“Kamu seksi kok, Sas!”
Sashi yang kala itu baru saja menangis sontak mengerutkan keningnya, tidak ada pembahasan apapun, tiba-tiba Jeremy mengutarakan hal demikian.
Seksi? Apanya yang seksi? Dan kenapa sampai dinilai seksi?
“Kakak ngomong apa coba?” Sashi memiringkan kepalanya. “Aku tuh habis diputusin pacar aku kok, kamu bilang aku seksi, emang masalahnya sama model tubuh?”
“Eng-enggak gitu, biasanya kan cowok lihat itu!” jawabnya berkilah.
Jelas itu membingungkan Sashi, sejak menjadi adik sambung alias adik tiri dari Jeremy di keluarga Laksana, memang pemuda itu tak pernah menunjukkan ekspresi tidak suka, Jeremy sangat terbuka dengan kedatangan Sashi juga ibunya, hanya saja perhatian Jeremy yang suka membuat Sashi bingung sendiri.
Seperti saat ini, dia baru saja diputuskan kekasihnya karena satu hal yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kata ‘seksi’, tapi yang ke luar dari mulut Jeremy justru kata itu, menyebalkan sekali.
Sashi lantas berdiri, dia tepuk kedua tangannya yang mulai bercampur debu jalanan itu, tidak ada ritual jogging sore yang menyenangkan, hancur mood yang dia bangun susah payah.
“Kamu mau ke mana sih?” lagi-lagi Jeremy selalu menahannya, Kanaya harus menurut padanya sebagai adik.
“Kak, aku lagi nggak enak banget hari ini. Jangan ganggu deh!”
“Karena nggak enak itu, Kakak mau hibur kamu!”
“Mau ngapain sih?” Sashi berusaha menarik tangannya, tapi pemuda yang lebih tua tujuh tahun darinya itu tak mau tahu. “Jangan maksa deh!”
Jeremy tak mau dengar, dia membawa mobil tadi, sengaja mengikuti Sashi ke luar bersama kekasihnya diam-diam. Jujur saja, Jeremy lebih dulu tahu siapa Sashi sebelum gadis itu masuk ke rumahnya sebagai adik, seorang adik kelas mantan kekasihnya yang sangat menarik perhatiannya, tapi Sashi tidak tahu Jeremy sama sekali.
Seksi, energik, mempunyai paras yang cantik, ditambah lagi Sashi bukan tipe gadis yang suka mengumbar tangan untuk kenalan, dia cenderung tidak percaya diri, itu yang membuat Jeremy suka padanya.
Takdir mempertemukan keduanya kembali dalam satu hubungan yang disebut keluarga, Jeremy tak mengelak bahwa perasaannya itu salah, hanya saja dia tak bisa menahan diri untuk tidak menyukai Sashi, gadis itu terlalu menarik baginya.
“Kakak cuman mau ajak aku nonton, gitu? Kalau gini aku ya bisa sendiri kali, Kak!” Sashi mengerucutkan bibirnya.
Jeremy melepas selt belt miliknya lebih dulu, kemudian dia menarik milik Sashi hingga embusan nafas Sashi menabrak lembut pipinya.
Sashi menahan mati-matian degub jantungnya yang tak terkendali sama sekali, bisa-bisanya dia berdebar hanya karena sedekat ini dengan Jeremy, kakak tirinya sendiri. Bibir tebal tipis nan seksi Sashi lipat ke dalam, dia gigit sedikit bagian bawah yang tebal itu, dari sudut matanya bisa Jeremy lihat betapa seksinya Sashi, ingin dia cium detik ini juga.
Tapi, pengendalian dirinya sangat baik.
Tubuh Sashi tersentak saat lagi-lagi tangan Jeremy menggandeng tangannya, ini bukan kali pertama, tapi dia selalu gugup saat Jeremy menggandengnya.
“Kak, aku nggak mau nonton!”
“Udah, ikut aja. Lagian yang aku pilih buat kamu ini filmnya lucu abis, gokil!”
“Ih, tapi aku nggak mau, Kakak juga belum izin sama papa dan mama, kan?” Sashi punya senjatanya.
Jeremy memutar kedua bola matanya malas. “Papa sama mama percaya kalau kamu ke luar sama Kakak, udah ikut aja, ini nggak bakal buat kamu rugi!”
Ya, benar, apa yang Jeremy katakan karena nyatanya Sashi tidak pernah dirugikan bila dia ke luar bersama Jeremy, pemuda itu akan selalu menjadikan dia nomor satu, bahkan bisa dibilang lebih dari sekadar adik, bisa dikatakan kekasih malah, banyak orang dibuat salah paham.
Gandengan tangan Jeremy semakin mengetat saat mereka berbaris antre, sungguh dia akan marah bila ada yang melirik Sashi.
“Aku tuh nggak suka gitu kalau ke luar sama Kakak, sukanya berantem mulu!” Sashi obati tangan kanan Jeremy yang baru saja baku hantam. “Kenapa sih suka banget mukul orang, kamu stress ya?”
“Kakak nggak suka aja kamu dilirik gitu sama dia, kamu nggak murahan!”
“Sashi tahu, itu juga nggak sengaja dia bilang. Jangan emosian dong, posesif amat sama adeknya!”
“Auh!”
“Ini aku udah pelan, Kak!” Sashi tahan tangan Jeremy yang endak terlepas kabur itu, bisa-bisanya main kabur saja. “Aku nggak mau ya kalau kamu mukulin orang lagi!”
“Kalau gitu kamu jangan seksi-seksi!”
“Apaan sih, nggak ada yang seksi!”
Tontonan yang seharusnya bisa membuat mereka tertawa, nyatanya hanya membuat Sashi sebal, dia memang sudah lupa sakit yang ditorehkan sang mantan, tapi dia kesal saat ini mengingat Jeremy selalu saja bermain brutal kalau ada yang meliriknya, sekalipun tidak sengaja.
***
Di kamarnya, Jeremy usap foto berdua bersama Sashi yang diambil saat keluarga ini baru bersatu, saat itu Sashi duduk di bangku SMA, belum pandai berhias seperti sekarang ini, lima tahun terlalu cepat bagi mereka bersama.
Jeremy hanya melirik malas saat ponselnya berdering, dia sudah tak ada hubungan lagi dengan gadis berambut pirang bernama Clara itu, mereka sudah putus, tapi masih terus saja mengganggunya.
“Kak, mama udah selesai masak, ayo makan!”
Jeremy berbalik, dia tersenyum pada Sashi, gadis berusia 19 tahun itu melenggang masuk sambil menarik kaosnya yang kebesaran, duduk di tepi ranjang dan mengambil ponsel Jeremy.
“Kenapa nggak angkat telfonnya nih cewek, bete?”
“Udah putus, kan. Ngapain diterima, males!”
Sashi sontak berwajah jelek. “Kakak yang peka sedikit dong, dia gini itu masih sayang sama Kakak, jadi-“ Sashi bungkam, wajahnya sangat dekat dengan wajah Jeremy saat ini, pria itu membungkuk di depannya.
Jeremy terseyum tipis nyaris tak terlihat indra penglihatan Sashi, perlahan dia dekatkan wajahnya, mengikis jarak yang ada hingga ujung hidung mereka bertemu. Ibu jari Jeremy mengusap bibir tebal tipis Sashi dengan gerak sensual, gadis itu masih belum sadar akan kegiatan kakaknya yang membuat dia terperangah.
Saat bibir Jeremy endak menyapu bibir Sashi, gadis itu memalingkan wajahnya yang memerah, Jeremy tersenyum, dia usak lembut rambut Sashi, kemudian meninggalkan Sashi sendirian di kamarnya.
Foto yang sedari tadi Jeremy pandangi masih tergeletak di meja dekat ranjang, posisinya terbalik hingga Sashi tak tahu foto apa itu, dia hanya menetralkan debaran di dadanya sebelum bangkit dan berjalan ke luar.
“Nggak, Sashi ... no, kamu nggak boleh mikir yang aneh-aneh sama kakakmu, dia kakakmu pokoknya!” Sashi bermonolog dengan batinnya sendiri.
Dia berlari cepat ke ruang makan, tampak di sana Jeremy tengah asik bercanda dengan sang mama, kedua tangannya terkepal, ingin sekali dia sumpal mulut Jeremy dengan gulungan tisu, bisa-bisanya membuat dia berdebar tidak karuan.
“Sashi, makan sini, Sayang!” tegur mama.
“Iya, Sayang, sini!” timpal Jeremy tanpa dosa.
Rese!
Katakan hari ini adalah hari termalas yang tak mau Sashi lewati sebenarnya kalau dia tak berkuliah, berhubungan keluarganya mempunyai standart tinggi dalam sebuah pendidikan, mau tidak mau dia harus membiarkan kakinya melangkah malas ke kelas.
Ciuh, kenapa juga dia harus memandang wajah cowok sialan itu?
Andreas tampak mendekatinya, memindai setiap jengkal penampilan Sashi dengan matanya yang sipit.
“Nggak usah ngajak aku ngomong, basi!”
“Aku mau jelasin sesuatu sama kamu, masa nggak boleh?” Andreas selalu paling bisa membuat dia melemah.
“No, kamu ngomong aja sama tembok, itu kayaknya juga males ngomong sama cowok sialan kayak kamu!” Sashi menepis tangan Andreas yang endak menyentuh tangannya, gadis itu melenggang cepat menghindari Andreas.
Sudah dirasa cukup bukti perselingkuhan yang Andreas tunjukkan padanya walau saat itu Andreas tak tahu kalau ada Sashi yang berada di belakangnya, hubungan ini sudah berakhir bagi Sashi, lagipula saat dia membahas perselingkuhan Andreas dan Diana, cowok itu langsung menawarinya putus.
Bukankah itu sudah cukup menjadi bukti kalau Andreas sama sekali tak mencintai dirinya?
Namun, penawaran dan kata putus itu hanya gertakan menurut Andreas, dia memang mengakui berjalan di belakang Sashi bersama Diana, tapi demi Tuhan, dia berani mengatakan kalau itu hanya kebodohannya saja, dia kalah taruhan, cintanya tetap pada Sashi, asal gadis itu mau tahu.
Sashi sudah menutup pintu hatinya rapat, baginya selingkuh adalah tabiat yang tak bisa dihilangkan begitu saja, akan terus mendarah daging.
MyBro: Sashi, pulang jam berapa? Kakak mau jemput kamu sekalian makan siang.
Kampus baru saja dimulai, tapi kakak tampannya itu terus saja menawarinya makan siang bersama, Sashi hanya menghela nafas kasar, lalu dia membalas sebisanya.
Sashi: Oke, jemput aku nanti jam makan siang Kakak!
Pergerakan Sashi tak luput dari pandangan Andreas, setelah tujuh hari masa taruhannya habis, dia pastikan akan membawa Sashi dalam cintanya lagi, mereka akan berkencan seperti biasanya, meninggalkan Diana yang sama sekali tak dia cintai.
Mata sipit cowok itu tak mau jauh dari Sashi, jangan kira Sashi tak merasakan geleyar aneh dari Andreas, dia sangat amat tahu kalau Andreas terus melihat ke arahnya. Tapi, Sashi tak sebodoh itu, bukan dia yang berkhianat, bukan dia juga yang menawarkan kata putus, jadi dia berhak jual mahal detik ini pada cowok itu.
“Siapa yang akan menjadi kelompok Sashi di sini?” dosen memberikan penawaran.
“Pak Bram ... boleh saya memilih sendiri teman satu kelompok saya?” Sashi segera berdiri, dia yakin Andreas akan mengambil kesempatan ini.
Dosen itu mengangguk, kesempatan hebat yang bisa Sashi manfaatkan, dia melirik Andreas yang melorotkan kedua bahunya, rasakan itu pembalasan Sashi yang pertama dan akan lebih mencekam di tahap berikutnya.
Sashi memilih dua orang teman yang cukup dia kenal sebagai tambahan dari satu teman yang sudah sangat akrab dengannya, ada Lolita, Sandra dan Yana.
“Kamu yakin semua anggotamu itu wanita?”
“Yakin.” Sashi kembali duduk ke bangkunya, bisa dia lihat wajah jelek Andreas.
Ya, memang tugas ini tak akan mudah bagi kelompok wanita, tapi dia punya kakak di rumah yang tentu bisa membantu memberikan ulasan dari segi pria, semua serba mendukungnya menjauh dari cowok licik dan tidak punya prinsip seperti Andreas.
Setelah kelasnya usai, Sashi mulai mengatur waktu pertemuan, mereka bisa mengadakan pertemuan mulai malam ini atau besok.
“Sashi, bagaimana kalau di rumahmu saja, kamu ingin duduk di taman belakang yang katanya Yana sangat indah?” Lolita si ratu konten.
“Ide bagus, kalian juga nggak akan boros di sana!” Sashi menyahutinya sambil terkekeh.
“Benar, ide bagus. Rumahku dan Sashi tak terlalu jauh, lagipula di rumah Sashi, kita bisa bertemu dengan kakaknya yang ganteng itu, siapa namanya?” Sandra sudah kibas-kibas rambut.
“Kak Jeremy, ya kan?” Yana mencoba mengingat.
Sashi mengangguk, selalu menjadi idola sejak Sashi berkuliah di sini, Jeremy kerap menjadi wakilnya karena kedua orang tua mereka sangat sibuk bekerja, mau tak mau wajah Jeremy terkenal, bahkan ada yang menilai kalau Sashi seharusnya menjadi anak Jeremy.
***
“Kok Kakak ngajak aku ke sini, emangnya kita mau makan di sini?”
Jeremy mengangguk. “Ini jalinan kerjasama papa yang baru, kamu belum pernah makan di sini, kita coba sekarang!”
Sashi masih mematung, daripada disebut rumah makan, lebih tepat lagi kalau ini disebut hotel kapsul saja, setiap ruangan di design sangat menjaga privacy pelanggan, mereka bisa makan tanpa memakai apapun di sini.
Dia sedikit memutar tubuhnya, interior yang dibuat juga bukan murah dan ala kadarnya, semua di design sangat sempurna. Jaman sekarang, kebanyakan mata julid membuat orang-orang memilih tempat yang sangat nyaman, seperti rumah makan ini, bersebelahan saja tak akan tahu apa yang dilakukan tetangganya.
“Kak!” Sashi memekik saat kedua tangan Jeremy ada di pinggangnya, melingkar dan memeluknya dari belakang. “Lepasin nggak tangannya, aku ini bukan boneka kecil kamu lagi, aku udah gede, nggak enak tahu diginiin sama kamu!”
“Apa bedanya? Kamu tetep boneka gemas kecilnya aku, Sas!”
“Lepasin!”
Jeremy tak mau membuka lingkaran kedua tangannya, pria itu justru menjatuhkan dagunya di bahu kanan Sashi, menekan hidungnya hingga bisa mencium wangian khas sang adik tiri ini.
Jantung Sashi kembali berdebar sangat cepat, bodoh dan buta kalau dia mengatakan Jeremy itu tidak tampan, dia tipe pria yang sangat sempurna di mata semua wanita, kalau bukan kakaknya, tentu sudah lama Sashi akan menjadikan pria ini kekasihnya.
Sayang sekali,
“Kak ... lepasin nggak tangannya!”
“Cium dulu, baru aku lepasin!”
Sashi menganga, dia menoleh sedikit hingga matanya bisa menangkap wajah penuh ledekan kakaknya itu, bahkan Jeremy memanyunkan bibirnya agar bisa menggapai bibir Sashi.
“Kakak jangan ngaco ya!”
“Aku nggak ngaco, beneran minta cium dari kamu, Sashi ... ayo, kita ciuman!”
Astaga, Sashi yakin di kepala kakaknya itu sudah banyak foto wanita telanjang, makanya sampai berpikiran kotor saat bersamanya.
Sashi masih berusaha melepaskan kedua tangan Jeremy yang mengeras di perutnya, pria itu benar-benar menguji kesabarannya di sini, tidak mau melepas dan semakin mendesaknya merapat ke tembok pembatas.
Mereka hanya berdua, sejak tadi pelayan tak ada yang masuk menawari menu pada mereka. Apa tahu kalau Jeremy akan berlaku seperti ini padanya?
“Kak, kamu apaan sih?!”
“Aku bilang minta cium, Sashi. Itu artinya aku mau kita ciuman!”
“Heh, nggak bisa gitu dong, aku ini adek kamu. Nggak ada ceritanya adek sama kakak itu ciuman, Kak!” Sashi mau mengompol sekarang, atau dia pura-pura pingsan saja.
Tapi, Jeremy terlalu kuat untuk pukul mundur, Jeremy angkat dagu Sashi yang sengaja diberatkan, memandang dahaga sejenak bibir itu, sebelum akhirnya mendekat dan kecupan Sashi terima.
Kening, bukan bibir.
“Pikiran kamu kotor, Sas!”
Sashi jejak salah satu kaki Jeremy, dia sudah terbawa suasana tadi, nyaris dia terbang, nyatanya sang kakak hanya bercanda.
Tapi, untuk apa juga dia berharap pada candaan kakaknya itu?
Setelah memesan beberapa menu, Jeremy mengambil duduk tepat di depan Sashi, di tempat ini tak ada yang tahu kalau Sashi adalah adik tiri Jeremy karena memang belum diperkenalkan dengan resmi, keberadaan Sashi sebagai anak gadis masih disembunyikan dengan alasan ingin menjaga keturunan wanita di keluarga Laksana.
“Terima kasih,” ujar Jeremy sambil tersenyum manis pada pelayan yang mengantar.
Sashi mendengus, siapa yang tak akan suka disenyumi oleh kakaknya itu, bahkan orang di tepi jalan saja ingin mendapatkan senyuman dari kakaknya itu.
“Makan, Sas!” ajaknya.
“Hem, aku mau yang itu aja, nggak mau makan daging, diet!”
“Kamu lagi makan sayur? Kok nggak bilang ke aku sih!”
“Kok Kakak protes sih!” Sashi membalas dendam kali ini, salah sendiri dia dibuat berdebar, terus dihancurkan begitu saja.
Jeremy yang menyadari perubahan dan kecewa adiknya itu lantas berpindah duduk ke samping Sashi, dia tahu setiap kali Sashi berubah mood di dekatnya, terkadang mereka bisa sangat dekat satu sama lain, terkadang bisa bertengkar karena hal kecil seperti ini.
Dia ambilkan apa saja yang Sashi inginkan, sama seperti yang Jeremy lakukan, tangan Sashi lantas mengambilkan apa saja yang kakak tirinya itu suka, keduanya lalu melempar senyum dan berakhir pada tawa mengikik.
“Bisa nggak Kakak itu jangan iseng, aku tuh berdebar kalau Kakak kayak gitu ...” adunya.
“Kamu ngeluh kalau Kakak jutek, terus lagi kalau dideketin, mau kamu apa coba?”
“Ya, sewajarnya aja sama aku, Kak!” Sashi mengunyah gulungan kubisnya.
Jeremy berpikir sejenak, kemudian dia gulungkan sayuran dicampur saus kacang, dia suapkan pada Sashi.
“Cuman ke kamu, Kakak begini, Sas.” Akunya lirih.
Sashi mengangkat kedua alisnya, maksudnya dia sedang bertanya ‘kenapa’ karena saat ini mulutnya sangat penuh.
Sementara Jeremy mengulum senyum, dia selipkan anak rambut yang menjuntai ke depan wajah, berpindah kebalik telinga Sashi.
“Nggak ada yang bisa deket sama aku, kecuali satu wanita.”
“Siapa?” Sashi mengambil sushi salmon di depannya.
“Kamu, cuman kamu!”
Uhuk!
Sashi tepuk dadanya, dia terkejut bukan main karena di sini Jeremy mengatakan seorang ‘wanita’, sedangkan Sashi bukan wanita yang ada dipandangan Jeremy seharusnya, dia itu adik tiri, tidak bisa dipandang sebagai wanita, apalagi kedua orang tua mereka sudah menikah.
Dengan cekatan Jeremy berikan minumnya, dia usap punggung Sashi, bahkan sampai membawa Sashi ke pelukannya.
“Kak, jangan gini deh ... kan, nggak pantes aja!”
“Kaak ...” Sashi mendongak, Jeremy hanya tersenyum sebelum mendekapnya lagi.
Hangat, dia tahu pelukan Jeremy selalu hangat seperti ini, dan entah kenapa hubungannya dengan Clara itu selesai, padahal kalau dipikir mereka itu pasangan yang cocok, Sashi membiarkan sejenak tubuhnya dipeluk, dia anggap ini bentuk kasih sayang Jeremy padanya, mengingat Jeremy tak bisa sedekat ini dengan papa dan mama, bahkan pada ibu kandungnya sendiri.
Satu wanita itu Sashi, gadis itu tak habis pikir, tapi dia diamkan saja kali ini.
***
Sesampainya di rumah, hanya ada maid yang menyambut keduanya, mama dan papa sepertinya sedang ke luar kota tanpa memberi kabar lebih dulu.
Dan sejak dulu di sinilah peran Jeremy pada Sashi, bisa dibilang yang paling mengerti Sashi adalah Jeremy, melebihi papa dan mama.
“Kak, aku mau mandi, kamu kunci pintunya ya!”
Jeremy mengangguk, dia tampak baru saja memutus sambungan teleponnya, Sashi sama sekali tak mendengar percakapan kakak tirinya itu, yang jelas rumah menjadi sangat sepi setelah dia menutup pintu kamarnya.
Dengan bersenandung ria, Sashi habiskan sore harinya dengan membersihkan diri tanpa melirik waktu sama sekali, begitu bibirnya dirasa pucat, dia bangkit dan mulai membilas tubuhnya di bawah guyuran shower.
Kaki jenjangnya yang seputih susu itu berhenti tepat di depan walk in closet, masih banjir dengan tetesan air, dilihatnya Jeremy meneguk kopi susu di dekat jendela kamarnya.
Sashi mendekap kedua lengannya, beruntung dia memakai handuk kimono. “Kakak kok di sini, ngapain?”
“Rumah lagi sepi, kamu mandinya lama, Kakak khawatir kamu kenapa-napa, ini mau Kakak dobrak kalau kamu nggak ke luar,” jelasnya, membuat Sashi tergelak, tawa yang segera menular kepadanya.
Jeremy angkat cangkirnya, lalu dia endak melangkah ke luar, tak ada pikiran apapun saat dia di kamar ini, tapi begitu melihat rambut basah Sashi, dia rasa kewarasannya dipertaruhkan, Jeremy memilih ke luar saja.
“Kakak tunggu kamu di dapur, cepat!”
“Emm ... di sini aja kali, Kak. Aku gantinya cepet kok, sekalian aku mau tanya tugas bentar, tungguin!”
Ah, mereka sudah lama bersama seperti ini, sampai tak ada kecemasan dan canggung sama sekali, bahkan Sashi biasa saja dengan santainya berganti baju, walaupun memang ada penutupnya, tapi kan di kamar ini ada pria dewasa.
Jeremy meraup wajahnya, perasaan di hatinya tak bisa dia tahan, dia menilai Sashi lebih dari sekadar adik tiri, bila dia ditanya siapa wanita idamannya, tentu dia akan menjawab itu Sashi.
Dan itu yang menjadi alasan kenapa dia melepas Clara, tak lain karena dia ingin fokus hanya pada satu wanita yang akan dia perjuangkan, dia mencintai Sashi sebagai seorang pria pada wanita.
“Kakak kok ngelamun, mikirin apa? Mau balikan sama mantannya?”
Jeremy berdecak, dia bangkit sejenak, mengambil tas ransel Sashi. “Mana tugas kamu, buruan!”
“Ih, iya-iya ... kalau aku bahas mantan aja nggak mau, dasar!”
“Ah, iya!” Sashi angkat kedua tangannya, Jeremy sudah mau akan menjewer telinganya saja.
Sashi tunjukkan rangkuman tugas yang akan dia bahas mulai besok bersama ketiga temannya, lebih tepat lagi di rumah ini, Jeremy mengizinkan semua itu walaupun di awal dia syok karena mereka ingin berkenalan dengan dirinya, bukan niat mengerjakan tugas dengan benar.
Walau bibirnya menjelaskan banyak hal akan tugas itu, matanya terus memandang teduh wajah cantik Sashi, putih dan menggemaskan, pasti akan sangat nyaman bila bisa bersama Sashi selamanya, menjadikan gadis itu satu-satunya wanita dalam hidupnya.
Ya, hanya ada satu wanita yang ada di dalam benaknya saat ini, Sashi bila ada yang bertanya, entah kenapa gadis itu serasa dominan baginya yang selalu teguh dan ingin diakui.
“Kak, yang ini kayaknya harus diuji lagi nggak sih? Aku pakai sistem yang versi ke berapa?”
“Cantik.”
Sashi mendongak, seketika senyum Jeremy hilang. “Apa, kenapa?”
“Ngaco sukanya deh!”
"Heh, kamu tanya apa? Coba ulangi lagi, kali ini nggak akan ngelamun, Kakak janji deh!!"