Bab 1

Nathasia Marieta, gadis yang kerap disapa Nath itu menyisir rambut lurus sepinggang nya dengan telaten. Setelah dirasa rapi, ia keluar dari kamarnya lalu menuruni anak tangga. Di meja makan, ia sudah melihat sang panutannya sedang memakan sarapannya dengan begitu elegan. Pemandangan yang sama setiap paginya yang selalu ia dapatkan.

"Mom, apa pria tua itu menemui mom lagi?" Tanpa basa-basi Nath duduk di kursi yang ada di depan Mommynya.

Ia meminum segelas susu putih kesukaannya.

"Dia tidak akan menyerah. Tapi, aku juga akan mengeraskan hatiku!" Ujarnya sombong.

Diana Webster. Seorang wanita yang usianya hampir setengah abad itu mengambil tissu kemudian membersihkan mulutnya dari sisa makanan yang menempel. Ia dan suaminya sudah berpisah sejak dua tahun yang lalu. Penghianatan yang dilakukan oleh suami tercintanya membuat ia muak dan sangat sakit hati tentu saja. Dia pikir suaminya yang kelihatan baik itu tidak tahu menyimpang. Nyatanya, yang kelihatan baik belum tentu benar-benar baik.

Akibat perceraian yang terjadi sekitar dua tahun silam, membuat Nath, gadis belia itu membenci mahluk yang namanya pria. Rasa trauma membuat dirinya selalu membatasi diri jika berdekatan dengan pria. Begitu juga di tempat ia bekerja. Ia tidak pernah benar-benar memiliki teman yang dekat dengannya. Ia selalu membatasi diri untuk itu.

"Kemarin, dia mendatangiku ke kantor. Bisa mommy bayangkan kan? Dia berlagak seperti papa yang baik. Bahkan, ia seperti sudah tidak memiliki harga diri lagi jika mengingat perlakuannya dahulu!" Mengingat kejadian tiga hari lalu membuat Nath kembali kesal lagi.

Bagaimana tidak, ia yang selama ini berusaha mati-matian menyembunyikan identitas dirinya malah bocor hanya karena ulah papanya yang sungguh menyebalkan itu.

"Berani sekali dia? Apa dia sudah tidak punya wajah lagi?" Gerutu Diana.

"Jadi, bagaimana pekerjaan mu? Kau tidak ingin resign? Mommy siap merekrut kamu jika ingin keluar dari sana!" Bujuk Mommynya seperti yang terjadi sudah-sudah.

Sebenarnya, itu tawaran yang sangat menarik. Tetapi, Nath ingin bekerja dengan jujur. Ia tidak ingin masuk kantor hanya karena koneksi. Itu justru memperburuk citranya sebagai

seorang wanita workaholic. Nath ingin mencoba hidup mandiri tanpa harus bergantung pada oranglain terlebih Mommynya.

Mommynya memang memiliki perusahaan yang bergerak di bidang tekstil. Bidang yang sama sekali bukan jurusannya. Nath hanyalah seorang pegawai kantoran. Perusahaan yang merekrutnya merupakan salah satu perusahaan terbesar di Negaranya. Dan ia bekerja di bidang akuntan. Bidang yang membuat wajahnya jarang tersorot oleh orang-orang kantor.

Itu sebabnya ia menyukainya. Nath tidak terlalu senang menjadi bahan perhatian orang-orang. Meski ia sering mengalaminya. Ia juga selalu mengenakan kacamata bulat ke kantornya untuk menambah kesan santai di setiap penampilannya. Ia tidak ingin penampilannya terlampau mencolok sehingga menjadi perhatian banyak orang.

"Aku akan resign setelah mengumpulkan uang yang sangat banyak!" Ujarnya tanpa ragu.

Jam masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor. Jadi, ia ingin menghabiskan waktunya pagi ini bersama mommy cerewetnya.

"Kau tidak ingin menikah?" Tanya Diana lagi.

"Dan akhir yang aku dapatkan adalah perceraian seperti mommy dan papa? Big No. Nath nggak sudi!" Tolaknya seraya menggelengkan kepalanya cepat.

"Memiliki Mommy di hidupku sudah membuat aku merasa lengkap. Aku juga sudah tidak butuh pria lagi di hidupku. Hidupku terlalu berharga hanya untuk sebuah perceraian!" Lajutnya lagi. Dengan begitu, Diana hanya diam saja. Ia rasa ia sudah tak memiliki pembelaan lagi. Perkataan Nath putri tunggal nya itu memang benar. Untuk apa menikah jika hanya berujung perceraian.

"Kamu benar Nath sayang. Kadang mommy menyesal jika mengingat perlakuan papamu dulu. Namun, saat melihat kamu sudah sebesar ini, membuat Mommy bersyukur. Dan Mommy punya kamu. Kamu adalah alasan mengapa Mommy tidak menyerah dalam hidup ini!" Ujarnya haru.

"Jangan sedih mom. Sudahlah, aku akan terlambat jika mommy bersedih seperti ini!" Nath kemudian mengecup pipi Mommynya kemudian sedikit berlari mengambil mobilnya di garasi.

Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya karena kaca yang ia biarkan terbuka.

Setelah sampai di parkiran, Nath berjalan seraya menenteng Tote bag yang senantiasa ia bawa itu. Didalamnya hanya ada ponsel dan laptopnya. Tidak ada bekal siang atau apapun itu.

Ia terbiasa makan di kantin perusahaan. Yang harganya lumayan irit. Hingga ia bisa menabung uangnya.

Ia memasuki lift yang hampir tertutup itu dengan setengah berlari meluruskan tangannya. Dua orang pria di dalam lift itu, yang Nath sendiri tidak tahu namanya memandangnya dengan kerutan di dahi. Terlebih seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya. Namun, Nath tak menghiraukan itu. Ia terlalu sibuk untuk hal-hal seperti itu.

"Apa anda pegawai disini?"

Nath sedikit tersentak mendengar nada bariton pria itu menyapanya. Sebenarnya ia tak ingin menjawab. Hanya saja, ada sesuatu di dalam dirinya yang mendorong agar menjawab pertanyaan pria itu.

"Ya. Kau juga pegawai disini?" Nath sedikit memutar badannya demi bisa melihat pria itu.

Nath bisa menebak jika pria itu bukanlah pegawai atau semacamnya. Dilihat dari penampilannya yang terlihat rapi dan bukan seperti orang sembarangan.

Seorang pria yang berdiri di belakang orang yang menyapanya tadi ingin menjawab. Namun di hentikan oleh temannya itu.

"Bukan. Aku memang bekerja disini. Tapi, bukan seorang pegawai!" Jawab pria itu lagi.

Kerutan di dahi Nath sedikit jelas. "Baiklah. Senang bertemu denganmu!" Ucap Nath lalu kembali ke posisinya semula.

Pria itu menatap Nath dari belakang dengan intens. Ucapan yang dilontarkan Nath tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya yang begitu dingin, seolah ada tembok yang menahannya.

Ia berkata senang, namun wajahnya tidak menyertakan senyuman sebagai pelengkap di kalimat akhirnya. Terlebih lagi jika tatapan mata gadis itu adalah tatapan mata yang merasa bosan. Bukan tatapan memuja seperti yang biasa ia dapatkan dari wanita-wanita di sekelilingnya.

Pria itu melihat jika gadis itu berhenti di lantai 25. Lalu ia keluar setelah memberikan senyuman sarkastik nya.

"Selidiki segalanya tentang gadis itu!" Perintahnya mutlak. Gadis itu sudah menarik atensinya. Dan ia tidak suka perasaan itu. Seharusnya ia yang mendominasi. Bukan gadis kecil itu.

"Baik tuan!" Jawab sang ajudan yang masih setia berdiri di belakangnya.

"Mungkin ia bekerja di bidang akuntan. Nanti, perintahkan kepala divisi itu untuk menghadap ku!" Lanjutnya lagi.

Kedua orang itu berhenti di lantai paling akhir di gedung itu. Salah satu gedung pencakar langit yang paling tinggi di kota itu.

Dari ketinggian itu, seluruh ibukota serasa mampu ia genggam. Maka, ia tak akan membiarkan semut apapun mengusiknya. Auranya adalah sebuah bukti kepemimpinan.

Dia adalah Joseph Trenton. Pemilik serta pendiri Trenton corp. Pengusaha muda paling sukses di negaranya. Serta mulai menyebarkan taringnya ke beberapa negara tetangga dan negara-negara maju.

Bab 2

Joseph Trenton. Pria yang kerap di sapa Josh itu memulai rapatnya dengan keheningan yang menguasai ruangan kedap suara itu. Disana, ia juga dapat melihat binar mata keterkejutan dari seorang perempuan yang duduk di sudut meja bersama seorang pria di sebelahnya.

Ia memperkenalkan diri sebagai seorang CEO baru sekaligus putra tunggal dari pendiri perusahaan itu. Beberapa orang tampak terkejut, namun tidak ada yang berani untuk sekedar.

Dengan begitu, Joseph merasa semakin tinggi pula tingkat kepercayaan dirinya.

"Kepala departemen keuangan silahkan tinggal di ruangan ini. Kecuali yang saya sebut tadi, kalian bisa keluar!" Perintah mutlak Joseph.

Nathasia dan Alex teman prianya menahan nafas sebentar. Sudah pasti akan ada penyelidikan. Tetapi, mereka tidak khawatir. Karena setahu mereka, keduanya tidak pernah melakukan kasus korupsi. Jadi, tidak ada yang perlu di takutkan. Mereka hanya takut sesaat saja.

"Menurut mu? Kira-kira kenapa bos baru kita memanggil kita?" Bisik Alex sesaat setelah beberapa orang mulai meninggalkan ruangan. Tersisa hanya mereka bertiga.

"Aku tidak tahu. Sebaiknya kau tutup saja mulut manismu itu, kemudian mari kita berdiri!" Ujar Nath mendelik karena Alex terlalu berisik.

Kedua orang berbeda jenis itu melangkah ke hadapan Joseph yang sudah duduk di atas kursi kebesarannya. Auranya adalah sebuah bentuk kepemimpinan yang kuat. Aroma jantan menguat kuat dari dalam tubuhnya. Nath merasa ia diperhatikan sedemikian intens, hingga membuat ia merinding sesaat.

"Apa ketua departemen keuangan memang ada dua?" Josh menaikkan sebelah alisnya melihat kedua orang itu. Ada nada tak suka yang terselip.

"Bukan sir. Dia adalah wakilku. Dan dia harus selalu ikut denganku!" Jawab Alex gugup seraya menyenggol tangan Nath yang sedang ia remas.

Josh memperhatikan itu hingga membuat dirinya sedikit merasa kepanasan.

"Apakah ada peraturan yang mengatakan jika ketua dan wakil itu harus selalu bersama?" Ulangnya lagi merasa kesal. Ia merasa kurang beruntung karena bukan dia yang duluan mengenal si cantik Nath. Melainkan pria sialan ini.

"Kami memang selalu seperti itu sir. Bahkan, tuan Harry sudah tahu itu dari awal sekali!" Jelas Alex. Sangat jelas jika ia merasa gugup setengah mati. Belum lagi tatapan mata singa bosnya itu seakan mengintainya bagai sasaran empuk yang siap di santap.

Menyadari tatapan aneh dari bosnya yang mulai aneh itu, yaitu ke arah bawah, jemari mereka yang saling bertautan membuat ia buru-buru melepaskannya. Membuat Nath tersentak. Lalu menginjak kaki Alex dengan hills nya.

"Auuuhhh, kau menginjak kakiku bodoh!" Umpat Alex spontan.

Bukan dengan sengaja Nath melakukannya. Ia hanya terkejut, dan itu adalah gerakan refleks nya.

"Maaf sir. Tapi, pak Alex mengejutkanku!" Kali ini, Nath mengeluarkan suaranya yang lembut.

Joseph Trenton, pria itu seakan merasa terhipnotis mendengar alunan lembut suara Nath menyapa indra pendengarannya.

"Kurasa, kita pernah bertemu. Kau wanita yang di lift tadi bukan?" Tanya Josh berbasa-basi.

Ingin sekali gadis itu memutar bola matanya. Namun, ia urungkan karena Nath masih sangat membutuhkan pekerjaan ini. Selain gajinya yang lumayan cukup besar, ia juga bisa makan enak di kantin dengan gratis dan tenang.

"Benar sir. Kalau begitu, jika sudah tidak ada yang diperlukan, kami permisi dulu. Selamat pagi Sir!" Nath ingin segera mengakhiri percakapan konyol itu.

Ia sungguh tidak suka dengan obrolan tanpa akhir. Sangat aneh melihat bosnya itu hanya memanggil mereka untuk sekedar berkenalan saja. Itu terlalu membuang-buang waktu dan tenaga. Sangat bukan Nath sekali.

Setelah memasuki ruangannya dan duduk di mejanya, seorang pria berkacamata yang kerap disana Boby menghampiri meja Nath.

"Apa pak bos melakukan sesuatu pada kalian berdua? Lihatlah wajah menyedihkan Alex. Sepertinya dia teraniaya!" Cemooh Boby.

Pria gendut itu memang hobi mencaci teman sedivisinya. Sepertinya harinya tidak lengkap jika ia tidak bergosip ria.

"Kenapa kau tidak tanyakan saja pada dia? Bukankah dia kekasih mu?"" Sembur Nath jengkel. Boby selalu tahu, bagaimana cara merusak hari seseorang. Selain bergosip, ia juga pandai membuat kesal.

Alex tertawa puas melihat wajah merah padam Boby. Namun, ia urungkan melihat tatapan maut yang Nath layangkan untuknya.

"Kau ketua. Jadi, atur anggotamu agar disiplin!" Sembur Nath lagi.

"Kau jangan suka marah-marah Nath. Hanya kau perempuan di divisi ini. Aku tidak bisa membayangkan jika kau keluar dari perusahaan ini!" Ujar Boby sarat makna. Ia memberikan senyuman palsunya. Yang sayangnya, Nath tahu arti dari senyuman konyol itu.

"Doamu tidak akan dikabulkan. Aku akan keluar jika sudah menikah!" Semburnya galak.

"Kau bilang kau tidak ingin menikah!" Timpal Alex dari sebelah.

"Itu berarti, aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuk Trenton corp saja!" Jawab Nath kemudian. Membuat ke-empat orang pria yang berada diruangan itu membuang nafas panjang.

Namun, meski begitu, keempat pria itu sangat menyayangi Nath seperti seorang adik kecil. Meski mulut Nath terkadang sangat kurang didikan, mereka tahu bahwa itu adalah luapan dari sebagian emosi yang ia tahan selama ini.

Mereka tahu, jika sifat keras kepala Nath berasal dari perceraian kedua orangtuanya. Mereka sedikit mengetahui cerita jalan hidup Nath, karena gadis itu kerap bercerita tentang dirinya.

"Nath sayang, apa kau akan makan siang di kantin?" Tanya Kings. Pria dengan setelan baju yang paling rapi di divisinya. Pria muda yang memiliki ambisi yang kuat pula. Ia mendedikasikan dirinya untuk bekerja di perusahaan ini karena ia mengatakan jika visi misi perusahaan ini membuatnya terinspirasi.

Terkadang, Nath ingin memukul kepalanya karena merasa gemas dengan jalan pikiran pria itu.

"Tentu saja. Selain gratis, disana makanan nya juga enak dan bergizi." Jawabnya penuh dengan kejujuran tanpa filter sedikitpun.

"Selain keras kepala, ternyata kau juga sangat perhitungan!" Sindir Boby.

"Tutup saja mulutmu itu. Kau juga suka kan, makan di kantin. Aku bahkan sering melihat mu menambah porsi makan siangmu lebih besar dari yang seharusnya!" Jelas Nath membuat mereka terkekeh.

"Kau memang adik kecilku yang manis. Aku belajar banyak darimu!" Kekehnya ringan.

Nath kemudian tak menanggapi lagi omongan keempat pria sinting itu. Disini, hanya dia yang normal. Keempat pria itu memiliki selera humor yang sama.

Ia juga tidak mengerti mengapa hanya ia yang menjadi seorang perempuan di sini. Beruntung, ke empat pria itu selalu berbuat baik padanya. Meski tidak bisa ditampik jika omongan mereka terkadang harus membuatnya mengelus dada.

Tapi, itu lebih baik. Daripada harus berteman dengan orang lain di luar divisinya. Itu adalah hal yang selalu Nath berusaha hindari.

Ia sangat suli untuk bergabung dengan teman yang belum akrab dengannya. Ia selalu membatasi diri untuk itu.

Bab 3

Matahari sudah kembali ke peraduannya. Kesibukan orang-orang yang bekerja sudah mulai berkurang. Hanya beberapa orang saja yang sedang tergesa-gesa dikejar waktu.

Berbeda dengan Nath. Gadis itu sedang bermalas-malasan di depan komputernya yang masih menyala. Padahal jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Gadis itu memandang dekstop komputernya tanpa minat sama sekali.

"Kau belum pulang Nath?" Tanya Boby yang sudah menenteng tasnya dan botol air mineral yang kerap itu bawa itu.

"Belum. Aku tidak ingin bertemu pria tua itu!" Jawabnya malas.

Perihal papanya yang kerap menjumpai dia, temannya se tim sudah mengetahui itu. Terkadang mereka harus berbohong kepada pria itu demi Nath seorang.

Nath akan mengancam mereka dengan keahliannya jika ke-empat orang itu tidak menurut dan berani membantahnya.

"Ya sudah. Kalau begitu aku duluan!" Pamit Boby meninggalkan Nath sendirian. Sedang teman yang lain sudah pamit pulang lebih awal.

Nath mengenakan kacamata berbentuk persegi berwarna hitam. Kacamata yang ia baru beli sekitar dua hari yang lalu di toko kacamata. Akhir-akhir ini, penglihatannya sering rabun, dan juga kepalanya sering pening. Namun, ia terlalu malas untuk memeriksanya ke rumah sakit.

Papanya yang seorang dokter sekaligus pengusaha itu adalah alasan utamanya mengapa ia tak mau menginjakkan kakinya ke rumah sakit.

Ponselnya berdering di samping lengannya yang bertumpu pada meja. Ia membalik ponselnya sekedar melihat namanya.

"Faint mencarimu princess. Katanya dia belum melihatmu keluar dari gedung itu!" Suara Kings memasuki indra pendengarannya begitu ia menggeser tombol hijau di layar datar itu.

"Sebentar lagi. Ada apa?" Tanya Nath lagi.

"Katanya, dia menunggumu di loby. Tumben sekali anak itu. Apa kalian punya hubungan gelap?" Kekeh Kings seperti biasa selalu saja usil dan sok tahu. Kloningan dari Boby si pria super cerewet

"Awas saja kau membuat gosip yang aneh-aneh di grup anak-anak kantor nanti!" Ancam gadis itu seraya mematikan ponselnya.

Ia merapikan anak rambutnya yang berjatuhan di dahinya. Lalu mengambil botol minuman kosongnya dari lokernya.

"Loh, Bu Nathasia belum pulang?" Sapa Noita. Seorang anak magang yang baru masuk satu bulan yang lalu.

Noita kerap menyapanya karena perbedaan usia mereka hanya selisih dua tahun.

"Ini sudah diluar jam kantor Noi, panggil aku kakak saja. Aku masih terlalu tua untuk panggilan yang kau sebutkan tadi!" Ingatkan Nath untuk semakin memperbanyak stok kesabarannya terhadap orang-orang di sekelilingnya.

"Kau dari ruangan CEO baru kita?" Nath menaikkan alisnya melihat gelagat mencurigakan yang ditunjukkan oleh gadis cantik itu, yang sayangnya lebih tinggi dari dia.

"Mmmm, bukan kak. Aku hanya kebetulan lewat saja!" Jawabnya tergagap.

"Tidak apa-apa juga jika kau kesana. Ya sudah, aku pulang dulu ya!" Pamitnya lalu menepuk bahu Noita sekilas. Ia juga memberikan senyuman manisnya.

Noita mengelus dadanya merasa tenang dan sedikit merasa bersalah. "Hampir saja aku kedapatan!" Bisiknya pada diri sendiri.

Gadis itu sendirian di dalam lift itu. Membuatnya sedikit menahan nafasnya. Ia memang belum pernah mengalami hal menakutkan selama hidupnya. Namun, sendirian didalam ruangan berbentuk persegi ini membuatnya sedikit paranoid.

Dari kejauhan, ia melihat Faint sedang berdiri. Namun, ia tidak sendirian. Ada orang di depannya, berdiri membelakangi Nath yang sedang berjalan cepat ke arah Faint.

"Faint, beruntung bagiku, karena kau menunggu aku disini. Noita menakutiku tadi. Ditambah di lift aku berdiri!" Ceritanya begitu ia sampai di sebelah pria berkepala plontos itu. Tanpa menghiraukan orang lain yang sedang berdiri bersama mereka sekarang.

"Nath, bagaimana jika kita hari ini pulang bersama Tuan Joseph? Kebetulan beliau menyetir sendiri!" Ujarnya tanpa menatap bola mata Nath.

Nath menjadi semakin penasaran. Hari ini, orang-orang dekatnya tampak sangat aneh sekali. Mereka menunjukkan gelagat seolah mereka menyembunyikan sesuatu yang amat penting.

"Aku dijemput mommy." Ujarnya seraya memalingkan wajahnya. Kemudian menjumpai wujud pria yang ia hindari selama ini. Tiba-tiba ia merubah rencananya sekejab.

"Dimana mobilnya? Itu kan. Baiklah aku duluan masuk!" Ujarnya saat melihat ada mobil mewah keluaran terbaru

jauh dari tempat mereka berdiri.

Joseph, pria itu memperhatikan gadis itu dengan bingung. Faint yang sudah mengetahui keadaan kemudian berdehem.

"Itu adalah papa Nona Nath!" Ujarnya membuat Joseph, pria itu terkejut dengan sangat.

Bahwasanya pria tua itu adalah dokter pribadi kepercayaan keluarga mereka. Mengapa ia tidak mengetahui informasi sepenting itu? Mungkin ia harus memarahi August nanti karena sudah memberikan informasi yang kurang lengkap.

"Tuan Trenton? Rupanya anda. Kupikir aku salah lihat!" Ujar Johan nama dari papa

Melihat Nath yang menghindari papanya membuat pria itu berfikir jika ada sesuatu pada mereka.

Ia hanya memberikan senyumnya kemudian menyuruh Faint lewat isyarat tatapan matanya untuk mengikuti ia.

"Maaf, kami pergi dulu!" Izinnya.

Memasuki mobil, ia sedikit tertegun mendapati Nath tengah berusaha menghapus air matany dari matanya yang sudah mulai sembab itu.

Faint kemudian menyetir mobil itu. Ia melihat gadis itu dari kaca depannya. Harap-harap cemas jika gadis itu meledak lagi seperti yang sudah-sudah.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Josh hati-hati. Melihat gadis itu menangis membuat ia geram sendiri. Entah apa yang dilakukan pria tua itu hingga membuatnya sampai seperti ini.

"Tidak apa-apa sir. Ini hanya kebiasaan lama!" Ujarnya dingin.

Jika sudah begitu, artinya ia tidak ingin ditanyai lebih lanjut. Ia tidak akan memberikan celah bagi orang asing untuk memasuki kehidupannya. Bukan sembarang orang bisa melakukan apapun sesuka hati mereka. Terkadang, apa yang dilihat mata tidak sesederhana kejadian nyatanya.

Dahulu sekali, ia juga pernah memiliki seorang spesial dihatinya. Yang membuat ia hangat dan periang. Namun, sang penggoda datang mengambil semuanya darinya.

Kejadian itu kemudian terulang dengan perbuatan papanya yang diluar batas. Luka lamanya yang belum sembuh akhirnya harus tersayat lagi. Lagi dan lagi.

Kejadian yang mau tak mau membuat Nath menjadi wanita yang seperti sekarang. Keras kepala dan sangat menjaga batasan.

Mommynya selalu menyuruh Nath untuk menghadiri blind date dan beberapa pesta-pesta kaula muda. Namun, ia terlalu asing dengan itu semua. Beberapa orang menyebutnya kolot. Namun, itu adalah pilihannya.

Ia hanya akan mendatangi clum malam jika ia sedang mood saja. Meski tidak sering bersosialisasi, namun Nath begitu dikenal oleh orang-orang.

"Nath, apa kau ke apartemen atau ke rumah Mommy mu?" Tanya Faint memecah keheningan itu.

"Antarkan aku ke rumah Mommy. Barang-barangku tinggal disana semua!" Ujarnya setelah berhasil menetralkan deru nafasnya.

"Apa aunty ada di rumah?" Tanya nya lagi.

"Sejak kapan kau jadi se cerewet itu?" Sindir Nath mulai memberikan tatapan tidak sukanya.

Faint hanya mengeluarkan kekehan kecilnya menanggapi seperti biasa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED