Katakan hari ini adalah hari termalas yang tak mau Sashi lewati sebenarnya kalau dia tak berkuliah, berhubungan keluarganya mempunyai standart tinggi dalam sebuah pendidikan, mau tidak mau dia harus membiarkan kakinya melangkah malas ke kelas.
Ciuh, kenapa juga dia harus memandang wajah cowok sialan itu?
Andreas tampak mendekatinya, memindai setiap jengkal penampilan Sashi dengan matanya yang sipit.
“Nggak usah ngajak aku ngomong, basi!”
“Aku mau jelasin sesuatu sama kamu, masa nggak boleh?” Andreas selalu paling bisa membuat dia melemah.
“No, kamu ngomong aja sama tembok, itu kayaknya juga males ngomong sama cowok sialan kayak kamu!” Sashi menepis tangan Andreas yang endak menyentuh tangannya, gadis itu melenggang cepat menghindari Andreas.
Sudah dirasa cukup bukti perselingkuhan yang Andreas tunjukkan padanya walau saat itu Andreas tak tahu kalau ada Sashi yang berada di belakangnya, hubungan ini sudah berakhir bagi Sashi, lagipula saat dia membahas perselingkuhan Andreas dan Diana, cowok itu langsung menawarinya putus.
Bukankah itu sudah cukup menjadi bukti kalau Andreas sama sekali tak mencintai dirinya?
Namun, penawaran dan kata putus itu hanya gertakan menurut Andreas, dia memang mengakui berjalan di belakang Sashi bersama Diana, tapi demi Tuhan, dia berani mengatakan kalau itu hanya kebodohannya saja, dia kalah taruhan, cintanya tetap pada Sashi, asal gadis itu mau tahu.
Sashi sudah menutup pintu hatinya rapat, baginya selingkuh adalah tabiat yang tak bisa dihilangkan begitu saja, akan terus mendarah daging.
MyBro: Sashi, pulang jam berapa? Kakak mau jemput kamu sekalian makan siang.
Kampus baru saja dimulai, tapi kakak tampannya itu terus saja menawarinya makan siang bersama, Sashi hanya menghela nafas kasar, lalu dia membalas sebisanya.
Sashi: Oke, jemput aku nanti jam makan siang Kakak!
Pergerakan Sashi tak luput dari pandangan Andreas, setelah tujuh hari masa taruhannya habis, dia pastikan akan membawa Sashi dalam cintanya lagi, mereka akan berkencan seperti biasanya, meninggalkan Diana yang sama sekali tak dia cintai.
Mata sipit cowok itu tak mau jauh dari Sashi, jangan kira Sashi tak merasakan geleyar aneh dari Andreas, dia sangat amat tahu kalau Andreas terus melihat ke arahnya. Tapi, Sashi tak sebodoh itu, bukan dia yang berkhianat, bukan dia juga yang menawarkan kata putus, jadi dia berhak jual mahal detik ini pada cowok itu.
“Siapa yang akan menjadi kelompok Sashi di sini?” dosen memberikan penawaran.
“Pak Bram ... boleh saya memilih sendiri teman satu kelompok saya?” Sashi segera berdiri, dia yakin Andreas akan mengambil kesempatan ini.
Dosen itu mengangguk, kesempatan hebat yang bisa Sashi manfaatkan, dia melirik Andreas yang melorotkan kedua bahunya, rasakan itu pembalasan Sashi yang pertama dan akan lebih mencekam di tahap berikutnya.
Sashi memilih dua orang teman yang cukup dia kenal sebagai tambahan dari satu teman yang sudah sangat akrab dengannya, ada Lolita, Sandra dan Yana.
“Kamu yakin semua anggotamu itu wanita?”
“Yakin.” Sashi kembali duduk ke bangkunya, bisa dia lihat wajah jelek Andreas.
Ya, memang tugas ini tak akan mudah bagi kelompok wanita, tapi dia punya kakak di rumah yang tentu bisa membantu memberikan ulasan dari segi pria, semua serba mendukungnya menjauh dari cowok licik dan tidak punya prinsip seperti Andreas.
Setelah kelasnya usai, Sashi mulai mengatur waktu pertemuan, mereka bisa mengadakan pertemuan mulai malam ini atau besok.
“Sashi, bagaimana kalau di rumahmu saja, kamu ingin duduk di taman belakang yang katanya Yana sangat indah?” Lolita si ratu konten.
“Ide bagus, kalian juga nggak akan boros di sana!” Sashi menyahutinya sambil terkekeh.
“Benar, ide bagus. Rumahku dan Sashi tak terlalu jauh, lagipula di rumah Sashi, kita bisa bertemu dengan kakaknya yang ganteng itu, siapa namanya?” Sandra sudah kibas-kibas rambut.
“Kak Jeremy, ya kan?” Yana mencoba mengingat.
Sashi mengangguk, selalu menjadi idola sejak Sashi berkuliah di sini, Jeremy kerap menjadi wakilnya karena kedua orang tua mereka sangat sibuk bekerja, mau tak mau wajah Jeremy terkenal, bahkan ada yang menilai kalau Sashi seharusnya menjadi anak Jeremy.
***
“Kok Kakak ngajak aku ke sini, emangnya kita mau makan di sini?”
Jeremy mengangguk. “Ini jalinan kerjasama papa yang baru, kamu belum pernah makan di sini, kita coba sekarang!”
Sashi masih mematung, daripada disebut rumah makan, lebih tepat lagi kalau ini disebut hotel kapsul saja, setiap ruangan di design sangat menjaga privacy pelanggan, mereka bisa makan tanpa memakai apapun di sini.
Dia sedikit memutar tubuhnya, interior yang dibuat juga bukan murah dan ala kadarnya, semua di design sangat sempurna. Jaman sekarang, kebanyakan mata julid membuat orang-orang memilih tempat yang sangat nyaman, seperti rumah makan ini, bersebelahan saja tak akan tahu apa yang dilakukan tetangganya.
“Kak!” Sashi memekik saat kedua tangan Jeremy ada di pinggangnya, melingkar dan memeluknya dari belakang. “Lepasin nggak tangannya, aku ini bukan boneka kecil kamu lagi, aku udah gede, nggak enak tahu diginiin sama kamu!”
“Apa bedanya? Kamu tetep boneka gemas kecilnya aku, Sas!”
“Lepasin!”
Jeremy tak mau membuka lingkaran kedua tangannya, pria itu justru menjatuhkan dagunya di bahu kanan Sashi, menekan hidungnya hingga bisa mencium wangian khas sang adik tiri ini.
Jantung Sashi kembali berdebar sangat cepat, bodoh dan buta kalau dia mengatakan Jeremy itu tidak tampan, dia tipe pria yang sangat sempurna di mata semua wanita, kalau bukan kakaknya, tentu sudah lama Sashi akan menjadikan pria ini kekasihnya.
Sayang sekali,
“Kak ... lepasin nggak tangannya!”
“Cium dulu, baru aku lepasin!”
Sashi menganga, dia menoleh sedikit hingga matanya bisa menangkap wajah penuh ledekan kakaknya itu, bahkan Jeremy memanyunkan bibirnya agar bisa menggapai bibir Sashi.
“Kakak jangan ngaco ya!”
“Aku nggak ngaco, beneran minta cium dari kamu, Sashi ... ayo, kita ciuman!”
Astaga, Sashi yakin di kepala kakaknya itu sudah banyak foto wanita telanjang, makanya sampai berpikiran kotor saat bersamanya.
Sashi masih berusaha melepaskan kedua tangan Jeremy yang mengeras di perutnya, pria itu benar-benar menguji kesabarannya di sini, tidak mau melepas dan semakin mendesaknya merapat ke tembok pembatas.
Mereka hanya berdua, sejak tadi pelayan tak ada yang masuk menawari menu pada mereka. Apa tahu kalau Jeremy akan berlaku seperti ini padanya?
“Kak, kamu apaan sih?!”
“Aku bilang minta cium, Sashi. Itu artinya aku mau kita ciuman!”
“Heh, nggak bisa gitu dong, aku ini adek kamu. Nggak ada ceritanya adek sama kakak itu ciuman, Kak!” Sashi mau mengompol sekarang, atau dia pura-pura pingsan saja.
Tapi, Jeremy terlalu kuat untuk pukul mundur, Jeremy angkat dagu Sashi yang sengaja diberatkan, memandang dahaga sejenak bibir itu, sebelum akhirnya mendekat dan kecupan Sashi terima.
Kening, bukan bibir.
“Pikiran kamu kotor, Sas!”
Sashi jejak salah satu kaki Jeremy, dia sudah terbawa suasana tadi, nyaris dia terbang, nyatanya sang kakak hanya bercanda.
Tapi, untuk apa juga dia berharap pada candaan kakaknya itu?
Setelah memesan beberapa menu, Jeremy mengambil duduk tepat di depan Sashi, di tempat ini tak ada yang tahu kalau Sashi adalah adik tiri Jeremy karena memang belum diperkenalkan dengan resmi, keberadaan Sashi sebagai anak gadis masih disembunyikan dengan alasan ingin menjaga keturunan wanita di keluarga Laksana.
“Terima kasih,” ujar Jeremy sambil tersenyum manis pada pelayan yang mengantar.
Sashi mendengus, siapa yang tak akan suka disenyumi oleh kakaknya itu, bahkan orang di tepi jalan saja ingin mendapatkan senyuman dari kakaknya itu.
“Makan, Sas!” ajaknya.
“Hem, aku mau yang itu aja, nggak mau makan daging, diet!”
“Kamu lagi makan sayur? Kok nggak bilang ke aku sih!”
“Kok Kakak protes sih!” Sashi membalas dendam kali ini, salah sendiri dia dibuat berdebar, terus dihancurkan begitu saja.
Jeremy yang menyadari perubahan dan kecewa adiknya itu lantas berpindah duduk ke samping Sashi, dia tahu setiap kali Sashi berubah mood di dekatnya, terkadang mereka bisa sangat dekat satu sama lain, terkadang bisa bertengkar karena hal kecil seperti ini.
Dia ambilkan apa saja yang Sashi inginkan, sama seperti yang Jeremy lakukan, tangan Sashi lantas mengambilkan apa saja yang kakak tirinya itu suka, keduanya lalu melempar senyum dan berakhir pada tawa mengikik.
“Bisa nggak Kakak itu jangan iseng, aku tuh berdebar kalau Kakak kayak gitu ...” adunya.
“Kamu ngeluh kalau Kakak jutek, terus lagi kalau dideketin, mau kamu apa coba?”
“Ya, sewajarnya aja sama aku, Kak!” Sashi mengunyah gulungan kubisnya.
Jeremy berpikir sejenak, kemudian dia gulungkan sayuran dicampur saus kacang, dia suapkan pada Sashi.
“Cuman ke kamu, Kakak begini, Sas.” Akunya lirih.
Sashi mengangkat kedua alisnya, maksudnya dia sedang bertanya ‘kenapa’ karena saat ini mulutnya sangat penuh.
Sementara Jeremy mengulum senyum, dia selipkan anak rambut yang menjuntai ke depan wajah, berpindah kebalik telinga Sashi.
“Nggak ada yang bisa deket sama aku, kecuali satu wanita.”
“Siapa?” Sashi mengambil sushi salmon di depannya.
“Kamu, cuman kamu!”
Uhuk!
Sashi tepuk dadanya, dia terkejut bukan main karena di sini Jeremy mengatakan seorang ‘wanita’, sedangkan Sashi bukan wanita yang ada dipandangan Jeremy seharusnya, dia itu adik tiri, tidak bisa dipandang sebagai wanita, apalagi kedua orang tua mereka sudah menikah.
Dengan cekatan Jeremy berikan minumnya, dia usap punggung Sashi, bahkan sampai membawa Sashi ke pelukannya.
“Kak, jangan gini deh ... kan, nggak pantes aja!”
“Kaak ...” Sashi mendongak, Jeremy hanya tersenyum sebelum mendekapnya lagi.
Hangat, dia tahu pelukan Jeremy selalu hangat seperti ini, dan entah kenapa hubungannya dengan Clara itu selesai, padahal kalau dipikir mereka itu pasangan yang cocok, Sashi membiarkan sejenak tubuhnya dipeluk, dia anggap ini bentuk kasih sayang Jeremy padanya, mengingat Jeremy tak bisa sedekat ini dengan papa dan mama, bahkan pada ibu kandungnya sendiri.
Satu wanita itu Sashi, gadis itu tak habis pikir, tapi dia diamkan saja kali ini.
***
Sesampainya di rumah, hanya ada maid yang menyambut keduanya, mama dan papa sepertinya sedang ke luar kota tanpa memberi kabar lebih dulu.
Dan sejak dulu di sinilah peran Jeremy pada Sashi, bisa dibilang yang paling mengerti Sashi adalah Jeremy, melebihi papa dan mama.
“Kak, aku mau mandi, kamu kunci pintunya ya!”
Jeremy mengangguk, dia tampak baru saja memutus sambungan teleponnya, Sashi sama sekali tak mendengar percakapan kakak tirinya itu, yang jelas rumah menjadi sangat sepi setelah dia menutup pintu kamarnya.
Dengan bersenandung ria, Sashi habiskan sore harinya dengan membersihkan diri tanpa melirik waktu sama sekali, begitu bibirnya dirasa pucat, dia bangkit dan mulai membilas tubuhnya di bawah guyuran shower.
Kaki jenjangnya yang seputih susu itu berhenti tepat di depan walk in closet, masih banjir dengan tetesan air, dilihatnya Jeremy meneguk kopi susu di dekat jendela kamarnya.
Sashi mendekap kedua lengannya, beruntung dia memakai handuk kimono. “Kakak kok di sini, ngapain?”
“Rumah lagi sepi, kamu mandinya lama, Kakak khawatir kamu kenapa-napa, ini mau Kakak dobrak kalau kamu nggak ke luar,” jelasnya, membuat Sashi tergelak, tawa yang segera menular kepadanya.
Jeremy angkat cangkirnya, lalu dia endak melangkah ke luar, tak ada pikiran apapun saat dia di kamar ini, tapi begitu melihat rambut basah Sashi, dia rasa kewarasannya dipertaruhkan, Jeremy memilih ke luar saja.
“Kakak tunggu kamu di dapur, cepat!”
“Emm ... di sini aja kali, Kak. Aku gantinya cepet kok, sekalian aku mau tanya tugas bentar, tungguin!”
Ah, mereka sudah lama bersama seperti ini, sampai tak ada kecemasan dan canggung sama sekali, bahkan Sashi biasa saja dengan santainya berganti baju, walaupun memang ada penutupnya, tapi kan di kamar ini ada pria dewasa.
Jeremy meraup wajahnya, perasaan di hatinya tak bisa dia tahan, dia menilai Sashi lebih dari sekadar adik tiri, bila dia ditanya siapa wanita idamannya, tentu dia akan menjawab itu Sashi.
Dan itu yang menjadi alasan kenapa dia melepas Clara, tak lain karena dia ingin fokus hanya pada satu wanita yang akan dia perjuangkan, dia mencintai Sashi sebagai seorang pria pada wanita.
“Kakak kok ngelamun, mikirin apa? Mau balikan sama mantannya?”
Jeremy berdecak, dia bangkit sejenak, mengambil tas ransel Sashi. “Mana tugas kamu, buruan!”
“Ih, iya-iya ... kalau aku bahas mantan aja nggak mau, dasar!”
“Ah, iya!” Sashi angkat kedua tangannya, Jeremy sudah mau akan menjewer telinganya saja.
Sashi tunjukkan rangkuman tugas yang akan dia bahas mulai besok bersama ketiga temannya, lebih tepat lagi di rumah ini, Jeremy mengizinkan semua itu walaupun di awal dia syok karena mereka ingin berkenalan dengan dirinya, bukan niat mengerjakan tugas dengan benar.
Walau bibirnya menjelaskan banyak hal akan tugas itu, matanya terus memandang teduh wajah cantik Sashi, putih dan menggemaskan, pasti akan sangat nyaman bila bisa bersama Sashi selamanya, menjadikan gadis itu satu-satunya wanita dalam hidupnya.
Ya, hanya ada satu wanita yang ada di dalam benaknya saat ini, Sashi bila ada yang bertanya, entah kenapa gadis itu serasa dominan baginya yang selalu teguh dan ingin diakui.
“Kak, yang ini kayaknya harus diuji lagi nggak sih? Aku pakai sistem yang versi ke berapa?”
“Cantik.”
Sashi mendongak, seketika senyum Jeremy hilang. “Apa, kenapa?”
“Ngaco sukanya deh!”
"Heh, kamu tanya apa? Coba ulangi lagi, kali ini nggak akan ngelamun, Kakak janji deh!!"