Tekad kuat kepindahan Ganis dari Yogyakarta ke Jakarta, karena sudah diterima bekerja di perusahaan kontraktor PT Multi Karya tbk. Sebuah perusahaan yang sedang berkembang, walau belum dikatakan jadi besar, tapi prospeknya cukup menjanjikan.
Mila teman satu kelas saat kuliahnya dulu, yang memberitahukan ada lowongan kerja di perusahaan di mana ia bekerja. Mereka sangat membutuhkan seorang desain interior yang sesuai dengan keahliannya, setelah menimba ilmu dengan susah payah selama ini.
Ganis tidak ingin untuk terus jadi penata dekorasi di sebuah EO. Selain gajinya yang tidak begitu besar, meski hampir mirip-mirip, ia merasa itu bukan bidangnya.
Pertama masuk kerja, Ganis diperkenalkan pada CEO yang bernama Felix. Seorang yang masih muda, tampan dan punya kharisma. Ia disambut dengan senyum ramahnya, sama sekali tidak ada kesan seramnya. Seperti biasa ia temui, bila berhadapan dengan para petinggi perusahaan.
Felix membawanya ke sebuah ruangan besar, dengan orang-orang yang memiliki meja kerjanya masing-masing. Di tengah-tengahnya ada meja panjang, mungkin untuk rapat kecil yang mereka adakan setiap harinya.
Felix memperkenalkan Ganis kepada mereka. Tak ada yang ia kenal, kecuali satu orang, yaitu Mila.
Mila langsung memeluknya. "Selamat bergabung dengan kita, Nis." ucapnya dengan senyuman yang tampil di wajahnya yang memang manis.
"Terima kasih, Mil. Berkat kamu, aku diterima bekerja di perusahaan ini."
"Karena aku membutuhkan teman, Nis. Aku sudah keteteran mengerjakan tugas proyek yang seabrek, jadi aku merayu Felix untuk segera menerima lamaran kerja kamu." liriknya pada Felix dengan senyumnya.
Kemudian Mila mengurai pelukan sahabatnya itu, lalu menatap wajahnya dengan perasaan kagum. "Kamu terlihat semakin cantik, Nis." sorot matanya menilai-nilai, karena sudah dua tahun tidak bertemu. Sejak menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta, mereka belum bertemu kembali.
"Terima kasih, Mil. Telah mengingatku." Wajah cantik Ganis, menunjukan rasa terima kasih yang tak terkira, membuat Mila kembali tersenyum.
"Sama-sama, Nis. Karena kamu adalah sahabat terbaikku." Lalu Mila menggandeng Ganis. "Aku akan memperkenalkan kamu pada para ahli di sini." Mila membawanya berkeliling untuk mendatangi setiap meja. Memperkenalkan Ganis, ke rekan-rekan yang ada diruangan itu.
satu per satu Ganis menyalaminya. Wajah-wajah yang sangat ramah, mungkin sekitar tujuh orang, tidak begitu banyak.
"Aku Aldy. Selamat bergabung di Divisi Site Engineer, tempat berkumpulnya para desainer perusahaan. Ada tiga orang arsitektur bangunan, satu orang arsitektur lanskap, surveyor dan arsitektur interior yang tiada lain adalah temenmu, Mila." tunjuknya kepada orang-orang yang disebutkan profesinya. "Jangan takut kepada wajah-wajah seram mereka. Mila yang satu-satunya wanita di sini saja, merasa aman dan sentosa." gurau Aldy dengan wajah jenakanya.
Semua tersenyum, tidak aneh dengan orang yang satu ini.
"Lo, gak pernah buang-buang kesempatan, ya, Al? Ingat aja sama bini lo yang di rumah." seloroh Felix, sambil menyenderkan bokongnya di meja panjang itu.
"Di sini gue bujangan, di rumah laen lagi. Lo, gak perlu ribut-ribut gitulah, Fe." kilahnya sambil terkekeh.
"Udah deh, kalian kalau udah bercanda gini, gak bakalan ada selesainya." Mila mengingatkan mereka. "Ayo, Nis. Ini mejamu, di sebelahku." ia menarik Ganis, ke meja yang masih kosong.
"Terima kasih, Mil." tatapnya pada Mila, kemudian kepada semua yang ada di ruangan itu. "Terima kasih atas penerimaan yang baik kepada saya, semoga saya tidak mengecewakan. Mohon kerjasama dan bimbingannya." sedikit membungkukan tubuhnya, Ganis tersenyum, lalu duduk di samping Mila.
Felix menatapnya, merasa ada yang menarik di diri wanita itu. Bukan karena kecantikannya saja, tetapi dia menangkap sesuatu hal lain yang bagi dirinya sendiri belum tahu apa itu.
"Ya sudah, kita telah menambah tenaga baru kita di desain interior. Semoga Ibu Ganis betah bekerjanya di sini, dan kalau butuh bantuan pasti kita pun akan siap membantu. Selamat bekerja, Bu Ganis." kata Felix dengan sopan, sebelum berlalu dari ruangan.
Suasana kembali sepi, Mila sedang menjelaskan kepada Ganis, soal pekerjaannya.
"Jadi ini, Mil? Yang di ceritakan itu?" Seorang lelaki yang baru datang ke ruangan, menghampiri Ganis, sambil mengulurkan tangan. Lumayan ganteng, berkulit agak gelap dengan tinggi sedang. Tidak seperti Felix yang kayak tiang listrik, saking tinggi dan kurusnya.
Mila langsung menoleh pada sumber suara itu. "Iya, Bram. Perkenalkan temanku Ganistra Yunatha, biasa di panggil Ganis." jawabnya ceria.
Ganis menyambut uluran tangannya dengan senyuman di bibir. "Bram" terdengar suara Bass-nya. "Semoga betah, ya?"
Ganis menganggukan kepalanya. "Terima kasih. Saya akan berusaha bekerja dengan baik." ucapnya.
Bram melangkah menuju meja kerjanya yang berada di samping Aldy, tanpa banyak basa-basi lagi.
"Perusahaan kita belum bisa dikatakan hebat, Nis. Seperti perusahaan lain yang sudah terlebih dahulu bergerak dalam bidang ini. Namun, proyek yang kita pegang sudah lumayan banyak, jadi siap-siap saja ke depannya kita akan sibuk. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik." Mila kembali melanjutkan penjelasannya yang sempat terjeda tadi, karena kedatangan Bram.
Mata Ganis berbinar. Ia merasa senang, karena bisa langsung di beri kepercayaan oleh Mila. Mereka akan melakukan tugas secara bersama-sama.
"Kamu sudah lebih berpengalaman, Mil. Tolong bantu aku, ya?"
"Untuk orang sepintar kamu, aku tidak merasa khawatir, Nis. Kamu pasti bisa."
"Aku dengar dari Mila, kalau kamu lulus dengan nilai cum laude, ya?" tanya Bram.
Ganis meliriknya, "Duh, Pak Bram. Kemakan iklan Mila, jadinya." jawab Ganis sambil tertawa.
"Tapi itu memang kenyataan, makanya aku berani merekomendasikan nama Ganis ke perusahaan." jawab Mila, sambil memberikan sebundel dokumen kepadanya. "Kamu bisa mempelajari ini dulu, Nis. Sebelum rapat kita nanti" ucap Mila, mengedipkan sebelah matanya.
Aldy berdecak, "Katanya temen, tapi baru saja masuk sudah diberi sebundel dokumen gitu. Temen apa temen nih?"
Mila mendelikkan matanya ke arah Aldy. "Sudah sebulan ini sejak Reno resign, aku bekerja sendirian. Wajar saja bila pekerjaanku jadi menumpuk. Beruntung Felix mendengarkan keluhanku, untuk mendapatkan penggantinya."
Aldy malah terkekeh, senang mengganggu Mila.
Setahu Ganis, Mila belum menikah. Dulu semasih kuliah sempat berpacaran dengan seorang laki-laki. Sempat bertemu beberapa kali, tapi setelah berpisah lama, tidak tahu lagi khabarnya bagaimana. Mila tidak pernah menyinggung-nyinggung lagi soal pacarnya itu. Dan mengenai pernikahan Ganis sendiri, tidak pernah diberitahukannya kepada Mila. Entahlah, Ganis merasa pernikahan yang dilakukan karena keluarga itu, tidak harus digembar-gemborkan.
Ganis mulai merasa nyaman di hari pertama ia bekerja, walaupun langsung disuguhi dengan pekerjaan yang cukup penyita perhatiannya. Tidak menjadikannya patah semangat, karena memiliki team yang sangat handal di bidangnya masing-masing.
Seminggu berlalu, ia semakin akrab dengan rekan-rekan kerjanya. Mulai mengenal pribadi dari masing-masing orangnya. Seperti Aldy yang tukang bercanda, tapi sangat serius bila sedang bekerja. Bram yang agak pendiam, tapi sangat perhatian bila ia butuh pendapatnya dan Mila cukup andal, sangat terlihat profesional melakukan tugasnya.
Begitupun dengan Felix yang sering bergabung dalam rapat-rapat kecil yang di adakan dalam team mereka.
Karena Felix juga merangkap jadi salah satu arsitek bangunan, bila benar-benar di butuhkan bantuannya. Mereka adalah empat serangkai dalam persahabatan, sejak sama-sama menimba ilmu di bangku kuliah. Felix, Aldy, Bram dan satu lagi, yaitu Direktur Utama di perusahaan itu. Yang belum muncul. (Sengaja author sembunyikan dulu ... biar Ganisnya seneng-seneng dulu.)
"Nis, sepertinya Felix agak menaruh perhatian lebih loh sama kamu." bisik Mila setelah rapat. Disaat ruangan kosong, sambil membereskan kertas-kertas kerjanya.
"Kamu selalu berkhayal dari dulu, seolah laki-laki selalu tertarik padaku, kenyataannya tidak, kan?" ucap Ganis datar.
"Kamu yang tidak berubah dari dulu, sikap dingin itu yang membuat laki-laki di sekelilingmu jadi penasaran. Namun, tak seorangpun yang dapat perhatian lebih darimu. Kenapa sih, Nis? Emang kamu tak pernah merasa tertarik gitu? Jangan-jangan kamu gak normal lagi." Mila menatapnya dengan heran.
"Ish! Aku normallah, aku 100% perempuan. Hanya waktu kuliah, aku terlalu fokus sama kuliah, hingga tak sempat untuk memikirkan hal lainnya." kelit Ganis.
"Satu tahun kamu sempat cuti kuliah dan akhirnya ketemu aku di kelas. Sebenernya aku ingin tanya dari dulu, kenapa kamu ambil cuti waktu itu? Tapi aku merasa belum berani menanyakannya." Benar saja, Ganis sepertinya enggan untuk menjawabnya.
Mila telah berdiri untuk bersiap-siap pergi. Sudah tiba dijam istirahat.
"Waktu itu, aku lagi ada masalah, Mil. Namun, aku belum bisa menceritakannya padamu." ungkap Ganis serius.
"Maafkan aku yang kepo ini ya, Nis. Bukan bermaksud untuk mau mencampuri urusan pribadimu, hanya aku agak penasaran sama sikapmu yang agak misterius itu."
"Misterius, Kamu bilang?" Ganis malah tertawa.
"Tanpa kamu sadari, orang-orang yang ada di dekatmu menganggapnya begitu. Kamu penuh misteri." Mila ikut tertawa jadinya.
"Aku sendiri merasa biasa-biasa saja, Mil." Ganis keluar dari ruangan dan Mila mensejajarkan langkahnya.
"Karena kamu cantik, Nis. Hanya tak ada yang bisa mendekatimu, karena sikapmu itu."
"Kamu juga cantik, Mil. Em ... bagaimana hubunganmu dengan cowok yang waktu itu jadi pacarmu? Aku tidak dengar lagi namanya disebut." tanya Ganis, balik bertanya.
"Tidak berlanjut, Nis. Dia ke luar negri. Tepatnya ke Jepang, untuk mengejar kariernya di sana. Awal-awal masih memberi kabar, tapi kemudian semakin jarang. Hubungan pun jadi semakin dingin dan akhirnya, aku memutuskan untuk berpisah. Tidak ada keberatan dari pihaknya. Jadi, ya, sudah. Berakhir dengan begitu saja."
"Dan belum berpacaran lagi sampai sekarang?" tanya Ganis mulai berani mengorek pribadi temannya ini.
"Nah mulai kepo kan?" Mila menatapnya jenaka, kemudian menyambung kalimatnya lagi. "Kita ini memang cukup aneh, bersahabat tapi tidak pernah mengungkapkan tentang masalah pribadi kita. Aku sendiri merasa takut untuk bertanya padamu, mungkin kamu juga begitu.
"Itu artinya, kita terlalu menenggang perasaan kita masing-masing, Mil. Yang penting hubungan kita tetap baik."
"Bener, Nis. Mulai sekarang kita tidak harus sungkan lagi, karena kita sudah dalam satu team pekerjaan."
"Kamu sahabat yang sangat baik, Mil. Aku sangat menghargai persahabatan kita ini." Mereka saling menatap sesaat, kemudian sama-sama tersenyum. "Kita akan makan di mana nih?" tanya Ganis.
"Seperti biasalah. Biar hanya warung nasi, tapi tempatnya bersih dan gak bikin bolong kantong kita." tawa Mila. Menggandeng tangan Ganis, menuju warung nasi yang tidak begitu jauh dari perusahaan tempat mereka bekerja. Selama makan, mereka terus mengobrol dengan asiknya.
"Perlu kamu tahu, Nis. Kalau Direktur Utama kita, sedang bertugas di luar kota. Jadi, kamu belum bertemu dengannya. Pasti kamu akan melihatnya nanti. Aku tidak akan menjelaskan sekarang gimana orangnya, kamu nilai aja sendiri nanti."
"Wah, emang kenapa orangnya?" Ganis malah jadi penasaran.
"Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata." ungkapnya tersenyum penuh misteri. "Namun, perlu kujelaskan juga, kalau perusahaan ini terbentuk dari persahabatan antara Derektur Utama dan Felix sebagai CEO-nya. Aldy juga Bram, mereka berempat berteman sejak kuliah."
"Oh." Ganis baru tahu.
"Perusahaan ini baru berjalan kurang lebih tiga tahun, Nis. Perkembangannya cukup pesat, sudah menangani beberapa proyek besar, di antaranya dua proyek yang sedang kita kerjakan itu."
"Aku tambah semangat jadinya, desainku sudah hampir jadi. Aku siap mempresentasikannya nanti, yang lainnya baru berupa konsep saja."
"Mantap! Aku lihat juga bagus, Nis. Semoga Dirut kita nanti bisa nerima ide-ide brilianmu itu."
"Kritis juga, ya? penilaian Dirut kita itu."
"Kamu siapkan mental aja, sangat tidak mudah untuk meyakinnya."
Ganis hanya termenung, 'Sesulit itukah?' tanyanya, dalam benak yang tak terungkap.
Ah, sendainya Ganis bisa meramal, apa yang terjadi di kemudian hari. Mungkin ia akan lari sejauh mungkin, sebelum terjadi.
Siapa Direktur Utama itu?
Ganis tidak begitu memikirkan kata-kata Mila soal Direktur Utama itu. Baginya yang penting, ia bekerja dengan sangat baik. Bisa menuangkan ide kreatifnya, sesuai dengan yang diinginkan oleh kliennya.
Sudah beberapa kali ia survey ke lapangan. Kadang di temani Mila, untuk mencari mebel yang sesuai dengan konsep gambarnya.
"Mil, sepertinya barang-barang mebel di sini lebih tinggi harganya dibanding di Yogya. Aku punya teman di sana, dia pengrajin mebel yang hasil kerjanya bagus dan bisa dipercaya." katanya kepada Mila, setelah keluar dari toko mebel yang cukup besar.
"Itu pasti, Nis. Aku sudah bekerja sama dengan beberapa pengrajin di daerah, dengan pikiran harganya lebih murah dan kita bisa pesan sesuai konsep kita. Namun, kadang terkendala sama waktu dan modal mereka yang tidak begitu memadai. Sehingga, kadang menghambat pekerjaan kita, karena barang yang kita inginkan belum tersedia tepat pada waktunya. Aku sudah mengalaminya beberapa kali. Jadi, aku lebih memilih ambil dari toko walau lebih mahal, tapi pasti." Mila menjelaskan.
"Oh, gitu ya?" renungnya.
"Akan tetapi, kamu boleh coba dulu menjalin kerjasama dengan temanmu itu. Kalau memang lancar, tentu saja tidak akan jadi masalah. Karena rata-rata pengrajin seperti mereka, hanya dikelola oleh perorangan, tapi ada juga yang yang sudah dikelola secara profesional. Aku akan rekomendasikan perusahaan mebel mana yang bisa kita ajak bekerjasama."
"Kamu memang temanku yang sangat baik. Terima kasih." Mila tersenyum.
"Tapi aku juga suka melihat-lihat ke toko-toko mebel seperti ini loh. Hanya sekedar mencari inspirasi, untuk sekali-kali menyelipkan sesuatu yang beda di desain interiorku."
"Hmm ... boleh juga tuh, Mil. Kita sebagai seorang desainer, tentu punya kebebasan untuk menuangkan ide kreatif kita. Kalau bisa diterima oleh klien kita, tidak ada masalah, kan?"
"Tentu saja, Nis. Aku sering menyarankan kepada klien, untuk tidak terlalu terpaku pada model yang diinginkan mereka." keduanya tertawa bersama.
"Yuk, kita cari makan, udah laper nih." Yang diangguki oleh Ganis, tanpa banyak kata lagi.
Mereka tiba di kantor, setelah jam makan siang berakhir.
Setiba di ruangan kerja, Aldy langsung berbicara pada Ganis. "Nis, di cari Felix tadi."
Ganis mengerutkan keningnya. "Ada apa, ya?"
"Aku gak tahu, dia gak ngomong. Hanya suruh ke kantornya aja, bila kamu sudah datang."
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
"Mungkin Felix sudah kangen sama kamu, Nis. Karena sudah dua hari ini, kamu kelayapan terus di luar." canda Mila.
Ganis hanya melirik Mila yang lagi nyengir, lalu melangkah menuju ruangan CEO yang ada di lantai satu.
Setelah mengetuk pintu, ia mendengar suara Felix yang mempersilahkannya masuk.
Begitu pintu terbuka, Ganis melihat Felix langsung berdiri dari kursi kebesarannya. "Akhirnya kamu kembali juga. Bagamana jalan-jalannya, membuahkan hasil?" Felix selalu ramah padanya, wajahnya yang memang tampan selalu menarik dengan senyuman dan tatapannya yang simpatik.
"Aku berusaha mendengarkan pendapat dari Mila, yang lebih berpengalaman dalam hal ini. Toko-toko mebel itu juga menarik. Banyak model-model furniture-nya yang inspiratif, bisa diterapkan bila ingin menciptakan sebuah ruangan yang berbeda." ujar Ganis, sambil terus berjalan mendekati mejanya. Wajahnya yang cantik, tidak pudar karena kegiatannya di luar, tetap segar dan ernergik
.
"Kepalamu selalu punya ide yang bagus, ya? Aku melihatnya ditiap detail desain yang kamu buat." puji Felix, tak berusaha menyembunyikan rasa kagumnya.
Felix melangkah mendekatinya, Ganis tersenyum menanggapi omongannya itu. "Aku memang suka menata ruangan. Bukan hanya menjadikan ruangan itu indah, tetapi akan terasa nyaman dan aman bagi yang mendiaminya."
"Kalau begitu, aku akan memperkenalkanmu pada sang penilai paling kritis. Setiap detail tidak akan luput dari mata tajamnya." Ganis membulatkan matanya.
"Maksudnya?"
"Pak Direktur Utama kita, sudah pulang dari tugas luarnya. Aku akan memperkenalkannya padamu." Ganis hanya menaikan sudut bibirnya. Siapa takut? Batinnya.
"Aku akan mengantarkanmu ke ruangannya." ajak Felix pelan. Berjalan mendahului, yang diikuti oleh Ganis tanpa keraguan.
Gedung perusahaan ini, hanya terdiri dari tiga lantai. Terus terang, Ganis belum begitu mengenal ruangan kerja yang lainnya, selain ruang kerjanya yang ada di lantai dua. Sementara lantai tiga yang ditujunya sekarang, belum pernah sekalipun diinjaknya.
Felix membawanya kesebuah ruangan, yang dirasa Ganis memiliki aura yang berbeda dari ruangan yang lainnya. Sebuah aura dingin, dari interiornya yang bernuansa hitam putih. Ornamen yang ada di sekitarnya, nampak elegan. Mungkin AC ruangan ini yang terlalu dingin, pikirnya.
Mereka melewati meja sekretaris yang cantik, Felix hanya mengangguk sambil tersenyum padanya. Tangannya mengetuk pintu besar dari kayu yang berat, tanpa menunggu jawaban dari dalam, Felix membukanya sendiri.
"Masuklah, Nis. Aku ingatkan jangan terlalu terpaku pada penampilannya, ya? Dia tidak akan menggigitmu." Masih dengan nada guraunya. Felix belum sadar, kalau orang yang ada di belakang punggungnya itu, sudah memucat seperti mayat hidup.
Ya, Ganis sudah melihat orang yang ada di balik meja bertuliskan 'Direktur Utama' itu. Prana Guntara. Yang tiada lain adalah, orang yang paling ingin dihindarinya selama ini. Suami yang telah dengan kejam, mengusir dirinya tanpa memberi kesempatan untuk membela diri. Tuduhan yang sudah dilontarkan, tidak main-main. 'Istri yang berselingkuh!' suatu tuduhan yang tanpa dasar, menurut Ganis.
Ingin saja Ganis membalikkan badannya, berlari menghindari laki-laki itu. Namun, terlanjur Prana melihat kehadirannya.
Ekspresi terkejut ditunjukkan bukan hanya oleh Ganis, hal yang sama juga terlihat di wajahnya yang dingin. Candaan Felix tidak berpengaruh sama sekali, pada keduanya.
Apakah kamu baik-baik saja, Nis? Wajahmu pucat sekali." tanya Felix khawatir. Tangannya menyentuh wajah Ganis, yang masih terpaku diam seperti patung.
Mengapa Prana ada di perusahaan ini? Bukankah aturan pemerintah tidak memperbolehkan orang militer ikut terlibat dalam bisnis apapun?
Apakah Prana melepas kemiliterannya? Rentetan pertanyaan muncul di kepala Ganis yang sama sekali tidak habis pikir. Ia sangat tahu, Prana sangat mencintai karier militernya itu dengan sepenuh hati dan jiwa raganya. Namun, kenapa ia malah jadi Direktur Utama di perusahaan ini?
"Nis." Felix kembali memanggil namanya. Tangannya menepuk-nepuk lembut pipinya yang masih pucat.
Ganis baru sadar, otaknya kembali waras. Ia melihat Felix, kulit wajahnya yang halus mulai berwarna lagi.
Bagaimana pun, ia harus menghadapinya. Ia bertekad, bahwa tidak mau lagi diperlakukan dengan sewenang-wenang, oleh laki-laki yang tidak punya hati ini.
Matanya perlahan berapi, lalu masuk melewati Felix yang masih tampak kebingungan.
Raut Prana sudah kembali ke semula, wajah terkejutnya sudah hilang. Dia menatap Ganis yang berjalan mendekati ke arah meja kerjanya.
Tubuh perempuan itu tidak ada perubahan. Bentuknya tetap bagus, tetap ramping. Rambutnya yang hitam, lebih panjang dari terakhir dia melihatnya.
Rasa marah itu masih ada, tapi mengapa dia tidak bisa melupakannya? Wanita penghianat ini, malah terlihat semakin menawan. Sialan! umpatnya dalam hati.
"Fe, tolong siapkan. Setengah jam lagi, kita akan mengadakan rapat bersama Divisi Site Engineer." katanya langsung. Saat melihat sahabatnya itu mengikuti Ganis memasuki ruangan kantornya.
"Dadakan? belum tentu mereka siap." dalih Felix.
"Siap gak siap, rapat tetap diadakan." kata Prana tegas, tidak mau dibantah. Tatapannya sangat dingin.
"Ok, siap!" Felix tidak berani membantah, segera akan keluar lagi dari ruangan.
"Maaf, Nis. Aku harus segera melaksanakan tugasku." sesalnya, menghampiri Ganis sebelum pergi meninggalkannya sendirian.
Ganis hanya menganggukan kepalanya, tanda mengerti. Pikirnya, Prana memang sangat disegani oleh siapa saja, termasuk Felix yang sekarang ia tahu sebagai sahabat terdekatnya.
Felix sendiri sedikit merasa heran, melihat sikap Prana yang tidak terlihat seperti biasa. Dia menangkap ketegangan diwajahnya yang kaku.
Felix belum sempat memperkenalkan Ganis padanya, sudah buru-buru terusir karena perintahnya.
Sikap Ganis pun, membuatnya heran. Sakitkah Ganis? Kenapa tiba-tiba wajahnya memucat? Atau, Jangan-jangan mereka sudah saling mengenal? Tapi tidak mungkin, seorang Prana yang ia tahu laki-laki dingin dan tidak pernah tertarik pada wanita itu, mengenal Ganis.
Banyak pertanyaan muncul di kepala Felix, tapi banyak penyangkalan juga karena ia tidak percaya akan adanya hubungan antara Ganis dan Prana.
Sepertinya, yang satu dari kutub utara dan yang satunya lagi dari kutub Selatan. Sungguh! Tidak mungkin.