Nikmat Tiada Tara
Axel menggerakkan kedua tangannya maju mundur di batang kenikmatannya yang sedang mengeras dan berotot sempurna. Hasratnya semakin menggila, tapi usaha lelaki itu tak kunjung mendapatkan titik puncaknya. Keringat dingin semakin membanjiri tubuh atletisnya yang terasa sangat menggelora. Sungguh, ia begitu mendamba. Benda kokoh nan panjang itu membutuhkan benda lain yang lebih lembut dari tangan kekarnya.
Tiba-tiba sepasang tangan lentik menyentuh kedua tangan Axel dari belakang. Tentu saja lelaki tampan itu terkejut dan menghentikan gerakannya sesaat. Sebab, dia pikir hanya ada dia di toilet Lounge ini.
"Butuh bantuan, Tuan?" ujarnya dengan nada lembut dan menggoda. Tanpa Axel sadari kedua tangannya sudah digantikan oleh tangan lentik itu.
"Aahhh…." Tak terasa Axel mendesah saat kulit batangnya yang begitu sensitif itu diurut oleh tangan hangat si wanita dengan lembut. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Karena sedetik kemudian wanita tadi menghentikan gerakannya. Axel berniat untuk melayangkan protes. Hanya saja belum sempat ia mengucapkan sepatah kata. Tubuhnya mendadak diputar seratus delapan puluh derajat. Sehingga mereka kini saling berhadapan.
Gadis itu tersenyum menggoda saat bertemu pandang dengan mata sayu Axel yang terlihat penuh kebingungan tapi butuh kepuasan. Lalu perlahan ia menurunkan badannya. Sampai di depan batang yang sedang tegak menjulang itu ia berhenti. Tangannya kembali menggenggam benda itu. Kemudian tanpa sungkan ia mulai mengulumnya bak anak kecil yang memakan es lilin.
Perasaan Axel langsung terbang ke angkasa raya. Kepalanya mendongak dengan mata yang merem-melek tak beraturan. Bibirnya tak bisa menahan desahan demi desahan nikmat yang baru dirasakannya. Kedua tangan Axel terangkat dan menggenggam ujung atas cermin besar di depannya. Ia mengempiskan perutnya yang rata agar memperkuat otot batangnya. Desiran darahnya yang menggebu-gebu mengantarkan gejolak asmara yang bertumpu pada satu titik dalam jiwanya. Hasratnya menuntut lebih.
Tak berselang lama, lelaki yang masih menggunakan jas hitam, kemeja abu-abu dan celana bahan yang sudah melorot hingga mata kaki itu merasa sudah tak tahan lagi. Axel memegang kepala gadis itu. Tentu saja hal itu membuat gerakan gadis tadi langsung berhenti begitu saja. Ia melayangkan tatapan penuh tanda tanya tanpa melepas es krim daging yang sedang dinikmatinya. Axel tak memberikan jawaban. Hanya saja ia mengangkat kedua pundak gadis itu pelan-pelan.
Entah mendapat bisikan dari mana. Axel langsung mencium bibir gadis itu dengan penuh gairah. Tak mau kalah dengan Axel. Sang gadis pun membalas setiap cumbuan Axel dengan seimbang. Mereka saling mencium, memagut dan menyedot satu sama lain.
Tangan Axel mulai melucuti seragam waitress yang dipakai si gadis tanpa melepaskan ciumannya. Sementara si gadis sesekali mengalungkan tangannya di leher Axel dengan manja. Axel menurunkan ciumannya. Karena mulai bosan. Ia mengekspos setiap inci leher gadis itu dengan cumbuan.
Tak bisa dipungkiri bibir si gadis pun terus berdesis seperti ular. Badannya juga mulai meliuk-liuk seperti penari perut tatkala tangan kekar Axel mulai menjelajahi tubuh idealnya. Kedua bukit kembar si gadis pun menjadi tempat pendaratan bibir Axel selanjutnya. Dengan ganas dan penuh nafsu ia memainkan kedua gunung daging itu secara bergantian. Bulatan di puncak gunung semakin mengeras. Membuat Axel semakin bersemangat menyedotnya. Ia tampak seperti seorang bayi raksasa yang sudah lama ia tidak menyusu ibunya. Makanya dengan rakus Axel terus menyedot kedua benda itu secara bergantian.
Tangan nakal Axel mulai menyusup ke dalam rok ketat wanita itu yang setinggi lutut. Jemarinya menyibakkan rimbunnya rambut-rambut halus yang menutupi goa kenikmatan si gadis.
"Ahhh…." Si gadis tak bisa menahan desahan yang keluar dari mulutnya. Ketika jari tengah Axel menggosok kacang di mulut goanya yang sudah dibanjiri cairan cinta. Hasrat Axel semakin menggila. Ia mendorong tubuh gadis itu hingga punggungnya menempel ke dinding. Lalu setelah berhasil menanggalkan sisa-sisa pakaian wanita itu. Axel langsung mengarahkan batangnya masuk ke dalam goa.
"Ahhh…. Sakith!" Gadis itu merintih sambil menahan perut Axel yang kotak-kotak. Axel mengurangi kecepatan sodokkannya. Hingga saat si gadis mulai tenang, ia kembali menyodok dengan kekuatan penuh. Tak ayal ujung batangnya pun berhasil menembus benteng kesucian gadis itu.
Tes!
Entah karena menyesal pada dirinya sendiri atau karena menahan sakit yang teramat sangat di goanya yang kini mengeluarkan darah segar. Gadis itu mengeluarkan air mata. Axel yang sesaat menghentikan gerakannya menatap wajah sayu gadis itu.
'Cantik,' batinnya memuji. Kemudian Axel menghapus air mata gadis itu dengan cumbuannya. Ia mencium kedua mata gadis itu secara bergantian. Lalu sedikit demi sedikit ia menurunkan ciumannya. Sampai di depan bibir ia kembali memagutnya. Tak disangka si gadis yang sudah kembali on pun membalas setiap gerakan bibir Axel. Seakan memberinya sinyal jika dia sudah siap melanjutkan pertempuran penuh kenikmatan mereka. Hal itu membuat Axel semakin bergairah untuk memompa batangnya. Mulai dari ritme pelan hingga cepat.
Sesekali bibir kedua mendesis nikmat. Sembari terus memainkan lidah mereka yang saling melilit satu sama lain. Di bawahnya satu tangan nakal Axel tak mau diam. Dengan aktif tangan itu meremas dan memilin puncak gunung gadis tersebut dengan gemas. Sementara satu tangan yang lain menyangga paha gadis itu untuk mempermudah batangnya menyodok goa itu dengan bertubi-tubi. Sungguh, Axel tak mau melewatkan satu kenikmatan pun pada tubuh gadis ini. Apalagi goanya terasa sangat sempit dan otot-ototnya yang sedang mengeras menyedot serta memijat batang Axel dengan cukup kuat. Sehingga Axel semakin merasakan nikmat dunia yang tiada duanya.
Tak lama berselang Axel yang kembali bosan dengan posisi itu, segera mencabut batangnya. Tanpa memberi jeda pada si gadis untuk beristirahat sejenak. Ia segera membalik badan gadis itu hingga menghadap ke dinding. Gadis itu hanya menurut saja. Tapi, bibirnya mendesah hebat saat menyambut batang Axel yang kembali masuk dari belakang. Sebenarnya, Axel baru pertama kali melakukan ini. Namun, naluri laki-lakinya terus menuntun lelaki itu mencapai tingkat tertinggi kepuasannya.
Axel kembali menggerakkan pinggulnya maju mundur. Berawal dari ritme pelan, sedang hingga dengan kecepatan penuh. Sungguh, ia tak bisa menahannya lebih lama lagi. Sesuatu di dalam batangnya memaksa untuk keluar. Axel semakin memacu adrenalinnya. Semakin cepat, cepat, cepat dan….
"Aaahhhh!!" Kedua insan itu melenguh panjang bersama. Tatkala semburan magma putih kental menyembur dari pusat kenikmatan masing-masing. Axel yang kelelahan meletakkan kepalanya di pundak gadis itu sambil memeluknya dari belakang dengan erat. Sedang di depannya, kedua tangan si gadis tampak mencengkram dinding dengan kepala yang menempel pada marmer itu. Matanya pun tampak terpejam. Di bawah sana keduanya masih menikmati kedutan-kedutan kecil yang menjadi sisa-sisa kenikmatan mereka.
Setelah sadar gadis itu segera melepaskan pelukan Axel. Ia mendorong tubuh lelaki itu hingga terduduk di toilet duduk. Lalu meraih seragam pelayannya yang berserakan di lantai sebelum pergi.
"Tunggu!" cegah Axel saat gadis itu melewati pintu. Si gadis pun hanya menoleh sekilas kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Axel seorang diri. Axel berniat mengejarnya, tapi ia baru sadar jika pakaiannya belum terpasang benar. Axel segera menaikkan celananya, hingga tak sengaja ia menemukan sebuah tanda nama yang terjatuh di lantai. Axel segera memungutnya. "Camelia," gumamnya membaca tulisan pada benda itu.
Axel Nolan Xavier adalah pemimpin perusahaan Mega Jewelry Group. Sebuah perusahaan berlian terbesar di Indonesia. Sejak kecil ia dididik untuk bisa mengelola perusahaan itu oleh kakeknya. Karena, kedua orang tuanya sudah meninggal. Jadi, dialah yang harus secepatnya menggantikan posisi Ben Xavier yang sudah semakin tua. Karena terlalu banyak tuntutan untuk bisa mendapatkan kesempurnaan Axel nyaris tak bisa menikmati hidup untuk dirinya sendiri. Makanya, dia tumbuh menjadi lelaki perfeksionis dengan segala peraturan yang dibuatnya.
Termasuk untuk urusan wanita. Entah wanita seperti apa yang diinginkannya. Ia selalu saja merasa tidak cocok dengan puluhan wanita yang mengejarnya. Bahkan, dia selalu menolak perjodohan yang diatur oleh kakeknya sendiri. Padahal, wanita-wanita itu nyaris sempurna. Sudah cantik, pintar, elegan dan juga berasal dari keluarga terpandang. Tentu, hal itu yang biasa diincar oleh para kaum Adam. Namun, bagi Axel. Semua itu terlalu standar. Sampai-sampai ia merasa tak bergairah lagi untuk mendekatinya.
Malam ini entah untuk keberapa kalinya Axel makan malam dengan seorang wanita cantik cucu dari teman Kakeknya. Tentu saja, acara ini sudah dirancang dengan matang oleh si kakek tercinta. Hanya saja, Axel merasa tidak cocok dengan gadis ini sejak awal pertemuan mereka.
Padahal, tak hanya cantik, tapi gadis itu juga sangat elegan. Saking elegannya, wanita yang menggunakan dress Bodycon maroon yang menunjukkan salah satu pundak mulusnya itu, makan dengan durasi yang sangat lama. Seakan setiap satu sendoknya harus dihitung dulu berapa kali kunyahan. Sungguh, hal itu benar-benar membuat Axel menjadi bosan. Namun, ia tak bisa berbuat banyak. Karena wanita itu terus mengawasi sambil senyam-senyum tak jelas. Axel tak membalas senyuman wanita bernama Nagita itu sama sekali. Sejak awal perjumpaan ia hanya menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam. Makanya, sangat heran melihat gadis itu yang tak masih saja tersenyum manis seperti itu.
Axel meletakkan sendok dan garpu di tangannya dengan posisi tengkurap. Lalu ia segera meraih tissue dan mengelap bibirnya yang sedikit berminyak.
"Maaf. Saya masih ada urusan lain. Terima kasih makan malamnya. Sampai jumpa," ujar Axel kemudian beranjak dari duduknya.
"Eh. Eh. Eh. Tunggu!" kata Nagita sambil menggapai tangan Axel. Lelaki itu hanya melirik sekilas. Tanpa berniat memutar sedikit pun. "Tunggu! Makanan aku kan belum habis. Bisa nggak kamu nungguin aku sebentar. Mau ya, please!" ujarnya dengan nada manja dan kedua tangan yang mengelendot di lengan Axel. Axel kembali menoleh sambil menunjukkan senyumnya. Namun, tangan kekarnya malah mengibaskan tangan gadis cantik itu dengan kasar.
"Sekali lagi maaf. Saya punya urusan lain yang lebih penting," timpal Axel ketus dan wajah datar. Kemudian ia balik badan untuk segera berlalu.
"Axel! Axel! Axel tunggu!" teriak Nagita hendak mengejar. Sayangnya langkah gadis itu harus tertahan oleh salah satu pelayan restoran.
"Maaf, Nona. Tapi, anda belum membayar pesanan anda," ujar wanita yang menggunakan seragam waitress itu. Nagita pun langsung mengurungkan niatnya. Ia menghentakkan kakinya ke lantai. Lalu kembali ke kursinya. Tak lupa ia segera mengeluarkan ponsel pintar dari dalam tasnya yang bermerek asli keluaran Paris itu. Ia segera memencet layar pipih itu sebelum menempelkan di telinga.
"Halo, Kakek," ujar Nagita pada seseorang di seberang sana.
Sementara itu di luar restoran Axel berjalan menuju mobilnya. Saat langkahnya hampir mendekati mobil seorang lelaki yang sudah berdiri di samping mobil dengan sigap membukakan pintu untuk Axel.
"Sudah selesai makan malamnya, Pak," ujar lelaki itu.
"Udah," timpal Axel cepat. Sambil masuk ke dalam mobilnya. Lelaki tadi langsung menutup pintu mobil itu lagi. Kemudian ia menyusul masuk ke dalam lewat pintu depan. "Langsung ke Amora Cafe!" titah Axel dengan nada tegas.
"Baik, Pak," timpalnya. Sang sopir langsung menjalankan perintah dari sang majikan.
Tak lama berselang mobil Axel sampai di tempat yang dituju. Sang sopir langsung mengarahkan mobil yang dikendarainya ke teras Cafe. Belum sempat ia turun. Seorang pelayan yang sudah membukakan pintu untuk Axel.
"Selamat malam, Tuan," ujarnya menyambut kedatangan si pelanggan VIP sekaligus salah satu pemilik saham terbesar di Cafe ini.
"Malam," timpal Axel tanpa merubah ekspresi datarnya. Ia pun langsung melenggang masuk begitu saja. Seperti biasa, setiap Axel malas pulang atau ada masalah. Tempat ini selalu menjadi pelariannya. Ia ingin meminum beberapa gelas wine agar otaknya bisa melupakan omelan kakek yang akan segera didengarnya.
"Seperti biasa!" pesan Axel sambil duduk di depan meja bar.
"Siap, Tuan," balas si bartender. Seperti biasa ia pun segera menyiapkan sebuah white wine dari merk premium kesukaan Axel. "Silahkan, Tuan!" tambahnya sambil menyodorkan sebuah gelar wine yang sudah terisi. Tanpa membalas sepatah kata pun Axel segera meraih gelas itu lalu menenggak isinya hingga habis. Namun, belum sempat meletakkan gelas kecil itu mendadak ponselnya berdering dengan cukup kencang. Meskipun dengan gerakan berat, Axel tetap mengeluarkan benda itu. Lalu menempelkannya di telinga setelah menggeser gambar dial yang bergetar-getar.
"Halo, Kek. Ada apa?" ujarnya dengan nada malas-malasan.
"Ada apa kamu bilang?!" balas si kakek dari seberang sana. Axel reflek menjauhkan benda pipih itu dari telinganya sambil menutup kedua matanya dengan erat saat mendengar nada suara lelaki itu yang hampir memekakkan telinga. "Seharusnya, Kakek yang bertanya padamu. Kamu ini kenapa, hah?! Kenapa kamu tinggalkan Nagita sendirian di restoran? Kamu nggak kasihan pada Kakekmu ini yang menanggung malu sama keluarga Nagita?" lanjutnya dengan nada emosi. Axel menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku kan sudah bilang, Kek. Aku ada acara lain sekarang. Kakek sih maksa aja buat aku dateng," balas Axel membela diri.
"Cih. Selalu saja itu yang jadi alasanmu. Memangnya urusan apa yang kamu maksud, hah?! Kantor? Kamu pikir Kakek bisa kamu bodohi. Kakek tau betul kamu nggak ada jadwal ketemu klien malam ini. Jadi, mau alasan apalagi kamu, hah?!" kata Kakek dengan nada tinggi. Axel hanya tersenyum kecut.
'Ish. Sialan! Kakek pasti udah menghubungi si Rendi,' batin Axel kesal.
"Kakek benar-benar tidak tau apa yang ada di otak kamu, Sel. Kamu sudah tau kan kalau Kakekmu ini sudah tua. Umur Kakek sudah tidak lama lagi. Kakek hanya ingin melihat cicit Kakek saja rasanya susah sekali. Kakek hanya ingin memastikan generasi keluarga Xavier itu berkualitas dan bisa melanjutkan bisnis keluarga dengan sebaik-baiknya. Kamu mau melihat Kakek mati sebelum mencapai cita-cita Kakek?"
"Bukan begitu, Kek. Cuma…."
"Cuma apa? Kamu cari cewek sendiri nggak becus. Dijodohin banyak alasan. Lalu mau sampai kapan kamu melajang, hah?! Kamu memang sudah tidak sayang lagi sama Kakek?"
"Kek. Dengerin Axel dulu dong. Axel bisa cari cewek sendiri. Kakek nggak perlu jodoh-jodohin Axel begini. Malu tau!"
"Ya, udah. Kalau kamu memang bisa cari cewek sendiri. Buktikan dong! Kakek kasih kamu waktu tiga bulan ini. Kalau kamu tidak bisa membawa calon istri kamu ke rumah. Mending Kakek jual semua harta Kakek. Lalu Kakek sumbangkan ke Badan Amal Nasional. Biar kamu tau rasanya hidup melarat!" Tut. Sambungan pun terputus. Axel menatap layar ponselnya yang sudah mati.
"Ish. Marah-marah aja nih Kakek-kakek," sungut Axel pada benda pipih itu. Ia menatap benda itu sesaat. Kemudian bergumam sejenak. "Tapi, kayaknya dia nggak main-main kali ini. Sialan!" gerutu Axel tak jelas.
"Aku mencintaimu, Jani. Aku nggak peduli apa kata orang. Aku hanya ingin kamu dalam hidupku," kata seorang cowok sambil memegang kedua tangan gadis di depannya. Si gadis hanya menangis sesenggukan. Ia tampak merasa sedih, tapi juga bahagia. "Jadi, kamu mau kan menjadi istriku? Menjadi ibu dari anak-anakku?" lanjutnya.
"Tapi–" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya lelaki tadi langsung menempelkan telunjuknya di bibir
"Hust. Kamu nggak perlu mikirin hal lain. Aku ingin kita berdua bisa terus bersama dalam suka maupun duka dan dari sekarang sampai kelak kita menua," ujar si cowok lagi. Akhirnya gadis itu tersenyum lalu mereka saling berpelukan erat.
"Hems…. So sweet," gumam Mel saat menonton film dari aktor tampan favoritnya yang sedang tayang di layar kaca. "Wah! Ini kan Universitas Pelita Bangsa. Enak banget kampus mereka digunakan untuk shooting oleh aktor setampan Ezio Clay. Pasti para Mahasiswa disana bisa melihat langsung wajah tampannya. Lalu mereka juga bisa kenalan sama dia dan foto bareng. Duh! Jadi, tambah iri deh," tambah Mel dengan tatapan yang terus tertuju pada televisi tabung dua puluh satu inci di depannya. Tanpa ia sadari Sunandar si ayah sudah ada di belakangnya dengan menggunakan kursi roda.
"Mel," panggil Sunandar yang langsung membuat Mel terkejut.
"Ayah. Kok Ayah ada disini sih? Ayah kan belum sehat benar. Harusnya kalau Ayah butuh apa-apa tinggal bilang saja sama Mel. Pasti Mel akan segera datang dan membantu keperluan Ayah," ujar Mel seraya berjalan mendekati Sunandar. Mel pun langsung jongkok di depan kursi roda lelaki berumur lima puluh tahun itu.
"Mel. Ayah udah mendingan kok. Ayah malah merasa bosan kalau harus di kamar terus. Makanya, Ayah cari udara segar kesini," balas Sunandar.
"Syukurlah, Yah. Mel benar-benar takut Ayah kenapa-napa. Di dunia ini kan Mel cuma punya Ayah. Jadi, Mel nggak mau Ayah sampai sakit kayak kemarin," kata Mel sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Sunandar. Lelaki itu tersenyum lemah. Lalu tangannya yang terangkat mengelus rambut putrinya dengan pelan.
"Maaf ya, Mel. Gara-gara Ayah sakit-sakitan kamu jadi batal kuliah dan kejar cita-cita kamu." Mel seketika mengangkat kepalanya mendengar ucapan sang ayah barusan.
"Ayah. Ayah ngomong apa sih? Mel kan udah berkali-kali bilang sama Ayah. Kalau cita-cita terbesar Mel itu bikin Ayah seneng. Jadi, kalau Ayah masih merasa sakit artinya Mel belum bisa mencapai cita-cita Mel. Dan hal itu akan tetap jadi prioritas Mel." Gadis itu berkata dengan sungguh-sungguh.
Sunandar menatap wajah Mel sambil tersenyum manis. Padahal dalam hatinya terasa teriris. Ia merasa sangat bersalah tak bisa memberikan kebahagiaan untuk sang putri tercinta selayaknya orang tua pada umumnya. Apalagi Mel sudah kehilangan ibunya sejak ia lahir ke dunia. Itu berarti Mel sudah kehilangan kasih sayang dari sosok ibunya. Sehingga, seharusnya Sunandarlah yang berkewajiban membuat Mel merasa bahagia. Namun sayangnya, Sunandar tak bisa berjalan semenjak tiga tahun yang lalu.
Tepat saat Mel sedang duduk di bangku kelas tiga SMA. Ia pernah pernah mengalami kecelakaan saat menjadi driver ojek online. Sumsum tulang belakangnya rusak setelah kejadian naas itu. Tak hanya sumsum tulang belakang Sunandar yang bermasalah, ternyata dinding paru-parunya juga terjadi cedera akibat hantaman yang cukup keras saat kecelakaan terjadi. Sunandar pun pernah tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ia hanya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Saat itu Mel tampak sangat terpuruk. Bahkan, ia sempat ingin mengakhiri hidupnya, jika sampai terjadi hal terburuk pada Ayahnya. Untungnya, Sunandar lekas sadarkan diri, meskipun dengan keadaan tubuh yang seperti ini. Tetapi hal itu seakan memberikan secercah harapan pada Mel. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri. Bila ia akan melakukan apapun agar bisa membuat sang ayah bisa sembuh kembali.
Kembali pada Mel yang tengah menggenggam erat kedua tangan ayahnya. Senyum gadis itu terus mengembang dengan tatapan yang penuh harapan.
"Ya, udah. Ayah jangan mikir macem-macem lagi ya. Mending sekarang Ayah tidur aja. Mel pun mau siap-siap buat berangkat kerja," kata Mel sambil beranjak.
"Mel. Kenapa sih kamu nggak minta sift siang aja? Malem-malem gini kan bahaya buat cewek kayak kamu kerja. Belum lagi kalau ketemu sama orang yang tidak bertanggung jawab di jalan. Ayah kan jadi khawatir."
"Ayah. Jangan khawatir ya! Shitf malam itu kan gajinya besar. Lagian, aku bisa jaga diri baik-baik kok. Dan temen-temen kerja juga baik-baik semua. Jadi, Ayah jangan khawatir ya. Aku janji. Kalau tabungan Mel sudah cukup untuk membayar biaya operasi ayah. Mel akan keluar dari tempat itu dan nyari pekerjaan yang jam kerjanya siang hari." Lagi-lagi Sunandar hanya bisa tersenyum. "Ya, udah. Mel antar Ayah sampai kamar dulu ya!" kata Mel. Ia segera berjalan ke belakang kursi roda itu. Kemudian mendorongnya menuju kamar Sunandar. Tak hanya itu, sampai dalam kamar Mel juga memapah tubuh Sunandar hingga berpindah ke atas ranjang. Ia menyelimuti tubuh lelaki yang sangat ia cintai itu dengan selimut bergambar macan kumbang. "Ayah istirahat ya. Mel mau siap-siap dulu," ujar Mel sebelum pergi.
Empat puluh menit kemudian Mel sudah sampai di StarLight Lounge. Ia langsung masuk ke ruang karyawan untuk segera berganti pakaiannya dengan seragam waitress khas tempat itu. Setelah berganti pakaian tak lupa Mel juga segera merias wajah dan menata rambutnya menjadi Cepol dengan rapi. Setelah penampilannya dianggap sudah memenuhi standar karyawan tempat itu. Mel segera keluar untuk bergabung bersama rekan-rekannya di luar.
"Mel!" panggil salah rekannya saat melihat Mel keluar dari ruang ganti. Mel pun langsung menoleh.
"Ada apa Sis?" tanya Mel bingung.
"Bantuin gue dong. Pesanan di meja Seratus sebelas banyak banget nih. Gue sampai kewalahan membawanya," kata Siska itu.
"Ya, udah. Ayo kita kesana secepatnya!" timpal Mel. Mereka pun segera berjalan beriringan menuju dapur. Lalu mereka mulai mengangkat masakan demi masakan itu. Lalu membawakan beberapa botol wine dan Vodka menuju meja yang maksud Siska.
"Selamat malam, Tuan. Ini ini pesanan anda," kata Siska yang sampai lebih dulu di meja bundar dekat jendela yang sudah dikelilingi oleh para wanita dan lelaki yang tak menghiraukan keberadaannya. Kemudian ia pun segera meletakkan beberapa menu hidangan andalan dari atas nampan yang ia bawa. Mel melakukan hal yang sama. Sambil melayangkan senyumannya ia meletakkan beberapa botol wine dan Vodka beserta gelas kecilnya. Namun, setelah ia meletakkan botol itu dan hendak balik badan. Tiba-tiba tangan kanannya dicengkram oleh salah satu pria yang duduk paling ujung.
"Mau kemana cantik?" ujarnya dengan nada menggoda. Memang dibandingkan dengan para waitress di tempat ini. Wajah Mel yang tampak paling menonjol. Tak hanya wajahnya, bodynya pun sangat bagus dengan tinggi dan berat badan ideal yang membuat iri semua orang. Sebenarnya ini bukan kali pertama dia digoda oleh lelaki hidung belang macam ini.
"Maaf, Tuan. Saya harus kembali ke dapur," jawab Mel dengan nada merendah sambil mengibaskan tangannya. Kepalanya pun tertunduk dalam-dalam dengan ekspresi wajah ketakutan. Bukannya iba lelaki itu malah terlihat senang. Ia pun segera beranjak dan berjalan lebih dekat dengan Mel.
"Alah. Gaji kamu berapa sih disini? Saya bisa kasih puluhan kali lipat. Kalau kamu mau jadi simpanan saya, Cantik," kata lelaki yang mungkin sudah seumuran dengan Sunandar itu. Sambil mencolek dagu Mel. Reflek Mel menghindar.
"Maaf, Tuan. Tapi, gaji saya disini sudah lebih dari cukup. Terima kasih atas tawarannya," tolak Mel halus. Lalu ia segera melangkah pergi. Sayangnya, lelaki itu tak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Makanya ia kembali menangkap tangan Mel dengan gerakan yang lebih kuat.
"Kalau saya bilang tetap disini! Itu artinya kamu jangan pergi!" bentaknya. Hingga membuat semua orang menoleh. Sementara teman-temannya hanya cekikikan.
"Maaf, Tuan. Tapi saya harus pergi." Mel mengibaskan tangannya lagi.
"Alah. Nggak usah naif kamu. Kamu pasti butuh uang, kan?" Orang itu semakin nekat. Bahkan, tanpa izin ia berniat memeluk tubuh Mel. Tentu saja Mel langsung membela diri. Dengan kuat ia mendorong lelaki itu hingga jatuh.
Brukkk!
Lelaki itu pun tersungkur ke lantai. Namun, tak lama ia segera bangkit. Semua orang terkejut melihatnya. Sesaat lelaki itu mengawasi sekitar. Betapa malunya dia saat ini. Lelaki itu segera bangkit. Kemudian….
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Mel.
"Kurang ajar kamu! Berani-beraninya kamu mendorong saya!" ujar lelaki itu.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja. Sungguh saya tidak sengaja," kata Mel sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia tahan sekuat tenaga agar tidak tumpah begitu saja. Sungguh, ia merasa bersalah atas kejadian tadi.
"Ada apa ini, Pak? Ada yang bisa kami bantu?" ujar seorang lelaki dengan setelan jas krem melekat di tubuhnya.
"Anda manager tempat ini?"
"Betul."
"Pecat dia sekarang juga. Dia sudah berani mendorong saya sampai jatuh."
"Saya mohon maaf atas tindakan yang tak mengenakkan hati Bapak. Biar saya tegur anak buah saya. Kalau perlu saya kasih tindakan tegas," balas lelaki itu sambil melirik Mel yang tak berani mengangkat wajahnya sedikitpun. Si lelaki hidung belang tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan si manager tadi. Lalu ia segera kembali ke sofa bersama teman-temannya. "Mel. Ikut saya ke ruangan!" ujar si lelaki itu yang membuat badan Mel mendadak bergetar hebat.
'Hah. Apa? Gue mau dipecat?' batin Mel putus asa.