Bab 2

"Nona, saya mohon jangan melawan. Kami tidak ingin menyakiti, Nona," jelas David.

Kiara tidak habis pikir siapa orang kaya yang membelinya dan memberinya pakaian kurang bahan seperti ini.

Kiara berkali-kali berniat kabur. Tapi, David dan para anak buahnya mampu mencegah Kiara untuk kabur.

Sialan.

"Oke-oke. Aku tidak akan kabur lagi. Tapi, kalian jangan pernah melihatku. Atau mata kalian akan tau akibatnya," ancam Kiara. Kiara tidak mau jika lekuk tubuhnya dilihat oleh orang lain.

David dan para anak buahnya mendelik dengan ancaman frontal dari Kiara. Pasalnya mereka juga sudah biasa melihat pemandangan indah semacam itu dari para wanita Ken.

Tapi, memang benar. Tubuh Kiara lebih indah dari wanita-wanita milik Ken.

"Baik Nona," jawab mereka secara bersamaan.

"Hem. Ayo, jalan." Kiara langsung berjalan mendahului mereka. Kiara memajukan langkahnya dengan begitu bermerwibawa, tidak seperti seorang tahanan.

David terkekeh di dalam hati. Sikap arogan dari Kiara tidak ada bedanya dengan bosnya. Pantas saja jika Ken sangat menyukai Kiara.

Pantas saja, bos Ken memilih membuang semua wanitanya hanya demi kedatangan nona Kiara.

Hampir 30 menit Kiara di dalam perjalanan menuju hotel yang ditunjukkan David padanya. Akhirnya, Kiara dan David sampai di depan hotel milik Ken.

Kiara melihat sekitar halaman hotel tersebut sebentar. Beberapa pohon besar dengan daun yang menjulai indah menghiasi kedatangan Kiara. Tatanan bunga dan ornamen modern menambah kesan elegant hotel mewah itu.

Kiara sangat terpesona dengan keindahan hotel tersebut.

Namun, dengan cepat Kiara membuang kembali pandangannya. Bukan saatnya ia terpesona dengan pemandangan hotel ternama itu. Pikir Kiara. Ini waktunya untuk membuat kesepakatan dengan tuan pembelinya. Untuk membalas semua pengkhianatan dari pamannya.

"Kenapa sepi?" tanya Kiara aneh. Hotel sebesar dan semewah ini tidak ada lalu-lalang pengunjung hotel ataupun pegawai.

Bagaimana bisa? tidak mungkin bangkrut, kan?

Kiara memutar bola matanya kearah pria di sampingnya. Ingin menanyakan pertanyaan itu.

"Kenapa tidak ada seorang pun di sini? tuanmu bangkrut atau bagaimana?" tanya Kiara saat langkahnya mulai memasuki lift pribadi milik Ken.

David menghela napas panjangnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan tidak masuk akal dari Kiara.

"Nona Kiara. Tuan kami memang sengaja mengosongkan hotel ini hanya untuk menyambut kedatangan, Nona," jelas David.

Lagi-lagi Kiara mengernyit. Mengenai namanya yang tak pernah ia katakan kepada David. Kenapa dia bisa mengetahuinya.

"Aku bukan tamu specialnya kenapa harus mengosongkan seluruh hotel?" gumam Kiara tidak paham. Kiara masih aneh dengan tuan misteriusnya itu.

"Tahu darimana kamu namaku?" Kiara kembali bertanya. Namun sebelum pertanyaan itu selesai dijawab David.

Lift sudah terbuka. Dan mengharuskan mereka keluar. Kiara langsung mengikuti gerak kaki David.

David masih diam. Hingga akhirnya mereka sampai di kamar peibadi dari Ken.

"Silahkan masuk, Nona Kiara." Kiara menurut. Lalu diikuti David di belakangnya. Para anak buah David langsung menyebar untuk berjaga-jaga di depan kamar Ken.

"Bos Ken. Nona Kiara sudah berada di sini," ucap David pada seseorang berbadan kekar yang sedang membalikkan tubuhnya menghadap jendela kaca besar.

Kiara merasa tidak asing dengan panggilan David pada tuannya itu. Apa mungkin hanya perasaan Kiara saja?

Bos Ken? kenapa, aku merasa tidak asing dengan panggilan itu?

Kiara memutar bola matanya. Memandang sekeliling kamar itu. Sungguh menakjubkan. Kamarnya dulu saja tidak semegah dan seindah kamar hotel ini.

Orang super-duper kaya memang berbeda.

"Hm. Pergi." Tanpa membalikkan tubuhnya. Ken menyuruh asisten pribadinya itu untuk meninggalkan Kiara di sana bersama dirinya.

David membungkukkan badannya. Lalu pergi meninggalkan Kiara yang terlihat bingung dan sedikit ketakutan ditinggal David.

"Eh, kamu mau kemana?!" panggil Kiara cemas. Ingin menghentikan David. Tapi, pintu itu dengan cepat tertutup dan terkunci otomatis.

Kiara menggit bibir bawahnya untuk menghilangkan perasaan takutnya saat ini. Kiara menundukkan pandangannya. Kiara benar-benar ketakutan.

Seluruh kebahagian Kiara kini telah hancur. Kiara sudah tidak bisa lagi menjadi nona manja dari keluarga Mauren.

Kiara sudah pasrah. Kiara sudah tidak seperti dulu lagi. Hidupnya telah berada di tangan Ken.

"Duduklah dulu," perintah Ken dengan posisi dirinya yang belum berubah.

Kiara menurut. Tubuhnya langsung terduduk di sofa besar milik Ken.

"Tu--tuan Ken, terima kasih," Kiara mengucapkan rasa terima kasihnya atas belas kasihan Ken terhadapnya.

Entah apa jadinya, jika Kiara dibeli oleh sembarang orang. Meskipun Kiara belum tahu seorang Ken seperti apa.

Ken dengan baju kimono besar yang terlihat sangat cocok di tubuh kekarnya itu langsung membalikkan tubuhnya.

Ken menatap tubuh Kiara yang terlihat sangat ketakutan padanya. "Jangan berterima kasih dulu. Aku membelimu bukan dengan cuma-cuma. Kamu harus mengganti uangku."

Kiara mendongak. Lalu mengangguk pelan. Kiara pikir dirinya akan dipekerjakan Ken untuk membalas jasa Ken padanya. Sehingga Kiara mengiyakan perkataan Ken.

"Aku harus membayarnya dengan apa, Tuan? apa aku harus bekerja untukmu?" tanya Kiara.

Ken dengan cepat melempar satu map berisi perjanjian dan pernikahan kontrak yang telah ia rencanakan sebelumnya di atas meja.

"Baca, lalu tanda tangani." Ken mendudukkan dirinya di depan Kiara. Posisi mereka berhadap-hadapan.

Tidak henti-hentinya mata tajam Ken memandang wajah cantik Kiara. Ken seakan terhipnotis dengan segala apa yang ada di hadapannya saat ini.

Bukan hanya matanya yang terpesona akan kecantikan dan keindahan tubuh Kiara. Area sensitif Ken seakan bereaksi lebih hanya karena melihat Kiara.

Nona dari keluarga Mauren ini sangat menarik. Kiara.

Kiara mengambil berkas yang diberikan Ken. Lalu membaca sedatil mungkin. Kiara mengernyit. Saat membaca perjanjian untuk pernikahan kontrak dengan pria di hadapannya itu.

"Pernikahan kontrak? Aku tidak bisa, Tuan. Aku sudah mempunyai calon suami."

"Aku bisa mengganti uangmu dengan bekerja di tempatmu." Kiara berharap tawarannya bisa mengubah isi perjanjian dari Ken.

Tetapi, Ken menggeleng sinis. "Bekerja untukku?" dengan cepat Kiara mengangguk.

"Tanda tangani itu, dan kamu akan menjadi pelayanku." Ken masih kekeh untuk membuat Kiara mendatangani seluruh perjanjian yang ia buat.

Tetapi, Kiara masih saja memikirkan Jino dan pernikahannya yang tertunda.

Kiara belum benar-benar membaca isi perjanjian dari Ken. Kiara membuat dirinya agar bisa terlepas dari pernikahan kontrak yang telah Ken rencanakan padanya.

"Beri aku waktu, Tuan. Aku akan membayar ganti rugi ketika Tuan membeliku," tawar Kiara. Kiara berharap cemas agar tawarannya disetujui oleh Ken.

Entah apa jadinya jika Ken menolak kesepakatan Kiara. Karena hanya ada ide itu yang muncul dalam otak Kiara.

Ken mengulas dagu kekarnya. Matanya memicing kearah Kiara. Kaki yang semula bersila. Kini Ken turunkan.

"Hanya 2 hari. Aku memberimu waktu 2 hari untuk mengganti uangku, 5 triliun." Ken memberikan tawaran kembali. Dan tawaran Ken itu langsung membuat tubuh Kiara terhentak keras.

"A--apa! 5 trilun hanya dalam 2 hari?!" suara Kiara meninggi. Kiara terkejut dengan tawaran yang Ken berikan padanya.

Bagaimana bisa Kiara mengganti uang Ken dengan jumlah yang begitu besar. Bahkan sekarang di kantongnya pun. Hanya ada sarang laba-laba saja.

"Setuju atau tidak. Katakan sekarang.

"Aku setuju."

Bab 3

Kediaman rumah mewah Kiara kini telah menjadi sunyi setelah pembatalan pernikahan Kiara dan Jino.

Bahkan, seluruh pembantu setia Kiara berharap cemas untuk menananti nona mereka kembali lagi dan menghentikan sikap arogant dari paman dan keponakan Kiara.

Sedangkan Denia, keponakan Kiara kini telah mempersiapkan dirinya untuk mendatangi undangan yang telah Ken berikan padanya dan Jino.

Jino yang tidak lain merupakan tunangan dari Kiara.

Denia menatap dirinya di depan cermin besarnya dengan bangga atas keberhasilannya mendapatkan segalanya, termasuk tunangan Kiara.

"Kiara... Kiara, apapun milikmu pasti akan menjadi milikku." Denia memutar pandangannya pada foto Jino bersama Kiara.

Dengan perasaan bencinya, Denia merobek foto Kiara. Dan kini hanya tertinggal bagian Jino yang sedang tersenyum.

"Wanita bodoh seperti Kiara tidak akan pernah mendapatkan pria sesempurna, Jino," tambah Denia dengan sinis.

Denia masih terfokus pada sobekan foto yang masih berada di tangannya. Tanpa sadar, tangan kekar seseorang telah melingkar kuat di pinggang Denia.

"Kenapa lama sekali?" tanya seseorang itu dalam pelukannya. Denia tidak merasa terkejut akan kedatangan pria misterius itu.

Denia tahu, jika itu adalah Jino. Karena rayuan dari Denia. Jino sudah lama menjalani hubungan dengan Denia di belakang Kiara.

"Sayang, sebentar lagi aku akan keluar. Kamu aja yang nggak sabaran," balas Denia dengan manja.

Jino langsung memutar tubuh Denia menghadap dirinya dengan cepat. Hingga tubuh Denia hampir saja terhuyung. Untung saja, tangan kekar Jino sigap menahan pinggangnya.

"Nakal." Denia langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Jino, sembari memiringkan wajahnya.

Jino tersenyum miring. Tubuh Denia semakin Jino dekatkan pada tubuhnya.

"Jika, Kiara mau melayaniku. Pasti aku tidak akan pernah menghianatinya seperti ini," kata Jino semakin memajukan wajahnya.

"Sudah, lupakan wanita itu, Sayang. Kita hanya perlu memikirkan pernikahan kita," balas Denia sembari memainkan satu jarinya di bibir Jino.

Jino mengangguk. Hasratnya sebagai seorang pria sudah tidak bisa ia tahan, saat melihat wanita seagresif Denia.

Ketika Jino ingin meraih bibir Denia. Denia langsung menghentikan dengan menempelkan satu jarinya di depan bibir Jino.

"Nanti saja, Sayang. Kita harus datang keacara tuan Ken," ucap Denia. Dengan terpaksa, Jino mengiyakan perkataan Denia.

Karena lewat acara Ken nantinya. Jino bisa mendapatkan kenalan bisnis yang jauh lebih besar dari sekarang. Dan Jino tahu kesempatan tidak akan datang dua kali padanya.

Jika bukan dari Denia. Jino juga bisa mendapatkan dari wanita lain. Pikir Jino.

"Oke, Sayang," jawab Jino.

Kiara masih menatap ragu pada baju yang Kiara kenakan. Semua pakaian yang diberikan Ken selalu terbuka. Entah memang selera Ken seperti ini. Atau memang Ken adalah pria mesum.

"Aku mau ganti. Aku bisa masuk angin kalau bajuku seperti ini," seloroh Kiara. Kiara langsung menyilangkan tangannya kedepan.

Para pekerja butik profesional yang memang didatangkan Ken khusus untuk Kiara itu sedikit tertawa dengan tingkah konyol Kiara.

Baru kali ini mereka menemui pelanggannya yang tidak suka memamerkan asetnya. Bahkan tidak suka memakai riasan yang berlebihan.

"Nona, tuan Ken selalu menyukai style wanitanya seperti ini. Kami ti—" belum sempat salah satu dari mereka menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba Ken masuk kedalam kamar yang memang khusus untuk Kiara itu.

"Ada apa?" tanya Ken datar. Seluruh pandangan langsung menuju kearah pria gagah dengan setelan jas hitam yang sangat cocok di tubuh Ken.

Begitupula dengan Kiara. Kiara seakan terhipnotis dengan ketampanan yang dimiliki Ken. Dipersekian detik bahkan netra Kiara berat untuk berkedib.

Sampai akhirnya Ken menanyakan kembali pertanyaannya, Kiara baru sadar jika Ken sedang menanyakan sesuatu padanya.

"Ada apa?" tanya Ken kembali sembari berdiri di depan pintu kamar.

Seluruh pegawai butik itu menunduk. Pandangan yang tadi ikut terpaku sejenak karena ketampanan Ken kini mereka malah menjadi ketakutan.

"Nona Kiara tidak menyukai dress yang sekarang nona pakai, Tuan," jelas salah satu dari mereka dengan suara bergetar.

Ken yang mendengar itu pun langsung menatap tajam kearah Kiara. Wajah Ken masih belum ada perubahan. Masih datar tanpa ekpresi menatap Kiara

Kiara yang merasa dirinya sedang diawasi. Kiara langsung mengulas leher belakangnya. Tatapan Ken sungguh membuat bulu guduk Kiara merinding.

Lebih dari sekedar ditatap hantu. Ken lebih seram dari segala hantu di dunia ini, menurut Kiara.

"Aku ingin ganti, Tuan. Baju ini terlalu terbuka," keluh Kiara lagi. Ken masih menatap Kiara tanpa ekpresi apapun.

Ken menaik-turunkan bola mata hitamnya. Ken baru pertama kali terpesona dengan penampilan wanita. Dan itu jatuh pada Kiara. Wanita yang tidak pernah masuk dalam kriteria selera wanitanya.

Ken mengernyitkan matanya saat melihat kedua tangan Kiara masih menyilang, menutupi asetnya terlihat terbuka.

"Lepas tanganmu!" perintah Ken. Kiara yang mendengar itu pun langsung membulatkan matanya.

Mana bisa Kiara melepaskan tangannya yang Kiara pasang sebagai perisai dirinya. Kiara tidak menyukai lekuk tubuhnya dilihat oleh pria lain kecuali suaminya kelak.

Kiara menggeleng cepat. Kiara tidak akan mau menuruti pria di depannya itu.

"Tidak mau."

Ken semakin tersenyum licik. Baru kali ini perintahnya ditolak oleh wanita yang dia beli.

"Siapkan baju yang lebih seksi dari ini," perintah itu semakin membuat Kiara berlumuran keringat dingin. Pria dingin itu benar-benar membuat Kiara melepaskan prinsip hidupnya.

"Bai--baik, baik. Aku akan menurut." Kiara langsung melepas kedua tangannya yang menyilang dengan perlahan.

Kedua mata Ken masih menatap Kiara tanpa arti. Ken merasa senang hanya karena Kiara patuh terhadapnya.

Ken merasa aneh dengan hatinya. Tapi, Ken berpikir mungkin hanya perasaan kasihan saja terhadap nona dari keluarga Mauren itu.

Kiara menundukkan wajahnya. Kiara benar-benar seperti wanita murahan di depan Ken.

"Angkat kepalamu. Aku tidak sedang membeli boneka. Kamu telah menjadi milikku. Seluruh tubuhmu juga milikku," tandas Ken.

Kiara langsung menurut. Memang seluruh perkataan Ken adalah benar. Hanya karena dirinya. Ken membuang uang yang tidak mungkin Kiara dapatkan dengan waktu singkat.

Ken menatap kesal dengan tubuh Kiara yang nampak sangat menggoda dirinya, apalagi saat mata pria lain yang nantinya akan melihat Kiara di pesta.

Belum sempat Ken menikmati tubuh Kiara melalui tatapan mata tajam Ken. Tiba-tiba suara David terdengar dari arah luar kamar. Membuat Ken memicingkan matanya kearah Kiara.

"Bos Ken. Tuan besar memberi kabar. Mereka sudah berada di sana." Suara David muncul tiba-tiba.

"Hm. Kamu jangan masuk. Tetap di sana," jawab Ken.

"Baik, Bos." David menggaruk kepala belakangnya saat bosnya melarangnya untuk masuk.

Tidak seperti biasanya.

David selalu diberi akses untuk masuk ke kamar Ken, meskipun bosnya sedang melakukan pergulatan panas dengan para wanita Ken.

Dan kali ini bos Ken melarang David untuk masuk? memang ada apa di dalam sana? Pertanyaan itu membuat David sangat bertanya-bertanya.

"Cepat ganti bajunya. Sesuai dengang keingan dia. Jangan pakai yang seperti ini lagi."

Ken mengibaskan jas hitamnya lalu pergi meninggalkan Kiara dan para pegawai butik yang masih ternganga dengan perintah pria tampan itu.

"Apa aku tidak salah dengar?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED