Perlahan kelopak mataku terangkat. Suasana asing menyambut membuatku menutup mata kembali, mencoba mengingat di mana diriku berada. Lalu bayangan saat tubuhku terhempas ke ranjang dan pisau yang melayang di atasku membuat mataku terbuka lebar dan refleks aku bangkit duduk seraya menatap sekeliling.
Tidak ada apapun. Semuanya tampak normal. Apa yang semalam hanya mimpi?
Menggeleng pelan, aku turun dari ranjang. Kalau benar itu mimpi, aku harus segera menuliskannya sebelum lupa. Mimpi itu akan menjadi kisah seru yang mendebarkan. Dan tentu saja manis dengan sedikit bumbu di sana-sini.
Drrttt.
Langkahku terhenti tepat di belakang pintu. Itu suara ponselku. Aku menoleh dan tak mandapatinya di meja nakas, melainkan tergeletak di lantai dekat dinding. Aku tertegun sejenak, lalu buru-buru menghampirinya. Saat aku menunduk untuk mengambil ponsel itu, otakku kembali menghadirkan memori semalam.
Kalau ponsel ini tergeletak di sini seperti yang kuingat semalam, berarti hantu itu…
Aku kembali mengedarkan pandang ke sekeliling. Namun tak menemukan apapun kecuali cahaya matahari yang mengintip malu-malu di balik tirai jendela. Mungkinkah hantu itu hanya muncul saat malam tiba?
Drrttt.
Sejenak aku mengabaikan ingatan tentang kejadian semalam lalu menerima telepon. Telepon biasa dari ibuku yang menanyakan keadaanku. Tentu dia khawatir karena ini pertama kalinya aku jauh darinya untuk waktu yang tidak sebentar. Aku sangat mencintainya karena itu namun ada impian yang tidak bisa kuabaikan.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya ibuku puas dan merasa yakin aku memang baik-baik saja. Dia juga tidak bisa terlalu lama menelepon pagi-pagi karena ada dua adikku—Sony dan Sofyan—yang harus bersiap ke sekolah sebelum ibu dan ayahku berangkat bekerja. Tiap pagi selalu menjadi hari sibuk.
Setelah menerima telepon, dengan asal kulempar ponsel ke atas ranjang lalu keluar. Lagi-lagi langkahku terhenti menyadari tv dalam keadaan menyala menayangkan berita pagi. Aku menoleh ke arah sofa panjang yang berhadapan dengan tv. Di sana tampak guling dan bantal yang seharusnya ada di kamar. Sesekali terlihat gulingnya bergerak dan jelas tidak benar-benar menyentuh sofa.
Ah, jangan bilang si hantu berbaring di sana sambil memeluk guling dan menonton berita pagi. Lelucon macam apa ini?
“Kau hantu yang semalam, kan?” tanyaku, merasa agak konyol karena berbicara pada sofa. Dan lebih konyol lagi karena tidak ada tanggapan.
Fira, balikkan tubuhmu dan menjauh dari situ! Semalam kau nyaris mati, ingat? Akal sehatku menggeram marah.
Ya, tentu saja aku ingat. Bahkan mungkin semalam aku bukan tertidur, melainkan pingsan. Suatu keajaiban aku tidak tewas dan tubuhku masih utuh.
Menuruti akal sehatku, aku berbalik menuju tirai jendela yang membuat suasana agak gelap. Namun belum sempat aku menyentuhnya, terdengar suara itu lagi. Bagai dibawa angin.
“Jangan. Atau aku akan melemparmu dari jendela.”
Aku merengut lalu menoleh ke arah sofa. “Kalau lampu? Boleh aku menyalakannya?”
“Tidak.”
Menghembuskan nafas, aku mengalah. Setidaknya dia tidak menyerangku lagi. “Kau mau sarapan? Aku akan makan sereal.”
Tidak ada tanggapan.
“Aku akan menyalakan lampu dapur agar tidak tersandung dan mengiris jariku sendiri.”
PRAANGG!
Aku tersentak mendengar suara keras dari arah dapur. Aku bergegas ke sana dan mendapati lampu dapur di langit-langit sudah menjadi pecahan yang berserakan di lantai.
Ckckck, sungguh tuan rumah yang tidak ramah.
Setelahnya aku segera membersihkan pecahan lampu dan menyiapkan sarapanku dalam suasana remang.
Setengah jam kemudian aku keluar dapur dalam keadaan kenyang. Dapur juga sudah dibersihkan. Aku mengabaikan sosok tak kasatmata yang mungkin masih berbaring sambil memeluk guling dan menonton film kartun tentang makhluk laut berwarna kuning dan berbentuk kotak, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sampai aku selesai berganti pakaian, tidak ada apapun yang terjadi. Tidak ada benda melayang. Tidak ada suara keras yang membuat jantungku melonjak. Dan tidak ada kekerasan fisik seperti semalam. Semua normal. Kecuali ruangan yang tetap remang. Bahkan tv yang menyala serta guling dan bantal di atas sofa juga terlihat normal. Itu membuatku bertanya-tanya, apa hantu itu sudah pergi? Mungkin mencari makanan. Meski aku tidak tahu apa yang kira-kira dimakan hantu.
Penasaran, aku mendekati sofa lalu menunduk. Mengulurkan tangan ke sisi kosong sofa dan membayangkan menyentuh tubuh seseorang. Tapi kemudian tanganku terasa ditepis kasar hingga membuatku buru-buru menegakkan punggung sambil meringis membelai tanganku.
“Kupikir kau sudah pergi,” ujarku ketus.
“Ini rumahku. Kalau ada yang akan pergi, itu pasti kau.” Sama seperti sebelumnya, suara itu tampak tak berasal dari sosok yang mungkin tengah berbaring di sofa. Tapi seperti dibawa angin yang berembus pelan.
“Ya, kau benar,” sahutku tak acuh. “Apa sekarang aku boleh mematikan tv? Aku harus bekerja.”
“Tidak.”
Aku menghembuskan nafas kesal. Tapi setidaknya volume tv tidak terlalu keras. Jadi aku akan tetap bisa berkonsentrasi mengetik di dalam kamar.
“Baiklah. Aku akan bekerja di kamar. Selamat menikmati waktumu.”
Aku melambai pada sofa lalu masuk kamar. Tak lupa pintu kututup untuk menghalau suara tv meski tidak sepenuhnya berhasil.
Sejenak aku berhenti di dekat pintu dengan pandangan menyapu ruangan lalu berhenti di tirai jendela yang masih tertutup rapat. Di belakang tirai ada pintu kaca yang mengarah balkon. Pemandangan di sana sangat indah.
Kalau tirai di sini dibuka, seharusnya tidak mengganggu si hantu tampan di luar sana, kan?
Tanpa menunggu lagi, aku berjalan mendekati tirai lalu membukanya. Seketika ruangan menjadi terang karena cahaya matahari berhasil masuk. Tapi itu hanya bertahan selama lima detik karena setelahnya tirai menutup kembali dengan sendirinya.
Sreeettt!
“Argh!” Aku memekik saat tubuhku mendadak terlempar ke ranjang dengan posisi telentang. “Oke… oke… aku mengerti. Tidak akan membuka tirai dan membiarkan cahaya masuk.” Aku meringis seraya berusaha bangun. “Seharusnya bilang saja,” gerutuku pelan. Beruntung makhluk itu hanya tidak suka terang dan membiarkan AC tetap menyala. Jika tidak, aku pasti akan mati karena gerah.
Setelah duduk di sisi ranjang, aku menatap sekeliling. Lagi-lagi semua tampak normal. Pasti dia sudah berbaring lagi di sofa. Atau memang tetap di sana dan hanya kekuatannya yang menutup tirai dan mendorongku. Entahlah. Yang jelas kami mulai saling mengerti. Setidaknya begitu dugaanku.
Akhirnya kuputuskan menikmati situasi ini lalu mengambil laptop dan buku catatanku. Tak lama kemudian, aku sudah tenggelam dalam jalinan kata dalam ceritaku.
***
Tak terasa sudah dua minggu aku tinggal di apartemen ini. Tubuhku masih utuh tanpa sedikit pun luka. Kecuali di hari pertama, aku mendapati memar sebesar kepalan tangan di bagian dâda. Dari mana lagi kalau bukan ulah si hantu di malam pertama pertemuan kami?
Aku sendiri cukup kaget bisa berkompromi dengan hantu. Bahkan kami tinggal bersama. Dia tak lagi menggangguku dan akupun tidak mengganggunya. Sebagian besar waktu kuhabiskan dalam kamar sementara dia di depan tv. Tapi terkadang saat otakku terasa buntu namun malas keluar apartemen, aku memilih duduk di kursi tunggal samping sofa panjang tempat bersemayamnya si hantu lalu turut menonton tv.
Lucu, bukan?
Aku menonton tv bersama hantu—meski jika ada yang melihat, tampak jelas aku sendirian di ruangan itu. Orang tuaku pasti langsung pingsan jika mengetahui hal ini.
Kadang saat situasi sangat tenang hingga membuatku berpikir bahwa hanya aku dalam apartemen, sengaja kulakukan sesuatu yang tidak disukai si hantu. Seperti mengganti channel tv, membuka tirai, atau menyalakan lampu. Setelahnya pasti si hantu membuat suara keras yang mengagetkan atau mendorongku dengan kasar. Jika sudah demikian, aku akan menyeringai geli sambil mengangkat tangan mengisyaratkan perdamaian.
Hari ini ceritaku sudah mencapai babak akhir. Aku tak sabar untuk segera menyelesaikannya. Setelah sarapan semangkuk sereal—yang menjadi menu sarapan favoritku akhir-akhir ini—aku mengurung diri dalam kamar dengan hanya berbekal satu botol air putih.
Menjelang malam, aku semakin bersemangat. Tenggorokanku terasa kering namun aku mengabaikannya. Tiga halaman lagi dan cerita ini selesai. Aku berharap bisa segera menulis kisah hantu dan seorang wanita dalam apartemen yang sudah kubuat draftnya.
BRAAKKK!
“Astaga!”
Refleks aku mengubah posisiku yang sebelumnya telungkup di depan laptop menjadi duduk di tengah ranjang. Tanganku menangkup dâda yang berdebar keras hingga terasa menyakitkan. Udara dingin yang tidak mengenakkan menyerbu masuk ke kamar melalui pintu yang terbuka, membuat bulu kudukku meremang. Saat itu juga, aku tahu dia di dalam sini.
“Kau bisa membuatku mati terkena serangan jantung,” keluhku sambil mengatur nafas yang memburu.
“Makan.”
Aku melirik sekeliling, tidak tahu harus mengarahkan penglihatan ke mana. “Kau mau makan?”
“Aku tidak pernah melihat manusia yang tidak makan.”
Aku mengerutkan kening, tidak mengerti maksudnya. Tapi kemudian tersenyum begitu paham. “Maksudmu aku? Kau menyuruhku makan?” Aku menyeringai. “Dibalik sikap kasarmu, ternyata kau sangat perhatian.”
Krriiuukkk.
Refleks aku memegang perut yang tiba-tiba mengeluarkan suara itu. Setelah diingatkan agar makan, barulah aku sadar bahwa aku memang lapar. Yah seharian ini, hanya sereal yang merupakan benda padat yang masuk ke dalam mulutku. Sisanya hanya air dalam botol yang kini sudah kosong.
Mengangkat kepala, aku tersenyum manis pada kegelapan. Oh, apa aku sudah bilang bahwa saat malam tiba, aku bisa membuka tirai? Ya, si hantu tidak melarangku membuka tirai jika langit sudah benar-benar gelap. Tapi aku tetap tidak boleh menyalakan lampu hingga satu-satunya penerangan berasal dari bulan dan bintang-bintang serta lampu-lampu dari gedung tinggi di luar sana.
“Terima kasih sudah mengingatkan. Sebentar lagi aku akan ke dapur untuk makan. Sekarang masih ada beberapa paragraf yang harus kutulis.” Lalu aku kembali menunduk, memusatkan perhatian pada laptop dan bersiap menarikan jemari di atas keyboard.
Mendadak layar laptopku tertutup. Beruntung tidak keras tapi itu tetap membuatku terbelalak kaget. “Hei, kau boleh menghancurkan barang-barang di sini tapi jangan laptop, ponsel, dan buku-bukuku!” seruku pada kegelapan.
“Makan!”
Kali ini suara yang dibawa angin itu terdengar lebih tegas diiringi geraman marah.
“Oke… oke…! Aku akan ke dapur.” Aku angkat tangan seraya turun dari ranjang. Untung aku sudah mensetting laptop agar otomatis dalam keadaan sleep saat layarnya ditutup.
Keluar dari kamar, aku menuju dapur. Mie instan sudah habis. Aku punya telur mentah dan sayuran tapi berpikir tidak cukup waktu untuk sekedar membuat omelet. Akhirnya kuraih kotak sereal dan mangkuk.
“Tadi pagi kau sudah makan itu.”
Geraman itu membuatku menoleh. Tapi seperti biasa, hanya ruang kosong yang menyambutku. Walau begitu, aku tetap mengulas senyum. “Tidak ada waktu untuk memasak. Aku harus segera menyelesaikan novelku sebelum idenya melayang.” Lalu aku kembali mengalihkan perhatian pada mangkuk dan sereal di depanku. “Harusnya kau biarkan aku menyelesaikan novelku dulu. Tinggal tiga halaman.”
Saat aku tengah berkutat untuk membuka bungkus karton sereal, mendadak kotak itu seolah dirampas dari tanganku. Namun bukan itu yang membuatku ternganga dan kelihangan kata-kata. Aku melihatnya, si hantu, berwujud. Hanya berupa kabut hitam yang membentuk gestur tubuh seorang lelaki. Tapi untuk pertama kalinya aku benar-benar melihatnya.
Takut?
Lucunya, aku malah senang. Aku bisa melihatnya setelah dua minggu hanya berbicara pada ruang kosong.
“Bisakah kau berubah lebih solid lagi? Menunjukkan wujud aslimu?”
Sepertinya aku benar-benar sudah gila. Tapi aku tak peduli. Senyumku merekah, tak bisa memalingkan wajah dari sosok hitam yang kini meletakkan kembali kotak serealku dalam lemari.
“Wujud asliku sangat mengerikan.” Suara itu tak lagi terdengar dibawa angin. Melainkan berasal dari sosok hitam itu.
“Tidak, kau sangat tampan,” tegasku yakin.
“Aku benci isi otakmu,” terdengar dia menggerutu.
“Kenapa?” tanyaku sambil terkekeh. Aku menyandarkan pinggul di meja pantri, memperhatikan sosok itu bergerak membuka-buka lemari seolah mencari sesuatu.
“Kau membuatku tidak bisa berwujud.”
Keningku berkerut tidak mengerti. “Maksudnya apa?”
“Saat seseorang ketakutan karena berpikir ada hantu, dia membayangkan yang terburuk dari sosok hantu itu. Sesuatu yang paling dia takuti hingga aku bisa berwujud menyerupai itu. Tapi kau—” nadanya berubah kesal. “kau malah yakin sekali bahwa aku tampan dan terus memikirkan adegan kita berciuman.”
Tanpa bisa dicegah, tawaku pecah. “Ternyata hantu bisa kesal juga.”
“Tutup mulutmu!” sergahnya jengkel seraya membuka kulkas lalu mengeluarkan sayuran, telur, dan daging sapi beku.
“Kau mau masak?” tanyaku takjub.
“Sana cepat selesaikan pekerjaanmu lalu kembali ke sini. Aku akan mencoba membuat sesuatu. Berharaplah aku tidak salah memasukkan garam dengan racun tikus.”
Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan seringai geli. “Apa makanannya bisa berubah menjadi belatung dan daun kering jika aku memberinya perasan jeruk nipis?”
KLONTANG!
Aku tersentak kaget saat dia melempar panci ke meja pantri lalu berjalan mendekatiku. Udara mendadak berubah dingin yang mencekam, terasa menggulung lalu memelukku dengan tak bersahabat.
Dia berhenti sekitar tiga puluh sentimeter di depanku, membuatku harus mendongak untuk menatap bagian kabut yang membentuk kepala meski tidak ada mata, hidung, mulut, dan bagian tubuh lain. Hanya kabut hitam. Dengan posisi sedekat ini, aku jadi tahu bahwa tinggiku hanya mencapai pundaknya.
“Aku sudah berbaik hati mengizinkanmu tinggal cukup lama dan merendahkan diri memasak untukmu. Tapi balasannya kau menghina masakanku,” dia menggeram pelan, namun sarat akan ancaman.
Lagi-lagi aku menggigit bibir bawahku. Kali ini karena merasa bersalah. Yah, ucapanku tadi memang terdengar keterlaluan, mungkin.
“Aku tidak bermaksud menghina. Hanya saja, aku tidak pernah mendengar hantu bisa masak.” Aku meremas kedua tangan seraya menampilkan raut menyesal.
Selama sepuluh detik yang menegangkan, dia tidak menanggapi ucapanku. Akhirnya dia berbalik kembali ke arah kompor seraya bergumam, “Kembali ke kamar.”
“Hmm, apa ada yang bisa ku—”
“Sekarang!”
Akhirnya aku tidak membantah lagi. Segera berbalik ke kamar dan kembali menyalakan laptop. Butuh waktu lama sampai otakku berhenti memikirkan si hantu dan kembali tenggelam dalam alur cerita.
-------------------
♥ Aya Emily ♥
Klek.
Terdengar pintu kamar terbuka pelan saat aku selesai membereskan laptop, ponsel, dan buku-buku catatanku. Aku duduk di tepi ranjang dan tersenyum manis melihat kabut hitam masuk dengan membawa nampan.
Kalau kau penasaran seperti apa wujudnya, kau bisa melihat bayangan hitam tubuhmu di dinding atau lantai. Ya, seperti itulah dia. Keseluruhannya hitam dan hanya bentuknya yang menyerupai orang dan berwujud tiga dimensi.
"Makan, habiskan!" perintahnya sambil meletakkan nampan di atas ranjang lalu mundur dan bersandar di dinding. Kali ini benar-benar terlihat seperti bayangan.
"Ya, tentu saja," sahutku antusias. Mataku berbinar mendapati roti tawar dan semangkuk sup krim. Buru-buru aku menyendok sup krim lalu memakannya.
Hmm, lezat. Benar-benar lezat.
"Dari mana kau belajar masak?"
"Bukan urusanmu."
Aku mengerucutkan bibir tapi lalu angkat bahu dan makan dengan lahap. Benar-benar masih tidak percaya bahwa hantu bisa masak dan makanan di hadapanku tidak berubah menjadi belatung serta daun kering seperti dalam film-film.
"Kau bilang bisa berwujud menyerupai apa yang dipikirkan orang yang kau takut-takuti. Kenapa kau tidak berwujud menjadi lelaki tampan seperti yang kupikirkan?" tanyaku setelah menghabiskan selembar roti. Masih ada dua lembar lagi dan aku tidak keberatan menghabiskannya.
Selama beberapa saat tidak ada tanggapan hingga kupikir si hantu tidak akan menjawab pertanyaanku. Tapi kemudian dia berkata dengan suaranya yang terdengar dalam dan—seksi?
Aku benar-benar sudah gila!
"Lagi-lagi kau melakukannya," hantu itu mendengus.
Kupikir dia akan menjawab pertanyaanku. "Apa?"
"Sekarang kau berpikir suaraku seksi." Nada kesalnya terdengar jelas.
"Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri yang mengintip isi kepalaku." Aku menyeringai. "Jadi, kenapa kau tidak berwujud seperti yang kupikirkan?"
"Karena itu artinya aku harus menampakkan wajah asliku di depanmu. Dan aku tidak mau melakukannya."
Mataku berbinar. Kuletakkan kembali roti kedua yang sudah setengah kugigit lalu berdiri mendekatinya. Setelah cukup dekat, kuletakkan telunjuk di daguku sambil memperhatikannya seolah sedang berpikir.
"Apa itu artinya kau tampan? Kenapa aku ragu?" Kau pasti sangat jelek hingga tidak berani menunjukkan wajahmu.
Dia menggeram. "Kau benar-benar harus belajar menjaga mulut dan otakmu."
Aku menaikkan dagu, menatap bagian yang kupikir adalah wajahnya dengan sikap menantang. "Kalau kau tidak setuju dengan apa yang kukatakan dan kupikirkan, sebaiknya tunjukkan wajahmu."
"Aku benar-benar tidak suka manusia sepertimu. Kau terlalu berani, terlalu dekat, dan—"
"Dan?"
"Terlalu cantik."
DEG.
Aku tersentak kaget mendengar ucapannya. Kurasa dia juga. Dan yang membuatku semakin terperangah, perlahan sosoknya kian padat, hingga akhirnya membentuk tubuh utuh dengan raut wajah yang memang rupawan.
Hidung mancung, bibir tipis namun berlekuk seperti ombak, dagu lancip, mata hitam yang tampak menyorot tajam, serta alis tebal yang nyaris lurus. Semua itu tampak sangat pas di wajahnya yang kini tampak gusar. Apa karena dia baru saja mengakui bahwa aku cantik?
"Tidak, bukan seperti itu," ujarnya ketus dengan wajah yang lucunya—memerah.
"Hah?" Apa dia baru saja menjawab pertanyaan dalam benakku?
"Sudahlah, sana habiskan makananmu." Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, dia berbalik keluar kamar.
Aku masih terdiam di tempatku berdiri dengan seringai bodoh di wajahku. Apa itu tadi? Apa dia benar-benar hantu dan bukannya vampir yang terkurung dalam apartemen ini? Yah, setidaknya menurutku vampir lebih manusiawi daripada hantu.
Dan tanpa bisa menahan diri, aku bertanya dengan suara keras ke arah pintu kamar yang terbuka. "Apa di sekitar sini ada Mall hantu? Pakaianmu cukup bagus."
BRAKK.
Aku meringis melihat pintu tiba-tiba tertutup dengan suara keras. Kurasa sudah cukup membuat hantu kesal hari ini.
***
"Kau suka acara kartun, ya?" tanyaku tanpa mengalihkan perhatian dari layar tv.
Dia tidak menyahut seperti biasa. Menganggap pertanyaanku hanya angin lalu.
Aku menoleh dan kali ini memperhatikan sosoknya dengan seksama. Sudah tiga hari dia terus menunjukkan sosok fisiknya yang sempurna. Hanya sesekali menghilang. Mungkin karena kesal padaku. Dan selama itu, aku tidak pernah melihatnya ganti pakaian. Hanya kaus polos pas badan dan jins belel. Apa itu pakaiannya saat meninggal?
Dia berdecak kesal lalu memperbaiki posisi berbaringnya. Kini satu tangan di bawah kepala. Satu kaki mengapit guling dan kaki lainnya menekuk lutut. Dia tampak nyaman berbaring telentang di sofa yang tidak sepenuhnya menampung tubuhnya yang tinggi.
Aku menahan senyum geli. Sepertinya dia lagi-lagi membaca pikiranku. Dengan jahil, kubiarkan mataku jelalatan memperhatikan fisiknya yang membuat liur menetes.
Mata hitam si hantu menatap sendu si wanita yang tengah tertidur nyenyak. Ada kerinduan dalam sorot matanya pada sang kekasih yang tak bisa lagi ia gapai. Lalu wanita itu datang, dengan segala kemiripannya dengan sang kekasih.
Perlahan si hantu mendekat, lalu dengan hati-hati duduk di tepi ranjang. Sejenak dia hanya diam. Memperhatikan si wanita yang terlihat sangat tenang dan lelap dalam tidurnya. Hingga akhirnya dia tak sanggup lagi menahan diri untuk menyentuh si wanita, merasakan kelembutan dan kehangatan kulitnya—
PLAK!
Bantal guling melayang tepat mengenai wajahku. Aku mengaduh seraya menyingkirkan guling itu lalu melotot ke arah si hantu yang juga balas menatapku dengan sorot kesal.
"Apa?" tanyaku kesal. Dasar pengganggu imajinasi!
"Aku tidak pernah punya kekasih dan kau tidak mirip siapapun dalam hidupku!" serunya kesal seraya duduk. "Dan satu lagi, aku tidak pernah menyentuhmu diam-diam!"
Bibirku membentuk seringai geli dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. "Tapi kau memang memperhatikanku saat tidur dan membayangkan ingin menciumku, kan?"
Dia terbelalak. "Bagaimana kau tahu?"
Aku pun terbelalak dan senyum jahilku lenyap. "Jadi benar?"
"Eh!" seketika wajahnya memerah. Resiko memiliki kulit putih bersih. "Dasar wanita menyebalkan. Kembali saja ke kamar! Aku bertekad ini terakhir kalinya aku berurusan dengan penulis romansa."
Aku tertawa geli sambil memeluk guling yang tadi dia lempar padaku.
"Itu gulingku! Kembalikan!" mendadak dia berseru.
Aku semakin terbahak. "Tadi kau sudah memberikannya padaku." Kupeluk guling itu semakin erat. Kedua pahaku juga menjepitnya.
Mendadak dia menghilang lalu kurasakan tarikan yang sangat kuat pada guling yang kupeluk. Aku tidak berhenti tertawa sambil mempertahankan guling itu tetap dalam dekapanku.
"Kembalikan!" terdengar geraman seperti dihembuskan angin menyapu telingaku.
"Tidak mau!"
Aku merasakan dorongan di sisi kepalaku hingga menempel di sandaran kursi. Bersamaan dengan itu, guling ditarik semakin kuat namun akupun memeluknya sangat erat. Kini tawaku sudah pudar namun seringai geli masih bertahan di wajahku.
"Aku akan meremukkan kepalamu!" geramnya lagi. Kali ini lebih jelas karena sosoknya kembali solid hingga utuh sepenuhnya.
Aku terkekeh. "Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Akan kukembalikan guling ini dan kau harus mengatakan siapa namamu."
Dia mendesis marah. "Kesabaranku sudah habis."
Refleks aku memejamkan mata merasakan tekanan di sisi kepalaku semakin kuat. Tapi yang kurasakan kemudian membuatku membeku.
Bibir yang empuk dan lembut terasa menekan bibirku. Awalnya hanya menempel rapat. Tapi kemudian bergerak, menghisap bibir atasku lalu beralih pada bibir bawahku. Lebih lama di sana. Perlahan lidahnya keluar. Menekan-nekan lembut di antara bibirku yang sedikit merekah, agar membuka lebih lebar.
Aku mengerang. Menerima undangannya dengan senang hati. Bibirku terbuka semakin lebar, membiarkan lidahnya masuk dan menjelajah kehangatan mulutku.
Tangannya yang semula menekan sisi wajahku pindah menyentuh sisi leherku. Ibu jarinya membelai lembut, menciptakan gelenyar panas yang terasa membakarku, dan membuatku bergetar nikmat.
Sentuhannya membuatku gatal ingin menyentuhnya juga. Tanganku bergerak hendak menyentuh pundaknya namun—
"Sial!" umpatku setelah berhasil melepaskan diri dari pagutannya. "Aku tidak bisa menyentuhmu," kesalku sambil mencoba menyentuh wajahnya namun tubuhnya berubah transparan dan tanganku menembusnya.
Dia menyeringai. "Tapi aku bisa menyentuhmu," ucapnya lalu kembali menyatukan bibir kami. Semakin menekanku ke kursi dan menciumku lebih dalam.
-------------------------
~~>> Aya Emily <<~~