Happy Reading
Author Pov
Semilir angin menerpa wajah seorang gadis yang saat itu tengah duduk merenung di bawah pohon rindang, di depannya terlihat hamparan air danau yang terlihat tenang.
Jejek jejak sisa air mata bahkan sudah hampir mengering, mata jernih gadis itu kini terlihat kosong.
Gaun putih yang awalnya indah kini terlihat begitu lusuh dan kotor. Tataan rambut yang awalnya rapi kini terlihat berantakkan dan tidak lagi berkilau.
Hari yang harusnya bahagia entah kenapa menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Gadis itu mengangkat tangan kirinya, sebuah cincin berkilau dengan pertama kecil di tengahnya terlihat sangat indah.
Senyum pedih sama sekali tidak bisa gadis itu hindari, tanpa sadar lagi lagi air mata kembali melulur di mata indahnya.
Perlahan gadis itu melepaskan cincin berlian itu, menatap benda mati itu dengan perasaan campur aduk.
Berantakkan, sedih, pedih dan sengsara. Sebuah perasaan yang sebelumnya belum pernah gadis itu rasakan.
Avril Zervilya, gadis 25 tahun yang tinggal sebatang kara di kota besar ini. Kedua orang tuanya meninggal sejak gadis itu menginjak umur 17 tahun, tidak punya saudara atau pun kerabat dekat.
Hidup sendiri di kota besar ini.
5 tahun yang lalu, Tuhan memberikan seorang lelaki tampan yang baik, memberinya kasih sayang, cinta dan kedamaian.
Keduanya menjalin hubungan dekat setelahnya, dan seminggu yang lalu lelaki itu datang ke rumahnya dan melamarnya.
Avril kira lelaki itulah tujuan hidupnya, bahwa lelaki itulah yang Tuhan kirim untuk mengantikan kedua orang tuanya yang sudah tidak ada.
Tapi itu semua salah, tempat yang awalnya dia kira rumah ternyata adalah tempat mengerikan yang tidak seharusnya Avril tempati.
Tama Bramasta, lelaki 28 tahun yang sekarang sudah berstatus sebagai mantan calon suaminya. Jujur lelaki itu baik, sangat baik malah. Tapi memang benar, seseorang yang kita anggap baik belum tentu adalah yang terbaik.
Tadi pagi tepat sebelum acara ijab qobul berlangsung, Tama di kabarkan melarikan diri dengan meninggalkan sepucuk surat permohonan maaf di atas kasur.
Mengatakan beberapa baris maaf dengan alasan tidak bisa menikah dengan Avril karena selama ini dia masih mencintai Mantannya, Amanda. Dan memutuskan untuk nikah lari dengan gadis itu.
Meninggalkan Avril dengan banyaknya tatapan cemoohan dan berbagai kalimat menyakitkan dari para tamu undangan.
Perlahan gadis itu melepaskan cincin berlian itu, menatapnya sesaat. Sesak di dadanya makin terasa saat melihat benda berkilau itu.
"Apa salahku Tuhan?" Batin Arvil tertekan.
Tidak tahan dengan sesak di dadanya yang semakin lama semakin kuat, Arvil memutuskan untuk melempar cincin itu ke danau, membuang satu satunya benda yang Tama berikan untuknya.
Sesaat setelahnya air mata kembali luruh, menangis dengan keras. Dan kali itu dia benar benar hancur.
"Sakit sekali Tuhan, pedih." Isak Avril prihatin.
Dadanya terasa sangat sesak dengan kenyataan yang terasa sangat berat, demi Tuhan Avril benar benar merasa sangat sakit. Sakit karena pengkhianatan Tama yang terasa sangat di luar ekspektasi.
Demi Tuhan, Avril tidak tau kenapa harus dia yang merasakan itu semua. Kenapa harus dia yang merasakan sakitnya di tinggal nikah, dan kenapa harus Tama.
Kenapa di sebanyak lelaki di dunia ini harus Tama, kenapa harus lelaki itu yang mengkhianatinya.
Avril tidak bisa, dia sudah terlalu banyak bergantung dengan Tama, tapi sekarang. Saat lelaki itu sudah pergi dengan wanita lain, apa yang harus Avril lakukan? Gadis itu sama sekali tidak tau bagaimana cara mengatur ulang hidupnya, dunia nya bener bener sudah hancur.
TBC
Happy reading
Avril POV
Aku menatap pantulan wajahku di depan cermin, bawah mata yang hitam dengan bibir pucat terlihat sangat mengerikan.
Perlahan tanganku mengambil lipstik dan sedikit mengusapnya ke bibir, warna merah dari lipstik yang aku pakai sedikit banyak membuat bibirku tidak lagi terlihat pucat.
Hari ini sudah terhitung 3 bulan sejak Tama meninggalkanku, dan sampai saat ini aku masih sulit untuk melupakan lelaki itu.
Aku sendiri bingung apa yang sudah lelaki itu lakukan sampai membuat aku begini, sulit lepas dari jeratan lelaki itu. Demi Tuhan aku lelah sekali, tapi untuk lepas dan melupakan Tama bukan hal yang dengan mudah untuk aku lakukan.
Senyum kecil aku pancarkan, menatap wajah seorang gadis pucat dengan di hidupin sedikit lipstik merah, itu aku. Dan itu benar benar terlihat sangat menyedihkan.
"Bangun Avril, Tama yang kau banggakan itu sudah bahagia dengan pilihannya. Lalu kenapa kamu masih terlihat menyedihkan begini, bangun bodoh." Maki ku pada diri sendiri.
Tanganku mengambil parfum di atas meja, lalu sedikit memakainya, bau harum dari parfum itu sedikit membuat aku rileks.
"Kalau lelaki itu bisa, lalu kenapa kamu tidak? Ayo Avril kamu pasti bisa," ucapku menyemangati diri sendiri.
*****
Avril POV
Tanganku berkutat dengan sekumpulan berkas berkas di atas meja, jam bahkan sudah menunjukkan waktu makan siang, tapi sialnya pekerjaanku masih jauh dari kata selesai.
Mataku melirik sekeliling, sudah hampir kosong. Tentu saja memangnya karyawan bodoh mana yang mau menghabiskan waktu dengan sia sia, apa lagi waktu makan siang hanya 60 menit. Tentu saja semua orang di jam segini sudah nangkring di kantin kantor.
Lapar mulai aku rasakan, lagi lagi mataku melirik jam di pergelangan tangan. 12.35 masih ada 30 menit sebelum semua orang akan datang. Karena memang batas makan siang tidak lama.
"Astaga kenapa tugas ini tidak selesai selesai," ucapku tidak habis pikir.
Tanganku mengumpulkan berkas berkas itu di atas meja, menyusunnya menjadi satu. lalu menatanya di samping laptob milikku.
Tidak tahan lagi, rasa lapar itu makin membuat perutku sakit.
" Avril tunggu," teriak seseorang.
Aku berbalik dan mendapati Mbak Tasya, sekertaris bossku tengah berlari ke arahku. Keringat di dahi dan mulut ngos-ngosan itu sama sekali tidak wanita itu hiraukan.
"Kenapa Mbak? Kok lari lari?" Tanyaku penasaran.
"Tu--nggu sebentar," ucap wanita itu putus putus.
Aku menunggu Mbak Tasya yang sedang mengatur nafasnya, sepertinya wanita itu kelelahan.
"Kenapa lari lari si Mbak? Jadi kelelahan begitu kan," ucapku sambil geleng geleng kepala.
Setelah beberapa menit menunggu, barulah Mbak Tasya menatapku dengan wajah tidak terbaca.
"Bisa bantu Mbak Avril? Ini penting sekali," ucap Mbak Tasya sedikit merengek.
"Tolong apa Mbak?"
"Emmm," bisa ku lihat sepertinya Mbak Tasya ingin mencari alasan yang mungkin masuk akal.
"Begini Pak Radhika hari ini ada acara keluarga di rumahnya, dan kamu tau sendiri kan bagaimana Pak Radhika itu? Bisa bantu Mbak bujuk dia agar mau pergi?" Tanya Mbak Tasya lagi.
Aku mengerutkan keningku bingung, hey memangnya aku siapa sampai berani memaksa bossku, demi Tuhan aku masih ingin hidup.
"Mbak memangnya Avril siapa, kenapa harus Avril," ucapku kaget dan dengan segera menggelengkan kepalaku.
"Pls, cuma kamu yang bisa Mbak minta tolong. Kamu kan dekat dengan Pak Radhika," jawab wanita itu.
Hey sejak kapan aku dekat dengan bossku itu, tidak tau kah dia kalau aku malah sedikit banyak membenci bos ku itu.
Demi Tuhan walaupun wajah tampan dan harta lelaki itu banyak, aku tetap tidak menyukainya.
Dia tidak hanyalah iblis yang menyamar menjadi manusia, tidak ada hal baik yang lelaki itu lakukan. Semuanya adalah kata kata berbisa yang mampu membunuh siapa saja hanya dengan ucapannya.
Aku sama sekali tidak ingin berurusan dengan Pak Radhika.
"Jangan aku Mbak, kan Mbak Tasya tau sendiri bagaimana dendamnya Pak Radhika dengan ku," ucapku memelas.
Aku yakin Pak Radhika akan makin dendam denganku kalau aku memaksanya, tau sendiri seberapa gilanya direktur di perusahaan besar kan?
Walau pintar semua bos itu sama saja, sama sama memiliki sakit jiwa dan semena mena dengan para karyawan.
"Tidak ada orang lain Vril, mau ya bantu Mbak?" Bujuk wanita itu memelas.
Aku memalingkan wajah, Mbak Tasya ini tau saja kelemahanku. Aku tidak bisa menolak kalau dia sudah memohon begini.
"Mbak," ucapku tidak mau.
"Kali ini saja," paksa Mbak Tasya dengan terus membujukku.
Aku menghela nafasku berat, demi Tuhan aku sama sekali tidak ingin berurusan serius dengan Pak Radhika. Apa lagi mengingat sifat Lucifer yang Pak Radhika miliki, aku semaki tidak mau berurusan dengannya.
Tapi kalau begini, aku harus bagaimana lagi? Dengan berat aku menganggukkan kepalaku menyetujui.
Bisa ku lihat wajah berbinar dari Mbak Tasya, lalu dengan semangat wanita itu memberikan toobag yang aku yakin berisi pakaian Pak Radhika.
"Semangat," ucap Mbak Tasya dan berlalu dengan senyum lebar.
Aku menatap toobag bag di yang barusan di berikan Mbak Tasya lalu melihat ke ruangan Pak Radhika, demi Tuhan Avril apa yang baru saja kamu lakukan? Berurusan dengan bos setan itu? Astaga kamu benar benar sudah gila.
Pasrah, aku melangkah ke ruangan pak Radhika. Berusaha mengumpulkan keberanian, tenang Avril tidak papa. Kamu pasti bisa, batinku menyemangati.
Aku menatap pintu besar di depanku, ada keraguan untuk masuk. Lebih tepatnya takut dan malas, kenapa aku harus menjerumuskan diriku sendiri ke depan mulut buaya. Batinku nelangsa.
Setelah mengumpulkan banyak keberanian, aku mengetuk pintu ruangan Pak Radhika.
"Permisi pak," ucapku dan membuka sedikit pintu ruangan Pak Radhika.
Bisaku lihat Pak Radhika yang menatapku dengan satu alis terangkat, seakan bertanya dengan kedatanganku.
Aku menelan ludahku pelan, tatapan tajam Pak Radhika membuatku sulit bernafas. Demi Tuhan kakiku mulai gemetaran sekarang, kenapa tatapannya tajam sekali si.
Tanganku mendadak berkeringat dingin, badanku juga mulai bergetar.
"Kamu akan diam sampai kapan?" Tanya Pak Radhika datar.
Aku langsung berjalan cepat ke depan bos ku itu, menatapnya dengan jantung berdegup kencang. Tenang Avril kamu hanya perlu mengatakannya lalu pergi, batinku menyemangati.
"Emm begini pak, emm tadii Mbak Tasya bilang, emm bapak, emm di---"
"Berhenti bertele-tele dan katakan dengan cepat apa tujuanmu," ucap Pak Radhika memotong.
Aku mengetatkan rahangku kesal, tidak kah dia tau kalau aku itu takut. Sialan, bos ku itu benar benar membuatku kesal.
"Itu Pak, emm tadi Mbak Tasya mengatakan pada saya agar bapak pulang ke rumah, karena orang tua bapak mengadakan acara keluarga," ucapku pelan. Berusaha biasa saja dan tidak gugup. Lagian Pak Radhika juga, apakah dia tidak bisa melembutkan sedikit wajahnya itu.
"Hmm."
Respon Pak Radhika membuat aku kesal bukan main, sialan aku mengumpulkan banyak keberanian untuk berbicara dengannya, dan lihat responnya itu. Hmm? Hanya hmm? Sialan dia benar benar membuatku kesal.
"Hmm??" Tanyaku lagi.
Pak Radhika menatapku datar, lalu kembali melihat ke arah berkas berkas di atas meja.
Sialan, apa apaan dengan responnya itu? Batinku tidak terima.
"Pak? Jadi?" Tanyaku lagi.
Pak Radhika kembali melihat ke arahku dengan alis terangkat.
"Apa lagi?"
"Jawaban bapak apa?" Tanyaku mulai kesal.
Oke aku tidak mau sopan lagi, bosku ini benar benar menyebalkan. Lagian kalau bukan karena terpaksa, aku juga tidak mau berurusan dengan Pak Radhika.
"Apa masalahmu Avril, saya akan pulang kalau saya ingin."
TBC
Happy reading
Avril POV
"Apa masalahmu Avril, saya akan pulang kalau saya ingin."
Mataku melotot, bos setan sialan.
Ah iya, kalian pasti bertanya tanya kan kenapa Pak Radhika yang berstatus bos ku itu memanggil namaku sesantai itu? Oke biar ku jelaskan sedikit.
Pak Radhika yang berstatus bos besar di kantorku ini adalah temen sekolahku di SMA dulu, dan ya kami cukup dekat. Lebih tepatnya banyak hal yang membuat kami jadi deket, entah karena guru, tugas atau keadaan.
Aku cukup senang saat dulu kami tidak satu kampus, tapi sial kembali datang padaku. Aku malah melamar pekerjaan di kantornya ini, dan ya sekarang aku menjadi bawahannya. Benar benar nasib buruk, kalau tidak mengingat gaji di sini besar. Aku pasti sudah lari keluar dari pekerjaanku setelah tau kalau dia bos nya.
"CK Pak, ini acara penting tau. Bapak di wajibkan datang," ucapku penuh penekanan.
Sebenernya aku tidak tau si, acara sepenting apa sampai Pak Radhika harus datang.
Setahuku dulu saat masih SMA, Pak Radhika itu adalah lelaki dingin yang anti dekat wanita. Karena itulah Tante Kinan, Ibu Pak Radhika sering uring uringan dengan percintaan anak sulungnya.
"Hmm," balas Pak Radhika lagi.
"Hmm???" Mataku melotot, astaga aku benar benar kesal sekarang.
"Apa lagi? Saya sudah katakan akan pergi kan," ucap Pak Radhika.
"CK, saya sudah di beri amanah agar bapak pergi siang ini, jadi cepat siap siap karena sebentar lagi jam 1," ucapku dan memberikan toobag yang berisi pakaian bosku itu.
Mataku makin melotot saat melihat tidak ada pegerakkan sama sekali pada Pak Radhika.
"Pak," panggilku lagi.
"Apa?"
"Astaga cepat gerak Radhika, sebentar lagi jam 1." Ucapku habis kesabaran.
"Saya malas pergi, keluarlah saya masih banyak pekerjaan."
"Tidak bisa, cepat Radhi." Paksaku.
"Hmm."
Kesal dengan hmm yang terus saja Pak Radhika katakan, aku memutari meja kerjanya dan menarik tangan Pak Radhika.
"Cepat Radhi, jangan menambah beban ku. Pekerjaanku masih banyak," ucapku memaksa.
"Kamu pikir hanya pekerjaanmu saja yang banyak? Saya juga."
"CK saya tidak perduli, cepat pak siap siap." Paksaku lagi.
Pak Radhika menatap datar ke arahku, lalu menarik tanganku dengan kuat, reflek aku terjatuh karena tidak ada berpegang pada apa pun.
Dan sedetik setelahnya mataku melotot karena sudah berada di pangkuan bos setan ku itu, dan yang lebih menyebalkan ya lagi kalau ternyata Pak Radhika juga sedang menatapku dengan intens, demi Tuhan tolong jangan tatap aku begitu.
Aku berusaha turun dari pangkuan lelaki itu, memberontak karena soalnya Pak Radhika sama sekali tidak mau melepaskan ku begitu saja.
"Pak," ucapku kesal dan berusaha bebas.
"Hm?"
"Lepas ish, saya mau turun." Desaku kesal.
"Pak," panggilku lagi. Makin kesal karena ucapanku sama sekali tidak lelaki itu tanggapi.
Pak Radhika menyatukan dahi kami, membuat aku membulatkan mata kaget.
Ha? A-apa yang baru saja Pak Radhika lakukan? Mulutku bahkan sampai terbuka sangking kagetnya.
"Berhenti menggoda saya Avril, demi Tuhan pertahanan saya tidak sekuat itu." Desa Pak Radhika berat.
"Ha?" Otakku sama sekali tidak paham dengan yang baru saja pak Radhika katakan. Maksutnya apa?
"Saya akan siap siap," ucap lelaki itu setelahnya. Lalu menurunkan ku di atas kursi dan bergegas pergi ke ruang pribadinya, tidak lupa dengan menggambil toobag yang berisi pakaian beliau.
Aku menyentuh dadaku yang berdegup kencang, demi Tuhan tanganku sampai gemetaran. Aku sangat kaget dengan apa yang baru saja di lakukan Pak Radhika, apa maksutnya? Siapa yang menggoda beliau? Orang stres mana yang mau melakukan itu.
"Berhenti bertingkah begitu atau saya akan menarikmu ke sini Avril," ucapan datar itu membuatku reflek berdiri tegak.
Sedetik setelahnya aku langsung melotot ke arah Pak Radhika, dasar bos setan sialan.
"CK cepat siap siap dan segera pergi," ucapku kesal dan beranjak dari kursi itu. Berjalan keluar, pekerjaanku masih banyak.
Mataku melirik jam di pergelangan tanganku, pukul 01:17 lewat. Astaga aku bahkan melewatkan makan siang ku hanya untuk membujuk Pak Radhika, astaga sialan sekali.
Tidak jadi ke kantin, aku kembali membelokkan tubuhku ke kubekelku. Berniat untuk kembali menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Mengabaikan sakit perut yang semakin lama makin terasa.
Tapi saat pantatku baru saja ingin mendarat di kursi kerjaku, sebuah tangan dengan kurang ajarnya malah menarikku sehingga otomatis badanku langsung beranjak dan mengikuti si penarik.
"CK apa yang bapak lakukan?" Tanyaku kesal saat tau kalau yang menarikku adalah Pak Radhika.
"Hmm," balas lelaki itu datar.
Mataku makin melotot mendengar respon lelaki itu, belum lagi dengan para karyawan yang memang sudah kembali dari makan siang. Makin banyak yang berlalu kalau, di tambah dengan pegangan tangan yang kuat ini makin membuatku malu.
Aku berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Pak Radhika, tapi bukannya lepas genggaman tangan lelaki itu malah makin kuat.
"Terus memberontak maka saya akan makin kuat menggenggamnya," ucap Pak Radhika datar.
Mulutku berdecak kesal, bos setan ini kembali membuat ulah. Mentang mentang dia adalah direktur di perusahaan jadi bisa berlaku seenak jidatnya saja. Dasar menyebalkan, aku benar benar sangat kesal sekarang.
"Bapak mau bawa ke mana si? Lagi pulak saya bisa jalan sendiri, bapak tidak perlu menarik saja begini," ucapku memelas.
Demi Tuhan aku malu dengan tatapan tatapan, yang di layangkan para karyawan pada kami. Apa lagi Pak Radhika menggenggam tanganku begitu kuat, CK apa si sebenernya yang beliau pikirkan.
"Aku bisa jalan sendiri Radhi," ucapku mulai kesal.
"Saya tau kami bisa jalan sendiri, tapi dengan otak kosong dan jalan lama itu. Saya benar benar tidak sabar untuk menunggu," balas Pak Radhika datar.
Sialan, apa yang baru saja dia katakan? Otak kosong dan jalan lamban? Bajingan sialan, aku benar benar ingin melemparnya ke rawa rawa sangking kesalnya.
"Masuk," ucap Pak Radhika saat kami sudah sampai di depan mobil milik lelaki itu.
Aku mundur dua langkah, berniat kabur. Memangnya dia pikir dia siapa, enak saja memaksaku sesuka hatinya.
"CK saya bilang masuk Avril bukan malah kabur," decak Pak Radhika kesal dan langsung memaksaku masuk dengan kasar.
"Berhenti memaksa saya Radhika," teriakku kesal.
"Maka menurut lah, maka saya tidak akan memaksa. Tapi kamu sepertinya lebih suka cara kekerasan di banding mengatakannya secara baik baik," balas lelaki itu lagi dengan datar.
"Dasar tidak berprikemanusiaan, " decakku sinis. Lalu duduk dengan tenang di kursi samping kemudi.
Bisa ku lihat Pak Radhika yang memutari mobil dan masuk ke kursi di sampingku. Lalu menatapku datar.
"Apa lagi?" Tanyaku sedikit emosi.
"Apakah kamu sengaja agar saya juga yang memasangkan sabuk pengaman?" Tanya lelaki itu sambil menatapku lalu beralih dengan sabuk pengaman di sampingku.
Aku memutar bola mata kesal, lalu menggambil sabuk pengaman itu dan memasangnya segera.
Selesai aku memangnya, pak Radhika langsung menjalankan mobilnya keluar dari perkara gan kantor.
Aku sama sekali tidak tanya lagi, terlalu kesal dengan respon Pak Radhika yang menyebalkan, terserah mau ke mana.
Lagian pun kalau nantinya pekerjaanku itu tidak selesai itu salah pak Radhika sendiri, kenapa membawaku pergi saat masih jam kantor.
Hampir 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di perubahan dan berhenti di sebuah rumah besar dengan halaman yang luas serta rumah mewah tingkat 3.
Tentu rumah siapa lagi kalau bukan rumah orang tua Pak Radhika, aku ingat pernah menginjak rumah ini satu kali dulu, saat di tugaskan kerja kelompok dengan Pak Radhika.
"Kenapa kita ke sini?" Tanyaku sambil menatap pak Radhika dengan alis terangkat.
Tapi bukannya menjawab, Pak Radhika malah keluar dari mobil dan meninggalkanku begitu saja.
Mataku melotot, hah? Maksutnya apa? Ha? Apa apaan lelaki itu? Batinku tidak terima.
Kesal tidak di respon, aku keluar dan segera mengejar Pak Radhika yang sudah jauh di depan, menahan pergelangan tangan lelaki itu.
"Maksutnya apa? Kenapa membawa saya ke sini?"
Bisa ku lihat Pak Radhika yang memutar bola matanya malas. "Pulang, apa lagi." Jawaban datar pria itu lontarkan padaku.
"Iya saya tau bapak pulang, tapi pertanyaannya kenapa membawa saya? Demi Tuhan Pak saya masih memiliki banyak pekerjaan," ucapku tertekan.
"Hmm, kamu yang memaksa saya pulang. Maka kamu juga harus ikut saya," balas lelaki itu datar.
TBC