“Ayah sudah mengatur jadwalmu untuk hari ini, Raya. Kamu akan bertemu general manajer dari brand kosmetik Chinara.”
Raya terdiam lama, tidak merespon kalimat yang diucapkan Prames Chinar, ayah sekaligus pemimpin Chinar Group untuk saat ini. Raya masih tidak mengerti mengapa ayahnya sangat ingin sekali dia terjun ke dunia bisnis.
Tidakkah ketiga kakaknya saja sudah cukup mampu mengurus semua anak perusahaan Chinar Group atau bahkan menjadi pemimpin setelah ayahnya nanti? Kenapa sang ayah justru masih tidak puas dan ingin Raya ikut terjun ke dalam dunia bisnis?
“Ayah mau kamu mandiri, Raya. Tidak selamanya kamu hidup bergantung pada ayah dan kakakmu bukan? Kamu harus mulai mengurus bisnis supaya kehidupanmu setelah ayah pergi nanti tidak banyak berubah.”
Perkataan Prames terdengar sangat jelas di telinga Raya. Tidak ada yang Raya lewatkan sedikit pun, tapi entah mengapa dirinya tetap saja tidak berminat melakukan itu.
“Tinggal menikah saja kalo gitu. Aku bisa bergantung pada suamiku.”
“Itu namanya tidak mandiri.” Seorang laki-laki mendatangi meja makan, tempat di mana Raya dan Prames berbincang.
Raya memandang sekilas ke arahnya, mencebikkan bibir. “Emang kenapa? Selagi ada yang bisa dimanfaatkan, kenapa harus mandiri?”
“Dasar anak ini.” Theodore, kakak pertama Raya menggelengkan kepala. Tidak mengerti dengan jalan pikiran adiknya.
Raya memang sering dimanjakan oleh ayah dan tiga kakak laki-lakinya, karena itu dia terlalu malas menjalankan perintah sang ayah. Menurutnya, untuk apa susah-susah menjadi pemimpin? Mencari uang? Dia bisa meminta semua itu pada ayah dan kakaknya.
“Aku sudah pernah bilang, Yah. Raya tidak akan tertarik dengan bisnis.” Jayden, kakak kedua Raya ikut masuk ke dalam pembicaraan. Dia mengambil kursi di sebelah kiri Raya, dekat dengan sang ayah.
“Itu karena kalian semua memanjakannya.” Prames menunjuk dua anak laki-lakinya, Theo dan Jayden. Yang ditunjuk hanya tertawa saja, sadar bahwa mereka memang selalu memanjakan sang adik.
“Apa aku tidak termasuk hitungan?” Mahen, anak laki-laki ketiga di keluarga Chinar memasuki ruang makan. Dia mengambil tempat duduk di hadapan Raya, tepat di samping Theo.
“Kamu juga sama saja. Kalian bertiga selalu memanjakannya.”
Raya yang mendengar percakapan antara ayah dan kakaknya tertawa. Itu benar sekali dan dia tidak bisa mengelak. Sebab dia juga suka dimanjakan oleh mereka.
“Sudah, lupakan pembahasan itu. Ayah harus bicara serius dengan Raya. Hari ini kamu akan bertemu Bu Puji, tidak ada penolakan. Ayah juga sudah mencarikan sekretaris untukmu, dia akan membimbing dan mengajarimu cara menjadi pemimpin yang baik.”
“Hah? Sekretaris apanya? Ayah tidak bilang padaku.”
“Ini Ayah sudah bilang ‘kan? Jadi kamu tinggal mengikuti saja apa kata Ayah.”
Raya memajukan bibirnya, malas sekali dengan perintah beruntun dari Prames. Terlebih lagi semua itu terdengar seperti paksaan yang harus dituruti, mau atau tidaknya Raya sama sekali tidak masuk ke dalam pertimbangan.
“Udah, Dek. Turuti aja ya, selamat menjadi perempuan sibuk.” Jayden menepuk pelan kepala Raya, lalu menggusak rambut adiknya.
“Ah elah Kak, berantakan nih rambutku. Nyebelin banget sih!” sungut Raya kesal.
Bukannya apa, dia sudah menata rambut selama kurang lebih tiga puluh menit untuk mendapatkan model yang dimau dan Jayden bisa-bisa mengacak rambut ini. Memang kakak keduanya itu suka sekali membuat dia kesal.
“Udah ya, pembicaraan udah selesai. Ayo fokus makan.” Prames mengucapkan kalimat terakhir sebagai penutup pembicaraan di meja makan. Selanjutnya suasana mulai hening sampai semua makanan yang disajikan pelayan di atas piring tandas.
Para pelayan sibuk mengambil piring dari atas meja, merapikan semuanya. Belum sempat semuanya bangkit dari kursi, bel rumah berbunyi, menandakan ada tamu yang datang.
Pelayan segera bergegas membuka pintu, mempersilahkan tamu itu masuk ke ruang tengah. Seorang laki-laki dengan tinggi 175 centimeter memasuki ruang makan, tubuhnya dibalut kemeja putih dengan jas biru tua serta celana warna senada. Dasi hitam bercorak garis maroon terlampir di lehernya. Dia sedikit membungkuk, memberi hormat pada Prames.
“Selamat pagi, Pak. Saya Jevano Naraja.”
“Oh! Kamu sudah datang rupanya.”
Raya yang mendengar percakapan antara ayahnya dengan seorang pemilik nama yang tak asing segera mengangkat kepala, dia tadi sibuk merapikan rambut sehingga harus menundukkan kepala. Begitu matanya melihat ke arah sang tamu, dia terkejut tidak terkira.
Mulutnya terbuka sedikit, bola matanya melebar. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Oke, mungkin ini berlebihan, tapi itu yang Raya rasakan. Suhu dingin bahkan mulai merambat dari buku jemarinya.
“Heh, tutup mulutnya! Nanti nyamuk masuk tahu rasa.” Theo menginterupsi Raya, dia tidak menyangka kalau respon adiknya berlebihan seperti itu padahal yang datang hanya seorang sekretaris baru.
“Wait, please let me take a time for a moment.” Raya menolehkan kepalanya ke sang ayah, wajahnya dia rubah, mencoba terlihat biasa walau degup jantungnya tidak bisa berbohong.
“Ayah, kenapa Ayah nggak bilang kalau sekretaris baruku itu dia?” tanya Raya dengan suara sepelan mungkin, takut kalau orang yang dibicarakan akan mendengar. Padahal mau sekecil apapun suara Raya, orang di ruang makan akan tetap mendengar karena suasana di sana hening usai semua pelayan selesai membereskan piring.
“Kenapa? Kamu kenal dia?” tanya Prames.
“Kenal sih kayaknya, Yah.” Mahen menyahuti dengan nada menggoda. Matanya melirik Jevano yang tidak menampilkan ekspresi wajah apapun, terus datar sejak berada di rumah ini.
Bukannya apa, Mahen tahu pasti siapa Jevano ini. Karena Mahen adalah kakak tingkat Jevano di kampus dulu, mereka pernah satu kegiatan organisasi berdua dan yeah Mahen tahu kalau adik perempuan satu-satunya itu sudah lama jatuh ke dalam pesona seorang Jevano.
Bahkan saat Mahen dan Jevano masih kuliah, Raya beberapa kali mencoba meminta tolong pada Mahen untuk mengenalkannya ke Jevano. Hanya saja Mahen tidak mau melakukannya. Bukannya Mahen jahat, dia cuma tak mau Raya terlihat seperti perempuan yang terlalu mengejar laki-laki. Bagi Mahen, kodrat perempuan itu dikejar, bukan mengejar.
Raya melemparkan tatapan tajam ke arah Mahen, takut kalau kakaknya yang satu itu akan banyak bersuara dan membeberkan semuanya di keadaan sekarang. Yang ditatap tajam meledakan tawanya, lantas bangkit berdiri.
“Aku berangkat duluan deh, Yah. Hari ini harus mendatangi beberapa cabang mal jadi aku mulai dari pagi.”
“Ya, sana berangkat. Hati-hati di perjalanan. Bilang ke supir untuk tidak ngebut.”
“Siap, Ayah.”
Sepeninggal Mahen, ruang makan terasa semakin dingin. Suasananya benar-benar tidak bisa dikendalikan. Apalagi Theo terus memperhatikan Jevano dari atas sampai bawah. Dia tentu peka terhadap respon Raya dan Mahen tadi, sepertinya laki-laki bernama Jevano ini memiliki sesuatu yang khusus sampai respon kedua adiknya amat di luar dugaan.
“Dia lulusan mana, Yah?” tanya Theo ke Prames.
Bukannya Prames yang menjawab, malah Jevano yang angkat bicara. Dia menjelaskan secara runtut jurusan sewaktu kuliah, di mana kampusnya, dan apa saja kegiatan yang sebelumnya pernah dia lakukan.
Mendengar pernyataan Jevano membuat Theo menganggukkan kepala. “Menarik. Aku setuju aja sih dia jadi sekretaris Raya. Asal dia bisa membimbing Raya menjadi pemimpin yang baik.”
“Itu alasan Ayah menjadikan dia sekretaris Raya. Ayah percaya dia akan menjadikan Raya pemimpin yang baik dan hebat.”
Kepala Raya terasa berdenyut sakit sekarang. Pikirannya mulai berjalan tak tentu arah. Karena hei! Yang benar saja. Bagaimana bisa sekarang dia bertemu lagi dengan seseorang yang membuatnya tak bisa jatuh cinta ke laki-laki lain? Setelah selama empat tahun kuliah dia hanya mampu memendam perasaan seorang diri? Malah ayahnya sendiri yang membawa laki-laki itu padanya, mengejutkan sekali. Takdir yang tidak disangka.
“Raya, kamu baik-baik sama dia ya. Dan Jevano, saya titipkan anak saya padamu. Dia masih sangat manja, jadi tolong didik dia dengan baik.” Prames berbicara ke Jevano yang hanya diangguki oleh laki-laki itu.
Lihatlah, Jevano tidak banyak berubah sejak masih kuliah dulu. Dia tetap irit bicara, tipe laki-laki yang tak ingin diributkan dengan banyak hal dan Raya harus menghabiskan banyak waktu dengannya, terus di sisinya entah sampai kapan. Walaupun Raya menyukai laki-laki itu, tapi tetap saja Raya paling tidak suka berada di dekat seseorang yang bersikap dingin.
Huh! Semoga saja Raya bisa bertahan.
Seumur hidup, Raya tidak pernah berkhayal kalau dia akan ada di dalam satu mobil yang sama dengan seorang Jevano. Dulu, saat masih kuliah, mendekat pun Raya tidak mampu. Dia terlalu takut dengan tembok tebal yang Jevano bangun agar orang lain tidak menerobos masuk ke dalam hidupnya.
Sekarang, rasanya seperti sebuah keajaiban. Jevano datang ke rumahnya, menghadap ayahnya, sebagai seorang sekretaris baru yang akan membimbingnya. Apalagi yang bisa Raya rasakan selain perasaan senang tak terkira?
Kalian tahu bukan, jatuh cinta itu sangat menyenangkan. Merasakan bagaimana letupan emosi membuncah di dada seperti lava panas gunung berapi. Terasa mendebarkan. Bahkan hanya dengan duduk di belakang mobil dengan Jevano yang menyetir membuat Raya merasa seluruh dunia sedang berputar di sekelilingnya. Dia merasa menjadi pemeran utama dalam cerita romansa novel.
Ah, dia mulai berkhayal sekarang. Baiklah hentikan itu sebelum semuanya menjadi jauh.
“Kita mau ke mana deh?” tanya Raya, mencoba membuka percakapan. Padahal dia sudah tahu kalau mereka sedang menuju kantor skincare Chinara, salah satu anak perusahaan Chinar Group.
Jevano melirik Raya lewat kaca spion di atas kepalanya. Hanya lirikan saja, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Lirikan itu pun seakan memberi tahu Raya kalau dia akan mengetahui ke mana mereka pergi saat mobil yang dikendarai Jevano berhenti di satu tempat.
Gagal sudah rencana Raya membuka percakapan. Namun, Raya yang tidak suka dengan suasana keheningan dalam mobil segera mencari topik pembicaraan lain. Dia harus membuat Jevano mengucapkan beberapa patah kata.
“Kita belum kenalan loh, apa nggak mau kenalan dulu?” Raya memancing topik pembicaraan dengan hal lain. Tujuannya saat ini hanyalah membuat Jevano berbicara.
“Saya udah tahu kamu.” Jawaban singkat itu membuat Raya memajukan bibirnya.
Benar-benar Jevano ini. Tidak bisakah dia diajak bersantai sedikit? Kenapa sikapnya dingin dan kaku sekali? Dasar laki-laki es.
“Tapi aku belum tahu kamu siapa!” seru Raya. Lama-lama kesal juga dengan Jevano yang sama sekali tidak menunukan minat berdialog dengannya.
Sekali lagi Jevano melirik ke arah spion di atas kepalanya, melihat ke Raya. Satu alisnya terangkat, seolah mengatakan ‘kamu yakin?’.
Raya rasanya seperti tertangkap basah sewaktu Jevano terus menatapnya dari kaca spion, lantas melontarkan sebuah kalimat ketika mobil berhenti di perempatan jalan karena lampu merah.
“Orang yang pernah mengirimi saya penangkal mimpi tidak mengenal saya? Bagaimana mungkin?”
Oh! Shit! Raya tidak pernah membayangkan sama sekali kalau Jevano mengetahui dialah pelaku pemberi penangkal mimpi di hari kelulusannya. Waktu itu Raya hanya sedikit iseng, dia membuat penangkal mimpi warna putih dengan hiasan bulu-bulu di sampingnya. Raya pikir benda itu bisa memberi ketenangan untuk Jevano selama tidur.
Dikirimkannya penangkal tidur itu lewat salah seorang mahasiswa kampus yang kebetulan datang ke wisuda. Raya tidak mengenal orang itu, tapi dia memintanya untuk mengantarkan hadiah ke Jevano. Jadi, dia tak pernah tahu apakah Jevano bahkan menerima hadiahnya serta mengetahui dia pengirimnya.
Ternyata, kenyataan yang selama ini Raya tidak ingin tahu terbongkar secara gamblang tepat di depan matanya, dengan pelaku si objek utama dari kisah itu.
Lagi pula, kenapa Jevano malah berbicara soal itu? Laki-laki es di depannya ini seperti tak punya perasaan saja. Membahas sesuatu yang berhubungan dengan hati seakan tak ada yang terjadi. Pasalnya di dalam hadiah itu, Raya juga menuliskan surat kalau dia sangat mengagumi Jevano selama dirinya berkuliah di kampus.
Mahen tidak pernah tahu kelakuannya yang satu itu, karena kalau Mahen sampai tahu, sudah habis Raya dimarahi. Mahen adalah tipe yang tidak membiarkan perempuan mengejar laki-laki demi cinta yang belum tentu terbalas.
Pada akhirnya Raya membuang muka ke samping, memilih memperhatikan pemandangan di luar jendela mobil. Mood mengajak bicara Jevano sudah terjun entah ke mana. Malah sekarang dia ingin sekali segera menghilang dari hadapan Jevano untuk menyembunyikan rasa malunya.
***
“Bu Puji dan yang lain sudah menunggu di dalam.” Seorang perempuan yang bekerja sebagai sekretaris Bu Puji berbicara ketika Raya dan Jevano tiba di depan ruang pertemuan.
Raya mengangkat alis. “Yang lain? Maksudnya bukan cuma Bu Puji yang ada di dalam?”
Sekretaris yang ditanyai terlihat bingung, dia lantas mengangguk patah-patah. Ya memang, pertemuan kali ini ingin membahas produk skincare baru yang akan diluncurkan, jadi tidak hanya ada Bu Puji saja di dalam.
“Hah? Tapi Ayah tidak bilang begitu ta—“
Ucapan Raya terpotong ketika Jevano berjalan lebih dulu melewatinya, membuka pintu ruang pertemuan. Tangannya memberi gerakan, mempersilahkan Raya masuk ke dalam.
“Aku tidak mau masuk,” kesalnya. Dia ingin berbalik pulang, melakukan protes ke ayahnya dan bilang kalau dia tidak pernah siap untuk hal ini.
Namun, sebelum melakukan itu, Jevano lebih dulu menarik lengan Raya, sedikit mendorongnya pelan untuk masuk ke ruang pertemuan. Jevano mengikuti di belakang, menutup pintu ruangan.
Semua mata langsung tertuju pada mereka. Jevano lagi-lagi berjalan lebih dulu, memberi isyarat pada Raya untuk mengikutinya.
Mata Raya terpejam sebentar sebelum akhirnya menghela napas panjang. Dia membuka matanya, lalu tersenyum hangat ke semua orang di dalam ruangan. Kakinya melangkah mengikuti Jevano. Tidak ada pilihan lain, Raya harus mengikuti apapun yang akan terjadi dalam pertemuan ini. Sekretaris menyebalkannya itu sama sekali tidak membantu. Dia sepertinya malah ingin menjebak Raya, memaksanya melakukan apapun.
Jevano berhenti melangkah di dekat satu kursi yang berada hampir dekat dengan ujung, seperti kursi tempat duduk para petinggi. Tangan Jevano menarik kursi itu ke belakang, menyuruh Raya duduk lewat isyarat.
Yang disuruh hanya bisa menuruti, dia sudah ada di sini sekarang. Tak ada gunanya melakukan protes ke Jevano atau nanti dia akan mempermalukan nama ayah dan citra perusahaan.
“Selain ingin mempromosikan produk baru dari brand kita, saya juga ingin memperkenalkan seseorang yang akan menjadi direktur utama, memimpin perusahaan ini ke depannya. Silahkan.” Bu Puji meminta Raya berdiri untuk perkenalan.
Raya sendiri sempat syok di tempat, dia kaget sewaktu Bu Puji bilang kalau dia akan menjadi direktur utama perusahaan skincare ini. Hei! Dia bahkan datang ke sini atas dasar paksaan ayahnya. Dia tidak tahu sama sekali terkait pengangkatan ini.
Oh my god. Kepala Raya mendadak pusing sekali. Begitu banyak kejutan dia terima dalam satu hari.
“Silahkan perkenalkan diri Anda,” pinta Bu Puji.
Raya mengangguk pelan, menangkupkan kedua tangan di depan tubuh. Dia gugup sekali. Semua mata terus memandang ke arahnya seakan dia adalah hal menarik yang tak boleh dilewatkan.
“Saya Naraya Putri Chinar ....” Kalimatnya terhenti di sana, dia bingung ingin berbicara apa lagi. Kepalanya menoleh ke belakang, mencari keberadaan Jevano.
Raya seakan meminta tolong, ingin Jevano membantunya berbicara. Namun, sekretarisnya itu hanya membuang wajah, melihat ke arah lain.
Astaga! Benar-benar menjengkelkan! Oh Tuhan. Selamatkan Raya sekarang juga.
“Kamu sama sekali tidak membantu. Tidak usah jadi sekretaris kalo gitu!” kesal Raya. Dia melontarkan semua kalimat yang selama rapat tadi hanya tertahan di mulut.
Jevano menggelengkan kepala. “Seorang pemimpin harus siap menghadapi keadaan darurat. Kalau soal memperkenalkan diri saja tidak bisa, bagaimana nanti sewaktu menghadapi masalah saat memimpin?”
“Tapi itu tidak bisa disamakan. Aku bahkan tidak mengerti apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan sebagai pemimpin. Kamu tidak mengajariku.” Raya terus marah-marah. Dia tidak peduli saat ini dirinya dan Jevano masih berada di ruang pertemuan.
Untunglah di sini tidak ada orang lain lagi, hanya tinggal mereka berdua saja. Bu Puji bilang Raya harus menunggu di sini sebentar sementara dia menyiapkan ruangan untuk Raya gunakan nanti.
“Tunggu di sini sebentar,” kata Jevano. Dia memilih mengalah sedikit, sebab meneruskan perdebatan dengan Raya sepertinya tak akan mudah.
Jevano sedikitnya sudah memahami bagaimana sifat Raya. Perempuan itu terlalu manja, seperti yang dibilang Pak Prames padanya. Raya juga tidak pernah terjun ke dunia bisnis sebelumnya. Perempuan semacam dia pasti tidak tahu betapa susahnya membangun bisnis untuk menghasilkan uang. Bukan tipe Jevano sama sekali.
Kaki Jevano melangkah ke parkiran mobil, dia mengambil sebuah paper bag berisi beberapa buku. Dibawanya paper bag itu ke ruangan tempat Raya menunggu.
Raya menyambut kedatangannya dengan tatapan kesal. Jevano sedikit pun tidak peduli soal itu. Dia hanya heran saja, bagaimana mungkin perempuan yang dulu pernah menyukainya ternyata semacam ini?
Jevano tidak tahu saja kalau sampai saat ini pun Raya masih menyukainya. Perempuan itu sudah terlanjur jatuh terlalu dalam hingga sulit mencari jalan keluar.
“Nih. Mau jadi pemimpin yang baik ‘kan?” tanya Jevano seraya menyodorkan paper bag berisi buku.
Raya mengangkat alis, diambilnya paper bag dari tangan Jevano. Dia mengintip isi di dalam, lantas mengeluarkan semuanya ke atas meja.
Mulutnya terbuka lebar. Tak henti-hentinya dia terkejut dengan kelakuan Jevano. Ya coba bayangkan saja, Raya meminta Jevano mengajarinya cara menjadi pemimpin yang baik dan bukannya mengajari, Jevano malah memberikan buku tentang manajemen bisnis serta cara menjadi pemimpin yang baik.
Itu semua buku yang dibutuhkan. Kamu bisa membacanya dan tanyakan yang tidak dipahami.”
“Kamu pikir aku sedang kuliah lagi? Kenapa malah memberiku buku alih-alih mengajariku langsung?”
“Untuk melakukan praktik, seseorang harus memahami teori lebih dulu. Sudah kuliah ‘kan? Pasti kamu paham hal mendasar seperti itu.”
“Ck! Nyebelin.”
“Tidak usah marah. Saya melakukan ini agar kamu bisa mandiri. Tidak selamanya semua hal hanya berputar di sekelilingmu saja. Itu pelajaran pertama dari saya,” ucap Jevano sambil menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu terbuka.
Rupanya sekretaris Bu Puji yang membuka, dia menyampaikan kalau ruangan untuk Raya sudah dirapikan dan mereka bisa langsung ke sana.
“Baik, terima kasih banyak.” Jevano memberi sedikit senyuman kepada sekretaris Bu Puji yang juga dibalas dengan senyuman.
Raya mendengus kesal. Lihatlah! Jevano ternyata bisa tersenyum, tapi kenapa tingkahnya ke Raya sangat menyebalkan?
“Ayo, ke ruanganmu,” ajak Jevano.
Kali ini Raya berjalan lebih dulu, mengikuti sekretaris Bu Puji. Dia kesal dengan Jevano, moodnya sudah hancur berantakan. Ditambah lagi Jevano bisa bersikap baik kepada orang lain, sedangkan padanya tidak sebaik itu. Tersenyum saja tidak.
Raya jadi berpikir, mengapa dia bisa menyukai laki-laki itu? Apa yang Raya lihat darinya?
Jarak ruang rapat ke ruangan Raya tidak terlalu jauh, hanya melewati dua ruangan. Begitu pintu ruangan terbuka, Raya disambut oleh ruangan cukup luas dengan kaca jendela memenuhi dua sisi ruangan. Dari sini, dia bisa melihat pemandangan ibu kota di bawah sana, gedung-gedung tinggi, serta langit biru.
“Bu Puji bilang untuk pengangkatan Bu Raya akan diadakan bulan depan.”
Raya yang tadinya sibuk melihat ke luar jendela segera menoleh ke belakang. “Bulan depan? Kenapa cepat sekali?”
“Saya hanya menyampaikan apa yang dipesankan ke saya.”
“Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak. Kamu boleh pergi,” kata Raya. Kakinya melangkah menuju kursi putar, mendudukkan diri di sana.
“Kak, aku ingin bertanya serius kali ini. Boleh tolong jawab?” tanya Raya. Dia memanggil Jevano dengan sebutan ‘kak’ karena tidak tahu harus memanggilnya bagaimana.
“Hm.” Gumaman Jevano menjadi pertanda bahwa Raya boleh mengajukan pertanyaan.
Raya memutar kursi, duduk membelakangi Jevano. “Kenapa Ayah ingin aku menjadi pemimpin? Padahal aku sama sekali tidak memenuhi kualifikasi itu. Aku baru lulus kuliah bulan kemarin, menjalani sidang skripsi, bahkan belum wisuda."
Jevano tidak memberi respon, dia diam saja. Sekitar sepuluh menit lamanya berlalu dalam keheningan. Raya sampai membalikkan kursi, takut kalau ternyata Jevano tidak ada di belakangnya.
“Kenapa diam saja? Tidak ingin menjawabku?”
“Mohon maaf, pertanyaan itu hanya bisa dijawab Pak Prames.”
Raya memijat pangkal hidungnya. “Aku juga tahu, maksudku ya jawaban dari pandanganmu.”
“Saya tidak memiliki pandangan apapun tentang itu. Siapapun yang terpilih menjadi pemimpin, itulah apa yang seharusnya dia jalani.”
Raya menganggukkan kepala, meski dia tidak begitu paham dengan kalimat Jevano. Setidaknya sedikit maksud bisa Raya tangkap.
“Apalagi mereka yang berasal dari keluarga besar. Segalanya dijalani karena tuntutan semata, bukan atas dasar kemauan.”
Mata Raya memandang tepat ke arah Jevano, memperhatikan wajahnya yang tetap datar. Tidak ada emosi apapun terpancar di sana.
“Baiklah, terima kasih. Aku akan mengingat itu.”
“Hm. Jangan lupa baca bukunya.”
Setelah mengucapkan itu, Jevano berlalu pergi, meniggalkan Raya di dalam ruangan sendirian. Perempuan itu bahkan tak sempat bertanya mau ke mana Jevano. Biarlah Jevano pergi saat ini. Raya butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya.
***
Bersamaan dengan posisi yang didapat ada tanggung jawab besar di dalamnya.
Raya membaca salah satu kalimat itu dari sebuah postingan di sosial media. Entahlah, dia mulai terpikirkan tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Walau semua itu dia lakukan atas dasar suruhan sang ayah.
Kembali dia buka buku pemberian Jevano, membaca dan mencoba memahami apa yang tertulis di sana. Sesekali Raya mengecek jam di tangan, sudah hampir pukul dua belas, jam makan siang.
“Kak Jev ke mana deh, kenapa belum balik?” Raya menatap lama pintu ruangannya, berharap Jevano mendadak muncul membawakan makanan.
Seperti sebuah kebetulan, pintu ruangan Raya terbuka tepat ketika Raya membayangkan Jevano datang. Senyum Raya sudah mengembang, dikiranya Jevano yang datang membuka pintu, tapo ternyata malah sekretaris Bu Puji.
“Maaf, Bu mengganggu waktunya. Saya membawakan makanan, tadi Pak Jevano menyuruh saya memesan ini untuk Bu Raya.”
Raya mengernyitkan dahi. “Dianya ke mana?”
“Pak Jevano bilang ada urusan, jadi tidak bisa makan siang bersama.”
Raya berdecih. Sebenarnya apa sih kerjaan Jevano tuh? Kenapa dia masih saja sibuk padahal Raya ada di sini? Disuruh duduk diam membaca tumpukan buku pemberiannya.
“Yaudah, taruh meja aja. Makasih banyak ya.” Raya tersenyum ke arah Tari, sekretaris Bu Puji.
Sepeninggal Tari, Raya langsung menghampiri sofa dekat meja yang sudah ditaruh makanan oleh Tari. Dia menghabiskan makanan itu sendiri.
“Awas aja nanti kalo udah kembali.”