Bab 1

Dug dug dug.

“Mati aku. Gimana caranya aku cari uang, mana harus dibayar minggu depan lagi,” gerutu Joanna sambil membenturkan keningnya beberapa kali ke atas meja.

“Aku harus cari uang ke mana ini. Gajianku masih dua minggu lagi dan itu juga cuma cukup buat hidup aku. Sial benar sih nasibku semester ini. Padahal tinggal setahun lagi kenapa harus ditarik beasiswaku,” keluh Joanna putus asa.

Joanna sedang dilanda stres tingkat tinggi saat ini. Dia sedang kesusahan keuangan karena beasiswa yang selama ini menopang biaya kuliahnya tiba-tiba ditarik dengan alasan yang tidak jelas. Padahal Joanna saat ini sedang ada di tahun terakhir kuliahnya. Kalau dia sampai tidak bisa membayar uang kuliahnya, maka bayangan drop out dari kampus sudah tidak akan bisa dihindari lagi.

Padahal Joanna juga sambil bekerja paruh waktu di salah satu toko kue merangkap taman bacaan ketika malam hari. Namun gaji yang dihasilkan itu hanya cukup untuk biaya hidupnya sehari-hari.

Kedua orang tua Joanna sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan kakaknya juga ga pergi entah ke mana menghilang tanpa jejak hingga saat ini. Joanna beruntung bisa kuliah karena dia mendapatkan beasiswa itu.

“Hei ... ngelamun aja,” sapa Irene sahabat Joanna.

“Eeh ... kamu udah keluar kelas. Duduk, Ren,” jawab Joanna sambil membenarkan tatanan rambutnya yang pasti berantakan.

Irene duduk di kursi yang ada di depan Joanna. Dia tersenyum melihat temannya itu lalu memanggil seorang pelayan untuk memesan sesuatu.

“Kucel amat sih. Mau pesen ga?” tawar Irene.

“Udah kok, aku udah pesen. Tinggal tunggu di anter aja,” jawab Joanna.

“Beneran udah pesen?” tanya Irene berusaha untuk memastikan.

“Udah kok, tuh ... dateng kan,” ucap Joanna yang kebetulan pesanannya sudah datang.

“Kalo gitu, saya pesen sama aja deh kaya dia, Mbak,” ucap Irene pada pelayan itu.

“Baik kak, ditunggu sebentar ya,” jawab pelayan itu kemudian segera pergi meninggalkan meja Joanna.

Joanna yang sedang stres pun segera melahap capcay pesanannya karena perutnya sangat lapar. Harga makanan dan minuman di cafe ini memang cenderung lebih murah daripada cafe sejenisnya. Menurut kabar, cafe ini memang khusus melayani kantong mahasiswa.

“Jo, gimana masalahmu. Udah dapet solusi belum?” tanya Irene yang merasa kasihan pada Joanna sahabat baiknya itu.

“Kalau udah dapat solusi aku gak mungkin stress kayak beginilah. Aku tadi nanya lagi ke bagian kemahasiswaan, tapi jawabannya masih tetap sama, mereka gak tahu alasannya apaan,” jawab Joanna sambil menghembuskan nafasnya berat.

“Ya ampun kok kayaknya gak adil banget ya. Kenapa juga harus di tahun terakhir kamu, mendadak pula. Aku juga jadi bingung gimana cara bantu kamu,” ucap Irene yang merasa kasihan pada sahabatnya itu.

“Gak usah ikut bingung. Kamu masih ada di samping aku dan dengerin semua keluhan aku itu udah sangat membantu banget, Ren. Aku gak tahu harus cerita sama siapa kalau misalnya kamu gak ada. Minimal aku bisa sedikit mengurangi beban pikiran aku kalo udah cerita sama orang.”

“Aku cuma bisa bantunya kayak gitu doang. Uang semester kita terlalu besar dan orang tuaku juga ngumpulinnya dengan susah payah. Tapi aku yakin kok, kamu pasti bisa dapet jalan karena kamu orang baik. Tuhan pasti bantu, percaya deh,” ucap Irene berusaha untuk menghibur sahabatnya itu.

“Iya dulu mendiang mamaku juga sering banget bilang kayak gitu. Makanya aku masih percaya, semoga saja di detik-detik akhir nanti akan ada keajaiban. Thank you ya udah tetap jaga semangat aku.”

Pesanan Irene datang. Wanita muda itu kini segera menyantap makanannya karena milik Joanna sudah hampir habis. Mereka berdua makan sambil sesekali mengobrol santai agar Joanna bisa sedikit melupakan beban hidupnya itu.

Joanna adalah mahasiswa pintar yang ada di kampusnya. Bahkan saat ini dia sedang berencana untuk mengambil skripsi lebih awal agar dia bisa segera lulus dan konsentrasi mencari pekerjaan sebagai penopang hidupnya. Kalau mengandalkan gaji di taman bacaan, itu sangat kurang sekali.

“Jo, aku harus pulang. Aku dipanggil mama aku karena mau minta anter ke rumah tante. Kamu mau pulang sekarang, biar aku anter sekalian,” ucap Irene setelah dia menerima telepon dari mamanya.

“Gak usah, Ren. Kamu pulang aja dulu gak papa, soalnya aku masih pengen di sini. Sekalian nanti nunggu jam kerja aku aja. Lagi males pulang, nanti kalau sendirian malah kepikiran mulu,” jawab Joanna pada temannya itu.

“Beneran nih gak papa?” Irene berusaha untuk memastikan.

“Iya gak papa, santai aja. Lagian aku juga kan bukan anak kecil yang gak bisa pulang sendiri,” jawab Joanna sambil tersenyum.

Irene pun akhirnya berpamitan kepada sahabatnya itu. Tadinya dia ingin menghibur Irene namun mamanya ingin dia segera pulang untuk urusan yang lain. Dengan sangat terpaksa Irene harus meninggalkan Joanna sendirian.

Joanna kesepian lagi walaupun musik di cafe ini terus mengalun dan beberapa meja juga terdengar tawa dari penghuninya. Tapi tetap saja pikiran Joanna yang sedang kalut lebih mendominasi saat ini.

“Mendingan aku baca buku aja deh, biar bisa ngalihin pikiranku,” ucap Joanna sambil mulai menyingkirkan piring kotor yang ada di atas mejanya itu.

Baru sekejap saja Joanna langsung larut dalam bacaannya. Dia memang sangat suka membaca dan ketika dia sudah larut dalam bacaannya, Joanna bisa sampai lupa waktu.

Tok tok tok.

Terdengar suara ketukan di meja yang membuat Joanna menurunkan bukunya sedikit lalu mengangkat pandangannya ke depan. Dia melihat ada seorang pemuda duduk di depannya sambil tersenyum ke arahnya. Seorang pemuda yang tidak dikenal bahkan baru kali ini dia lihat.

“Siapa ya?” tanya Joanna sambil sedikit mengerutkan keningnya.

“Kenalin, aku Regan,” jawab pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.

Joanna menurunkan sedikit lagi buku yang ada di tangannya itu. Pandangan matanya kini tertuju pada tangan si pemuda yang terulur ke arahnya. Dia benar-benar tidak tahu siapa pemuda ini.

“Joanna,” ucap Joanna sambil menyambut uluran tangan Regan.

“Maaf, ada apa ya?” tanya Joanna lagi.

“Gak papa pengen duduk aja di sini. Aku pemilik cafe ini dan aku sering lihat kamu duduk di sini. Tapi beberapa hari ini kamu kelihatan berantakan banget, ada masalah apa?” tanya Regan sok akrab.

“Kamu pemilik kafe ini? Ini serius atau cuma nge-prank doang,” tanya Joanna lagi sedikit tidak percaya.

“Perlu aku panggilkan staf cafe atau pelayan untuk mengkonfirmasi siapa aku sebenarnya?” tantang Regan pada Joanna.

“Gak perlu. Kalau mau duduk, ya duduk aja. Maaf aku mau baca,” jawab Joanna sambil menaikkan lagi buku yang sedang dia baca itu.

Regan tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Joanna. Sepertinya hanya dia wanita yang tidak peduli dengan status pemilik kafe yang dia ucapkan tadi. Padahal biasanya para wanita itu langsung bersikap manis di depan Regan. Sikap cuek Joanna semakin membuat Regan penasaran pada wanita yang sedang ada di hadapannya itu.

“Tadi aku gak sengaja dengar katanya kamu lagi butuh uang ya,” ucap Regan.

“Kamu nguping pembicaraan aku?” tanya Joanna sedikit ketus sambil menatap Regan dari atas bukunya.

“Nguping sama gak sengaja dengar itu beda lho. Dan aku gak sengaja dengar, soalnya tadi aku duduk di sebelah situ,” Regan menjelaskan sambil menunjuk di mana tadi dia duduk.

Joanna menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Regan, “Itu masalahku dan kamu gak ada hubungannya sama masalahku,” jawab Joanna sambil kembali mengangkat bukunya.

“Aku mau tawarkan pekerjan buat kamu. Ya ... itu juga kalo kamu mau,” ucap Regan sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan.

“Kerjaan? Kerja apa?” tanya Joanna yang langsung tertarik dengan apa yang diucapkan oleh Regan.

“Kerjaannya gampang kok, dan kamu bisa dibayar diawal.”

“Haah ... emang ada kerjaan kaya begitu? Kerjaan apa emangnya?” tanya Joanna sambil menautkan kedua alis tebalnya itu.

“Kerja jadi ....”

Bab 2

Braaak!!

Joanna meletakkan buku yang di tangannya itu dengan sangat keras di atas meja sampai mengeluarkan bunyi keras yang cukup mengagetkan. Beberapa orang yang kebetulan duduk di meja yang dekat dengan meja Juana sampai menoleh melihat kearah Joanna.

Regan sampai memundurkan punggungnya sampai menempel di sandaran kursi sih untuk bersiap menghindari serangan dari Joanna yang kemungkinan besar bisa saja terjadi. Dia tidak menyangka kalau Joanna akan bersikap seperti ini kepadanya.

“Eh ... sabar dulu dong. Gak usah pake marah-marah, tenang santai aja santai,” ucap Regan mencoba untuk menenangkan Joanna dari emosinya.

“Santai kamu bilang? Terus aku harus menanggapi seperti apa atas pekerjaan yang kamu tawarkan itu?” jawab Joanna ketus.

“Yah ditanggapinya yang santai aja. Lagian apa salahnya sih jadi sugar baby. Bukannya itu udah hal yang biasa ya,” ucap Regan santai.

“Santai? Kamu suruh aku nanggapin tawaran kamu untuk jual diri sama kamu dengan santai. Kamu ini lagi mabuk atau emang udah gila?” tanya Joanna balik sambil melotot ke arah Regan.

“Udah rada gila kali ya, soalnya aku sering banget ngeliatin kamu dan kecantikan kamu benar-benar alami. Aku suka. Eh bentar dulu deh, aku gak pernah lho nyuruh kamu untuk jual diri, jadi sugar baby dengan jual diri itu beda lho,” Regan mencoba untuk mencari alasan.

“Iya beda, tapi bedanya tipis. Gak mau, aku gak mau! Mendingan kamu pergi dari sini, sebelum aku marah sama kamu,” Joanna mengusir Regan.

“Udah marah kali. Tapi dengerin dulu, apa yang kamu pikirkan itu salah. Dan kalau kamu setuju, sekarang juga kamu balik ke kampus bayar uang semester kamu. Ini serius loh, aku gak pernah main-main,” bujuk Regan.

“Aku juga gak main-main. Sekarang juga kamu pergi dari sini sebelum aku berteriak. Aku gak peduli walaupun kamu pemilik dari cafe ini!” tegas Joanna.

“Hmmm ... ok! Aku anggap kamu butuh waktu untuk berpikir. Ini kartu nama aku, hubungi aku kapan aja kalo kamu setuju,” jawab Regan sambil menyelipkan kartu namanya di buku yang sedang di pegang oleh Joanna itu.

Regan pun berdiri untuk meninggalkan Joanna sendirian. Dia tidak ingin membuat keributan di kafenya sendiri yang akan membuat pengunjung lain tidak nyaman. Tapi Regan cukup puas dengan reaksi yang diberikan oleh Joanna tadi.

