Dengan langkah malas Cassie akhirnya mengikuti kemana Chandra menuju. Dia sungguh enggan lagi berkenalan dengan para siswa yang menurutnya mereka tidak selevel.
Sepatu sneaker hitam membungkus kakinya, kaos kaki hitam hingga lutut. Rok abu lima sentimeter di atas lutut. Seragam putih dengan jas hitam membungkus tubuhnya yang tampak ramping.
Lihatlah, Cassie tampak ogah- ogahan berdiri di depan sebuah kelas. Dia tidak peduli ke mana masuk, yang pasti perasaannya sedang kesal. Jika bisa mendengar hati seseorang, suara hati Cassie mungkin penuh umpatan.
“Cassie, masuklah,” ujar Pak Chandra dari arah sebuah kelas yang akan menjadi tempat Cassie menghabiskan harinya.
Dia menurut tanpa kata. Bola matanya bergerak jengah, sungguh meremehkan tempat itu yang baginya tak selevel meskipun sang ibu bilang bahwa sekolah itu masuk jajaran elit. Peduli amat dengan itu. Cassie hanya merasa begitu kesal dan marah akan suatu alasan yang tidak bisa dijelaskan.
“Baiklah anak- anak. Kalian akan dapat teman baru. Silakan Cassie, masuklah dan perkenalkan dirimu.” Pak Chandra mempersilahkan Cassie untuk masuk dan memperkenalkan dirinya.
Kakinya melangkah memasuki ruang kelas itu. Anak- anak yang ada di sana semula tampak hening mendengarkan wali kelas mereka yang membawa kabar.
Reaksi mereka beragam begitu Cassie masuk ke kelas 11- 2B.
“Woah!” Riuh mereka berseru melihat penampilan teman baru mereka yang di luar dugaan.
“Flexi!” Seseorang bahkan takjub.
“Gila bener ini. Edan!” seru yang lain saling bersahutan melihat penampilan Cassie yang sungguh di luar dugaan.
Pak Chandra hanya bisa mengusap tengkuknya, begitu juga guru yang sedang mengajar. Komentar dan keriuhan di kelas itu menyambut Cassie tapi cewek itu justru tidak peduli.
Adalah salah satu siswi yang duduk di tengah jajaran bangku. Matanya membulat ketika mengenali sosok itu.
“Silakan Cassie, perkenalkan dirimu,” ujar Chandra setelah menenangkan para siswa di kelas.
Tapi Cassie tetap diam, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan hingga tatapannya tertuju pada sesetangan yang terangkat. Satu sudut bibirnya terangkat ketika mengenali sosok itu.
“Yeah, I’m Cassie.” Cukup singkat dan jelas.
Cassie melempar pandangan pada Chandra memberitahu dengan tatapan bahwa dia sudah melaksanakan perintahnya untuk memperkenalkan diri.
“Ah, baiklah. Semoga kalian bisa berteman dengan Cassie. Cassie, kamu bisa duduk di sana,” tunjuk Chandra pada sebuah bangku kosong.
Tanpa mengatakan apapun, Cassie melenggang santai bak di atas catwalk tak mempedulikan tatapan demi tatapan yang dilemparkan para siswa di kelas itu. Bagaimana dia tidak menjadi pusat perhatian bahkan sekaligus gunjingan para siswi penggosip di ujung kelas. Rambut warna warni itu cukup menarik perhatian. Gila memang. Bagaimana mungkin seorang siswa dengan rambut seperti itu? Ugh! Sungguh melanggar aturan.
“Ah. Cassie ini pindahan dari Amerika, jadi mohon dimaklumi anak-anak dan tolong jaga ketertiban kelas,” pesan Candra setelah tersadar dari tertegun dengan sikap Cassie yang begitu mengejutkan.
Rupanya Chanda hanya bersikap biasa saja seolah sudah biasa menghadapi spesies siswa baru macam Cassie, tapi ternyata dia hanya menunjukan itu di depan Siska yang tampak penuh harap putrinya tetap sekolah di sana. Dia bergidik melihat keangkuhan yang ditunjukan Cassie. Menggelengkan kepalanya lalu pamit pada guru pengajar di jam pertama itu. Kedua lelaki yang berprofesi sama itu tampak saling tatap, sang guru pengajar, Pak Arman merasa keberatan saat Chanda hendak pergi.
“Tolong titip sebentar,” pesannya.
Tapi Pak Arman menggeleng. Melihat kedatangan Cassie saja tadi jantungnya cukup berdegup kencang seolah melihat sesuatu. Chandra meyakinkan Pak Arman lalu keluar.
Sementara itu, masih dengan gaya angkuh yang tak tahu tempat, Cassie menghampiri bangku kosong yang di sampingnya adalah cewek yang melambaikan tangan padanya tadi. Tatapan para penghuni kelas itu masih tertuju padanya. Bagaimana Cassie tidak menarik perhatian dengan rambut pelangi, tinik yang nyaris memenuhi telinga, serta kalung melilit lehernya. Cassie bahkan membuka dua kancing atasnya memberikan kesan yang sungguh luar bisa, gila!
Meskipun tampak canggung, Nanda, cewek yang melambaikan tangannya pada Cassie itu menyambut ramah seolah dia sudah kenal sejak lama. Cassie duduk di sampingnya dengan santai sama sekali tidak risih dengan hujaman tatapan menghina sekalipun.
“Baiklah anak- anak. Kita lanjutkan pelajarannya!” seru Pak Arman mencoba menarik perhatian semua murid di kelas itu untuk terarah kembali ke depan kelas, melanjutkan pelajaran yang sempat tertunda karena kedatangan yang tak terduga itu.
Bisik-bisik dari ujung kelas masih berlangsung, mereka tampak memindai Cassie dari ujung kepala hingga kaki.
“Astaga. Kelas kita kedatangan Devil,” ujar mereka entah siapa yang mencetuskan itu. Tapi tampaknya dengan sengaja karena terdengar cukup keras di ruangan itu.
Kelas seketika tertawa menanggapi cetusan itu. Devil? Ugh. Ekstrim sekali untuk julukan murid baru yang bahkan lima menit saja belum lama.
“Diam!” sentak Pak Arman. “Kalian fokuslah untuk belajar. Jika ada yang bicara, silakan belajar di luar.” Ancamnya menegaskan.
Ruangan seketika hening. Meskipun sempat menunjukan sikap canggung Pak Arman termasuk salah satu guru yang ditakuti walaupun usianya masih terbilang muda, sekitar awal tiga puluhan.
“Kok bisa nyasar sini, Cas?” bisik Nanda pada Cassie yang duduk di sebelahnya. Dia mencondongkan setelah tubuhnya pada gadis angkuh yang masih mengangkat dagunya itu.
“Terpaksa,” balas Cassie.
Nanda mengangguk. Kembali mencondongkan tubuhnya untuk berbisik lagi, “Nanti kita bicara. Kamu ….” Ucapan Nanda terhenti dengan pandangan tertuju pada Cassie.
Seolah paham, gadis itu hanya mengangkat bahunya cuek. Dia pasti tahu Nanda akan menceramahinya.
Pelajaran usai dengan damai. Setelah Pak Arman keluar dari kelas, barulah mereka kembali riuh oleh ketakjuban yang terselip hujatan dari setiap sanjungan mereka. Terlebih geng penggosip yang memilih tempat duduk paling belakang.
“Wuhuu. Kelas kita bakal terkenal entar,” kata sesesiswa yang entah siapa.
“Benar. Astaga. gue ngeri guys!” timpal yang lain.
Tapi Cassie tetap mengangkat dagunya tak peduli, bahkan tatapan setajam belati bisa membungkam siapapun.
“Hai, Cassie, boleh kenalan? Ya boleh, dong, ya masa nggak.” Seorang siswa yang cukup terlihat urakan hanya dilihat dari tampilan saja membuat seisi kelas tertawa karena ulahnya menggoda Cassie.
“Hei, Gudy, lo nyingkir sana!” usir gadis yang bangkunya di depan Cassie.
Kelas itu berisik sekali, bahkan ada siswa dari kelas tetangga mengintip dari jendela demi melihat bidadari, ah tidak, jelmaan devil yang nyasar ke ruang kelas.
“Untung dia gak di kelas kita. Kelas 11- 2B itu memang phenomenal anaknya, pada urakan,” kata seseorang dari luar kelas ikut menggunjing kala menyaksikan keriuhan yang terjadi di kelas baru Cassie.
Seorang siswa dengan tatapan dingin dan raut datar itu tampak ikut memusatkan perhatiannya ke kelas yang dikerubungi semut siswa.
“Katanya ada murid baru pelangi,” kata temannya berbisik.
Hanya guliran bola matanya melirik sang teman yang tampak penasaran dengan kelas itu. Dia berjalan meninggalkan tempat itu untuk pergi ke ruang guru karena mendapat panggilan.
Sementara itu Cassie masih menjadi pusat perhatian di kelas barunya.
Kantin yang biasanya ramai kini semakin ramai dengan hadirnya penghuni baru yang bak dari planet asing. Dengan rambut pelangi yang cukup nyentrik itu bagaimana Cassie tidak menjadi pusat perhatian orang-orang bahkan para pedagang di kantin pun ikut memperhatikan sampai banyak sekali drama, dari kuah bakso yang salah wadah ke gelas, mie ayam yang salah mangkuk, nasi goreng yang ikut salah tempat akhirnya menjadi kacau kantin itu dengan berbagai teriakan, jeritan dan banyak lagi.
Satu orang yang harus disalahkan, kehadiran Cassiopeia Arsy, cewek pindahan dari Amerika yang tampil urakan dan gaya barat yang dibawanya itu.
Sekitarnya kacau, tapi Cassie malah santainya mengaduk minuman, menyuapkan nasi goreng yang sempat dia pesan membuat teman barunya itu melongo tidak percaya.
Nanda menelan ludahnya gugup, dia bahkan tidak bisa berkutik seolah semua laser laras panjang tertuju padanya yang sekali saja dia bergerak nyawanya melayang.
Vanya, teman baru yang menawarkan diri untuk menjadi teman Cassie merutuk dalam hatinya telah mengambil keputusan tanpa berpikir dengan akibatnya. Dia tak jauh berbeda dengan Nanda, sama sekali tidak bisa bergerak.
“Jadi dia adalah murid baru pindahan yang katanya dari planet antah berantah?” Sesesiswa mengatakan itu dengan lantang. Sepertinya sengaja benar menusuk gendang telinga Cassie. Tapi si pelaku kekacauan itu justru masa bodoh, tetap santai dengan makanannya.
Tidak habis pikir dengan cara Cassie bersikap disaat pusat perhatian tertuju padanya. Kantin mendadak jadi sarang semut yang yang mencoba berebut gula, membuat kecauan semakin parah.
“Kalian bisa pergi kalau nggak nyaman sama aku. I'm okay, kok,” kata Cassie santai.
Nanda menelan ludahnya. Yang menjadi pusat perhatian itu Cassie, kenapa dia yang tegang bahkan sekalipun bernapas, dia tidak tenang. Apa salahnya? Nanda hanya menemani Cassie karena di sekolah itu sudah pasti cewek planet asing itu tidak ada teman dan kebetulan saja takdir membuat mereka bertemu. Tapi, kenapa endingnya mencekik sekali bagi Nanda?
Tidak jauh juga dengan Vannya yang tangannya gemetar. Dia sungguh tidak bisa bernapas akibat tatapan tajam yang terus menghujam ke arahnya, lebih tepatnya pada Cassie, tapi imbasnya ke Vannya juga.
“Hei devil girl!” seru seseorang memanggil.
Mendengar panggilan lain entah dari mulut siapa, tatapan Cassie seketika dingin menusuk. Dia mengarahkannya ke depan tepat dengan kemunculan seorang siswi dengan tampilan yang cukup rapi dan cantik. Cassie mengakuinya juga tapi lihatlah gayanya itu terlalu bossy. Dilihat dari dua anteknya di belakang. Cewek itu melipat tangan didepan dada.
Cassie tidak menanggapi tapi apa yang dicetuskan cewek itu membuat riuh kantin sekolah yang sebenarnya cukup luas. Devil Girl? Woah! Baru saja hari pertama dia sudah mendapat julukan. Cassie tidak menanggapi, dia masih berlagak santai dengan menghabiskan minumannya tanpa sisa lalu bangun dari duduk, mengarahkan pandangannya ke cewek itu yang tidak terima diabaikan.
“Eh, lo, mau ke mana, heh?”
“It’s not your bussines. Minggir!” balas Cassie tidak peduli.
“Eee, mana bisa? Lo berani juga sama gue, ya! Lo harus tau siapa gue!” katanya menantang.
“Apa harus peduli? Bodo amat. Awas, mau lewat!” sentak Cassie yang membuat sekitarnya sedikit tersentak juga.
Masih dengan tatapan tajam pada cewek di depannya itu, Cassie mengajak Nanda seta Vannya untuk pergi dari sana. Dengan terbata, dan kaku keduanya bergerak bagai robot yang dikendalikan Cassie.
Langkah Cassie mendekat pada cewek sok bossy itu lalu berkata, “Mau ratu kek, putri kek, bahkan dewi sekalipun, aku gak peduli. So, minggir! Devil girl mau lewat!” kata Cassie sambil tangannya menggeser cewek itu yang tak percaya dengan apa yang dikatakan Cassie barusan.
Tapi langkah Cassie kembali terhenti tepat di samping si cewek lalu kembali berbisik, “Thanks buat julukannya, jadi keren ‘kan, aku?” katanya dengan senyum sinis di bibir kemudian dia melenggang begitu saja sambil mengangkat dagunya tak peduli dengan bisik-bisik para siswa- siswi.
Cassie tidak perlu repot menyibak kerumunan semut siswa yang penasaran akan dirinya. Mereka memberi jalan sendiri bak membiarkan ratu lewat dengan aman. Lagi-lagi senyuman terpatri di wajah cewek itu.
Setelah keluar dari kantin dan sedikit jauh ke belakang, Vannya dan Nanda seketika berlomba menghirup udara, mengisi kantong parunya dengan oksigen.
“Huh! Tadi itu nyaris banget. Nyaris mati gue,” celetuk Vannya masih mencoba bernapas lega.
Nanda hanya mengangguk saja dengan apa yang dikatakan Vannya karena dia pun merasakan hal yang sama.
“Who she?” tanya Cassie tidak peduli melihat kedua temannya itu yang kewalahan mengambil napas.
Vannya menarik napas panjang kemudian menegakkan tubuhnya. Dia berdiri di samping Cassie yang memusatkan perhatiannya ke koridor yang sepi.
“Si ratu sekolah yang ganjen,” jawab Vannya.
“Namanya Karina Septiani, anak kelas 11- A3,” jelas Nanda.
“Heem. Gayanya dia memang bossy. Ngeselin banget,” timpal Vannya. “Gue ingetin, yah, Cas. Dia itu selalu nggak mau kalah. Kelakuannya disini makin berani aja hanya karena orang tuanya menyimpan saham di sekolah ini.” Vannya menceritakan sedikit tentang Karina.
Mata Cassie mengerjap, dia sama sekali tidak tertarik.
“Lo harus tau itu, Cas,” sela Vannya ketika Cassie hendak membalas.
“Kenapa?”
“Karena dia udah liat lo. Maka target berikutnya pasti lo,” jelas Vannya. Cassie tentu tidak paham.
“Kamu jangan kebanyakan ngomong, Vannya.” Nanda menegur.
“Mana bisa? Dia harus tahu karena Karina udah ….” Vannya menghentikan celotehnya ketika dilihatnya kode dari Nanda yang memintanya untuk cukup. “Baiklah. Pokoknya lo harus waspada aja, Cassie,” lanjutnya membuat keputusan.
Cassie yang mendengarnya cukup tahu saja. Dia mengangguk tanpa peduli. Setelah kembali memusatkan perhatian ke depan, Cassie berbalik. Baru saja tiga langkah, dia kembali berhenti ketika maniknya menangkap sosok itu di depan sana.
Duk!
“Aw! Apaan, sih, Cassie? Gue jadi ….” Vannya kembali menghentikan celotehnya ketika melihat Cassie yang berdiri di depannya bagai patung. Dia menggerakkan sedikit pandangannya melewati lengan Cassie.
Ada seorang siswa di depan mereka rupanya. Dari pandangan Cassie, dia cukup mengenali sosok itu sebagai seseorang yang dia lihat di depan ruang guru pagi ini.
Postur yang cukup tinggi dengan jas almamater hitam membungkus tubuh atletisnya yang dengan mudahnya bisa Cassie pindai. Kedua tangan yang bersembunyi di saku celana. Tatapan dingin dan ekspresi datar itu cukup jelas dalam benak Cassie. Dia adalah ….
“Kita pergi ke arah lain, yuk,” ujar Vannya tanpa izinnya langsung menarik tangan Cassie sehingga memutus kontak mata yang sempat terjadi antar Cassie dan sosok cowok itu yang tidak asing baginya tapi dia tidak tahu siapa namanya.
Dengan terpaksa Cassie membiarkankan Vannya menyeret tubuhnya dibantu Nanda sementara tatapan Cassie masih tertuju pada sosok di ujung koridor itu tanpa sekalipun mengerjap. Apa yang sebenarnya Cassie lihat?