"Rana enggak mau, yah. C'mon, ini bukan jaman siti nurbaya yang main jodoh-jodohan"
Rana menatap tidak terima Pramono, yang duduk santai di sofa memandang anaknya yang berdiri. Ayahnya tiba-tiba mengatur perjodohan dengan anak rekan bisnisnya seenaknya. Dan ia tidak suka masalah percintaannya diikut campuri.
"Nak, usia ayah sudah tua. Lagipula kamu itu sekarang sudah 24 tahun, dan tahun depan sudah 25 tahun—"
"Kenapa memangnya kalau tahun depan Rana berusia 25 tahun? Aku tahu alasan ayah menikahkan aku untuk merger perusahaan kan, bukan masalah umur?"
Pramono menghela nafas, anaknya itu mirip sekali dengan istrinya yang keras kepala. Dan tebakan putrinya juga dirinya tidak bisa mengelak, itu memang kenyataannya.
"Kalau ayah tetap maksa aku untuk melakukan perjodohan dengan lelaki yang tidak aku kenal. Maka siap-siap ayah akan kehilangan aku. Aku akan pergi dari rumah ini" ucap Rana dengan berani.
"Kamu yakin?"
Dahi Pramono mengernyit, meragukan jawaban anaknya.
"Iya. Kenapa enggak? Toh yang dipikirkan ayah selama ini cuma perusahaan" ketus Rana.
Lama Pramono terdiam, kemudian dalam satu tarikan nafas, "Baiklah"
Kini gantian Rana yang bingung jawaban ayahnya. "Baiklah apa? Ayah tidak jadi melanjutkan perjodohan konyol ini?" Tanya Rana mati-matian menahan diri untuk tidak mengulum senyum.
"Bukan—"
"—maksud ayah, baiklah jika kamu menolak perjodohan ini. Kamu bisa pergi dari rumah ini" koreksi Pramono tenang.
Rana menganga tidak percaya. Ia terkejut dengan jawaban tidak terduga ayahnya. Rana terkekeh, ia tidak salah dengar kan?
"Ayah serius?" tanya Rana membulatkan matanya.
"Loh bukannya itu yang barusan kamu bilang kan? Lagipula, ayah yakin kamu tetap memilih melanjutkan perjodohan ini, karena ayah tahu kamu tidak bisa hidup tanpa kemewahan dan nama besar ayah"
Mata Rana membelalak tidak terima mendengar tuduhan ayahnya yang dilayangkan padanya.
"Jadi ayah meragukanku? Oke! Kalau gitu aku pergi malam ini juga!" putus Rana kesal menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Hal itu pun tidak luput dari penglihatan Pramono yang masih setia duduk di sofa tanpa berniat merubah posisinya.
Tidak lama, Rana kembali turun kebawah membawa koper berukuran cukup besar, yang dibawanya dengan kesusahan dan berhenti dihadapan ayahnya.
"Ini kan yang ayah mau?"
"Itu kemauan kamu sendiri, nak"
Rana mencebik, kemudian pamit "Aku pergi. Jangan coba-coba cari aku! Kecuali kalau ayah berniat membatalkan perjodohan ini!"
"Memangnya kamu bisa hidup tanpa semua ini?" tanya Pramono enteng.
"Bisa!"
Tangan Rana meraih kopernya dan menariknya perlahan. Baru beberapa langkah Rana terhenti saat Pramono memanggilnya.
"Rana"
Rana berbalik menatap ayahnya yang kini berdiri "Kenapa? Ayah berubah pikiran?"
"Bukan—"
"ATM, kartu kredit, kartu debit dan kunci mobil kamu, itu semua yang ayah berikan. Ayah sita seluruh fasilitas itu" papar Pramono menyodorkan tangannya menunggu anaknya memberikan apa yang ia sebutkan barusan.
Pegangan Rana pada kopernya terlepas. Lemas. Apa?! Seluruh fasilitas nya diambil?
"Yah!" seru Rana tidak terima
"Kenapa? Kali ini kamu yang berubah pikiran?"
Rana mendengus kasar, bukan Rana namanya jika menyerah semudah itu. Ia kemudian merogoh tas selempangnya mengambil kunci dan dompetnya. Membukanya, mengambil kartu kehidupannya kedepan, rencananya. Dan memberikan barang-barang tersebut pada Pramono dengan enggan.
Pramono yang menerima sembari berujar "Kamu masih yakin dengan keputusan kamu? Engga menyesal?"
"Enggak. Rana pergi!"
Setelah mengatakan itu, Rana benar-benar melenggang pergi meninggalkan ruang tamu menuju keluar tanpa menoleh kebelakang. Ia kesal bukan main malam ini.
Sedangkan Pramono yang ditinggalkan sedirian menatap kepergian sang putri, menggelengkan kepalanya kemudian menghela nafasnya pasrah.
Pramono berjalan memasuki kamarnya dan duduk dipinggiran ranjang, mengambil sebuah figura foto disana. Wajah istrinya yang sedang tersenyum begitu teduh membuat hatinya menghangat.
"Anak kita benar-benar seperti kamu, sayang. Keras kepala. Dina, aku sangat rindu padamu"
🍀🍀🍀
Pukul 08.30 malam, Rana menggeret kopernya berwarna silver dengan kesal. Ia tidak tahu sekarang tujuannya kemana. Ia tidak memiliki apartment, uang hasil kerjanya selama dua tahun ini ia gunakan untuk bersenang-senang. Rana mendengus, seharusnya ia sedikit menyisihkan uang hasil kerjanya untuk ditabung, tidak untuk dipakai semuanya. Ah, sudahlah nasi telah menjadi bubur. Tapi, ayahnya juga sangat menyebalkan. Apa itu perjodohan? Dikamusnya, menikah itu hanya dengan orang yang ia cintai dan balik mencintainya, bukan karena bisnis dan perjodohan. Klise sekali.
Melewati jalanan yang sepi dimalam hari dengan berjalan kaki, baru pertama kali Rana lakukan dalam hidup. Ia sudah mendial beberapa nomor temannya karena Rana tidak memiliki banyak teman, apalagi yang masih sendiri. Rana bisa saja meminta bantuan pada Anna, tetapi sahabatnya itu sudah menikah sekarang. Jadi tidak mungkin ia mengerecoki sahabatnya dimalam hari. Dan Wanda, perempuan itu sedang pulang kampung. Dua teman kuliah yang ia hubungi juga satu tidak mengangkatnya, satunya sedang ada acara di rumah nya. Sehingga ia membatalkan niatnya untuk sekedar menebeng menginap semalam dirumah keduanya. Teman kerja yang dekat dengannya, rata-rata sudah menikah, jadi ia enggan untuk meminta bantuan. Ck! Bagaimana nasibnya malam ini?
Rana masih terus berjalan melewati trotoar dengan cahaya yang remang-remang. Ayahnya benar-benar jahat mengambil mobil dan segala macam isi di dompetnya. Dan membiarkan dirinya lontang lantung tidak jelas seperti ini. Apakah ia akan menjadi gelandangan mulai malam ini? Memikirkan itu saja membuat Rana bergidik ngeri.
Langkah Rana terhenti, sebuah ide terlintas dipikirannya. Ia tersenyum dengan ide brilian yang barusan masuk dalam otak cantiknya. Kantor. Sepertinya, bermalam dikantor bukanlah sesuatu yang buruk.
Rana menyetop sebuah taxi untuk mempercepatnya sampai di kantor. Tidak apa-apalah uang semata wayangnya, penunggu dompet ia relakan untuk naik taxi malam ini. Karena jika berjalan, jarak kantor dari rumahnya lumayan jauh. Ia bisa sampai tengah malam nanti jika harus berjalan kaki.
Rana menghembuskan nafas lega, melihat kondisi kantor dalam kondisi sepi. Setidaknya itu memudahkan ia menyelinap.
Rana melangkah perlahan, memastikan bahwa pos satpam tidak ada orang. Namun salah, bersamaan Rana mengecek bersamaan pula dirinya terpergok oleh sang satpam.
"Loh neng Rana, malam-malam begini mau ngapain?"
Rana meringis dalam hati, ia gugup, niat hati ingin diam-diam masuk. Tetapi malah ketahuan.
Rana berusaha memutar otak mencari alasan yang masuk akal hingga ia diperbolehkan masuk.
"Oh ini pak, barang saya ada yang ketinggalan dikantor dan itu barang penting. Besok kantor kan libur, jadi saya ingin mengambilnya sekarang" alibi Rana.
Sang satpam mengangguk, ber'oh'ria. Rana berusaha tersenyum kemudian pamit, namun langkahnya kembali tertahan tertahan saat satpam tersebut bersuara.
"Itu kopernya ditinggal saja neng di pos, dan neng nya ambil saja barang yang tertinggal di kantor"
Rana tersenyum menggeleng, "Engga usah pak, justru barang saya yang tertinggal akan saya masukkan dalam koper"
Entah seperti mendapat angin segar, Rana berhasil berkilah dengan begitu lancar dan berakhir diizinkan masuk ke dalam kantor. Hanya masuk kantor saja, ia harus berusaha hingga panas dingin.
"Mari pak" pamit Rana yang dibalas anggukan.
Dengan segera Rana masuk kedalam kantor menuju lantai paling atas, rooftop. Sepertinya bermalam di rooftop bukan hal yang buruk. Rooftop di kantornya bukan seperti rooftop terbengkalai dan menyeramkan. Justru kebalikanya, yang terurus dengan sangat baik, dan biasa digunakan untuk para karyawan seperti dirinya untuk beristirahat sekedar minum kopi pada saat jam makan siang jika tidak keluar atau pergi ke kantin.
Rana menekan tombol lift. Ia mengernyit bingung, biasanya lift langsung terbuka jika tidak ada orang, tetapi kini terasa lama. Tidak ambil pusing, sembari menunggu ia mengawasi situasi sekitar yang sepi karena memang waktu bekerja sudah berakhir pada pukul lima sore tadi.
Pintu lift akhirnya terbuka, tubuh Rana mematung seketika melihat siapa yang ada di depannya saat ini, di dalam lift tersebut, sedang menatapnya datar.
"P-pak Aiden" pekik Rana pelan yang masih dapat didengar.
Rana tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya melihat pria itu masih dengan balutan jas, menatapnya kemudian beralih pada barang yang berada di samping Rana, kopernya. Genggaman di handle kopernya semakin mengencang, bahkan tubuhnya enggan untuk bergerak, sekedar maju masuk dalam lift. Kenapa hanya ditatap, tubuhnya menjadi panas dingin.
"Kamu— ngapain disini?"
🍀🍀🍀
TBC
Aiden memijat keningnya, kepalanya terasa pening melihat berkas-berkas kerja sama dihadapannya sejak tadi. Memang setelah tuannya menikah—Alarik, hampir setengah dari pekerjaan lelaki itu ia yang ambil alih. Bahkan ia yang awalnya hanya seorang asisten Alarik merangkap menjadi wakil CEO karena cara kerjanya selama ini yang begitu berdedikasi untuk perusahaan bahkan untuk Alarik.
Aiden mengecek arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Pantas saja tubuhnya terasa lelah, ternyata sudah empat jam ia terlalu fokus pada tumpukan kertas dihadapannya, dan bahkan ia melewatkan jam makan malam.
Aiden membereskan meja kerjanya, memilih menyudahi kegiatannya. Ia ingin segera pulang menginstirahatkan diri, dengan tidur lebih cepat. Padahal malam ini merupakan malam minggu, yang biasa digunakan para muda-mudi seperti dirinya menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, namun sayangnya Aiden bukanlah tipe lelaki yang suka membuang waktunya demi hal yang tidak penting, menurutnya. Hidupnya terlalu datar untuk pria berusia dua puluh delapan tahun.
Aiden masuk ke dalam lift menuju lantai bawah. Pulang saat kondisi kantor sudah sepi seperti saat ini adalah hal yang biasa Aiden lakukan, sehingga ia tidak perlu mengecek kondisi kantor lagi karena dapat ia yakini bahwa dirinya lah orang terakhir yang akan pulang, atasannya— Alarik, tidak mungkin lembur. Lelaki itu terlalu mencintai istrinya, sehingga tidak akan meninggalkan sang istri dalam waktu yang lama.
Waktu terus bergulir. Tingg.. denting suara lift berbunyi menandakan lift telah sampai dan terbuka. Saat terbuka, Aiden rada terkejut yang berhasil ia sembunyikan melihat seorang gadis berdiri di hadapannya dengan sebuah koper dalam genggaman gadis itu.
"P-pak Aiden"
Sebenarnya bukan hanya dirinya saja yang terkejut, bahkan gadis dihadapannya itu juga sama seperti dirinya, namun wajah terkejutnya begitu ketara.
Dahi Aiden mengernyit sebentar, koper? Untuk apa gadis itu membawa koper ke kantor malam-malam.
"Kamu ngapain disini?" tanya Aiden membuka suara.
Dapat Aiden lihat gadis didepannya itu terlihat gugup. Aiden bukan tidak tahu gadis itu, Rana. Gadis ceroboh yang langganan masuk ke ruangannya, juga sahabat istri Alarik. Aiden masih ingat ketika dirinya melihat Rana pada saat pernikahan Alarik— sahabatnya.
"Em— mau ambil barang yang tertinggal pak"
Aiden mengangguk, seolah percaya. "Kenapa tidak masuk?" tanya Aiden, tidak bergerak sedikitpun untuk keluar.
"Oh iya"
Rana masuk kedalam lift, diam menunggu Aiden yang tidak merubah posisinya sama sekali. Rana mendongak pada Aiden yang berdiri disampingnya dengan tubuh yang lebih tinggi darinya.
"Bapak— tidak keluar?" tanya Rana ragu-ragu.
"Tidak."
Rana menelan ludahnya susah payah. Kenapa jadi begini? Jika seperti ini, ia tidak mungkin langsung menekan tombol menuju rooftop, alhasil ia menekan tombol menuju lantai tiga, divisinya. Rana kembali menoleh pada Aiden.
"Bapak ingin ke lantai berapa?"
"Sama"
"Ya?"
"Saya hanya ingin memastikan masih ada karyawan tidak di kantor"
Rana memejamkan matanya kesal. Kenapa disaat seperti ini, ia harus bertemu dengan pria menyebalkan seperti ini.
Tingg..
Pintu lift terbuka. Dengan langkah berat Rana keluar dari lift diikuti oleh Aiden. Rana berbalik menghadap Aiden dibelakangnya.
"Sepertinya sudah tidak ada karyawan di divisi saya pak, bapak bisa pulang sekarang" ucap Rana hati-hati.
Aiden masih diam, bergeming ditempatnya dan kini beralih memandang Rana. "Kalau begitu cepat ambil barangmu yang katanya tertinggal"
Mampus!
Harus apa ini dirinya sekarang?
"Kenapa diam? Bukannya jika kamu masih disini itu artinya masih ada karyawan"
Tak melawan, Rana kembali berbalik dan melangkah masuk menuju kubikelnya tidak lupa dengan menggeret kopernya. Hal itu tidak luput dari pandangan Aiden yang terus mengawasi gerak-gerik Rana.
Rana terus merutuk dalam hati, sekarang otaknya blank. Tidak tahu harus bagaimana? Bos nya itu malah terus menungguinya. Ia terus berpura-pura mencari barang yang teringgal dengan membuka laci-laci meja di kubikelnya, sengaja juga memperlama supaya Aiden tidak sabar terus meninggalkannya sendirian. Namun naas, lima belas menit berlalu lelaki it uterus berdiri di pintu masuk divisinya sembari melipat kedua tangannya.
"Masih belum ketemu?"
Pergerakan Rana terhenti, Ia berdiri dari semula yang berjongkok menatap Aiden, kini melangkah ke arahnya, tentu saja membuat Rana gelagapan.
"Em.. sepertinya saya yang lupa meletakkan barang itu dimana"
"Memangnya barang apa?"
Nah. Barang apa? Bahkan Rana sendiri aja tidak tahu. Itukan tadi hanya sebuah alibinya.
"Ponsel" ucap Rana tanpa pikir panjang. Padahal ponselnya saat ini ada di tasnya.
Dahi Aiden mengernyit, seperti meragukan jawaban Rana. Dan keraguan Aiden berhasil terjawab tak lama dari Rana mengatakannya, ponsel perempuan itu berbunyi.
'waktunya tidur.. waktunya tidur..'
Rana menunduk, memejamkan matanya. Ia mengginggit bibir dalamnya, malu, merutuki kebodohannya kembali. Dengan cepat ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya, dan mematikan alarmnya. Alarm yang biasa ia set setiap malam untuk mengingatkannya tidur jika ia ke asyikan menonton film atau marathon drama. Maklum saja, ia tidak memiliki kekasih untuk sekedar mengingatkan dirinya tidur.
"Lalu itu apa?" tanya Aiden datar.
"Ma-af pak, saya lupa" ringis Rana, setelah ketahuan berbohong.
"Jika tidak ada barang lagi yang tertinggal. Lebih baik ayo turun sekarang"
Rana yang awalnya ingin menolak menjadi tidak berani mendapat tatapan tajam dari Aiden akhirnya menurut. Keduanya memasuki lift menuju lantai bawah. Tidak ada percakapan selama di dalam lift, Rana pun enggan untuk membuka mulut.
Lift terbuka, Aiden keluar lebih dulu dan berjalan meninggalkan Rana. Sebenarnya kesempatan seperti ini bisa Rana manfaatkan untuk kabur menekan tombol lift kembali, namun sayangnya Aiden kembali menoleh.
"Kenapa masih disitu?"
"Eh iya pak"
Rana melangkah mengekori Aiden yang berada didepannya dengan perasaan dongkol, juga bingung akan bermalam dimana ia malam ini. Uang satu-satunya sudah habis untuk membayar taxi. Mengatakan akan menginap dikantor dipastikan dilarang, apalagi besok adalah hari libur. Rana terus melangkah tidak memperhatikan Aiden yang berhenti, membuatnya menabrak punggung kokoh lelaki itu.
"Aw"
Aiden berbalik memandang Rana yang tengah mengusap keningnya.
"Jalan itu pakai mata"
"Jalan itu pakai kaki, pak" koreksi Rana kesal.
Aiden menghela nafas, memandang sekitar parkiran yang telah sepi dan hanya mendapati mobilnya saja yang terpakir. Lantas mengapa perempuan itu sejak tadi mengikutinya.
"Kamu ngapain ngikutin saya?"
Rana yang tersadar mendongak, dan menoleh ke kanan dan kekiri, ternyata dirinya sekarang sudah di parkiran mobil. Akibat melamun membuatnya menjadi tidak menyadari bahwa ia mengikuti bos nya.
"Siapa yang ikutin bapak, saya kebablasan. Saya mau ke pos satpam"
"Kamu tidak membawa mobil?"
Rana menggeleng, ya memang itu kenyataannya. Ia tidak ingin kembali berbohong dan berakhir ketahuan seperti adegan ponsel tadi.
"Ya sudah, permisi pak" pamit Rana yang melenggang begitu saja tanpa menunggu jawaban menuju pos satpam, lebih tepatnya gerbang keluar.
Aiden yang menatap punggung Rana yang sudah menjauh, ia memilih masuk kedalam mobilnya dan bergegas meninggalkan pelataran kantornya dengan kecepatan sedang.
🍀🍀🍀
Rana yang sudah keluar dari kantornya, melangkah tidak tentu arah. Sepertinya menghubungi sahabatnya— Anna, merupakan pilihan terakhirnya. Rana mencoba men-dial nomor sahabatnya. Tersambung, tetapi tidak diangkat. Sepertinya sahabatnya itu sudah tidur, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ada sekitar tiga kali Rana mencoba menghubungi nomor sahabatnya, tetapi berakhir nihil.
Tanpa sepengetahuan Rana, sebuah mobil SUV berwarna putih mendekati dirinya dan membunyikan klakson yang membuat Rana berjengkit kaget sembari mengelus dadanya.
"Astagfirullahaladzim" sebutnya reflek dan menoleh, memastikan siapa pemilik mobil tersebut.
Bos nya, lagi. Ia menghela nafas kesal, lagi-lagi harus bertemu dengan Aiden. Lelaki itu tidak keluar dari mobilnya, ia hanya menurunkan kaca mobilnya dan berujar,
"Kamu pulang dengan berjalan kaki?"
'Tidak, aku terbang'. Ingin sekali Rana menyahutinya seperti itu, namun ia masih sayang nyawa, ia memilih tidak menjawab, dan kembali melihat ponselnya, harap-harap Anna mengiriminya pesan atau menelponnya kembali. Sayangnya, tidak ada notifikasi apapun yang masuk.
"Saya bertanya padamu"
Rana mendongak, menatap Aiden sekilas "Jawaban seperti apa yang bapak ingin dengar?" tanya Rana kesal. Bisa-bisanya disaat seperti ini, Aiden malah memberikan ia pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.
"Ayo naik"
Rana kembali menatap Aiden, apakah ia tidak salah dengar?
"Saya bilang, ayo naik. Saya antar"
Rana terdiam sejenak, berpikir. Akhirnya menyetujui. Ia bisa berpikir nanti jika sudah di dalam mobil, setidaknya ia sekarang mendapat tumpangan gratis.
Setelah Rana masuk dan meletakkan kopernya dibagian tengah mobil, Aiden kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tidak ada yang memulai percakapan. Aiden yang fokus menyetir, Rana yang fokus berpikir kemana ia akan bermalam. Hingga..
"Rumahmu dimana?"
"Saya tidak pulang ke rumah"
"Lalu, kemana saya harus mengantarmu?"
"Tidak tahu" jawab Rana sekenanya, membuat Aiden mengerem mobilnya mendadak.
Aiden yang tadinya fokus pada jalanan, menoleh pada Rana yang berada disebelahnya.
"Saya sedang tidak bermain-main, cepat katakan dimana rumahmu"
Rana menghela nafas, lelah. Sudah ia katakan kan berulang kali bahwa ia tidak memiliki tujuan selain kantornya, yang sekarang malah terpergok oleh Aiden. Kini, ia tidak akan berbohong lagi pada lelaki disebelahnya itu yang notabennya, bos nya sendiri.
"Saya juga sedang tidak berminat untuk bermain-main, pak. Saya sudah lelah. Saya diusir dari rumah oleh ayah saya dan malam ini saya tidak tahu harus bermalam dimana" akunya yang tidak sepenuhnya benar, karena tidak ada pengusiran yang dilakukan ayahnya seperti yang dikatakannya, itu memang pure keinginannya sendiri.
"Kamu bisa menginap di hotel"
"Saya tidak memiliki uang sepeserpun karena semua fasilitas yang saya miliki disita oleh beliau" ucap Rana jujur.
Aiden terdiam sejenak, kemudian teringat sesuatu. "Oh, apakah karena itu kamu berada kantor malam-malam begini? Berencana menginap? Dan berpura-pura mengatakan pada saya bahwa ada barang yang tertinggal?" Tebak Aiden penuh selidik, yang langsung diangguki oleh Rana tanpa pembelaan. Rana terlalu lelah sekarang, ia hanya ingin segera tidur, mencharge energinya. Tidak peduli bosnya itu akan memarahinya setelah dirinya mengaku.
Memang ada larangan karyawan untuk menginap di kantor, bahkan kantor jarang melakukan lembur karena demi produktivitas kerja para karyawan keesokan harinya. Jadi, itulah mengapa Rana membuat alasan sedemikian rupa supaya dapat bermalam di kantor, hanya satu malam. Yang terpenting dirinya mendapat tempat untuk tidur, malam ini. Dan besoknya ia baru akan mencari tempat hunian sementara, itu rencana awalnya yang sekarang sudah gagal.
Aiden menyugar rambutnya kasar, menatap perempuan disebelahnya yang beberapa kali mengerjapkan mata, seperti mengantuk. Entah apa yang harus ia lakukan terhadap perempuan itu sekarang, membawanya ke hotel, tidak mungkin. Rana sendiri mengatakan ia tidak memiliki uang, Aiden juga tidak ingin bersusah-susah dengan membayarkan perempuan itu untuk bermalam di hotel, namun tiba-tiba saja ide gila terlintas diotaknya.
"Kamu boleh tinggal di apartment saya, jika mau"
Tidak tahu setan apa yang merasuki Aiden, hingga berani menawarkan Rana untuk tinggal di wilayah pribadinya yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun selain dirinya dan Alarik.
Rana yang sudah setengah sadar langsung menoleh "Ha?"
Jika tidak salah dengar tadi Aiden menawarkan tempat untuk dirinya tinggal, sontak saja ia tersenyum semangat mengangguk mau.
"Tapi ingat, tidak ada yang gratis di dunia ini"
🍀🍀🍀
TBC..
Ternyata Aiden tidak main-main dengan ucapannya. Lelaki itu benar-benar membawa Rana pulang ke apartment nya. Sejak penawaran yang tiba-tiba Aiden lontarkan, hingga sekarang pun Rana masih saja diam, tidak berkomentar dan masih mengekori dirinya dengan sesekali menguap.
Aiden mulai memasukkan password apartmentnya, dan pintu pun terbuka. Aiden masuk, diikuti oleh Rana yang berjalan di belakangnya, mengedarkan padangannya. Sempat terkesima sebentar dengan apartement Aiden yang begitu rapi untuk ukuran lelaki. Tidak terlalu luas memang, namun terasa cukup nyaman, terbukti saat ia baru saja menapakkan kakinya setelah pintu terbuka. Langkah mereka membawa keduanya menuju ruang utama, living room. Aiden memerintah Rana untuk duduk di sofa panjang, sedangkan lelaki itu memilih duduk di sofa single.
"Pak, beneran saya boleh menginap malam ini disini?"
Sebenarnya itu merupakan pertanyaan retoris yang Rana ajukan memecah keheningan, yang tanpa diduga dijawab oleh Aiden dengan sebuah anggukan.
"Kamar mu berada disebelah kanan dekat pintu masuk, dan kamar saya berada tepat di belakangmu. Jika memerlukan sesuatu, kamu bisa mengetuk pintu saya" papar Aiden datar yang dibalas anggukan kaku Rana.
Aiden malam hari ini terlihat begitu manusiawi, tidak seperti saat dikantor.
"Terimakasih pak, sudah mengizinkan saya untuk bermalam disini. Bapak tenang saja, besok pagi-pagi saya akan segera mencari tempat tinggal sementara" ucap Rana yang tetap mendapat tatapan datar dari lelaki itu.
"Pikirkan itu besok. Saya ingin istirahat, kita sambung pembicaraan besok" Aiden beranjak dari duduknya setelah mengatakan itu, dan melangkah masuk kedalam kamarnya meninggalkan Rana yang masih duduk di sofa.
🍀🍀🍀
Rana merebahkan tubuhnya di atas ranjang, walau tidak terlalu besar seperti yang biasa ia tempati. Namun kasurnya terasa nyaman. Hm.. atau dirinya saja yang terasa lelah?
Tidak ingin terlarut dalam pikiran tidak penting, Rana beranjak dari posisi nyamannya. Membuka koper, mengeluarkan baju dan celana santainya beserta peralatan mandinya untuk membersihkan diri. Tubuhnya terasa lengket karena berkeringat.
Lain tempat, Aiden melepas jas nya dan meletakkannya di keranjang kotor, masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, membersihkan diri. Setelah selesai dengan ritualnya, Aiden melaksanakan shalat isya, kewajibannya menjadi terlambat dari waktu biasanya karena lembur dan juga insiden bawahannya tadi.
____
Di kamar yang di tempatinya, Rana kembali membaringkan tubuhnya, mencoba mencari posisi ternyaman. Sejak setengah jam yang lalu, hingga kini ia belum menemukan posisi ternyamannya, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, begitu cepat berlalu. Apa karena ini pertama kalinya Rana menginap di tempat asing selain rumah Anna semasa sekolah dulu? Dulu, awal mula dirinya menginap di rumah Anna, ia juga mengalami hal seperti ini, susah tidur.
Kriuuk~
Bunyi perut keroncongan, mungkin lebih masuk akal untuk menjadi alasannya mengapa ia susah tidur. Rana mendudukkan dirinya diatas ranjang, haruskah dirinya keluar meminta makan kepada bosnya juga setelah lelaki itu sudah berbaik hati memberinya tempat menginap?
Ah, kepalang tanggung, saat sudah melakukan hal memalukan, sekalian saja.
Rana dengan segenap rasa tidak tahu, dirinya keluar dari kamar tamu, berniat mengetuk kamar bosnya. Seperti mendapat durian runtuh, sesaat ia menutup pintu kamarnya, Rana dapat mencium aroma dari arah dapur yang mampu membuat perutnya tambah bergejolak.
Dapur apartment Aiden yang berada lurus dengan pintu kamar yang ia tempati, memudahkan Rana menemukan tersangka utama pembuat wewangian yang menggoda perutnya malam ini.
Punggung kokoh itu tampak bergerak diikuti tangan lelaki itu yang fokus pada spatula di genggamannya. Bolehkah untuk kali ini ia memuji Aiden tampak boyfriend able jika dilihat dari belakang. Garis bawahi, jika dari belakang. Lain halnya jika lelaki itu berbalik, dapat Rana pastikan ekspresi lelaki itu masih sama, datar.
Aiden yang merasa seperti sedang diperhatikan itu berbalik, dan menemukan Rana berdiri di lorong depan kamar dengan kikuk.
"Kenapa? Kamu lapar?"
Rana terdiam, berpikir. Ia sudah memantapkan diri untuk tidak menjaga image di depan bos nya sekarang. Rana juga pastikan hanya malam ini, setelahnya ia hanya akan bertemu di kantor, kembali menjadi atasan dan bawahan.
Rana melangkah mendekat, kemudian menggangguk. "Iya" cicit Rana pelan, setidaknya Rana sedang berusaha untuk tidak menggebu-gebu mengatakan bahwa dirinya lapar.
Mata Rana mengerjap beberapa saat, karena tidak sengaja melihat Aiden yang menarik sudut bibirnya sebelah ke atas. Tipis, sangat tipis. Hingga Rana sendiri tidak yakin dirinya melihat bahwa Aiden benar-benar tersenyum atau tidak.
"Duduklah disana" perintah Aiden yang mengkode Rana untuk duduk di meja makan.
Rana menurut, kapan lagi dirinya dilayani oleh bos nya.
Tak lama Aiden datang dengan dua piring nasi goreng, yang mengeluarkan aroma begitu menggoda. Mata Rana berbinar melihat nasi goreng dihadapannya. Ia menerima sodoran dari Aiden, dan masih mengamati makanan buatan Aiden itu.
Aiden yang melihat itu tidak peduli, ia menyendokkan makanan buatannya ke dalam mulut. Diikuti dengan Rana yang melakukan hal yang sama.
Mereka makan dalam hening. Rana sudah tandas setengah porsi, kini perutnya terasa penuh dan kantuknya kembali datang.
"Pak, ini kalau nasinya tidak habis bagaimana?" tanya Rana hati-hati, bukan karena tidak enak, seperti halnya penampilannya. Nasi gorengnya enak, sangat enak malah, tetapi perutnya tidak kuat lagi menampung nasi goreng porsi kuli buatan Aiden.
"Dibuang" jawab Aiden santai, kemudian menyuapkan nasi terakhirnya ke dalam mulut.
Mendengar jawaban Aiden, tentu saja Rana terbelalak. Sayang sekali jika makanan seenak ini harus berakhir di tempat sampah. Sedangkan masih banyak anak yang kurang beruntung diluar sana.
Perut kenyang, hati senang. Seketika ide brilliant muncul dalam otaknya, ia tersenyum sumringah. "Em.. bagaimana jika di simpan saja pak? Nanti saya hangatkan kembali untuk sarapan saya besok"
"Ukhuk.."
Seketika Aiden terbatuk, ucapan Rana dengan entengnya membuatnya tersedak. Ia menatap tajam Rana yang panik dan menyodorkannya minum.
"Makanan ini sudah tidak layak dimakan besok pagi. Dan.. untuk sarapan besok pagi, kamu bisa membuat makanan yang baru"
"Tapi mubazir pak, ini masih enak kok. Dan saya yakin, besok makanan ini masih layak dimakan" sahut Rana tidak mau kalah.
"Saya sudah selesai" ucap Aiden mengabaikan ucapan Rana yang masih mengeyel dan beranjak dengan mengangkat piring bekas makannya yang ditahan oleh Rana.
"Biar saya saja pak yang membereskannya"
Aiden kembali meletakkan piringnya, tidak ada salahnya jika Rana menawarkan diri untuk mencuci piring. Toh, dirinya juga sudah membuatkan makan malam.
"Saya tidak ingin mendengar bantahan atau berdebat, lebih baik kamu buang makanan itu" ucap Aiden meninggalkan Rani yang masih duduk di meja makan.
Memang dasar keras kepala, Rana diam-diam menyimpan makanannya dalam lemari, untuk diambilnya esok pagi. Bukan sekali atau dua kali ia memakan makanan kemarin, selama makanan itu masih layak. Walaupun berasal dari keluarga kaya, dari dulu ibunya selalu mengajarkan untuk tidak membuang-buang makanan. Alhasil, jika makan malam bersama sang ayah makanannya masih sisa, keesokannya ia akan menyuruh bibi nya untuk menghangatkannya kembali. Keluarganya itu begitu hemat mengenai makanan, karena ia tahu bahwa masih banyak orang yang kekurangan makanan di luar sana.
Setelah selesai mencuci dan membereskan bekas peralatan Aiden memasak. Rana kembali menuju kamar tamu, untuk tidur. Sepeninggal Rana, tanpa sepengetahuan perempuan itu. Aiden sudah mengintip Rana sejak perempuan itu menyembunyikan piring berisi nasi goreng nya ke dalam lemari, Aiden mengambil piring tersebut yang Rana coba sembunyikan. Ia memasukkan nasi tersebut ke dalam kantong kresek dan setelah itu mencuci piring bekasnya.
"Dasar, gadis keras kepala"
🍀🍀🍀
TBC