Joanna memandang sinis ke arah Regan yang sudah akan pergi meninggalkannya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau pemuda itu akan melecehkannya seperti ini. Setelah Regan pergi, Joanna mengalihkan pandangannya pada kartu nama yang ada di atas lembaran bukunya.

“Cih! Mentang-mentang aku lagi butuh duit, malah seenaknya aja nawarin kerjaan. Pake bilang kalau itu kerjaannya beda sama jual diri, emang dipikirnya aku secupu itu apa ya gak ngerti gimana itu pekerjaan sugar baby. Lagian otaknya emang bener-bener ilang kali tu orang, dasar sarap,” gerutu Joanna kesal pada apa yang dikatakan oleh Regan tadi.

Joanna meraih gelas yang masih ada di atas mejanya. Dia segera menenggak isi dari gelas itu untuk menenangkan dirinya. Joanna benar-benar emosi ketika dia mendengar tawaran pekerjaan dari orang yang sama sekali belum pernah dia kenal sebelumnya.

Joanna harus kembali stabil emosinya karena sebentar lagi dia harus pergi ke tempat kerjanya. Tidak mungkin dia bekerja dengan keadaan emosi tinggi, bisa-bisa nanti para pelanggan toko tempat dia bekerja tidak puas dengan hasil pekerjaannya dan itu akan membuat dirinya mendapatkan peringatan dari manajer toko.

“Udah jam 6 sore. Mending aku jalan aja deh daripada di sini ntar malah bikin aku gak bisa ilangin emosi nanti,” gumam Joanna yang masih tersulut emosi.

Joanna segera menutup buku yang ada di tangannya lalu membereskan semua barang-barang pribadinya untuk dia masukkan ke dalam tas. Joanna mengambil dompet untuk membayar makanannya dan mulai berjalan ke kasir setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan.

“Tagihannya udah dibayar sama Pak Regan, Mbak,” ucap kasir kafe.

“Hah, udah dibayar? Sama Pak Regan,” ucap Joanna mengikuti apa yang diucapkan oleh kasir itu.

“Iya Mbak, pemilik kafe ini yang tadi duduk sama Mbak di meja itu. Semuanya udah dibayar kok.”

“Balikin aja, Mbak. Saya mau bayar sendiri aja,” jawab Joanna.

“Jangan, Mbak. Nanti saya kena marah Pak Regan. Saya busa dipecat nanti,” tolak kasir itu.

“Dipecat? Hmm ... ya udah deh. Bilang makasih sama Pak Regan dan bilang sama dia biar ga usah lakuin itu lagi,” pesan Joanna sebelum dia keluar dari kafe.

“Emang dipikirnya aku bakalan langsung mau gitu ama tawaran dia. Dih, no way ya! Ga ada dalam kamus aku jual diri ke cwo, amit-amit lah!!” gumam Joanna sambil berjalan ke arah halte yang ada di dekat kafe Regan untuk menuju ke tempat dia bekerja.

***

Joanna merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya setelah dia pulang kerja. Joanna berpikir di mana dia bisa mendapatkan pekerjaan tambahan lagi senyaman tempat dia bekerja sekarang.

“Cari tempat yang butuh tenaga part time dulu lah. Ayo Jo, kamu harus bisa dan kuat! Kamu pasti bisa selesaikan masalah ini,” Joanna memberikan sugesti positif untuk membuat dirinya yakin kalau dia pasti mampu.

Joanna mengambil ponselnya. Dia segera membuka situs laman penyedia jasa pekerjaan part-time yang memang biasanya akan diisi oleh para mahasiswa untuk sekedar mencari uang tambahan dan mengisi waktu. Namun tentu saja bagi Joanna ini adalah pekerjaan tetap.

Tangan Joanna terus men-scroll tiap halaman mencari pekerjaan yang pas dan juga dekat dari rumahnya. Dia tidak bisa mencari pekerjaan di tempat yang jauh dari rumahnya karena itu akan memakan waktu yang sangat banyak di perjalanan.

Brak! Brak! Brak!

Terdengar suara ketukan di pintu depan rumah Joanna yang sebenarnya lebih mirip dengan gedoran di pintu itu. Joanna yang sedang berbaring sampai kaget dan menoleh ke arah pintu kamarnya. Dia melihat jam yang ada di dinding kamarnya untuk mencoba menebak siapa tamu yang datang ke rumahnya.

“Jam 10 malam. Siapa ya yang datang jam segini, mana pakai gebrak pintu lagi. Apa mungkin ada sesuatu yang penting dan darurat? Aku liat dulu lah ke depan,” ucap Joanna sambil bangun dari rebahannya.

Joanna keluar dari kamarnya lalu menyalakan lampu di ruang tengah. Dia juga menyalakan lampu di ruang tamu agar orang yang menggedor rumahnya itu tahu kalau dia akan segera membuka pintu.

Joanna mengintip sebentar di jendela depan untuk mengetahui siapa orang yang datang malam-malam ke rumahnya. Ada dua orang pria berbadan besar sedang berdiri di depan rumahnya dan melihatnya saat ini.

“Mau cari siapa?” tanya Joanna dari dalam rumah.

“Megan. Megan Aryani. Ini rumahnya kan?” jawab salah satu pria itu.

“Megan? Ngapain dia nyariin Megan? Bikin ulah apa dia, kabur masih aja bikin ulah,” gerutu Joanna.

“Iya ... tapi orangnya ga ada. Minggat udah lama ga pulang,” jawab Joanna lagi.

“Jangan bohong kamu!! Buka pintunya!!” bentak orang itu memaksa Joanna.

“Ga mau. Mendingan kalian pergi aja dari sini, cari Megan di tempat kalian ketemu ama dia,” jawab Joanna sambil menutup horden jendela untuk segera masuk kembali.

“Megan menjaminkan rumah ini sebagai pembayaran hutangnya! Kamu harus pergi karena rumah ini sekarang milik bos kami!!”

Seketika tubuh Joanna tidak bisa bergerak mendengar apa yang dikatakan oleh para pria itu. Dia tidak menyangka, bukannya mendapatkan bantuan, dia malah semakin tertekan saat ini.

“Ya Tuhan, apa lagi ini. Apa lagi yang udah dilakukan oleh Megan! Dasar cewek brengsek!!” umpat Joanna meluapkan kekesalannya pada Megan.

Bab 3

Joanna berusaha untuk melangkahkan kakinya meninggalkan pintu depan. Dia tidak ingin mendengar ucapan kasar dari dua orang yang tidak dia kenal sama sekali itu tentang dirinya dan juga keluarganya.

Joanna seakan tidak mampu lagi menahan himpitan dari beban yang diberikan oleh keluarganya. Apalagi kakaknya yang sudah beberapa tahun ini menghilang tiba-tiba saja menjaminkan rumah ini pada penagih hutang. Sungguh hal yang sangat membuat Joanna kaget dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Besok pagi kamu sudah harus pergi dari rumah ini. Kalau tidak kamu akan kami usir dan seret keluar dengan paksa!” ucap orang yang ada di depan rumah Joanna.

Joanna merasa kesal dengan ucapan para pria tidak dikenal itu. Dia segera berbalik arah dan berjalan menuju pintu depan rumahnya. Joanna juga ingin mempertahankan rumah ini dan melampiaskan kekesalannya kepada kakaknya pada dua orang itu.

“Jangan seenaknya saja kalian bilang akan menyeret saya dari rumah ini. Ini rumah saya dan ini adalah harta warisan kedua orangtua saya. Megan, Megan Aryani ... tagih aja utang kalian sama Megan karena selama ini Megan sudah tidak ada di tempat ini. Bagiku Megan sudah mati!!” ucap Joanna sedikit berteriak meluapkan perasaannya.

“Tapi Megan sudah menjaminkan rumah ini untuk pinjamannya. Dan ini sudah lewat jatuh tempo serta dia menghilang begitu saja,” ucap si penagih hutang.

“Bodo amat! Lagipula kenapa kalian bego banget mau aja dibohongin sama Megan. Sertifikat rumah ini sudah atas nama saya, jadi Megan gak ada haknya lagi tentang rumah ini. Makanya kalau mau minjemin duit yang pinter, dicek dulu jaminannya apa. Giliran orangnya kabur aja langsung main perintah usir orang lain. Pergi kalian atau saya panggilkan polisi sekarang juga!” bentak Joanna yang tidak merasa takut sedikitpun.

“Mbak Joanna, ada apa?” tanya petugas ronda keliling yang melihat Joanna bertengkar dengan seseorang di depan rumahnya.

“Eh enggak kok Pak, ini loh cuma ada yang lagi nyari Megan,” jawab Joanna sambil tersenyum lebar pada ada petugas ronda itu.

“Sebaiknya kalian pergi ato aku bakalan ngadu sama mereka biar kalian dia keroyok massa,” ancam Joanna sambil mengerutukkan giginya.

“Kita pergi sekarang. Tapi inget, sampai akhir minggu ini ga ada kabar juga, kami ga akan segan buat usir kamu!!” para penagih hutang mengancam balik.

Para penagih hutang itu pun segera pergi meninggalkan rumah Joanna. Mereka berjanji akan segera datang lagi ke sini untuk mengeksekusi rumah Joanna seperti perjanjian yang sudah mereka lakukan dengan Megan.

Joanna segera masuk kembali ke dalam rumah lalu menguncinya. Joanna terduduk di belakang pintu karena merasa kakinya sangat lemas setelah semua energinya keluar untuk melawan para penagih hutang itu. Ini bukan kali pertama dia menghadapi orang yang seperti ini. Tapi kali ini benar-benar membuat Joanna marah karena Megan sudah berani menjaminkan rumah peninggalan orang tua mereka satu-satunya.

Joanna akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Pukulan ujian hari ini benar-benar membuatnya sangat kelelahan. Joanna segera naik ke tempat tidurnya dan mematikan semua lampu yang ada di kamar. Dia ingin segera tidur agar besok mendapatkan tenaga untuk menghadapi hari baru.

“Ya ampun Tuhan, apa aku ini terlalu kuat ya sampai dikasih cobaan kayak begini. Tapi kakiku bener-bener udah capek, udah lemes. Aku pengen istirahat, terus kapan aku bisa beresin semua masalah ini. Ujianku ... ujianku gimana,” gumam Joanna sambil menangis tersedu mengingat masa depannya terancam.

Joanna meluapkan semua rasa kesal dan lelahnya lewat limpahan air matanya. Dia menangis tersedu sambil mengucapkan semua keluhan yang dia rasakan selama ini. Joanna ingin membereskan hatinya agar lebih tenang walaupun belum mendapatkan solusi sedikitpun.

Setelah puas menangis, Joanna pun tertidur dengan harapan besok pagi dia akan mendapat pencerahan baru untuk menyelesaikan permasalahannya satu per satu.

Sreeek.

Joanna membuka korden jendela kamarnya dan membuka jendelanya agar dia mendapatkan udara segar di pagi hari ini. Udara tadi malam cukup mencekat tenggorokannya sehingga dia membutuhkan asupan oksigen baru yang lebih segar.

“Kayaknya tadi malam hujan ya, tapi kok aku gak dengar sama sekali ya. Segitu lelapnya aku sampai tidur gak dengar suara hujan,” ucap Joanna di depan jendela sambil menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.

Joanna segera keluar dari kamarnya untuk mematikan lampu luar dan membuka beberapa jendela untuk menukar udara di dalam dengan udara yang lebih segar secara alami. Dia kemudian segera menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri sebelum memulai hari.

“Hari ini aku gak usah ke kampus dulu deh, aku mau cari peluang pekerjaan baru yang lebih optimal. Kalau cuma ngandelin satu kerjaan aja kayaknya aku gak akan mampu buat bayar semuanya. Aku harus siapkan ekstra tenaga lagi biar tetap bisa ikut ujian. Nanti kalau memang bisa dapet kerjaan, paling gak itu nanti kan bisa aku jadikan jaminan buat bagian kemahasiswaan biar bisa kasih aku waktu lagi buat pelunasan,” gumam Joanna tentang rencananya hari ini sambil mengiris beberapa bahan makanan untuk dia masak.

Joanna pun akhirnya segera menyelesaikan acara memasak menu sederhana sebagai asupan tenaga untuk dia berkeliling hari ini. Tadi malam dia sudah menemukan beberapa lowongan pekerjaan yang menerima pegawai partime di beberapa tempat. Hari ini Joanna berniat untuk mendatangi tempat itu dan melamar pekerjaan.

“Lagi di tahun akhir ya? Maaf ya, kalau di tahun terakhir kita gak bisa terima, soalnya biasanya anak yang ada di tahun terakhir tuh sibuk banget. Jadi kasihan aja gitu kalau harus membagi waktu,” ucap seorang manajer yang Joanna temui hari ini.

“Tapi tahun terakhir saya ini gak banyak mata kuliah yang diambil kok. Bahkan saya ya belum ambil jadwal skripsi. Saya pikir masih bisa kok buat ambil kerjaan. Tolong Pak, saya butuh banget sama kerjaan ini,” ucap Joanna sedikit membujuk dan mengiba pada manajer.

“Aduh tapi gimana ya, atasan kami gak bisa terima mahasiswa tahun terakhir. Soalnya kami pernah punya beberapa kali pengalaman dengan mahasiswa tahun terakhir yang tiba-tiba harus memutuskan kontrak secara sepihak karena mereka gak mampu membagi waktu. Kontrak kami ini 1 tahun lho bukan 1 semester, jadi memang agak berat sih kayaknya,” manajer itu memberikan alasan penolakannya kepada Joanna.

“Mau dikontrak 1 tahun atau 2 tahun saya siap kok, Pak. Saya gak akan kaya mereka yang sudah membatalkan kontrak secara sepihak. Saya orang yang tanggung jawab kok, lagian kan ini cuma part time jadi untuk waktu yang lain bisa saya manfaatkan untuk kepentingan belajar saya,” Joanna masih tetap berusaha untuk membujuk si manager.

“Maaf tetep gak bisa. Nanti kalau misalnya kita ada event bolehlah kita nanti ajakin kamu buat tenaga tambahan. Soalnya biasanya restoran kita ini sering banget jadi tempat event. Maaf ya, kita belum bisa untuk terima mahasiswa tingkat akhir.”

Joanna melangkah dengan kaki yang lemas keluar dari restoran. Ini adalah tempat ketiga dia ditolak dengan alasan yang sama. Sepertinya memang untuk mahasiswa tahun terakhir sedikit sulit untuk mendapatkan pekerjaan.

Joanna memilih duduk di sebuah kursi taman yang ada di bawah pohon. Dia ingin menikmati bekal yang tadi sudah dia siapkan di rumah agar energinya kembali terisi untuk terus mencari peluang pekerjaan yang ingin dia dapatkan hari ini.

Mata Joanna tiba-tiba tertuju pada sebuah mobil Range Rover warna hitam yang terparkir tidak jauh dari tempatnya duduk. Seorang pemuda baru saja turun dari mobil itu dan kini sedang berjalan perlahan sambil menerima telepon menuju ke restoran yang tadi menolak Joanna.

“Regan, kenapa tiap kali aku berdoa minta bantuan selalu dia yang muncul. Apa emang harus dia ya? Ah ini gila, gak mungkin! Masa iya aku harus jual diri sama dia. Ngawur itu!” ucap Joanna sambil menggelengkan kepala lalu sedikit memiringkan badannya agar dia tidak melihat Regan lagi.

***

Hari sudah sore. Joanna kembali ke rumahnya untuk beristirahat setelah seharian Dia berjalan dari satu tempat ke tempat lain mencari pekerjaan. Namun hasilnya tetap saja nihil sekarang dia masih belum punya rencana lagi untuk besok.

“Aduh kenapa yang masuk malah chat penagihan pelunasan ujian. Coba yang masuk itu tawaran pekerjaan kek,” gumam Joanna yang membaca pesan chat dalam ponselnya.

Joanna melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur lalu dia segera mengambil salah satu buku koleksinya untuk dia baca mengisi waktu sebelum dia tidur. Waktu Joanna membuka buku tiba-tiba ada yang terjatuh dari dalam sana.

“Regan lagi. Apa ini petunjuk ya? Apa aku harus menghubungi dia?” ucap Joanna yang memegang kartu nama Regan di tangannya lalu menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur.

“Aah sudahlah, lebih baik aku ....”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED