Bab 1

Happy Reading Semuanya!

“Gue merasa baru kemarin semester awal terus kita di kerjain mulu sama kating dan sekarang kita sudah sampai di semester tua, Good bye kenyamanan.”

Perempuan dengan rambut panjang itu mengangguk setuju mendengar perkataan dari Vivi barusan, memang cepat sekali waktu berlalu dan kini mereka sudah masuk kedalam zona tidak nyaman lagi. Ibaratnya tahun ini adalah tahun terberat yang tidak bisa dibayangkan, tangan perempuan bernama Eva tampak mengetuk meja tempat kuliahnya pelan.

“Katanya ada dosen baru di mata kuliah geofisika dan dari kabarnya dia tampan. Speak dewa,” ucap Ana sembari menepuk pundaknya dan tersenyum penuh arti.

“Lo pasti tahu sesuatu, kan?” tanya Vivi.

“Tahu apa?” bingung Eva

“Dosen baru, kan Papa lo Kaprodi di sini. Masa iya dia enggak tahu apapun!” omel Ana

Eva menghela napas pelan, “Soal itu... gue enggak tahu, lo tahu sendiri kan ayah gue lebih tertarik dengan pengembangan media terbaru dibandingkan dosen tampan atau sejenisnya itu. Sekarang jangan pikirkan dosen tampan tapi yang harusnya kalian pikirkan adalah judul skripsi, gue ditodong mulu sama Papa gue terkait ini.”

“Lo memang enggak asyik!” keluh Vivi.

Bibir Eva hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya tidak peduli, tangannya mengusap punggung tangannya yang terasa gatal. Ia sendiri lebih memikirkan bagaimana nasibnya dengan Logan setelah mereka hampir berpisah satu semester karena kesibukkan nya sebagai ketua BEM Kampus.

Pandangannya berdalih pada lelaki yang ada di depannya. Suasana kelas yang tadinya senyap tampak berisik karena kedatangan lelaki yang hanya memasang wajah datar memasuki kelas mereka saat ini, tatapan mata Eva mengarah pada Ana dan Eva yang kini sibuk memasang wajah kagum pada lelaki yang ada di hadapannya.

“Perkenalkan saya Muhammad Zaidan Syahrul, disini saya berprofesi atau mengajar di bagian mata kuliah Geofisika. Saya lebih senang jika kalian memanggil saya dengan sebutan Zaidan, saya lulusan Universitas Colombia dan baru kembali ke Jakarta sekitar 2 bulan yang lalu.”

“Maaf Prof, saya lihat Anda selama S1, S2, S3 berada di luar. But, kenapa Anda memilih kembali ke Jakarta? Bukankah orang yang bergelar seperti Anda akan diterima dengan lapang dada bahkan terbuka lebar untuk orang yang seperti Anda?” Eva mengangguk-angguk membenarkan perkataan dari Rafif yang sibuk dengan kertas ditangannya setelah mengajukan pertanyaan barusan.

“Its simple, saya merindukan Indonesia. And... saya lebih banyak memiliki kenalan di Indonesia ketimbang di dunia barat, apakah kalian pernah mendengar perkataan seperti ini, ‘Sejauh-sejauhnya orang pergi ke luar negeri pasti merindukan tanah kelahirannya.’ Anggap saja saya seperti itu.”

“Prof saya mau tanya,” Eva menatap tajam Ana yang ada di sebelahnya.

“Sebenarnya saya enggak terima pertanyaan, tapi karena sudah ditahap sini. Baiklah, silakan apa yang ingin kalian tanya.”

“Profesor sudah menikah?” tanya Ana

“Sorry itu pertanyaan privasi,” sahut Zaidan.

“Kalau profesor jomblo alias belum menikah, saya punya teman yang bisa diajak gandengan pas wisuda nanti. Kasihan dia dianggurin sama pacarnya karena sibuk dengan urusan yang sebenarnya enggak wajib diurus,” Eva menatap tajam Ana yang kini hanya tersenyum tiga jari pada dirinya. Kode dari temannya tidak bisa ia terima, mana mungkin ia mau dengan orang sombong seperti Zaidan yang membanggakan diri di universitas Colombia.

Zaidan mengarah pada perempuan yang kini memasang raut wajah yang sama, terlihat datar. Dari seisi kelas hanya perempuan muda itu yang tidak menampilkan rasa takjub dan terpesona pada dirinya dibandingkan perempuan yang lain. Memang perempuan muda yang berbeda.

“Kita mulai pembelajaran saja,”

Seisi kelas tampak menghela napas pelan, yang diharapkan oleh mereka adalah membahas kontrak kelas yang harus dipatuhi atau sebagai macamnya bukan langsung masuk kedalam pembelajaran sekarang ini. Memang sebuah harapan yang sia-sia.

“Oh! Saya ingin bertanya satu hal disini, apakah disini ada yang mengambil tentang pengembangan media pembelajaran dan teknologi pembelajaran? Kalau ada harap segera temui saya setelah kelas selesai karena saya mempunyai rekomendasi bagus yang bisa dijadikan referensi.”

Eva hanya mengedikkan bahunya tidak tahu saat temannya tampak mengguncang tubuhnya perlahan. Ia tidak menyukai tipe bagaimana Zaidan mengajar, apalagi kelakuan lelaki itu beberapa menit yang lalu seperti seseorang habis menelan batu. Menyebalkan untuk dirinya, apalagi tatapan Zaidan pada dirinya seakan-akan ingin menerkamnya hidup-hidup.

“Lo suka sama Pak Zaidan?” bisik Ana.

“No!”

“Kenapa?” tanya Ana.

“Apa gue harus menyukai orang yang sama seperti kalian, lagian dia terlalu tua. Kalian ini kenapa sih? Gue itu ibaratnya masih menjalin hubungan sama Logan, kami belum putus seperti dugaan-dugaan kalian,” keluh Eva.

Tatapan matanya berdalih pada lelaki yang kini berada di depan kursinya sembari menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan.

“Kamu Eva, benar?” tanya Zaidan.

“Enggak bukan, saya Ana.”

Ana yang di sebelahnya tampak menoyor kepala Eva dan membuat sang empu kini mengaduh kesakitan akibat ulah dari perempuan yang menjadi rekan kelasnya itu. Teman-temannya memang anarkis sekali dan tega melakukan ini pada dirinya, bagaimana bisa mereka melakukan itu pada dirinya.

“Benar Pak, dia Eva. Anaknya Kaprodi fakultas Fisika,” Eva menatap kesal Vivi yang tampak cari muka pada lelaki yang ada di depannya.

“Pantas saja wajah kamu membuat saya enggak merasa asing, tolong temui saya nanti karena ada data yang harus saya berikan kepada ayah kamu dan hari ini katanya beliau sedang mengikuti seminar diluar kota.”

“Tapi Papa saya baliknya nanti siang, Bapak profesor masih bisa bertemu dengan Papa disini. Kenapa saya harus jadi BABU Profesor?” tanya Eva.

Zaidan tersenyum kemudian mendekat ke arah perempuan yang kini memundurkan tubuhnya berniat menjauh dari lelaki di hadapannya itu. Menurut Eva, dosen baru mereka adalah orang aneh yang pernah ia temukan dan bukan dosen pada umumnya.

“Saya akan memberikan poin plus kalau kamu mau membantu saya.”

“Duh! Saya enggak peduli, saya anti yang namanya jadi BABU. Kalau Profesor membutuhkan sesuatu bisa menyuruh orang lain dan jangan saya, dosen di sini saja segan dengan saya. Tapi kenapa profesor menyebalkan untuk saya?” tanya Eva.

Zaidan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya, “Saya memberikan dua poin plus untuk kamu kalau kamu mau membantu saya untuk mengurus masalah ini, dan saya akan memberikan bimbingan gratis untuk kamu.”

“No... thank you. Saya sudah mendapatkan Dosen bimbingan lain yang sudah diatur, saya enggak mau Bapak profesor yang menjadi dosen pembimbing saya, meskipun Profesor adalah orang yang mudah dipercaya dan memiliki pengetahuan yang tinggi.” Zaidan tersenyum tipis dan memandang perempuan di depannya yang kini menatapnya dalam.

“Owww... so sweeettttt!!! Lirikkan pasangan mata maut, pasti akan berubah menjadi cinta.” Eva mengalihkan pandangannya dan menatap tajam perempuan yang menjadi rekannya itu.

Eva juga tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu, intinya ia sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada lelaki yang ada di depannya itu. Dan ia juga berharap nantinya tidak memiliki dosen pembimbing seperti lelaki yang menyebalkan di hadapannya.

Zaidan memamerkan smirk tipisnya, “Saya bisa mengubah takdir kamu menjadi sesuatu yang mungkin enggak kamu ketahui,” bisik Zaidan membuat Eva membulat mendengar perkataan dari lelaki yang ada di depannya.

Gila! Zaidan gila karena sudah melakukan ini pada dirinya.

To be continued...

Bab 2

Happy Reading Semuanya!

Perempuan dengan kemeja bewarna pink pastel kini tampak sibuk merapalkan doa menunggu kabar yang akan di informasikan oleh Dosen Akademik di depannya yang merupakan ayahnya sendiri, ia sebenarnya sudah tahu hanya saja pikiran manusia tidak tahu kan apa yang akan terjadi di menit selanjutnya.

Setelah pertengkarannya yang tidak usai dengan dosen menyebalkan bernama Zaidan, ia menjadi mengenal lebih dalam lelaki yang kini terkenal sebagai dosen perfeksionis, killer, angkuh dan berbagai macam sikap menyebalkan lainnya. Mungkin untuk rekan perempuannya tidak masalah tapi bagi laki-laki ini merupakan suatu masalah yang tidak bisa mereka atasi sendiri.

“Gue berharap bukan Pak Zaidan atau apapun itu, gue mau dosen pembimbing gue perempuan.” Doa Eva  untuk kesekian kalinya.

 Tidak hanya perempuan muda itu saja tetapi hampir seisi kelas kini sibuk berharap agar mereka tidak mendapatkan dosen pembimbing yang terkenal dengan profesionalisme, killer, dan gila dengan kesempurnaan seperti Zaidan dan Bu Nuri yang mereka hindari. Sepaket dan sepasang sekali mereka.

“Untuk nama dosen pembimbing dan judul skripsi yang sudah saya terima, kalian bisa melihat dipapan informasi depan sini. Jangan berebut dan kerjakan skripsi dengan maksimal, saya percaya kalau kalian bisa mengerjakan skripsi dengan mudah. Eva tetap bimbing teman-temannya dan jangan sampai kalian enggak lulus bersama-sama, kalian masuk bersama jadi keluar juga harus bersama.”

Eva menatap rekan di sebelahnya yang kini sibuk menggerutu, “Skripsi mudah? Mudah karena Bapak sudah tiga kali melakukannya, kita ini yang pertama. Mana bisa dibilang mudah,” keluh Vivi membuat Eva mengangguk setuju. Ia memaklumi rekannya itu.

“Pokoknya gue harus dapat bu Helda, enggak boleh yang lain!” seru Ana membuat Eva lagi-lagi mengangguk.

“Gue juga, bisa mati keramat gue kalau sama Pak Zaidan. Semoga saja gue sama bu Indri kalau enggak Pak Yodi,” harap Eva sembari berjalan menuju tempat pemberitahuan. Wajah panik rekan-rekan mereka sudah terlihat jelas apalagi saat mengetahui fakta dosen pembimbing teknik mereka adalah Pak Zaidan.

“Mampus gue sama Pak Zaidan!”

Seruan dari rekan-rekannya membuat Eva semakin merinding, ia menjadi takut melihat selembaran di depannya. Eva semakin merasakan kesulitan untuk menelan salivanya, ia semakin takut melihat bagian namanya. Bagaimana dengan sikap licik dari dosennya itu membuatnya terjerembab, ia tidak sanggup membayangkannya.

“GILAAAA!!!! GUE SAMA BU ARNIS!” teriakan dari Vivi membuat Eva tersenyum tipis, ia tidak iri tapi ia juga berharap akan mendapatkan yang terbaik seperti Vivi.

Temannya cepat sekali melihat namanya dan dirinya seakan menjadi nama yang paling akhir, iris matanya memperhatikan namanya dan menatap takut bagian nama dosen pembimbing. Matanya membulat tubuhnya bergerak mundur saat tertulis dosen Materi yang didapatkannya adalah dosen yang amat sangat tidak ia inginkan.

Vivi yang melihat Eva tampak akan tumbang dengan cepat menahan tubuhnya. 

“Lo kenapa?”

“Gue shock,” ungkap Eva polos.

“Hah!” bingung Vivi.

Ana dengan cepat berjalan menuju papan informasi dan memperhatikan nama rekannya itu, mata Ana juga tampak membulat sama seperti Eva sebelumnya. Mereka terkejut dan shock. Eva menatap sedih papan informasi yang ada di depannya itu. Padahal ia sudah sibuk merapalkan doa agar tidak bertemu dengan Pak Zaidan tapi kenyatannya, ia mengharuskan kembali bertemu.

“OMG! Mati lo Va!” seru Vivi.

“Benar! Mati gue! Benar-benar mati!” nada suara sedih terdengar disana.

Iris matanya memperhatikan lelaki dengan tubuh tegap tampak berdiri di depan ruang kelasnya sembari memasang wajah datar di sana. Semua orang tampak menahan napasnya dan begitu pula dengan Eva yang kini sama sekali tidak bisa bernapas.

“Mahasiswi yang dosen pembimbing materi saya, segera ke ruangan B432A sekarang.”

Eva memasang wajah sekitarnya berharap ada seseorang yang bisa ia jadikan teman curhat untuk mengusir segala ketakutannya. Sial! Ini sama sekali tidak ada orang selain dirinya. Wajah Eva tampak sedih, bibirnya melengkung membentuk raut sedih.

“Ini cuman gue?” tanya Eva sedih.

“Semangat! Mau gue temani?” tawar Vivi.

Kepala Eva hanya menggeleng pelan dalam keadaan tubuh melemas dan berjalan menuju ruang yang dimaksud oleh dosennya barusan, sumpah demi apapun ia tidak memiliki keberuntungN untuk mendapatkan dosen pembimbing sesuai dengan keinginannya. Bagaimana dengan kehidupannya selanjutnya kalau ia mendapatkan dosen pembimbing seperti Pak Zaidan. Seharusnya ayahnya tidak mengubah seenaknya.

“Apa kamu Eva Valisha Jwidanto?”

“Pakai tanya segala! Kan Bapak sudah tahu dari awal sejak cari ribut sama saya!” geram Eva.

“Kamu berani?”

Eva menahan nafasnya dan memperhatikan lelaki yang ada di depannya itu, kepalanya menggeleng menjawab perkataan dari dosen di depannya. Tangan Zaidan memperbaiki kacamata yang dikenakannya dan menatap dirinya datar.

“Apa yang kamu ambil dalam penelitian skripsi ini?”

“Itu... anu...”

“Saya ingin kamu menyetor judul skripsi kamu dalam waktu 3 hari, dan permasalahan apa yang kamu dapat serta solusi. Jika kamu belum mendapatkannya, jangan harap kamu bisa lulus dari fakultas ini. Saya ingin mahasiswi yang mandiri,” Eva menggigit bibirnya perlahan mendengar perkataan dari dosen di depannya.

‘Zaidan sialan!’ maki Eva dalam hati.

Memang Zaidan suka sekali membuat malu mahasiswinya sendiri dengan mengatakan secara langsung di depan wajahnya dan lebih parahnya lagi adalah di depan ruangan yang memang tidak pernah sepi oleh mahasiswi.

“Baik, Pak.”

“Catat nomor kamu, agar saya bisa menghubungi kamu dan menagih skripsi dengan mudah.”  Eva menerima kertas yang disodorkan oleh lelaki yang menjadi dosen pembimbingnya itu.

“Apakah kamu benar-benar anak dari Herman Jwidanto?” tanya Zaidan.

Mata Eva membulat dalam diamnya, apakah dosen pembimbing juga membawa atau menyeret nama ayahnya sampai dipertanyakan hal yang seperti ini. Mengerikan sekali, bagaimana ia menjawabnya.

“Bapak mau laporan sama ayah saya juga kalau saya belum menyiapkan judul skripsi pasti?” tanya Eva tanpa ada niatan untuk menatap dosen yang ada di depannya itu.

“Iya atau enggak?” tanya Zaidan.

Kepala Eva mengangguk mengiyakan perkataan dari Zaidan barusan dan membuat Zaidan hanya mengangguk-angguk paham.

“Sudah, kan? Saya boleh pergi?” tanya Eva sembari menunduk, ia tidak ingin terpancing emosi dengan lelaki yang ada di depannya itu.

“Apakah bagus jika sedang berbicara dengan seseorang menunduk seperti saat itu? Apa saya berada di bawah kamu?” Eva mendongak menatap lelaki yang hanya memasang wajah datarnya. Bahkan lelaki di depannya tidak ada senyuman, benar-benar mencekam.

“Maaf,”

“Kalau seperti itu sama sekali enggak mencerminkan kamu seorang mahasiswi, apakah pantas begitu?” Eva meremas pakaian yang dikenakannya. Ia takut dosen yang ada di depannya tampak terlihat menakutkan untuk dirinya dan ia tidak ingin mencari keributan selagi ada ayahnya disini.

“Maaf,” rengek Eva

“Kamu menangis?” tanya Zaidan.

Perempuan di depannya tampak menangis dan membuat Zaidan mendadak kalang kabut, ia tidak tahu mental perempuan di depannya begitu lemah atau bagaimana. Iris matanya menatap kearah sekitarnya dimana semua orang tampak memperhatikan mereka saat ini, mati sudah dirinya. Tangannya menarik perempuan yang ada di depannya dan membekap mulut perempuan yang ada di depannya, tatapan mata mereka bertemu.

“Apakah kamu menjadi perempuan harus cengeng seperti ini?” tanya Zaidan datar.

“HUWAAAAAAA!!!! Saya takut sama Bapak! Bapak sudah mempermalukan saya!! Papaaaaa!” seru Eva sembari menangis.

Zaidan menatap sekitarnya yang masih ada segelintir orang disana, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian seperti awal sebelumnya. Lelaki itu tidak menyangka mulut ember dari perempuan di hadapannya dapat merusak citranya, Zaidan mendekat dan memberikan kecupan hangat pada bibir perempuan yang kini membulatkan matanya.

Eva terkejut melihat lelaki yang menjadi dosen pembimbingnya tampak mengecup bibirnya, ini masalah besar.

Sumpah ini adalah masalah besar. Bagaimana Dosennya itu melakukan ini pada dirinya, MAHASISWI nya sendiri. Mata Eva membola saat lelaki yang ada di depannya tampak mengusap bibirnya perlahan seolah tidak terjadi apapun.

“Dasar dosen Mes—”

“Bibir kamu ternyata manis, saya akan mencicipinya lagi di lain waktu dan di kesempatan yang akan datang.”

Tubuh Eva meluruh, tubuhnya ternodai oleh dosen menyebalkan seperti Zaidan. Mati sudah hidupnya sekarang ini. Bagaimana bisa ini terjadi pada dirinya. Zaidan yang melihat perempuan di depannya tampak lemas hanya menggeleng, setidaknya ia sudah mengetahui secara garis besar dari perempuan yang tidak memiliki pengalaman dengan lelaki.

Tangannya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang disana.

“Okay! Zaidan terima anak Pak Herman, terserah kalian akan mengurusnya kapan tentang pernikahan ini. Zaidan akan menerimanya,”

To be continued..

Bab 3

Happy Reading Semuanya!

"Sial!! Bibir gue ternodai!" jerit Eva kesal.

Vivi dan Ana yang mendengar cerita itu hanya terkekeh pelan sekaligus bingung melihat kelakuan dari rekan mereka saat ini. Mereka sebenarnya cukup terkejut tapi menyadari tingkah temannya yang ajaib itu membuatnya berpikir kalau Eva memang sulit sekali untuk dimengerti, Eva bisa berubah mood nya dalam hitungan detik dan perubahan segalanya dalam waktu cepat. Padahal kalau mereka sudah pasti akan menerimanya dengan senang hati, memang siapa yang tidak ingin mendapatkan hadiah spesial yang seperti itu.

"But, why did Profesor Zaidan do that? Is he not married? Jadi dia sampai enggak mempermasalahkan itu dan mengecup bibir lo? Pasti ini romantis banget," ucapan dari Vivi barusan membuat Eva memutar matanya malas, bagaimana bisa rekannya mengatakan kalimat yang seperti barusan.

"Sejak dari awal sebenarnya gue merasa aneh dengan profesor Zaidan, setiap kali melihat Eva rasanya kaya dia memang ingin menerkam hidup-hidup. Lo mungkin pernah melakukan sesuatu sampai membuat Professor Zaidan kaya begitu," Iris mata Eva mengarah pada Ana yang bersedekap menatapnya.

"Gue saja baru ketemu dia sekali dan itu pun kemarin pas di Kampus, ayah gue juga enggak pernah bicara apa-apa. Takdir gue jelek banget, masa gue dapat cobaan yang kaya begini! Sudah dikecup, dapat Dosbing begitu. Kurang sedekah kayaknya, sampai Tuhan mentakdirkan gue kayak begini."

Kedua temannya hanya menepuk pundaknya lembut, mencoba untuk menetralkan perasaannya sekarang ini. Sumpah demi apapun tadinya ia sudah tahu siapa yang akan menjadi pemimpinnya dan ia amat sangat bersyukur tetapi dengan kuasa dan kehendak tiba-tiba saja dosen pembimbingnya berubah menjadi orang yang amat sangat tidak diinginkan.

Eva sendiri merasa heran kenapa orang seperti Zaidan tiba-tiba menjadi dosen pembimbing padahal lelaki itu sepertinya belum pernah melakukannya dan beliau masih menjadi dosen baru di kampus mereka.

"Tapi lo sudah menyiapkan judul yang harus di setor ke pembimbing?" tanya Ana.

"Gue masih ada waktu tiga hari lagi buat setor, dan gue masih harus konsultasi sama ayah gue terkait skripsi yang gue ambil."

Pandangan mereka berdalih pada Vivi yang terlihat sibuk dengan ponselnya sembari sesekali tersenyum lebar, entah apa yang sedang disaksikan oleh temannya saat ini sampai tidak memperdulikan Eva yang membutuhkan cadangan support.

"Lo lihat apa?" tanya Eva

"sosial medianya Pak Zaidan, sumpah Dia kelihatan keren banget. Bagaimana bisa ada lelaki seperti Pak Zaidan?"

Rekan kampus nya itu tampak menunjukkan sebuah akun sosial media di depannya yang menampilkan foto orang yang amat sangat dikenalnya. Entah bagaimana bisa temannya itu mendapatkan akun sosial media dosennya begitu cepat. Bahkan sama gilanya dengan rekan-rekan yang lain sampai rela membuat akun penggemar untuk Zaidan dan sudah difollow sampai ratusan orang. Ini gila dan amat sangat gila, ia tidak bisa berada di dunia ini terus menerus.

"Gue balik saja, stress gue lama-lama di sini."

Kedua temannya hanya mengedikkan bahunya tidak peduli dengan kepergiannya sekarang ini. Sudahlah temannya sedang tidak diajak kompromi sekarang ini.

***

Kakinya menendang kerikil yang ada di depannya sembari berjalan menuju rumahnya, ia membenci keadaannya sekarang ini. Bayangannya dimana kejadian beberapa waktu lalu masih tergiang dalam ingatannya dan ia membencinya karena lelaki itu sudah mengambil sesuatu yang seharusnya diambil oleh suaminya nanti.

Pandangannya berdalih pada halaman rumahnya yang mendadak penuh, entah ada acara apalagi rumahnya sekarang ini. Kemarin arisan dan sekarang apalagi. Langkahnya berjalan menuju kedalam rumahnya dan memperhatikan orang tuanya tampak terdiam dengan beberapa orang asing di rumahnya di sebelahnya.

“Papa... Mama...”

Pandangan mereka berdalih memperhatikan Eva yang hanya memasang wajah bingungnya.

“Eva, kamu sudah pulang Nak?” tanya sang ibu sembari menggenggam erat tangannya.

Tubuhnya berjingkat kaget melihat lelaki yang tidak asing di depannya itu, matanya melotot melihat lelaki dengan tubuh tegapnya berada di depannya tampak menatap dirinya dalam.

Eva menyentuh lelaki di depannya menggunakan jari tangannya, berharap kalau ini adalah bagian dari mimpinya.

“Kamu sedang apa?” tanya Zaidan sembari menatapnya dalam.

“Woah! Asli! Ini asli,”

Sang ibu dengan cepat menarik anak bungsunya agar berjauhan dari Zaidan yang hanya menaikkan sebelah alisnya bingung. Eva memperhatikan sang ibu yang mengkodenya untuk diam tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

“Kamu pikir saya palsu?”

“Apa Bapak datang ke rumah saya untuk menagih skripsi saya?” tanya Eva.

Herman yang mendengar perkataan sang anak hanya berusaha untuk menutup mulut Eva agar tidak banyak bicara, ia tidak ingin sampai lelaki yang ada di depannya mendengar perkataan konyol sang putri.

“Kamu ini kenapa sih?” omel Herman.

Eva berusaha melepaskan diri dari jeratan sang ibu serta ayahnya, tenggorokannya mendadak kering melihat keadaannya saat ini. Tatapannya hanya mengarah pada lelaki yang memasang wajah datar di depannya, entah bagaimana bisa lelaki yang ada di depannya bisa datang ke rumahnya seperti sekarang ini.

“Enggak, kedatangan saya kemari bukan tentang urusan kampus. Kalau begitu sekarang saya to the point saja. Saya datang kemari dengan kesepakatan bersama untuk melamar kamu sebagai istri saya,”

BRTTTT!!!

Semburan air yang ada di dalam mulut Eva keluar begitu saja dan membuat kedua orang tua dari Eva mendadak panik, tentu saja panik karena semburan dari mulut sang anak mengenai wajah lelaki yang ada di depannya. Bahkan kedua orang tua dari Zaidan hanya menatap khawatir sang anak apalagi hanya tatapan datar yang ditampilkan oleh Zaidan.

"Maaf... maaf..." Orang tuanya panik dan sibuk memberikan tisue pada lelaki di depannya. 

Rasanya semua orang yang ada di ruangan ini lebih takut dengan Zaidan ketimbang yang dituakan sekarang ini. Sumpah Eva tidak peduli dengan permintaan maaf sekarang ini. 

"Bapak, saya enggak salah dengar, kan?" tanya Eva.

"Enggak,"

"Coba saya mau ulang," pinta Eva.

Zaidan kini mengambil sapu tangan yang ada di saku bajunya dan membersihkan sisa air di wajahnya.

"Saya ingin melamar kamu sebagai istri saya dan setelah ini saya enggak terima pengulangan kata," ucap Zaidan.

"Hahaha...."

Tawa Eva terdengar sumbang dan tatapan hanya mengarah pada sang kakak yang hanya menunduk menatap lantai yang ada di bawahnya. Seharusnya yang menikah adalah kakaknya dan bukan dirinya, ia belum siap untuk menikah dan sekarang ia sibuk mengerjakan skripsi miliknya.

"Ini gila, siapa juga yang manu menikah."

Eva memijat pangkal hidungnya semuanya mendadak menjadi berat, bukan impiannya menikah dengan lelaki yang ada di depannya itu. Ini gila dan benar-benar sangat gila sampai rasanya ia harus masuk ke rumah sakit jiwa sepertinya.

"Ini GILA!"

Semuanya mendadak gelap, ia tidak ingin menikah dengan orang yang dibencinya sekarang ini.

To be continued...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED