Bab 1

"Berhentilah menangis Jalang!" teriak Ayah didepan wajahku yang membuatku semakin menangis tanpa mengeluarkan suara.

"Bila kau tak menghentikan tangisanmu itu kau akan mendapat hukuman dariku!" Ayah menatap dengan tajam kearah ku. "Seharusnya kau bahagia karena sebenar lagi kau terlepas dariku dan hidup dengan penuh kemewahan."

"A...ku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku kenal dan tidak aku cintai ayah. Hiks hiks hiks." aku menatap ayah dengan air mata yang terus mengalir.

PLAK

"Dengar ini baik-baik. Berhenti menagis dan mulailah bersiap-siap bila kau tidak ingin mendapatkan hukuman dariku. Kau mengerti?!" aku menganggutkan kepala dengan memegang pipiku yang baru saja ditampar oleh ayah.

BRAK

Ayah keluar dari kamarku dengan membanting pintu dan meninggalkan aku seorang diri didalam kamar. Ingin rasanya aku menyalahkan takdir yang tuhan berikan kepadaku, kesalahan apa yang aku buat dimasa lalu hingga aku harus merasakan penderitaan ini.

Aku memperhatikan sekitarku dengan getir. Tidak ada lagi yang bisa membuatku bertahan untuk tinggal dirumah ini. Aku harus pergi, aku tidak mau menikah dengan orang asing itu.

Aku berdiri dari ranjangku dan melangkah kearah jendela kamar, membuka jendela dengan berlahan agar orang yang ada diluar kamar tidak mengetahui apa yang aku lakukan. Aku keluar dari kamar dengan berlahan karena gaun pengantin yang aku pakai sungguh membuatku kesusahan.

Saat aku sudah berada diluar aku langsung berlari menjauh dari rumah dengan kedua tanganku yang mengangkat gaun pernikahan yang aku gunakan.

"ANITTA MAU LARI KEMANA KAMU...!" aku melihat kearah belakang dengan terkejut saat ayah mengejarku dengan beberapa orang asing.

Aku semakin menambah kecepatan lariku walaupun kakiku sakit karena bersentuhan secara langsung dengan Aspal yang panas. Tuhan tolong kali ini saja bantulah aku.

"BERHENTI KAU JALANG SIALAN!!" teriak ayah yang tidakku hiraukan.

Aku terus berlari walaupun kakiku sudah penuh dengan luka dan saat aku melihat ada mobil yang terpakir aku dengan cepat menuju kearah mobil itu.

Aku mencoba membuka pintu mobil itu dan syukurlah pintu mobil itu tidak terkunci. Aku dengan cepat masuk kedalam mobil itu yang entah siapa pemiliknya.

Aku menoleh kearah kursi pengemudi setelah menutup pintu mobil dan aku dibuat terkejutnya saat tau siapa pemilik mobil yang sedang aku tumpangi.

"ANO..?" orang yang aku sebut namanya hanya menatapku dengan tajam.

"Keluar dari mobil saya." dia berbicara dengan dingin kepadaku yang membuatku dengan cepat tersadar dari keterkejutanku.

"Kumohon tolong bantu aku Ano, dan sebagai gantinya aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Aku mohon Ano, aku sangat membutuhkan pertolonganmu untuk saat ini." aku tidak memperdulikan tatapannya yang tajam padaku. Aku menyatukan kedua tanganku dan menangis dalam diam didepannya.

"ANITTA..! keluar kau." teriak ayah didepan jendela mobil Keanno, dengan berapa orang yang sudah mengelilingi mobil Keanno.

Keanno memutuskan tatapannya dariku dan menatap kearah belakangku dan setelah itu kembali menatapku atau lebih tepatnya menatap penampilanku dari atas kebawah. Aku hanya bisa menundukan kepala dengan tubuh gemetar ketakutan dan air mata yang terus keluar.

"Apa benar kau akan melakukan apapun yang aku minta..?" Keanno mengangkat daguku hingga aku kembali menatap kearahnya dan dengan cepat aku menganggutkan kepala.

"Baiklah, pasang sabuk pengaman mu." aku dengan cepat menuruti perintahnya.

Keanno menyalakan mobilnya hingga membuat ayah dan beberapa orang asing itu menjauh. Keanno melajukan mobilnya meninggalkan ayah dan beberapa orang asing itu. Aku menoleh kearah belakang dan melihat Ayah menatap kepergianku dengan penuh kebencian

"Terima kasih." aku mengucapkan dengan tulus pada Keanno. Keanno menatapku sekilas dan kembali menatap kearah depan tanpa membalas ucapan ku.

Aku memaklumi sikapnya kepadaku. Karena perbuatanku dimasalalu pada nyalah yang membuatnya bersikap seperti sekarang kepadaku. Perbuatanku yang mungkin tidak akan pernah dia maafkan

*****#*****

Aku hanya diam saat seorang Keanno Arkantara. Mengobati luka di kedua kakiku dengan telaten. Aku memperhatikan Keanno dari atas hingga kebawah.

Keanno banyak berubah setelah delapan tahun tidak pernah bertemu denganku, dia terlihat dewasa dan sangat tampan. Tapi satu yang menjadi pertanyaanku saat ini.

Apakah dia sudah menikah atau belum? aku ingin menanyakan pertanyaan itu kepadanya, tetapi aku takut dia akan semakin bersikap dingin kepadaku.

Aku hanya takut kalau dia sudah menikah dan hal yang dilakukannya sekarang bisa membuat istrinya salah paham dan menganggap aku sebagai Pelakor atau wanita jalang. Sungguh membayangkan itu membuat aku menutup kedua mataku dan mengenggam gaun pengatin yang ku pakai dengan kuat karena rasa sakit di hatiku.

'Apa aku masih mencintainya?'

"Ehm.....Keanno boleh aku menanyakan sesuatu kepadamu?" tanya ku pada Keanno yang telah selesai mengobati luka dikedua kakiku.

"Apa." dia menjawab dengan singkat.

Aku menyatukan kedua tanganku karena merasa gugup dan beberapa kali menggigit bibirku. "Apa kau sudah menikah? maaf kalau aku terlalu lancang bertanya ini kepadamu. Aku hanya tidak ingin ada yang salah paham." aku lalu menundukan kepalaku setelah mengucapkan apa yang ingin aku tanyakan.

"Itu bukan urusanmu." Keanno berdiri dan melangkah keluar dari dalam kamar hotel dan meninggalkan aku sendirian.

Aku kebingung ingin melakukan apa setelah Keanno meninggalkan ku sendirian didalam kamar hotel. Perutku tiba-tiba saja berbunyi dan membuatku kembali menggigit bibirku.

Tok tok tok

Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar tempat dimana aku berada. Aku berdiri dan melangkah dengan terdati-datih karena luka dikedua kaki ku.

Ceklek

Aku membuka pintu dan saat aku melihat seorang pelayan dengan kereta dorong yang diatasnya sudah tersaji bermacam makanan lezat yang membuatku hampir menjatuhkan air liur, aku dengan cepat menguasai diriku.

"Maaf Mas saya gak pesan makanan ini." aku tersenyum dengan tipis kearah pelayan itu.

"Tapi saya disuruh oleh Pak Keanno untuk mengantarkan makanan ini ke kamar 306 Mbak dan Pak Keanno tadi juga menitipkan ini kepada saya untuk diberikan kepada mbak."

Pelayan itu menyerahkan dua paper bag kepadaku yang ku terima dengan kebingungan dan meminta izin untuk masuk agar bisa menaruh makanan-makanan lezat itu diatas meja.

Aku pun mempersilahkan dia masuk dan setelah selesai pelayan itu izin pergi aku pun menganggutkan kepalaku sebagai jawabannya. Aku menutup pintu kamar dan setelah itu melangkah menuju kearah dimana makanan-makanan lezat itu berada.

Aku duduk dan meletakan kedua paper bag itu disisi sofa dan kembali menatap kearah makanan lezat itu dengan ke bingungan. Apa benar Keanno yang memesankannya untukku.

Kruuukk

Suara perutku kembali berbunyi yang membuatku mau tidak mau memakan makanan-makanan lezat didepanku tanpa menunggu Keanno kembali. Saat Keanno datang nanti aku akan menjelaskannya.

Setelah aku selesai makan aku mengganti gaun pengantinku dengan drass yang ada didalam paper bag sungguh aku sangat merasa malu. Bagaimana Keanno tau ukuran Bra ku?

Saat pelayan tadi memberikan dua paper bag kepada ku aku langsung melihat isinya yang berisi Celana dalam, Bra dan drass bermotif bunga, serta sandal. Kedua pipiku langsung merona. Karena ini adalah pertemuan kami pertama kali setelah delapan tahun tidak pernah bertemu lagi.

Setelah selesai mengganti pakaianku aku melangkah kearah jendela dan menatap kota bandung yang sangat indah karena lampu jalannya aku bersyukur karena Keanno memilih hotel bintang lima yang terletak ditengah-tengah kota bandung yang membuatku bisa melihat keindahan kota bandung saat malam hari.

Aku sudah mulai mengantuk tetapi Keanno belum juga kembali. Aku memutuskan untuk tidur diranjang yang ada didalam kamar hotel tempatku berada.

Saat aku mulai terlelap aku mendengar ada seseorang yang berbisik ditelingaku dan membuatku tersenyum didalam alam bawah sadar ku.

"Good night my queen."

Cup

*****#****

Bab 2

Sungguh pagi yang sangat kacau menurutku. Keanno datang kekamar hotel tempatku berada dan membangunkanku menyuruhku untuk bersiap-siap karena aku akan ikut dia kembali ke jakarta.

Dan disinilah kami berdua sekarang terjebak ditengah tengah kemacetan kota jakarta yang tejadi pada siang hari karena siang hari adalah jam-jam orang makan siang yang membuatku menghela napas karena perutku kembali berbunyi dan syukurlah tidak sekeras saat aku masih berada dihotel tadi malam.

Aku tidak mempedulikan perutku yang lapar atau pun Keanno yang sedang menatapku dengan datar. Aku masih memikirkan siapa orang yang berbisik ditelingaku tadi malam dan mencuri ciuman pertamaku yang tentunya bukan Keanno, karena Keanno baru kembali saat pagi hari.

"Apa kau ingin makan dulu?" aku dengan cepat menatap Keanno yang bertanya kepadaku dengan suara yang tidak seperti sebelumnya.

"Apa boleh?" tanyaku balik padanya. Keanno menatap kearahku dengan senyum tipis.

"Tentu saja." tubuhku menegang seketika saat Keanno tersenyum. Keanno benar benar tersenyum bukan dan itu bukan hayalanku semata saja kan?

Aku kembali menatap kearah depan dalam diam. Keheningan kembali tercipta diantara aku dan Keanno. Sampai Keanno memarkirkan mobilnya disalah satu cafe yang ada dijakarta timur.

Keanno turun dari mobil dan aku segera menyusulnya. Aku dan Keanno melangkah memasuki cafe dengan Keanno yang melangkah lebih dulu dan aku yang hanya mengikutinya dengan melangkah terdatih-datih. Karena kaki yang masih sakit dan untungnya Keanno membelikan aku Sandal untuk ku pakai.

Aku dan Keanno duduk berhadapan, Keanno memilih tempat duduk didekat jendela agar bisa memperhatikan orang orang yang ada diluar Cafe. Pelayan cafe pun datang menanyakan pesanan kami.

"Pak, Bu ingin memesan apa?" tanya pelayan pria itu pada ku dan Keanno.

"Kopi hitam satu." Pelayan pria itu mulai menulis pesanan Keanno dan setelah itu Menatap kearahku.

"Kentang goreng, ayam caramel dengan nasi dan Lemon tea satu." Pelayan Pria itu tersenyum kearah ku dan aku pun membalasnya. Setelah selesai mencatat pesanan ku Pelayan pria itu pun pergi. Aku kembali menatap arah depan dimana Keanno sedang duduk.

"Cihh...!" desis Keanno dangan wajah yang menahan marah dan menatap keluar yang membuatku bingung.

'Ada apa dengannya?' aku bertanya didalam hati.

Saat pesanan kami sudah datang kami berdua masih saja tidak ada yang berbicara sepatah kata pun yang jujur saja membuat ku bosan tetapi aku juga takut memulai pembicaraan dengan Keanno yang sepertinya dalam suasana hati yang tidak baik.

Aku dan Keanno kembali kedalam mobil setelah selesai makan dan Keanno yang Selesai membayar. Didalam mobil keadaan masih hening seperti biasanya.

Sampai aku dan Keanno sampai didepan rumahnya yang sangat megah hingga membuat aku terkagum-kagum. Keanno turun dari mobil dan aku menyusulnya dibelakang. Aku mengikuti Keanno yang melangkah memasuki rumahnya dengan kepala yang menunduk.

"Keanno akhirnya kamu pulang. Baby Al, dari tadi tidak mau berhenti menangis pada hal mamah sudah memberinya susu formula dan mengendongnya sepertia dia merindukanmu."

Aku mengangkat kepalaku dan seketika terkejut dengan apa yang aku lihat. Tante Kartika- Mamah dari Keanno sedang mengendong bayi perempuan. Aku lalu melihat bayi itu dan Keanno bergantian.

"ANITTA...?" Tante Kartika terkejut melihat ku yang berada di belakang Keanno yang membuat Keanno menoleh kearahku.

"Owekk owekk owekk.." bayi dalam gendongan Tante Kartika masih saja menangis walaupun tante Kartika sudah mengendongnya dan menepuk pantat bayi itu dengan pelan.

"Keanno mengapa Anitta ada disini..?" tanya Tante Kartika pada Keanno dengan Ke bingungan.

"Dia akan menjadi Baby Sitter Alyana, Mah. Mah bisa memberikan Alyana padanya. Ano keatas dulu." ucapan Keanno barusan sungguh membuat ku kembali terkejut bahkan aku bisa melihat dari wajah Tante Kartika bahwa dia juga tak habis pikir dengan Keanno.

Tante Kartika menatapku setelah Keanno pergi menaiki tangga dan menghilang dibalik salah satu pintu. Aku yang ditatap seintens itu oleh Tante Kartika memilih menundukan kepala.

"Tante, sungguh tidak tau apa yang terjadi antara kamu dan Keanno. Tapi Tante berharap kamu bisa menjaga Baby Al dengan baik dan tolong sayangi Baby Al dengan sepenuh hati Ani." aku mengangkat kepala ku yang tadi menunduk dan menatap Tante Kartika tidak mengerti.

Bayi yang ada digendongan tante Kartika yang bisa aku panggil dengan Baby Al yang tadinya menangis didalam gendongan Tante Kartika seketika berhenti menangis saat sudah berada didalam gendonganku yang membuatku dan Tante Kartika takjub.

"Sepertinya dia menganggapmu seperti ibunya.." ucap Tante kartika.

"Tapi saya bukan ibunya tante." jawabku setelah lama terdiam.

"Tante tau itu Ani. Tapi lihat lah bayi perempuan imut ini. Dia seperti memiliki ikatan denganmu." Tante Kartika tersenyum pada ku dan membuat ku menatap bayi dalam gendonganku.

"Boleh aku tau nama panjangnya...?"

"Tentu saja, Alliyana Putri Pradipta. itu nama panjang dari Baby Al."

"Tante boleh aku bertanya satu lagi?"

"Apa lagi yang ingin kau tanyakan Anitta, tante akan menjawabnya? tetapi bila kau ingin menanyakan dimana ibu dari Baby Al, tante tidak bisa menjawabnya. Hanya Keanno lah yang bisa menjawabnya." Tante Kartika tersenyum pada ku dan mengusap rambutku.

Sungguh jawaban dari tante kartika membuat banyak pertanyaan bersarang dikepalaku saat ini. Tante Kartika menepuk pundakku yang membuatku kembali melihat kearahnya.

"Anitta, tante ada urusan. Bila kau ingin pergi kekamarmu atau kekamar baby Al kau bisa minta tolong pada Bi Aminah. Sebentar tante panggilkan dulu."

Saat Tante kartika pergi memanggil Bi Aminah aku memilih duduk disofa ruang tamu rumah Keanno dengan baby Al yang ada di gendonganku. Saat aku kembali melihat Baby Al. Baby Al sudah tertidur yang membuat ku tersenyum dengan tulus.

"Anitta. Ini Bi Aminah dan Bi ini Anitta baby sitternya Baby Al." Ucap tante Kartika yang membuatku berdiri dan tersenyum pada Bi Aminah.

"Neng Anitta bisa panggil saya Bi Ami aja." ucap Bi Aminah.

"Bibi juga bisa panggil saya Ani aja kok Bi." Balasku.

"Kalau begitu Tante pergi dulu." aku dan Bi Ami pun menganggutkan kepala.

"Neng kok bisa Baby Alliyananya tidur Anteng banget kaya gitu neng. Sama bi Ami aja 30 menit baru mau diam baby Al nya." Bi Ami menatapku dengan menyengir.

"Saya juga gak tau Bi padahal baru pertama kali ini saya ketemu sama Baby Al." Jawabku dengan senyum tipis.

"neng mah hebat kalau gitu. Neng mau saya antarkan ke kamarnya? Kayanya neng capek..?" tanya bi Ami padaku.

"Boleh bi. Sekalian pindahin Baby Al ke kamarnya."

Aku dan Bi Aminah melangkah kearah kamar Baby Al terlebih dahulu dengan bi Ami berada didepan. Bi Ami yang merasa aku tidak berada disampingnya. Menoleh ke balakang dan menatapku dengan terkejut.

"Ya tuhan neng kakinya kenapa..?" tanya bi Ami khawatir aku terharu melihat bi ami yang khawatir dengan keadaanku.

"Gak papa kok bi. Cuma lecet dikit."

"Beneran neng gak papa."

"Iya bi, gak papa." Aku meletakan baby Al kedalam tempat bayi yang ada di kamarnya.

"Tapi kalau kaki neng sakit neng bilang aja sama bi ami biar bibi bantu untuk obatin neng." Aku menganggutkan kepalaku dan tersenyum sebagai jawabannya. "Ayo neng sekarang bi ami tunjukkan kamar neng." Ajak bi ami

"Iya bi." aku dan Bi Ami Membalikan badan ingin pergi dari kamar Baby Al yang ada dilantai dua. Namun sebelum kami berdua benar-benar keluar. Keanno sudah berdiri didepan kamar Baby Al dengan tatapan datar dan dingin.

"Anitta ikut saya sekarang." Setelah mengatakan itu Keanno melangkah pergi. Aku menoleh kearah bi ami.

"Bi, saya ikut tuan dulu ya bi." Bi ami menganggutkan kepalanya.

Sekarang aku harus terbiasa memanggil Keanno dengan sebutan Tuan karena sekarang dia adalah majikan ku dan aku sebagai pengasuh anaknya. Aku tersenyum pahit.

Aku melangkah mengikuti Keanno atau Tuan Keanno dari belakang. Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan kepadaku? Kenapa dia membuatku memiliki banyak pertanyaaan dan dimana sebenarnya ibu dari baby Al berada? Kenapa aku merasa familiar dengan wajah baby Al yang mungkin masih berusia 5 bulan itu?

Bab 3

Aku memperhatikan Keanno yang bersandar pada meja kerja diruangannya. Sungguh berada didalam ruangan kerja Keanno hanya berdua dengan Keanno adalah hal yang paling aku hindari. Karena aku dan dia pasti berada dalam keheningan yang tidak memiliki ujung hingga salah satu dari kami mulai membuka pembicaraan.

"Kamu menjadi baby sitter dari Alliyana adalah salah satu permintaan saya dan kamu tidak akan menerima gajih sepeser pun seperti bi Ami. Apa kamu keberatan..?" Keanno menatap kearahku dengan datar.

Siapa yang tidak akan keberatan dengan ini semua, tetapi yang keluar dari mulutku malah sebaliknya. "Saya tidak keberatan sama sekali Tuan. Saya cukup tau diri bahwa saya ditolong oleh tuan dan dibiarkan tinggal di rumah ini saja saya sudah sangat bersyukur." Sungguh berbicara dengan Keanno menggunakan bahasa formal membuatku merasa asing. Tapi aku harus terbisa karena dia sekarang adalah majikanku.

"Bagus kalau kamu tau diri dan satu lagi kamu tidak bisa mengundurkan diri atau pergi dari rumah ini kecuali saya yang menyuruh kamu pergi." ucap Keanno dengan tegas dangan tatapan tajamnya

"Maaf tuan tapi menurut saya sikap anda sudah keterlaluan pada saya. Anda seperti mempenjarakan saya didalam rumah anda." Aku mencoba melawan Keanno dengan mengumpulkan keberanianku dan menatap kearah mata Keanno yang mampu membuatku lupa akan apa yang terjadi.

Keanno melangkah mendekat kearahku hingga membuatku melangkah mundur berlahan dan menabrak tembok dan Keanno dengan cepat mempenjarakanku dengan kedua tangannya. Keanno menatapku dengan tajam dan intens. Aku mencoba mengalihakan tatapanku darinya.

"Kau sudah berani melawanku Anitta Gladisa Putri...!! Apa kau lupa dengan janji yang kau ucapkan sendiri disaat aku menolongmu dari ayahmu..?"

Aku yang merasa terintimindasi oleh Keanno pun, merasa takut. "Saya bukannya tidak Ingat Tuan. Tetapi permintaan anda sudah keterlaluan. "Aku mengumpulkan keberanianku untuk melawan Keanno dan kembali menatap mata Keanno.

Keanno semakin merapatkan tubuhnya kearahku hingga membuatku menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Apa yang sebenarnya ingin Keanno lakukan kepadaku apa dia ingin memperlakukanku seperti ayah memperlakukanku?

"Hukuman apa yang pantas diberikan kepada orang yang telah berani melawanku hmm...?" Keanno berbisik di telingaku yang membuat tubuhku merinding seketika.

Saat aku ingin mendorongnya menjauh. Keanno dengan cepat menggenggam kedua tanganku dan meletakan kedua tanganku di atas kepalaku. "Apa yang ing..hmmm."

Belum selesai aku bicara Keanno sudah lebih dulu menyatukan bibirku dengan bibirnya yang seketika membuat tubuhku menegang karean terkejut dan saat bibirnya bergerak, aku tersadar dari keterkejutanku dan Aku mulai memberontak ditengah ciumannya yang membuat kedua tanganku semakin ditekan olehnya, tubuhnya semakin merapat kepadaku bahkan dadaku dan dadanya sudah saling bersentuhan.

Salah Satu tangan Keanno turun menyusuri tubuh bagian belakangku tanpa melepas ciuman kami dan tangan satunya lagi masih menahan kedua tanganku. Tangan Keanno meremas bokongku yang membuatku mendesah dan membuat bibirku benar-benar terbuka.

"Ahh." Keanno tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dia mulai mencumbu bibirku dengan kasar bahkan Keanno tidak memberikan kesempatan pada ku untuk mengambil nafas yang membuatku menangis dan tubuhku mulai melemah dan tidak memberontak lagi karena lelah.

Keanno dengan sigap menahan tubuhku dan melepaskan kedua tanganku serta melepaskan cumbuannya. Keanno menyatukan keningku dan keningnya dan menutup mata bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya.

Aku dengan cepat mengambil nafas dengan tergesa-gesa dangan Air mata yang terus mengalir. Keanno kembali menciumku.

Cup

"Maaf. Maafkan aku Anitta.." ucapnya dengan lemah dan menghapus air mataku yang turun dengan kening yang masih menempel tanpa ada jarak diantara aku dan dia.

Aku mengumpulkan tenagaku dan mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga dia menjauh dariku.

"Bila tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan dengan saya. Saya permisi tuan." ucapku pada Keanno yang tidak mendapat balasan. Keanno hanya berdiri dalam diam.

Aku dengan cepat melangkah keluar dari ruang kerja Keanno tanpa memperdulikan kakiku yang masih sakit dan kedua tanganku yang mulai membiru. Karena hatiku lebih sakit dari pada luka di kakiku dan tanganku. Aku meninggalkan Keanno sendirian diruang kerjanya.

Saat aku sudah berada diluar ruangan kerja Keanno dan langsung bertatapan dengan bi Ami yang menatapku dengan kebingungan. tetapi bi Ami seperti mengerti dengan keadaanku sekarang, sehingga dia tidak bertanya padaku tentang apa yang barusan terjadi antara aku dengan Keanno yang membuat bersyukur tentang itu.

"neng mau Bi Ami antar ke kamar..?" Tanya bi Ami padaku. Aku menganggutkan kepalaku sebagai jawabannya karena aku tidak memiliki tenaga lagi untuk berbicara.

Aku mengikuti Bi Ami yang mulai melangkah dan saat sudah berada didepan kamarku, aku mengucapkan terima kasih pada Bi Ami dan Izin untuk tidur lebih dulu.

"Terimakasi Bi Ami. Bi saya masuk dulu ya."

"Iya Neng. neng istirahat aja pasti neng lelah banget. Bibi pergi dulu ya neng." Aku menganggutkan kepalaku dan Bi Ami mulai melangkah menjauh.

Aku masuk ke kamarku dan langsung melangkah ke ranjang. Aku seperti tidak memiliki tenaga lagi hanya untuk membersikan tubuhku.

Aku memperbaiki posisi tidurku dan mulai terlelap dan seperti malam sebelumnya saat aku belum benar benar terlelap aku mendengar ada yang berbisik pada ku dan mencium puncak kepalaku saat ini dan hal itu membuatku meneteskan air mata tanpa ku sadari karena ucapan orang yang berbisik ditelingaku.

"I'm sorry my queen and Good night."

Cup

Sekarang aku tau siapa yang berbisik ditelingaku dan menciumku.

******

Sudah dua minggu sejak kejadian diruangan kerja Keanno. Aku tidak pernah melihat Keanno berada dirumah. Aku yang penasaran mengapa Keanno tidak ada dirumah pun, memberanikan diri bertanya pada Bi Ami tentang keberadaan Keanno dan Status Keanno saat ini.

Bi Ami hanya menjawab bahwa Keanno sedang sibuk bekerja. Berangkat pagi-pagi dan pulang saat sudah tengah malam dan soal status keanno saat ini, bi Ami hanya bilang bahwa Keanno belum menikah Yang membuatku semakin penasaaran siapa orang tua dari Baby Al dan saat ingin bertanya tentang Baby Al.

Bi Ami memberikan jawaban yang sama seperti Tante Kartika dan mereka berdua seperti bisa membaca pikiranku yang seperti ingin menanyakan tentang Baby Al.

Aku bukannya telah memaafkan Keanno dan khawatir padanya. Aku malah bersyukur tidak melihatnya selama dua minggu ini dan aku hanya tidak enak karena dia adalah tuan rumahnya. Sungguh kejadian di ruang kerjanya saat itu masih membekas di ingatanku yang membuat luka baru dihatiku dan untungnya memar ditanganku dan luka dikakiku sudah sembuh.

Aku berpikir dia tidak akan pernah memperlakukan aku seperti ayahku, walaupun aku pernah berbuat salah padanya, tetapi apa yang dia lakukan kepadaku dua minggu yang lalu membuat pendapatku tentangnya berubah.

Hanya satu hal yang sedang aku lakukan selama dua minggu ini. Mencoba bangkit kembali dan menghilang rasa takutku serta melawan orang-orang yang ingin menindas ku. tetapi setiap orang pasti memiliki kelemahan bukan.

"Neng ayo makan dulu dari pagi tadi neng belum makan." ucap Bi Ami yang baru saja selesai mengerjakan tugasnya dan menyadarkan aku dari lamunanku.

"Bi Ami duluan aja. Ani mau menidurkan Baby Al dulu, dia kayanya bentar lagi tidur bi, kelelahan main sama Ani." Aku tersenyum pada Bi Ami dengan mengendong Baby Al dan memberinya botol susu yang berisi susu formula dengan menepuk pantat baby Al dengan pelan.

Bi Ami menoleh kearah Baby Al dan tersenyum setelah itu. Bi Ami kembali menatap kearahku. "Baby Al kalau sama neng, gak pernah rewel ya, bi Ami amati dua minggu ini, Baby Al Anteng banget kalau sama neng. Beda kalau sama bibi dulu. Bahkan bibi hampir Stres karena Baby Al gak mau berhenti menangis sampai-sampai Tuan Keanno keganggu kerjanya karena bi Ami Telpon terus soalnya Baby Al cuma mau sama tuan aja atau Sama Nyonya besar." Aku menatap bi Ami tidak percaya.

"Masa sih Bi. Baby Al kaya gitu, Bi Ami bohong ya sama Ani." Candaku dengan wajah jahil.

"serius deh Neng. Tuan Keanno aja sampai heran dua minggu ini bibi gak pernah telpon lagi. Jadi ya... bibi bilang aja kalau Baby Al gak pernah rewel lagi sejak ada neng. Tuan cuma bilang bagus kalau begitu kata tuan." Aku kembali tersenyum kecut mendengar semua perkataan dari Bi Ami.

"Bi gak jadi makan duluan?" Aku mengubah topik pembicaraan agar nama Keanno tidak disebut lagi. Untuk saat ini aku tidak mau mendengar namanya walaupun dia Tuanku saat ini.

"Astaga...! Bibi lupa Neng, pantas perut bibi dari tadi pada demo. Keasikan ngobrol sama neng Ani ini." Bi Ami tertawa yang membuatku tersenyum.

"Kalau gitu bibi makan duluan ya Neng."

"Iya Bi." Setelah mendengar balasanku. Bi Ami segera keluar dari dalam kamar Baby Al.

Aku tersenyum sedih menatap kearah Baby Al. "Siapa sebenarnya orang tuamu Baby Al? mengapa mereka tega kepadamu Baby? tapi mengapa wajahmu terasa familiar dimataku dan aku merasa sangat dekat denganmu. Seperti kita memiliki ikatan ibu dan anak. Sungguh saat pertama melihatmu aku sudah sangat menyayangimu dan mencintaimu, walaupun aku tidak tau kebenarannya." Aku berbicara kepada Baby Al yang telah tertidur didalam gendonganku.

Aku meletakan Baby Al ketempat tidur bayi dan setelah itu memastikan bila Baby Al sudah benar benar tertidur.

"Happy dream of a wonderful."

Cup

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED