santai menikmati udara pagi serta suasananya yang menyenangkan.
Tak lama matanya menyipit melihat seseorang yang tidak asing baginya sedang berjalan kaki menuju arah sekolah.
Tin tin tin!
Shenia menghentikan motornya, ia melepas helm yang dia pakai dan menoleh pada orang itu.
"Woy Lo! Ngapain jalan segala, yok bareng," ajaknya.
Yang diajak bicara hanya diam, dia masih berdiri mematung. Menatap tak percaya pada Shenia, si most wanted girl SMA Manggala yang mengajaknya berangkat bersama.
"Woy ayo bareng, Lo budek ya? Shenia sedikit berteriak. Apalagi saat gadis itu berbicara beberapa kendaraan bermotor lewat didekat mereka.
"Nggak Shen, makasih ini udah deket kok," tolak Rafka halus.
Ya, orang itu adalah Rafka.
Dia merasa akan menjadi masalah besar jika ia berangkat bersama Shenia nanti. Apa jadinya jika dia, si anak cupu disekolah malah berangkat bersama Shenia si most wanted girl?
"Gue nggak pernah diajarkan buat menerima penolakan, naik nggak Lo!" Shenia memaksa. Gadis itu juga lekas turun dari motornya.
"Eh tapi Lo yang bawa." Shenia menyerahkan kunci motornya pada Rafka yang masih mematung di tempatnya.
"Bisa kan?" Tanya Shenia memastikannya lagi.
Sementara itu Rafka tetap diam, tidak bereaksi sama sekali.
"Lo bisa bawa motor kan Rafka?" Shenia geram, dia menaruh kunci motornya ke tangan Rafka dan memaksa Rafka duduk didepan.
Kemudian dengan pasrah Rafka menuruti kemauan Shenia, dari pada telat kan?
Sesampainya di sekolah mereka berdua seperti makhluk asing saja, banyak yang menatapnya aneh.Rafka turun dan memberikan kunci motor Shenia dan gadis itu menerimanya dengan semangat.
"Makasih Shen." Rafka tersenyum sekilas, lalu hendak pergi.
Tapi lagi-lagi tak semudah itu Rafka melarikan diri dari seorang Shenia.
"Eh tunggu. Apaan Lo cuma gitu doang, anterin ke kelas gue yuk!" Shenia menghalangi langkah Rafka. Dia sudah merentangkan kedua tangannya dan berdiri didepan pemuda itu.
'Salah siapa Lo senyum manis banget ke gue. Nggak bisa Lo main kabur aja Rafka,' batin Shenia.
"Tapi Shen," ucapan Rafka tidak selesai karena Shenia lebih dulu menggandengnya.
Lagi-lagi Rafka hanya pasrah, dia tidak mau berurusan dengan Shenia lagi sebenarnya, tapi nasib berkata lain. Sampai di depan kelas seni Shenia meminta berhenti dan Rafka hanya mengangguk.
"Nanti Lo balik naik apa? Atau jangan-jangan jalan kaki lagi?" Tanya Shenia menyelidik.
"Iya." Rafka menjawab dengan singkat dan harapan dia tidak akan lagi berurusan dengan Shenia.
"Gue anterin, dan Lo nggak perlu nolak!" Shenia langsung berkata cepat, dia tahu Rafka pasti akan menolaknya.
"Tapi--"
"Nggak ada tapi tapian. Lo balik sama gue, titik!" Shenia lalu masuk ke kelas seni meninggalkan Rafka yang masih melongo mendengar perkataannya.
Shenia hanya tersenyum lebar, dia paham pasti Rafka tidak suka dengan sikapnya itu. Rafka pasti takut akan menerima bully lagi. Tapi menurut Shenia tidak akan ada yang berani menganggu siapa pun yang menjadi temannya. Apalagi si Rafka yang sudah ia patenkan sebagai 'CALON PACAR'
"Mulai sekarang Lo nggak akan bisa lari dari gue, Rafka!"