Joseph Trenton. Pria yang kerap di sapa Josh itu memulai rapatnya dengan keheningan yang menguasai ruangan kedap suara itu. Disana, ia juga dapat melihat binar mata keterkejutan dari seorang perempuan yang duduk di sudut meja bersama seorang pria di sebelahnya.
Ia memperkenalkan diri sebagai seorang CEO baru sekaligus putra tunggal dari pendiri perusahaan itu. Beberapa orang tampak terkejut, namun tidak ada yang berani untuk sekedar.
Dengan begitu, Joseph merasa semakin tinggi pula tingkat kepercayaan dirinya.
"Kepala departemen keuangan silahkan tinggal di ruangan ini. Kecuali yang saya sebut tadi, kalian bisa keluar!" Perintah mutlak Joseph.
Nathasia dan Alex teman prianya menahan nafas sebentar. Sudah pasti akan ada penyelidikan. Tetapi, mereka tidak khawatir. Karena setahu mereka, keduanya tidak pernah melakukan kasus korupsi. Jadi, tidak ada yang perlu di takutkan. Mereka hanya takut sesaat saja.
"Menurut mu? Kira-kira kenapa bos baru kita memanggil kita?" Bisik Alex sesaat setelah beberapa orang mulai meninggalkan ruangan. Tersisa hanya mereka bertiga.
"Aku tidak tahu. Sebaiknya kau tutup saja mulut manismu itu, kemudian mari kita berdiri!" Ujar Nath mendelik karena Alex terlalu berisik.
Kedua orang berbeda jenis itu melangkah ke hadapan Joseph yang sudah duduk di atas kursi kebesarannya. Auranya adalah sebuah bentuk kepemimpinan yang kuat. Aroma jantan menguat kuat dari dalam tubuhnya. Nath merasa ia diperhatikan sedemikian intens, hingga membuat ia merinding sesaat.
"Apa ketua departemen keuangan memang ada dua?" Josh menaikkan sebelah alisnya melihat kedua orang itu. Ada nada tak suka yang terselip.
"Bukan sir. Dia adalah wakilku. Dan dia harus selalu ikut denganku!" Jawab Alex gugup seraya menyenggol tangan Nath yang sedang ia remas.
Josh memperhatikan itu hingga membuat dirinya sedikit merasa kepanasan.
"Apakah ada peraturan yang mengatakan jika ketua dan wakil itu harus selalu bersama?" Ulangnya lagi merasa kesal. Ia merasa kurang beruntung karena bukan dia yang duluan mengenal si cantik Nath. Melainkan pria sialan ini.
"Kami memang selalu seperti itu sir. Bahkan, tuan Harry sudah tahu itu dari awal sekali!" Jelas Alex. Sangat jelas jika ia merasa gugup setengah mati. Belum lagi tatapan mata singa bosnya itu seakan mengintainya bagai sasaran empuk yang siap di santap.
Menyadari tatapan aneh dari bosnya yang mulai aneh itu, yaitu ke arah bawah, jemari mereka yang saling bertautan membuat ia buru-buru melepaskannya. Membuat Nath tersentak. Lalu menginjak kaki Alex dengan hills nya.
"Auuuhhh, kau menginjak kakiku bodoh!" Umpat Alex spontan.
Bukan dengan sengaja Nath melakukannya. Ia hanya terkejut, dan itu adalah gerakan refleks nya.
"Maaf sir. Tapi, pak Alex mengejutkanku!" Kali ini, Nath mengeluarkan suaranya yang lembut.
Joseph Trenton, pria itu seakan merasa terhipnotis mendengar alunan lembut suara Nath menyapa indra pendengarannya.
"Kurasa, kita pernah bertemu. Kau wanita yang di lift tadi bukan?" Tanya Josh berbasa-basi.
Ingin sekali gadis itu memutar bola matanya. Namun, ia urungkan karena Nath masih sangat membutuhkan pekerjaan ini. Selain gajinya yang lumayan cukup besar, ia juga bisa makan enak di kantin dengan gratis dan tenang.
"Benar sir. Kalau begitu, jika sudah tidak ada yang diperlukan, kami permisi dulu. Selamat pagi Sir!" Nath ingin segera mengakhiri percakapan konyol itu.
Ia sungguh tidak suka dengan obrolan tanpa akhir. Sangat aneh melihat bosnya itu hanya memanggil mereka untuk sekedar berkenalan saja. Itu terlalu membuang-buang waktu dan tenaga. Sangat bukan Nath sekali.
Setelah memasuki ruangannya dan duduk di mejanya, seorang pria berkacamata yang kerap disana Boby menghampiri meja Nath.
"Apa pak bos melakukan sesuatu pada kalian berdua? Lihatlah wajah menyedihkan Alex. Sepertinya dia teraniaya!" Cemooh Boby.
Pria gendut itu memang hobi mencaci teman sedivisinya. Sepertinya harinya tidak lengkap jika ia tidak bergosip ria.
"Kenapa kau tidak tanyakan saja pada dia? Bukankah dia kekasih mu?"" Sembur Nath jengkel. Boby selalu tahu, bagaimana cara merusak hari seseorang. Selain bergosip, ia juga pandai membuat kesal.
Alex tertawa puas melihat wajah merah padam Boby. Namun, ia urungkan melihat tatapan maut yang Nath layangkan untuknya.
"Kau ketua. Jadi, atur anggotamu agar disiplin!" Sembur Nath lagi.
"Kau jangan suka marah-marah Nath. Hanya kau perempuan di divisi ini. Aku tidak bisa membayangkan jika kau keluar dari perusahaan ini!" Ujar Boby sarat makna. Ia memberikan senyuman palsunya. Yang sayangnya, Nath tahu arti dari senyuman konyol itu.
"Doamu tidak akan dikabulkan. Aku akan keluar jika sudah menikah!" Semburnya galak.
"Kau bilang kau tidak ingin menikah!" Timpal Alex dari sebelah.
"Itu berarti, aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuk Trenton corp saja!" Jawab Nath kemudian. Membuat ke-empat orang pria yang berada diruangan itu membuang nafas panjang.
Namun, meski begitu, keempat pria itu sangat menyayangi Nath seperti seorang adik kecil. Meski mulut Nath terkadang sangat kurang didikan, mereka tahu bahwa itu adalah luapan dari sebagian emosi yang ia tahan selama ini.
Mereka tahu, jika sifat keras kepala Nath berasal dari perceraian kedua orangtuanya. Mereka sedikit mengetahui cerita jalan hidup Nath, karena gadis itu kerap bercerita tentang dirinya.
"Nath sayang, apa kau akan makan siang di kantin?" Tanya Kings. Pria dengan setelan baju yang paling rapi di divisinya. Pria muda yang memiliki ambisi yang kuat pula. Ia mendedikasikan dirinya untuk bekerja di perusahaan ini karena ia mengatakan jika visi misi perusahaan ini membuatnya terinspirasi.
Terkadang, Nath ingin memukul kepalanya karena merasa gemas dengan jalan pikiran pria itu.
"Tentu saja. Selain gratis, disana makanan nya juga enak dan bergizi." Jawabnya penuh dengan kejujuran tanpa filter sedikitpun.
"Selain keras kepala, ternyata kau juga sangat perhitungan!" Sindir Boby.
"Tutup saja mulutmu itu. Kau juga suka kan, makan di kantin. Aku bahkan sering melihat mu menambah porsi makan siangmu lebih besar dari yang seharusnya!" Jelas Nath membuat mereka terkekeh.
"Kau memang adik kecilku yang manis. Aku belajar banyak darimu!" Kekehnya ringan.
Nath kemudian tak menanggapi lagi omongan keempat pria sinting itu. Disini, hanya dia yang normal. Keempat pria itu memiliki selera humor yang sama.
Ia juga tidak mengerti mengapa hanya ia yang menjadi seorang perempuan di sini. Beruntung, ke empat pria itu selalu berbuat baik padanya. Meski tidak bisa ditampik jika omongan mereka terkadang harus membuatnya mengelus dada.
Tapi, itu lebih baik. Daripada harus berteman dengan orang lain di luar divisinya. Itu adalah hal yang selalu Nath berusaha hindari.
Ia sangat suli untuk bergabung dengan teman yang belum akrab dengannya. Ia selalu membatasi diri untuk itu.
Matahari sudah kembali ke peraduannya. Kesibukan orang-orang yang bekerja sudah mulai berkurang. Hanya beberapa orang saja yang sedang tergesa-gesa dikejar waktu.
Berbeda dengan Nath. Gadis itu sedang bermalas-malasan di depan komputernya yang masih menyala. Padahal jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Gadis itu memandang dekstop komputernya tanpa minat sama sekali.
"Kau belum pulang Nath?" Tanya Boby yang sudah menenteng tasnya dan botol air mineral yang kerap itu bawa itu.
"Belum. Aku tidak ingin bertemu pria tua itu!" Jawabnya malas.
Perihal papanya yang kerap menjumpai dia, temannya se tim sudah mengetahui itu. Terkadang mereka harus berbohong kepada pria itu demi Nath seorang.
Nath akan mengancam mereka dengan keahliannya jika ke-empat orang itu tidak menurut dan berani membantahnya.
"Ya sudah. Kalau begitu aku duluan!" Pamit Boby meninggalkan Nath sendirian. Sedang teman yang lain sudah pamit pulang lebih awal.
Nath mengenakan kacamata berbentuk persegi berwarna hitam. Kacamata yang ia baru beli sekitar dua hari yang lalu di toko kacamata. Akhir-akhir ini, penglihatannya sering rabun, dan juga kepalanya sering pening. Namun, ia terlalu malas untuk memeriksanya ke rumah sakit.
Papanya yang seorang dokter sekaligus pengusaha itu adalah alasan utamanya mengapa ia tak mau menginjakkan kakinya ke rumah sakit.
Ponselnya berdering di samping lengannya yang bertumpu pada meja. Ia membalik ponselnya sekedar melihat namanya.
"Faint mencarimu princess. Katanya dia belum melihatmu keluar dari gedung itu!" Suara Kings memasuki indra pendengarannya begitu ia menggeser tombol hijau di layar datar itu.
"Sebentar lagi. Ada apa?" Tanya Nath lagi.
"Katanya, dia menunggumu di loby. Tumben sekali anak itu. Apa kalian punya hubungan gelap?" Kekeh Kings seperti biasa selalu saja usil dan sok tahu. Kloningan dari Boby si pria super cerewet
"Awas saja kau membuat gosip yang aneh-aneh di grup anak-anak kantor nanti!" Ancam gadis itu seraya mematikan ponselnya.
Ia merapikan anak rambutnya yang berjatuhan di dahinya. Lalu mengambil botol minuman kosongnya dari lokernya.
"Loh, Bu Nathasia belum pulang?" Sapa Noita. Seorang anak magang yang baru masuk satu bulan yang lalu.
Noita kerap menyapanya karena perbedaan usia mereka hanya selisih dua tahun.
"Ini sudah diluar jam kantor Noi, panggil aku kakak saja. Aku masih terlalu tua untuk panggilan yang kau sebutkan tadi!" Ingatkan Nath untuk semakin memperbanyak stok kesabarannya terhadap orang-orang di sekelilingnya.
"Kau dari ruangan CEO baru kita?" Nath menaikkan alisnya melihat gelagat mencurigakan yang ditunjukkan oleh gadis cantik itu, yang sayangnya lebih tinggi dari dia.
"Mmmm, bukan kak. Aku hanya kebetulan lewat saja!" Jawabnya tergagap.
"Tidak apa-apa juga jika kau kesana. Ya sudah, aku pulang dulu ya!" Pamitnya lalu menepuk bahu Noita sekilas. Ia juga memberikan senyuman manisnya.
Noita mengelus dadanya merasa tenang dan sedikit merasa bersalah. "Hampir saja aku kedapatan!" Bisiknya pada diri sendiri.
Gadis itu sendirian di dalam lift itu. Membuatnya sedikit menahan nafasnya. Ia memang belum pernah mengalami hal menakutkan selama hidupnya. Namun, sendirian didalam ruangan berbentuk persegi ini membuatnya sedikit paranoid.
Dari kejauhan, ia melihat Faint sedang berdiri. Namun, ia tidak sendirian. Ada orang di depannya, berdiri membelakangi Nath yang sedang berjalan cepat ke arah Faint.
"Faint, beruntung bagiku, karena kau menunggu aku disini. Noita menakutiku tadi. Ditambah di lift aku berdiri!" Ceritanya begitu ia sampai di sebelah pria berkepala plontos itu. Tanpa menghiraukan orang lain yang sedang berdiri bersama mereka sekarang.
"Nath, bagaimana jika kita hari ini pulang bersama Tuan Joseph? Kebetulan beliau menyetir sendiri!" Ujarnya tanpa menatap bola mata Nath.
Nath menjadi semakin penasaran. Hari ini, orang-orang dekatnya tampak sangat aneh sekali. Mereka menunjukkan gelagat seolah mereka menyembunyikan sesuatu yang amat penting.
"Aku dijemput mommy." Ujarnya seraya memalingkan wajahnya. Kemudian menjumpai wujud pria yang ia hindari selama ini. Tiba-tiba ia merubah rencananya sekejab.
"Dimana mobilnya? Itu kan. Baiklah aku duluan masuk!" Ujarnya saat melihat ada mobil mewah keluaran terbaru
jauh dari tempat mereka berdiri.
Joseph, pria itu memperhatikan gadis itu dengan bingung. Faint yang sudah mengetahui keadaan kemudian berdehem.
"Itu adalah papa Nona Nath!" Ujarnya membuat Joseph, pria itu terkejut dengan sangat.
Bahwasanya pria tua itu adalah dokter pribadi kepercayaan keluarga mereka. Mengapa ia tidak mengetahui informasi sepenting itu? Mungkin ia harus memarahi August nanti karena sudah memberikan informasi yang kurang lengkap.
"Tuan Trenton? Rupanya anda. Kupikir aku salah lihat!" Ujar Johan nama dari papa
Melihat Nath yang menghindari papanya membuat pria itu berfikir jika ada sesuatu pada mereka.
Ia hanya memberikan senyumnya kemudian menyuruh Faint lewat isyarat tatapan matanya untuk mengikuti ia.
"Maaf, kami pergi dulu!" Izinnya.
Memasuki mobil, ia sedikit tertegun mendapati Nath tengah berusaha menghapus air matany dari matanya yang sudah mulai sembab itu.
Faint kemudian menyetir mobil itu. Ia melihat gadis itu dari kaca depannya. Harap-harap cemas jika gadis itu meledak lagi seperti yang sudah-sudah.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Josh hati-hati. Melihat gadis itu menangis membuat ia geram sendiri. Entah apa yang dilakukan pria tua itu hingga membuatnya sampai seperti ini.
"Tidak apa-apa sir. Ini hanya kebiasaan lama!" Ujarnya dingin.
Jika sudah begitu, artinya ia tidak ingin ditanyai lebih lanjut. Ia tidak akan memberikan celah bagi orang asing untuk memasuki kehidupannya. Bukan sembarang orang bisa melakukan apapun sesuka hati mereka. Terkadang, apa yang dilihat mata tidak sesederhana kejadian nyatanya.
Dahulu sekali, ia juga pernah memiliki seorang spesial dihatinya. Yang membuat ia hangat dan periang. Namun, sang penggoda datang mengambil semuanya darinya.
Kejadian itu kemudian terulang dengan perbuatan papanya yang diluar batas. Luka lamanya yang belum sembuh akhirnya harus tersayat lagi. Lagi dan lagi.
Kejadian yang mau tak mau membuat Nath menjadi wanita yang seperti sekarang. Keras kepala dan sangat menjaga batasan.
Mommynya selalu menyuruh Nath untuk menghadiri blind date dan beberapa pesta-pesta kaula muda. Namun, ia terlalu asing dengan itu semua. Beberapa orang menyebutnya kolot. Namun, itu adalah pilihannya.
Ia hanya akan mendatangi clum malam jika ia sedang mood saja. Meski tidak sering bersosialisasi, namun Nath begitu dikenal oleh orang-orang.
"Nath, apa kau ke apartemen atau ke rumah Mommy mu?" Tanya Faint memecah keheningan itu.
"Antarkan aku ke rumah Mommy. Barang-barangku tinggal disana semua!" Ujarnya setelah berhasil menetralkan deru nafasnya.
"Apa aunty ada di rumah?" Tanya nya lagi.
"Sejak kapan kau jadi se cerewet itu?" Sindir Nath mulai memberikan tatapan tidak sukanya.
Faint hanya mengeluarkan kekehan kecilnya menanggapi seperti biasa.