Di sebuah restoran di hotel bintang lima, terdapat seorang pria dan wanita yang tengah duduk di pojok, dengan view kota, menimbulkan kesan private. Tak ada percakapan terjadi di antara mereka, sehingga hanya keheningan dan kecanggungan, seolah ada sesuatu yang mengganjal.
Seorang pelayan datang, lalu menghidangkan minuman yang dipesan untuk kedua tamu yang sudah menunggu. Tanpa pikir panjang, si lelaki memilih menyesap terlebih dahulu, sementara perempuan cantik tak mengatakan apa pun, dan memilih melihat sekilas, seakan tak perduli.
"Bagaimana kabarmu, Aleina? Maaf, jika aku tidak berbicara formal, karena ini jam makan siang dan pertemuan kita bukan untuk masalah pekerjaan,” ucap seorang pria berambut coklat. Ia telah meletakkan gelas yang berisi mojito di atas meja.
Wanita yang diajak bicara, tengah meminum mineral water, langsung terdiam. Ia menatap lawan bicara dengan seksama. Sementara, sepasang mata emerald milik sang lelaki tak berkedip, seolah menunggu jawaban.
"Kabarku baik, Richard. It is okay. You are right, this is lunch time and we can talk informal.” Perempuan berambut pirang menjawab dengan lembut.
Pria tampan berhidung mancung tersebut, tak bisa berkata apa-apa. Aku sudah lama merindukan mantan kekasih yang satu ini. Jujur saja, selain untuk urusan bisnis, memang lebih dia, supaya bisa setiap saat bertemu. What should I do now? batin Richard.
"Aleina—” Lidah si lelaki terasa kelu. Ia mendadak membisu, seolah ada yang membungkam.
Haruskah kukatakan, bahwa ingin kembali menjalin kasih dengannya? Aleina, walau sudah putus tiga tahun yang lalu, tetap saja hati ini merindukan saat-saat dulu. Tuhan, bagaimana jika dikatakan sekarang? Sungguh, tak kuat menahan rasa rindu! pekik pria bertubuh kekar di dalam hati.
"Ya?” tanya si wanita, yang merasa heran, sehingga menaikkan salah satu alis.
Gelas yang berisi minuman, sudah diletakkan di atas meja, tepatnya di sebelah kanan. Ia menatap sang mantan dengan pertanyaan besar di dalam hati, karena melihat gelagat tak biasa dari pria yang sama-sama duduk di satu meja.
"Kau ... sudah ada kekasih baru?” Richard menjawab, sekaligus melemparkan pertanyaan baru.
"Tumben bertanya seperti itu. Ada apa sebenarnya?” Aleina tak menjawab, karena pertanyaan yang diajukan semakin tak masuk akal.
"Aku ....”
"Katakan saja. Do not worry, because I will not judge you. I promise.”
Pria bermata emerald, menatap ke arah perempuan bertubuh langsing yang ada di hadapan, dengan tatapan tak percaya. Aleina sudah mengatakan hal itu dan aku tahu bahwa dia pasti serius. Apakah ini berarti adalah saat yang tepat? Brave yourself, Richard or you will lose her forever, hati kecil menegur si lelaki.
"Maukah kau menjadi kekasihku, Aleina? Jujur saja, tak mudah melupakan semua kenangan yang dulu pernah ada. I knew that I was suck and always made you angry, but could you please give me a second chance?”
Suasana menjadi hening seketika.
Richard masih merasa gugup, bahkan tidak berani berkata lebih jauh, karena menunggu jawaban dari wanita yang sempat menjadi kekasih terlama di dalam hidup. Sementara itu, Aleina yang terkenal cerdas sekaligus rupawan, terlihat sedang menimbang-nimbang, apakah jawaban yang tepat dari pertanyaan sang mantan? Bila dikatakan cinta, perasaan abstrak tersebut sudah menguap entah ke mana.
"Richard, are you serious? Kau tahu, ‘kan alasanku memilih untuk mengakhiri hubungan?” tanya Aleina.
Pria tampan itu mengangguk. Ia tak pernah melupakan apa yang telah terjadi, namun sudah bertekad akan memperbaiki semua. Perasaan rindu kian lama bertambah besar, sehingga menyebabkan Richard merana.
"I am serious, Aleina. Aku tidak pernah menafikan semua kesalahan di masa lalu, but please give me one more chance to prove all,” jawab Richard meyakinkan.
"Bagaimana bisa kau berubah, padahal hanya satu yang sungguh mengganggu: sifat posesif berlebihan. Tiga tahun kita hidup bersama, tapi selalu terulang. Aku terganggu dengan semua perilakumu, Richard.” Aleina berkata dengan dengan nada tertahan.
Kilasan peristiwa masa lampau, masih terbayang jelas di dalam benak. Pertengkaran kerap terjadi, semua karena hal-hal kecil, membuat perempuan bertubuh langsing itu kesal dan kecewa.
"Baby—”
"Kalau sifat itu tak bisa dikurangi, berarti sia-sia ajakan untuk kembali menjalin hubungan. Dulu, mana pernah aku membatasi pergaulanmu, kecuali yang buruk saja? Sedangkan kau, malah selalu marah tanpa alasan, sehingga membuat kita bertengkar.”
Ucapan Aleina, sukses menusuk sanubari pria yang memiliki tinggi seratus sembilan puluh centimeter itu. Ia tak bisa mengatakan apa pun, karena memang begitulah yang selalu terjadi, ketika mereka masih bersama.
"Jadi, jawabannya tetap tidak?” Richard bertanya dengan suara pelan.
"Betul. Kalau kau masih tetap posesif, over protektif, maka sudah tentu tak bisa kembali denganmu, meskipun dulu pernah tinggal bersama cukup lama. Aku mementingkan kesehatan mental, supaya tetap bahagia, dan tidak tertekan,” jawab Aleina tegas.
"Manusia selalu ada kelebihan dan kekurangan, termasuk aku. Tak pernah sekalipun selingkuh, setia, perhatian, dan romantis. Apakah semua itu tak cukup untukmu, Sayang?” Richard mencoba melakukan negosiasi.
Semoga saja mantan pacar masih mau menerima. Cemburu adalah tanda cinta. Aleina seharusnya bersyukur, bila aku melakukan hal itu, karena bila tak ada perasaan spesial, mengapa harus bersusah payah cerewet? Wanita memang aneh! gerutu Richard di dalam hati.
Aleina ingin sekali protes, namun dia ingat, jika masih berkeinginan debat, tidak akan menghasikan apa pun, karena pria kekar nan kritis itu akan memanjangkan ucapan yang dilontarkan, sehingga melelahkan batin saja.
"Kalau aku yang berbuat demikian, apakah kamu menyukainya? Ruang gerak dibatasi, wajib laporan tanpa kenal waktu, meeting dengan client dicurigai, saat bersama teman-teman suka datang mendadak, bahkan memaksa pindah tempat duduk. You made me ashamed!” Aleina menukas tajam.
Ucapan tersebut, sukses membungkam pria yang memiliki posisi penting di hotel. Ia terperangah, karena mendengarkan pertanyaan tak terduga sama sekali. Wajah sang mantan kekasih berubah menjadi lebih dingin, sinis, dan tampak kesal.
"Aku tidak bermaksud membuatmu malu, Aleina. Semua itu dilakukan, karena perduli, dan takut kehilangan,” ungkap pria bermata emerald jujur.
Aleina mendengkus. Huh, sungguh sudah bosan dengan semua alasan yang dikemukakan oleh laki-laki sialan ini! Selalu saja kata-kata klasik ‘aku sayang’, ‘takut kehilangan’, ‘semua yang dilakukan karena perduli padamu’. Pernahkah sekali saja berpikir tentang diriku yang menahan malu, kesal, marah, dan sakit hati akibat ulah tak bertanggungjawab tersebut? Pasti tidak! rutuk si perempuan dalam hati.
Pria berambut coklat dengan hidung mancung itu masih tak bisa menjawab, sehingga kesunyian kembali menguar di antara Richard dan Aleina. Yang wanita masih menunggu, sedangkan si lelaki kehabisan kata-kata.
"Aleina, aku—”
Belum sempat pria tampan menyelesaikan perkataan, datanglah dua orang pelayan, dengan membawa tray dan makanan yang telah dipesan, namun tak berani mendekat, karena takut mengganggu percakapan. Aleina menatap ke arah mereka, sehingga membuat Richard menjadi sungkan.
"Silakan dihidangkan makanannya.” Perempuan cantik bermata biru itu berkata kepada salah satu waiter.
"Baik, Nona.”
***
Tiga puluh lima menit kemudian
"Aleina, setelah ini, kau akan ke mana?” tanya Richard, ketika mereka sudah selesai makan siang.
Perempuan berwajah sensual itu baru saja mengelap ujung bibir dengan napkin, supaya tidak ada sisa makanan menempel di sana. Ia hanya melirik, namun tak langsung menjawab, karena masih melanjutkan kegiatan yang sedikit tertunda. Setelah selesai, benda yang telah dipakai pun diletakkan di atas table.
"Aku akan pulang ke apartemen dan beristirahat. Untung besok hari Minggu, jadi bisa bangun siang, karena lelah sekali bertemu denganmu siang ini,” jawab Aleina, seraya menyindir lawan bicara.
Wajah tampan si lelaki tampak pias sesaat. Ia tak bisa memungkiri, kalau telah membuat suasana menjadi kurang kondusif. Di dalam benak, tengah mencari strategi, agar bisa membuat sang mantan kekasih kembali ke pelukan.
Ouch, it was hurting my heart, but she was right. I was a fool, because I made her angry. Aku ingin dia menginap di room, supaya bisa menciptakan suasana intim, tapi kalau Aleina sudah seperti itu, apakah bisa? Ah, dicoba saja. She was my ex-girlfriend, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Oh iya, baru ingat! Kenapa tidak memasukkan obat perangsang yang memang dibawa, ketika Aleina datang? Ini bisa dicampurkan ke minuman, jadi semua lancar. Kalau sudah bereaksi, pasti bisa dibawa dengan mudah! batin Richard.
Tangan kiri si lelaki merogoh ke arah kantung celana, lalu jemarinya menyentuh sesuatu. Senyuman terukir, kemudian dengan cepat menarik, dan meletakkan di atas meja, namun tersembunyi.
Sementara itu, Aleina tampak tengah memainkan ponsel untuk mengecek surat elektronik yang masuk di sana. Sepasang mata biru nan indah berkonsentrasi ke benda pipih. Tak jarang pula membalas pesan masuk, supaya pekerjaan tetap lancar.
"Kalau kau lelah, bagaimana bila beristirahat di room-ku saja? Di sana lebih nyaman, jadi bisa beristirahat dengan leluasa,” ajak pria kekar tersebut.
"Tidak perlu. I bring my own car and I can go back to the apartment easily,” tolak Aleina tanpa basa-basi.
Pandangan mata tetap ke smartphone canggih keluaran terbaru. Kesempatan itu dimanfaatkan Richard, dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minuman sang mantan dengan hati-hati, yang mana masih tetap berkonsentrasi dengan kegiatan semula, sehingga tak sadar ada bahaya mengintai.
"Kau yakin? Coba lihat pemandangan di luar,” ucap Richard, sembari menunjuk ke arah pemandangan di luar, tepatnya di belakang punggung Aleina.
Perempuan cantik itu langsung menoleh ke arah yang ditunjukkan. Sepasang mata biru tersebut, langsung menatap langit yang sudah terlihat kelabu, bahkan ada kilat di sana. Wajah cantik seketika berubah. Ia tampak takut, namun berusaha untuk menutupi.
Aleina berbalik, lalu memerhatikan wajah lawan bicara yang tampak menunggu pendapatnya. “Aku akan tetap pulang, lagipula hal ini memang biasa terjadi, ‘kan? Apa yang harus ditakutkan?” jawabnya tenang.
"I know you are afraid, Baby. Do not hide your fear. Petir, kilat, badai ... itu beberapa hal yang biasanya kamu cemaskan. I know you so well,” tukas Richard tenang.
"Sok tahu!”gerutu Aleina.
"Tentu saja aku tahu. Tiga tahun bersama, bahkan tidur satu ranjang, masa hal-hal kecil dari wanita tercinta sampai lupa? Honey, bahkan posisi favorit saat kita bercinta pun masih terekam dalam ingatan,” ucap pria bermata emerald itu enteng.
Pipi mulus nan halus langsung bersemu merah, kala mendengar pernyataan pria bertubuh tinggi tegap yang duduk di hadapan. Ia merasa gelisah, sehingga minuman di gelas pun langsung diminum tanpa berpikir.
Richard tersenyum melihat pemandangan itu. Pria tampan dengan jabatan bagus di hotel tak bisa menahan diri, karena apa yang direncanakan telah berhasil, dan tinggal menunggu satu step lagi: Aleina dibawa ke kamar pribadi.
Minuman yang diteguk oleh Aleina, sudah habis tak bersisa. Tubuh tinggi nan langsing itu masih belum merasakan apa pun, sehingga hasrat untuk melakukan hubungan intim, belum menyerang. Richard tertawa terbahak-bahak di dalam hati, akan tetapi menahan diri untuk tidak frontal.
"Kau membawa payung, Sayang? Kalau tidak, berteduh saja di room. Tenang saja, tak akan ada yang protes, karena aku bosnya,” ajak Richard. Ada nada bangga di setiap kaca yang terucap, terutama di bagian terakhir.
"Aku tidak membawa payung, karena berpikir membawa kendaraan sendiri. Thank you for the invitation, but I cannot do it.” Aleina bersikukuh menolak, namun tetap sopan.
Richard mengangkat kedua bahu, pertanda tidak mempermasalahkan sama sekali. Sebentar lagi, mantan yang cantik mulai bergairah. Jika itu terjadi, biarkan saja dia memohon untuk stay di ruangan, dan siapa tahu bisa bermalam. Toh, baju-baju saat kami masih tinggal bersama, masih ada beberapa helai tersimpan di lemari, jadi tak perlu repot-repot. Aku ingin sekali bisa bercinta dengan Aleina. Sejak putus, tak bisa melampiaskan hasrat ke wanita lain, dan terpaksa harus bermain solo, gumamnya dalam hati.
"Terserah padamu, Sayang. Aku hanya menawarkan and for your kind information, my room is open twenty-four hours every day only for you. Kalau berubah pikiran, tinggal katakan saja, tak usah ragu ataupun malu.” Richard berkata dengan lembut, seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan. “By the way, now is raining.”
Aleina menatap ke arah belakang dan ternyata memang hujan, persis seperti yang dikatakan oleh pria bermata emerald tersebut. “Shit.” Hanya itu kata terucap dari bibir tipis berwarna pink.
Richard tak kuasa menahan senyum. Hampir saja tertawa, karena mendengar umpatan si cantik, akan tetapi berusaha sekuat tenaga ditahan, agar tidak mencurigakan di hadapan Aleina.
"Would you order something, Honey? Mineral water-mu sudah habis, jadi lebih baik meminum sesuatu. Tambah makanan pun boleh,” tawar Richard, seraya menunjuk ke arah gelas yang telah kosong, begitupula ke arah piring.
"Kenapa kau suka sekali menyuruhku makan dan minum berlebihan? Stop calling me ‘honey’, because I am not your girlfriend anymore!” protes Aleina.
Sebuah senyum mereka di bibir pria itu. Ia menikmati setiap ocehan sang mantan, sehingga tak keberatan sama sekali. “Aleina, for me, you are my girlfriend and even more. Our relationship have been ended three year ago, but my love is standstill. Mungkin mudah bagimu untuk melupakan segalanya, tapi tidak bagiku.”
"Kapan kau stop melakukan tindakan konyol?” Wanita berambut pirang itu bertanya dengan nada sedikit sinis.
Richard benar-benar brengsek! Dia selalu punya cara, agar aku bisa bertemu, bahkan terkoneksi secara bisnis. Untung saja, hari ini bukan membicarakan tentang pekerjaan, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kenapa tiba-tiba libido naik, ya? Ini tak boleh terjadi. Fokus, Aleina, gumam perempuan mandiri di dalam hati.
"Sampai kau menikah, Sayang. Tapi, jika suamimu tidak bisa membahagiakan, meskipun pada saat itu you are pregnant, I would tell him that both of you can divorce and I would accept your baby.” Pria bertubuh tegap menjawab dengan penuh percaya diri.
"Insane!” sembur Aleina.
"Yes, I am. You made me like this, Aleina. Kau tidak ingat saat dulu, how hot we were? Kita bahkan sering melakukan kegiatan bersama. Sayang, tawaran yang sejak dulu ada, masih tetap berlaku: kembalilah menjadi kekasihku dan tinggal bersama lagi,” rayu Richard.
Aleina melengos. Dia benar-benar keterlaluan! Aku ingin sekali cepat pulang, tapi di luar masih hujan, dan sekarang horny. Bagaimana bisa mengendarai mobil, jika dalam keadaan seperti ini? Sungguh menjengkelkan! batin perempuan cantik nan cerdas itu.
Aleina menguap tanpa bisa dicegah. Hal tersebut semakin membuat girang pria bermata emerald, karena obat perangsang mulai bekerja. Good, akhirnya ada reaksi dari obat yang dicampur ke minuman. Tinggal tunggu permintaan si cantik dan aku yakin tak lama lagi dia akan mengatakan ....
"Richard, aku rasanya tak tahan ... bolehkah kita ke tempatmu sekarang?”
***
"Kau tak tahan apa, Sayang?" pancing Richard, yang berlagak bodoh.
"Sudah, kita langsung saja ke room-mu atau aku pulang sendiri!” tegas Aleina, yang tidak mau mengakui di hadapan pria tampan nan licik tersebut.
"Ah, oke. Padahal saat diajak, kau sudah lebih dulu menolak." Pria bermata emerald itu berkata, seraya mengangkat kedua tangan sedikit ke atas, pertanda tidak tahu.
"Ish, kau sangat berisik!" gerutu Aleina.
Ada apa ini? Kenapa hasrat malah bangkit di saat tak tepat? Sejak putus, aku sering melampiaskan pada dildo. Tapi, sekarang ingin melakukan hubungan seks dengan mantan, padahal sebelumnya baik-baik saja. Apakah dia telah melakukan sesuatu, sehingga membuat tubuh terasa aneh? Sejak tadi, tak ada yang aneh pada Richard, pikir Aleina.
Richard tertawa pelan. Ia senang melihat wanita incaran, kini mengiba untuk ditiduri. "As you wish, Honey. Wait, I will close the bill first.” Pria bertubuh tegap itu berucap, sembari mengangkat tangan kanan ke atas.
Seorang waiter yang tak jauh dari sana, melihat hal tersebut, dan dengan sigap ke table Aleina. “May I assist you, Mr. Richard?" tanyanya.
"Closed the bill, please," jawab sang General Manager.
"Yes, Sir.” Waiter itu menyahut sopan, kemudian dia pergi dari sana.
Aku sungguh tak tahan. Tubuh seperti bukan milik sendiri, karena gejolak hasrat yang tak bisa ditahan. Sigh, inilah kekurangan menjadi wanita single, bila mendadak horny, harus bermain solo. Kenapa libido naik di saat ada mantan, sih? Ini sama juga dengan sex after broke up, pleasure only, but we do not have an official relationship, gumam Aleina di dalam hati. Ia merasa resah luar biasa.
Pria yang memiliki jabatan tinggi di hotel tidak berkata apa pun. Sepasang mata emerald nan memesona, hanya memerhatikan raut wanita yang masih dikasihi sepenuh hati. Aleina tampak gelisah, bahkan mengipas area wajah dengan tangan kanan, meskipun di restoran terdapat pendingin ruangan, dan tidak panas sama sekali.
Oh, yes baby. Akhirnya kau mengajak naik ke kamar. Kita harus segera bercinta, agar perasaan cinta yang hilang akan kembali. Should I make her pregnant? No, that is bad decision. Aku ingin kami sama-sama menikmati dan memiliki anak di saat yang tepat, batin Richard.
Waiter pun kembali dengan membawa benda berwarna hitam persegi panjang dan sebuah pena. "Maaf, Tuan, ini bill-nya,” ucap lelaki berseragam, dengan nada sopan.
Richard mengalihkan pandangan, sehingga terlihat lelaki muda sekitar dua puluh tahunan berdiri di samping kiri. "Ya.”
Waiter yang memakai name tag Fred, menyerahkan benda yang dibawa, dan diterima dengan baik oleh pria berusia tiga puluh lima tahun itu. Richard membuka map tersebut, kemudian menandatangani kertas hasil print, setelah selesai langsung menyerahkan kembali kepada si pembawa.
"Thank you,” ucap Richard singkat.
"You are welcome, Sir,”sahut Fred.
Pria muda itu langsung pergi dari hadapan mereka. Sementara, Aleina sudah merasakan ketidaknyamanan di sekujur tubuh. Ia merasa tak mampu mengendalikan diri, namun sekuat tenaga berusaha menjaga kewarasan.
"Ayo kita pergi, Sayang,” ajak Richard, seraya berdiri dari tempat duduk.
"Oke.” Aleina ikut beranjak dari tempat semula, lalu mengambil hand bag-nya.
Mereka berdua keluar dari restoran, lalu menuju ke elevator. Aleina berinisiatif menggenggam jemari tangan kiri Richard, sehingga membuat hati pria tampan nan licik itu menghangat, karena bahagia.
Tanpa pikir panjang, lelaki bermata emerald itu mengeratkan genggaman, sehingga membuat lawan jenisnya menjadi terkejut, tapi tidak menolak perlakuan tersebut, karena sudah tak tahan.
Saat sudah tiba di tempat tujuan, jari telunjuk Richard menekan tombol dua puluh. Pintu pun terbuka, kemudian mereka pun masuk ke dalam. Saat pintu telah tertutup, Aleina menarik tangan si lelaki, sehingga membuat tubuh tinggi itu berpindah posisi ke si gadis.
Ketika wajah keduanya bertemu, Aleina langsung mencium bibir sang mantan kekasih dengan panas. Richard terkejut, akan tetapi menikmati. Karena tinggi mereka berbeda, maka spontan ia menggendong sang wanita, layaknya pengantin.
Sepasang insan masih berpagutan panas, seolah tak mengenal lelah. Akal sehat Aleina telah menghilang, sebab pengaruh obat perangsang sudah menguasai tubuh. Sementara, pria bertubuh tegap itu tak melepaskan ciuman, bahkan semakin dipererat.
Ting!
Elevator telah berhenti di lantai tujuan. Richard menghentikan kegiatan panas, sehingga membuat peremuan bermata biru menjadi bingung. Sebelum ada protes, si lelaki berbisik, “Kita lanjutkan di room, Honey. Do not worry, I am yours,”
Perempuan bertubuh langsing tersebut hanya bisa mengangguk. Perhatian Richard kini teralih ke elevator yang telah stop, lalu menekan tombol, dan tak lama kemudian terbuka lebar.
Pria mature yang memiliki tinggi seratus sembilan puluh centimeter itu tetap menggendong Aleina. Ia melangkah keluar dari sana, kemudian menuju kamar khusus untuk General Manager.
Gila! Aku mencium bibir lelaki posesif ini dan malah disambut dengan baik! Hais, Tubuh sudah tak bisa dikendalikan lagi, dan harus segera mendapat pelepasan, supaya lega. Apakah Richard masih sama seperti dulu kuat, serta tahan lama? Shit! I cannot control my dirty mind! jerit Aleina dalam hati.
Di depan pintu kamar, Richard menekan kotak hitam, di mana terdapat finger print untuk masuk. Setelah menggunakan sidik jari telunjuk kanan, maka si empunya pun bisa masuk, lalu menutup pintu dengan kaki kiri.
Tuhan, kenapa aku begitu mendambakan mantan? Dia memang semakin macho, berotot, dan gagah saja. Dulu, saat masih bersama, setiap hari kewalahan melayani di atas ranjang, apalagi bila Richard sedang libur bekerja. Ugh, ingin merasakan nikmat seperti dulu. What happen to me? batin wanita berambut pirang itu.
Pria bertubuh kekar itu berjalan ke arah sofa, kemudian meletakkan tubuh langsing ke sana. Tanpa banyak kata, ia membantu Aleina untuk melepas sepatu, lalu menaruh di rak sepatu, yang mana terletak di sebelah kanan pintu. Tak lupa kasut sendiri pun ditempatkan di sana.
"Tubuhku bergetar ... panas ... sudah ingin bercinta dan benar-benar tak tahan," ceplos Aleina, tapi suaranya pelan.
Richard berjalan ke arah sofa. Sesampai di sana, ia langsung mengangkat tubuh langsing sang mantan, kemudian menggendong Aleina. Perempuan cantik itu spontan mengalungkan kedua tangan di leher si lelaki, supaya tidak terjatuh. Mereka bertatapan, kemudian mulai berciuman panas.
Sang lelaki melangkah perlahan menuju ke ranjang. Ia berusaha menjaga keseimbangan, walaupun tengah melakukan foreplay yang sudah menggelorakan hasrat terdalam. Beberapa saat, Richard mengakhiri kegiatan tersebut, kemudian membaringkan Aleina di ranjang.
Richard naik ke atas tubuh Aleina, sehingga ia berada di atas. Kedua tangan menumpu di sisi telinga kanan dan kiri perempuan yang sukses mencuri hati semenjak dulu. Mereka saling menatap, lalu telunjuk kanan si lelaki menyentuh bibir tipis lawan jenis yang sudah horny.
Aleina langsung menghisap tanpa berpikir dua kali. Tindakan tak terduga, membuat hati pria mature semakin girang, karena obat perangsang bekerja dengan sangat baik, sehingga si wanita lepas kendali.
I got you, Baby! I know that you are ready and I will make you want me! Makanya, jangan jual mahal, jika diajak untuk menjalin hubungan! pikir Richard puas.
"What do you want to do with me, Honey?”tanya pria bertubuh kekar itu.
"Fuck me,” jawab Aleina, tanpa malu-malu.
***