Sedangkan di tempat yang berbeda. Ceryl yang kesal akan tingkah Arland padanya, ternyata benar-benar mengadukan itu semua pada Kim.
"Tante ...." Ceryl datang-datang langsung mewek nggak jelas. Tentu saja itu membuat Kim jadi bingung. Apa yang terjadi pada gadis ini?
"Ceryl ... kamu kenapa, kok datang-datang sedih gitu?"
"Kak Arland, Tante. Dia nggak mau nemenin aku ke acara ulang tahun temenku ntar malam," jelasnya masih mewek-mewek.
"Benarkah?"
"Iya, Tan. Dia juga bilang kalau nggak sayang lagi sama aku."
"Ya udah, kamu tenang aja. Nanti biar Tante yang bilang sama dia, pasti dia mau kok dengerin omongan mamanya."
"Beneran, ya, Tan?""
"Iya," angguk Kim.
Pada saat yang bersamaan, Dilla juga datang. Yang jelas pada saat itu baik Dilla maupun Ceryl tak ada sapaan atau pun sekadar saling pandangpun tidak. Ini semua berawal satu tahun yang lalu. Sifat Ceryl yang terlalu posesive pada Arland membuatnya nekad melabrak Dilla yang ia anggap terlalu dekat dengan Arland. Padahal, mereka hanya berteman .
"Dilla ... ada apa, Nak, ayo masuk," ajak Kim menghampiri Dilla yang berdiri mematung di pintu masuk.
Bagaimana ia mau masuk, ada Ceryl di sana. Ia tak ingin mencari masalah lagi dengan gadis itu. Cukup sekali dalam hidupnya berurusan dengan dia.
"Ahh ... enggak usah Tante," tolaknya. "Aku kesini cuman diminta Papa buat nganterin surat ini sama Om Alvin," jelasnya sambil menyodorkan sebuah map berwarna biru pada Kim.
"Ya udah, nanti biar Tante kasih sama Om, ya. Soalnya Om lagi jemput si kembar," jelas Kim menerima map dari Dilla.
"Iya, nggak apa-apa. Kalau gitu aku pulang dulu ya, Tan," pamit Dilla.
"Ya udah, hati-hati ya. Salam buat Mama Papa, ya," pesan Kim
"Iya."
Setelah Dilla berlalu pergi, Kim kembali duduk bersama Ceryl.
"Sampe sekarang kalian berdua masih belum baikan?" tanya Kim pada Ceryl.
"Aku nggak bakalan mau baikan sama dia," ungkapnya dengan ketus.
"Nggak boleh gitu loh. Masa iya orang tua kalian pada sahabatan tapi anak-anaknya pada musuhan," komentar Kim.
"Salah dia, kenapa nyoba buat merebut Kak Arland dari aku."
Mendengar penuturan Ceryl, udah, Kim tak mau berkomentar apa-apa lagi. Sedikit banyak ia paha bagaimana sikap gadis ini. Salah sedikit, nanti malah bikin suasana makin panas.
---000---
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Semuanya sudah berada di rumah, kecuali Arland.
"Kakak mana, Ma?" Tanya Lhinzy yang saat ini sedang menikmati kue mochi favoritnya .
"Belum pulang, kan ke Rumah Sakit dulu."
"Kak Arland sama Kak Ceryl itu pacaran ya, Ma?" tanya Lhinzy lagi.
"Ya ... Mama nggak tahu. Eh, tapi kalau mereka berdua beneran pacaran gimana menurut kalian?" tanya Kim pada keduanya putrinya.
Tapi ia sangat berharap jawaban mereka sama persis dengan keinginannya.
"Kita nggak setuju," jawab keduanya berbarengan.
Wajah Kim yang tadinya berseri karena ia yakin kalau pendapatnya dan si kembar adalah sama, kini langsung memudar. Layaknya kain berwarna merah kena pemutih. Luntur seketika.
"Lah, kenapa?"
"Kita nggak suka sama dia. Lagian, mana mungkinlah Kak Arland pacaran sama Kak Ceryl. Kakak kan nggak suka sama wanita itu," jelas Lhinzy dengan gaya bicara sok dewasanya.
"Masa?"
"Mama tanya aja sama langsung kalau nggak percaya."
"Udahlah ... napain ngurusin urusan percintaannya Arland, sih. Dia itu udah dewasa, dia tahu mana wanita yang cocok untuknya." Alvin yang baru saja keluar dari kamar ikut komentar.
"Tapi Mama pinginnya dia itu sama Ceryl." Kim masih kekeuh dengan keinginannya.
"Dan jangan bilang, kalau kamu mau pake acara jodoh-jodihin Arland sama Ceryl. Aku nggak akan setuju sama usulan kamu," tambah Alvin mengeluarkan pendapatnya. .
"Iya, kita juga," ujar Lauren dan Lhinzy ikut-ikutan.
"Kok kompakan gitu, sih? Nggak ada yang sependapat sama Mama?"
"Nggak," jawab keduanya.
"Kita mah enggak mau punya Kakak ipar model begituan," terang Lauren.
Merasa kalah suara, akhirnya Kim menutup pembicaraan mengenai hubungan putranya.
Saat ini Lauren dan Lhinzy sedang sibuk main di kamar. Kim lagi di dapur sama Bibik dan Alvin ada di ruang kerja.
"Ma, Kakak kok pulangnya lama banget, sih?" tanya Lauren dan Lhinzy menghampiri mamanya
Belum sempat ia menjawab pertanyaan tu bocah dua, tiba-tiba terdengar suara deru mobil memasuki halaman.
"Nah, itu pasti Kakak," tebak Lhinzy dan Lauren girang dan langsung berlarian menuju teras depan.
"Ya ampun, dari tadi nungguin Kakaknya terus," gumam Kim seperginya Lauren dan Lhinzy.
Saat membuka pintu, benar saja, sosok yang mereka tunggu-tunggu lah yang datang.
"Kak Arland!!!" Heboh keduanya menyambut laki-laki yang baru turun dari mobil.
"Hai ..."
"Kak, mana hadiahnya? nilai kita berdua 100." Semangat keduanya sambil menengadahkan telapak tangan di hadapan Arland. Berharap sesuatu akan turun dan jatuh ke telapak tangan mereka.
"Beneran?"
"Iya."
"Nanti, ya," balas Arland berlalu masuk ke dalam rumah. Tapi kedua adiknya sepertinya sangat berharap kalau hadiah itu akan datang saat ini juga.
''Kak, hadiahnya sekarang aja," rengek Lauren.
"Iya, Kak. Kita udah nungguin dari tadi siang tahu, nggak," tambah Lhinzy.
Arlan menghentikan langkahnya di anak tangga pertama dan berbalik badan menghadap keduanya.
"Hmm ... sekarang malam minggu, gimana kalau kita jalan keluar?" usulnya. Jomblo mah gitu, nggak punya kekasih, ya, ngajakin saudari.
"Yeee!!!!" Keduanya malah langsung berteriak heboh.
Bagaimana tidak, mereka berdua jarang diajak jalan keluar, apalagi oleh Alvin. Sebagai Kakak, Arland sudah menjadi Kakak yang sempurna bagi keduanya. Karena sesibuk-sibuknya dia bekerja, hari Minggu tetap ia luangkan untuk mereka.
"Ya udah kalau gitu, sana ganti baju. Kakak mau mandi bentar, abis itu kita jalan."
Tanpa berkomentar panjang lagi, mereka keduanya langsung berlari menuju kamar.
Meskipun rasanya capek, tapi setidaknya ia bisa membuat kedua adiknya merasa bahagia.
Baru saja tangannya akan menyentuh gagang pintu kamar, panggilan mamanya menghentikan niatnya.
"Mama mau bicara bentar, bisa?"
"Ntar aja, Ma. Aku mau mandi dulu," balasnya langsung berlalu masuk kamar.
Sedikit kesal dengan sikap Arland padanya, tapi ia paham, toh papanya juga begitu. Jadi, ya disabarin aja.
Beberapa menit kemudian Lauren dan Lhinzy sudah siap dan rapi ... begitupun dengan Arland yang berada diantara keduanya.
"Loh, kalian pada mau kemana?" tanya Alvin pada Arland dan juga kedua adiknya.
"Aku mau ajak mereka jalan, Pa," jawab Arland.
"Kamu gimana sih, Lan ... Mama kan mau minta kamu buat nemenin Ceryl ke pesta ulang tahun temennya." Kim langsung heboh seketika
"Jadi Ceryl tadi ngadu lagi ke Mama?" Terlihat raut tak senang di wajahnya.
"Dia nggak ngadu, cuman cerita doang."
Alvin saja sampai memijit pelipisnya mendengar ocehan Kim. Bisa-bisa dirinya bisa terserang darah tinggi. Meskipun anaknya udah tiga, dan udah pada gede, tak menjamin kalau sikapnya juga ikut dewasa.
"Aku udah bilang berapa kali sih, sama Mama, kalau aku nggak bisa punya hubungan yang lebih sama dia. Tapi Mama tetap aja mau bikin aku sama dia semakin dekat."
"Tapi Lan ..."
"Udah, Ma, kita mau jalan dulu. Dan ini lebih penting daripada ngeladenin keinginan si Ceryl," jelasnya pamit pada Mama dan papanya, begitupun dengan Lauren dan Lhinzy yang ikut pamitan.
Setelah ketiganya pergi, barulah Alvin membuka suaranya perkara omongan istrinya barusan. Ia tak mau ikut bicara tadi, bukan karena tak berani. Hanya saja ia tak ingin ketiga anaknya melihat di saat orang tuanya berdebat. Apalagi sampai harus menggunakan emosi.
"Aku kan sudah bilang, jangan terlalu ikut campur sama urusan percintaannya Arland.Tapi kamu tetap tak mendengarkannya. Aku tahu kamu ingin yang terbaik untuk anak kita, tapi kita juga harus menerima keputusannya. Jangan karena masa lalu yang kamu alami malah membuatmu ingin melakukannya juga pada anak-anak," jelas Alvin dan berlalu pergi kembali ke ruang kerjanya.
"Aku nggak balas dendam," elak Kim.
"Nggak balas dendam, tapi setidaknya mau ingin anakmu merasakan bagaimana rasanya itu dijodohkan tanpa cinta. Jangan berpikir kalau perjodohan itu bakalan berakhir bahagia seperti yang kita alami. Kehidupan setiap orang berbeda-beda," terang Alvin.
Kim hanya terdiam tanpa kata. Ia akui kalau dirinya memang sedikit cerewet. Tapi saat Alvin mulai bicara dengan penjelasannya, ia pun tak akan berani lagi berkomentar. Meskipun next-time tetap ia ulangi.
---000---
Arland benar-benar tidak habis pikir pada mamanya yang terus mendesak hubungannya dengan Ceryl. Ia tahu, keluarganya dan gadis itu sudah saling mengenal bahkan sangat mengenal, tapi kalau melibatkan urusan hati di dalamnya ia tetap tidak bisa.
"Kak, tadi Mama bilang mau jodohin Kakak sama Kak Ceryl loh," ujar Lauren di mobil saat dalam perjalanan.
"Benarkah?" tanya Arland tak percaya dengan apa yang di katakan Lauren. Sebegitu inginnyakah mamanya menjadikan Ceryl sebagai menantunya?
"Tapi Papa marah waktu Mama bilang gitu," tambah Lhinzy.
Apa jadinya hidupnya kalau itu benar benar terjadi. Sekarang saja hidupnya selalu dibayang-bayangi oleh makhluk mengerikan itu.
"Kak, kita makan dulu ya, laper," ajak Lhinzy.
"Oke."
Mereka bertiga pun menuju ke sebuah Restoran. Tapi, pada saat jalan dari parkiran menuju ke dalam restoran, Lauren yang tak melihat sebuah mobil yang melaju di belakangnya, nyaris menghantam tubuhnya kalau saja Arland tak segera menariknya dengan cepat.
Tapi, malah dirinyalah yang terluka menahan tubuh Lauren agar tak terluka terkena goresan aspal.
"Kakak!!!" teriak Lhinzy yang melihat Arland dan saudarinya yang nyaris tertabrak. Dan gilanya lagi, itu si pemilik mobil langsung pergi begitu saja. Tanyain kek, atau setidaknya bilang maaf .
"Kamu nggak kenapa-kenapa, kan, Ren?" tanya Arland pada Lauren yang ada di pelukannya.
Lauren menjawab pertanyaan Arland dengan gelengan. Mungkin, dia hanya shock.
"Tangan Kakak berdarah," tunjuk Lauren ke arah siku kiri Arland yang terluka karna goresan aspal.
Benar saja, saat ia lihat ada luka gores di siku dan juga telapak tangannya yang sepertinya terkena benturan aspal.
"Kakak Nggak apa-apa kok," ungkapnya.
Rasanya memang agak sedikit perih, tapi kalau ia meringis nanti kedua adiknya malah khawatir. Jadilah, luka itu hanya ia tahan.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba seorang gadis menghampiri mereka bertiga.
"Astaga ... ada apa ini, apa anda kecelakaan?" tanya gadis itu pada Arland.
"Iya," jawab Lauren. "Tadi Kakak nyelamatin aku yang hampir di tabrak mobil. Eh, tapi malah dia yang luka," jelas Lauren sambil menunjuk kearah luka di siku dan telapak tangan Arland yang mengeluarkan darah.
"Ini harus segera di obatin ... kalau tidak, bisa-bisa nanti infeksi," ujarnya sambil melihat kondisi luka Arland.
"Kamu ambil kotak obat di mobil ya," pinta Arland pada Lauren yang langsung dituruti gadis kecil itu.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Lauren kembali pada Arland dengan kotak obat di tangannya.
"Ini, Kak," ujarnya.
"Biar aku bantu," timpal gadis itu terlebih dahulu merebut kotak obat dari tangan Lauren.
"Makasih," ucap Arland.
Kebetulan pada saat itu Arland mengenakan topi. Saat topi itu ia lepas dari kepalanya, sontak dirinya langsung kaget. Tidak, bukan hanya dia yang kaget, gadis yang ada dihadapannya yang saat itu sedang mengobati lukanyapun menunjukkan ekspresi yang sama.
"Kamu??!!" kaget keduanya berbarengan sambil menunjuk sama lain.
Dia yang tadinya sudah bersiap mengobati luka di tangan Arland, malah tak jadi.
"Kalau tahu kamu orangnya, aku nggak akan nolongin," kesalnya beranjak dari hadapan Arland dan berlalu pergi begitu saja.
Saking kesalnya, dia tak sengaja malah menyenggol siku Arland, membuatnya sedikit meringis. Tentu saja reaksinya itu membuat kedua adiknya terlihat cemas.
"Sakit banget ya, Kak?"
"Ngga, kok," jawabnya mengelak sambil sedikit tersenyum. Padahal aslinya lumayan perih.
Dia yang tadinya sudah berlalu pergi, tiba-tiba saja kembali menghampiri Arland. Kemudian mengambil kotak obat yang berada di tangan Lauren dan lanjut membersihkan serta mengobati luka di siku Arland. Ya ... meskipun wajahnya itu sangat menunjukkan kalau dirinya sedang kesal.
"Apa rasanya sakit?" Dia bertanya, meskipun pandangannya hanya berfokus pada luka itu. Takut saja, sentuhannya nantinya malah membuat rasa perih.
"Tidak," jawab Arland.
Tak ada pembicaraan apapun lagi, baik itu dari Arland-nya sendiri ataupun si cewek, hingga selesai mengobati luka itu.
"Apa kalian berdua saling kenal?" tanya Lhinzy mengarah pada keduanya.
"Nggak," jawab keduanya singkat dan serentak, membuat si kembar malah tersenyum gaje.
"Wihhh ... kok bisa barengan gitu, sih ... apa ini yang dinamakan jodoh?"
Arland menatap horor kearah Lauren. Kenapa adiknya harus berkata sedewasa itu. Dia masih anak-anak, loh, malah ngomong masalah jodoh.
"Haii, Kak ... aku Lauren dan ini kembaranku namanya Lhinzy. Ini Kakakku tercinta namanya Arland," jelas Lauren
"Iya, salam kenal juga. Namaku Kiran," balasnya memperkenalkan diri sambil tersenyum manis. Tapi, senyuman itu kembali pudar saat mengarah pada Arland.
"Kemarikan telapak tanganmu," pintanya pada Arland. Tapi malah diacuhkan saja, hingga ia langsung saja menarik tangan Arland dengan paksa.
"Kalau tidak segera diobati, ini bisa infeksi," ujarnya membersihkan luka itu sambil sesekali meniup-niup agar tak ada rasa perih dirasakan Arland.
Tiba-tiba saja Arland merasa ada yang aneh pada hatinya. Matanya, juga seolah tak mau diajak beralih dari sosok Kiran yang kini sibuk mengobati lukanya. Apalagi sentuhan itu, membuatnya merasa tenang. Rasa perih seolah hilang begitu saja.
"Kak Kiran, kita makan, yuk," ajak Lhinzy pada Kiran yang selesai mengobati luka di telapak tangan Arland.
"Aduh ... maaf, ya, Dek ... bukannya Kakak nggak mau, tapi Kakak mesti ke Rumah Sakit," jelas Kiran menolak secara halus ajakan si kembar dengan senyuman manis mengukir bibir tipisnya.
"Yaah ..." keluh keduanya.
Ia membereskan dan memasukkan obat-obatan itu ke dalam sebuah kotak dan mengembalikan pada Lhinzy. "Kalau gitu, Kakak pergi dulu ya. Bye," pamit Kiran pada Lauren dan Lhinzy, tapi tidak pada Arland.
Lauren dan Lhinzy hanya menatap kepergian Kiran dengan lesu. Padahal mereka berdua berharap kalau Kiran mau ikut makan bersama. Kini, pandangan itu beralih pada Arland dengan tatapan kecut
"Kenapa menatap seperti itu?"
"Kakak, sih, jadinya Kak Kiran pergi," keluh Lauren menyalahkan Arland sambil bersidekap dada.
"Kok malah Kakak yang disalahin?"
"Iyalah. Tampangnya jutek giu. Nggak bisakah Kakak berbagi sedikit senyuman? Smile, Kak, smile..."
"Padahal kita berdua tadinya kan mau comblangin Kakak sama Kak Kiran," ungkap Lhinzy blak-blakan mengakui niat tersembunyi yang dari tadi sudah keduanya susun dengan baik.
Ekspressi wajah Arland langsung berubah drastis. "Apa?" Benar-benar tak percaya dengan tingkah kedua adiknya ini.
"Iya, daripada sama Kak Ceryl. Emang Kakak mau, nggak kan?"
"Kalian masih kecil juga, udah ngerti comblang-comblangan. Trus sekarang kita jadi makan nggak, nih?"
"Jadi dong," jawab keduanya serentak.
Mereka bertiga pun segera memasuki restoran untuk melanjutkan makan malam yang sempat tertunda.
---000---
Sementara di kediaman Alvin, Ceryl tiba-tiba saja datang sambil ngomel-ngomel, karena Arland tak kunjung menemuinya untuk menemaninya ke ultah salah satu temannya.
"Kan, Tante udah janji sama aku supaya Kak Arland mau nemenin aku. Dan sekarang Tante bilang dia nggak ada di rumah. Gimana, sih, Tan," rengeknya yang sudah seperti seekor kucing yang gagal menangkap seekor tikus.
Bahkan di seluruh penjuru ruangan rumah, hanya suara Ceryl lah yang terdengar. Seperti suara terompet di malam ditahun baru.
"Tante minta maaf, tapi dia nggak mau mengecewakan adik-adiknya."
"Apa dia lebih menyayangi adik-adiknya daripada aku? Kenapa dia nggak pernah perhatian padaku?"
Bagi dia yang baru mengenal Cheryl, suara ocehannya itu seakan-akan menyambar-nyabar di dalam telinga.
Kim tak berkomentar apa-apa, karna menurutnya sudah jelas Arland lebih memilih adik-adiknya. Mereka berdua segalanya baginya, bahkan ia mengambil libur setiap hari minggu hanya untuk mengajak mereka keluar.
"Ehem ...."
Deheman itu membuat pandangan kedua wanita itu mengarah padanya secara bersamaan.
"Malam, Om," sapa Ceryl pada Alvin yang datang.
"Ada apa, nih ... kok datang malam-malam begini. Udah ijin sama orang tua kamu, kan?" tanya Alvin tertuju pada Cheryl.
"Udah kok, Om," jawabnya.
"Oiya ... mumpung kamu ada di sini, Om mau bicara sesuatu," ujar Alvin pada Ceryl.
"Mau bicara apa, Om?"
"Kamu suka sama Arland?" tanya Alvin .
Ceryl malah tersenyum menanggapi pertanyaan Alvin.
"Pertanyaan Om mah ... kan Om juga tahu kalau aku udah suka dan cinta sama Kak Arland dari dulu," jelas Ceryl sambil senyum-senyum gaje.
"Dan Arland-nya sendiri?"
"Kak Arland pasti juga punya rasa yang sama kayak yang aku rasain. Cuman mungkin dia malu aja untuk mengatakannya," jelas Ceryl percaya diri dengan apa yang dikatakannya.
Coba saja Arland ada di situ, mungkin dia bakalan ngamuk-ngamuk mendengar omongan Ceryl yang menurutnya sangat tak masuk akal itu.
"Kamu yakin?"
"Iyalah, Om."
"Om akan pastikan itu sama Arland. Tapi kalau dia nggak cinta sama kamu, bisakah kamu menerimanya?"
Wajah Ceryl berubah murung saat mendengar perkataan Alvin.
"Nggak mungkinlah Kak Arland nggak suka sama aku, Om. Buktinya selama ini dia selalu perhatian sama aku. Kalau nggak cinta, lalu apa?"
Ternyata, tingkat percaya dirinya sangat tinggi. Ditambah lagi perhatian Arland malah membuatnya semakin baper. Padahal Arland sendiri juga bersikap sama dengan Keyra ataupun Dilla, yang merupakan putri dari sahabat kedua orang tuanya.
---000---
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 21:30. Arland dan kedua adiknya baru sampai di rumah. Melelahkan, apalagi mengajak dua gadis heboh seperti Lauren dan Lhinzy, yang tadi bisa diam.
"Anak-anak Pada dari mana ini?" tanya Alvin yang menyambut di depan pintu.
"Habis jalan, Pa," jawab Lauren.
"Lemes amat jawabnya," komentar Alvin melihat ekspresi Lauren begitupun Lhinzy yang tak jauh berbeda.
"Ngantuk, Pa," jawab keduanya serentak.
"Ya udah, kalau gitu gih pada tidur. Jangan lupa cuci kaki, cuci tangan, ya," pesan Alvin pada keduanya yang segera mereka angguki dan berlalu pergi menuju kamar.
Setelah memarkirkan mobilnya, Arland memasuki rumah. Ini hari yang melelahkan. Tapi tak apa, asal adiknya senang.
"Loh, ini kamu kenapa pada luka-luka gini sih?" tanya Alvin pada Arland yang balik dari garasi mobilnya. Bagaimana ia tak bertanya seperti itu saat dibagian siku dan tangan putranya terdapat luka yang diplester.
"Keserempet motor tadi, Pa," jawabnya. "Tapi nggak apa-apa, kok. Cuman gores doang," tambahnya menjelaskan. Nggak mungkin ia jujur, kalau sebenarnya Lauren lah yang hampir saja celaka. Nanti papanya malah heboh.
"Udah di obatin, kan?"
"Udah, Pa," jawabnya.
Alvin sedikit berpikir sebelum mengeluarkan kata-katanya.
"Lan, Papa mau bicara sama kamu," ujar Alvin.
"Iya, Pa," jawabnya yang segera mengikuti langkah Alvin menuju ruang keluarga dan ternyata di sana sudah ada Kim, mamanya.
Tentu saja Arland bingung, apa yang akan dibicarakan kedua orang tuanya padanya. Karena sepertinya akhir-akhir inipun ia tak pernah ada masalah apapun.
"Papa mau bicara apa?"
"Apa kamu mencintai Ceryl?" tanya Alvin langsung.
"Meskipun aku nggak menjawab nya pun, Papa sudah tahu jawabannya, kan," komentar Arland.
Karena ia tahu betul, papanya bisa melihat, ada tidaknya cinta di matanya untuk Ceryl atau tidak
"Tapi Ceryl cinta sama kamu," timpal Kim langsung menyerobot di sela-sela penjelasan Arland.
Ya, setidaknya ia paham dengan perkataan mamanya itu. Tak hanya sekali dia kali mamanya melakukannya. Beliau seolah terus memaksa agar ia dan Ceryl bisa dekat.
"Ma, sebaik-baik hubungan itu harus di dasari rasa cinta dari kedua belah pihak, bukan hanya dari salah satu. Jadi, jangan memaksa ku untuk melakukan sesuatu yang tak ku inginkan," balas Arland tertuju pada Kim.
Kim sangat tak terima dengan jawaban yang diberikan putranya.
"Tapi buktinya, Mama sama Papa bisa. Bahkan kami tidak saling mengenal sedikitpun," komentar Kim tak mau kalah.
"Jadi maksudnya, mama mau melakukan hal itu padaku juga?"
"Tentu saja, kalau itu yang terbaik."
Mendengar jawaban Kim, tak hanya Arland yang menolak. Bahkan, Alvin pun sangat tak setuju dengan keputusan yang diambil istrinya itu. Ia tahu, pengaruh orang tua dalam hubungan seorang anak adalah kunci dari kebahagiaan. Tapi, tidak dengan memaksakan kehendak seperti ini.
"Udahlah ... jangan bersikap seperti itu terus padanya," ingatkan Alvin pada Kim akan sikapnya.
Tapi sepertinya Kim tak bisa di bantah. Ia beranggapan kalau omongannya selalu benar meskipun kadang itu salah dan lebih terkesan memaksa.
"Mama mau kamu menikah dengan Ceryl. Dia adalah calon istri yang Mama pilihkan untukmu. Lagian, kita juga sudah mengenalnya dari dulu."
"Apa Mama berniat balas dendam atas perlakuan Kakek Nenek sama Mama? Dan sekarang, aku yang jadi pelampiasannya. Begitukah?"
Ia tahu bagaimana awal hubungan kedua orang tuanya yang berawal juga karna perjodohan. Jadi, bukan tidak mungkin kalau hal yang sama juga akan dilakukan orang tuanya padanya.
"Mama bukan balas dendam. Mama hanya ingin kamu punya pendamping yang terbaik. Ada di saat kamu susah maupun bahagia, dan menurut Mama Ceryl lah yang cocok."
"Tapi itu menurut Mama, harusnya Mama menanyakan dulu padaku," komentar Arland masih tak bisa terima.
"Jangan buat keputusan seperti ini dong, tanya anaknya dulu, mau atau tidak? Yang akan ngejalanin kan dia, bukan kita." Alvin mulai ikut berkomentar saat Kim tetap pada pendiriannya. Dia merasa kalau apapun keputusannya harus dituruti.
"Tapi, sebagai seorang anak yang berbakti sama orang tua, harusnya dia paham dong."
Arland yang tadinya masih berusaha menahan emosinya, seolah tak tahan lagi atas keputusan mamanya. "Cukup, Ma. Bukan karna aku ingin jadi anak yang durhaka. Selama ini aku selalu menuruti semua keinginan Mama apapun itu. Tapi tidak untuk yang satu ini, aku menolaknya," jelas Arland langsung berlalu pergi dari hadapan kedua orang tuanya.
"Arland! Kamu mau kemana? Mama belum selesai bicara!"
Panggilan mamanya ia abaikan begitu saja. Kalau terus berdebat dan beradu argument dengan wanita yang melahirkannya ke dunia ini, membuat emosinya malah jadi naik. Ujung-ujungnya tindakannya malah berakhir layaknya anak yang durhaka. Daripada itu terjadi, pergi adalah solusi yang terbaik.
Ia tahu kalau mamanya melakukan ini karena menyayanginya, memberikan yang terbaik untuk dirinya. Tapi, tidak harus melakukan perjodohan juga.
Kim memberengut kesal ketika putranya tak menghiraukan apa yang ia inginkan. Apalagi berlalu pergi di saat dirinya masih bicara.
"Lihat, kan, sikap kamu yang nggak sabaran itu membuatnya marah. Aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiranmu," komentar Alvin ikutan kesal atas sikap istrinya itu.
Kim berdecak. "Ck ... apa yang salah? Aku melakukan ini untuk kebaikan dia juga, kan. Tapi sepertinya anak itu tak mengerti sama sekali apa yang diinginkan orang tuanya," berengutnya.
Alvin menarik napasnya berat, ketika mendengar ocehan iatrujya. "Sudahlah, terserah apa kata kamu. Toh, apa yang kamu inginkan nggak bisa dibantah. Tapi aku nggak mau tahu, ya ... kalau Arland sampai marah. Tahu, kan ... bagaimana putramu itu jika dia marah dan kesabarannya sudah habis," ujar Alvin pada Kimmy dan berlalu pergi menuju kamar.