Bab 1

Anak anak SMA Manggala tengah berbaris rapi, mereka sedang mengikuti upacara bendera. Sesekali ada yang jongkok atau bersandar di punggung teman didepannya.

"Hah! panas bener," ucap seorang gadis cantik dengan rambut terurai sambil mengibaskan tangannya didepan wajah.

Ada name tag di jas almamater miliknya bertuliskan, Shenia Ereshva Madia Putri Airlangga. Salah satu gadis yang menjadi incaran para kaum Adam di SMA Manggala ini.

"Jangan kenceng gitu kodok!" Seorang gadis lain menjitak kepala gadis bernama Shenia dengan kesal. Merasa bahwa temannya satu ini tidak bisa diam walau sehari, gadis dengan nama lengkap Seema Mishra Elzayda Raksa. Putri tunggal dari keluarga Raksa yang terkenal kaya raya.

"Sakit!" Keluh Shenia sembari mengusap bekas jitakan temannya dengan tangan dan wajahnya ditekuk, persis cucian baru kering.

Guru BK yang berada dibelakang mereka langsung melotot, sudah tahu apa yang biasa mereka rencanakan. Shenia dan temannya pasti akan berulah agar tidak mengikuti upacara, alhasil guru BK harus ekstra hati-hati dengan mereka, karena selama ini sering kecolongan.

"Sst! bakso pak Imin enak nih. kabur yuk!" Kini gadis lain dengan penampilan tomboy mulai berbisik pada Shenia. Dialah Tantriana Savara Majrin, satu dari dua sahabat Shenia di SMA ini.

Mendengar bisikan dari Tantri, sang empu sudah pasti mau dia dengan cepat mengangguk mengiyakan.

"Tapi gimana keluarnya Bu Hilda di belakang," bisik Shenia tak kalah lirih.

"Biasalah.. modus dulu," Jawab Tantri enteng. Memang sudah kebiasaan bagi tiga serangkai ini, mereka akan mangkir dari upacara bendera dengan berpura-pura pingsan seperti biasanya.

Mereka adalah tiga serangkai yang hobi sekali membantu para guru naik darah. Tentu saja Shenia adalah otak dari semua kenakalan mereka, ditemani dengan Seema dan Tantri.

"Nggak usah bikin ulah deh masih pagi juga," sahut Seema tidak suka, ia sering kasihan sekaligus kesal dengan dua sahabatnya itu. Mereka sering berulah dan mendapat hukuman ujung-ujungnya dia juga kena imbasnya, sangat menyebalkan!

"Ikut aja ah elah, udah biasa juga. Gue tahu Lo lapar kan pasti, perut Lo bunyi Seema." Tantri terkikik mendengar ucapan Seema yang menolak tapi perutnya berkata lain.

"Iya gue tau, tapi nggak sekarang!" Seema Mendelik, ia tidak terima meski perutnya sangat sialan. Tidak bisa diajak kompromi.

Kepala sekolah yang melihat tingkah Shenia dan temannya itu langsung menghentikan pidatonya, sontak satu sekolah heran dengan hal ini.

Menyadari ada yang aneh, Shenia menatap kedepan dan terlonjak kaget.

Pak Budi, kepala sekolah SMA Manggala yang terkenal killer sudah ada didepannya.

"Kamu mau gantikan saya pidato di depan Shenia?" Tanya Pak Budi menahan amarahnya, ia harus menjaga diri agar tidak kalut dalam emosinya pagi ini.

"Nggak pak, bapak aja.. saya diem kok suwer!" Shenia gelagapan, seketika ia ingin menghilang saja. Satu sekolah melihat nya dengan tatapan ganas dan seperti ingin menguliti dirinya hidup-hidup!

Warga sekolah seolah mengatakan 'gara gara Lo upacaranya lama' lewat tatapan tajam masing-masing.

Setelah upacara bendera kini disini lah ketiga gadis rusuh itu sekarang, KANTIN. Tempat favorit bagi siswa berandalan seperti Shenia and the gang!

SMA Manggala selalu memberikan waktu 15 menit untuk beristirahat setelah upacara, sebelum pelajaran dimulai. Tentu saja hal itu dimanfaatkan oleh siswa-siswi mereka.

"Haus banget gue... Berasa lari maraton," Ucap Shenia setelah meneguk habis air mineralnya hingga tandas, kosong. Tinggal botol!

"Kaya pernah ikut maraton aja," cibir Seema.

"Kagak pernah si hehe." Shenia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

"Guys gue kayaknya nggak ikut kelas deh pagi." Tantri berbicara dengan menimang bakso yang ia tusuk dengan garpu.

"Mau bolos Lo?" Selidik Seema sembari menoleh, karena mereka duduk bersebelahan.

"Ada perlu bentar, kalian bisa kan izinin gue?" Tanya Tantri memelas.

"Urusan apa sih, penting ya? Sok sibuk banget Lo kek pejabat." Shenia meremehkan.

"Gue mau ketemu temen kok, dan yang ada urusan bukan cuma pejabat!" Jawab Tantri enteng, dia juga mulai merapikan pakaiannya.

"Di jam pelajaran? Lo gila ya?" Seema tidak percaya, dia melotot tajam.

"Bentar doang, ya udah ya bye!" Tantri langsung melesat pergi, menjauh dari keduanya. Gadis itu kemudian menghilang di balik belokan kantin dan koridor sekolah.

"Dia kenapa?" Tanya Seema pada Shenia setelah kepergian salah satu sahabatnya. Dan Shenia hanya menggedikan bahunya tanda tidak tahu.

Ketika hendak menuju kelasnya Shenia menatap seorang cowok culun yang sedang di bully. Seragam yang basah karena es teh dan rambut acak-acakan membuat Shenia iba. Gadis itu kemudian mendekat padanya tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Seema lebih dulu.

"Woy Lo semua, berhenti nggak!" Bentak Shenia.

Gerombolan cowok yang sedang mem bully 'mangsanya' itu menoleh, terkejut most wanted girl sekolah mereka menghampiri, karena biasanya gadis itu cuek pada siapa pun.

"Tenang dong baby, kita nggak nakal kok. Cuma lagi main-main sama tikus kecil," ucap pemuda yang diketahui bernama Haris sambil mengedipkan matanya genit.

"Pala lu bab beb gue bukan bebek," sungut Shenia. Lalu mata gadis itu tertuju pada si cowok culun yang tengah meringkuk ketakutan.

"Dan Lo juga kenapa diem, di bully itu lawan dong jangan pasrah gini," sambungnya sambil menatap cowok culun itu. Dia juga membantunya berdiri tegap.

Tak lupa Shenia menepuk-nepuk seragam sekolah pemuda itu yang kotor, ada bekas sepatu di beberapa titik membuat gadis bar-bar itu geram.

Seema yang tahu maksud Shenia mulai ikut membantu. Dia maju beberapa langkah dan menyilangkan tangan didepan dada.

"Kalian nggak usah sok geng disini, kita semua sama-sama siswa di SMA Manggala. So jangan pada belagu!" Seema menambahi.

"Jadi most wanted girl SMA Manggala lebih berpihak sama cowok cupu kaya dia? Nggak salah gue?" Tanya Haris dengan wajah yang jelas-jelas heran.

Shenia tersenyum miring, "Kalau iya kenapa? Yang jelas cowok cupu kaya dia jauh lebih menarik daripada Lo yang belagu!"

Sengaja Shenia mengatakan hal itu, karena memang Haris ini adalah salah satu siswa SMA Manggala yang berulang kali menyatakan cinta padanya.  Meski berulangkali ditolak, berulang kali pula Haris akan mencoba cara lain, dan itu membuat Shenia muak!

Tidak terima akan hal itu Seema dan Shenia hendak di keroyok, empat remaja itu ingin memukul mereka berdua. Karena telah menganggu kesenangannya dan lagi Shenia lebih peduli pada si culun.

Dengan cepat Shenia dan Seema beraksi, mereka memang tidak termasuk dalam jajaran atlet bela diri tapi untuk sekedar menghadapi preman sekolah itu mudah!

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Ketua geng mereka, Haris sudah terkapar dihajar habis-habisan oleh Shenia. Sehingga anak buahnya langsung lari kocar-kacir dan diikuti Haris dengan sisa tenaganya juga ikut berlari.

"Lo nggak apa-apa kan?" Tanya Shenia khawatir pada cowok cupu yang baru saja dia tolong.

"Ng-nggak kok, aku baik-baik aja," jawab cowok cupu itu sambil menunduk. Tak berani menatap wajah Shenia.

"Kelas berapa Lo?" Tanya Shenia lagi, kali ini dengan nada yang dingin lagi datar.

"12 IPA 1."

"Oke, Gue anterin!"

Shenia langsung menggandeng cowok cupu itu, Seema yang melihatnya hanya melongo. Pasalnya Shenia tidak pernah seperti itu pada siapa pun, tapi kali ini ia dengan senang hati menolong cowok culun itu. Aneh bukan?

Tentu saja ada banyak pasang mata yang menatap Shenia heran, sedangkan yang ditatap cuek. Ini adalah pemandangan luar biasa.

'Gila sih si nerd itu digandeng sama Shenia.'

'shenia kesambet ya?'

'beruntung banget si cupu digandeng Shenia.'

'Shenia udah katarak, dia gandeng si nerd?'

Bla bla bla.

Itu lah yang Shenia dengar sepanjang koridor menuju kelas cowok culun yang ia gandeng itu, entah dorongan dari mana ia juga tidak tau. Rasanya ia ingin melindunginya, aneh bukan? Menyadari itu Shenia merasa geli.

"Udah sampai Lo hati-hati," ucap Shenia sambil melepas tangannya.

"Iya, makasih--" ucapannya menggantung.

Shenia paham cowok culun itu pasti tidak tahu namanya. Tampang culun semacam dia mana bisa kenal dengan seorang Shenia Ereshva Madia Putri Airlangga yang masuk jajaran most wanted girl di sekolahnya.

Kalaupun tahu, pasti sekedar nama untuk rupa tidak berani dan tidak akan pernah berani mencari tahu. Takut kena hajar dengan cowok-cowok yang 'memuja' Shenia, seolah gadis itu bidadari dari kayangan.

"Shenia, nama gue Shenia dari kelas 11 IPA 2. Itu pun kalau Lo mau tahu." Shenia mengatakannya sembari memperhatikan cowok itu dari atas sampai bawah.

"Ah iya.. aku Rafka. Terimakasih ya Shen," ucap Rafka sambil tersenyum sekilas.

Deg!

Astaga, Senyum nya!

"Shen... Tolong lepasin tangannya." Rafka menyadarkan Shenia dari lamunannya dan berusaha melepaskan tangan mereka.

"Eh sorry...yaudah kalau gitu gue cabut!" Shenia lekas menuju kelasnya dia rasa tidak bisa lama-lama disamping Rafka.

Di kelas Shenia hanya melamun, ia masih terbayang senyum Rafka yang bisa dia katakan manis. Belum ada yang pernah menarik perhatiannya, dari sekian banyak cowok yang mendekati dirinya. Semua sama saja, pasaran!

Seema melihat sahabatnya itu heran

"Kesambet Lo?" Ucap Seema mencolek lengan Shenia.

"Nggak. Setan mana berani sama gue?" Jawab Shenia. Dia mendongakkan kepalanya sombong.

Seema manggut-manggut, "Iya juga, Lo kan ratunya setan." Jawabnya tanpa rasa berdosa.

Ucapan Seema berhasil mendapat hadiah cubitan keras dari Shenia. Dan Seema hanya bisa berteriak keras karena kesakitan. "Sakit na, galak bener Lo!"

"Yang mulai siapa?" Tanya Shenia tak mau kalah.

"Gue," jawab Seema sembari menunjuk diri sendiri.

"Yaudah diem, terima aja. Lagian itu balasan buat orang yang suka cari ribut sama gue!"Shenia memalingkan wajahnya, dia mengangkat kakinya ke atas meja dan bersandar dengan santainya.

Seema mendengus kesal, kalau bukan sahabat ia pasti akan meninju wajah Shenia. "Sejak kapan gue jadi budaknya grandong kaya Shenia?"

Bab 2

Setelah pertemuannya dengan sosok pemuda dengan senyum manis itu, Shenia menjadi gagal fokus!

Senyum pemuda itu terngiang-ngiang di ingatannya, tak sadar seulas senyum terbit di wajahnya yang cantik. Dua sahabat Shenia pun saling pandang, tak mengerti apa yang terjadi pada gadis paling populer di sekolah mereka.

"Eh gue mau tanya sama kalian" Shenia tiba-tiba berubah jadi serius, dan jujur saja raut wajahnya yang seperti itu sangat menakutkan!

"Apa?" Seema dan Tantri kompak. Mereka cukup gentar dengan tatapan mata Shenia yang tajam dan raut wajah seriusnya.

"Kalian tau Rafka anak cupu kelas 12 IPA 1?" Shenia bertanya dengan nada yang sama seriusnya.

"Si nerd itu?" Tantri memastikan.

"Iya yang itu!" Shenia membulatkan matanya, serasa mendapatkan harta Karun.

"Gue cuma tahu namanya. Dia Rafka Saabiq. A untuk nama belakangnya gue nggak ngerti. Dia kan anak 12 IPA 1 yang langganan menang olimpiade matematika," jawab Tantri dengan memainkan ponselnya, acuh.

"Seriusan Rafka yang itu, Lo nanyain dia?" Seema terpekik tidak percaya. Dia juga sedikit memajukan tubuhnya.

"Iya, yang tadi kita tolong Seema!" Shenia beralih menatap Seema, dia juga tampak bersemangat.

"Ooo itu...Kenapa emangnya, Lo suka?" Tanya Seema curiga.

"Lo gila apa Seema? Shenia si most wanted girl sekolah kita suka sama nerd ya nggak mungkin!" Tantri tidak setuju, dia juga sudah membuat tanda silang dengan kedua tangannya. Seolah-olah apa yang dia pikirkan tentang Shenia adalah benar.

Tapi, ekspresi Shenia tampak mengatakan hal lain. "Emang kalo suka kenapa?" Shenia malah bertanya balik.

"Lo becanda apa katarak sih? apanya yang Lo suka dari cowok itu? Masih mending kalau cowoknya keren kaya bang Shaquille, lah ini nggak!" Seema tidak habis pikir, dia memijit pelipisnya perlahan.

"Ya nggak tahu. Tapi gue rasa kalo gue udah falling love sama dia," ucap Shenia sambil senyum-senyum sendiri. Wajahnya juga berbinar-binar, penuh kegembiraan.

"Bocah satu emang udah nggak waras deh ma, gue khawatir. Sana bilangin abangnya gih!" Tantri mengintruksi Seema yang memang terkenal tergila-gila dengan kakak Shenia itu.

"Gue sehat, dan kalian nggak perlu bilang sama abang gue. Ngomong aja kalo mau modus ke dia," cibir Shenia.

"Ish tau aja sih, calon adek ipar." Seema cengar-cengir.

"Nggak sudi gue punya kakak ipar kaya Lo!" Shenia membayangkannya ngeri.

Tantri hanya tertawa puas, dia sudah tahu kalau Seema pasti akan mau menuruti permintaannya untuk dekat dekat dengan Shaquille, kakak kandung Shenia apapun alasannya. Dan Shenia sudah pasti menolak mentah-mentah.

Bagi Shenia sahabatnya itu tidak cocok dengan kakaknya, ia tidak mau keduanya akan terluka nanti. Shenia menyayangi keduanya, dan jika Seema dekat dengan Shaquille lalu hasilnya tidak sesuai harapan. Dia pastikan hubungan mereka akan buruk. Shenia tidak mau kalau harus memilih akan berpihak pada siapa antara sahabat dan kakaknya sendiri.

"Ya udah ah, gue mau cari abang tamvan gue" Shenia mengatakannya dengan nada alay, khas banci. Lalu dia lekas berdiri dan membayar makanannya.

Tantri dan Seema mengerutkan kening, siapa pula yang disebut abang tampan oleh Shenia?

"Mau kemana sih?" Tantri berteriak.

"Ada deh, kepo!" Shenia berjalan menjauh sambil tersenyum lebar.

Sampai di depan kelas 12 IPA 1 Shenia berhenti, ia bertanya pada salah satu cowok yang sedang nongkrong di sana.

"Rafka ada nggak?" Tanya Shenia ramah.

"Lagi di perpus, Lo ada perlu?" Cowok itu penasaran.

"Nggak, ya udah thanks." Shenia kemudian berlalu, ia menunju perpustakaan untuk mencari Rafka. Cowok culun yang sudah membuat ia salah fokus sejak pagi.

Di perpustakaan Shenia langsung mengedarkan pandangannya, lalu berhenti pada meja pojok ruangan. Di sana ada Rafka yang sedang serius membaca buku tebal didepannya, kalau itu Shenia ia pasti sudah molor tidak tahan membaca lama-lama.

"Hai," sapa Shenia ramah.

"Ha-hai juga." Rafka mendongak sebentar lalu menunduk lagi.

"Boleh duduk nggak?" Tanya Shenia lembut.

"Boleh kok, silahkan" Rafka tidak berani menatap Shenia.

Shenia hanya menatap wajah Rafka sambil tersenyum, dia tidak tahu tapi wajah Rafka jika diperhatikan sangat tampan menurutnya.  Ditambah dengan sikapnya yang sopan membuat Shenia makin jatuh hati.

Lalu apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?

Rafka merasa ditatap sedekat itu pun merasa tidak nyaman. Dia takut atau lebih tepatnya malu?

Belum ada yang pernah begitu dengannya. "Jangan gitu Shenia," ucap Rafka lirih.

"Kenapa, gue ngapain emang?" Tanya Shenia tidak berdosa.

"Ya itu. Jangan natap lama-lama" Rafka berkata malu-malu.

"Emang nggak boleh, natap calon pacar?" Shenia mengedipkan sebelah matanya. Dia juga memberikan penekanan pada kalimatnya.

Rafka hanya diam, dia tidak tahu seorang most wanted girl SMA Manggala se-absurd itu dengannya. Dan apa katanya tadi, MENATAP CALON PACAR?

Rafka tak salah dengar?

Shenia terkikik melihat perubahan ekspresi Rafka, sangat lucu menurutnya. Kalau bukan Rafka ia tidak akan sudi genit begitu.

"Lo suka sama gue nggak?" Tanya Shenia lagi, kali ini dia malah menopang dagu dengan kedua tangannya.

"Maksudnya?" Rafka masih tidak percaya. Dia juga mulai tak fokus dengan bacaannya.

"Ya suka, Lo suka nggak sama gue?" Shenia memaksa.

"Su-suka kok, kamu kan cantik dan baik." Rafka malu-malu, bahkan dia sudah menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang merah merona.

"Gitu ya. Lo suka gue sebagai apa?" Shenia menggoda Rafka.

"Suka sebagai teman Shenia." Rafka menjawab cepat. Rasanya dia ingin menghilang saja sekarang, berdekatan dengan si most wanted girl SMA Manggala ternyata se-absurd ini.

"Temen aja nih, nggak lebih?" Shenia makin mempersempit jarak diantara mereka, dia bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Rafka yang kini berhadapan dengannya.

"I-iya... aku suka kamu sebagai teman Shenia." Rafka gugup, di jarak sedekat itu Shenia terus menatapnya.

Untung saja perpustakaan sedang sepi, bahkan tidak ada orang petugas perpustakaan juga sedang keluar. Jadi Rafka masih terbilang aman, kalau tidak sudah pasti ia akan makin di bully karena dekat-dekat dengan Shenia.

"Tapi gue suka sama Lo lebih dari temen, gimana dong?" Shenia masih setia dengan posisi nya, bahkan ia sedikit menyingkirkan buku yang menghalangi mereka.

"Jangan Shen, aku nggak pantes buat kamu." Rafka masih menunduk.

"Gue tahu Lo pasti bakal bilang itu" Shenia menyingkir sebentar, lalu memilih duduk di samping Rafka.

Rafka juga memperhatikan gerak-gerik Shenia bingung.

"Tapi gue bakal terus berusaha buat deket sama Lo, apapun alasannya. Lo mau suka atau nggak. Gue nggak peduli," sambung Shenia tulus kemudian berlalu dari pandangan Rafka secepat kilat.

Rafka memegang dadanya, jantungnya berdetak kencang seperti akan melesat dari tempatnya. Dia tidak yakin Shenia akan serius dengan ucapannya tapi tingkah Shenia tadi cukup membuatnya tak karuan.

Kini waktu menunjukkan pukul 16.00 sudah saatnya siswa-siswi SMA Manggala pulang ke rumah masing-masing. Setelah menyelesaikan les atau ekstrakurikuler lain di SMA elit tersebut.

Shaquille Birousk Putra Airlangga, kakak satu-satunya yang Shenia punya itu sedang menunggu adiknya dengan malas. Dia tidak suka ditatap oleh adik kelasnya atau para siswi lain dengan tatapan mengerikan. Mereka tidak segan menatap Shaquille dengan tatapan menggoda, dan itu membuat Shaquille jengah.

"Udah lama bang?" Shenia mengejutkan kakaknya, dengan berdiri di sampingnya secara tiba-tiba.

"Lama banget, bosen gue disini sampe berjamur juga!" Shaquille kesal, lalu berjalan menuju parkiran.

"Yaudah sih santai aja, makanya jangan mau bareng sama gue. Lama kan?" Shenia melangkah mendahului sang kakak.

"Lo kalo nggak dijagain pasti kabur." Shaquille mengekor dibelakang Shenia.

"Dih Sok suci, Lo juga suka kabur kan?" Shenia mendelik.

"Tapi nggak sering," elak Shaquille.

"Tapi pernah?" Shenia tak mau kalah

"Iya-iya bawel." Shaquille mengalah, dia sudah kehabisan energi untuk berdebat dengan Shenia.

Diam, setelah cekcok kecil itu dua bersaudara yang bak Tom and Jerry memilih fokus pada perjalanan ketika kedua sudah berada dalam satu mobil. Tiba-tiba Shaquille teringat sesuatu.

"Lo tadi ngapain ke kelas 12 IPA 1 dek?" Shaquille masih fokus pada kemudi.

"Nyari cowok," jawab Shenia enteng, sesekali dia menjentikkan jarinya. Seolah-olah yang dia lakukan adalah hal wajar.

"Cowok? Tumben, udah nggak jadi most wanted girl lagi ya," ejek Shaquille. Sembari tersenyum sekilas.

Tapi tak ada jawaban dari sang adik, hal itu membuat Shaquille makin gemas dan ingin menggodanya lagi.

"Cowok mana sih yang bisa bikin adek gue sampe segitunya?" Shaquille memandang adiknya sekilas.

"Rafka." Jawab Shenia singkat.

"What?" Shaquille terkejut bukan main, ia sampai menghentikan mobilnya mendadak.

Cittt!

"Buset. Pelan bang!" Shenia kesal, hampir saja jantungnya copot karena ulah kakaknya.

"Barusan Lo ngomong apa? Rafka, Lo cari dia?" Shaquille tidak percaya.

"Iya, kenapa? Lo Nggak suka" Shenia polos.

Shaquille memandang sang adik penuh tanda tanya. Memangnya siapa yang suka jika adiknya yang terkenal cantik jelita dan menjadi incaran para pemuda, malah jatuh hati dan memilih si cowok cupu?

"Memangnya cowok cupu bisa melindungi Shenia?"

Bab 3

Shaquille masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi. Adiknya, seorang Shenia Ereshva Madia putri Airlangga mencari cowok culun bernama Rafka, padahal banyak yang mengejar adiknya itu. Tapi tidak ada yang diberi perhatian khusus oleh Shenia, dan sekarang justru Shenia yang perhatian dengan Rafka.

"Apa dek? Lo serius cari Rafka?" Shaquille masih melongo.

"Iya, Lo budek ya bang apa congek?" Shenia kesal.

Seketika Shaquille menoyor kepala adiknya, bisa-bisanya dia masih bercanda sedangkan kakaknya sudah melongo tak karuan.

"Ngapain Lo cari dia?"Shaquille penasaran, dia bahkan beringsut agar lebih dekat dengan sang adik.

Tapi bukannya mendapatkan jawaban, Shenia malah lekas menutup wajahnya dengan jas almamater. "Kepo!" Shenia menutup matanya, pura-pura tidur!

Shaquille menyerah, tidak ada yang bisa 'menjinakkan' adiknya itu kecuali sang mama. Meski sudah dengan berbagai cara, jika Shenia tidak ingin melakukan sesuatu maka ia akan tetap begitu.

Malam harinya, di sisi lain Rafka masih sibuk dengan buku-bukunya. Minggu depan ada olimpiade matematika dan dia sudah biasa mengikutinya tapi juga tidak akan ceroboh dengan tidak belajar.

"Rafka, ayo turun nak makan dulu!' Zoya, ibunda Rafka masuk ke kamar putranya.

"Bentar mam, tanggung satu bab lagi," jawab Rafka lembut diiringi dengan senyuman tipis.

Zoya mendecik pelan, kemudian dia mendekat pada sang putra dan mengusap punggungnya perlahan.

"Makan dulu ya, nanti langsung disambung deh belajarnya. Nanti kamu bisa sakit kalau melewatkan makan nak." Zoya tetap tidak mau kalah.

Rafka akhirnya mengalah, dia menghela nafas. "Iya mah," jawabnya  sembari menutup bukunya, tidak lupa dia juga melepas kacamatanya dan meletakkan benda yang membingkai matanya itu di atas meja.

Apa yang dilakukan Rafka itu tak luput dari pandangan Zoya yang masih  berdiri di sampingnya.

"Mama lebih suka kalo kamu gini Ka" Zoya menatap lekat putranya itu.

"Mata aku kan sakit mam kalo baca nggak pake kacamata." Rafka berusaha memberi alasan yang masuk akal, toh memang begitu pula adanya.

Mata Rafka minus, karena terlalu banyak membaca buku dan belajar. Pantas jika dia memakai kacamata, lagipula penampilannya yang seperti itu juga tak terlalu buruk.

"Tapi nggak perlu dipake terus juga, lagian kenapa sih kamu suka banget dandan culun gitu nak?" Zoya tidak habis pikir putra nya itu berubah begitu drastis. Dia kehilangan kepercayaan diri nya dan jadilah seperti sekarang.

"Nggak apa, nyaman aja kaya gini mah." Rafka menjawabnya dengan penuh makna kemudian melangkah pergi, dia sudah paham mama nya itu pasti akan menanyakan kenapa ia lebih suka seperti ini sekarang.

Di ruang makan Aira, sudah duduk menunggu mereka. Wajahnya cemberut karena Rafka sangat lama belajar. Akibatnya anak kecil itu harus menunggu lama untuk makan. Padahal dia sangat lapar.

"Kakak lama banget!" Aira menarik lengan Rafka untuk segera duduk.

"Tadi habis belajar dek." Rafka tenang, sesekali ia mengelus pucuk kepala Aira penuh sayang.

"Tapi kan aku lapar, kakak malah lama," sungut Aira tidak terima. Dia sudah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Lengkap dengan bibirnya yang mengerucut lucu.

"Iya-iya maaf ya." Rafka bertingkah seolah menjewer kedua telinganya sendiri sambil nyengir lebar. Harap-harap dengan begitu gadis kecil didepannya dapat luluh.

Aira tidak tahan dengan sikap Rafka itu, selalu ada hal yang membuat nya tidak bisa marah lama-lama dengannya. Kemudian Aira tersenyum dan menarik tangan Rafka agar tak lagi menjewer telinganya sendiri.

Di saat yang sama Zoya baru saja turun dari kamar Rafka. Wanita itu lekas menghampiri keduanya dan berkata lembut.

"Kalian makan ya, mama mau keluar dulu karena ada perlu sebentar. Aira jangan nakal ya, jangan ganggu kak Rafka!" titah Zoya dan diangguki oleh keduanya.

"Iya mama!" Aira mengangguk patuh.

"Mau aku antar ma?" Tawar Rafka penuh perhatian

"Nggak, mama bisa sendiri. Lagian mama sama supir kok." Zoya memberi tahu.

Setelah merasa cukup, wanita itu kembali berujar pelan. Apalagi saat melihat supir keluarga mereka sudah menunggu dia ambang pintu. Tanda bahwa mobil yang akan Zoya gunakan sudah siap.

"Ya udah mama pergi ya, kalian jaga rumah." Zoya melangkah pergi setelah mengusap puncak kepala Aira dan Rafka bergantian.

Saat tengah asik melahap makanannya, ponsel Rafka berkedip. Tanda ada notifikasi mendarat di benda pipih itu. Dengan segenap rasa penasaran, Rafka memeriksanya.

WhatsApp on

[+62823xxxxxxxxx]

[Hay, save nomor gue.]

Rafka mengerutkan keningnya, siapa yang menghubungi dia malam-malam?

[Ini siapa ya?] Rafka mengetikkan balasan

[Cewek paling cantik di Sekolah.]

Rafka tampak mengingat siapa yang dimaksud 'cewek paling cantik di Sekolah' karena menurutnya di SMA Manggala sudah terlalu banyak populasi cewek cantik, dia juga tidak pernah memperhatikan nya. Jadi dia tidak tahu apalagi mau cari tahu.

Rafka kembali mengirim pesan balasan. [Maaf aku nggak tau.]

[Ck ck. Ini gue, Shenia!]

Rafka membelalakkan matanya sempurna saat nama Shenia terpampang di layar ponsel miliknya.

[Oh iya, aku save kok Shen.]

Tak berselang lama ada balasan pesan lagi yang masuk, masih dari orang yang sama.

[Bagus, kalau gitu sampai jumpa besok!]

Rafka menghela nafasnya pelan, apa lagi ini. Hidupnya berasa diteror oleh Shenia. Semenjak bertemu dengan gadis itu hari-hari tenangnya mulai menghilang. Ada saja kelakuan absurd Shenia yang datang untuk hinggap dan membuatnya menghela nafas lelah.

Di pagi harinya, saat sinar matahari belum terbit sempurna Shenia sudah siap berangkat ke sekolah. Dia mengikat rambut panjangnya seperti ekor kuda. Dengan dua jepit yang ia selipkan di kepalanya, menambah kesan rapi dalam dirinya.

Eits, kalian jangan senang dulu!

Apa kalian pikir Shenia itu gadis baik-baik disekolah?

Shenia hanya rapi sebelum dan setelah sekolah saja, alias hanya di rumah. Untuk mengelabuhi orang tuanya, agar mereka tidak tahu kalau penampilan Shenia berubah urakan saat di sekolah.

Tapi ini juga bukan untuk ditiru, OKE?

Jam menunjukkan pukul 6.30 tapi Shenia sudah siap, rencananya ia akan masuk kelas seni terlebih dahulu sebelum jam pagi.

"Mama.. Shenia berangkat ya, mau ke kelas seni dulu!" teriak Shenia, karena mama nya sedang ada di kamar mandi.

"Iya.. berangkat sama pak Yoso ya?" jawab sang mama tak kalah teriak.

"Nggak, Shenia bisa sendiri. Bye!" Shenia langsung pergi, ia tidak mau diantar atau berangkat bersama kakaknya, terlalu repot menurutnya.

Dijalan Shenia melajukan motor sportnya pelan, jalan ibu kota belum terlalu ramai. Ia bisa sedikit santai menikmati udara pagi serta suasananya yang menyenangkan.

Tak lama matanya menyipit melihat seseorang yang tidak asing baginya sedang berjalan kaki menuju arah sekolah.

Tin tin tin!

Shenia menghentikan motornya, ia melepas helm yang dia pakai dan menoleh pada orang itu.

"Woy Lo! Ngapain jalan segala, yok bareng," ajaknya.

Yang diajak bicara hanya diam, dia masih berdiri mematung. Menatap tak percaya pada Shenia, si most wanted girl SMA Manggala yang mengajaknya berangkat bersama.

"Woy ayo bareng, Lo budek ya? Shenia sedikit berteriak. Apalagi saat gadis itu berbicara beberapa kendaraan bermotor lewat didekat mereka.

"Nggak Shen, makasih ini udah deket kok," tolak Rafka halus.

Ya, orang itu adalah Rafka.

Dia merasa akan menjadi masalah besar jika ia berangkat bersama Shenia nanti. Apa jadinya jika dia, si anak cupu disekolah malah berangkat bersama Shenia si most wanted girl?

"Gue nggak pernah diajarkan buat menerima penolakan, naik nggak Lo!" Shenia memaksa. Gadis itu juga lekas turun dari motornya.

"Eh tapi Lo yang bawa." Shenia menyerahkan kunci motornya pada Rafka yang masih mematung di tempatnya.

"Bisa kan?" Tanya Shenia memastikannya lagi.

Sementara itu Rafka tetap diam, tidak bereaksi sama sekali.

"Lo bisa bawa motor kan Rafka?" Shenia geram, dia menaruh kunci motornya ke tangan Rafka dan memaksa Rafka duduk didepan.

Kemudian dengan pasrah Rafka menuruti kemauan Shenia, dari pada telat kan?

Sesampainya di sekolah mereka berdua seperti makhluk asing saja, banyak yang menatapnya aneh.Rafka turun dan memberikan kunci motor Shenia dan gadis itu menerimanya dengan semangat.

"Makasih Shen." Rafka tersenyum sekilas, lalu hendak pergi.

Tapi lagi-lagi tak semudah itu Rafka melarikan diri dari seorang Shenia.

"Eh tunggu. Apaan Lo cuma gitu doang, anterin ke kelas gue yuk!" Shenia menghalangi langkah Rafka. Dia sudah merentangkan kedua tangannya dan berdiri didepan pemuda itu.

'Salah siapa Lo senyum manis banget ke gue. Nggak bisa Lo main kabur aja Rafka,' batin Shenia.

"Tapi Shen," ucapan Rafka tidak selesai karena Shenia lebih dulu menggandengnya.

Lagi-lagi Rafka hanya pasrah, dia tidak mau berurusan dengan Shenia lagi sebenarnya, tapi nasib berkata lain. Sampai di depan kelas seni Shenia meminta berhenti dan Rafka hanya mengangguk.

"Nanti Lo balik naik apa? Atau jangan-jangan jalan kaki lagi?" Tanya Shenia menyelidik.

"Iya." Rafka menjawab dengan singkat dan harapan dia tidak akan lagi berurusan dengan Shenia.

"Gue anterin, dan Lo nggak perlu nolak!" Shenia langsung berkata cepat, dia tahu Rafka pasti akan menolaknya.

"Tapi--"

"Nggak ada tapi tapian. Lo balik sama gue, titik!" Shenia lalu masuk ke kelas seni meninggalkan Rafka yang masih melongo mendengar perkataannya.

Shenia hanya tersenyum lebar, dia paham pasti Rafka tidak suka dengan sikapnya itu. Rafka pasti takut akan menerima bully lagi. Tapi menurut Shenia tidak akan ada yang berani menganggu siapa pun yang menjadi temannya.  Apalagi si Rafka yang sudah ia patenkan sebagai 'CALON PACAR'

"Mulai sekarang Lo nggak akan bisa lari dari gue, Rafka!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED